Hinata menggeliat saat terasa sinar matahari menyilaukan wajahnya. Meski begitu, hembusan udara pagi yang cukup dingin masuk dari pentilasi jendela dan membuatnya entah kenapa lebih dingin dari biasanya. Tubuhnya bergerak, bergeser guna mendekati sumber kehangatan yang entah kenapa tiba-tiba dirasakan pagi itu.
Dia mengernyit saat aroma maskulin yang sedikit menipis masuk dalam indra penciumnya. Dan kehangatan itu membuatnya semakin nyaman.
Sementara Gaara hanya tersenyum melihat wanita itu bergelung nyaman dalam pelukannya. Tubuh polos mereka yang bersentuhan dalam selimut semakin membuat Gaara senang dan semakin nyaman. "Kau manja juga ternyata… tapi aku suka." Ucapnya entah didengar atau tidak oleh Hinata.
Tapi dari kerutan dikening wanita itu, sepertinya alam sadar Hinata sudah mulai terkumpul.
'Perasaanku saja, atau memang ada orang lain disini?' batin Hinata bertanya.
"Kau belum mau bangun, tuan Putri? Aku tidak keberatan kok dengan posisi ini lebih lama."
Oke, sepertinya Hinata memang harus membuka mata. "Hg?" hanya itu yang keluar dari mulutnya saat bertatapan dengan emerald indah yang mempesonanya.
"Ohayou, Hinata-neechan." Gaara mendekat dan memberi kecupan pagi pada bibir Hinata yang sedikit bengkak. Sepertinya malam panas sudah terlewati dengan indah bagi Gaara, entahlah bagi Hinata.
"O-ha… eeeeehhhh…?" Hinata segera mundur dan menjauh, matanya melebar menatap tak percaya pada laki-laki didepannya. "S-s-s-s-s-siappppaa… k-k-k-kau…" tunjuknya dengan horror. Tidak sadar jika pandangan Gaara jauh lebih horror saat ini.
"Hah, bisakah kau tutupi dirimu sebelum aku kembali menyerangmu?" wajah Gaara memerah sambil mengalihkan pandangannya.
Membuat Hinata mengernyit bingung, dan menoleh ke dirinya yang kata Gaara harus di.. tu… tu… "Kyaaaaa…" Hinata menarik selimutnya dan mundur lagi berniat ingin langsung berdiri, tapi karena selimutnya tertahan separuh di Gaara, "Eh? Eh,, eh, eeehhh… kyaa…"
"Hinata!"
Bruk… tubuhnya terasa tersangkut selimut dan terjungkal dan terduduk paksa di lantai, dia meringis saat daerah tertentu ditubuhnya terasa sangat sakit. "Ukh.."
Gaara terdiam diposisinya dengan tangan terulur tanpa bisa meraih, dia terdiam melihat wajah meringis Hinata yang terduduk di lantai. "Itu… pasti masih sakit." ucapnya lemah. "Jangan bergerak dulu."
Hinata memberengut dan memaksa dirinya berdiri, tapi lagi-lagi tubuh polosnya membuatnya kembali memekik. Dia segera menarik selimut itu sambil mendelik kearah Gaara yang justru tak berniat melepaskan setengah selimut yang ia duduki. "Ugh," merasa kalau tubuhnya semakin lama terekspos jika terus berusaha tanpa hasil, Hinata memutuskan untuk kembali menaiki ranjang dan menyelimuti tubuhnya dengan segera.
Ppfff.. "Jangan tertawa."
"Hahahaha…" Gaara justru semakin tertawa kencang melihat wajah cemberut yang memerah milik wanita itu. Cukup membuat Hinata ingin segera mati saja.
Gaara segera menarik kembali Hinata mendekat dan kembali mengurung wanita itu dalam dekapannya, kali itu, meski Hinata berontak, Gaara tidak melepaskan pelukannya. Malah dia dengan santai menatap wajah panik itu dari dekat.
Wajah Hinata semakin memerah antara malu dan kesal. "A-apa yang kau lakukan. Menjauh." Hinata mendorong dada bidang itu. Meski akhirnya tangannya seolah tak ingin ditarik kembali dan tetap berada di dada bidang itu.
Gaara tersenyum merasakan hal itu, dia menggenggam tangan Hinata yang berada didadanya dan kembali mendekatkan wajahnya meski Hinata mengalihkannya kearah lain. "Gaara." Sebutnya satu nama, membuat Hinata melirik. "Namaku Sabaku Gaara, kau mendesahkan namaku semalam."
Wajah Hinata semakin memerah dengan mata melebar mendengar bisikan itu.
"Aku calon suamimu, dan mungkin…" tangan Gaara bergerak menuju perut rata Hinata, membuat wanita itu geli. "..akan menjadi Ayah dari anak-anak kita."
"A-apa yang kau bicarakan?" Hinata kembali mendorong meski tidak ada hasil. Sesuatu membuatnya merasa sangat nyaman dengan laki-laki itu meski sebagian otak warasnya mengharuskan dia marah karena laki-laki itu sudah... "Menodaiku… kau sudah… melakukannya… tanpa ijinku."
Tatapan Gaara melembut dan dia mengecup tangan Hinata dengan penuh sayang. "Maaf, aku memang salah. Aku tidak bisa menahan diriku melihatmu yang semalam." Diciumnya lagi berulang-ulang tangan itu, "Padahal itu yang pertama untukmu, tapi aku melakukannya saat kau tidak sadar dan aku lancang melakukannya tanpa ijin. Aku minta maaf, Nee-chan. Maaf, maaf."
Hinata terpana saat Gaara menundukkan kepalanya sambil terus menggumam kata maaf. "Gaara?"
"Tapi aku tidak menyesal," Gaara segera mengangkat kepalanya dan menyatukan kening mereka. "Aku sudah terlalu lama menunggumu, aku sangat merindukanmu, dan aku sudah lelah menahan diri selama enam bulan… bahkan selama sepuluh tahun ini. Aku tidak menyesal, karena akhirnya aku bisa mendapatkanmu."
Rasa bingung semakin mempengaruhi Hinata, "Kita… saling kenal sebelumnya?"
Senyum tipis hadir diwajah Gaara, walau gurat kekecewaan itu masih ada, tapi dia tidak perduli lagi. Dan Hinata menangkap sorot kekecewaan itu. "Tidak masalah jika kau lupa. Yang penting kau menepati janjimu untuk menerima lamaranku jika aku sudah besar dan menjadi laki-laki tampan yang hebat."
Hinata mengernyit mendengar perkataan Gaara yang entah narsis atau terlalu percaya diri. "Kau… laki-laki hebat? Maksudmu, memanfaatkan seorang perempuan yang sedang mabuk dan menidurinya itu adalah suatu hal yang hebat?" Yah, Hinata yakin jika semalam dia mabuk dan dimanfaatkan oleh laki-laki aneh ini.
"Jangan hanya menyalahkanku, Nee-chan. Kau yang terus-terusan menggodaku, meminta ciuman lantaran aku baru saja melamarmu. Kau yang lebih dulu memojokkanku ke dinding dan merengek minta cium. Aku hanya mengabulkan keinginanmu." Sangat jelas nada jahil dalam kalimat Gaara, membuat Hinata bingung mau berekspresi kaget, kesal, tak percaya, atau malu.
Ugh, itu pasti karena alkohol. "Tapi aku sedang mabuk."
"Tidak penting kau mabuk atau tidak. Yang penting kau menginginkanku semalam, seperti aku menginginkanmu. Dan untuk kali itu, tolong ingatlah. Ingatlah hal terindah pertama dalam hidup kita setelah pertemuan pertama kita sepuluh tahun lalu."
Hinata mengalihkan tatapannya, mencoba mengingat kejadian semalam. Sebenarnya dia punya bayangan yang tidak jelas tentang hal itu, dan itu membuatnya semakin bingung.
"Dan apa yang ku maksud dengan hebat bukan hal seperti itu," Gaara kembali menatap lekat pearl Hinata. "Sekarang aku sudah mau wisuda, nilaiku tinggi dan akan kupastikan menjadi yang terbaik. Aku memang masih tinggal di rumah orang tuaku, tapi aku akan secepatnya membeli rumah sendiri untuk kita nanti. Aku juga sudah punya pekerjaan dan penghasilan sendiri, aku sangat mandiri, Nee-chan."
Hinata hanya menatap bingung penjelasan itu.
Dan saat dia melihat senyum Gaara, sesuatu menggali ingatannya. Senyuman Gaara pernah dia lihat, senyuman yang begitu ceria dan menggemaskan. Penuh rasa bahagia dan bangga atas apa yang sudah dia lakukan. Seperti… anak kecil.
"Berapa usiamu..?"
"20 tahun… tujuh bulan yang lalu."
Hinata berkedip sekali untuk mencerna, berkedip dua kali untuk memahami, dan berkedip tiga kali untuk… "Apaaa… 20 tahun?" dia terasa terguncang saat sadar jika dia tidur dengan pemuda yang lebih muda 9 tahun darinya. "Astaga, aku bisa kena pelanggaran undang-undang perlindungan anak." Ucapnya frustasi.
Gaara mendengus tidak suka saat masih dianggap Hinata sebagai anak kecil. "Nee-chan, aku sudah besar. Aku sudah legal untuk melakukan hal-hal dewasa, bahkan aku yang membimbingmu dengan sangat baik semalam."
"Mungkin itu karena kau mesum."
"Jangan bilang begitu, Nee-chan. Kau juga mesum kalau begitu, karena kau yang lebih dulu menggodaku."
"Aku sedang mabuuukkk!" dan teriakkan itu menggema di pagi hari itu.
.
.
Ruangan itu mulai tenang, setelah Gaara menceritakan masa lalu mereka, setelah Hinata tahu jika foto yang dikirim padanya minggu lalu adalah Gaara, setelah dia sedikit ingat dari apa yang terjadi semalam, dan yang terpenting, setelah Hinata yakin jika dia akan menerima pertanggung jawaban atas kesuciannya yang hilang.
Kini, keduanya kembali berbaring di atas ranjang dengan tenang, bukan dengan adu mulut seperti tadi.
Gaara bersandar pada kepala ranjang, tangannya memeluk erat Hinata yang kini bersandar di dadanya. Sesekali dia memainkan rambut panjang nan lembut milik Hinata, dan sesekali dia mengecup puncak kepala wanita itu.
Ah, Gaara tak pernah menyangka aksi nekatnya semalam berujung manis.
"Jadi," Hinata membuka suara lagi. "Aku masih tidak percaya kalau kau benar-benar mencariku untuk menagih janji itu."
Gaara tersenyum, "Itu adalah janji yang penting bagiku, tentu saja aku akan menuntutnya. Tapi syukurlah kau sudah kembali ingat dan menepati janjimu."
"Kau ini lugu atau apa? Bagaimana jika aku sudah menikah?"
"Aku tinggal merebutmu saja, gampang kan?"
Hinata menoleh dan mendelik akan jawaban itu, membuat Gaara terkekeh sebentar lalu menarik kembali Hinata dalam dekapannya. "Jangan marah. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan jika benar kau sudah menikah. Dulu, aku selalu memikirkanmu untuk kembali bermain bersama, tapi sejak aku menginjak SMA, keinginanku sudah berbeda. Dan hal itu menyiksaku. Aku tidak pernah terpikir dan tidak pernah mau berpikir kemungkinan jika kau sudah bersama pria lain. Aku tidak tahu aku harus apa, jadi itulah yang hanya terpikir olehku sekarang." Gaara mengeratkan pelukannya. "Aku menginginkanmu melebihi siapapun, Hinata."
'Lagi-lagi…' Hinata membatin lesu saat kata-kata penuh rayuan itu selalu berhasil padanya dari setengah jam yang lalu itu.
Hinata kembali memperhatikan foto kecil Gaara, lalu menoleh menatap Gaara yang masih memainkan rambut dan jemari tangannya. 'Dia sudah besar… dan benar-benar menjadi laki-laki yang tampan dan hebat. Hah, aku memang harus menepati janjiku waktu itu ya?!'
Gaara mencium ujung rambut Hinata sebelum membalas tatapan Hinata, dia menunduk dan melumat bibir Hinata dengan lembut beberapa saat, sementara Hinata hanya diam tanpa melakukan penolakan ataupun membalas. "Apa yang kau pikirkan?" Gaara bertanya setelah melepaskan ciumannya, dia juga mendaratkan satu kecupan lain di pipi Hinata.
Hinata menggeleng sebagai jawaban.
"Kau terpesona padaku? Bukankah aku tampan?" Hinata mencibir mendengar itu, "Ayolah tidak usah bohong. Semalam kau tidak berhenti menyebutku malaikat tampan yang datang dari masa depan."
Hinata memajukan bibirnya saat kalimat Gaara lagi-lagi menggodanya. "Berhenti menggodaku, Gaara."
"Hahaha…" tawa Gaara akhirnya lepas. Dia menarik tubuh Hinata ke dalam pelukannya. "Aku sangat senang, Hinata. Benar-benar sangat senang. Terima kasih sudah kembali hadir dalam hidupku, Hinata."
Hinata mengangguk dan melingkarkan tangannya di pinggang sang pria. Membalas sentuhan pria itu dengan sama hangatnya.
"Jadi, apa kau sudah mengingat kejadian semalam sepenuhnya?"
"Uhm? Uh… etto… hanya sedikit." Wajahnya memerah saat dia menyangkal, sebenarnya Hinata sudah bisa mengingat sebagian besar kejadian semalam dengan sangat jelas. Tapi apa mungkin dia mengatakan hal itu?!
Seringai seksi muncul di bibir Gaara yang sayangnya tidak dilihat Hinata. "Baiklah, aku tidak keberatan untuk membantumu mengingatnya… tentu saja dengan praktek langsung."
"Ap-apa…?!"
.
.
.
.
END
[A/n : Maaf jika banyak typos dan penulisan yang kacau. Makasih review dan dukungannya… :)… Salam, Rameen]
.
.
.
.
.
"APAAAA 29 tahun?"
.
Semua dimulai saat Gaara dan Hinata tiba dikediaman Sabaku.
"Wuuoooo…" hanya itu tanggapan kagum dari Rei, Karura, Temari, dan Kankurou. Yah, walau usianya hampir 30 tahun, Hinata tetap terlihat cantik. Mungkin para anggota keluarga Sabaku yang lain tak menyangka jika Gaara yang dingin dan datar itu menyukai perempuan manis dan cukup imut itu.
"Otouto, ternyata kau juga suka yang imut ya, sama sepertiku."
"Jangan samakan aku denganmu. Sosok imut yang kau suka itu boneka, sedangkan yang kusuka ini manusia… manusia yang hidup dan bernafas."
Kankurou masam mendengar jawaban itu.
"Ah, sudahlah. Lebih baik kita masuk." Temari terlihat lebih dewasa. Bahkan Karura saja…
"Waaahhh… akhirnya aku akan segera mendapatkan menantu yang imut dan cantik." Karura segera memeluk Hinata, membuat wanita Hyuuga itu terdiam tanpa tahu harus apa. Sementara Kankurou dan Temari sudah lebih dulu berlalu daripada mendengar hal-hal yang menyindir telak mereka.
.
"Nah, Hinata, karena Gaara tidak memberitahu apa-apa tentang kedatanganmu, Ibu jadi belum sempat menyiapkan apa-apa." ucap Karura menyodorkan beberapa camilan dan minuman.
Hinata hanya tersenyum kikuk, "Tidak apa kok…" Hinata mengurungkan panggilannya. Dia sebenarnya ingin memanggil bibi, tapi dari tadi Karura terus saja memanggil dirinya sendiri 'Ibu'. Maksudnya apa? Dia sudah dianggap menantu meski tanpa pernikahan?
Bagus! Anaknya melakukan malam pertama tanpa pernikahan. Sekarang Ibunya menganggapnya menantu tanpa pernikahan. Setelah ini apa?
"Jadi, kalian bertemu dimana? Atau mungkin kalian teman kuliah… atau teman SMA?" Rei hanya diam saja dan membiarkan istrinya mengambil alih. Terlihat sekali jika Karura bahkan lebih semangat dari Gaara sendiri.
Hinata berkedip saat pertanyaan itu keluar.. 'Teman kuliah…? Apa-apaan itu?'
"Kami pertama kali bertemu ditaman, Bu. Dia saat itu menolongku." Gaara mengambil alih jawaban.
Karura tersenyum jahil, "Wah wah.. anak Ibu perlu bantuan apa memangnya dari seorang gadis cantik seperti Hinata? Ibu benar-benar penasaran."
Ya, Gaara tidak bohong. Pertemuan mereka memang ditaman saat Hinata menolongnya… sepuluh tahun yang lalu.
"Oh ya, Hinata jadi kau masih kuliah juga?"
"Huh?" Hinata kembali bergumam bingung. "Anoo.. aku… aku sudah bekerja." Ucapnya pelan.
Membuat Karura dan yang lain terdiam. "Jadi kau sudah bekerja? Apa kau… tidak kuliah?"
"Aku kuliah… tapi sudah selesai."
"Oohh,, sudah selesai. Wah kelihatannya Hinata-chan lebih pintar dari Gaara-chan ya? Masih muda, sudah selesai kuliah dan bekerja. Gaara-chan memang pandai mencari calon istri."
Hinata antara ingin tertawa dan menangis. Dia ingin tertawa mendengar panggilan Karura pada Gaara, tapi dia ingin menangis saat Karura menyebutnya 'masih muda'. Itu… bukan kalimat sindiran… kan?!
"Hinata?"
"Uhm… I-iya, Temari-san?"
Temari tersenyum dan mengibaskan tangannya, "Tidak perlu terlalu kaku. Panggil saja aku Temari-neechan, aku baru 28 tahun kok."
Hinata melongo… 'Dia menyuruhku memanggil kakak pada orang yang lebih muda dariku?' batinnya merana. Dia melirik Gaara yang duduk disampingnya sambil mengulum senyum. Sesaat Hinata memajukan bibirnya, 'Bocah satu ini, kenapa dia tidak menjelaskan usiaku terlebih dahulu. Sekarang apa kata mereka kalau tahu aku lebih tua 9 tahun darinya?'
"Jadi, Hinata. Kau lulusan Universitas mana?" Temari kembali bertanya.
Hinata linglung sesaat sebelum akhirnya menjawab. "Universitas Suna, jurusan ekonomi."
"Oh, kampus yang sama dengan Gaara. Aku juga baru menyelesaikan S3 ku disana. Mungkin kita pernah bertemu? Kau lulusan tahun berapa?"
"Huh? Itu… uhm… aku… lulusan Universitas Suna…" Hinata menelan ludahnya sesaat, "Lulusan 8 tahun yang lalu."
". . ."
". . ."
Kini Hinata antara menyesal dan ingin kabur dengan ucapannya sendiri.
"Berapa… usiamu?" pertanyaan yang sama dari Temari dan Karura… ah, Kankurou juga ikut-ikutan.
Membuat Hinata menatap mereka semakin gugup. "Ettooo… usiaku… dua puluh…" dia menghentikan kata-katanya, tapi tatapan penasaran dari yang lain memaksanya untuk melanjutkan, "…sembilan tahun."
". . ."
". . ."
"APA?! 29 TAHUN?!"
.
.
.
"APA?! 20 TAHUN?!"
Hinata dan Gaara meringis saat merasa dejavu akan pertanyaan itu. Pertanyaan yang sama yang pernah mereka dengar dikediaman Sabaku tiga hari yang lalu, kini terdengar kembali di kediaman Hyuuga.
"Hinata… kau…"
"Nee-chan… tak kusangka kau suka yang…" Hanabi bahkan tak mampu meneruskan ucapannya. "Maksudku… dia bahkan lebih muda dariku Nee-chan."
Ya, tidak perlu diberitahu, Hinata sudah tahu itu.
Hinata lebih tua dari saudara tertua Gaara.
Dan Gaara lebih muda dari saudara terkecil Hinata.
Tidak perlu diulang dan diperjelas, Hanabi. Itu semakin memojokkan Hinata.
"Ehem," Hiashi berdeham mengubah suasana. "Jadi…" dia terdiam, masih bingung untuk menyusun kata. "Uhm, itu… dia kekasihmu, Hinata?"
"Aku sudah melamarnya." Gaara lebih dulu bersuara. "Maaf aku belum mengenalkan diriku dengan baik. Aku Sabaku Gaara, kekasih Putri Anda dan meminta restu untuk menikahi Hinata."
'Waw..' batin Hanabi takjub.
"Hah, aku mengerti. Tapi bukankah kau masih 20 tahun, dan masih kuliah? Apa itu tidak terlalu cepat?" Hiashi berhenti seketika saat merasakan aura berbeda dari Hinata. Ah, dia melupakan usia Putrinya yang sudah matang. Sedikit kikuk, Hiashi melanjutkan. "Maksudku, apa kau sudah bisa menjalani kehidupan pernikahan? Kau sebagai laki-laki disini?"
Gaara menatap Hinata sekilas dan kembali menatap Hiashi. "Aku tidak tahu apakah aku bisa atau tidak. Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa, tapi aku akan berusaha memberi yang terbaik untuk Hinata. Aku memang masih 20 tahun dan masih kuliah. Tapi kurang dari dua bulan lagi kuliahku selesai. Aku juga sudah bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri. Untuk saat ini aku memang masih tinggal dirumah orang tuaku, tapi aku akan secepatnya mencari rumah sendiri."
Hiashi, Neji, Hanabi, bahkan Hinata menatapnya terdiam.
"Hanya itu yang bisa aku katakan sekarang, Paman. Tapi aku bersungguh-sungguh ingin menikahi Hinata."
Hiashi menghela nafas. Sesaat dia mengalihkan tatapannya pada sang Putri yang menatap penuh arti pada bungsu Sabaku itu. Yah, Hiashi tidak mungkin menolaknya jika Hinata sendiri yang menginginkannya. Walau masih muda, sepertinya Gaara mempunyai tanggung jawab yang baik dan besar. Hiashi bisa pegang perkataan bocah itu sekarang.
Dan juga… yang terpenting itu perasaan Hinata. "Apa kau menerimanya, Hinata?"
"Hah?" Hinata menoleh menatap Ayahnya yang juga menatapnya penuh tanya. Untuk sesaat dia bingung harus menjawab apa, tapi selanjutnya dia yakin dengan pilihannya. Mungkin dia memang baru mengenal bocah berambut merah itu, tiba-tiba datang melamar dan mengambil semua darinya. Tapi… sesuatu dihatinya membuat Hinata nyaman saja bersama pemuda itu. Jadi tidak ada salahnyakan? "Uhm, aku menerima, Ayah. Aku… mau menikah dengan Gaara."
Senyum tipis hadir diwajah Gaara.
"Baiklah kalau begitu. Aku mengijinkan." Putus Hiashi dengan tegas. Selanjutnya dia berdiri dan pamit lebih dulu dari ruang tamu itu.
Hanabi bersiul, "Nee-chan kau mendapatkan seseorang yang bagus. Muda, tampan, dan keren. Apa ada satu stok untukku."
"Hah," Neji menghela nafas dan menjewer telinga Hanabi.
"Aaa aa ittai… ittai Nii-chan… aaaa…"
"Kalau kau cari yang lain, bagaimana dengan pacarmu bocah Sarutobi itu." Neji mengoceh sambil menarik Hanabi mengikutinya pergi. Dia menoleh tak lama kemudian, "Oi, Sabaku. Jaga adikku." Ucapnya lalu lanjut melangkah, tak lupa dengan menyeret Hanabi agar tak menganggu Hinata dan Gaara.
Gaara hanya terdiam melihat tingkah Neji. Dia mengangguk singkat demi merespon ucapan Neji meski tak terlihat. Selanjutnya, dia menoleh ke samping dan menatap tersenyum sang calon istri yang juga menatapnya. "Jadi, bagaimana kalau sekarang kita mulai mencari gaun pengantin…" dia mendekat dan berbisik, "…istriku?!"
Dengan anggukan malu-malu dan rona yang menyebar di pipi, Hinata menyetujui. Membuat senyum Gaara melebar dan dia menggenggam tangan calon istrinya.
Cuph… satu ciuman dipipi, tidak masalahkan?
"I love you, Hinata."
Senyum Hinata melebar dan dia ikut menatap lekat sang kekasih. Cuph… "I love you, Gaara."
.
.
.
Fin.
.
.
.
.
.
.
Bonus Extra
"Nah, selesai!" Hinata 19 tahun tersenyum puas melihat balutan perbannya di kaki kecil Gaara. Dia lalu mendudukkan dirinya di kursi samping bocah itu. "Sudah jangan nangis lagi. Tidak apa kok."
Gaara 10 tahun masih sesegukkan sedikit. Kakinya terluka saat bermain sendirian ditaman itu. Teman-teman yang menjauhinya entah karena apa membuatnya bermain sendiri sambil menendang bola dengan kesal. Alhasil, dia terjatuh dan terluka.
Untunglah Hinata lewat dan membantunya.
"Terima kasih…" dia menatap bingung dengan sorot pertanyaan siapa nama gadis itu.
Hinata tersenyum menyadari betapa manisnya anak itu. "Panggil saja aku Hinata-neechan. Oke?"
"Hinata."
Senyum Hinata memudar. "Hinata-neechan." Ulangnya lagi dengan lebih jelas.
"Hinata."
Hinata memajukan bibirnya saat Gaara tidak mengikuti keinginannya. "Ck, kau ini. Panggil aku Nee-chan. Tidak sopan jika hanya memanggilku dengan nama. Mengerti?"
Gaara menatapnya diam dan akhirnya mengangguk. "Terima kasih, Hinata-neechan." Ucapan itu membuat Hinata memeluknya tiba-tiba karena gemas. "Aku suka Nee-chan."
"Eh?" Hinata melepaskan pelukannya dan menatap Gaara bingung.
"Aku suka Nee-chan."
Selanjutnya Hinata tersenyum, "Iya, Nee-chan juga menyukaimu."
Gaara menggeleng, mengerti jika ucapan suka Hinata berbeda arti dengannya. "Aku suka Nee-chan. Menikahlah denganku. Aku akan datang nanti, jadi tunggu aku ya. Daisuki, Hinata-neechan."
Bagai mendengar kucing bicara, Hinata menganga saat mendengar kalimat lamaran itu terucap dengan lancar dari mulut bocah 10 tahun. Hah, anak-anak jaman sekarang, tontonannya apa sih? "Err… baiklah. Aku… akan menikah denganmu jika kau sudah menjadi laki-laki dewasa yang tampan dan hebat."
"Hebat? Seperti Superman?"
Hinata terkikik dan menggeleng. "Kalau sudah besar nanti, kau harus belajar yang rajin. Harus pintar dan mandiri. Sudah punya pekerjaan dan menjadi anak yang baik. Itu baru namanya laki-laki hebat. Kau mengerti?"
Gaara terdiam mencerna semua itu lalu mengangguk sekali. "Aku akan jadi laki-laki yang tampan dan hebat agar Nee-chan mau menikah denganku."
Hinata hanya bisa meringis saat ucapan bocah itu tak ucahnya tentang pernikahan. "Baiklah."
"Janji?"
Hinata menyodorkan jari kelingkingnya dan menautkan dengan jari kelingking yang Gaara sodorkan. "Nee-chan janji."
Dan seketika senyuman lebar yang bergitu ceria dan penuh kebanggan tampak diwajah Gaara 10 tahun. Membuat Hinata 29 tahun lebih melebarkan senyumnya.
.
.
Yaaahhh, Hinata tidak meyangka jika janji itu benar-benar ditagih sang bocah. Tapi setidaknya dia bersyukur, karena dengan begitu… dia akhirnya bisa menikah.
.
.
.
Selesai
