Jawaban review anon:
Miyabi Kise [what? Miyabi? ] : Sasuke nyium Hinata buat salam perpisahan xDD kalau masalah yang di bibir itu karena Sasuke liat orang tuanya (?). Aduh, karena apa ya? *plak* liat aja nanti. Oke? ;D
Shiroonna Hyouichieffer : Neji itu suka sama Hinata. Tapi Hinatanya nganggep Neji sudah seperti kakak kandungnya. Jadi seperti cinta tak terbalas. Neji terpaksa nyium Hinata diem-diem. Alasannya itu karena Hinata bisa karate. Jadi setiap cowok yang coba-coba cium dia itu berakhir di rumah sakit selama satu bulan xDD Nanti kita kuak masalah Sasuke yang gak inget Hinata :3 saya emang lemah di alur TT_TT tapi chapter selanjutnya saya usahakan gak kecepetan.
Sasa [bumbu penyedap?] : di sini pair lainnya bukan SasuSaku kok :D
Ika chan [kalau dibaca ikacang kan? ] : mungkin di chapter ini udah ada actionnya. Mungkin *duakk*
xXx
Disclaimer :
Naruto © Masashi Kishimoto
Cinta Segi Banyak © Yoshida Kei
Genre :
Romance / friendship
Rated :
T
Warning :
AU, Hinata remaja rada OOC tapi hanya sedikit berani saja kok ;) #plak Sasuke lebih banyak keluar di sini / tapi kayaknya bakal lebih dingin deh xp
A/N :
Sebenarnya, yang suka Hinata bukan cuma Neji. Tapi ada yang lain. Diantara si Lima Pangeran Cakep kok ;D hayoo, tebak siapa? Pilihannya Naruto, Sasori dan Sai (kaya pilihan ganda aja xD)
xXx
*Triiiing*
SMS masuk.
Hinata-chan, Tou-san nanti jemput Hinata-chan ya?
*Ctik ctik ctik*
Tou-san sudah tiba di Tokyo ya? Tapi, Tou-san jangan panggil dengan embel-embel chan ya? :O
Send
*pip*
"Huh, sebal," kata Hinata sambil menggembungkan pipinya.
"Hihihi," Sakura cekikikan.
"Kenapa?" Hinata masih bertahan dengan cutie face-nya.
"Habis Hinata-chan lucu," jawab Sakura.
"Gyaaaa, jangan panggil Hinata-chan. Cukup Hinata aja," kata Hinata lemas.
"Eh? Kenapa? Kan kesannya Hinata lebih imut," kata Sakura.
"Huweeee, kesannya aku masih kecil," kata Hinata dengan gaya drama supernya.
"Hihihihi," Sakura hanya cekikikan karena ekspresi Hinata. Dan Hinata sendiri hanya bisa jalan gontai karenanya.
Hinata dan Sakura sedang berjalan menyusuri koridor sekolah. Sakura ditugaskan guru untuk menyerahkan file ke guru lain. Hinata menemani Sakura untuk melaksanakan tugasnya sedangkan Ino tidur di kelas.
"Hinata-chan," panggil seorang pemuda dari belakang. Sontak kedutan di dahi Hinata muncul.
"Sabar, Hinata," kata Hinata pada dirinya sendiri. "Neji-chan, jangan panggil Hinata-chan ya," kata Hinata dengan manis dan sedikit penekanan pada kata 'chan'.
"Ehehe," Neji tertawa sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
"Go-gomen, aku serahkan file ini dulu," kata Sakura yang merasa jadi obat nyamuk.
"Aku kan mau nemenin," kata Hinata.
"Tidak usah. Jaa," Sakura berjalan cepat dan tersenyum kepada Hinata.
"Ada apa?" tanya Hinata kepada Neji.
"Ito, Paman Hiashi mengajak kita ke pertemuan gak tau," kata Neji.
"Pertemuan gak tau?" kata Hinata dengan sweatdrop-nya.
"Ya, semacam pertemuan sama relasi paman," jelas Neji.
"Terus? Nii-san kan bisa bilang di rumah aja. Lagi pula tou-san nanti menjemputku," kata Hinata.
"Kata paman, dia mau ngajak kita untuk beli baju. Baju buat kamu," kata Neji.
"Baju macam apa? Kok Hinata curiga sama kalian," kata Hinata dengan keparnoannya.
"Di acara nanti Hinata harus pakai dress. Hinata kan gak punya dress satu pun, jadi aku dan paman mau milihin dress buat Hinata," kata Neji.
"Eh? Dress? Mimpi apa aku semalam?" kata Hinata sambil menepuk jidat. "Kok acaranya aneh sih? Kalau ada acara biasanya juga cuma pakai celana sama kaos," sambungnya.
"Ehehe, kalau itu aku gak tau. Nanti cepat pulang saja. Gak ada tugas kelompok, kan?"
"Tidak," jawab Hinata.
"Oke, jaa," kata Neji yang kemudian langsung melengos. Tiba-tiba Neji menghentikan langkahnya, "oya. Sepertinya Sasuke juga akan ikut," Neji pun melancarkan aksi melengosnya.
"..."
xXx
"Kyaaaa, gak nyangka. Ternyata Hinata-chan itu anak konglomerat. Semakin iri sama kamu," kata Sakura saat mendengar Hinata yang pulang lebih awal karena acara mendadaknya. Sekarang Sakura berada di ruang kelas Hinata sedangkan Ino sudah pulang duluan.
"Kan sudah kubilang jangan panggil dengan nama itu," kata Hinata sambil jingkrak-jingkrak.
"Emang kenapa sih? Kalau aku panggil Hinata-chan, pasti langsung OOC," kata Sakura heran.
"Karena," Hinata mengalihkan wajahnya, "hanya satu orang yang boleh memanggilku begitu".
"Eh? Siapa? Siapa?"
"Nee-chan tak perlu tau," kata Hinata. "Paling nanti juga tau sendiri," sambungnya.
"Ah, siapa sih? Kok wajahmu langsung muram? Pasti cowok yang bikin sakit hati ya? Kasih tau dong, nanti biar kutonjok dia. Karena sudah bikin anak manis ini murung," kata Sakura menggebu-gebu.
"Eh? Anak manis? Berapa kali Nee-chan bilang gitu hari ini?" kata Hinata dengan rona merah di pipinya.
"Hihi. Ya sudah, aku panggil Kelinci aja ya?" kata Sakura.
"Ke-kelinci? Kok kelinci?" tanya Hinata.
"Habis kamu lucu sih".
"Hinata!" dengan terburu-buru Neji masuk ke dalam kelas Hinata. Sontak kelas Hinata rame karena murid cewek berteriak memanggil Neji.
"Ah, Nii-san. Tou-san sudah sampai?"
"Sudah. Ayo cepat! Aku tidak sanggup kalau harus berhadapan sama anak kelas satu," tanpa babibu, Neji pun menarik tangan Hinata.
"Sakura-nee, Hinata pulang duluan. Kalau pulang hati-hati ya!" Hinata setengah berteriak saat berpamitan dengan Sakura. Sang Sakura pun hanya bisa tersenyum.
xXx
"Eh? Yang ini? Gak mau gak mau. Terlalu ribet," kata Hinata yang sekarang sedang mencari gaun. Sekarang, Hinata sedang duduk, sedangkan Neji dan Hiashi sedang sibuk mencari baju yang cocok.
Kenapa demikian?
Karena, jika Hinata memilih sendiri, pasti tidak ada yang diambilnya. Jadi, lebih baik Hinata duduk manis dan menilai baju yang dibawakan oleh tou-san dan nii-san Hinata.
"Yang ini saja!" kata Hiashi dan Neji bebarengan.
"Eh? Hmm.. Okelah," kata Hinata akhirnya.
"Yes!" Hiashi dan Neji pun saling pelukan. Sontak semua pengunjung cengo melihatnya. Dengan cepat Hiashi menetralkan rasa senangnya.
"Cobalah, Putri," kata Hiashi.
"Ya ampun, apa yang terjadi dengan mereka?" kata Hinata pada dirinya sendiri sambil berjalan menuju kamar pas.
Dan tibalah saatnya Hinata keluar.
"Uwaaa, putriku cantik. Tidak seperti anak-anak," kata Hiashi.
"Iya. Cantik, bukan lucu lagi," kata Neji.
Hinata hanya bisa merona. Bahkan wajahnya sudah seperti kepiting rebus mendengar pujian kedua orang terdekatnya.
Hinata memakai dress ungu selutut dengan tali yang di depan dada yang dilingkarkan ke leher. Dan tubuhnya terlihat, ehem, seksi karena bagian pinggang ke atas gaunnya mengikuti lekukan tubuh. Mungkin semacam karet ada di dalam gaun bagian pinggang ke atas.
"Kalau rambutnya mungkin diurai saja," saran Hiashi.
"Ah, kalau menurutku diikat bagian atasnya. Sisakan bagian samping agar terlihat manis," kata Neji.
"Kau benar juga. Lalu sepatunya?"
"Jangan paksa aku pakai high-heels," kata Hinata.
"Kurasa pakai sepatu kets-nya yang sekarang oke oke aja," kata Neji.
"Okelah. Ayo, Sayang. Kita ke salon lalu menuju acara kita," kata Hiashi sambil merangkul putri semata wayangnya.
"Paman, kau tak membayar gaun itu?" Neji sweatdrop melihat pamannya yang sangat santai itu.
"Hampir saja lupa," kata Hiashi sambil menepuk dahinya.
xXx
Keluarga Hyuuga sudah sampai di restoran seafood di Tokyo. Di sana sudah ada beberapa relasi dari ayah Hinata.
"Hei, Hinata. Kau tahu? Yang berambut merah itu? Dia adalah salah satu cowok yang populer di sekolah kita. Namanya Sasori," kata Neji.
"Lalu hubungannya dengan aku apa?" tanya Hinata.
"Kau jangan dekat-dekat sama dia. Dia itu playboy kelas kakap. Cuma suka mempermainkan hati cewek. Tidak pernah serius saat berhubungan dengan wanita. Aku takut kamu jadi korban," kata Neji.
"Tenang saja. Aku akan menjaga jarak setidaknya 2 meter dirinya. Dia anak relasi ayah?" tanya Hinata.
"Iya. Kalau gak salah, dia adalah ahli waris perusahaan Akasuna," jelas Neji.
"Memang ada acara apa sih? Kok sepertinya pertemuan besar gini," tanya Hinata.
Neji mengangkat bahunya, "menyambung tali silaturahmi mungkin".
"Hinata, Neji, ayo berkenalan dengan relasi ayah," kata Hiashi.
"Aish, menyebalkan," rutuk Hinata.
Neji dan Hinata mengikuti langkah Hiashi.
"Kenalkan, ini Sasori dari perusahaan Akasuna," kata Hiashi.
"Salam kenal," Hinata membungkukkan badannya.
"Kalau dengan Neji, saya kenal. Tapi siapa gadis manis yang bersamanya?" tanya Sasori. "Jadi, siapa namamu, Nona?" sambung Sasori dan dia mengambil tangan Hinata.
"Hinata," jawab Hinata singkat dan menarik tangannya dengan pelan.
"Dia putriku. Dia bersekolah di sekolahan yang sama dengan Neji dan pastinya kau juga kenal," kata Hiashi.
"Oh, setelah liburan saya belum masuk sekolah karena ada urusan di perusahaan," kata Sasori.
"Wah, hebat. Masih muda tapi tekat mengurus perusahaan besar," kata Hiashi.
"Wah, aku kira aku telat. Ternyata masih beberapa ekor yang datang," kata seseorang tiba-tiba.
"Ah, Minato. Apa kabar?"
"Baik. Dan siapa putri cantik di sampingmu? Bukan istrimu kan?" kata Minato setengah bercanda.
"Ahaha, tentu bukan. Ini putriku, Hinata," Hiashi bangga mengenalkan Hinata di depan relasinya itu. Hinata hanya bisa membungkukkan badannya.
Aku bagaikan nyamuk di sini, batin Hinata.
"Apa aku telat?" seseorang membuyarkan pembicaraan para pengusaha ini.
"Wah, si Seniman sudah datang," kata Minato.
"Sepertinya anak-anak muda harus menyendiri," kata Sai.
"Kau pikir aku tua?" kata Hiashi dan sontak semuanya tertawa.
"Ngomong-ngomong, mana istrimu dan anakmu, Minato?" tanya Hiashi.
"Biasa, hubungan anak laki-laki dan ibu yang sangat dekat," kata Minato.
"Ahaha, sayang kita tak bisa lengkap karena dari pihak Akasuna hanya diwakili oleh Sasori," kata Hiashi.
"Lalu mana si Uchiha itu?" tanya Minato.
"Mungkin sebentar lagi," kata Hiashi. Dan memang, tak lama kemudian, ada tiga orang yang bergabung dengan mereka.
"Hai, Hiashi. Sudah lama tak berjumpa," kata kepala keluarga Uchiha sambil memeluk Hiashi dan menepuk punggungnya.
"Tak terasa sudah sepuluh tahun," kata Hiashi. "Nah, Hinata, kau pastinya tidak asing dengan dua makhluk itu, kan?" sambung Hiashi yang berbicara dengan Hinata.
"Ini Hinata cilik itu?" tanya Fugaku.
"Iya," kata Hiashi sambil merangkul Hinata bagaikan gadis ciliknya.
"Wah, kau tumbuh jadi gadis yang manis," kata Fugaku.
"Hei, Adik Kecil, masih ingat aku?" tanya seseorang pemuda gagah berambut coklat panjang.
"Ah, Itachi-nii?" tebak Hinata.
"Yay, kau masih mengingatku rupanya," kata Itachi sambil mengacak poni Hinata.
"Ih, nanti rambutnya kusut," kata Neji menghentikan ritual mengacak poni Hinata.
"Ih, suka-suka dong. Hinata kan gadis kecilku," kata Itachi.
"Eits, jangan buat Hinata menangis ya. Haha," kata Hiashi.
"Ayah," protes Hinata.
"Sepertinya sudah lengkap karena pelengkap terakhir sudah datang," kata Mikoto sambil menunjuk ke arah di mana ada seorang ibu dan anak berambut jabrik di sampingnya.
"Oke, acara makan kita dimulai," kata Fugaku.
Acara makan pun dimulai. Saat makan, Hinata menahan keinginannya untuk melihat Sasuke karena dia tahu semua yang ada di situ adalah murid di SMA-nya sekarang. Daripada nanti Hinata ditindas fans Sasuke, batin Hinata.
"Sepertinya ada yang cari mangsa nih," bisik Sai kepada Neji yang kebetulan Sai duduk di sebelah Neji.
"Sialan. Tutup mulutmu," kata Neji.
"Lihat saja matanya. Menuju ke mana, huh? Ke arah Hinata," bisik Sai.
"Eh, jangan sampai garpu di tanganku tiba-tiba di mulutmu ya," ancam Neji.
"Ehehe, iya deh, Bos".
"Jangan sampai gelar kita sebagai The Twins berakhir," kata Neji.
"Ngomong-ngomong, gimana gelar itu ada di kita ya?"
"Soalnya kita itu jomblo bareng, jadian juga bareng," jelas Neji.
"Nii-san, Hinata gatel nih," kata Hinata.
"Eh? Gatel?" tanya Neji memastikan. Hinata mengangguk. "Paman, Hinata," Neji memanggil Hiashi dan memberitahukan bahwa ada yang tidak beres dengan Hinata. Tubuh Hinata sudah mulai dipenuhi dengan bintik-bintik merah.
"Aduuuh, gatal," Sasuke pun juga sudah heboh dengan aksinya. Di tubuh Sasuke pun sudah dipenuhi bintik-bintik merah.
"Wah, Hinata sama Sasuke klop banget ya?" kata Sai dengan innocent-nya.
BLETAKK!
"Bukan saatnya ngelawak, Sai," Minato pun menjitak Sai yang duduk di sebelahnya.
"Apa makanannya ada udangnya?" tanya Hiashi dan Fugaku bebarengan.
BLETAKK!
"Ya jelaslah! Ini kan makanan laut," kata Minato.
"Ayah," Hinata sekarang sudah tak tahan untuk menggaruk muka dan tangannya. "Boleh kugaruk, kan?" tanya Hinata dengan tampang melas.
"Nanti tambah banyak gimana? Lalu kulitmu luka gimana?" kata Hiashi cemas.
"Mending Sasuke dan Hinata aku bawa ke rumah sakit dulu," kata Fugaku.
"Aku ikut," kata Neji.
"Bangku cuma ada empat," kata Itachi.
"Ih, kau saja yang di sini," kata Neji.
"Aduh, tidak mau berpisah dengan Putri ya? Tenang saja, ada dua pangeran di sini," kata Itachi.
"Awas kau ya," Neji sudah geram dengan kedua remaja Uchiha itu.
"Ayo, Sas," Fugaku menarik tangan Sasuke.
"Ayah, gendong, gak kuat nih," kata Sasuke. Sontak semua yang ada di meja makan cengo.
"Aduh, ayo deh," Fugaku pun menggendong Sasuke.
"Gyaaaa, maksudku gendong ala paggy-back, bukan ala tuan putri gini," kata Sasuke protes.
"Kalau paggy-back kau bakal susah menggaruk, kalau gini kan gampang. Lagi pula udah digendong protes saja," kata Fugaku mulai berjalan ke mobilnya. Semua yang melihat hanya cengo.
Sedangkan Hinata pasrah saja digendong ala tuan putri oleh Itachi.
Aduh, cepetan sampai rumah sakit. Keburu aku garuk nih. Aku gak bisa milih pingsan ya? batin Hinata.
xXx
Aku di rumah sakit? Huweee, aku di rawat inap. Jam berapa ini? Jam dua pagi, pikir Hinata.
Sekarang, dia tidak memakai gaunnya lagi. Dia memakai pakaian pasien berwarna biru.
Hinata melihat sekelilingnya. Dan dia melihat seseorang berambut raven sedang tidur di ranjang lain.
Kyaaaa, Sasuke-kun. Yuhuuuu, dia juga di rawat inap! Satu kamar sama Sasuke-kun. Semoga hari baikku, jika bisa, mungkin Hinata sudah jingkrak-jingkrak. Dia semakin tampan dan gagah, pikir Hinata.
Malam itu, Hinata tidak bisa tidur lagi. Sepanjang malam dia habiskan untuk melihat Sasuke. Dan akhirnya, dia tertidur lagi.
"Kumohon, jangan pergi. Kalau kau menangis, aku jadi ingin memelukmu. Kalau kau tidak di sini, aku gak bisa melukmu," terdengar igauan Sasuke malam itu.
xXx
"Aw, mimpi apa aku semalam sampai kepalaku sakit?" kata Sasuke yang bangun dari tidurnya sambil memegangi kepalanya.
Gadis itu, batin Sasuke saat melihat Hinata yang sedang tidur. Seperti Putri Tidur saja, pikir Sasuke dan jika ada yang melihatnya, pipi Sasuke sekarang merona.
"Ibu? Kumohon, jangan pergi," Hinata mengigau dan entah bagaimana air mata Hinata mengalir.
Kenapa dia menangis? Ah, tidak. Kenapa aku berpikiran untuk memeluknya? Bahkan aku bertemu dia baru dua kali, batin Sasuke.
"Kumohon jangan pergi," dahi Hinata sudah diselimuti keringat. Dan entah mengapa, Sasuke menemaninya menangis. Sepertinya Sasuke merasakan apa yang dirasakan Hinata.
Tiba-tiba Hinata bangun dan terduduk tiba-tiba, "ibu! Hosh, hosh, hosh. Ibu?" Hinata mencari sesosok yang dicarinya.
Ibunya.
Jam 6.30 pagi, belum banyak orang, batin Hinata. Dan tiba-tiba...
SREEKK
Hinata melepaskan alat yang menempel di tangannya. Semacam selang untuk menghubungkan cairan dari botol yang diletakkan di atas dengan pembuluh nadi di tangan kiri Hinata.
Hinata berlari keluar kamar dengan memegangi pergelangan tangan kirinya.
Apa yang dia lakukan? batin Sasuke. Sasuke melakukan seperti apa yang dilakukan Hinata.
SREEKK
Aduh, sakiiiit. Kenapa dia tidak kesakitan? batinya. Dia mengambil poselnya dan keluar mengikuti Hinata.
Hinata dengan mudah menghindari suster yang berjaga. Dia keluar dari rumah sakit. Ini rumah sakit dekat rumah, batinnya. Dia terus berlari menuju suatu tempat.
Bodohnya aku, kenapa aku harus mengikutinya? batin anak remaja yang lari di belakang Hinata. Pemakaman? Ada yang dia pikirkan? batin Sasuke saat melihat Hinata memasuki pemakaman.
Hinata jatuh berlutut di depan salah satu makam. Hinata memeluk nisannya. Tertulis di situ 'Beloved wife, aunt and mom'.
"Ibu, aku rindu," kata Hinata sambil terisak.
Hinata masih memeluk nisan ibunya sambil menangis seperti anak kecil yang menangis di pelukan ibunya. Sedangkan seseorang remaja laki-laki berdiri dan mulai menitikkan air matanya.
Sasuke menyeka air matanya dan berjalan mendekat ke arah di mana Hinata berada. Dia bingung harus bagaimana dia menghibur gadis itu.
Sasuke duduk di belakang Hinata—bukan jongkok. Dengan perlahan, Sasuke mengulurkan tangannya dan menepuk pundak gadis yang sedang menangis di atas nisan. Gadis itu pun menoleh ke belakang dan melihat Sasuke.
"Ibu," kata Hinata sambil memeluk Sasuke. Sasuke terkejut saat Hinata memeluknya. Entah apa yang dirasakannya. Sasuke membalas pelukan Hinata. Perih, batin Sasuke. Sepertinya, Sasuke juga merasakan apa yang Hinata rasakan.
Hinata masih terisak dalam pelukan Sasuke. Pusing, kepalaku terasa berat, pikir Hinata. Tiba-tiba Hinata pingsan dalam pelukan Sasuke.
"Hi-Hinata?" Sasuke mengguncangkan tubuh Hinata. Dia tahu Hinata pingsan. Sasuke melihat wajah Hinata dalam-dalam. Mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Hinata.
Sial! Apa yang kulakukan? Aku seperti disihir, pikirnya.
*Triiiing triing*
Panggilan masuk.
"Halo?"
"..."
"A-aku di pemakaman bersama gadis itu".
"..."
"Tidak perlu, aku akan menggendongnya".
Akhiri panggilan.
*Pip*
Sasuke mem-paggy-back Hinata dan berjalan menyusuri jalan yang tadi dilewatinya.
"Pangeran akan menungguku, kan? Pangeran akan selalu jadi pangeranku, kan?" Hinata mengigau lagi. Dan igauan Hinata kali ini membuat Sasuke berhenti berjalan dengan ekspresi terkejut terpampang di wajahnya.
"Mimpi itu. Apa mungkin?"
Xxx Bersambung xxX
Kei : bagus *muji sendiri*
Ken : jelek ah.
Kei : hyaaa~, kok gitu sih? *gigitin kaos kaki*
Ken : emang jadi tambah aneh tau.
Kei : tapi menurutku bagus. Saya suka mah.
Ken : *bekap Kei* gimana readers? Udah keliatan yang suka Hinata siapa? Ya belumlah. Hehe, minta reviewnya sajalah.
Kei : dipap mama diubklip! [di-fav sama di-subcribe!]
Ken : oya, kalau author publish fic itu kan gak tentu. Mungkin mulai Agustus akan dijadwal x3
REVIEW
V
V
V
