Disclaimer: Naruto and friends belong only to Masashi Kishimoto.

Pairings: Almost all possible pairings in Naruto fandom (SasuHina, KibaHina, NejiHina, NaruHina, SasuSaku, NaruSaku, SuiKa, NejiTen, ShikaIno, ShikaTema, SaiIno, ItaHana, ItaKonan, PeinKonan)

Rate: T

Genre: Drama & Friendship

Warnings: Alternate universe, OOC possibilities, typo/misstypo, maruk(?) pairing, jalan cerita yang rada ribet dan berbelit-belit, (mungkin) bernuansa sinetron. Prolog bagian kedua.

Summary: Kiba hanyalah pemuda biasa yang tidak banyak memiliki keistimewaan, namun ia menyukai teman masa kecilnya, seorang putri bangsawan bernama Hinata. Hinata sendiri tertarik pada sifat ramah dan ceria seorang pemuda berisik bernama Naruto. Padahal, Naruto bertingkah seperti itu untuk menarik perhatian Sakura, teman sekelasnya yang pintar. Sedangkan Sakura sudah punya pujaan hati sendiri, sang school prince Sasuke. Dan rantai itu tidak berhenti sampai di situ. Karena Sasuke juga ternyata menaruh perasaan kepada seseorang di Konoha Gakuen. Siapakah gadis beruntung itu?

.

.

.

Kimi Dake

by. Kazahana Miyuki

Senju Tsunade berjalan dengan tegap. Suara langkah sepatunya terdengar bergema di dinding-dinding koridor. Wajahnya yang telah mendekati setengah abad namun tetap sangat cantik itu tampak serius, dengan semburat semangat yang terpancar dari kedua mata cokelat karamelnya. Ia telah menambahkan satu sapuan ekstra untuk pewarna bibirnya, demi penampilan terbaik di hari penting itu.

Hari yang memberikannya peran besar. Hari dimana ia harus menyambut wajah-wajah baru di tahun ajaran yang baru untuk Konoha Gakuen, sekolah yang sudah 14 tahun berada di bawah pimpinannya.

Tak jauh di belakangnya, adalah Shizune, asisten pribadinya. Wanita berambut hitam itu tampak sedikit tergesa-gesa karena langkah kakinya yang agak kesulitan mengimbangi langkah Tsunade.

Tapi bukan berarti Tsunade akan cukup sabar untuk mentolerir satu kelemahan asistennya itu.

"Berjalanlah lebih cepat, Shizune!" seru sang kepala sekolah. "Aku tidak mau terlambat sampai di sana."

"Oh? Baik, Tsunade-sama." sahut Shizune, yang kemudian mempercepat langkahnya hingga ia tampak setengah berlari.

Dua wanita yang memegang peran penting di Konoha Gakuen tersebut kemudian segera sampai di sebuah aula.

Di dalam sana, tiga ratus siswa telah menunggu bersama dengan wali mereka masing-masing. Ekspresi yang terpancar di wajah mereka berbeda-beda. Ada yang ceria, ada yang penuh semangat, ada yang penasaran, bahkan ada juga yang mengantuk.

Sang kepala sekolah tersenyum puas, mengetahui para peserta penting itu tampak telah hadir semua, jadi ia tak perlu menunggu lebih lama lagi sampai acara itu dilaksanakan. Ia berjalan ke arah samping panggung untuk bergabung bersama para staff sekolah lainnya. Salah satu di antara staff itu, ada satu orang yang tampak paling khawatir. Namun, begitu sosok Tsunade tertangkap oleh penglihatannya, barulah wajahnya menampilkan kelegaan luar biasa. Kertas di tangannya sudah terlihat lecek. Mungkin ia telah berulang kali meremasnya tadi.

"Akhirnya Anda datang juga, Tsunade-sama." ujarnya.

"Maaf telah membuat menunggu. Kau tampak sudah siap, Iruka." sahut Tsunade.

Pria bernama Iruka itu mengangguk. "Kalau begitu, boleh kita mulai acaranya?"

Dengan satu anggukan setuju dari Tsunade, Umino Iruka segera berjalan ke podium. Ia memberikan sambutan yang hangat kepada semua yang hadir. Mengucapkan selamat kepada mereka yang berhasil menginjakkan kaki di ruangan itu sebelum kemudian mempersilahkan Tsunade untuk memberikan sambutannya.

Yang dipanggil pun segera berjalan ke arah podium, menggantikan tempat Iruka yang telah menyingkir dari sana. Wanita itu terdiam sebentar, memandang ke seluruh penjuru ruangan hingga kemudian matanya terhenti ke arah seorang anak laki-laki berambut kuning cerah nan jabrik di salah satu kursi. Di samping pemuda itu, duduk seorang pria paruh baya bertubuh kekar dengan rambut putih yang dikuncir di belakang. Tsunade hanya mengenali pria paruh baya tersebut. Ia belum pernah melihat pemuda pirang yang bersamanya itu. Namun, ia sudah mendengar banyak tentangnya.

"Jadi itu… anak Minato." pikir Tsunade. "Benar-benar mirip ayahnya."

Senyum Tsunade sedikit melebar. Lalu, ia memfokuskan diri kembali kepada apa yang harus dilakukannya detik itu.

"Selamat siang, hadirin." Ia memulai. "Sebelumnya, kepada Anda semua yang telah mengenakan seragam sekolah terbaik, Konoha Gakuen, saya ucapkan selamat datang. Tahun ini adalah tahun yang spesial, karena adanya program beasiswa yang baru dilaksanakan tahun ini, dan saya berharap akan terus berjalan selama tahun-tahun yang akan datang. Saya sudah mendengar adanya pro dan kontra perihal program tersebut, tapi saya tidak akan membahasnya di sini, karena hari ini adalah hari khusus untuk Anda semua, para murid baru.

"Tidak ada perbedaan antara Anda yang berhasil masuk secara reguler maupun melalui program beasiswa, karena status Anda semua sama, yaitu merupakan murid Konoha Gakuen. Murid-murid saya. Murid-murid kami, para staff pengajar. Anda semua istimewa, dan saya merasa bangga karena Anda bersedia berada di sini hari ini.

"Namun, bukan berarti persaingan juga tidak ada. Sama seperti sekolah lainnya, Anda akan menemukan pertandingan di tahun-tahun berikutnya. Pertandingan untuk menjadi yang terbaik dan untuk mendapatkan yang terbaik. Jangan sungkan untuk meminta pertolongan kami jika Anda merasa ada kesulitan. Juga jangan sungkan untuk saling membantu.

"Dan yang paling penting dari semuanya, walau apapun yang terjadi, tetaplah menjadi diri sendiri. Jangan ragu untuk selalu mengikuti dan mendengar apa yang dikatakan oleh hati. Karena kata hati adalah satu-satunya kata-kata di dunia ini yang tidak mungkin berbohong.

"Saya tidak akan memberikan sambutan yang terlalu panjang, karena Anda semua sudah pasti disambut dengan baik disini. Kita akan bertemu lagi selama tiga tahun mendatang. Bersemangatlah dan berikanlah yang terbaik selama saat itu. Saya… uhm, maksud saya… kami, bangga pada Anda semua. Sekali lagi, selamat datang. Terima kasih."

Sang kepala sekolah mengakhiri kata-kata sambutannya dengan sebuah bungkukan dalam. Setelah Tsunade mengangkat badannya lagi, ia memandang kembali ke arah si pirang. Bocah itu sedang bertepuk tangan dan membalas senyuman dari Tsunade.

Setelahnya, sang kepala sekolah berbalik dan meninggalkan podium.

.

.

.

Walaupun cahaya jingga kemerahan dari matahari sore telah menembus jendela ruangan kantornya, Senju Tsunade masih enggan untuk beranjak dan pulang ke rumah. Tumpukan kertas memenuhi meja kerjanya—kertas-kertas yang selama ini diurus oleh Shizune, namun belum pernah benar-benar disentuh oleh tangannya sendiri.

Di tangan kanannya, ia memegang kertas pendaftaran milik seorang siswa bernama Uchiha Sasuke, sedangkan di tangan kirinya ada kertas pendaftaran milik Nara Shikamaru.

"Dua jenius.." gumam Tsunade.

Ia meletakkan kertas milik Shikamaru di tengah-tengah dua kertas lainnya, yaitu milik Yamanaka Ino dan Akimichi Chouji.

"Trio ini…" Tsunade tersenyum. "Selalu saja…"

Mata wanita itu berpindah ke arah kertas lain di atas meja, kemudian mengambilnya dengan tangan kiri. Kertas pendaftaran milik Hyuuga Hinata itu ia sejajarkan di samping kertas milik Sasuke.

"Anak-anak yang terlahir beruntung…" Ia bergumam lagi.

Tsunade tersenyum lebih lebar. Ia meletakkan kembali kedua kertas tersebut dan berniat membereskannya sebelum kemudian ia melihat sekelebat foto seorang gadis berambut merah muda di antara tumpukan kertas itu. Ia mengambilnya dan mempelajari data yang tertulis.

Haruno Sakura. Sejauh yang ia amati dari semua murid-murid barunya tahun ini, gadis ini yang kemampuan finansialnya paling rendah. Bahkan mungkin yang paling rendah di antara tahun-tahun sebelumnya dan di antara para alumni. Tidak perlu dipertanyakan lagi, ia pasti bisa masuk berkat beasiswa.

Penasaran, Tsunade mencari berkas-berkas sekolah terdahulu Sakura. Tidak heran. Gadis itu selalu menempati peringkat satu setiap tahunnya di sekolah menengah pertama. Dan di sekolah dasar, peringkatnya juga selalu berada di urutan lima teratas. Uniknya, setiap gadis ini naik peringkat, ia tidak akan turun lagi. Tsunade berpikir, kenapa gadis secerdas ini tidak terlalu menonjol?

Sang kepala sekolah sekali lagi tersenyum. Ia menyandarkan punggungnya lalu memutar kursinya hingga ia bisa melihat ke luar jendela. Ke arah jalan masuk utama Konoha Gakuen yang berwarna jingga karena disiram cahaya senja.

"Tahun ini akan jadi menarik…" ujarnya.

To Be Continued…

.

.

.

A/N:

Yep, aku tau ini prolognya kacau banget. Di belahan dunia mana coba ada prolog sampe dua chapter gini? Yang prolog kedua ini absurd banget lagi. Pendek pula. Cuma 3 halaman di Ms. Word. Hahaha…

Sebenernya prolog kedua tadinya mau ceritain tentang Ino-Shika-Cho, Lee-Ten sama Sui-Ka (bukan dalam bentuk pairing juga sih). Tapi akhirnya aku pengen sedikit lebih mengembangkan cerita mereka-mereka itu yang menurutku nggak cukup kalo ditulis di prolog aja.

Inspirasi dateng banyak banget tapi nggak tau kenapa tangan males banget buat mencet-mencet keyboard. Giliran lagi pengen, waktunya nggak ada. *mendadak curcol* Jadi, intinya, aku mau minta maaf lagi dan lagi buat para readers yang mungkin udah pada berkerak nungguin apdetan semua fic aku. *bersimpuh penuh permohonan* Gomeeeeennn…

Jujur aja, review-nya agak di luar dugaan, karena aku terlalu kepedean. Hahaha. Atau mungkin emang awal ceritanya yang ngebosenin. Tapi, sebelumnya aku mau bilang terima kasih banyak buat yang udah review…

Misyel: Terima kasih banyak udah jadi reviewer pertama di fanfic ini. :) Uwoh? Yaoi? Ahaha, kayaknya aku nggak bisa bikin yaoi. Maaf ya sebelumnya. Semoga tetap puas yang dengan pairing yang ada. Terima kasih kembali…

sasuhina-caem: Belum, dear. Sabar… ceritanya belum berjalan loh. Hehehe. Aku penggemar KibaHina sama SasuHina sih. Jadi 50:50 dukungnya. Hahaha. Makasih udah mau mampir..

Uchiha Ryuu: Oh? Fans-nya SasuSaku ya? Sabar ya… Lihat deh nanti kira-kira siapa. Makasih udah review. :D

babyblue: Terima kasih. Nggak terlalu soon sih, tapi udah update ya. Agak mengecewakan memang, karena terlalu pendek. Tapi chapter berikutnya udah siap kok nih. Puanjaaaang! :)

Ran Kajiura: Hei, kamu! Bingung yak ngeliat prolog 2 chapter? Panjangan A/N kayaknya nih daripada ceritanya sendiri. Oh, ane harus ngegarisbawahin bagian "Shannarooo!" itu. Ane pake lah nanti. Ingetin yak! Akamaru… masih dalam pertimbangan. Nggak tau mau nyelipin di sebelah mana. Nanti lah ane usahain. Iya, ini UDAH APDEEEEETTT!

Dae Uchiha: Ah, senengnya punya reviewer yang bersemangat gini. Hahaha. Nggak ada yang tertindas? Hmm, tapi hidup ini kurang bermakna tanpa adanya sedikit rasa tersiksa. *dziggghhh* Tertindas mungkin nggak terlalu, tapi galau iya. Hehehe. Makasih atas review-nya yang bikin seneng. Mampir lagi ya… :D

nona fergie: Hahaha, maaf ya Fallen-nya macet di tengah jalan. Liburan belum tiba sih. *buat aku sih belomaa* Semoga bulan ini bisa aku tuntasin utang-utang yang sebelumnya ya. Makasih banyak udah review…

Sekali lagi, terima kasih atas respon readers dan reviewers semua yang sejauh ini sangat positif. Maaf kalo ada beberapa kesalahan yang luput dari penglihatan saya yang payah ini. Hehehe. Ditunggu lagi reviewnya…

Akhir kata, arigatou gozaimaaaaaaaaaasu! ^o^