Naruto © Masashi Kishimoto

.

Hanazono Shimizuka presents
The One I Love is My Sister

.

STORY 1

Chapter 2

-Breaking The Habit-

.

Warning: Sudut pandang orang kedua (Hinata) untuk chapter ini

.

-Previous Chapter-

Aku memiliki rahasia yang tidak pernah kuceritakan pada siapapun. Dia –Hinata Hyuuga- sepupuku sendiri adalah satu-satunya gadis yang kucintai. Dan harus merahasiakan perasaan ini… sungguh terasa menyakitkan.

"Aku akan menjemputmu lagi nanti. Tunggu aku. Mengerti?!"

"Iya. Terima kasih selalu mengantarku, Neji-nii. Hati-hati di jalan."

.

"Kalau benar punya adik, kenalkan dong." Kata Naruto lagi tanpa peduli dengan wajah seram Neji.

"Tidak ada. Kalaupun ada, aku tidak akan mengenalkannya. Terutama kau Naruto."

Takkan kubiarkan mereka tahu tentang Hinata.

.

"K-kakak… waktu pelajaran t-terakhir tadi adalah pelajaran me-memasak. Ja-jadi kupikir a-aku ingin segera menemui kakak dan me-memberikan i-ini."

"Jangan ulangi lagi."

"Kakak! Apa yang kau lakukan pada Naruto-kun?! Naruto-kun, daijoubu?"

"Aku menyukaimu Hinata. Jadi- kumohon. Mulai saat ini anggaplah aku sebagai seorang laki-laki.Bukan sebagai kakak!"

^^Selamat membaca^^

Pagi itu, kamu bangun dengan wajah sembab. Tapi kamu belum menyadari bahwa kakak yang sangat kausayangi telah pergi untuk waktu yang lama. Kamu hanya berpikir bahwa kamu sangat lelah akan kejadian kemarin dan akan bersikap tidak terjadi apa-apa seperti hari-hari sebelumnya. Karena kamu pikir, Neji terlalu mendramatisir dan salah menafsirkan perasaan sayangnya kepada adik sepupunya. Sungguh kamu berharap, Neji tidak pernah mengatakan semua itu.

Dengan malas kamu menggosok gigi, mencuci wajah lalu mengganti pakaianmu dengan seragam yang baru –dari lemari- seperti halnya yang kamu lakukan di hari biasa. Kemudian kamu menyisir rambutmu dan berjalan sendirian menuju ke sekolah. Hal yang baru kaurasa asing karena tidak ada Neji yang selalu memaksa melakukan itu. Kamu terus berjalan mengindahkan rasa aneh melihat sepeda kalian bersandar rapi di teras rumah. Kamu malah sempat bersyukur karena tidak harus memulai pembicaraan, setidaknya untuk pagi ini. Kamu berharap banyak waktu dapat memperbaiki semuanya. Lalu cheesecake terlintas di pikranmu sebagai permintaan maaf nanti siang. Sepertinya bukan ide yang buruk.

Sepulang sekolah kamu membawa kantong kertas berisi kue dan tersenyum sepanjang perjalanan. Kemudiaan saat kamu membuka pintu dan mengucap salam tidak ada yang berubah. Ketenangan masih merajai. Sepeda, handuk basah yang tadi pagi kamu gunakan, dan semua benda di dalam rumah masih sama seperti yang kamu lihat tadi pagi.

Pada akhirnya kue yang kamu buat cukup menjadi saksi bisu menyaksikanmu menangis keras meremas lembaran baju Neji yang tinggal beberapa dalam kamar Neji yang kosong. Dan kembali kamu baru merasa kehilangan, Neji tidak di dekatmu dan menghentikan laju air matamu.

Siang itu kamu merasa sangat menyesal dan merutuki kebodohanmu. Dan kebodohan itu berakibat sangat fatal.

.

o0o The One I Love is… o0o

.

Matahari terbenam, menutup satu hari lagi di penghujung bulan September. Sudah hampir tiga bulan terlewat sejak kepergian Neji.

Tinggal sendiri di rumah mungil yang biasa kau tempati berdua sungguh sangat tidak menyenangkan. Kamu takut akan kesunyian dalam rumah. Kenangan indah berdua yang telah kalian lalui di setiap sudut rumah, berubah jadi kenangan menyakitkan yang membentuk ruang kosong di hatimu. Membuatmu selalu berkhayal bahwa pria itu masih disisimu… menemanimu… sehingga rasa bersalah yang terlambat itu datang setiap saat. Kamu terus berharap agar waktu bisa kembali dan memperbaiki semuanya. Dan kamu terlalu takut untuk mengatakan yang sebenarnya bahkan untuk percaya pun kamu tidak sanggup.

Berbekal keberanian ekstra sekelas pembohong amatiran, melalui pesawat telepon kamu mengatakan bahwa Neji mendapat program khusus penerimaan mahasiswa baru di universitas ternama di luar kota. Dan karena banyak persyaratan yang harus dilakukan, kakak hanya sempat menitipkan salam dan permintaan maaf untuk Otou-sama dan Okaa-sama. Beruntung, Hiashi hanya menggumam maklum mengiyakan, dan balik menanyakan keadaanmu disana. Yang sendirian.

Meyakinkan ayahmu bahwa kamu sudah dewasa dan akan baik-baik saja menjadi akhir pembicaraan kalian lalu kamu menutup telepon secara sepihak. Kemudian air matamu terus menyeruak dan kamu menekan dadamu kuat akan kesakitan yang kamu rasakan, berpusat di tempat yang sama.

Kali ini kamu yakin bahwa kamu tidak akan baik-baik saja. Kamu merasa sudah tidak sanggup untuk bertahan. Sudah cukup. Hatimu sudah penuh oleh pria itu. Tapi kamu selalu merasa kosong. Tanpanya kamu menderita. Dadamu terasa sesak dan air matamu tidak bisa kau kendalikan untuk berhenti.

Melalui kesakitan ini. Kamu telah dibuat jatuh cinta olehnya.

.

.

.

Duduk di kursi ruang makan, tempatmu dan dia menghabiskan banyak waktu di dalam rumah. Membangkitkan kenangan menyakitkan yang tak pernah berhenti membuatmu tersiksa.

Kamu terus menunduk, menyelami kenangan manis yang telah kalian lewati di sudut rumah ini dan mengindahkan keberadaan seseorang yang membuatmu sadar bahwa kamu telah jatuh cinta dengan pria itu.

Tapi kamu sadar. "M-maafkan aku, N-naruto-san. A-aku… aku…" Mata sayumu menyaratkan rasa bersalah berlebih pada pria di depanmu. Kamu merasa bahwa kamu juga telah bersalah dan memberikan beban pada lelaki ini.

"Tidak apa-apa Hinata, aku mengerti." Naruto, pria yang selama ini menemanimu mencari keberadaan Neji mengelus lengan kurusmu dan mengusap puncak kepalamu lembut.

"Ne, waktunya aku pulang." Naruto merapatkan mantelnya dan mengetukkan ujung sepatunya ke lantai.

"Aku tidak akan menyerah mencari informasi tentang Neji. Tidurlah lebih awal. Dan jangan lupa sarapan! Jangan sampai aku menyeretmu agar kau mau makan seperti malam ini." Kata Naruto pura-pura galak lalu menutup pintu .

Dan debaman pintu itu mengingatkanmu bahwa sekarang kamu akan sendirian lagi.

"Kurasa… aku tidak akan bisa tidur lagi malam ini." Kamu memeluk lututmu, dan menenggelamkan wajahmu di lipatan tanganmu.

"Oyasuminasai, Neji-nii san."

.

o0o The One I Love is… o0o

.

Rambut kusut serta kantung hitam di bawah matamu menjadi pemandangan pagi hari Naruto yang membuatnya tambah prihatin. Kamu hanya berdiri lemas di samping pintu yang kamu bukakan untuk teriakan pria matahari ini di pagi hari.

Mengindahkan kecanggungan, Naruto memberikan senyum hangat lalu memapahmu untuk duduk di kursi makan. "Aku ada kabar baik." Ia lalu mengedipkan mata, membagi kegembiraan melalui iris saphire-nya pada iris pucat milikmu.

Naruto memindahkan bubur ayam dari bungkusan yang ia bawa ke mangkuk yang ia ambil dari pantry. Lalu menyajikan bubur lezat yang masih menguarkan uap hangat itu di meja makan. Kamu hanya melirik mangkuk putih di depanmu tanpa nafsu lalu kembali menatap Naruto.

"Aku-punya-kabar-baik." Kata Naruto satu-satu, seperti sedang mengumumkan pemenang hadiah mewah saja.

Kamu tidak bereaksi. Masih menunggu kata-kata lelaki itu selanjutnya.

"Aku tahu dimana keberadaan Neji." Naruto mengambil lipatan kertas putih di saku bajunya sebagai bukti keseriusannya.

"B-benarkah N-naruto-san?" Ucapmu bahagia. Tak pernah kamu rasakan kelegaan dan kegembiraan seperti sekarang.

"K-kapan kita akan pergi mencari Neji-nii?!" Ucapmu lagi, penuh rasa tidak sabar.

Naruto mengendikkan dagunya ke bawah dan memberikan senyum lembut. "Setelah kau habiskan buburmu."

Meski tidak bertenaga kamu berusaha mendapatkan nafsu makanmu yang tersisa untuk mengambil sendok dan menyuapnya pelan-pelan. Sampai separuh habis, kamu merasa sudah cukup dan meletakkan sendok itu kembali di samping luar mangkuk.

Kamu memandang Naruto dalam yang juga tengah memperhatikan dirimu dalam diam.

Perlahan, kamu membuka suara. "D-darimana N-naruto-san mendapatkan informasi itu?"

"M-maafkan aku!" Ucapmu cepat dan menundukkan wajah dalam-dalam.

"Emm… kurasa waktu untuk mencari Neji lebih penting daripada mendengar ceritaku. Dan kujamin ceritaku tidak terlalu menarik untuk kau dengar."

Naruto menunjukkan senyum tulus setengah bergurau –ciri khas yang ia punya. "Sudah… cepat siap-siap sana."

"Emm… Terima kasih, Naruto-san." Kamu mengangguk pasti dan membalas dengan senyum terbaikmu pada Naruto. Menindaklanjuti apa yang dikatakan pria dengan kumis kucing itu sebelumnya.

Sepeninggal Hinata, Naruto menunjukkan raut wajah yang sesuai dengan perasaannya. Ekspresi diri yang sebenarnya. Sedih dan terluka, itulah yang sejujurnya.

Dalam diam hatinya menangis. Melihat kesedihan gadis itu, ia jatuh cinta karenanya. Berharap banyak bahwa ia bisa menyembuhkan luka gadis itu untuk dirinya sendiri. Meski itu tidak mungkin. Tapi ia sadar. Sejak awal ia tidak akan bisa menang. Hinata tidak perlu tahu, bagaimana usaha kerasnya memaksa teman dekat dan guru terpercaya Neji untuk memberinya secuil informasi. Karena hanya inilah, cara ia bisa meluapkan perasaan cintanya pada Hinata. Dan itu sudah cukup baginya. Sungguh- demi kebahagiaannya, ia juga bahagia.

.

o0o The One I Love is… o0o

.

Kamu meremas rok terusanmu gelisah dan terus melihat ke sisi jendela. Menatap pemandangan indah yang bergeser cepat, secepat kereta yang membawamu kini ke tempat pria itu.

Kamu ingin segera bertemu dengan Neji dan meluapkan perasaanmu seperti latihan yang kaulakukan di depan cermin tadi pagi. Untuk lari dari rasa gugup kamu menyenandungkan lagu kesukaanmu –dan pastinya juga menjadi lagu kesukaaannya.

Dan Naruto yang duduk di sebrangmu tengah menatap lurus padamu sebelum ia mengikuti jejakmu melihat ke luar jendela.

Universitas Elite 'Hyotei' di Iwagakure.

'Kakak, aku akan segera bertemu denganmu.'

.

.

Dengan antusias kamu menanyakan arah tujuan kalian yang tepat pada orang asing. Sesuatu yang bagimu dulu terasa sulit kini telah kaulakukan dengan mudah. Ingin segera bertemu dengan Neji membuatmu lupa akan rasa takut untuk berinteraksi dengan orang lain.

Berbekal informasi dari seorang nenek –warga asli Iwagakure-, kamu berjalan lebih depan mendahului Naruto yang agak jauh tertinggal. Naruto bersikap wajar dan tersenyum cerah melihat raut wajahmu yang bersinar tidak lagi gelisah.

Kamu baru berhenti di depan gerbang besar dimana banyak pemudi pemuda dengan setelan modis dan merk terkenal keluar masuk gerbang itu. Mungkin mahasiswa sini. Bertubuh lebih mungil dan terlihat jelas bukan bagian dari mereka membuatmu jadi pusat perhatian banyak orang. Menengok cepat ke segala arah kamu berjalan lebih jauh memasuki halaman depan kampus. Kamu memutar mata kalau-kalau melihat sosok kakakmu dari jauh, tapi pandanganmu berhenti pada jajaran mobil mewah yang terparkir rapi di samping kiri kanan halaman. Sejenak kamu berandai, entah kapan Tou-sama membelikanmu mobil pribadi sekelas itu.

Memukul kepalamu sendiri yang malah memikirkan hal yang kurang penting, kamu terus meniti pandangan ke semua titik. Tapi entah kenapa, sosok wanita berambut violet sepunggung membuatmu sangat tertarik. Berdiri dengan manis di depan bagian gedung penjuru kanan kampus, nampak sedang menunggu seseorang. Sepertinya itu gedung sekretariat universitas.

Kemudian wanita itu tersenyum manis ketika pria yang ditunggunya sudah kembali. Wanita itu mengecup pipi pria itu mesra yang dibalas dengan melingkarnya tangan lelaki itu di pinggangnya, membuat tubuh mereka merapat.

Surai cokelat yang senada dengan warna mantel yang dipakainya nampak indah dalam ikatan longgar. Dan ketika mereka berjalan, tak jarang tatapan mata iri mengiringi setiap langkah anggun mereka.

Tak terkecuali dirimu.

Menahan rasa sakit di bagian dada sambil membekap mulutmu sendiri tak percaya, air mata kecewa turun tanpa bisa dicegah.

"Ne-neji-nii san?" Ucapmu terbata sarat akan rasa sakit.

Di saat itulah.

"Hinata- kenapa berhenti? Apa kau sudah menemu-" Naruto menyusulmu cepat setelah melihat keanehan pada dirimu. Setelah mengikuti arah tatapanmu, diam adalah keputusannya yang tepat.

Disaat kaumemanggil namanya, mata amethyst miliknya telah berhasil menemukan eksistensimu. Tapi bukan seperti ini yang kamu inginkan. Tatapan matanya bukan sebagaimana yang kamu rindukan.

"Oh- apa kabar Hinata…" Ucapnya datar tanpa perasaan.

Dia sudah berubah. Kehangatan pancaran matanya berganti menjadi rasa asing yang begitu dingin.

Jika kakak juga berubah jadi orang asing, dengan harapan apa lagi aku bisa bertahan.

.

.

Tahukah? Cinta tidak selalu datang oleh kenangan indah. Melihat kesedihan orang yang kau cintai untuk orang lain dan rasa sakit akibat kehilangan seseorang yang sebenarnya kaucintai oleh kelalaianmu sendiri bisa mengukir sebuah cinta. Karna cinta itu dibentuk oleh satu, yaitu ketulusan.

-tbc-

Ohayou, minna-san!
Pertama aku mau mengucapkan Selamat berpuasa bagi yang menjalankan. :)

Maaf, atas keterlambatan update fict ini. Tapi selama puasa, aku mau fokus ke cerita ini dulu kok. Semoga bisa update cepat.
Lalu… karna chapter depan adalah chap terakhir untuk bagian ini, silahkan pilih mau happy ending atau sad ending. Jangan lupa vote, yaa… XD

Maaf, ngga bisa nyebutin satu-satu. Mungkin akan aku jadiin satu di chap depan. Yang login, aku balas lewat PM. Terima kasih bagi yang udah baca, review, fav, dan follow cerita ini. Kiss and hug buat kalian :D

Sampai jumpa~

H.S.