Suki Kirai (Like Dislike)

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rated : T

Pair : NaruSatsu

Chaper 2 : Tak Sebanding

.

.

.

Mencoba menggenggam sedikit kesadaran yang ia punya, Naruto terus menghela nafasnya lelah. Bayangan dirinya yang terpantul dari cermin tak membuat suasana hatinya membaik, bahkan itu lebih buruk dari sebelumnya. Dietnya selama dua hari ini tak begitu berjalan dengan lancar, tak mencapai seminggu tapi rasanya ia benar-benar merasa frustasi. Mungkin ia harus mulai melewatkan sarapannya.

Sudah tiga hari tepatnya ketika ia tanpa sengaja mendapat keberuntungan mendapatkan kelas yang sama dengan gadis pujaannya, tapi sampai sekarang ia selalu merasa sesak. Saat ia berpapasan dengan Satsuki, gadis itu hanya berlalu begitu saja seakan-akan gadis itu enggan berbicara kepada pemuda unik sepertinya.

"Ohayou.. ero megane." Naruto menghentikan lamunannya, sapaan itu membuatnya tersedak ludahnya sendiri. Ia menatap tajam kiba, merasa tak enak dengan sapaan itu. Kiba yang ditatap seperti itu hanya tertawa terbahak-bahak dan menepuk-nepuk punggunggnya keras.

Naruto menepis tangan Kiba, "Itu benar-benar tak lucu, Kiba." Ia menatap sekeliling, memastikan jika Satsuki belum berada di kelas.

"Ayolah, aku hanya bercanda oke. Jangan kau anggap serius.." Naruto mendelik tak suka, kemudian menyandarkan kepalanya ke atas meja. Perutnya terasa perih, ini kali pertama ia melewatkan sarapannya.

"Akhir-akhir ini aku tak melihatmu makan siang, apa ada sesuatu?"

Naruto menatap Kiba dengan tatapan malas, ia berharap Kiba tak akan menertawakanya setelah ini," Aku sedang diet.."

Kebanyakan orang mungkin akan mengatakan jika ia adalah seseorang yang idiot, seorang idiot yang bahkan tak tahu batas dimana ia harus berhenti. Ia bertanya-tanya, alasan yang paling tepat mengapa ia menjadi seorang idiot, alasan yang sederhana itu-

Aku hanya ingin melihatnya, menatapnya dan mengatakan seberapa cepat jantungku berdetak karenanya.

.

.

.

Semua yang ada dipikirannya hanyalah sesuatu hal yang sederhana, mencintai seseorang bukanlah sebuah hal yang terlalu rumit untuk dibayangkan. Tapi dalam kasusnya, sesuatu yang sederhana itu bahkan lebih rumit dibandingkan dengan rumus fisika.

"Naruto, kau- maksudku kau masih akan melakukan diet gilamu itu?" Tanya Kiba, pemuda bersurai coklat itu nampak menatap Naruto prihatin.

Tubuh gempal bemuda bersurai blonde itu nampak tak bertenaga, kepalanya tergolek di atas meja. Kaca matanya nampak miring, ini benar-benar kritis Naruto sangat serius dengan dietnya.

"Aku fikir kau perlu makan, ya.. sedikit pun tak apa."

"Jika aku makan, apa kau akan menjamin jika aku akan menjadi kurus?"

"Setidaknya lihatlah dirimu.. kau bisa saja pingsan, siapa yang akan menyeretmu nanti."

Satsuki yang berada dibarisan depan melirik Naruto yang berada di belakangnya, suara Kiba yang tak bisa dibilang pelan itu membuat ia sedikit penasaran.

"Apa yang sedang kau lihat?" Tanya Sakura mengikuti pandangan Satsuki. Gadis dengan surai senada bunga Sakura itu menatap Naruto yang kini terlihat menenggelamkan kepalanya diantara kukungan lengan berlemaknya.

"Uzumaki Naruto.."

Satsuki menolehkan kepalanya pada Sakura, tak mengerti mengapa Sakura mengatakan nama itu.

"Nama pemuda itu, Uzumaki Naruto." Jelas Sakura yang melihat wajah berkerut Satsuki, sepertinya gadis bermata onyx itu tertarik pada pemuda gendut teman sekelas mereka. Sakura tertawa dalam hati dan kembali menatap sosok Naruto.

"Aku tak menanyakan nama orang itu, Sakura." Gerutu Satsuki, tak terlalu menyukai Sakura yang selalu saja menyimpulkan segala sesuatu dengan cepat.

Menghela nafasnya, ia kembali menyibukkan dirinya dengan novel yang tadi belum sempat ia baca. Ia melirik Sakura sekilas dan mendapati jika gadis itu masih menggodanya dengan tatapan jailnya. Hell. Satsuki tidak tertarik dengan pemuda berkacamata dan bertubuh gemuk itu. Ia yakin kini Sakura tengah bersorak girang di dalam hatinya, gadis itu benar-benar.

Menaruh kembali novelnya, minat bacanya sudah hilang karena godaan Sakura. Satsuki menolehkan kepalanya kebelakang dan mendapati Naruto yang terlihat sedikit lebih lemas dibandingkan dengan biasanya. Ia bertanya-tanya, ada apa dengan pemuda itu hari ini. Menggelengkan kepalanya, untuk apa ia peduli dengannya mereka bahkan tak pernah bertegur sapa.

Suara perut keroncongan Naruto kini benar-benar mengganggu konsentrasi Kiba yang sedang mendengarkan penjelasan Iruka sensei.

Kriiiuk

"Ya tuhan! Naruto, aku tak peduli dengan diet bodohmu itu.. suara perut keronconganmu benar-benar menggangguku. Aku tak mau tahu, saat istirahat hentikan dietmu."

Naruto mendelit dibalik lensa kaca matanya, mendengar gerutuan Kiba membuat emosinya semakin tak terkendali. Dan lagi rasa lapar yang terus menggerogotinya.

"Sensei.." Naruto mengangkat tangannya membuat seisi kelas kini memandangnya heran.

"Ada apa Naruto?"

"Aku merasa tak enak badan.."

Iruka mengganggukkan kepalanya, Naruto memang tampak terlihat pucat hari ini. "Baiklah kau bisa pulang, urus surat izinmu dahulu."

Naruto menggelengkan kepalanya, "Aku rasa aku hanya perlu berbaring sebentar Iruka sensei.." Iruka menghela nafasnya lelah, melihat Naruto yang keras kepala." Baiklah, tapi jangan memaksakan dirimu."

"Ha'i.."

Naruto melangkahkan kakinya ke luar kelas, ia menatap sekelilingnya tak berselera sampai kedua matanya kini terperangkap oleh onyx hitam Satsuki yang tengah menatapnya juga.

Naruto tersentak, langkah kecilnya terhenti begitu saja. Entah mengapa ia merasa semakin sesak, jantungnya- jantungnya tak lagi berdetak dengan normal. Naruto mencoba menarik nafasnya dalam-dalam, tapi- entah mengapa semuanya terasa berat dan gelap.

Bruuuk

"Kyaa sensei, Uzumakai-san pingsan."

Teriak Ino, gadis pirang yang berada di meja paling depan. Kiba yang melihat sahabatnya itu tumbang langsung berlari menghampirinya dan Iruka menyuruh beberapa murid laki-laki untuk membawa Naruto ke ruang kesehatan.

Sementara itu Satsuki yang baru saja berkontak mata dengan Naruto sebelum akhirnya pemuda itu jatuh menghamtam lantai terlihat sedikit sedikit syok. Tatapan Naruto padanya sebelum ia pingsan benar-benar terlihat- menyakitkan.

.

.

.

Neji menyodorkan roti melon pada Satsuki yang kini tengah termenung dengan Sakura yang berada disebelahnya. " Ada apa dengannya?" Tanya Neji mengerutkan alisnya bingung.

Sakura mengangkat kedua bahunya tak tahu. Ia lebih memilih menghabiskan makan siangnya dibandingkan mengurusi Satsuki disebelahnya. Bagaimanapun juga Satsuki mempunyai privasinya sendiri bukan, ia akan menunggu sahabatnya itu untuk bicara padanya jika ia memang mempunyai masalah.

"Sebentar lagi bel masuk, apa kau tak akan makan siang Satsuki." Tegur Neji, membuat Satsuki menghentikan lamunannya.

"Terimakasih untuk rotinya Neji, aku akan memakannya nanti." Ujarnya pelan sembari membawa roti pemberian Neji. "Sakura, jika kau sudah selesai. Lebih baik kita pergi ke kelas sekarang."

Sakura mengganggukkan kepalanya dan mereka pun berpamitan pada Neji. "Hari ini kau aneh, apa ada sesuatu yang mengganggumu?" Tanya Sakura pada akhirnya, ia juga penasaran dengan tingkah sahabatnya hari ini.

"Entahlah.." Jawab Satsuki malas, jika ia menceritakan tentang pemuda gemuk yang tadi menatapnya sebelum jatuh pingsan. Sakura pasti akan menggodanya habis-habisan dan ia tak ingin mendegar suara cempreng sahabatnya berjam-jam.

Sakura mengerutkan alisnya tak suka mendengar jawaban dari Sastsuki, tapi toh ia tak bisa memaksakannya kan.

Suasana kelas nampak sangat hening, penjelasan Kakashi sensei yang tengah menerangkan pelajaran matematika membuat para murid merngantuk. Guru dengan masker aneh itu terlihat seperti membacakan dongeng sebelum tidur, suaranya terdengar malas-malasan dan ekspresinya terlihat sangat datar.

"Baiklah, untuk tugas kalian.. kalian akan membuat satu kelompok yang terdiri dari dua orang dan kerjakan 40 soal yang akan kuberikan nanti mengenai materi yang baru saja aku jelaskan."

Semua murid nampak mengerang tak suka mendengar tugas yang diberikan Kakashi, dan beberapa murid lainnya terkesan biasa-biasa saja mendapatkan tugas dari Kakashi.

"Oh ya, kudengar Naruto hari ini pingsan. Jadi Satsuki-san, bisa kau bantu Naruto untuk tugas ini."

Satsuki menghela nafasnya, bagaimana pun menolak permintaan guru itu tidak baik bukan. "Ha'i sensei.."

Kakashi tersenyum dibalik masker yang menutup setengah wajahnya medengar jawaban dari Satsuki kemudian ia pun pergi meninggalkan kelas yang sudah berakhir.

"Uzumaki Na-ru-to." Satsuki mendelik mendegar ejaan nama Naruto yang keluar dari mulut Sakura. Gadis berambut mencolok itu kini menatapnya dengan tatapan jahil.

"Aku sudah tahu namanya Sakura."

Sakura terkekeh kemudian memasukkan buku catatannya ke dalam tas, mengacuhkan tatapan tak suka teman sebangkunya itu. Sudut matanya menyipit ketika mendapati pemuda bertubuh gemuk yang dibicarakan mereka berdua kini tengah memasuki kelas.

"Oi Naruto, kau baik-baik saja?"

Kiba yang melihat Naruto memasuki kelas langsung menghampirinya dengan tas Naruto yang ia bawa. Satsuki yang mendengar suara Kiba kini menatap Naruto yang sudah memasuki kelas, wajahnya tak sepucat sebelumnya.

"Hn.. aku baik-baik saja." Sahut Naruto lemas, melihat raut khawatir yang tercetak di wajah Kiba membuat ia tersenyum geli. Sahabatnya itu ternyata bisa berekspresi selucu ini. Kembali, pandangannya mengedar ke segala arah dan menemukan Satsuki dan Sakura yang masih berada di dalam kelas. Naruto terdiam sejenak lalu kembali mengalihkan pandangannya pada Kiba.

"Kelas sudah selesai, apa kau bisa berjalan atau aku perlu menggelindingkanmu." Canda Kiba, menepuk-nepuk punggung besar Naruto. Melihat Naruto yang acuh tak seperti biasanya mungkin pemuda itu masih merasa lemas karena melakukan diet gilanya itu.

Kiba menghela nafasnya lalu mendorong Naruto, " Ayo kita pulang…" Naruto mengangguk lalu meninggalkan kelas.

Melihat punggung Naruto yang semakin menjauh, Satsuki buru-buru membereskan alat tulisnya. "Kau terburu-buru sekali." Komentar Sakura.

"Aku lupa memberitahu Naruto mengenai tugas kelompok yang diberikan Kakashi sensei." Sakura mengangguk paham mendengar penuturan Satsuki.

Naruto menggaruk kepala bagian belakangnya, rasa frustasi membuat konsentrasinya sedikit memburuk. Ia masih mengingat dengan jelas, kontak mata yang ia lakukan dengan gadis pujaannya itu sebelum jatuh pingsan. Itu benar-benar memalukan, rutuknya dalam hati. Ia tak memiliki muka lagi untuk bertemu dengan Satsuki.

"Uzumaki-san."

Langkah kaki Naruto berhenti, ia membalikkan tubuhnya mendengar suara yang sangat familiar terdengar di telinganya. Jantung Naruto terasa akan berhenti saat itu juga, Satsuki dan Sakura menghampirinya. Kiba yang berada disamping Naruto hanya menghela nafasnya, melihat Naruto yang sudah berubah menjadi patung dalam sekejap mata.

"Apa kau sudah merasa baikkan, Naruto?" Sakura memulai percakapan diantara mereka berempat. "Ah tak keberatan bukan jika aku memanggil nama depanmu, kau juga bisa memanggil nama depanku dan-" Sakura memotong kalimatnya, melirik Sastsuki yang tengah menatapnya dengan tajam.

"Kau juga bisa memanggilnya Satsuki saja, supaya kalian lebih akrab hahaha.." Ucapnya dengan tawa kecil, melihat raut wajah marah Satsuki benar-benar menjadi hiburan tersendiri untuknya.

Naruto meneguk ludahnya mendengar perkataan Sakura padanya, ia bisa memanggil nama depan gadis yang disukainya begitu saja. Jantungnya kembali berdetak dengan kencang, ia tak mengira sesuatu hal seperti ini akan terjadi. Keberuntungan mungkin sedang berada di pihak Naruto sekarang.

"A-ahh.. ya." Kiba mendengus melihat Naruto yang kikuk di depan ke dua gadis popular di sekolahnya itu.

"Oh iya, Satsuki ada yang ingin kau katakan bukan pada Naruto. Cepatlah…"

Satsuki menatap Naruto yang kini terlihat kikuk, ia menghela nafasnya dan menatap dalam mata Naruto. "Kakashi sensei memberikan tugas kelompok untuk materi baru, karena tadi kau tak masuk kelasnya, jadi aku ditugaskan untuk sekelompok denganmu."

"Eehhh.." Beo Naruto mendengar Satsuki berbicara dengan kalimat panjang padanya.

"Intinya, kau akan mengerjakan tugas denganku Uzumaki." Mendengar kembali kalimat penjelas dari Satsuki membuat Naruto tak dapat menahan senyuman lebarnya, ia benar-benar sangat bahagia sekarang.

"Ba- baiklah, aku mengerti ano.. Satsuki-san." Naruto menahan nafasnya, ia benar-benar mengucapkan nama depan gadis yang sudah disukainya selama dua tahun itu. Dan- dan yang lebih penting, ia mengucapkannya tepat di depannya secara langsung.

"Kami duluan ya.." Ucap Sakura dan menarik lengan Satsuki pergi.

Jantungnya kini berdetak lebih kencang. Ini seperti mimpi baginya, berbicara secara bertatap muka dengan Satsuki benar-benar membuatnya hampir kehabisan nafas.

"Jangan senang dulu, Kakashi sensei yang menyuruhnya." Ucap Kiba tak mau sahabatnya itu terlena terlalu lama.

Naruto menatap punggung kecil Satsuki yang semakin manjauh darinya, ya mungkin gadis cantik semacam Satsuki tak akan pernah menyukai orang seperti dirinya.

Kedua mata sapphire Naruto tiba-tiba membulat, melihat sosok Neji yang tiba-tiba menghampiri Satsuki. Naruto menahan nafasnya, ia sudah tahu itu. Cintanya memang akan selalu bertebuk sebelah tangan.

Menatap kaca jendela yang berada disampingnya, bayangan dirinya yang terpantul di sana membuat Naruto tersenyum pahit. Mengalihkan kembali pandangannya pada Neji yang sudah berjalan disamping Satsuki menyadarkannya akan satu hal. Dirinya memang tak sebanding dengan Neji ataupun dengan- Satsuki.

"Naruto.."

"Kiba, apa aku harus menyerah?"

.

.

.

TBC

Yaaaa.. akhirnya bisa update fic ini setelah sekian lama. Maaf karena update terlalu lama :D

Terimakasih untuk kalian yang telah membaca fic ini, dan terutama terimakasih untuk:

Arashi Itsuka, Saikari Ara Nafiel, akarui kurai shiko deli-chan, dedyagustar95, adityariwijaya, Prefecsius Highmore, Guest, Sederhana, SNS, Ns gues, novakk, GazzeIE VR, rambu no baka, akane uzumaki faris, dan Naminamifrid.

Terimakasih atas reviewnya ^^

Apa Naruto selamanya jadi gemuk atau nanti jadi awesome? – untuk pertanyaan ini, nyaahaa baca aja kelanjutannya ya #Plaak

Dan untuk The Darkness Mark, mungkin saya akan update di waktu-waktu dekat ini. Jika tidak ada kesibukan hhehe.. Terimakasih sudah mengingatkan saya.

Terimakasih sudah membaca Suki Kirai (Like Dislike), jika banyak yang menyukai fic ini. Saya akan usahakan update tiap chapternya secara rutin hhehe, sampai jumpa di chapter berikutnya *lambai-lambai tangan

RnR