Chapter 01

Hari pertama setelah liburan yang panjang

.

.

Sawada Tsunayoshi, seorang pemuda berumur lima belas tahun, rambut coklat melawan gravitasi, manik karamel yang cukup besar untuk anak laki-laki pada umumnya dan jangan lupakan tinggi badan di bawah rata-rata, menatap sebal sang kakak yang kini berada disampingnya. Sosok kakak yang tak jauh beda dari dirinya—hanya warna iris dan rambut yang berbeda—kini menikmati hidangan sarapannya dengan tenang, seolah tak terjadi sesuatu diantara mereka berdua.

Sayangnya, sikap sang kakak itulah yang membuat mood Tsuna semakin bertambah buruk.

Bagaimana tidak, beberapa menit yang lalu sang brunet yang tengah asyik menikmati mimpi indahnya, tiba-tiba saja dikejutkan dengan serangan air dingin dari seseorang yang selalu menganggu hidupnya semenjak enam belas tahun terakhir. Siapa lagi kalau bukan sang kakak, Sawada Ieyashu.

Dengan wajah yang serasa ingin minta ditonjok, sang kakak mencemooh dirinya yang tak bangun-bangun. Bahkan ia masih ingat dengan ucapan kakaknya yang bikin membuat mood paginya semakin tambah buruk.

. Aku tahu kau sedang masa pubertas. Tapi jangan seenaknya mimpi kotor di hari pertama kau masuk sekolah setelah liburan musim panas ….

Benar-benar menyebalkan. Ia tak mengerti kenapa mempunyai kakak sebegitu menyebalkan seperti Ieyashu. Tak ada hari dimana kakaknya tidak menggodannya. Bahkan setelah hidup selama enam belas tahun ini, Tsuna selalu beranggapan bahwa kakaknya adalah mimpi buruk yang sudah ditakdirkan untuk dirinya.

"Ayolah Tsu-chan," rengek sang kakak. "Kakak-kan hanya bercanda, masa' begitu saja kau sudah marah?"

Tsuna tak menggubris suara berisik di sampingnya. Pemuda brunet itu lebih memilih untuk menghabiskan menu sarapannya daripada mengurusi baka aniki-nya tersebut. "Berisik! Cepat sana kembali ke Amerika! Urusi saja kuliah mu itu!"

Ieyashu hanya terkikik mendengar adik yang ia sayangi bersikap seperti wanita yang sedang kedatangan tamu bulanan. Menggoda Tsuna memang selalu membuat dirinya melupakan penat kehidupan perkulihannya. Dengan dirinya yang kini menempuh tahun kedua, belum lagi beberapa jabatan penting dan kegiatan kampus yang padat, tentu membuat Ieyashu sedikit kelimpungan dalam menghadapi masa-masa perkulihan.

Sedikit tambahan, kini Ieyashu tengah menempuh perkuliahan di University of Wisconsin-Madison dengan mengambil jurusan Criminal Justice Certificate Program.

"Tsu-chan jahat~~"

Tsuna masih tetap dengan pendiriannya, tak memperdulikan sang kakak dan terus menikmati menu sarapannya seolah keberadaan sang kakak tak pernah ada di sekitarnya. Dengan kasarnya, ia menggigit daging tuna yang kini menjadi menu sarapannya. Tak tahukah Tsuna bawa daging juga punya perasaan. Sesosok wanita paruh baya datang dari arah dapur sambil membawa dua gelas berisi susu hangat.

"Ara-ara~~~ dua anak okaasan sedang bersenang-senang rupannya."

Sawada Nana—ibu rumah tangga dalam keluarga Sawada. Seperti biasanya melemparkan senyum khas kepada dua anak laki-lakinnya. Wanita berumur kepala empat itu selau saja bersikap polos tanpa tahu bahwa anak bungsunya tengah menderita dibawah kejahilan sang sulung. Namun karena kepolosannya itulah, Nana selalu dapat menceriahkan suasana keluarga kecilnya itu.

"Jadi .. Ieyashu kapan kau akan kembali ke Amerika?". Tanya Nana yang kini mengambil posisi duduk di seberang kedua anaknya. Tak lupa ia memeberikan dua gelas susu bercampur madu kepada dua jagoannya tersebut.

"Mungkin minggu depan. Lagipula aku ingin menghabiskan banyak waktu bersama adikku yang manis ini. Bukankah begitu Tsu-chan?"

Berharap mendapatkan reaksi seperti adik manis yang patuh pada sang kakak, Tsuna malah menggumam tak jelas—walau Ieyashu yakini sang adik tengah memaki dirinya habis-habisan.

Memiliki kedua anggota yang tak bisa diharapkan benar-benar sangat menyebalkan. Sang ibu yang polos dan sang kakak yang menyebalkan. Cobaan apa lagi yang kurang untuk Tsuna.

Lalu bagaimana dengan Ayah. Jangan tanyakan tentang pria berkumis bau apek itu. Sosok bernama Ayah itu jarang sekali ada bersama dengan mereka. Alasannya cukup simpel, pekerjaan yang padat. Ayahnya seorang peneliti yang selalu berpindah-pindah negara untuk menyelesaikan penelitaiannya. Maka tak heran sosok kepala keluarga Sawada itu jarang sekali muncul untuk dihadapan mereka. Mungkin hanya saat Natal hingga tahun baru saja dia kembali ke Namimori, itupun hanya dihabiskan bermesraan dengan ibunya saja.

Walau bisa dikatakan keluarga Sawada adalah keluarga terpandang, tak ada satupun dari anggota itu bersikap sombong atau arogan seperti orang-orang kaya kebanyakan. Nana sangat anti dengan yang namanya 'berfoya-foya' sehingga ia mengajarkan dengan keras kepada kedua anaknya untuk hidup sederhana walau harta bertumpuk mereka miliki.

Misalkan saja rumah yang kini mereka tinggali. Walau mungkin mereka bisa membeli rumah bagai istana di atas bukit, nampaknya keluarga kecil Sawada lebih memilih untuk tinggal dikawasan pemukiman biasa, berbaur dengan tetangga lainnya. Hal itu jugalah yang mebuat sang kepala kelurga jatuh hati pada kesederhanaan yang dimiliki oleh Nana.

"Aku berangkat dulu." ucap Tsuna setelah menghabiskan menu sarapannya. Ia pun segera beranjak dan mengambil tasnya. Tak ingin berlama-lama berada di samping kakaknya.

"Oya, hari ini ada rapat Osis ya? Berjuanglah untuk menjadi Ketua Osis yang baik ya Tsu-kun!" seru Nana menyemangati sang bungsu.

Berbeda dengan Nana, Ieyashu malah tersedak susunya setelah mengetahui fakta bahwa adiknya adalah seorang Ketua Osis. Dengan cepat, ia mengalihkan pandangannya kepada sang adik, menatapnya tak percaya.

"Heh! Kau Ketua Osis Tsu-chan?! Kau sedang bercanda iya kan?"

"Berisik! Baka Aniki!"

Namun Ieyashu tak menyerah begitu saja. Ia langsung menarik tangan adiknya—membalik dan mengguncangkan badan Tsuna sebelum sosok nya pergi dari rumah sederhana mereka. Tentu saja ia melakukannya tidak terlalu keras, bagaimanapun juga Tsuna adalah adiknya yang selalu ia cintai. Walau, rasa cintanya ditunjukan dengan membuat sang bungsu emosi.

"Katakan Tsuna! Doa apa yang kaupanjatkan pada Dewa, sehingga kau bisa menjadi seorang ketua Osis? Aku saja ketika SMA hanya bisa menjabat sebagai Kapten tim besbal!"

"Itu karena kau bodoh sama seperti Yamamoto!" Tsuna pun langsung melepaskan cengkraman kakaknya dan melesat pergi sebelum baka-Anikinya itu menangkapnya lagi. Nana hanya tersenyum memandang bagaimana keakraban keduan anaknya tersebut. Oh Nana andai saja kau sedikit peka pada si bungsu.

"Itterashai Tsu-kun!"

.

0000000000

.

SMA Namimori adalah akademi luas yang dilengkapi dengan beberapa fasilitas yang menununjang. Bahkan diantara seluruh SMA yang ada di Tokyo Barat, Namimori lah SMA yang memiliki kompleks bangunan terluas. Bahkan tempat itu terdaftar sebagai salah satu ikon Prefektur Tokyo. Awalnya Tsuna menganggap sekolah ini luar biasa. Namun, sekarang rasannya sama saja dengan sekolah biasa.

Tsuna membenarkan posisi tasnya dan tak lupa memakai armband yang menjadi simbol bahwa dirinya seorang Anggota Osis—lebih tepatnya Ketua Osis Namimori angkatan 76.

Pemuda itu berjalan menuju sebuah gedung yang terpisah dari gedung utama sekolah. Ruang Klub khusus Osis berada di gedung B yang terletak di sebelah kanan Gedung A yang merupakan gedung utama sekolah—diamana tempat para siswa menuntut ilmu. Gedung B difungsikan sebagai tempat dimana seluruh kegiatan klub siswa memulai aktifitasnya.

Tsuna dengan Earphone yang terpasang manis di kedua daun telingannya, berjalan santai menyusuri lorong gedung yang sepi. Memang di jam-jam seperti ini, para siswa masih dalam perjalan menuju sekolah, baik yang berjalan maupun yang menggunakan alat transportasi.

Namun, bagi anggota Osis terlebih lagi anggota inti, datang lebih pagi merupakan sebuah kawajiban. Hari ini rencanannya Tsuna akan mengadakan pertemuan ringan dengan para anggota setelah lama tak berjumpa akibat liburan musim panas yang berlangsung cukup lama.

Ruang Klub Osis terletak di lantai tiga. Bahkan, diantara ruang klub lain, Ruang Osis merupakan ruang klub terluas dibandingkan dengan yang lain. Tsuna pun menggeser pintu masuk dan melihat beberapa anggota Osis yang rupannya sudah datang terlebih dahulu.

Yamamoto Takeshi, sahabat dekat Tsuna sekaligus wakil ketua dua , kini sedang duduk bersandar sambil memainkan bola besbal kesayanagannya. Pria bertubuh tinggi dengan kulit eksotis itu merupakan salah satu pangeran sekolah yang bayak digandrungi oleh para cewek. Tak hanya wajah yang selalu memancarkan senyum hangat, pria reven itu meruapakan olahragawan sejati Namimori. Hampir semua cabang olahraga ia kuasai. Namun, diantara semua cabang olahraga, besbal yang paling menonjol. Entah karena olahraga itu meruapakan olahraga terfavorit di Jepang atau alasan lain, Tsuna tidak tahu.

Berikutnya ada anggota Osis super cantik dan juga merupakan wanita primadona Namimori, Sasagawa Kyoko—Bendahara Osis. Berbeda dengan Yamamoto yang sudah Tsuna kenal sejak Sekolah Dasar, Kyoko baru Tsuna kenal sejak ia masuk SMA—itupun diawali dengan kejadian yang cukup memalukan.

"Ohayou!" sapa Tsuna begitu masuk ke dalam ruangan.

"Ah Ohayoau Tsuna! Ohayou Kaichou!" balas Yamamoto dan Kyoko bersamaan.

Tsuna mengangguk dan berjalan menuju kursi khusus yang hanya boleh diduki oleh seorang Ketua Osis sendiri. Netra karamelnya menangkap sebuah potongan cake yang tersaji cantik di atas piring kecil bewarna putih. Seakan tahu dari siapa kue itu, Tsuna menatap Kyoko yang masih sibuk menuangkan teh ke masing-masing cangkir.

"Kue itu darimu Kyoko?" Tanya Tsuna.

"un … hari ini ibuku membuat resep baru untuk tokonya," jawab Kyoko. "Jadi aku berpikir untuk membawanya ke sekolah agar teman-teman Osis dapat menilai apakah kue baru buatan ibuku enak dan cocok untuk dijual di toko."

"Sampai kapanpun kue buatan nyonya sasagawa akan selalu enak. Jika tidak, mana mungkin tokomu sampai terkenal hingga ujung Okinawa."

Kyoko tersenyum senang mendengar pujian yang dilontarkan Tsuna. Gadis berambut coklat emas itu meletakan cangkir teh yang masih mengepulkan asap. Manik cerahnya menatap Tsuna yang kini sedang mencicipi cake yang sudah ia bawa dari rumah.

"Bagaimana? Enak?"

"hm …" Tsuna menutup matannya mencoba merasakan semua sensasi begitu makanan manis itu masuk kemulutnya. "Rasa manisnya pas, cocok untuk teman minum kopi. Lalu tekstur lembut dalamnya benar-benar pas. Dan ehm … potongan buah yang berpadu dengan krim menambahkan rasa tersindiri begitu menyentuh lidah."

"Wow aku tak menyangka kau bisa menilai kue hingga seperti itu." Ucap kagum kyoko yang melihat bagaimana Tsuna mendiskripsikan rasa cake buatan ibunya.

"Kebetulan ibuku suka melakukan percobaan membuat cake. jadi tiap hari aku selalu dipaksa untuk jadi kelinci percobaannya." Ucap Tsuna.

"Wah aku tak menyangka …. Pasti rasanya enak."

"Kata siapa?" ucap Tsuna yang kini menyesap sedikit teh yang telah disiapkan Kyoko. "Terkadang ia membuat resep aneh hingga aku sampai sakit perut dibuatnnya."

Kyoko hanya terkikik geli mendengar candaan Tsuna. Sang Ketua Osis itu memang selalu dapat membuat orang-orang disekitarnya tertawa. Entah perbuatannya atau perkataannya, tak ada yang pernah bisa menahan tawa bila ada di dekat Tsuna.

Yamamoto yang merasa dicuekin oleh kedua anggota Osis itu, berdeham pelan seraya menatap jahil kedua insan berbeda jenis kelamin itu. "Wah-wah nampaknya kali ini aku jadi lalat penganggu ya? Apa sebaiknya aku pergi saja ya?"

Kyoko segera berbalik, menatap Yamamoto kalang kabut—ada semburat merah tipis di kedua pipi si bungsu Sasagawa. "Eh .. k-kami tak bermaksud seperti itu Yamamoto-kun. A-aku .. aku …"

Yamamoto tahu kalau bendahara Osis itu mempunyai perasaan khusus pada Tsuna. Hanya saja sang Kaicho itu sedikit kurang peka pada apa disekitarnya. Jadi, Yamamoto hanya bisa berdoa, berharap kisah cinta Kyoko tak seperti drama picisan yang sering ayahnya tonton.

"KAKAKAK! kau memang selalu lucu jika digoda kyoko! Pantas saja Ryohei-senpai sangat gemas melihatmu!"

Kyoko mendadak salah tingkah mendapat pujian seperti itu dari Yamamoto, apa lagi sampai membawa-bawa nama kakaknya. Gadis bersurai coklat itu langsung kembali ke meja kerjannya, membenamkan wajah malunya di antara tumpukan kertas.

Tsuna mendesah panjang melihat sikap Yamamoto yang suka menggoda Kyoko. Tidak, hampir semua anggota Osis selalu Yamamoto goda—khususnya dirinya dan Sang wakil satu, yang kini tak hadir karena ada keperluan lain.

"Yamamoto! Bisakah sekali saja kau tak menggoda orang lain? Akan kupotong anggaran klub besbal kalau kau masih tetap mempertahankan sifatmu yang satu itu."

Kini giliran Yamamoto yang kalang kabut. Walau ia tahu Tsuna sedang bercanda, tapi sih manis pendek itu bisa saja benar-benar melakukan apa yang ia ucapkan. Pernah sekali Tsuna menegur salah satu klub yang selalu membuat pihak sekolah merasa kerepotan.

Awalnya Tsuna hanya memberikan sebuah teguran tapi, mereka tak menanggapinya dan malah menghina Tsuna. Mereka menganggap Tsuna hanya ketua Osis yang lemah. Namun, pandangan mereka salah. Mereka tidak tahu kalau laki-laki manis bertipe uke itu bisa menjadi seorang ditaktor kejam. Hanya dalam waktu beberapa hari. Aktifitas klub itu segera dibekukan dan semua anggota klub diberi hukuman oleh pihak sekolah.

Tsuna itu bagai sebuah paradoks. Terkadang sang brunet bisa bersikap seperti pria baik, santun pendiam dan panutan semua orang. Namun, adakalahnya dia menjadi kejam, sadis dan ditaktor. Sejak itulah semua siswa Namimori merasa segan untuk mencari gara-gara pada sang Ketua. Belum lagi anggota komite kedisplinan dibawah kekuasaan Hibari Kyouya yang selalu ada di belakang Tsuna. Sehingga membuat, sang Ketua Osis menjadi presiden siswa yang absolute.

Untung saja Tsuna tak pernah menyelewengkan jabatan Ketua Osis yang dipikulnya. Bahkan setelah menjabat setengah tahun, banyak prestasi yang ditorehkan oleh sang Kaichou. Maka dari itulah tak ada satupun siswa yang meragukan kepemimpinan Tsuna. Yah, mungkin beberapa pihak oposisi yang membenci Tsuna lah yang terus mencari cara untuk menjatuhkan sang Kaichou.

"Ah~~ Tsuna aku kan hanya bercanda. Ayolah inikan hari pertama masuk sekolah, jangan seserius itu."

Tsuna menyesap kembali cairan kusam tersebut sambil menghirup aroma teh yang memanjakan indra penciumannya. Sang brunet nampaknya sengaja menggoda Yamamto—terlihat senyum evil terbentuk, walau tak terlalu terlihat oleh anggota osis lainnya. Hitung-hitung ini sebagai pembalasan karena sang yakyu baka itu sering menggodanya dulu.

"Baiklah aku tak akan memotong anggaran klub besbal," Yamamoto langsng sungmeringah mendengar ucapan sang Kaichou. Namun rasa senang itu langsung sirna begitu mendengar ucapan terakhir terlepas begitu saja tanpa ada beban.

"Tapi … kalau kau gagal di turnamen musim gugur … akan ada 'hukuman' untuk semua anggota besbal. Khususnya untukmu Yamamoto Takeshi sang Ace tim Namimori."

Bulu kuduk Yamamoto langsung berdiri. Ia meneguk ludahnya dalam-dalam. Ia merutuki siapapun orang yang telah merubah sahabat manisnya itu menjadi sosok iblis yang menakutkan.

Kau benar-benar paradoks Tsuna …

.

0000000000

.

Hari itu jam pelajaran berakhir lebih cepat. Para staf pengajar mengadakan rapat sehingga mau tak mau memulangkan para murid lebih awal. Tentu saja hal itu dimanfaatkan baik-baik oleh para siswa untuk bersenang-senang. Lagipula siapapun juga akan jengah menghadapi materi di hari pertama setelah liburan yang panjang.

Namun, tidak untuk sosok bernama Sawada Tsunayoshi. Ia harus melakukan tugasnya sebagai seorang Ketua Osis, berkeliling dan mengecek perkembangan tiap klub siswa. Sebenarnya kegiatan semacam 'blusukan' tersebut bukan merupakan hal yang wajib dilakukan setiap hari olehnya. Tapi, ia sudah bertekat selama kepemimpinannya, ia akan secara rutin melakukan sidak tersebut untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan.

Nampaknya, ajaran Ketua Osis terdahulu—Hibari Kyouya, menurun pada generasi sesudahnya.

Setelah meminta Kyoko dan beberapa anggota inti Osis yang lain untuk mengerjakan tugas di kantor, Tsuna pun lantas memulia acara 'blusukan' nya. Awalnya ia ingin meminta kedua wakilnya untuk mengerjakan tugas di kantor, tapi mengingat sang wakil satu Gokudera masih ada di Itali untuk keperluan keluarga serta Yamamoto yang disibukan untuk persiapan turnamen musim gugur. Sehingga mau tak mau dia harus menyerahkan tugas kantor pada anggota Osis yang lain.

"Hanya ini saja keluhan klub Manga?"

Tsuna memilih klub manga sebagai klub awal yang akan ia sidak. Begitu sampai keruang yang dipenuhi hal-hal berbau anime itu sontak, semua anggota langsung menyapa hormat Tsuna—menandakan bahwa sang ketua benar-benar orang yang disegani di Akademi Namimori.

"Kami ingin meningkatkan eksistensi kami di comiket tahun depan dan beberapa kejuaraan manga yang akan segera diselenggarakan. Oleh karena itulah kami ingin osis memberikan kucuran dana tambahan agar kami dapat membeli beberapa peralatan yang menunjang."

Asamatsuri Joiko, seorang sisiwa tingkat tiga sekaligus ketua klub manga tengah membicarakan hal serius dengan sang ketua Osis. Manik netra emasnya menatap Tsuna berharap-harap agar permintanya dapat dipenuhi oleh pihak Osis.

Meminta sesuatu seperti tambahan dana bukanlah perkara mudah. Tsuna sangat sensitif bila ada klub yang mengajukan hal seperti itu. Beberapa tahun yang lalu—lebih tepatnya setahun sebelum masa Hibari, terjadi korupsi besar-besaran di kalangan Osis serta Komite Keuangan. Akibat kejadian itu, hampir seluruh kegiatan klub akademi menjadi lesu. Bahkan, Koran siswa sampai menyebutnya sebagai 'Musim Panceklik Namimori'.

Butuh waktu lama sampai kasus itu terbongkar. Hibari yang menjabat sebagai ketua Osis ditahun berikutnya lansgung bergerak agresif, membongkar kasus korupsi hingga ke akar-akarnya. Untung saja Komite Kedisplinan yang waktu itu dipegang Kasukabe sangat royal pada Hibari, sehingga dengan cepat Hibari dibantu oleh Komite kedisplinan dapat menumpas habis seluruh tikus-tikus kotor yang telah merusak citra Namimori.

Perlu diketahui, Akademi Namimori menerapkan sistem yang berbeda dalam mendidik muridnya. Mereka memberikan kebebasan penuh pada siswa dalam menjalan kegiatan sekolah. guru hanya bertugas sebagai pengajar dan murid adalah roda penggerak kehidupan akademi. Oleh karena itulah, jabatan Ketua Osis itu setara dengan priseden suatu negara, mengawasi para murid yang bertindak sebagai rakyat.

Maka dari itulah setiap lulusan Namimori selalu menjadi banyak incaran, baik oleh universitas maupun pihak-pihak lainnya.

"Aku mengerti. Akan kurundingkan dengan pihak komite kuangan dan bendahara Osis untuk mebahas masalah dana klub manga."

Seketika Joiko langsung menunjukan eksperesi lega luar biasa. Dengan semangatnya, ia menjabat tangan pria yang lebih pendek darinya itu tanpa peduli kalau pria tersebut sedikit terkejut dengan reaksi sang gadis berambut bob itu.

"Terima kasih banyak Kaichou! Aku tak akan menyia-nyiakan bantuan dari pihak Osis!"

Tsuna pun meninggalkan ruang klub manga dan beralih ke ruang klub lain. Butuh waktu dua jam untuk menyelesaikan acara 'blusukan' siang itu. Masih sedikitnya klub yang aktif di hari pertama masuk sekolah membuat kegiatan 'blusukan' Tsuna tak sebearat seperti biasanya. Ia pun berjalan tenang sambil membaca kembali note kecil yang ia gunakan untuk mencatat apa-apa saja yang dikeluhkan oleh para anggota klub.

"Hm … masalah keuangan memang hal yang paling krusial, apa lagi banyaknya efent yang akan dihadapi membuat klub harus mengajukan proposal untuk tambahan kucuran dana. Belum lagi, kasus kekerasan yang akhir-akahir ini marak …. Huh! Pekerjaan ini semakin membuat kepalaku serasa akan pecah kapan saja."

Tsuna meregangkan kedua otot lengannya yang mulai terasa kaku. Ia pun duduk sejenak di sebuah bangku yang tersedia di lorong. Sambil mengamati kembali hasil 'blusukan'nya hari ini, tanpa sengaja perut sang brunet mengeluarkan suara yang mungkin akan ditertawakan oleh Yamamoto bila mendengarnya.

Growl!

"Oke perut! Kau membuat tuanmu malu. Untung Yamamoto tak ada disini, jika tidak aku tak tahu candaan apa yang akan ia lontarkan."

Cukup lucu juga melihat ekspresi Tsuna ketika berbicara sendiri dengan perutunya, seakan bagian tubuhnya itu dapat merespon apa yang ia ucapkan. Tsuna pun mengambil tiga Yakisoba yang kebetulan ia dapatkan ketika mengunjungi klub Koran Sekolah. inilah enaknya jadi ketua Osis, terkadang mendapatkan buah tangan yang tak terduga dari para siswa.

Dengan lahapnya ia menelan habis potongan yakisoba yang pertama. Bila dalam keadaaan sendirian, Tsuna memang tak memperdulikan cara makannya yang seperti orang kelaparan. Namun, bila ada di dekat teman-temannya, apalagi kakaknya yang brengsek itu, Imej jauh lebih penting ketimbang perut yang sedang lapar.

Hampir saja potongan yakisoba kedua ia masukan ke dalam mulut, gerakan tangannya terpaksa terhenti ketika seorang gadis kecil tiba-tiba ada di depannya, menatapnya—lebih tepatnya menatap yakisoba—dengan tatapan lapar. Seolah-olah gadis kecil itu tak pernah makan sejak sebulan yang lalu.

Gadis kecil itu memiliki rambut coklat pendek sebahu. Netra hazelnya menatap yakisoba di tangan Tsuna dengan pandagan berbinar-binar. Jangan lupakan kaos tanpa lengan kuning yang menurut Tsuna cukup kebesaran, serta celana selutut berwarna pink. Belum lagi sebuah syal putih membalut lehernya dan peluit kecil menambahkan kesan lucu pada gadis kecil itu.

Growl!

Sebuah suara lucu mirip dengan suara perutnya beberapa menit yang lalu terdengar. Tsuna terseyum manis dan menawarkan yakisoba yang belum ia gigit pada gadis kecil di depannya tersebut.

"Kau lapar gadis kecil?" Tanya Tsuna

"Tidak sopan! Aku ini jauh lebih tua darimu dan aku tidak lap—"

Sayangnya perut kecil miliknya berkata lain. Tsuna pun semakin geli melihat gadis kecil dihadapannya itu. Ia jadi teringat dengan Fuuta, sepupu gokudera.

"Tak usah malu-malu. Aku masih ada yakisoba lain kok. Ini untukmu."

Dengan gaya malu-malu kucing, gadis kecil itu megambil yakisoba yang diulurkan kepadannya. Begitu roti yang sangat popular di kalangan siswa Namimori itu sudah ada digenggamannya dengan cepat, lang sung saja ia makan—seolah akan ada orang lain yang merebut roti itu darinya.

"Tak usah cepat-cepat, nanti tersedak lo~ lagipula aku masih ada roti satu lagi"

Dengan tanpa rasa malu, gadis kecil itu langsung merebut yakisoba terakhir milik Tsuna dan menelannya bulat-bulat. Tentu saja bungkus plastiknya sudah dilepas terlebih dahulu.

Tsuna menatap heran sekaligus terkejut. Ia tak menyangka gadis imut bisa bersikap rakus. Tsuna jadi semakin yakin kalau sosok didepannya ini belum makan seharian.

"Wow kau punya nafsu makan yang besar," ucap Tsuna. "Memangnya kau belum makan seharian?"

"Aku belum makan sejak sebulan yang lalu," Gadis itupun kini menjilat sela-sela jarinya seakan tak ingin ada bekas yakisoba yang tertinggal. "Lagipula tak ada orang lain yang sadar dengan kebaradaanku. Padahal aku sudah berteriak-teriak, tapi mereka tak ada yang mau menoleh padaku."

Oke, Tsuna mulai ketakutan. Ia menatap kembali sosok dihadapannya. Dari ujung rambut hingga sepatu ket merah yang ia gunakan. Bahkan untuk membuktikan bahwa sosok dihadapannya ini bukan hantu, Tsuna sampai meraba-raba wajah imut gadis tersebut.

Tak suka dengan perlakukan Tsuna, gadis itupun menyentak keras tangan Tsuna. "Tidak sopan! Beraninya kau meraba-raba wajahku!"

Tsuna kini sedikit tenang. Setidaknya sosok dihadapannya ini bukan hantu. Sang brunet jadi teringat dengan mitos tentang sosok hantu yang sudah jadi penunggu tetap gedung B ini. banyak berpendapat bahwa sosok itu muncul karena tempat peristirahatannya—dulunya kawasan gedung B adalah hutan lebat—terganggu. Sejak itulah masalah hantu penunggu gedung B semakin dibesar-besarkan.

"Ehm … gadis kecil? Kalau aku boleh tahu, siapa namamu? Apakah aku terpisah dari orang taumu atau kakamu?"

Tsuna pun teringat dengan niat awalnya untuk bertanya kepada sosok didepannya itu. Cukup jarang atau bahkan tidak pernah sama sekali Tsuna menemukan seorang gadis kecil yang berkeliaran di kawasan Sma Namimori. Jadi Tsuna berpendapat bahwa sosok dihadapannya ini mungkin seorang anak guru atau adik siswa yang tersesat. Kesampingkan soal ucapannya yang belum makan selama sebulan. Mungkin, gadis kecil itu suka membuat lelucon.

"Aku?"

Gadis kecil itu menunjuk dirinya sendiri dan Tsuna hanya mengaggukan kepalanya.

"Namaku Yagami Hikari. Namun, sekarang lebih dikenal dengan sebuat Angel Yagami. Aku adalah penjaga cahaya dunia digital."[]