Maaf update nya lama yah

Bales Review Mode : ON *cklek-bunyi saklar dicetek-*

Hyu Chan : yah emang agak nyerempet nyerempet Swan Lake getoh…haha

Merai Alixya Kudo : makasih atas reviewnya..review lagi dong *ditabok*

Akira Fujikaze : makasih dah di fave

Hina bee lover : thx yah

UchiHyu : oke

Lollytha-Chan : makasih.. boleh boleh ajah

OraRi : iya mungkin juga ya buat pamer *Gaara : (langsung membela diri) ENAK AJA! YANG NULIS JUGA SAPA?*.. jujur, sebenarnya sebelumnya Fire ada ide ngasih judul The Desert Prince.. tapi kok aneh.. jadinya The Ice Prince.. cocok kan ama kepribadian Gaara? Haha

Mayra : okeeee

Fidy : oke makasih atas review nya

Mayu : makasih ya dah di fave.. *peluk2 mayu -ditampar-*

Oke gak usah banyak mulut..

Kita mulai!

Jeng jeng jeng jengggg


Hinata menautkan alisnya mendengar kata-kata pemuda asing di depannya itu. "Kamu bilang apa? Pangeran Es? Hah?", tanya Hinata, masih dalam usaha untuk memproses semuanya dalam otaknya (yang error)*plakk*. Pemuda bertato Ai di bagian kening yang sedang berdiri dengan (sok) kerennya di depan Hinata hanya bisa tersenyum. "Yah begitulah.", katanya singkat. "Hmm..", alis Hinata makin bertaut. Dia masih bingung dengan apa yang dikatakan pemuda bernama Sabaku no Gaara di depannya ini. "Oh.", daripada nggak ada yang bisa dibicarakan, Hinata pun hanya bisa ber-'oh' ria. "Eh tapi kok namamu nggak matching, ya?", Hinata memiringkan kepalanya sedikit. "Hah? Apa maksudmu?", tanya Gaara. Kali ini gilirannya yang pasang wajah bego. "Enggak. Sabaku kan artinya padang pasir, tapi kok kamu.. Pangeran Es?", tanya Hinata dengan nada bingung.

Mendengar itu, Gaara tersedak menahan tawa. Melihat gelagat Gaara yang menahan tawa, Hinata agak tersinggung, seolah Gaara menganggap pertanyaannya barusan adalah pertanyaan paling bodoh. "Masak Gaara menganggap pertanyaanku lucu? Kalau memang iya, apanya yang lucu?", pikir Hinata, menyipitkan mata kanannya. "Hinata, masa kau nggak ingat sama aku?", tanya Gaara. Pertanyaannya kali ini berhasil membuat yang ditanyai hanya bisa diam mematung. "Ingat kamu? Kita ketemu kan baru kali ini?", Hinata balik bertanya dengan nada bingung campur heran. Mendengar itu, senyum Gaara lenyap. "Kau.. nggak ingat aku?", tanyanya dengan suara yang amat pelan.

"Memangnya kamu siapa? Apa aku mengenalmu? Kurasa tidak.", Hinata makin bingung dengan pertanyaan Gaara barusan. Apakah dia mengenal pria asing bernama Gaara ini? "Hinata.. benarkah.. kau sama sekali tidak mengingat aku? Aku, Sabaku no Gaara?", mata Gaara menyiratkan suatu perasaan yang tak bisa dibaca oleh Hinata. Tiba-tiba, Gaara berjalan mendekati Hinata dan langsung melingkarkan kedua lengannya di sekeliling Hinata dan menarik si gadis berambut indigo gelap itu ke dadanya yang bidang. "Ekh?", Hinata kaget. Apalagi saat rasa dingin yang amat sangat dari tubuh Gaara menyelimuti dirinya.

"Hinata, jangan main-main.. benarkah kau nggak ingat aku walaupun hanya sedikit?", suara Gaara agak serak didominasi oleh perasaan sedih. "Ng-nggak..", Hinata mulai ngejer karena kedinginan. "Gaara.. Di-dingin..", bisiknya, nggak kuat menahan rasa dingin yang menjalar dari tubuh si pria berambut merah yang sedang memeluknya erat itu. Perlahan, Gaara melepaskan Hinata dari pelukannya. Matanya memandang Hinata dengan tatapan tidak percaya. "Hinata..", katanya dengan nada suara yang terdengar amat sangat sedih. Hinata yang sudah terlepas dari pelukan dingin Gaara langsung menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. "Dingin.. dingin.. dingin..", gumamnya berulang-ulang. "Gilaaaa! Nih orang manusia bukan, sih? Badannya dingin banget nggak ketulungan, deh!", gerutu Hinata dalam hati.

Tiba-tiba, Hinata menyadari sesuatu. Dia mengangkat mukanya dan melihat ke arah langit yang sekarang sudah gelap. Sudah malam! "Eh? Sudah malam, ya?", katanya entah pada siapa namun yang jelas bukan pada Gaara. Gaara hanya terus menatap Hinata dengan pandangan sedih dan putus asa. "Maaf, Gaara. Aku harus pulang. Hari sudah malam. Mungkin besok aku akan datang lagi.", Hinata berdiri dan membersihkan salju yang menempel di pakaian dan celananya. "Kau.. akan datang lagi besok?", mata Gaara yang sebelumnya suram entah kenapa sekarang terlihat sedikit lebih cerah. "Mungkin. Orangtuaku nggak ada di rumah. Mereka bepergian untuk bisnis ke Paris untuk waktu yang lama. Aku sendirian di rumahku.", Hinata tersenyum, entah kenapa. Mendengar itu, sudut sudut bibir tipis Gaara mulai tertarik ke atas.

"Hinata, kalau kau mau datang, mungkin kau harus datang dalam waktu yang sama seperti tadi. Percuma kalau kau datang lebih awal tapi aku masih berwujud angsa.", kata Gaara sambil mengangkat bahunya sedikit. "Eh? Apa hubungannya?", tanya Hinata agak terkejut. "Saat pagi sampai sore jam 5, aku berwujud angsa. Tapi saat sore sampai matahari terbit keesokan harinya, aku manusia. Begitu sinar matahari menyentuh tubuhku, aku akan berubah kembali menjadi angsa.", Gaara menjelaskan. "Oh begitu. Ini jam..", Hinata melirik jam tangannya dan refleks melebarkan matanya saat membaca angka yang terpampang di jam itu. "Jam 9 malam!", pekik Hinata. Jujur saja, Gaara agak kaget saat melihat reaksi Hinata yang menurutnya sangat nggak anggun itu. Si pemuda es itu menaikkan kedua alisnya sedikit.

"Padahal perasaan aku baru sebentar aja deh ada di sini?", pikir Hinata, memasukkan tangan kirinya ke dalam saku jeansnya. "Hinata.", panggil Gaara, yang membuat Hinata menoleh ke arah pemuda itu. "Apa?", hanya itu responnya. "Kau.. benar benar mau pergi sekarang?", tanya Gaara. Mendengar itu, Hinata menarik napas panjang. "Jujur saja, aku sih betah berada di sini. Di rumahku sepi banget.", jawabnya sambil memandang Gaara. "Kau boleh tinggal lebih lama, kok.", senyum Gaara. "Baiklah. Mungkin aku akan di sini sampai beberapa jam lagi.", Hinata berjalan mendekati tepian danau. "Kau mau apa, Hinata? Jangan bilang kamu mau njebur ke dalam danau itu.", kata Gaara diselingi senyuman manis di wajah tampannya.

Mendengar itu, muncul pertigaan di kepala Hinata. "Ngawur ae! Aku masih ingin hidup! Aneh-aneh aja deh kamu nih!", katanya dengan kesal. Pemuda Ai di depannya itu hanya tertawa mendengar perkataan Hinata. "Eh Gaara, sejujurnya sih kalo aku lihat kamu, kamu tuh persis banget dengan seseorang. Mulai dari penampilan, suara, sampai nama. Wah kebetulan yang hebat ya!", kata Hinata, menyunggingkan senyum ke arah Gaara. "Benarkah? Siapa?", tanya Gaara, mendekati Hinata. "Kau mengingatkanku pada Kazekage-sama.", senyum Hinata makin lebar. Mendengar jawaban Hinata, senyum Gaara lenyap sepenuhnya. "Ka-Kazekage?", dia tergagap. Hinata mengangguk cepat dan matanya mulai menerawang. "Hinata.. apa kau tak tahu..", kata Gaara dalam hati.

"Akulah sang Kazekage."

FLASHBACK

"Lepaskan Hinata!", teriak Gaara, sambil berusaha melepaskan diri dari kedua ular besar yang mengikat tubuhnya pada batang pohon. Pria ular berambut panjang hitam bak Sadako *digampar Orochimaru* dan berkulit super pucat yang diketahui bernama Orochimaru yang berdiri di depan Gaara itu hanya tertawa licik dan penuh kemenangan. "Wah wah. Sang Kazekage rupanya benar benar mencintai Hyuuga Heiress ini.", kata Orochimaru, sambil menatap Hinata yang pingsan di lengannya. "Sialan kau, Orochimaru!", umpat Gaara penuh kemarahan.

"Khu khu khu. Rupanya rumor itu benar, bahwa Sang Kazekage Sunagakure jatuh cinta pada Hyuuga Heiress sampai mau menyerahkan diri segala hanya demi menyelamatkan gadis yang dicintainya.", Orochimaru tertawa mengejek. "Kau bodoh, Kazekage. Persis seperti ayahmu. Mau menyerahkan dirimu padaku hanya, sekali lagi hanya, demi seorang gadis yang kau cintai. Khu khu khu. Lucu. Lucu sekali. Aku sampai tertawa.". Gaara hanya bisa diam menahan amarah sambil merapatkan giginya begitu mendengar kalimat Orochimaru. Mata turquoisenya pun bergerak dan berhenti tepat pada gadis berambut indigo dengan mata tertutup yang sedang pingsan di lengan kiri Orochimaru. Seketika matanya berubah saat melihat pemandangan yang mengiris hatinya itu. "Hinata..", gumam Gaara dengan sangat pelan.

FLASHBACK OFF

"Gaara? Gaara?", Hinata menaik turunkan tangannya di depan wajah pemuda Ai yang tampak sedang terbengong bengong tersebut, menampar Pangeran Es itu kembali ke dunia nyata. "E-eh.. a-apa?", tanya Gaara dengan begonya *keren-keren bego… huuu Gaara payah.. –Gaara pundung di pojo'an-*. "Kamu ngelamun, tahu!", Hinata agak kesal. "O-oh.. benarkah?", Gaara merasa agak malu. Dia menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja terasa gatal. "Emang kamu ngelamunin apa'an sih?", tanya Hinata, tiba-tiba saja penasaran dengan apa yang dilamunkan Gaara. "Eh? Bukan apa-apa, kok.", Gaara mengelak sembari menolehkan kepalanya ke samping, seakan berusaha menghindar dari tatapan Hinata yang begitu intens.

"Cih!", Hinata mendecih, membuat Gaara menoleh kembali ke arah Hinata dengan tatapan yang seakan bertanya 'kenapa?'. "Kau nggak ahli berbohong, Gaara.", desak Hinata, menaikkan satu sudut bibirnya, menyeringai. Gaara melebarkan matanya sedikit. "Tapi kalau kamu nggak mau kasih tahu aku juga nggak apa-apa kok.", Hinata kembali tersenyum, yang mana membuat Gaara sedikit merasa lega. "Kazekage-sama sifatnya juga sama denganmu. Sukanya merahasiakan sesuatu!", Hinata memajukan bibirnya sedikit, seakan kesal saat mengingat sifat sang Kazekage. Mendengar kata 'Kazekage-sama' meluncur dari bibir Hinata, Gaara kembali tersentak. "Hinata.. tidakkah kau sadar? Kazekage yang kau bicarakan itu sekarang sedang berdiri di depanmu! Dia sedang berbicara denganmu sekarang! Akulah Kazekage itu, Hinata!", jerit Gaara dalam hati. "Hinata! Kumohon ingatlah aku!", batinnya dengan pahit.

"Uhuk!", tiba-tiba Gaara terbatuk. Tangan kirinya terangkat menutupi mulutnya. "Gaara, kau nggak apa-apa?", Hinata segera mendekati Gaara dengan kekhawatiran yang entah kenapa menyerangnya. "Uhuk! Ohok!", batuk Gaara makin parah. Dia terjatuh ke salju. "Gaara!", Hinata segera berlutut di samping Gaara sambil memegangi bahu pemuda berambut merah itu. "Uhhh..", tangan Gaara turun. Mata Hinata segera melebar begitu melihat apa yang ada, menggenang tepatnya, di telapak tangan Gaara.

Darah.

"Gaara!", tiba-tiba saja tangan kiri Hinata menyentuh dagu Gaara yang berlumuran darah, menodai tangannya yang putih dengan cairan merah tua yang asalnya dari tubuh makhluk hidup tersebut. Gaara terkejut dengan perlakuan Hinata. Dia menoleh pada Hinata. Kali ini giliran Hinata yang kaget. Jarak di antara wajah mereka nyaris nggak ada! Hidung mereka pun nyaris bersentuhan. Gaara memegang tangan Hinata yang ada di dagunya. "Aku..", Hinata bingung mau ngomong apa karena gugup. Entah kenapa walaupun dia merasa pipinya panas, namun pipinya tak memerah sama sekali, yang mana sangat disyukurinya karena dengan begitu Gaara nggak akan tahu jika Hinata merasa malu dan gugup. Ralat! SANGAT MALU DAN SANGAT GUGUP! Sementara itu, ada sedikit semburat merah muda di pipi Gaara, entah Hinata bisa melihatnya atau tidak *padahal Author yang nulis tapi Author nggak tahu-ditabok-*

Entah dapat dorongan nista dari mana atau kesurupan setan apa, tiba-tiba saja Gaara mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata, hendak mencium Hinata. Makin dekat, Hinata makin ndredeg. Hinata ingin menolak, namun tubuhnya kaku dan tidak mau menuruti perintah otaknya yang sebenarnya memaksa anggota anggota tubuhnya untuk bergerak menjauhkan diri dari pria bernama Sabaku no Gaara yang baru dikenalnya ini namun yang hendak menciumnya, di bibir lagi!

Saat bibir mereka hampir bersentuhan, Gaara tersentak. Jantungnya serasa diremas sekuat-kuatnya. "UAAAAGH!", Gaara tiba-tiba menjerit, membuat Hinata sangat terkejut. "Gaara! Kamu kenapa?", Hinata memegang bahu Gaara yang sedang meremas jantungnya. "Uhuk! Ugh!", darah menyembur makin banyak dari mulut Gaara, menodai salju di bawah tubuhnya serta jubahnya yang warnanya sama putihnya dengan salju di bawah tubuhnya. "Ukh.. Hinata..", tangan Gaara yang merah karena darah bergetar hebat. Tangannya naik meraih lengan Hinata. "Gaara! Kau kenapa? Apa yang ter-"

BRUK

"-jadi..", suara Hinata menjadi pelan saat dia menyelesaikan kalimatnya. Gaara terjatuh pingsan di dada Hinata. Nafas Gaara yang sangat cepat terdengar jelas di telinga Hinata. "Gaara..", tubuh Hinata gemetar melihat Gaara yang tidak bergerak di pelukannya. Sekilas gambaran yang dikenalnya melintas di benaknya, membuat dinding ketakutan terbangun di pikirannya. Akhirnya gambaran itu menjadi jelas di otaknya, mengirim pesan ke hatinya, membuat hatinya menjadi sangat sakit dan takut. Gaara mengingatkannya pada orang itu. Kini di mata Hinata, Gaara yang ada di pelukannya bagaikan orang itu. Dia memeluk Gaara erat di dadanya. Gambaran di otaknya itu membuat suaranya refleks meneriakkan satu nama dari masa lalunya.

"Kazekage-sama!"

Di tempat lain..

Seorang laki-laki berwajah mengerikan berkulit sepucat mayat dengan rambut hitam panjang dan mata serupa mata ular yang memancarkan kelicikan sedang menyeringai sadis. Tangannya terkepal. Seekor ular putih yang mengerikan menyembul dari balik bahunya. Terdengar suara mendesis yang sangat licik keluar dari bibirnya yang tipis.

"Hoo. Kazekage, kau sudah bertemu kembali dengan Hinata-sama. Khu khu khu. Menarik. Menarik, Kazekage. Baiklah, aku akan ikut bermain lagi. Permainan ini baru saja akan dimulai! Kazekage, aku menunggu. Orochimaru menunggumu."

-TBC-


Fuah akhirnya update juga..

Maaf membuat Minna-sama menunggu lama.. *Readers : sapa yg nunggu?*

By the way,

Read 'n Review please