THE NIGHT
Disclaimer: Animonsta studio
Warning: Fanfic dari autor newbie, Typo, jelek, OC, OOC, alur ga jelas dll
.
.
Selamat Membaca~~
.
.
Langit hitam menangis, kilatan cahaya muncul bersama suara guntur yang memekakan telinga, rintikan air surga menghantar prosesi pemakaman itu, hitam mendominasi.
Yaya terdiam, matanya mengedar pada seluruh pelayat, Semua hening. Tidak ada jerit maupun tangis.
Kumpulan manusia itu hanya menatap hampa pada kedua gundukan tanah bertabur bunga itu.
Hari ini adalah hari ketigaku disekolah ini, dan ini kedua kalinya aku mengantarkan salah satu siswa yang bahkan belum aku kenal, ke peristirahatan terakhirnya. Dari yang kudengar, mayat gadis itu ditemukan menggantung di antara langit-langit kelas. Ya, kelas yang sama tempat aku bertemu dengan pemuda misterius itu
Aku merasakan firasat aneh, aku mersa bahwa semua ini berhubungan dengan pemuda yang aku temui dalam kelas bekas reruntuhan itu. Ya, aku sangat yakin.
Dan, Ya, Kematian, entah apa yang terjadi di sekolah ini, mengapa rasanya hal itu begitu dekat, seakan-akan sedikit saja kau lengah maka kematian akan dengan mudah menjemputmu. Dan aku merasa kematian itu tengah mingintaiku sekarang.
Tatapan kosong para pelayat membuat pemakaman ini lebih mirip upacara pemanggil arwah yang pernah aku lihat dalam film, dari pada sebuah upacara pemakaman yang biasa terjadi pada umumnya.
Dan ini semakin membuatku bertanya-tanya, Ada apa sebenarnya?
Tanpa sadar mataku menangkap sosok yang amat aku kenal, tiba-tiba perasaan ini datang lagi, aku.. takut.
Pemuda itu, ia memakai kemeja berwarna putih yang terlihat sangat mencolok diantara kerumunan orang yang memakai pakaian berwarna hitam kelam, ia menunduk menyembunyikan wajahnya di balik topi yang ia kenakan.
"Sara?"
"Ya, Yaya?"
"Kau lihat pemuda berkemeja putih itu,?"
Kulihat wajah Sara yang terlihat bingung.
"Kau bicara apa, Yaya? tidak ada yang memakai kemeja warna putih di sini"
Jantungku serasa berhenti berdetak.
Kenapa ia ada disini?
kembali aku melihat ke arah pemuda itu berlahan ia mengangkat topinya menunjukan dua pupil sewarna darah yang menatapku tajam. Ia menyeringai.
Aku menunduk, kembali aku merasakan tubuhku gemetar, untuk kesekian kalinya aku merasakan ketakutan yang amat sangat.
Terlalu lama aku terjebak dalam rasa ketakutanku, hingga tanpa aku sadari para pelayat sudah mulai meninggalkan area pekuburan, aku terperangah, seiring perginya kerumunan manusia itu pemuda itu turut menghilang,
Dan Sara? ia pun sudah tidak lagi berada di sampingku.
Ah tidak! bukan hanya Sara! tapi semua orang telah menghilang,
aku harus pergi, aku harus pergi dari tempat ini.
O-o-O
Hawa dingin menusuk tulang.
Yaya menadah,
Dilihatny langit sudah mulai menggelap, sepertinya ia akan terlambat pulang hari ini.
Matanya mencari-cari hingga ia melihat Halte Bus disebrang jalan. dengan langkah pasti ia berjalan menuju halte tersebut.
Yaya menggosok-gosokan lengannya yang memutih karena kedinginan, belum lagi hijab dan baju yang ia kenakan sudah basah kuyup.
'Mengapa disini sepi sekali?' tanya Yaya dalam hati.
Tiba tiba ia merasa ada seseorang di sampingnya.
Dilihatnya seorang gadis berdiri di sampingnya, gadis itu menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik rambutnya yang panjang tergerai.
'Bagus aku tidak sendirian sekarang' Yaya tersenyum.
Tiba-tiba gadis itu melangkah berjalan ke arah jalanan, memunggungi Yaya.
Gadis itu menyeret kaki kirinya yang tanpa sandal. Dengan jelas Yaya dapat melihat bahwa pergelangan kaki gadis itu tertekuk kebelakang, seperti bekas kecelakaan.
berlahan rambut gadis itu tersingkap, menampilkan bekas sayatan di lehernya, Yaya menahan nafas. Ia sadar ada sesuatu yang tidak beres terjadi.
'Krektek'
Leher gadis itu memutar, gadis itu tersenyum.
Yaya terdiam matanya terus terpaku memandang gadis itu, seringaian gadis itu semakin lebar.
"Yaya?"
Yaya terkejut saat Fang muncul di belakangnya.
"Kau mengagetkanku, Fang"
"Maaf" Fang terlihat canggung.
"Tidak apa-apa, Oh ya Fang kau lihat gadis di tengah jalan raya itu?" Yaya menunjuk ke tengah jalan raya.
"Gadis? sedari tadi aku melihatmu sendirian disini" Fang melihat Yaya dengan pandangan aneh.
Yaya mematung.
Gadis itu sudah hilang dari pandangannya.
"Kau mau pulang bersama kami? Kebetulan aku dan Ying membawa mobil," Fang menunjuk ke arah perempatan jalan, Ying melambai dari dalam mobil. Tanpa pikir panjang Yaya berlari menghapiri Ying, meninggalkan Fang yang semakin terlihat bingung.
"Fang, sedang apa kau disana! Ayo cepat!" teriak Ying, tanpa pikir panjang Fang pun berlari menyusul Yaya menghampiri Ying.
O-o-O
Aku terdiam. Otakku benar-benar tidak bisa mencerna fenomena yang tengah berlangsung di hadapanku, garis polisi dipasang di ruangan kelas bekas reruntuhan itu.
Seorang guru olahraga bernama Oscar, 22 tahun. Ditemukan tergeletak di gedung sekolah yang kosong dalam keadaan tidak bernyawa.
Pria itu tewas dengan pisau daging yang menancap dilehernya.
Tidak ada tanda-tanda pembunuhan seperti sidik jari dan sejenisnya.
Seakan-akan pisau daging itu menancap dengan sendirinya. Aneh..
Penyelidikan berlangsung tidak sampai dua jam, namun karena tidak menemukan titik terang, kasus ini ditutup, dan mereka menyimpulkan bahwa ini adalah murni kasus bunuh diri,
kenapa kasus ini begitu cepat ditutup?
Seakan-akan mereka semua...ketakutan?
Apa yang mereka takutkan?
Terhitung sudah 3 korban jatuh semenjak kedatanganku ke pulau rintis. Seorang siswa dan siswi, lalu sekarang guru. Bila ditotal dengan jumlah kematian sebelumnya, maka semua berjumlah 14 kasus bunuh diri dalam setahun.
Dan selalu di tempat yang sama, hah bagaimana bisa.
Ini semua benar-benar membuatku penasaran!
Rasa penasaranku membawaku ke perpustakaan sekolah lama di bekas reruntuhan itu. Aku berharap aku dapat mendapatkan informasi.
Pintu kayu jati yang menjulang tinggi membuatku penasaran seperti apa perpustakaan di gedung sekolah bertaraf internasional ini, dengan agak terburu-buru aku rogoh kunci dalam saku kemeja putihku.
Hawa dinginlah yang pertama menyambutku, kunyalakan lampu di sebelah kiri pintu, mataku mengedar, kulihat jam tua di dinding menunjukan pukul 12 siang, tapi mengapa di sini begitu dingin dan berangin? Sedangkan di luar sana cuaca sedang cerah bahkan aku tidak menemukan fentilasi di perpustakaan ini jadi dari mana angin dingin ini berasal?
Ribuan buku di rak-rak itu terjejer rapih kulihat beberapa anak tangga disetiap barisan 'mungkin untuk mempermudah mengambil buku di rak paling atas' pikirku. Kupilih barisan paling tengah.
Tirai jendela itu aku singkapkan, Jujur aku terkagum-kagum, seperti semua buku dari berbagai dunia ada dalam perpustakaan ini, melihat koleksi buku yang jumlahnya tidak terhitung.
Tapi.. Kenapa tidak ada orang?
Kenapa tidak ada satu pun orang yang mendatangi perpustakaan ini?
Bahkan aku melihat murid-murid dari sekolahku lebih memilih mendatangi perpustakaan kota yang memiliki koleksi buku lebih sedikit, dari pada mengunjungi perpustakaan sekolah yang menurutku memiliki koleksi buku yang jauh lebih lengkap.
Bahkan guru pengawas yang aku mintai kunci perpustakaan memandangku dengan tatapan yang terlihat terkejut, ah lebih tepatnya takut.
Mendadak aku mencium aroma amis darah, kuremas buku dalam genggamanku, hawa dingin semakin terasa, tiba-tiba tirai yang ku buka tertutup dengan sendirinya.
Ada apa ini?
Lampu padam. Gelap. Oh tuhan..
Suara suara aneh terdengar, suara sesuatu yang di seret semakin lama semakin dekat.
Oh tidak! Perasaan ini lagi! Takut, aku.. Takut..
Aku berjalan, semakin kupercepat langkahku, aku berlari, dan semakin cepat pula suara itu!
Tidak, aku tidak ingin mati!
Aku mencari dalam gelap, panik, aku terus berlari, sesuatu menarik kakiku!
Aku terjatuh, suara tawa, aku mendengar suara tawa seorang perempuan, dan suara tubuh yang di seret itu semakin dekat, Tuhan.. ini kah akhirnya?
"Pedang Neraka!" suara itu? Lampu berlahan menyala menampakan wajah yang amatku kenal.
Pemuda itu,
dan Oh, pedang berwarna kilat merah di genggaman pemuda itu tengah menancap pada kepala seorang wanita yang menangis, ah lebih tepatnya meraung. Kulihat mata pemuda itu berkilat merah, siapa dia?
"Akan aku kembalikan iblis dalam neraka, mengembalikan roh kepada kematian," mantra apa itu?
'krek' kepala wanita itu terbelah.
Jeritan dan rintihan terdengar, sebuah cahaya merah muncul, tubuh wanita itu menjadi abu.
Meninggalkan tulang-belulang yang berserakan. Pemuda itu melihatku tajam,
Ia mendekat, pemuda itu mendekat, dengan pedang yang ujungnya menempel pada lantai, menimbulkan bunyi gesekan yang menganggu telinga. Pedangnya terangkat kearahku, aku menutup mata, "Cih, masih tersisa rupanya"
Berlahan ku buka mataku. Astaga, potongan tangan manusia menggenggam pergelangan kakiku. Kulihat pemuda itu menempelkan ujung pedangnya. Membuat lengan itu terlepas dari kakiku dan terbakar menjadi abu. Pedang itu pun hilang,
"Kukira kau hanya ceroboh, tapi ternyata kau sangat bodoh!" apa maksudnya?
"Kau harus berhenti berkeliaran sendirian bila tanpa pengawasanku!" Kulihat ia memejamkan mata, "Kau benar benar ingin mati rupanya!"
matanya kembali terbuka menampilkan pupil kecoklatan yang terlihat menyejukkan.
"Siapa kau?" Rasa takutku mulai mereda,
"Aku?" Ia tersenyum, "Aku pelindungmu..."
TBC
.
.
.
Terimakasih untuk semua yg sudah memfollow,mem-fav, dan mereview fanfic hana :D
Mohon maaf atas keterlambatan hehe
gara gara try out susulan xD
dan jg maaf atas kekurangan fanfic ini *Bungkuk2*
ini genre Supernatural hehe jd maaf kalo horornya ngga berasa *ditimpukin!
sekali lagi terimakasih :D
.
.
.
review?
