"SIAL! SIAL! SIAAALLL!"

Borus menebas pedangnya dengan kencang. Boneka gandum di depannya langsung terbelah. Saat ini, Borus dan Percival sedang berlatih di dojonya Juan. Melihat sobatnya marah-marah tanpa sebab, Percival berjalan mendekati Borus dengan pelan; takut-takut kalau sang Swordsman of Rage menghunuskan pedang ke tubuhnya dengan tiba-tiba.

"Hei, Borus," Percival menepuk pundak Borus dengan bersahabat. "Sesuatu telah terjadi, ya? Kamu berbeda semenjak keluar dari bar malam itu."

"Habislah sudah…" bisik Borus pelan. Percival tidak merespon; ia membiarkan Borus menyelesaikan kalimatnya. "Malam itu, aku membuang kesempatan untuk menyatakan perasaanku. Aku malah kabur tanpa berkata apapun... Pengecut macam apa aku ini!"

Kedua tangan Borus mengepal dengan sangat kuat. Baru pertama kali Percival melihat Borus seperti ini.

"Huh, baru sama wanita aja udah kalah!" serunya.

"Hei, ini berbeda, tahu!" sentak Borus.

"Berbeda gimana?" tanya Percival menggoda Borus.

"…Akh! Pokoknya berbeda! Pria playboy sepertimu tidak akan mengerti perasaan cinta tulusku pada Nona Chris!" Borus kembali menebaskan pedangnya ke boneka gandum lainnya, kembali membelahnya menjadi dua.

"Dan sayangnya, 'perasaan cinta tulus' yang kamu bangga-banggakan tidak sampai kepadanya, hm?" ujar Percival. "Kurasa, inilah saatnya aku beraksi—"

Dengan gerakan yang cepat dan tiba-tiba, Borus menghunuskan pedangnya tepat ke tenggorokkan Percival. Ujungnya yang runcing menyentuh kulit leher Percival.

"Jangan. Berani-beraninya. Kau. Menyentuh. Nona. Chris." ancamnya. Kedua matanya menatap Percival dengan tajam, seakan-akan berkata: aku tak akan segan-segan membunuhmu kalau kamu menyentuh Nona Chris.

Bukannya takut, Percival malah tertawa. "Kalau aku jadi kau, aku akan membuang semua rasa maluku untuk orang yang aku cintai." ujarnya sambil tersenyum.

Borus menatap Percival. Lama. Lama sekali.

"Sial! Aku selesai berlatih!" Borus memasukkan pedangnya ke dalam sarung pedang dan bergegas meninggalkan Percival. Percival yang berdiri disana hanya bisa menghembuskan nafas lega.

"Percival!" seru seseorang mengagetkannya.

"Oh, Nona Chris! Ada yang bisa saya bantu?"

"Anu… Apa kamu melihat Borus?" tanya Chris. Semburat rona merah terlihat jelas di kedua pipinya.

"Dia baru saja pergi." jelas Percival. "Perlu saya panggilkan?"

"Tidak, tidak usah!" jawab Chris menolak. Wajahnya kembali memerah. "Belakangan ini… Borus bertingkah aneh, ya? Dia seperti selalu menghindariku…"

Percival tersenyum—sedikit menggigit bibir bagian bawah untuk menahan tawa. 'Dasar payah…'

"Hee, benarkah?" tanya Percival; pura-pura tidak tahu.

Chris mengangguk. "Saat rapat atau latihan, dia selalu memalingkan wajah saat aku menegurnya. Saat berpapasan pun juga begitu… Bahkan dia mempercepat jalannya seakan-akan berusaha menjauh dariku… Dan barusan, dia pasti juga pergi karena aku kesini, 'kan?" Ia menghela napas. "Kalau hal ini terus berlangsung, takutnya bakal terjadi miskomunikasi antara aku dan dia saat perang nanti. Apa aku telah membuatnya kesal?"

Percival menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Dia tidak menyangka bakal berakhir seperti ini. Dasar Borus! Dia terlalu kekanak-kanakan.

"Jangan khawatir, Nona," Percival mencoba menenangkan Chris. "Borus tidak membenci Nona, kok. Berikan dia sedikit waktu, dan semua akan kembali seperti sedia kala."

Chris tersenyum lega. Dia amat sangat beruntung mempunyai rekan seperti Percival; tenang dan bisa diandalkan. "Baiklah. Terima kasih, Percival."

Tak jauh dari mereka, sebuah sosok tengah mengintip dari balik tembok.

"Percival sialan!" ujarnya kesal. Tembok tempatnya mengintip menjadi retak permanen karena Borus memerasnya dengan kencang dan penuh emosi. "Cih!"

Sembari terus mengumpat, Borus pergi menjauh dari tempat persembunyiannya.

~o~

Malam itu, bulan bersinar dengan terangnya. Bintang-bintang yang berkilauan ikut menghiasi. Disanalah Borus; di sebuah kapal tua di belakang Benteng Budehuc. Angin berhembus sepoi-sepoi dan ombak yang tenang menggoyang kapal dengan pelan, memberi rasa nyaman dan tentram. Borus jarang sekali pergi ke tempat ini—paling-paling hanya saat dia ingin mandi air panas.

"Harusnya aku lebih sering kesini…" desahnya. Dia menengadah untuk menatap bulan. Pikirannya kini bercampur aduk; haruskah ia menyerah, atau bertahan pada cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Benar juga kata Percival. Ia adalah seorang pengecut. Dan seharusnya ia tidak memikirkan hal sepele seperti ini dalam situasi perang.

"Aku ini seorang ksatria. Aku harus bisa fokus. Perasaan semacam ini harusnya aku abaikan… Seorang ksatria seharusnya memikirkan keamanan warganya, untuk selalu melindungi mereka dan rekan-rekan sesama ksatria. Tapi, aku malah… terjebak dalam perasaan seperti ini… Ksatria macam apa aku ini?"

Borus terus mengoceh pada dirinya sendiri; meluapkan segala kekecewaan dan amarah yang ada dalam dirinya. Biasanya Borus akan mengayun-ayunkan pedangnya saat ia sedang galau, tapi saat ini Zwei sedang beristirahat di kamarnya. "Seharusnya aku membawa Zwei… atau sebotol wine…"

"Borus?"

Deg! Borus kenal suara itu. Suara sang kapten…

Borus membalikkan tubuhnya. Didapatinya Chris tengah berdiri beberapa meter darinya. Wajahnya yang putih terlihat semakin bercahaya di bawah sinar rembulan. Rambutnya yang berwarna silver dibiarkan tergerai. Gaun malamnya yang berwarna putih dengan panjang selutut sedikit berkibar terkena hembusan angin malam. Chris tampak seperti seorang dewi yang baru turun dari khayangan.

Borus tertegun melihat Chris. Ia seperti tersihir oleh kecantikannya.

Chris berjalan mendekati Borus. "Sedang apa kau disini? Tumben sekali,"

Tersadar dari lamunannya, Borus menjawab singkat. "Sedang, err… menikmati indahnya malam…" Ia memalingkan wajahnya, berusaha menyembunyikan rona merah yang timbul di wajanya. Jantungnya lagi-lagi berdegup kencang. "Um, sebaiknya saya—"

"Jangan pergi."

Ugh, kata-kata itu terdengar seperti sebuah perintah. Mau tidak mau, Borus harus tetap tinggal dan menemani Chris.

Mereka berdua bersandar di pembatas kapal. Sesekali Borus melirik ke arah Chris, membuatnya semakin galau untuk menyerah atau tetap mempertahankan perasaannya.

"Anu, Borus…"

"Y—ya?"

Chris menatap Borus. "Kalau kamu sedang ada masalah, kamu bisa cerita ke saya," ujarnya. "Anggap saja saya sebagai seorang teman."

Borus kebingungan mendengar ucapan kaptennya. "Err, baik, Nona…"

"Panggil saja saya Chris." Chris tersenyum lembut. Jantung Borus kembali berdegup kencang.

"Baik… Chris…"

Mereka kembali diam. Lagi-lagi pikiran Borus kacau.

"Akhir-akhir ini kamu menghindari saya, ya?" Chris memulai pembicaraan. Straight forward as usual. "Ada apa? Apa ada kata-kata saya yang tidak mengenakkan atau semacamnya yang membuatmu tidak nyaman?"

Borus membuka mulutnya. "…Tidak… Bukan karena itu…"

Borus berdiri berhadapan dengan Chris. Wajahnya tak lagi ia palingkan. Keberanian yang berpencar dalam dirinya, kini menyatu sekali lagi.

"Saat pertama kali melihatmu, timbul suatu perasaan dalam diri saya. Semakin hari, semakin sering kita berlatih, semakin sering kita bertemu, semakin sering saya berdampingan denganmu saat berperang, semakin tumbuhlah perasaan itu… Hal seperti ini, baru pertama kali saya alami, dan saya tidak tahu harus berbuat apa untuk mengatasinya…

Karena perasaan itu, jantung saya selalu berdegup kencang dan wajah saya terasa panas saat berpapasan denganmu. Rasanya benar-benar bikin tidak nyaman… Makanya akhir-akhir ini saya selalu menghindar darimu," Borus mengelus-ngelus tengkuknya dengan gugup. Wajahnya memerah karena malu.

Dengan perlahan, Borus meraih kedua tangan Chris dan menggenggamnya dengan lembut. "Chris, izinkanlah saya untuk terus berada di sisimu," Dan ia ucapkan keinginannya selama ini. "Saya, Borus, berjanji akan selalu melindungimu."

Chris terdiam. Jantungnya ikut berpacu dengan degup jantung Borus. Wajahnya kini semerah buah stroberi.

"Ah!" Borus memekik. Melihat Chris yang diam membatu, ia melepas kedua tangan Chris yang tadi ia genggam dengan cepat. "Ma—maafkan saya, Nona Chris! Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan saya!" ujarnya panik. Refleks, ia langsung memalingkan wajah dan membelakangi Chris. Rambut blondenya ia remas sebagai pelampiasan rasa malu atas tindakannya tadi. 'Bodoh! Apa yang telah kau perbuat!? Memalukaaaaaan! Selamanya kau nggak akan pernah bisa berhadapan lagi dengan Nona Chris!'

"Terima kasih, Borus."

"Eh?"

Borus menoleh. Sang dewi, tersenyum dengan amat tulus. "Aku senang. Teruslah berada di sisiku, ya?"

"Nona Chris…"

Borus menghembuskan napas lega. Ia amat sangat gembira.

Ia berjalan mendekati Chris dan membungkuk hormat. Kemudian, ia berlutut layaknya seorang pangeran. "Bolehkah?" Tangan kanannya terjulur ke arah Chris. Chris tersenyum. Tangan kanannya pun ia letakkan pada telapak tangan kanan Borus.

Di bawah sinar rembulan itu, sang ksatria mengecup tangan sang dewi yang ia cintai.

~o~

"Borus, akhir-akhir ini kau tampak bahagia sekali, ya?" ujar Percival. Hampir setiap hari ia tersenyum lebar dan lebih ramah dibandingkan dulu. Yah, walau terkadang emosinya masih suka tersulut dengan mudah.

"Begitulah," jawabnya singkat. "Akhirnya aku berhasil, Percival."

"Berhasil? Berhasil apa?"

Borus terkekeh. "Pokoknya aku berhasil. Kheheh,"

Percival mengangkat kedua alisnya. Ia tidak bertanya lebih lanjut. Ia mengerti apa yang Borus maksud. Sebuah senyum bangga terlukis di wajahnya. 'Syukurlah ia berhasil mengatasinya.'

Memang, Borus tidak menyatakan cintanya secara langsung dengan berkata, "Aku mencintaimu", atau semacamnya. Tidak. Tapi, ia merasa puas. Tak perlu kata-kata cinta untuk mengungkapkan rasa sayang pada seseorang. Janjinya malam itulah, yang menjadi bukti atas cintanya yang tulus pada Chris. Dan ia bersumpah, akan menepati janji itu hingga maut menjemputnya.

End.