Minna~

Nih, update yang sangat amat lama telah datang, ^^

Gomen ne, jika kalian sampai lumutan menunggui update an ini.

Yah, author sedang pusing tujuh turunan karena Laporan PKL yang seabreg belum diketik sama sekali.

tidak banyak curcol lagi, balas review ~

Azriel1827 :

Gomen, updatenya nggak cepat m—m

Soalnya nunggu ide nimbrung dulu, nih hasilnya!

Baca ya~

Makasih sudah review ^^/

Sora asagi :

Ok! Nih sudah dilanjut!

Baca ya~

Makasih sudah review ^^

Farenheit July :

Hohoho, nih sudah dilanjut.

Iya ini bisa dibilang incest ^^

Baca ya~

Makasih udah review ^^

Yurin Asuka :

Ok!

Nih sudah dilanjut!

Baca ya~

Makasih sudah review ^;^

Earl Louisia vi Duivel :

Nggak pindah qok! Cuma lagi kepingin nyobain yang lain aja.

Hiks, memang banyak sekali yang jadi pikiranku~ sekarang kayaknya jadi terpaksa hiatus disalah satu fic.

Makasih sudah review ^-^/

Two Brother Crazy Lady and Boy :

Lady and boy suka pair ini juga ya, sama dong!

Update cepat, oh tidak bisa~ #plak!

Lagi ribet dengan yang namanya laporan PKL, jadilah pikiran buyar kemana-mana.

Makasih sudah review ^_^V

Aoi Ko Mamoru :

Aoi chan, makanya liat animenya!

Baca : Sebenarnya author sendiri cuma liat sampai pertengahan nggak samapi selesai

Nah, itu dia! Masih bingung sama akhirnya, semoga aja apa yang kamu tebak benar-benar nyambung sama pikiran dan ide mampetku deh!

Makasih sudah review ^,~

MJ (Guest) :

Sip! Nih sudah update!

Baca ya~

Makasih sudah review ~,^

Jamcomaria (Guest) :

Oh yeah! This is SessInu! -,-d

Habis pair ini sepi banget, jadi pengin nyobain ^,^

Makasih sudah review ^,*

astia aoi :

Sip dah! Nih sudah di update lanjutannya!

Baca ya~

Makasih sudah review ^..^

Nia Yuuki :

Semoga aja benar-benar seru, nih sudah dipanjangin.

Baca ya~

Makasih sudah review ^3^

Vipris :

Gomen, tidak bisa update kilat.

Tapi semoga aja sabar menunggu update alot fic ini.

Semoga saja mereka benar bisa akur, ide nyangkut jadi lama deh =="

Baca ya~

Makasih sudah review ^=^

Shuukai ShuShi KaiHisa lover :

Hohoho, nih sudah dilanjut!

Lemonnya juga #hajaredbolakedbaliked

Baca ya~

Makasih sudah review ^)^/

Untuk yang sudah fave, arigatou ^^

Sungguh tidak disangka fic ini akan ada yang fave n follow.

Okey!

Lets enjoyed!


Disclaimer:

Inuyasha milik Takahashi Rumiko-Sensei

Rate :

M for this chapter

Warning!

Yaoi, BL, BoyXboY, Rape, Lime, Hard Yaoi, Incest

OOC, gaje, alur kecepetan, ketidak nyambungan alur, typo dan sebangsanya.

Dont't Like? Yeah Dont Read!

Okey?


###################*###################***###################*####################

O.o Kagari Hate The Real World o.O

Inuyasha POV

Melangkahkan kakiku memasuki mansion bergaya khas jepang yang sekarang menjadi rumahku, aku masih merasa risih dengan berbagai macam kebiasaan dan berbagai tata krama bahkan cara bicara orang-orang di sini. Ini hari keduaku di sini dan hari pertama aku masuk sekolah, aku tidak menyangka jika sekolah bisa sangat melelahkan seperti tadi. Padahal waktu di desa rasanya teman-temanku sangat menikmati waktu di sekolah mereka, tentu saja bersama teman-teman mereka.

Berbicara tentang teman, aku sudah mendapatkannya hari ini. Tidak banyak hanya dua orang, namanya Miroku dan Sango mereka sepasang kekasih mungkin. Aku sendiri tidak mengerti, Miroku adalah seorang pemuda yang menurutku sedikit humoris walaupun jika berhadapan dengan gadis cantik dia pasti akan langsung jadi playboy tapi entah mengapa orang ini bisa terpilih menjadi ketua kelas. Sedangkan Sango, sepertinya dia menyukai Miroku, kadang-kadang kulihat Miroku yang menggodanya, mungkin juga melecehkannya dan saat itu juga Sango akan langsung memukulnya sampai babak belur. Dia ketua klub bela diri judo dan wakil ketua di kelas. Sedangkan yang lain, entahlah mereka semua hanya memandangku dengan tatapan yang aku tidak mengerti apa maksudnya. Miroku bilang, mereka hanya tidak percaya jika aku adalah adik Sesshomaru. Aku tak menyangka jika dia itu adalah pangeran yang dipuja-puja seluruh sekolah, apa bagusnya orang dingin itu. Sudahlah, lagi pula aku juga tidak terlalu peduli mengenai hal itu.

"Selamat datang Inuyasha sama." Kulihat para maid itu berjejer rapi disamping kanan dan kiriku saat aku memasuki bagian dalam mansion. Aku hanya tersenyum dan membalas sekenanya, tapi kenapa wajah mereka terlihat memerah saat aku menatap mereka.

"Sa saya bawakan tas anda tuan." Tawar salah satu maid itu padaku.

"Ah, tidak usah terima kasih. Aku bisa membawanya sendiri," Aku menolaknya sopan, hanya tas aku bisa membawanya sendiri.

"Anda ingin makan atau mandi terlebih dahulu tuan?" Tanya maid itu.

"Tidak, um terima kasih. Aku akan langsung ke kamarku, permisi." Ucapku pada maid itu, aku membungkukkan tubuhku sedikit dan berjalan menuju tangga kelantai dua.

Namun saat menaiki tangga aku mendengar sapaan dari para maid itu lagi, hanya kali ini bukan ditujukan untukku tapi pada orang yang terlihat dingin dan acuh dihadapan mereka.

Aku sedikit kesal saat orang itu hanya lewat tanpa mempedulikan sapaan dari para maid disini. Aku terus memperhatikan apa yang dilakukannya, sampai-sampai aku tidak tahu jika dia terus menatapku. Terkejut segera kupalingkan wajahku darinya, malu sendiri karena ketahuan telah menatapnya dan berjalan cepat ke kamarku, untuk apa mengurusi seseorang yang nyatanya membencimu benar bukan?

Inuyasha POV end

Cklek

Inuyasha membuka pintu kamarnya, ia melangkahkan kakinya memasuki kamar bernuansa putih gading itu. Tujuannya satu, yaitu tempat tidur berukuran kingsize yang berada di tengah ruangan itu.

Brug !

Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur empuk itu, terlalu lelah untuk sekedar berganti pakaian atau pun melepas sepatunya. Menutup matanya dan hanya dalam beberapa menit ia pun tertidur.

.

.

.

Tap tap tap

Dengan langkah senada Sesshomaru berjalan mendekati sebuah tempat tidur kingsize dengan seseorang yang sedang terlelap di atasnya. Ia mengedarkan pandangannya pada sekeliling untuk sekedar melihat keadaan diruangan, ruangan bernuansa putih gading yang tak terlalu banyak perabotan. Namun pandangannya selalu berakhir pada pemuda bersurai sama dengannya yang kini tengah tertidur di sana.

Tap

Ia menghentikan langkahnya tepat disamping tempat tidur, menatap keseluruhan dari pemuda di sampingnya. Ia mengepalkan tangannya erat, ia sangat benci pemuda ini. Ia juga tidak tahu mengapa ia harus membencinya, apa karena pemuda disampingnya adalah anak tidak resmi dari sang ayah atau karena pemuda disampingnya ini bukan asli keturunan keluarganya yang mestinya menganut pernikahan sedarah dan keberadaannya adalah sesuatu hal yang tidak bisa diterima. Entahlah, yang pasti ia sangat membenci pemuda ini.

Sesshomaru terus menatap pemuda itu lama hingga telinganya mendengar sedikit erangan dalam tidur pemuda itu, bergerak mencari-cari posisi yang nyaman untuk tidurnya, membalikan badannya dan kembali pulas saat dirasa posisinya sudah nyaman.

Sekarang ia dapat melihat jelas wajah lembut milik pemuda itu, wajah itu tidak mirip dengan ayahnya. Apa wajah ini sama dengan perempuan itu, perempuan yang menjadi ibu dari pemuda ini.

Mata itu terus bergerak menyusuri lekuk wajah sang pemuda, leher jenjang yang terekspos jelas karena pemuda itu memiringkan wajahnya juga dengan dua kancing seragam yang tidak dipasang menampakan sedikit kulit porselennya.

Menundukan tubuhnya sedikit, membuat helaian peraknya ikut terjatuh hingga mencapai tempat tidur. Matanya terus tertuju pada pemuda itu, bergerak menyusuri lekuk wajahnya. Ia sedikit tersentak saat mendengar erangan dari pemuda itu, namun ia tak beranjak. Ia terus memperhatikan kelopak mata yang mulai terbuka dengan perlahan, menampakan iris coklat lembut yang beradu dengan iris coklat emasnya.

Erangan dari bibir tipis itu kembali terdengar, mengucek matanya yang terasa kabur hingga perlahan penglihatannya kembali jelas. Mengerutkan keningnya, Inuyasha merasa jika ada seseorang didekatnya. Mengucek matanya sekali lagi kemudian ia menatap lurus ke depannya.

Tubuhnya menegang saat matanya melihat ada seseorang di depannya, seseorang yang tengah menatapnya dengan pandangan datar. Begitu dekat hingga ia dapat merasakan hembusan hangat dari napasnya.

"A apa yang kau lakukan?" Tanya Inuyasha yang mulai merasa risih dengan posisinya.

Sesshomaru menegakkan kembali tubuhnya dan berbalik membelakangi Inuyasha yang memandangnya bingung.

Ia memandang ke samping, melirik Inuyasha yang mangerutkan keningnya.

"Ayah memanggilmu." Ucapnya sebelum melangkahkan kakinya pergi.

Inuyasha menatap kepergian 'kakak'nya dengan bingung kemudian ia mengalihkan pandangannya pada tempat tidur yang baru saja ia gunakan. Menemukan tasnya yang berada di ujung sisinya dan ia melihat dirinya yang masih mengenakan seragam sekolah lengkap dengan sepatu yang masih terpasang dikakinya. Benar juga, ia langsung tertidur begitu merebah ditempat tidur.

Tunggu itu artinya, Inuyasha kembali menatap pintu kamarnya yang terbuka. 'Sejak kapan dia disini?' Pikirnya.

Menggelengkan kepalanya mengusir pikirannya barusan, ia beranjak dari rebahannya dan berjalan menuju lemari pakaian yang ada di ruangan itu. Membuka lemari dua pintu itu hingga terbuka sebelahnya namun ia tampak terkejut dengan apa yang dilihatnya. Lemari itu penuh dengan baju-baju dan celana berbahan jeans, kaos dan banyak pula kemeja serta jas yang semuanya berlabel baru, ia mengangkat satu persatu pakaian itu mencari-cari sesuatu atau lebih tepatnya mencari pakaian yang ia bawa ke tempat ini saat meninggalkan desanya.

Setelah menyerah untuk mencari, Inuyasha memutuskan untuk memakai salah satu pakaian yang tersedia di sana dan berpikir jika semua pakaiannya pastilah tidak akan ada diantara pakaian mahal itu. Ia mengambil kemeja biru kotak dan celana jeans dari lemari itu dan mulai menanggalkan pakaian seragam yang ia kenakan. Melempar blazer dan kemeja sekolahnya ke atas tempat tidur dan menggantinya dengan kemeja tadi.

Inuyasha memperhatikan pantulan dirinya pada cermin besar yang berada disebelah kiri lemari lemari, heran kenapa harus ada cermin dengan ukuran full body dikamarnya hingga ia dapat melihat keseluruhan dari dirinya. Ia mengangkat tangan kanannya, menyentuh pipi cubby itu dengan jemarinya. Seulas senyum tergaris dibibirnya ketika ia mengingat perkataan orang-orang desa mengenai dirinya yang begitu mirip dengan sang ibu dan karena itu pula ia sering sekali dikatai manis, cantik dan lainnya oleh mereka. Ia tertawa kecil karena pikirannya barusan, ia pasti akan selalu marah saat dikatai seperti itu.

"Apa benar, wajahku mirip denganmu ibu?" Gumaman kecil keluar darinya, ia memejamkan matanya sejenak dan menatap dirinya sekali lagi. Tubuhnya yang terlampau kecil untuk usianya sekarang mungkin adalah bukti jika ia tak pernah mendapatkan asupan yang tepat, tentu saja karena ia hanya seorang anak yatim yang mendapatkan belas kasihan dari warga desa karena ibunya yang baik hati selama hidupnya takkan bisa menyanggupi seluruh kebutuhannya.

Ia juga harus bekerja untuk hidupnya, entah serabutan atau apapun. Selama lima belas tahun hidupnya ia ingin menjadi orang yang mandiri, ia tidak ingin terlalu bergantung pada orang lain.

Ha'ah, cukup untuk memikirkan hidupnya. Sekarang ia harus menemui seseorang, ayahnya. Dengan langkah tegap ia berjalan keluar dari kamarnya, menutup pintu yang baru saja ia lewati dan kembali melangkah menuju pintu lain yang berjarak tiga pintu dari kamarnya.

Tok tok tok

Cklek

Inuyasha membuka pintu besar berwarna gelap itu dan melangkahkan kakinya masuk, ia melihat ayahnya yang tengah duduk di belakang mejanya.

"Anda memanggilku?" Tanya Inuyasha.

"Duduklah," Ucap Inutaisho, ia melirik sofa di samping kanannya memberikan gestur agar Inuyasha duduk di sana.

Inuyasha melangkahkan kakinya menuju sofa berwana merah bata itu dan mendudukan dirinya di sana, ia melihat ayahnya yang masih duduk dengan pandangan serius. Kesan tegas sangat terpancar dari diri ayahnya itu.

"Bagaimana sekolahmu hari ini?" Tanya Inutaisho.

"Baik, hanya..." Inuyasha menundukan kepalanya, menyembunyikan raut wajahnya sehingga sang ayah tak bisa melihatnya.

"Apa kau tidak terlalu menyukai suasananya? Aku bisa memindahkanmu ke sekolah lain jika kau memang tidak betah di sana."

"Tidak, bukan itu." Inuyasha menatap ayahnya cepat. " Aku hanya...aku sulit untuk beradaptasi. Aku tahu anda sudah menyekolahkanku di sana tapi aku, semuanya begitu baru untukku." Inuyasha kembali menundukan kepalanya lebih dalam. Sulit bicara dengan seseorang yang nyatanya asing dan baru saja kau sebut dengan ayah.

Inutaisho memejamkan matanya sejenak dan kembali menatap ke arah Inuyasha yang masih menundukan kepalanya. Ia beranjak dari kursinya dan berjalan mendekati pemuda itu, menghentikan langkahnya begitu ia berdiri tepat di depannya.

"Bisakah, kau panggil aku ayah?" Tanyanya.

Inuyasha tersentak begitu mendengar ucapan laki-laki di depannya, ia bahkan tidak menyadari sejak kapan orang ini beranjak dari kursi dan berdiri di depannya. Ia mendongak, menatap sang ayah yang tengah menatapnya balik dengan pandangan lembut.

"A ayah?"

Inutaisho tersenyum lembut melihat pandangan bingung yang ditunjukan Inuyasha padanya, ia mengelus kepala Inuyasha dengan lembut menyisir helaian perak panjangnya. Rona merah menjalar dengan jelas diwajahnya mendapatkan perlakuan dari ayahnya itu.

"Kau sangat mirip dengan ibumu,"

Terpaku, Inuyasha terdiam menatap iris coklat madu di depannya. Ia hanya terdiam saat sang ayah mengelus wajahnya, menggerakan jari-jarinya menyusuri bibir ceri miliknya. Terdiam ketika sang ayah menundukan tubuh tegapnya hingga ia dapat melihat lebih jelas coklat madu yang tengah menatapnya itu.

Tetap terdiam saat sang ayah semakin membawa wajahnya mendekat hingga ujung hidung mereka bersentuhan dan terdiam saat jarak diantara ia dan ayahnya semakin menipis hingga ia merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Sesuatu yang basah bergerak menyusuri belahan bibirnya hingga tanpa sadar ia membuka mulutnya dan dengan cepat sesuatu itu melesak memasukinya. Teksturnya yang kasar menyapu setiap bagiannya, menjilat barisan gigi yang terpasang rapi dalam mulutnya.

"Nnnh..."

Inuyasha menutup kelopak matanya, menikmati setiap sentuhan yang membuatnya nyaman. Ia tak bisa dan tak mampu mencerna semua kejadian yang tengah dialaminya sekarang. Ia dan seseorang yang ia sebut sebagai ayah tengah melakukan sesuatu yang tidak seharusnya.

Tanpa kedua laki-laki itu sadari, seseorang tengah memperhatikan semuanya sejak tadi. Menatap kedua orang yang tengah saling berpagutan itu dengan pandangan datarnya yang terbatasi oleh celah pintu yang sedikit terbuka. Tangannya terkepal erat, menatap seseorang yang ia hormati tengah melalukan sesuatu yang tabu bersama pemuda yang seharusnya ia sebut sebagai anak.

.

.

.

Skip Time


.

.

.

Kicauan burung di balik jendela menemani pagi seorang pemuda yang tengah merapikan seragam sekolahnya, kemeja putih berbalut blazer merah marun juga dasi yang berwarna senada yang tengah berusaha dikenakan secara benar oleh pemuda itu.

"Kenap sulit sekali sih!" Dengan kesal Inuyasha melempar dasi itu ke lantai dan menatap dasi itu seolah ia bisa membakarnya hanya dengan memberi tatapan tajam.

Ia menjatuhkan pantatnya pada tempat tidurnya yang empuk dan melipat kedua tangannya di depan dada. Menyerah untuk memakai dasi itu.

Tok tok tok

Inuyasha menatap pintu kamarnya yang baru saja diketuk dari luar.

"Masuk,"

"Inuyasha sama apa anda sudah selesai?" Seorang anak perempuan menyembulkan kepalanya dari sela pintu, mengarahkan pandangannya pada seorang pemuda yang tengah terduduk di atas tempat tidur.

"Tuan besar dan Sesshomaru sama sudah menunggu anda di bawah." Ucapnya, anak itu melihat Inuyasha yang masih terdiam seraya menatapnya.

Anak itu tersenyum dan melangkah mendekati Inuyasha tetapi di tengah jalan ia menunduk untuk mengambil sesuatu, sebuah dasi berwarna merah yang ia lempar Inuyasha tadi.

"Boleh Rin pasangkan?" Tanya anak itu.

Inuyasha hanya mengangguk dan membiarkan anak itu melingkarkan dasi pada lehernya. "Caranya begini." Ucap anak itu, matanya sibuk memperhatikan tangannya yang sedang bekerja memasangkan dasi. Melipat beberapa sudut hingga berbentuk segitiga, memasukan ujungnya kecelah lipatan dan menarik ujungnya.

"Selesai," Anak itu tersenyum melihat hasil kerjanya.

"Kau siapa?" Tanya Inuyasha, ia memandang anak perempuan berambut coklat gelap yang masih tersenyum padanya itu.

"Rin, pelayan di sini tapi Sesshomaru sama bilang Rin tidak usah bekerja karena Rin di sini bukan sebagai pelayan."

"Sesshomaru?"

"Hu'um, sebaiknya Inuyasha sama segera ke bawah sekarang untuk sarapan pagi bersama." Anak itu menundukan tubuhnya dan berjalan keluar kamar.

Menghela napasnya, Inuyasha mengikuti anak itu keluar. Melangkahkan kakinya dilantai berlapis keramik dengan ukiran bunga krisan yang indah dan menuruni tangga untuk ke lantai bawah.

Ia bisa melihat Sesshomaru yang tengah duduk membelakanginya dan juga sang ayah yang duduk terdiam di samping kanannya, rona tipis terlihat dipipinya begitu mengingat apa yang ia lakukan kemarin dengan sang ayah.

Ketika ia sampai dianak tangga terakhir, kegugupan makin tampak darinya saat sang ayah menatap lembut ke arahnya.

"Duduklah di sampingku, Inuyasha."

Mendengar perintah ayahnya, ia pun mendudukan dirinya di samping sang ayah dengan kursi yang berhadapan dengan Sesshomaru. Ia melirik kilas kakaknya itu yang dari tetap diam seraya menatap lurus padanya membuat ia menaikan sebelah alisnya heran. Setelah ia duduk, makananpun mulai disajikan di atas meja.

Inuyasha menatap irisan tebal daging steak panggang yang ada di depannya dan melirik sepasang garpu dan pisau kecil di kiri dan kanannya, alisnya berkerut saat memandang kedua alat ditangannya. Ia mengangkat pisau ditangannya dan mulai memotong steak di depannya namun saat ia akan memotongnya steak itu akan bergerak-gerak sehingga ia selalu gagal memotongnya.

Inutaisho memperhatikan Inuyasha yang sedang berusaha memotong steak di depannya, ia tersenyum saat melihatnya yang begitu serius dengan pisau ditangannya namun tak juga berhasil memotong steak itu.

"Apa sulit?" Tanya Inutaisho.

Inuyasha mendongakan kepalanya menatap orang yang baru saja bertanya padanya.

"Aku, tidak mengerti cara menggunakannya." Ucap Inuyasha seraya menggaruk tengkuknya.

Inutasiho tersenyum tipis mendengar penuturan anaknya, ia berdiri dari duduknya dan melangkah mendekati Inuyasha. "Caranya seperti ini." Inutaisho berdiri di belakang kursi Inuyasha, sedikit menundukan tubuhnya untuk mensejajarkan tingginya. Kedua tangannya menggenggam tangan Inuyasha, menuntun tangan itu untuk menggunakan kedua alat yang ada ditangannya, garpu pada tangan kiri dan pisau ditangan kanan. Memotong steak itu perlahan menjadi beberapa bagian kecil.

Garpu itu menusuk salah satu bagian kecil daging itu dan membawanya mendekati mulut Inuyasha, "Sekarang kau bisa memakannya." Ucap Inutaisho.

Ia mengarahkan steak itu hingga Inuyasha membuka mulutnya dan memakan steak itu. Inuyasha terlihat membulatkan matanya begitu rasa steak itu mengecap indra dilidahnya.

"Kau suka?" Tanya Inutasho.

Inuyasha hanya mengangguk dan mengambil potongan steak itu lagi. Baru saja ia akan membuka mulutnya, steak yang ada ditangannya ditarik dan dilahap oleh ayahnya. Ia melihat ayahnya yang tengah mengunyah steak yang tadinya ada ditangannya.

Rona merah semakin menjalar begitu melihat parasnya dan sang ayah begitu dekat, ia bahkan bisa merasakan detak jantungnya yang berpacu lebih cepat.

"Aku sudah selesai." Sesshomaru berdiri dari kursinya dan membalikan tubuhnya.

"Kau mau kemana Sesshomaru?" Suara bariton sang ayah menghentikan langkah Sesshomaru.

Sesshomaru hanya melirik dari ekor matanya, "Sekolah." Ia menjawab tanpa membalikan tubuhnya dan mulai berjalan meninggalkan tempat itu.

.

.

.


###################*###################***###################*####################

O.o Kagari Hate The Real World o.O


Di jalanan beraspal tampak sebuah mobil yang tengah melaju dengan kencangnya, mengusir rasa sepi disepanjang jalan lurus tanpa ada kendaraan lain yang melewati jalan itu. Jalan yang memang sudah dikhususkan untuk sang pengemudi mobil white ferrari itu. Membelah jalannya aspal dengan kecepatan di atas rata-rata.

Di dalam mobil itu, seorang pemuda menatap datar jalan di depannya. Ia terus mempercepat mobil yang dikemudikannya dengan tangannya yang terkepal erat pada setir mobil. Tidak mempedulikan buku-buku jarinya yang mulai memutih karena aliran darah yang terhalangi.

Ia muak, semuanya terasa memuakan. Baru dua hari namun kehadirannya telah sangat dengan sukses menghancurkan kehidupannya. Membuat ia ikut membenci ayahnya.

Ia memejamkan matanya sejenak, melupakan jika ia tengah mengemudikan mobilnya dalam kecepatan tinggi dan mengambil ponselnya yang ia letakan di sebelah tempatnya duduk. Memencet beberapa angka pada ponsel touch screennya itu dan mendekatkan pada telinganya.

"Ya?"

"Aku tidak ingin ke sekolah." Ucap Sesshomaru.

"Hahaha, well come back Sessho. Sudah lama aku tak mendengar kalimat itu keluar dari mulutmu."

"Aku tidak sedang dalam mood untuk bercanda."

"Hm, baiklah. Tempat biasa, aku akan mengajak Kagura dan Kikyo."

"Hn."

Sambungan telepon itu terputus, menyisakan Sesshomaru yang terdiam memperhatikan jalanan lenggang di depannya.


###################*###################***###################*####################

O.o Kagari Hate The Real World o.O


.

.

Sebuah mobil BMW hitam berhenti di pekarangan sekolah yang luasnya hampir setengah dari lapangan sepak bola, pintu mobil itu di buka oleh seseorang berpakaian serba hitam. Menampakan seorang pemuda bersurai putih perak dengan seragam merahnya, menjejakan kakinya di halaman sekolah itu.

Pemuda itu mulai berjalan dengan didampingi oleh beberapa orang berpakaian hitam di samping kiri dan kanannya. Ia menatap sekelilingnya yang dipenuhi kerumunan siswi, sama seperti kemarin saat ia datang. Ia ditatap dengan penuh selidik dan keingintahuan mereka akan dirinya. Ia mencengkram tali ranselnya untuk mengusir rasa gugup yang ia rasakan, semuanya benar-benar asing. Entah orang-orang ataupun lingkungan tempatnya berada sekarang.

"Inuyasha!"

Inuyasha menengokan kepalanya ke asal suara yang memanggil namanya barusan, ia melihat seorang pemuda berambut hitam yang tengah berlari ke arahnya.

"Pagi, baru datang ya?" Tanya pemuda itu.

"Kau bisa melihatnya sendiri." Jawab Inuyasha cuek dan mulai berjalan dengan pemuda itu.

Pemuda bernama Miroku itu hanya mengangkat bahunya dan melihat para guardian yang terus mengikuti mereka-ralat-mengikuti Inuyasha disepanjang koridor. "Hei, Inuyasha. Kau bisa menyuruh para bodyguardmu untuk pergi, rasanya agak...tidak nyaman." Miroku berbisik ditelinga Inuyasha.

"Memangnya aku bisa?" Tanya Inuyasha.

Miroku benar-benar ingin menjitak kepala Inuyasha karena kebodohan pertanyaannya barusan. "Ck! Kau kan 'tuan muda' mereka. Apa sih yang tidak bisa kau lakukan?" Ujar Miroku.

Inuyasha hanya ber-oh ria mendengar ucapan Miroku, ia pun menghentikan langkahnya dan menatap para bodyguardnya.

"Inuyasha sama, apa ada masalah?" Tanya salah satu dari bodyguard itu.

"Tidak, tapi..." Inuyasha menatap Miroku yang memberi anggukan padanya, "Bisakah kalian tidak mengikutiku di sekolah?" Tanya Inuyasha.

"Tapi Tuan besar memerintahkan kami untuk terus berada di samping anda." Ucap Boduguard itu.

"Ini kan sekolah, aku akan baik-baik saja."

Para bodyguard itu saling melirik satu sama lain sebelum mengangguk, "Baik, kami akan menunggu anda di depan." Ucap bodyguard itu, serempak mereka menundukan tubuhnya dan berlalu pergi.

"Kau ini repot ya."

Inuyasha menatap Miroku yang berjalan di sampingnya, "Apanya?"

"Harus selalu didamping guardian, memangnya itu tidak merepotkan?" Tanya Miroku.

"Sedikit, mereka terus mengikuti ke mana pun aku pergi dan itu membuatku risih."

"Hahaha, tentu saja! Kau kan seorang tuan muda!" Ucap Miroku, ia menepuk-nepuk bahu Inuyasha hingga korban tepukannya itu mengaduh kesakitan.

Bugh!

"Hey! Hati-hati dengan jalanmu bodoh!"

Inuyasha menatap orang yang baru saja tidak sengaja ia tubruk, seorang siswi dengan seragam yang tak jauh beda dengannya hanya warna blazer dan dasinya yang lebih merah yang kini tertumpahi minuman yang dibawanya.

"Maaf, aku tidak sengaja." Ucap Inuyasha.

"Kau taruh dimana matamu itu! Lihat, kau membuat kotor pakaianku!" Ucap gadis itu tak terima.

"Aku kan sudah minta maaf, kan sudah kubilang kalau aku tak sengaja."

"Kagura, ada apa?" Pemuda bersurai hitam banjang bergelombang menepuk pundak Kagura dari belakang.

"Naraku, lihat apa yang dilakukan anak kelas satu ini pada pakaianku." Ucap gadis bernama Kagura itu.

"Kau kan bisa membeli yang baru, tidak usah mempermasalahkan hal kecil seperti ini." Ujar pemuda bernama Naraku itu.

"Pst,Miroku. Mereka itu siapa?" Bisik Inuyasha.

"Mereka itu senpai kita, mereka kelas tiga." Jawab Miroku.

"Sudahlah Kagura, apa perlu aku membelikanmu yang baru." Ucap Naraku, ia mengalihkan pandangannya dari Kagura dan menatap juniornya yang tengah berbisik-bisik di samping mereka.

"Kau adiknya Sessho, Inuyasha benar?"

Inuyasha menatap pemuda di depannya dengan alis berkerut. 'Darimana orang ini tahu namaku?' pikir Inuyasha.

"Ah! Perkenalkan, namaku Naraku dan ini Kagura. Kami adalah teman Sessho," Ucap Naraku.

"Tak ku sangka kau lebih cantik jika dilihat sedekat ini."

Kedutan besar bersarang didahi Inuyasha, lagi-lagi ia harus dikatai cantik oleh seseorang yang notabenenya adalah laki-laki.

"Maaf. Senpai, aku ini LAKI-LAKI dan aku tidak CANTIK. Permisi." Ucap Inuyasha, ia membungkukan tubuhnya sedikit dan mulai berjalan seraya menghentak-hentakan kakinya meninggalkan tempatnya berdiri barusan.

"He hei Inuyasha! Em permisi senpai!" Miroku menundukan tubuhnya sedikit dan berlari mengejar Inuyasha yang mulai menjauh.

"Kau tidak sedang berpikir apa yang kipikirkan bukan?" Tanya Kagura pada Naraku yang masih setia menatap punggung juniornya yang tengah menjauh.

"Bagian belakangnya ramping." Ucap Naraku tanpa mempedulikan pertanyaan Kagura.

"Kau pasti akan dihajar Sesshomaru jika dia mendengarmu."

"Hei, mau taruhan?" Tanya Naraku, ia melihat Kagura dengan seringai diwajahnya.

"Dan kupastikan kau akan kalah." Lanjut Kagura tersenyum sinis.

"Deal?"

"What ever you say."

"Kalian ingin terus mengobrol di sini atau memilih jadi sasaran kekesalan Sesshomaru karena kita terlambat." Naraku dan Kagura menatap seseorang yang baru saja menginterupsi pembicaraan mereka, seorang gadis cantik dengan rambut hitam panjangnya yang hampir mencapai lutut.

"Ayolah Kikyo, tak apa kan jika sedikit bermain?"

"Terserah." Gadis bernama Kikyo itu berjalan melewati kedua temannya, memilih untuk tidak ikut campur dengan rencana kedua temannya itu.


###################*###################***###################*####################

O.o Kagari Hate The Real World o.O


.

.

.

Malam telah menjelang ketika Inuyasha kembali, ini semua karena Miroku yang tiba-tiba saja menyeretnya kesebuah tempat yang bisa dibilang tidak baik untuk penglihatan serta pikirannya saar bel tanda kelas selesai baru saja berbunyi. Kemana lagi jika bukan ke tempat yang banyak perempuan berkeliaran hanya dengan memakai handuk serta pakaian tipis, pemandian air panas.

Ia harus dengan rela diseret-seret dan dipaksa berendam selama berjam-jam hingga jari-jarinya berkerut dan hampir terkena dehidrasi hanya untuk menunggui Miroku yang tengah mengintip gadis-gadis-ralat- nenek-nenek yang berendam di pemandian air panas itu. Yah, bukan gadis-gadis cantik yang diharapkannya dan karena itu pula ia harus menunggui Miroku yang pingsan karena rasa shocknya sebab hari ini seluruh pemandian itu tengah disewa oleh pihak panti jompo.

Inuyasha menatap pintu besar di depanya dengan lelah, para guardiannya sudah pergi dari beberapa saat yang lalu karena mereka memang hanya ditugaskan mengawalnya selama berada di luar lingkungan mansion jika sudah di dalam ia bisa sedikit bernapas lega karena tidak harus diikuti terus.

Cklek

Pintu besar itu terbuka dari luar, Inuyasha segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Ia mengerutkan keningnya begitu suasana hening nampak dalam penglihatannya. Tidak ada para pelayan yang berlalu lalang seperti biasanya, keheningan yang membuat ia berpikir hanya ia saja yang ada di sana.

Ia menengokan kepalanya ke kiri dan ke kanan, mencari jika mungkin saja ada seseorang selain dirinya di sana.

"Annh...Sessho..yeah there! Ah...nnh!"

Inuyasha menghentikan langkahnya saat kedua telinganya mendengar suara-suara aneh. Ia mendengarkan suara itu dengan seksama dan mendapati bahwa suara tersebut berasal dari ruang tamu yang berada di sebelah ruangannya sekarang.

Dengan langkah pelan ia berjalan menuju ruangan itu, merapatkan tubuhnya pada dinding takut-takut jika itu ternyata pencuri yang menyelinap. Tunggu, jika itu benar pencuri maka ia harus bersiap-siap untuk semua keadaan. Ia memandang sekelilingnya mencari-cari benda yang bisa ia jadikan senjata, minimal untuk pertahanan mungkin. Ia tersenyum begitu melihat sebuah tongkat besi diantara payung-payung yang berada dalam keranjang. Ia mengambil tongkat itu dan menggenggamnya erat dengan kedua tangannya lalu kembali berjalan menuju sebuah pintu yang menghubungkan ruangannya ini dengan ruang sebelah.

"Ah..."

Suara itu semakin jelas saat ia berada di samping pintu itu, mungkin juga karena pintu itu dibiarkan terbuka. Dengan ragu ia memegang kenop pintu itu dan sedikit demi sedikit memperlebarnya.

Deg!

Trang!

Tongkat besi ditangannya jatuh begitu saja menghantam lantai, tubuhnya mematung dengan mata yang membulat sempurna. Di depannya, ia dapat melihat dengan sangat jelas dua orang yang tengah saling tindih tanpa sehelai benangpun yang menempel pada tubuh mereka di atas sofa. Terlebih yang membuatnya benar-benar terkejut adalah salah satu dari kedua orang itu tak lain adalah Sesshomaru.

"Cih! Pengganggu!" Seorang gadis yang ia ketahui bernama Kagura menatapnya dengan tajam.

"Apa yang kau lihat hah! Pergi dari sini!" Teriaknya marah karena kesenangannya harus terganggu oleh sesuatu yang tidak penting.

"Nnnh...Sessho." Kagura mengerang saat pemuda di atasnya menarik keluar kejantanannya dari miliknya. Ia menatap Sesshomaru yang beranjak bangun dan berjalan mendekati orang yang sejak tadi diam mematung di ambang pintu.

Grep

Inuyasha mengerjapkan matanya saat ia merasakan cengkraman pada tangan kirinya. Ia melihat Sesshomaru yang mencengkram tangannya erat.

"A apa yang kau lakukan, le lepaskan!" Ucap Inuyasha, ia mengibas-ibaskan tangannya yang dicengkram Sesshomaru. Berusaha melepaskan cengkraman itu dari tangannya.

"Pergi." Ucap Sesshomaru.

"Benar. Sana pergi dasar pengacau!" Ujar Kagura, ia mendudukan dirinya disofa dan melipat kedua tangannya di dada. Tidak mempedulikan bahwa dirinya sekarang tidak memakai sehelai pakaian pun ditubuhnya. Ia tersenyum sinis pada Inuyasha.

"Kagura, pergi dari sini."

"Ya aku akan- ap apa! Sesshomaru apa maksudmu!" Kagura berdiri dan menghampiri Sesshomaru.

"Aku tidak harus mengulangi ucapanku bukan?" Sesshomaru menatap datar Kagura yang manatapnya dengan kesal.

"Cih!" Kagura membalikan tubuhnya dan berjalan kembali kearah sofa, ia mengambil pakaiannya yang berceceran disekitar sofa itu. Memakainya asal dan melangkahkan kakinya menuju pintu.

Ia menatap tajam pemuda yang telah mengacaukan malamnya sebelum benar-benar pergi dari tempat itu.

Inuyasha melihat Kagura yang melangkah pergi dari dari ruangan itu. Meninggalkan ia dan Sesshomaru yang masih mencengkram tangannya.

"Se Sesshomaru lepas!" Geram Inuyasha yang sejak tadi tetap berusaha melepaskan tangannya.

"He hei! Kau mau kemana! Lepaskan tanganku!"

Sesshomaru berjalan keluar dari ruangan itu, ia berjalan dengan cepat seraya tetap mencengkram tangan Inuyasha. Membawab pemuda itu berjalan bersamanya, lebih tepatnya menyeret pemuda yang tengah meronta-ronta untuk lepas dari cengkramannya.

"Sesshomaru!"

Dengan kesal, Inuyasha terus menghentak-hentakan tangannya. Ia menatap kakaknya yang berjalan cepat di depannya seraya terus menyeretnya menaiki tangga. Ia bahkan sempat tersandung namun kakaknya ini sama sekali tidak berhenti ataupun meliriknya. Hanya diam dan terus berjalan.

"Sesshomaru!"

"Cepat lepaskan aku!"

Cklek

Brugh!

"Ukh!"

Inuyasha meringis merasakan punggungnya yang menubruk lantai saat dengan tiba-tiba Sesshomaru melepaskan cengkramannya.

"Apa yang kau lakukan hah!" Teriak Inuyasha, ia menatap kesal Sesshomaru yang berdiri tepat membelakangi pintu.

Klik!

Ia membulatkan matanya, barusan itu ia tidak salah dengarkan. Sesshomaru baru saja mengunci pintu de belakangnya.

"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau mengunci pintunya?" Tanya Inuyasha beruntun, ia melihat Sesshomaru yang melangkah mendekatinya.

"Sesshoma-ammfh." Matanya terbelalak merasakan sesuatu dengan cepat memasuki mulutnya, melumat bibirnya dengan kencang. Ia meronta mencoba melepaskan kedua tangannya yang lagi-lagi dicengkram Sesshomaru. Menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan berusaha menyudahi kegiatan kakaknya yang tengah melumat bibirnya.

"Mnnnh!..Mmmh!" Inuyasha semakin panik saat tangan Sesshomaru mulai memasuki sela kancing kemejanya hingga ia bisa merasakan sentuhan dingin jari kakaknya itu dikulit dadanya.

"Emmfh! Hah! Hah! APA YANG KAU LAKUKAN!" Teriak Inuyasha begitu ia bisa melepaskan bibirnya yang sejak tadi ditawan.

Plak!

Terbelalak, ia merasakan pipi kanannya yang terasa panas. Inuyasha menatap pelaku yang telah menamparnya dengan pandangan bingung. Namun bukan jawaban yang ia dapat tetapi robekan kemejanyalah yang ia dapat.

"Apa yang kau lakukan! Sesshomaru!" Inuyasha menatap horror ke arah Sesshomaru.


Inuyasha POV

Aku sungguh tidak mengerti, seberapa kesar pun aku mencoba untuk mencernanya tetap saja hanya jalan buntu yang ku dapat. Kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi?

Sesshomaru, seseorang yang seharusnya menjadi kakakku tengah melumat bibirku dengan kasar. Terus turun menciumi setiap jejaknya dikulitku.

"Akh!"

Sakit, aku merasakan ia menggigit kulit leherku. Bisa kupastikan gigitan itu akan meninggalkan bekas nantinya. Aku berontak, terus meronta agar cengkramannya lepas dari kedua pergelangan tanganku. Ini tidak benar, kenapa ia melakukan ini padaku.

"Nnnh!"

Suaraku, apa yang barusan keluar itu suaraku. Kenapa aku bersuara seperti tadi. Ia menjilati seluruh bagian leherku dengan sesekali memberikan gigitan dibeberapa titik yang membuatku merasakan geli. Aku merasakannya, tangannya yang menggerayangi setiap senti tubuhku.

"Nnnh,"

Tidak jangan, seberapa besar pun aku berusaha menahannya, suara itu tetap keluar dari mulutku.

"Hentikan!" Aku terus meronta, memberikan perlawanan sekuat yang kubisa namun apa yang kudapat. Lagi-lagi, ia menamparku dengan keras ditempat yang sama saat ia menamparku tadi.

Sudut bibirku terasa perih, mungkin berdarah karena aku mengecap rasa besi dilidahku. Ia kembali melumat bibirku dengan kasar, kadang gigi kami saling bergemeletuk dan ia juga menggigit bibirku hingga berdarah tapi itu tak menghentikannya untuk terus mencumbuku.

Aku merasakan tangannya yang meraba tubuhku, setiap jengkalnya. Aku menatapnya, ia yang tetap dengan wajah datarnya. Melihatku seolah ini hanyalah hal yang biasa.

"Jangan! lepaskan aku brengsek!"

Meronta, hanya itu yang bisa kulakukan. Aku semakin memandangnya horror saat tangannya mulai menyusup kebalik celana yang kugunakan dan mencengkram milikku dalam genggaman tangannya.

Ia menarik celanaku dengan kasar, tak mempedulikan kulitku yang lecet terkena gesekan ikat pinggang yang kugunakan. Membuat tubuhku polos tanpa sehelai benang pun melekat ditubuhku, sama seperti dirinya yang memang sejak tadi tak mengenakan apapun. Aku melihatnya terdiam seraya menatap tubuhku yang polos, kesempatan untukku lepas dari cengkramannya.

Duagh!

Aku berhasil menendang perutnya hingga cengkramannya pada tanganku melonggar. Aku tak menyia-nyiakannya, segera kubangunkan tubuhku dan berlari menuju pintu. Aku mencapai pintu itu memutar kenopnya hingga beberapa kali namun tetap tak terbuka dan sialnya aku lupa jika pintu itu telah dikunci olehnya.

Aku berbalik menghadapnya, melihat dia yang tegak berdiri memandangku datar. Apa yang harus kulakukan, dia mulai berjalan ke arahku.

"Jangan mendekat Sesshomaru!"

Aku menggedor pintu di belakangku, menendangnya apapun yang bisa kulakukan agar aku bisa menjauh darinya. Dia sudah gila, aku harus keluar dari sini. Aku berlari ke sisi kananku, menyerah untuk untuk membuka pintu. Yang terpenting sekarang adalah aku tetap menjaga jarak darinya, sejauh mungkin.

Grep

Dia menangkapku, melingkarkan sebelah tangannya yang kekar dipinggangku. Aku meronta, memukul-mukul dadanya. Kakiku menendang kesegala arah, berharap jika itu bisa mengenainya. Gagal, semua yang kulakukan sia-sia. Ia malah mengeratkan jeratan dipinggangku dan berjalan semakin mendekati tempat tidur.

"Sesshomaru! BRENGSEK! LEPASKAN AKU!"

Aku menendang kakinya, dia meringis namun tetap tak melepaskanku. Sebenarnya apa yang akan dia lakukan padaku.

Brugh!

Dia melemparku dengan kasar ke atas tempat tidur, aku merasakan kepalaku yang berdenyut pusing karenanya. Dia mulai menaiki tempat tidur dan merangkak ke atas kakiku. Aku berbalik, merangkak berusaha menuruni tempat tidur namun lagi ia menahanku. Kali ini ia menarik kakiku dan langsung menindihku.

"Brengsek! Lepas!"

Dia menjilati leherku lagi, menambah tanda kemerahan di sana sini. Ini sangat menjijikan, tubuhku yang sudah ia gerayangi seenaknya.

Aku melihatnya menghentikan kegiatannya namun bukannya kelegaan yang kurasakan tapi malah merasa jika sesuatu yang lebih buruk akan terjadi. Ia mengangkat kedua kakiku dan menempatkannya pada bahunya. Aku terus meronta, mengejangkan kakiku hingga tubuhku mundur menjauhinya. Mencoba bangun namun ia mencengkram kedua pergelangan tanganku.

"Sesshomaru!"

"Brengse-AAAAAKH!"

Mataku terbelalak entah untuk yang keberapa kalinya, air mataku langsung meleleh keluar. Sakit, aku perasakan perih dan panas pada anusku yang dipaksa melebar. Apa yang sebenarnya dia lakukan?

"Sa sakit hiks, keluarkan!"

Aku terisak, rasa sakitnya sungguh sangat menyiksaku. Tubuhku gemetaran, bahkan jika aku bergerak sedikitpun rasa sakit itu akan kurasakan lagi. Dia benar-benar sudah gila.

"Ja jangan!"

"Ah! Hah...ah!"

Aku menggigit bibirku keras, mencoba menghalangi suaraku untuk keluar. Kedua tanganku kugunakan untuk memukul-mukul dadanya, mencakar kulitnya hingga terkelupas dan menempel dikuku-kuku jariku.

Setiap gerakannya membuat tubuhku sakit, hujamannya terasa sangat kasar membuat anusku perih. Aku memejamkan mataku, tidak ingin melihat diriku yang tengah diperlakukan seperti ini oleh kakakku sendiri.

Aku membuka mataku cepat saat tangannya mencengkram milikku, memaju mundurkan tangannya dengan tak beraturan pada milikku yang entah bagaimana seperti memberikan respon pada setiap sentuhan yang ia berikan.

"Ngeh..."

Aku melenguh, menggelengkan kepalaku. Jangan sampai aku menikmati semua pemaksaan ini. Aku membencinya, semua perlakuannya, semua tindakannya terhadap tubuhku. Namun pikiranku tak sejalan dengan tubuhku yang kini tampak mengimbanginya. Tak sama dengan mulutku yang mulai menyuarakan keinginannya sendiri.

"Hah ah! Ah! Ah!"

Tidak boleh, aku tidak menginginkan ini tetapi seberapapun keras usahaku untuk menghalau suara aneh yang kukeluarkan, suara itu akan makin jelas terdengar.

"Ses Sesshomaru! Ah!"

Aku menyebutkan namanya, sungguh aku ingin berhenti. Aku menatapnya yang masih berpandangan datar terhadapku, seakan tidak terjadi apapun. Seakan aku yang sejak tadi berteriak memintanya berhenti hanyalah angin lalu baginya. Seakan aku yang ada di depannya tak terlihat di depan matanya.

"Hentikan! Ah! Ahku ah! Berhenti!"

Cairan putih kental keluar dari milikku pertanda jika tubuhku menikmatinya, menghianati semua akal dan pikiranku yang jelas menolak semua ini.

Aku mengerang saat dia membalikan tubuhku tanpa melepas dirinya dari dalam tubuhku, membuatku membelakanginya dan mulai menghujamiku lagi. Lebih dalam, aku bisa merasakan miliknya yang sampai keperutku.

"ANGH!"

Tubuhku panas, perutku berkontraksi mengirimkan sengatan yang tak pernah kurasakan seumur hidupku hingga cairan itu kembali menyembur dari kejantananku. Aku mencengkram bed cover berwarna merah hati di bawahku dengan erat, menenggelamkan kepalaku di sana.

Aku tidak menginginkan ini, aku ingin mengakhirinya. Tapi bagaimana, sekarang tubuhku tidak dalam kendaliku. Aku menjijikan, ini menjijikan melihatnya yang menyentuhku. Aku membenci diriku yang tak bisa melakukan apa-apa.

Anusku terasa semakin melebar, kejantanannya berdenyut-denyut dalam lubangku.

"Ah! Ah! Ah...ah! ah!"

Hujamannya semakin cepat, terus menghantam sesuatu yang membuatku terus mengerang keras. Hingga kudengar ia berdesis bersamaan dengan sesuatu yang memenuhi dalam diriku. Aku mengerang merasakan hangatnya cairan itu.

"Angh.."

Kakiku gemetar tak sanggup lagi menahan beban tubuhku dan akhirnya terkulai jatuh di atas tempat tidur. Napasku terengah, tubuhku sakit. Aku sangat lelah hingga mataku mulai terpejam.

"Annnh!"

Mataku terbuka sepenuhnya, aku menatap Sesshomaru yang dengan tiba-tiba membalikan tubuhku dan kembali menghujamkan kejantanannya.

"Brengsek! Sudah cukup bajingan! AKH!"

Aku berteriak walau aku tahu itu percuma dan hanya membuatnya semakin beringas memasukiku. Menerobos semuanya, aku yang lelah dan tanpa pertahanan.

"Ah! Ha'ah! Ah!...ah!"

Tenggorokanku kering, suaraku yang semakin serak menandakan jika aku terlalu banyak berteriak. Aku hanya ingin menghentikan semua ini. Aku melihatnya menunduk dan mulai menciumi dadaku, menjilati nippleku.

"Hentikan..."

Suaraku barusan lebih seperti bisikan yang bahkan samar untuk terdengar olehku sendiri. Aku tak mampu lagi bersuara keras karena sakit yang kurasakan dipangkal tenggorokanku. Aku hanya bisa berharap semua ini cepat berakhir.

.

.

.

Aku tak sanggup lagi, setiap gerakan yang ia buat membuat tubuhku serasa bertambah sakit. Entah sudah berapa kali aku mengeluarkan cairanku hingga tempat tidur di bawahku terasa lengket dan basah. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku dalam posisi seperti ini dan berapa kali pula dia mengeluarkan cairan miliknya dalam diriku. Semuanya, cairan yang melekat pada tubuhku sangat menjijikan.

Aku ingin berhenti.

Inuyasha POV end


.

.

Sesshomaru menatap pemuda yang terisak di bawahnya dengan datar. Sebenarnya, ia sendiri tak tahu apa yang sebenarnya ia lakukan. Kenapa ia melakukan semua ini padanya. Pemuda yang sangat ia benci tengah mendesahkan namanya di tengah isakan dan suara paraunya. Sedangkan ia terus menghujamkan kejantanannya tanpa henti maupun memberikan jeda untuknya bernapas lega. Ia merasakan otot-otot ketat itu mencengkram erat kejantanannya. Tanda jika pemuda di bawahnya kembali menemui puncaknya yang entah untuk keberapa kalinya.

Ia berdesis merasakan setiap remasan yang ia dapat, hingga cairan itu kembali mengalir pada batang penisnya sebelum menyembur keluar dan memenuhi bagian dalam pemuda di bawahnya.

Mencabut kejantanannya, Sesshomaru beranjak dari atas tubuh Inuyasha dan mendudukan dirinya di samping tempat tidur. Ia menatap Inuyasha yang telah memejamkan matanya dari beberapa menit sebelum ia klimaks. Ya, ia melakukannya hingga pemuda itu tak sadarkan diri. Ia melirik jam kecil yang berada di meja sebelah tempat tidurnya. Pukul 3.40 pagi, kembali ia lihat pemuda di atas tempat tidurnya. Matanya yang bengkak karena terlalu banyak menangis, bibirnya yang penuh luka karena cumbuannya juga leher, dada dan hampir seluruh tubuhnya yang dipenuhi bercak merah.

Menyisir asal rambutnya yang lepek karena keringat, Sesshomaru beranjak dari tempat tidur dan melangkahkan kakinya kesebuah pintu putih transparan di ruangan itu. Membuka pintu itu dan masuk ke dalamnya.

Sreek

Ia menutup pintu itu, menatap sekeliling ruangan yang didominasi warna putih itu dengan datar. Melangkahkan kakinya ruangan kecil berukuran satu kali satu meter disana.

Srrraash

Air hangat mengguyur tubuhnya yang lengket, membuat helaian rambutnya terjatuh lurus. Menengadahkan kepalanya hingga air itu jatuh membasahi wajahnya, membiarkan matanya sedikit terbuka dan kembali menutupnya. Merasakan dinginnya air yang menyapu hawa panas dalam tubuhnya.

Selesai dengan tubuhnya, Sesshomaru beranjak dari kamar mandi. Melilitkan handuk kecil dipinggangnya dan membuka pintu geser di depannya. Hal pertama yang ia lihat adalah kamarnya yang berantakan dengan robekan pakaian yang berada dekat pintu. Juga tempat tidurnya yang tak kalah berantakan dengan seseorang yang masih memejamkan matanya.

Ia melangkahkan kakinya mendekati tempat tidur, memandang adiknya yang masih terpejam itu dengan datar. Lalu ia alihkan pandangannya pada lemari besar di ruangan itu, membukanya dan mengambil salah satu seragam sekolahnya yang tergantung di sana.

Ia melepaskan handuk yang melilit pinggangnya dan mulai memakai kemeja putih dan celana serta blazer merah itu ditubuhnya. Merapikan beberapa bagian dan tak lupa memakai dasinya kemudian membawa kakinya menuju pintu. Membuka kunci pintu itu dan melangkahkan kakinya keluar, meninggalkan Inuyasha yang masih terlelap di kamarnya.

.

.

.

Erangan kecil terdengar dari belahan bibir tipis pemuda bersurai putih perak yang terbaring di atas tempat tidur. Perlahan pemuda itu membuka kelopak matanya, memperlihatkan iris coklat lembut yang memandang lurus pada dinding ruangan itu.

Ia mengerjap-erjapkan matanya yang terasa kabur dan kembali memandang lurus ke depannya. Ia menolehkan kepalanya ke samping, memandang sekelilingnya dengan pandangan bingung. Ia memperhatikan sekitarnya lagi dan menggerakan tangannya yang ia gunakan sebagai tumpuan beban tubuhnya mencoba untuk bangun.

"Ukh!"

Ia meringis saat merasakan pegal dan sakit di bagian belakang tubuhnya, ia mengarahkan tangannya mencoba menyentuh pinggulnya yang terasa sakit.

Deg!

Inuyasha terdiam, pandangannya menjadi kosong. Ia melirik sebelah kanannya, di sana ia melihat pakaiannya dilantai dekat pintu. Seragam sekolahnya yang sudah robek.

Memaksakan tubuhnya yang letih untuk berjalan, Inuyasha melangkah mendekati pintu. melilitkan selimut sebagai penutup sebagian tubuhnya. Menundukan tubuhnya untuk mengambil pakaiannya yang berceceran.

Tubuhnya sakit, setiap kali ia berjalan maka rasa sakit di bawah tubuhnya akan makin terasa. Bahkan dengan cairan yang terus menetes dari lubang anusnya menambah rasa perih yang ia rasakan. Ia berjalan, membuka pintu di depannya.

Cklek

Terbuka, itu artinya orang itu sudah membukanya. Inuyasha berjalan keluar dari ruangan itu, menyandarkan sisi tubuhnya pada dinding. Menjaga ia untuk tetap berdiri dan mampu untuk berjalan kembali ke ruangannya.

"I Inuyasha sama!"

Seorang maid segera berlari menghampiri Inuyasha begitu ia melihat tuannya yang berjalan tertatih-tatih dengan sebelah tangan yang memegangi dinding. Maid itu terlihat panik melihat Inuyasha yang terus berjalan tanpa menghiraukannya.

"Inuyasha sama! Anda kenapa?" Tanya maid itu panik melihat wajah pucat majikannya. Ia membantu Inuyasha berjalan dengan memegangi kedua bahunya.

"Aku ingin ke kamarku." Ucap Inuyasha, suaranya terdengar serak dan hampir tidak terdengar.

"Biar saya membantu anda." Ucap maid itu, ia berjalan di samping Inuyasha seraya memegangi bahunya.

Cklek

Maid itu membuka pintu berwarna coklat gelap di depannya dan membantu Inuyasha masuk ke dalam kamarnya.

"Tunggu di sini Inuyasha sama, saya akan panggilkan dokter untuk anda." Ucap maid itu, ia mendudukan Inuyasha di sisi tempat tidur dan membungkukan tubuhnya sedikit sebelum berbalik dan bersiap untuk melangkah keluar.

"Tidak."

Maid itu menghentikan langkahnya, ia berbalik menghadap majikannya itu.

"Aku tidak butuh dokter." Ucap Inuyasha.

"Tapi, wajah anda sangat pucat tuan." Maid itu memandang khawatir tuannya, rambut yang acak-acakan, mata yang sembab juga wajahnya yang pucat sangat jelas jika majikannya itu tidak dalam keadaan baik-baik saja.

"Maaf, tapi bisa tinggalkan aku?" Tanya Inuyasha tanpa memandang maid itu. Ia mencoba kembali berdiri dan melangkahkan kakinya menuju pintu kamar mandi.

"Tuan-"

"Kumohon," Inuyasha menghentikan langkahnya sejenak.

Maid itu menimbang-nimbang permohonan majikannya itu, ia pun menundukan tubuhnya dan undur diri dari ruangan itu, "Saya permisi, Inuyasha sama." Ucapnya, menutup pintu kamar itu.

Inuyasha terdiam, ia mengeratkan selimut yang menutupi tubuhnya. Memeluk tubuhnya yang mulai gemetaran hingga ia tak sanggup untuk tetap berdiri. Ia terduduk, memeluk erat dirinya dengan begitu protektif. Perlahan, isakan kecil lolos dari bibirnya. Matanya kembali basah oleh lelehan air mata yang keluar dari kedua matanya.

"Hiks...hiks..."

Ini tidak sama dengan tujuan awalnya, ini bukanlah sesuatu yang ada dalam benaknya ketika ia menyetujui untuk ikut bersama ayahnya ke tempat ini. Meninggalkan desanya yang tenang untuk datang ke tempat yang penuh dengan keramaian.

Ia tak pernah membayangkan semua ini, membayangkan tubuhnya yang disentuh oleh laki-laki itu. Tubuhnya yang sudah disetubuhi dengan paksa. Merenggut sesuatu yang berharga baginya. Harga dirinya, kesuciannya telah direnggut hanya dalam waktu satu malam olehnya. Oleh seseorang yang menjadi kakaknya.

"hiks...hiks...AAAAAAAAAH!"

Berteriak sekencang yang ia bisa, tak mempedulikan suaranya yang sudah sangat parau. Ia terus berteriak dengan tangan yang mencengkram erat kedua lengannya. Ia merasa jijik dengan dirinya sendiri, ia sangat menjijikan.

To Be Continue


Bagaimana? Apakah minna san puas dengan chapter 2 ini?

Silahkan reviewnya~

Satu lagi! Tahun baru kalian ngapain aja?

Jawab ya ^^

Kalau author, bakar-bakar ^^ manggang ikan mas sambil dengerin dangdutan dengan volume yang ga bisa dibilang kecil #ikut-ikutan ortu

Dan karena hari ini masih tahun baru, author ucapkan Happy New Years Minna! Yey!

Satu lagi deh! Ini juga hari Ulang Tahun author, hohoho! Happy Sweet Seventeen to me! #joged-joged di atas kasur.

Okey! Review!