Chapter 2 : Finally, i got you.

Author : Choi Di Jee

Title : Can i die?

Pairing : ChenMin

Main cast : Kim Jongdae x Kim Minseok

Support cast : Siwon & Shindong SuJu. Suho EXO aka Kim Junmyeon

Genre : GS. Romance. Sad. Hurt. Comfort

Rated : T

Summary : Maafkan aku. Cintaku tak bisa kupertahankan lebih lama. Aku tak bisa bersamamu lagi.

Terima kasih karena kau menjadi malaikat pribadiku. Menyelamatkanku dari segala cara bunuh diri konyolku.

Dan hadiah itu adalah kau. Xiumin-ah. Saranghae chagiya

Next story..

Aku berhenti tepat didepan objek yang sedari tadi kucari. Aku mendekat ingin meraih bahunya namun tiba2 tubuhnya limbung menimpa tubuhku. Dia pingsan dan kurasakan demamnya semakin tinggi. Aku berteriak minta tolong dan beberapa orang membantuku membawa Chen ke rumah sakit.

Aku menangis. Aku khawatir. Aku cemas. Tak henti2nya kupanjatkan doa untuknya. Aku tak ingin kehilangannya.

"Tenanglah kekasihmu akan baik2 saja. Jangan bebankan pikiranmu karena hal ini. Kekasihmu akan sedih melihatmu kacau seperti ini. Berpikirlah positif agashi" kata seorang suster yang sedari tadi mencoba menenangkanku. Aku hanya tersenyum menjawabnya.

Tak lama setelahnya seorang dokter keluar. Dokter itu juga tak lain adalah ayahku. Raut wajahnya membuat motivasi suster tadi seolah hancur begitu saja. Tak terasa air mataku berlinang indah seraya mendekatnya Dokter tadi. Dia menyentuh bahuku sambil menunduk.

"Ada sesuatu yang ingin kuberi tahu padamu. Ikutlah keruanganku"

.

.

.

.

"Mwo?! Appa tidak serius kan? Tidak mungkin Chen mengidap kanker paru-paru kan? Aku tak pernah melihatnya minum alkohol ataupun merokok. Jangan2 dia selama ini mengkonsumsi narkoba? Andwee!"

"Aniyo Minnie-ah. Dia tidak mengkonsumsi narkoba. Kemungkinan penyakit itu keturunan keluarganya dan dia tak beruntung harus mendapatkannya. Dan juga ada faktor yang memperburuk keadaannya Minnie-ah. D-dia... itu dia a.."

"Waeyo Appa? Dia kenapa? Wae! Wae! Jangan membuatku takut appa.."

"Dia.. Salah satu ginjalnya sudah tak berfungsi lagi Minnie-ah. Dan itu memperburuk keadaannya. Kankernya bersarang telah lama dan sebagian organ dalam tubuhnya sudah lumpuh." tangisku pecah begitu saja begitu mendengarnya.

"Appa.. Kenapa harus diaa. Wae Appa?! WAE! Dari beribu orang di dunia ini kenapa harus dia yang menerima ketidak adilan inii.. Appa.. Kehidupannya sangat keras dan berat. Dia sendirian. Dia tak punya siapa-siapa. Aku tahu dia sudah putus asa dari dulu. Tak ada yang berharga dihidupnya. Mau beratus kali atau seribu kalipun aku akan selalu menjadi malaikat yang selalu menggagalkan percobaan bunuh dirinya. Aku tak peduli jika dia harus membenciku sekali pun. Aku tak akan menyerah untuk selalu melindunginya. Karna aku sangat menyayanginya. Aniyo.. Aku sangat mencintainya Appa. Kumohon bantu aku Appa. Aku mencintainya. Aku akan melakukan apapun agar dia sembuh. Aku rela jika harus menukar posisinya untukku. Bila perlu biarkan aku yang merasakannya dan bebaskan dia dari kehidupan pahit ini. Aku ingin melihatnya bahagia Appa. Aku ingin melihatnya tersenyum, tertawa, menyanyikan lagu didepan semua orang yang menunggunya. Dia terlalu berharga untukku Appa.. Hiks hiks eottokae?" Appa memelukku dan mencium pucuk kepalaku dengan penuh kasih sayang seolah mengerti benar apa yang kurasakan.

"Jangan pernah berhenti berdoa dan selalu jaga dia.." kata Appa

"Appa akan membantu semampunya. Arraseo?" lanjutnya. Aku mengangguk dalam pelukkan Appaku dan beliau memelukku erat. Aku bersyukur mempunyai Appa seperti beliau. Aku menyayangimu Siwon Appa.

.

.

.

Aku tertidur disamping ranjangnya dan selalu menggenggam tangannya. Aku merasakan kehangatan menjalar ditanganku. Perlahan kubuka mataku dan melihat jendela. Ini masih terlalu pagi untuk terbangun tengah malam. Kualihkan pandanganku pada seseorang yang masih terkulai lemas didepanku. Dia terlihat sangat pucat dan lemah. Tapi kenapa dia selalu bersikap seolah tak pernah terjadi sesuatu pada dirinya. Perlahan aku mengusap pipinya pelan. Dia tak bergerak. Sepertinya Chen sangat kelelahan dan butuh istirahat. Tapi...

"Kenapa kau lakukan semua ini padaku." suara yang terkesan dingin itu menyadarkanku. Seketika kumenarik tanganku dari pipinya. Chen berbicara tanpa membuka matanya.

"Sejak kapan kau bangun Jongdae-ah.."

"Hentikan memanggil namaku dengan nama itu. Kau bukan siapa2ku." katanya masih dengan memejamkan matanya. Perlahan ia mulai membuka mata dan melepaskan semua peralatan yang ada pada tubuhnya

"Apa yang kau lakukan?! Berhenti. Kubilang berhenti Chen! Cepat pakai lagi semua alat2 itu!" bentakku padanya. Aneh. Biasanya ia tak pernah mendengarkanku dan langsung pergi. Tapi kini ia berhenti dan duduk ditepi ranjang membelakangiku.

"Gomawo." aku terkesiap mendengarnya mengatakan itu. Kulihat dia mulai berdiri tapi membelakangiku.

"Jangan pernah mencintai namja sepertiku. Mianhae." kini ia berjalan kearah pintu. Aku segera memeluknya dari belakang.

"Kajima. Kajima. Chen-ah. Hiks.. Hiks.." Chen menghapus air mataku dengan jarinya. Lalu mengusap kepalaku pelan.

"Jangan kabur lagi dariku. Kumohon..." kataku pelan dengan menundukkan kepalaku.

"Aku tidak kabur dari siapapun."

"Tapi kau tadi ingin pergi kan?"

"Aku hanya ingin menikmati angin malam sebentar. Apa tidak boleh?"

"Mwo?! Kupikir tadi.. kau.. akan.. ingin.."

"Kau mau menemaniku atau menjadi stalker ku lagi?" aku langsung tersentak

"Darimana kau tau aku.. jadi.. stalkerr... mu?"

"Itu tidak penting. Kau mau ikut denganku tidak? Kalau tidak ya sudah... Jadilah stalker seperti biasanya. Kuharap seseorang tidak menganggapmu sebagai penguntit nanti" katanya sambil berlalu begitu saja. Aku langsung mengejarnya.

"Yak. Tunggu. Chen-ah."

.

.

.

Aku dan Chen sedang duduk ditaman rumah sakit tengah malam ditemani coklat panas. Sejak keluar dari kamar tadi Chen tak pernah mengucapkan kata lagi. Hanya diam.

"Apa yang kau inginkan dariku saat ini?" Tiba-tiba Chen bertanya padaku. Aku berpikir sejenak. Lalu..

"Tetaplah hidup untukku Chen-ah" Chen hanya terkekeh pelan.

"Tanpa kau suruh pun. Aku masih bisa bernapas sampai detik ini." jawabnya masih dengan kekehannya. Aku tersenyum melihat eyes smile nya.

"Kalau gitu ganti. Aku ingin..."

"Tidak. Kau hanya dapat satu kesempatan tadi. Tidak untuk kedua kalinya." Chen memotong kata2ku.

"Mana bisa seperti itu. Curang. Sebenarnya yang tadi itu bukan.. Bukan.."

"Bukan apa? Bukan keinginanmu? Jadi kau ingin aku cepat mati? Baiklah. Akan kukabulkan nanti."

"Andwe! Bukan seperti itu maksud ku.. Ahh.. Lupakan. Tapi kau harus menuruti keinginanku yang ini. Harus! Arraseo" kataku bersikeras untuk mendapatkan kesempatan keduaku.

"Baiklah. Kuharap ini yang terakhir. Katakan apa yang kau inginkan dariku?"

"Jadilah kekasihku. Malam ini saja. Bisakah?" aku tak berani melihat kearahnya. Aku takut Chen akan menolakku. Bagaimana pun aku ini seorang yeoja.

"Baiklah. Akan kulakukan." katanya lalu merangkulku cepat. Merapatkan tubuhku padanya. Aku yang masih terkejut akan tindakan Chen tiba2 hanya menundukan kepalaku dalam. Wajahku memanas. Kuyakin pipiku merona sekarang. Aku sangat malu berada sedekat ini padanya. Sungguh.

"Wae? Ada apa denganmu? Kenapa wajahmu merah sekali? Bukankah yang dilakukan sepasang kekasih memang seperti ini?"

"I-iya tapii kau tak perlu memaksakan dirimu jika kau memang tak terlalu menginginkannya. Jadi jangan paksa-.."

"Aku menginginkannya. Ini nyaman untukku. Bagaimna denganmu? Apa kau tak nyaman? Malam ini sangat dingin." kenapa dia selalu memotong pembicaraanku.

Aku hanya bisa tersenyum melihat sikapnya yang benar2 menganggapku sebagai yeojachingu nya. Aku sangat senang. Akhirnya penantianku selama ini terbayar sudah malam ini. Ya. Walaupun hanya malam ini aku bisa memilikinya sebagai namjachingu resmi ku.

"Chen-ah.."

"Stop. Karena malam ini spesial. Jadi panggil aku chagiya. Arraseo?"

"Ne. Cha..chagiya" kataku pelan. Aku benar2 malu sekarang. Oh ya ampun Chen! Kau membuatku hampir tidak bisa bernapas.

Chen melepaskan rangkulannya dibahuku lalu beranjak memetik bunga tak jauh dariku duduk ditaman rumah sakit ini. Dan kini Chen berjalan kearahku sambil menyembunyikan bunga yang baru saja dipetiknya. Dia berjongkok didepanku sehingga aku terlihat lebih tinggi darinya beberapa senti. Bunga lily. Ia menyerahkan bunga berwarna putih itu padaku. Dia juga tersenyum padaku. Aku bersumpah ini untuk yang pertama kalinya aku mendapatkan senyuman yang sangat tampan itu dari Chen 'kekasihku saat ini'. Aku juga tersenyum manis padanya. Specless.

Chen memegang kedua tanganku. Memandangku dalam. Hembusan napasnya mengenai wajahku. Aku bisa merasakannya. Kini wajahnya berada dekat denganku. Chen mendongak menatapku. Aku menunduk melihatnya. Chen masih berjongkok didepanku.

"I want to get a kiss from you. For the first and last time. Bolehkah chagiya?" pipiku merona seketika mendengarnya. Chen ingin berciuman denganku. Ya ampunn... Hatiku berdebar sangat keras.

Aku mengangguk pelan sebagai jawabannya. Aku terlalu malu untuk mengucapkan sepatah katapun.

Kulihat dia semakin mendongakkan kepalanya. Aku masih bertahan pada posisiku yang hanya bisa sedikit menunduk. Rasanya tubuhku tak bisa bergerak saat aku berada sedekat ini dengan Chen. Dia semakin mendekat sambil menutup matanya. Perlahan.. tapii... sampaii..

Cupp..

Ciuman yang hangat dimalam yang dingin. Tangannya beralih menarik tengkukku. Mencoba memperdalam ciuman panjang ini. Dia memagut pelan bibirku lalu menarik bibirnya tapi tetap berada didepan bibirku. Aku dan Chen berbagi oksigen. Menempelkan dahi satu sama lain. Masih saling menutup mata.

Setelah kejadian ditaman tadi kini aku dan Chen kembali ke kamar rawat Chen lagi. Perawat memasangkan kembali semua alat yang dilepas chen tadi.

Sekarang aku duduk disamping ranjangnya sambil membelai pelan rambut Chen. Semenjak kejadian ditaman tadi Chen tak pernah sedetik pun melepaskan genggaman tangannya padaku. Aku sangat suka melihatnya melakukan itu. Sungguh..

"Tidurlah bersamaku disini.. Aku ingin memelukmu, chagiya" katanya sambil menepuk sisi ranjangnya.

"Tidak perlu. Kau saja-.."

"Aku tidak terima penolakan, chagiya"

"Baiklah.." kataku sambil mendesah pelan. Aku naik keatas ranjangnya, dia segera menelentangkan tanganku sebagai bantalan kutidur nanti. Aku menuruti semua yang ia katakan.

Aku tidur menghadap dada bidangnya. Chen menyanggahkan dagunya dikepalaku. Tangan kirinya sebagai bantalan ku. Tangan kanannya memeluk erat pinggangku.

Posesif? Maybe. Just tonight..

Aku dan Chen tertidur dengan keadaan saling berpelukan hangat. Terlihat sangat indah dimata perawat yang sengaja masuk untuk mengecek keadaan Chen namun seketika ia urungkan niatnya setelah melihat pemandangan diatas ranjang pasien itu.

Keesokkan harinya aku terbngun dan tak menemukkan Chen disampingku. Aku segera keluar dan bertanya pada perawat yang semalam merawat Chen. Tapi perawat itu bilang tak mengecek keadaan Chen lagi ketika aku sudah tidur dipelukkan Chen. Seketika pipiku merona mengingat hal itu tapi tak lama setelah itu aku sadar apa tujuanku.

Aku segera berlari keluar Rumah Sakit dan menuju ke apartemen Chen. Tapi yang kulihat apartemen itu kosong. Tak ada apapun dan siapa pun. Semua barangnya pun juga tak ada. Pikiranku seketika kacau. Sangat kacau. Aku cemas. Aku memegang kepalaku. Rasanya sangat pusing.

"Tidak. Tidak. Tidak boleh pergi. Kau tak boleh PERGIII!" teriakku di dalam apartemen Chen sekarang. Seseorang masuk dan datang menghampiriku.

"Chen telah pergi tadi pagi. Semua barangnya dia buang. Dia juga bilang tidak bernyanyi lagi. Aku tidak tau apa yang terjadi dengannya dan kemana ia pergi. Tapi yang jelas kulihat wajahnya sangat pucat tadi pagi. Dia hanya bilang padaku bahwa dia akan pergi. Lalu agashi ini siapanya Chen?"

"Eh... Aku yeojachingunya."

"Benarkah kau kekasihnya? Tapi aku tak pernah melihatmu dengannya?"

"Tentu saja. Aku baru jadi kekasihnya tadi malam. Dan sekarang sudah tidak lagi."

"Kenapa bisa begitu. Apa kalian bertengkar?"

"Tidak, kami tidak bertengkar justru sebaliknya. Hanya..."

"Hanya apa? Lantas jika kalian tidak bertengkar kenapa Chen memutuskan untuk pergi?"

Belum sempat aku menjawab seseorang yang lain masuk ke apartemen. Dia berjalan tergesa-gesa.

"Shindong ahjusi. Apa kau tau apa yang terjadi pada Chen? Aku tadi sempat melihatnya dijalanan sekitar sungai han. Wajahnya pucat sekali seperti menahan sesuatu dan juga dia memegangi dada kirinya terus. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya. Aku sudah mencoba mengajaknya pulang tapi..." namja itu melihat seisi apartemen sekilas.

"Tunggu dulu. Apa-apaan ini? Apa yang terjadi disini? Dimana semua barang2 Chen? Shindong ahjushi sebenarnya apa yang terjadi pada Chen dan siapa yeoja ini?" lanjut namja itu masih dengan mengatur napasnya yang tersenggal-senggal.

Tanpa aba-aba aku segera berlari keluar apartemen Chen. Tanpa memperdulikan dua pria yang berteriak mencegahku. Aku tak peduli. Pikiranku hanya Chen. Chen. Dan Chen.

Normal POV

Seorang namja berjalan terseok-seok didekat jembatan. Wajah pucat. Tubuhnya terlihat kurus. Dia berjalan tak tau arah. Hanya mengikuti kemana arah kakinya pergi. Dan hanya ingin berhenti ketika kakinya tak mampu berjalan lagi.

Namja itu sangat keras kepala. Ya. Sangat keras kepala. Selama ini dia merasakan sakit itu. Tapi keegoisan yang membutakan hati dan pikirannya. Dia selalu berpikir semua akan sembuh sendiri. Walaupun ia sadar tidak ada luka yang akan sembuh dengan sendirinya. Seperti kematian keluarganya, saudara yang mengincar harta warisannya, lalu dibuang disuatu negara tanpa membawa sepeser uang atau apapun. Kehancuran yang tak akan pernah sembuh sampai kapanpun. Sampai sekarang.

Hingga yeoja itu datang. Dia yang selalu menyelamatkannya dari semua percobaan bunuh diri yang dirancangnya sendiri. Tanpa sadar namja itu memiliki perasaan yang seharusnya tak dimilikinya. Perasaan yang bisa membuatnya hampir lupa akan tujuannya untuk bunuh diri. Bodoh. Benar namja itu mengakui dirinya itu bodoh. Karena setiap dia berada didekat yeoja itu, ia selalu berusaha menyangkal perasaan aneh menurutnya. Perasaan yang disebut Cinta. Chen mengakui bahwa dia telah jatuh cinta pada gadis berpipi chubbi itu. Xiumin.

Kini pria itu berhenti tepat dipinggir pagar jembatan. Dia tak menghiraukan betapa ramainya kendaraan berlalu lalang melewati jembatan itu. Seakan tak perduli dia dimana atau apa yang akan dipikirkan orang2 yang melihatnya. Semua daya tubuhnya seakan kaku. Kakinya seperti tercekat sesuatu yang sangat berat. Kepalanya memberat seiring tubuhnya yang sedikit oleng kedepan. Sehingga jika sedikit saja ia tak menahan tubuhnya mungkin tubuh itu terjungkir balik dan akan mendarat disungai yang terkenal akan amat sangat dalam itu.

Chen terdiam sesaat sambil memegang erat pagar jembatan itu. Dia menghembuskan napas berat. Entah apa yang dipikirkan tiba2 Chen melompat.

Xiumin POV

Aku mencari Chen disekitar Jembatan tapi sepintas aku melihat beberapa orang sedang bergerombol dipinggir jembatan. Kupikir mungkin ada kecelakaan. Aku menghentikan mobilku dan ingin melihat lebih dekat. Entah kenapa jantungku berdetak semakin kencang ketika aku mendekat ke segerombol orang2 itu. Perasaanku mengatakan hal2 buruk yang buruk sedang terjadi. Seketika otakku berpikir tentang Chen. Aku takut ini semua ada kaitan dengannya. Aku memegang dadaku. Jantungku berdebar-debar. Aku sangat takut. Semakin aku mendekat..

Chen POV

Brakk..

Punggungku rasanya nyeri. Aku merasa ada yang memegangi dadaku dari belakang. Ada juga yang menarik tanganku dari samping. Kulihat kesamping. Beberapa orang sedang mengelilingiku. Dan yang berada dibelakangku seperti seorang yang terhormat yang memakai jas formal dan bername tag Kim Junmyeon. Sekarang tangannya beralih dari memegangi dadaku ke leherku. Seperti mencekik tapi justru ia sedang membantuku untuk menyeimbangkan tubuhku.

Orang2 memandangku khawatir. Aku tak peduli. Seakan tertimpa besi beton dikepalaku rasanya sangat sakit. Aku ingin meremas kepalaku tapi tanganku dipegang orang lain. Perutku seperti dicengkram dengan alat yang sangat tajam. Sangat sakit. Aku tak tau harus bagaimana. Napasku memberat. Dan orang2 yang berniat menyelamatkanku hanya membuat tubuhku terasa terkoyak menahan sakit. Tubuhku sakit. Sungguh. Pandanganku mengabur tapi sekilas aku melihat seseorang memakai baju serba putih didepanku dan dia terbang. Mengingat aku berada dipinggir luar jembatan. Dan jika aku mencoba untuk melangkahkan kakiku sejengkal saja. Nyawaku akan melayang karena aku jatuh tenggelam.

Aku menutup mataku sejenak. Kini tanganku memegang pagar besi itu walaupun seseorang masih menahan kuat tanganku agar tak jatuh.

Kufokuskan pikiranku. Mencoba berpikir jernih. Dan bayangan Xiuminlah yang selalu muncul. Aku tersenyum. Lalu memutar ulang memori yang pernah kulalui setiap kali bersamanya. Xiumin. Gadis berpipi chubbi itu telah membuatku jatuh cinta. Mengalihkan semua kepentinganku setiap kali bersamanya.

"Aku mencintainya. Xiumin kau berhasil menaklukanku. Aku jatuh cinta padamu. Saranghae. Aku akan pulang kerumah Orang tuaku sekarang. Aku pergi. Selamat tinggal Princess Baozi."

Setelah mengucapkan hal itu dalam hati. Aku membuka mata dan menemukan seseorang berbaju serba putih itu masih menungguku sambil melayang tak bersayap.

Malaikat itu seperti menarikku. Aku menatapnya. Seperti mengerti apa maksudnya. Aku menurutinya dengan menjawab dengan anggukan pelan.

Kini aku melirik sekilas kearah orang2 sekitarku. Lalu aku mengatakan pada mereka untuk melepaskan pegangan mereka padaku. Mereka melepaskan tanganku tapi pria dibelakangku tak melapaskan tangannya yang berada dileherku.

"Hei anak muda. Berpikirlah secara terbuka. Janganlah berpikir sempit. Jangan menghukum dirimu dengan bunuh diri. Ini tidak akan menyelesaikan masalah. Sekarang kembalilah sadar dan pulang kerumah. Dan jangan melakukan hal bodoh seperti ini lagi." Kata pria yang bername tag Kim Junmyeon itu tetap tak mau melepaskan tangannya dari leherku.

Sedangkan tubuhku seperti sudah mati rasa. Rasanya tubuhku menggigil perlahan. Rasa sakit tubuhku benar2 bukan main. Aku juga sulit bernapas. Aku juga merasa kakiku mulai dingin. Aku tidak bohong. Nyawaku seperti diambil paksa dari bawah dan perlahan menuju keatas. Aku semakin mengeratkan genggamanku pada pagar jembatan hingga kuku jariku memutih. Kini seluruh kakiku sangat dingin. Dan ini terasa semakin sakit. Setetes darah keluar dari hidungku. Aku tak bisa menahannya.

AAAAARRRGGGHHHHHHHHH

Aku berteriak karena ini semua terasa amat sangat sakit. Tubuhku sudah tak kuat lagi. Darah dihidungku juga mengalir tanpa henti. Seketika pria dibelakangku menatap khawatir padaku dan mendekap tubuhku makin erat. Aku menggeram pelan. Dan pria itu semakin khawatir.

"Gwenchana. Yak. Kau baik2 saja. Seseorang cepat panggil ambulan dan polisi. Kenapa dari tadi belum ada yang datang? ppali ppali!"

Napasku tersenggal-senggal. Aku tidak bisa berhenti. Tunggu. Aku benar2 tak bisa bernapas. Aku menggeram lagi.

"LEPASS!"

"Tidak akan. Sebelum kau berniat untuk pulang setelah ini. Dan berjanji tidak melakukan hal bodoh ini lagi."

"Aku janji. Aku akan PULANG!"

Degg

Wwwuuussshhhh...

Aku pulang.

Normal POV

Setelah mendengar ucapan Chen. Kim Junmyeon tersenyum lega.

"Baiklah. Kau akan kulepaskan. Tapi apa kau bisa kemb-.." Junmyeon berbicara sambil akan melepaskan tangannya dari leher Chen. Tapi gerakannya tercekat ketika tangannya berada disekitar denyut nadi Chen. Baru beberapa detik yang lalu nadi itu masih berdenyut tapi sekarang?

Berhenti.

BBBBBYYYYUUURRRRRRRR

Seolah kehilangan kesadarannya. Kim Junmyeon itu terkejut dengan apa yang baru saja terjadi pada Chen yang tiba2 terjun begitu saja tanpa ada pergerakan sedikitpun. Itu semua membuktikan jika Chen memang sudah mati sebelum terjun bunuh diri kesungai itu.

Xiumin POV

AAAAARRRGGGHHHHHHHHH

Aku mendengar suara teriakan. Sepertinya aku mengenal suara itu. Aku semakin mendekat pada segerombol orang itu. Tapi perlahan orang2 itu semakin banyak dan mobil2 juga ikut berhenti untuk menyaksikan apa yang terjadi. Entah mengapa perasaanku semakin tidak enak. Aku mencoba menerobos gerombolan itu. Tapiiiii...

LEPASS

Ada teriakan lagi. Suara itu. Chen. Tidak mungkin. Tidak. Tidak. Tidak. Jangan dia. Kumohon. Jangan.

Aku janji. Aku akan PULANG!

Chen berteriak lagi. Hatiku rasanya seperti teriris mendengar suaranya yang serak seperti menahan sesuatu. Aku menangis mendengar teriakannya. Entahlah aku takut. Seolah kata2 Chen tadi mempunyai arti tersendiri. Aku semakin menangis. Miris sekali.

Lama aku tak mendengar teriakan lagi. Kupikir mungkin Chen mau kembali. Aku segera menerobos segerombol orang2 itu tak peduli beberapa orang mengumpatiku dengan kata2 kasar.

BBBBBYYYYUUURRRRRRRR

Tapi suara yang baru kudengar malah membuat tangisku pecah seketika. Aku melihat Chen. Aku melihatnya terjun bebas begitu saja seolah dia jatuh tak bernyawa. Aku meraung raung memanggil namanya. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku kehilangannya. Aku kehilanganmu. Chen. Kim Jongdae.

"ANDWEEEEEE! CHEEEENNNN! hiks hiks hiks"

.

.

.

.

.

- Surat untukmu. Dariku. -

Maafkan aku. Cintaku tak bisa kupertahankan lebih lama. Aku tak bisa bersamamu lagi.

Terima kasih karena kau menjadi malaikat pribadiku. Menyelamatkanku dari segala cara bunuh diri konyolku.

Aku bersyukur karena Tuhan mendengar doaku untuk segera menjemputku.

Tapi aku juga bersyukur karena Beliau juga memberiku hadiah terindah yang dapat kunikmati sebelum aku pergi.

Hadiah yang sangat indah. Dan hadiah itu adalah kau. Xiumin-ah. Saranghae chagiya

Chen ^^

END

Terima kasih. Salam Di Jee. Bye kawan. Ketemu lagi dicerita yang lainnya. Bye bye.