i. izaya
Gelap.
Gelap.
Sakit. Kepalanya sakit. Ada bau aneh—seperti campuran rokok dan parfum pinus dan bau apek khas kamar tidur. Izaya meringis, pelan-pelan membuka mata.
Hal pertama yang dilihatnya adalah langit-langit putih susu. Ia mengedarkan pandang, menemukan isi ruangan yang ditempatinya kini sangatlah minim akan benda tapi cukup berantakan. Informan itu dengan cepat mengingat-ingat apa yang telah terjadi.
Shizuo. Kejar-kejaran. Jatuh. Ditendang. Gelap.
Ah—
—jadi dia belum mati, ya. Mana ada neraka se-familiar ini.
"Ugh..."
Izaya refleks memijit kepalanya yang berdenyut, dan merasakan sebuah perban melingkar disana. Ia menyingkap kaosnya, di bagian perutnya juga ada perban. Ia mencoba untuk duduk, namun gagal dan malah ambruk kembali. Izaya mengumpat sembari meringis sakit.
Sang informan mencoba menganalisa keadaan—yang malah membuatnya mendengus geli atas pemikirannya sendiri. Tapi, coba lihat—ini kamar Shizuo, apartemen Shizuo. Walau terdengar mustahil tapi Izaya yakin seribu persen ini benar-benar kamar Shizuo karena—hei, dia itu informan! Dia tahu segalanya.
(Yah, kalau tidak mau dibilang—ia pernah penasaran akan penampakan kamar Shizuo dan sempat masuk kesini dengan ilegal, sih.)
Oke, sepakat saja bahwa ini 'kandang' Shizuo. Pertanyaannya adalah, untuk apa Shizuo repot-repot menendang Izaya sampai pingsan hanya untuk menolongnya kembali?
Oh, iya. Shizuo itu 'kan protozoa. Monster. Bukan manusia. Satu-satunya makhluk Ikebukuro yang tidak dapat ia prediksi dengan sempurna. Izaya benci mengakuinya, tapi ia penasaran. Sangat. Amat. Penasaran. Dia ingin tahu untuk apa Shizu-chan melakukan ini, Izaya ingin tahu kenapa.
Ada suara langkah kaki.
Perlahan mendekati pintu. Izaya menanti dalam detak jantung yang lamban. Sejurus kemudian pintu terbuka, memunculkan sesosok cowok pirang dengan pakaian bartender. Izaya tersenyum miring, tatapan tajam Shizuo seolah-olah menembus kacamatanya.
"Halo, Shizu-chan, kita bertemu lagi."
Shizuo diam.
Izaya melirik segelas air putih yang dibawa Shizuo lalu tertawa mengejek, "Aku tidak pesan air putih, Shizu-chan, tapi air merah. Bartender macam apa kau ini."
Masih diam.
Ekspresi Izaya berubah keras. Ia benci saat-saat dimana ia tidak bisa memprediksi apapun karena baginya itu merupakan suatu kelemahan. Dan Izaya tidak suka mempertontonkan kelemahannya, terlebih dihadapan Shizuo.
Maka dengan sangat hati-hati, sang informan meraba bagian dalam jaket hitamnya, mencari-cari pisau lipat. Namun nihil, pisau lipatnya hilang.
"Mencari ini?"
Shizuo memperlihatkan dua pisau lipat dengan wajah datar.
Izaya mengepalkan tangan, kesal bukan kepalang. Monster Ikebukuro ini berhasil membuatnya dalam keadaan yang benar-benar terdesak. Luka-luka di tubuhnya juga tidak membantu—ia bahkan tidak bisa duduk, yang benar saja.
Tapi tiba-tiba, entah darimana, entah bagaimana, kata-kata Shinra kembali berdengung di kepalanya. Berulang-ulang seperti kaset rusak.
"... perlakuan orang lain pada dirimu itu seperti cerminan dirimu yang memperlakukan mereka."
Izaya menyeringai.
"Shizu-chan, kau benar-benar ingin memberiku air atau tidak? Jujur saja, aku haus."
Barulah tatapan Shizuo melunak. Pemuda itu kemudian mendekati Izaya, menyodorkan segelas air dan berucap pelan, "Bagaimana lukamu?"
Izaya meneguk habis air itu, lalu menatap Shizuo sangsi, "Eh? Kenapa bertanya padaku, Shizu-chan? Bukankah si pembuat luka harusnya lebih tahu?"
"Jangan bermain-main, Kutu, aku sedang malas meladenimu."
"Hoo, begitu. Tapi saat ini kau sedang meladeniku loh, Shizu-chan."
"Urusai. Cepatlah sembuh dan lekas tinggalkan tempat ini. Aku tidak tahan dengan baumu yang semakin menjadi-jadi."
Izaya tertawa lebar. "Shizu-chan kau aneh sekali! Kalau kau tidak ingin aku disini, lalu kenapa kau malah membawaku kesini, huh? Ahaha—astaga perutku sakit—pffft."
Pelipis Shizuo berkedut kesal, "Iiiizaaayaaa!" tangannya menyambar gelas kosong dari tangan Izaya dan hendak melemparnya pada sang informan—tapi berhenti di udara.
Izaya memandangnya lekat. "Kenapa berhenti?"
Shizuo menarik napas, meredakan emosinya. "Shinra akan datang sebentar lagi." bekas bartender itu kemudian berbalik menuju pintu, hendak membukanya sebelum—
"Kenapa kau tidak membunuhku?"
—Izaya menanyakan pertanyaan yang paling ia hindari.
Lama bergeming, Izaya mulai tak sabar. "Shizu-chan?"
Lalu bel berbunyi, menyelamatkan hidup Shizuo, "Itu pasti Shinra." katanya sambil menutup pintu dengan terburu-buru. Ah, ingatkan dia untuk berterimakasih pada dokter mesum itu nanti.
Izaya merengut, melipat kedua lengannya di depan dada. Aneh. Aneh. Dia tidak mendapat gambaran apapun tentang alasan Shizuo membiarkannya hidup. Bukankah selama ini protozoa itu selalu berkoar-koar ingin membunuhnya? Bukankah selama ini Shizuo teramat membencinya?
Lalu kenapa—
"Ukh." kepala Izaya berdenyut lagi.
Baiklah. Dia bisa mencari jawabannya nanti. Lagipula, Izaya ingin melakukan suatu eksperimen terlebih dahulu berdasarkan petuah seorang dokter mesum bernama Shinra.
"Kita lihat, Shizu-chan, apakah kata-kata Shinra berpengaruh padamu atau tidak."
Izaya berusaha meredam tawa iblisnya.
"Jika aku berpura-pura tidak membencimu lagi, apakah kau akan melakukan hal yang sama?"
Sepertinya Shizuo harus rela berurusan lebih sering dengan Izaya setelah ini.
.
TBC
.
... maaf kalo pendek ehehe ._.v
terimakasih review-nya Kazue Ichimaru , hyuku , gurafuu , CorvusOnyx \^0^/
