Blue Neighbourhood

Cast : Jung Daehyun - Yoo Youngjae

Happy Read *Sorry for typo*


"itu dia anak yang memaksa sahabatnya menjadi homo"

"aku dengar ayah nya memukulinya karena dia gay"

"benar-benar tidak tau diri"

"dia tidak pantas hidup! "

"sampah masyarakat! "

" aku pasti sudah membunuhnya jika dia salah satu keluargaku! "

"hahaha untung nya tidak bukan?"

aku mendengar jelas seluruh celotehan tak berguna bocah tengik disini. entah satu angkatan atau pun senior ku, mereka bersikap sama. memandang ku jijik penuh hinaan. penjaga gerbang pun tak luput memandang ku mual. aku tau siapa penyebar berita itu. tentu saja wanita yang di kencani dia.

aku tak ambil pusing dengan ucapan mereka. hampir satu minggu aku mengalami hal ini, sejak hari itu pula dia -youngjae- absen dikelas. aku tidak tau kenapa pihak sekolah tidak mengeluarkan ku setelah meletupnya berita , lagi pula aku tidak begitu peduli.

aku mendorong keras pintu ujung kiri kelas ku. seisi kelas sontak melihat ku sebal. aku membungkuk sebentar pada guru wanita yang tengah berpidato di depan kelas. ia menghela napas kasar.

"duduklah!" perintahnya tegas. aku hanya diam, melanjutkan langkah ku yang tertunda.

" saya tinggal sebentar, ingat! jangan gaduh!" titah nya sebelum meninggalkan kelas dengan membawa ponsel di genggamannya.

bisik-bisik menyebalkan kembali berdengung seperti lebah melahirkan. mereka benar-benar tidak lelah menggujingi ku tepat didepan hidung ku. aku masih acuh dengan apa yang mereka gunjingkan asalkan-

"-pasti youngjae juga menggoda daehyun! dia itu hanya jalang yang menjadi parasit bagi jung daehyun. kalian tidak boleh memojokkan dia. jika youngjae tida mengingkan nya, harusnya dia melawan. bukankah youngjae itu seorang pria juga? ahh atau orang yang kalian bela itu hanya pria setengah wanita?"

#BRAK!

aku menendang meja disampingku. memandang bengis pada gadis berperawakan tinggi. satu kelas melihat ku takut, tak terkecuali gadis baru saja menjelek-jelekan youngjae.

kaki ku melangkah cepat dan meraih surai panjangnya sebelum ia pergi menjauh.

"akhh! " ia menjerit sakit, aku memandang bengis wajah penuh make up nya

"yakk! lepas brengsek! ishhh " ia memukul pelan tangan ku, meminta secara visual agar aku melepas cengkraman dirambutnya,

"jaga mulut mu jalang! sekali lagi mulut hina mu membual tentang youngjae. aku berjanji akan merobek mulut mu! " aku melempar tubuhnya kedepan. tubuhnya membentur white board kelas. gadis itu meringis sakit, matanya merah mengeluarkan air mata. tak sampai di situ, aku menarik lagi surainya hingga ia berdiri. menulikan pendengaran ku akan makian makhluk berisik ini

"DIAM!" teriak ku lantang tepat di depan wajah badut si jalang

kini tangan kiri ku ikut andil mencengkram rahang nya. seluruh penjuru kelas memandang ngeri

"aku tidak akan segan menghancurkan wajah badut mu bitch! ini juga berlaku untuk kalian. jangan pernah berani menggunjingi dia, atau aku akan meremukan setiap sendi kalian."

aku melepas cengkraman ku, membiarkan gadis itu menangis ketakutan. setelah kejadian cukup menyebalkan ini, aku duduk nyaman di kursi paling ujung. melipat kedua tangan ku guna merajut mimpi indah yang hanya bisa aku rasakan ketika tertidur.

mimpi ku cukup ringan, hanya menikmati hidup bersama youngjae dan anak angkat kami.

ahh sepertinya mimpi ku tidak seringan kenyatannya.

menyedihkan.


Fools


hati ku mendadak berdenyut sakit ketika salju pertama di musim dingin ini jatuh mencium tanah. Beberapa tahun silam, salju inilah yang menjadi saksi penghapusan status sahabat kami, mengakhiri friend zone yang membatasi perasaan ku.

"apa kau masih ingat hari itu jae.. ? " gumam ku pelan seraya menengadahkan wajah. Memejamkan mata menikmati dingin nya salju.

"kudengar kau memukul teman sekelas mu? Dan wanita? Yang benar saja, kau ini banci huh?"

Aku mendengus kesal mendengar suara sepupuku berceletuk. Hampir seminggu ini dia selalu menganggu waktu sendiri ku diatap sekolah. Daerah yang entah sejak kapan aku klaim sebagai tempat ku dan youngjae.

"selain mencabuli sahabat sendiri ternyata kau juga cukup ringan tangan heh? Kemana pergi nya seorang jung daehyun yang baik hati itu?" ia masih melanjutkan celotehannya.

"dia mati" jawab ku ringan.

"wah itu mengerikan. Tapi aku senang melihat mu hancur seperti ini"

"sepertinya kau punya dendam pribadi dengan ku tuan im jaebum" aku menatapnya heran. Ia masih terkekeh ringan menikmati kehancuran diriku.

"sangat benci. Mm...mungkin lebih spesifik ke ibu mu." Paparnya ringan. Ia berdiri menyandar di pagar perbatasan rooftop. Menengadah sok dramatis, membuat ku berdecih tak suka.

"hidup ibu ku sekarang tak lebih menjadi pengganti sosok ibu mu. Kakek sialan itu selalu mengeluk-elukan nama ibu mu. Membandingkan mereka padahal tau kalau mereka dua orang yang berbeda. Aku tau ibu tertekan, tapi ia tak ambil pusing. Ia terus menjalani perannya seperti sebuah robot." Jae bum berkelakar

"kau menaruh dendam pada orang yang salah, letakan dendam mu pada si tua bangka itu dan peringati ibu mu untuk sesekali membangkang, buatlah tua bangka itu merasakan kembali kehilangan seorang putri" aku menatap im jaebum datar. ia tampak berfikir keras mencerna celetukan ringan ku

"cara berfikir mu mirip komplotan mafia" jaebum berdecih kesal, memasukan tangan kedalam saku celana sebelum hengkang dari rofftop ini.

"jagalah youngjae untuk ku" pesan ku lirih. jaebum menghentikan langkahnya dan berbalik menatap ku "dan apa yang akan aku dapatkan?"

"cinta nya mungkin" aku berbalik, enggan ditatap intens oleh sepasang mata tipisnya.

"deal, dengan begitu kau akan sepenuhnya hancur bukan.." ucapnya sambil lalu, pintu rooftop berdebum pelan melenyapkan sosok im jaebum.

"sekarang-pun aku sudah hancur...-kan?"


FOOLS


matahari terlihat lelah mengeluarkan sinarnya di tengah hamparan es. rintik salju turun teratur menamani penghujung hari. aku mengeratkan coat lusuh yang melekat ditubuh ku, mengusir rasa dingin.

aku menghela nafas lelah, akhir-akhir ini tubuhku cukup lemah. biasanya aku akan kerja part time di sebuah club lima kali dalam seminggu. tapi sekarang, aku hanya mampu masuk tiga hari dalam seminggu. bos cantik disana memaklumi keadaan ku, ia sungguh baik untuk ukuran seorang atasan pada karyawan gelap seperti diriku.

"daehyun-a!" aku berbalik, menghentikan langkah ku tepat di belokan jalan yang menanjak. pria bergigi kelinci tersenyum lebar. ia berlari kecil menghampiriku.

"bocah brengsek kurang ajar! kenapa seminggu ini kau tidak menghubungi ku?" ujarnya kesal, tangan cantiknya ikut andil memukul kepala ku.

"hyung! sakit"

"di acuhkan lebih sakit lagi" aku terkekeh pelan.

"ponsel ku rusak hyung, ada apa? jangan bilang kau ingin berkeluh kesah tentang kekasih mu itu?"

"aku mengkhawatirkan mu bodoh!" ia merangkul bahu ku akrab, dia kim himchan, pria cantik berusia dua puluhan. mengenalnya membuatku merasa mempunyai sosok 'kakak' yang tidak pernah aku miliki.

himchan hyung salah satu pelanggan club tempat ku bekerja, dia orang berada tentu saja. bisa dilihat dari apa yang ia kenakan. semuanya bermerk. ah satu hal yang disayang kan dari nya. dia gay. jika tidak, mungkin aku akan memaksa nya menjadi kekasih ku. perlu dicatat bahwa aku bukanlah seorang gay maupun straight.

himchan hyung terlalu sayang untuk di acuhkan, tapi karena sosok youngjae, aku mengindahkan godaan untuk merebut himchan hyung dari kekasihnya.

dia -himchan hyung- asyik berceloteh mengenai orang yang ia anggap kekasihnya.

"bahkan dia masih saja menolak bercinta dengan ku! bukankah itu artinya dia tidak mencintai ku?!" ia meremas bahu ku marah. aku melepas rangkulannya, menatap himchan hyung serius

"mengajaknya bercinta bukan cara yang bagus untuk membuktikan cinta kekasih mu hyung... " ujar ku tegas.

"cih, jangan berbicara seolah-olah kau sudah mengalaminya! dasar bocah tengik" himchan hyung berdecak sebal.

'aku memang sudah mengalaminya hyung.. dan itu membuat dia membenci ku'

"kalau hyung mau, coba saja tinggalkan dia. buat dia merasa kehilangan mu. aku fikir cara itu cukup ampuh untuk menguji cinta pria mu" saran ku seperti seorang konsultan.

rasanya aku ingin terbahak keras menyadari ucapan ku sendiri. manusia memang lebih pintar memberi saran pada orang lain tapi tidak untuk dirinya sendiri.

"bagaimana jika himchan hyung menjadi kekasih ku? dengan senang ha- -ish! sakit hyung!" aku mengaduh keras. ia menendang tulang kering ku dengan sepatu mahalnya.

"aku tidak sudi! dasar bocah hitam. jaa ne!" ia melenggang pergi menyeberangi zebra cross. setibanya di ujung jalan, himchan hyung berbalik. melambai ringan padaku seperti bocah lima tahun

aku tersenyum kecil melihat tingkahnya. lihat siapa yang mirip bocah sekarang.

"semoga kisah mu tidak semiris milikku hyung"


Fools


tubuh ku bergetar pelan menahan sakit yang bersumber dari hati ku. aliran darah ini seakan terhenti sesaat, perasaan ku berkecamuk hebat melihat sosok nya berdiri tak jau dari ku ditemani wanita pendek berseragam senior high school. ia tampak berdiri kaku sama sepertiku. rasa bersalah mulai tumbuh lebat melihat tubuh youngjae gemetar takut ketika pandangan kami bertemu.

tangan putih gadis disamping youngjae dengan lancang menautkan jemarinya pada tangan mungil youngjae yang termor. gadis tersebut tersenyum bak malaikat seraya berucap sesuatu yang nampaknya membuat youngjae tenang.

ahh lihat lah jung daehyun, kau bahkan tidak bisa menenangkan nya. justru kau lah sumber ketakutannya.

hati ku menjerit tak terima kala hazel indahnya berbalik menatap ku dingin. termor di tubuhnya kian menghilang seiring mengeratnya genggam tangan si gadis perusak hubungan kami.

kami? masih pantaskah kata kami menggambarkan aku dan youngjae?

dua sosok itu berjalan pasti melewati ku. bahkan mereka tersenyum senang membicarakan hal yang terlihat begitu lucu. tawa mereka mirip seperti nyanyian kematian untuk ku.

kenapa harus sesakit ini? jantungku berdetak cepat seakan hendak melompat keluar. merasa enggan berada telalu lama didalam tubuhku yang tengah terjangkit virus pesakitan.

aku menahan dada ku kiriku. menekan rasa sakit yang kian merajai tubuh ini.

"youngjae-ah.. -hiks youngjae.. yoo youngjae..." bibir ku terus merapal nama youngjae. berharap dengan ini rasa sakit ku bisa sedikit menguap. namun perkiraan ku salah, kini air mata ku ikut andil turun deras membasahi kedua pipi ku. membuang sesak yang datang serentak. langkah siput ku terhenti tepat di gerbang rumah ku. kilasan balik kejadian minggu lalu kembali berputar. membuat seluruh tubuh ku mengkerut pilu, meraung dalam diam ditemani lelehan air mata yang kian tak terbendung.

kaki ku terasa lemas seakan kehilangan kekuatannya untuk menopang tubuhku. aku jatuh terduduk, menangisi skenario hidup ku yang menyedihkan.

"youngjae-a... hiks.. kenapa.. -sakit sekali" lirihku tak berarti.

sisi brengsek ku tidak pernah menyesal pernah memaksa mu menjadi 'milikku'. namun disisi lain, aku begitu menyesal sudah menyakiti mu.

aku hanya menginginkan mu, apa itu salah?

aku ingin mendekap mu, aku ingin memeluk mu dan mengklaim dirimu hanya untuk diriku. apa itu juga salah?

apa itu terlalu egois?

karena kebodohan ku... orang yang aku cintai berbalik membenci ku...

i'm lost control and lose you, now and forever... it's really hurt jae. if i can.. i think.. i'm better off dead


.Fools.

***THE - END***

R&R?


Maaf alur dan gaya bahasa nya berantakan T.T... bener-bener lagi kacau fikiran aku. di part ini memang gak ada moment daejae, ini untuk kebutuhan ff selanjutnya -mungkin-

makasih banget yang udah R&R di ff sebelumnya...^^

Ps: berhubung lepi ku masih rusak, jadi gk bisa sering2 update ff... ini juga updatenya pake kumputer ditempat kerja #slap *janganditiru*.

See you ^^