Chapter 2!

Masih dengan bahasa yang tidak baku...

Maaaf yaaa...

Masih menggunakan Gwen POV, dan Caim serta Furiae mulai terlihat.

I do not own Caim and friends, Drakengard belongs to Square Enix and Cavia.

Happy Reading!^^

Sincerely,

Farore Rayzes


" Makasih ya, Gwen! Sampai ketemu besok!" ucap Norma sambil membuka pintu mobil, dan berlari ke dalam rumahnya. Aku hanya melambaikan tanganku, sambil tersenyum. Suara air yang jatuh secara bersama-sama itu membuatku takut. Entah kenapa, rasanya ingin cepat pulang.

Mobil Yaris berwarna biru muda, masuk ke dalam garasi. Aku turun dari dalam mobil, dan Myris, pelayanku, berlari kemari. Ia berdiri disampingku menundukkan kepalanya sambil sedikit membungkuk.

" Selamat datang, nona. Makan siang sudah disiapkan, jadi..."

" Gak usah. Tadi udah makan ama Norma. Aku mau tidur aja." Aku memotong kalimat Myris. Dan langsung berjalan kekamar. Tak dapatku mengelakan perasaan ini. Perasaan aneh ini. Takut, sedih, ragu, bingung, galau. Aku selalu memiliki perasaan seperti ini setiap kali hujan turun. Ayah bilang mungkin ini phobia, tapi bagiku bukan. Ini adalah perasaan yang lain, bukan phobia. Karena setiap situasi ini terjadi, satu-satunya cara untuk membuatku tenang adalah memeluk Caim.

Aku memasuki kamarku. Kamar yang bernuansa langit. Tanpa mengganti seragam putih abu-abuku, aku mengambil buku bersampul merah di dalam lemari kaca. Lemari kaca khusus untuk harta berhargaku. Setelah mengambil buku, aku menuju tempat tidur. Mengistirahatkan sayapku yang lemah, karena terbang seharian. Mengistirahatkan pikiranku yang resah, karena deru air hujan. Mengistirahatkan perasaan yang lelah, karena memikirkan dirimu seorang. Perasaan cinta yang tak mungkin terbalas, walau memohon sampai ribuan kali.

Aku memeluk buku tak berjudul itu. Sambil menatap keluar jendela. Aku suka langit. Langit yang biru, langit yang indah, besar dan megah. Tapi langit yang seharusnya ikut menghiburku, kali ini juga menangis. Mengasihani diriku yang tak kunjung menyadari, bahwa perasaan ini bukanlah ilusi semata.

Berdoa. Walaupun aku berdoa untuk menghilangkan hujan ini tapi langit tetap menangis. Kupejamkan mata. Kali ini aku berdoa, semoga Caim mendapat kebahagiaannya. Selama 7 tahun aku terus berdoa untuk senyumannya kembali. Entah terdengar atau tidak. Perasaan yang tak dapat kupeluk ini, berubah menjadi sesuatu yang menyesakkan.

Aku tertidur. Sambil menangis. Lagi. Untukmu. Yang tak pernah sadar.


" HEEEIIII..."

Ada suara.

" Kamu gak apa-apa?"

Suara yang lembut.

" Sudah sadar belum?"

Siapa? ibu? Bukan...

" Hmmm..."

Aku mengenal suara ini. Terasa hangat. Nyaman.

" Ugh-umm..." aku membuka mataku. Terlihat didepanku seorang gadis yang manis. Rambut merahnya terurai pendek. Ia memakai gaun berlengan panjang putih bersih. Gadis itu tersenyum. Cantik. Suci.

" Akhirnya bangun juga! Syukurlah, aku kira kamu tidak akan bangun." Ucap gadis itu riang. Aku melihat sekeliling. Mana langit gelap tadi? Mana kamar langitku? Mana buku merah ku? Ini tempat yang asing.

" Ini dimana?" tanyaku yang masih setengah sadar. Pikiranku masih kacau.

" House of Caerleon. Tadi kakakku menemukanmu pingsan di tengah District of Shining Life. Jadi dia membawamu kesini." Jawabnya sambil mengangkat telunjuknya padaku.

Apa? 'Caerleon'? aku mengenal nama itu. Tidak mungkin...

" kenapa aku bisa ada disini?" tanyaku.

" Huh? Kan tadi aku sudah bilang, kamu itu.."

" Furiae, apa dia sudah sadar?" tiba-tiba ada suara dari balik pintu. Seorang pria datang dari pintu dibalik punggung sang gadis.

Tunggu.. "Furiae"?

" Ya, dia sudah bangun." Kata gadis di depanku sambil menengok ke belakang, membelakangiku, menghadap pada seorang pria gagah.

" Kau baik-baik saja?" tanya pria itu. Ia tinggi, gagah, rambutnya yang berwarna coklat kemerahan menambah daya tariknya. Suaranya, begitu lembut. Membuat jantungku berlomba dengan angin. Tapi yang membuatku penasaran padanya adalah kata 'Caerleon' dan 'Furiae'. Aku terdiam.

" Kau berantakan. Akan kuganti pakaianmu." Kata gadis cantik tadi, sambil menarik tanganku. Membawaku ke samping lemari, tak jauh dari tempatku tidur.

" Dasar mesum! Cepat keluar." Gadis itu memarahi pria tadi sambil berkacak pinggang.

" Hhaha. Maaf." Pria itu berbalik. " Furiae, setelah selesai, bawa dia ke Silent Chamber." Lalu pria itu pergi.

" Nah, penganggu sudah pergi. Ayo ganti bajumu. Nanti cantiknya tidak akan terlihat kan?" katanya riang. Aku memandang diriku sendiri. Sadar, baju sekolahku berlumuran lumpur dan tanah. Aku malu, dan menundukan kepala.

Ya ampun. Laki-lai tadi melihatku berantakan sekali..

" Yang mana yang cocok ya?" dia memilih gaun untukku.

" Uumm.. apa tidak ada kaos?" pintaku dengan segala kerendahan hati.

" Kaos? Apa itu?" tanyanya balik.

Yang benar saja? Gadis secantik dan semodis dia tidak tahu kaos? Bercandakan? Tapi, melihat ekspresi polosnya yang terlihat benar-benar bingung. Membuatku tak tega bertanya.

" Uh. Bukan apa-apa kok." Akhirnya aku pasrah. Terserah mau dipakaikan apa. Tapi heran. Di dalam lemari, yang ada hanya gaun-gaun yang indah. Terlihat sederhana tapi tak biasakan, ada orang yang Cuma menyimpan gaun di lemarinya.

" Yang ini saja ya?" tunjuknya pada gaun oranye merah. Dan panjang roknya menyentuh tanah.

NGGAK MAU! Tapi aku tidak berani mengeluarkan kata-kata itu.

" Maaf, bukannya menolak, tapi akan lebih baik kalau yang sederhana saja." pintaku sopan.

" Oh. Ok." Dia mencari lagi. Dan mendapati sebuah gaun berwarna biru putih. Gaun yang cantik. Berlengan panjang. Dengan rok selutut. Apa gaun ini pantas untuk diriku, yang kotor?

" Coba pakai." Katanya. Aku mengambil pakaian itu dari tangannya.

" Apa tidak apa – apa aku kenakan?" tanyaku

" Pakai saja. Aku masih punya banyak." Jawabnya polos.

Lalu aku memakainya. Sebenarnya tubuh gadis itu terlihat lebih kecil dariku, tapi gaun ini pas aku kenakan. Aku memandang cermin. Terlihat beda. Cewek kotor tadi sekarang berubah menjadi seperti putri.

" Aku rapikan rambutmu ya." Pinta gadis tadi sambil menyuruhku duduk. Belaian-belaian jari jemarinya, membuatku nyaman. Aku memejamkan mata.

" Sudah selesai." Katanya. Aku membuka mata. Terlihat berbeda. Cantik. Tapi lebih cantik gadis yang dengan baik hatinya memberikanku gaun, dan menyisir rambutku yang kotor.

" Kakakku sudah menunggu. Ayo." Pintanya sambil menarik tanganku lagi.

'Kakak'? tidak mungkin. Hal seperti ini tidak mungkin terjadi. Walaupun begitu, aku tetap mengikuti langkahnya.


Sekian Chapter 2.

Fandom Drakengard kok tidak ada yang berbahasa Indonesia ya?

Ayo dong, para author disana, buat fic Drakengard!

Disini sepi...

Oh, well. Kritik dan saran diterima dengan senang hati.^^ jangan lupa review ya...