Life is the only game which has no pause, no resume and no restart. You have to be careful enough to never fail and not to be hurt

.

.

.

.

.

.

Triplet794 present new story

Restart

Main Cast : Oh Sehun & Xi Luhan

Genre : Romance, Friendship, Hurt/Comfort

Rate : M

Length : Chapter

YAOI. Typo (s)

HUNHAN STORY!

.

.

.

.

.

Kalau boleh meminta, aku tidak ingin menjadi diriku saat ini. aku juga tidak meminta terlahir seperti ini. Dan jika boleh mengulang aku ingin hidup sebagai orang lain. Namun tetap bersamanya sampai akhir.

-Luhan-

..

..

..

..

"Bagaimana? Kalian sudah mendapatkan informasi tentang si pembunuh sialan itu?"

Terdengar suara putra bungsu keluarga Oh bertanya kepada enam pria berbadan besar dengan tampang tak bersahabat yang tampak diam karena melihat tuan muda mereka yang kembali marah karena mereka tak juga bisa mengumpulkan informasi apapun tentang siapa pelaku pembunuhan yang dengan keji membunuh kedua orang tuanya.

"Maafkan kami tuan muda. Informasi yang kami peroleh masih sama. Pria itu berkebangsaan Cina, namun tidak diketahui identitas tentang keluarganya."

BRAK!

"BERAPA LAMA AKU HARUS MENUNGGU?"

Sehun menggebrak meja yang berada di ruang santai kamarnya dengan wajah memerah menandakan kalau dia sangat murka dan tak bisa sabar dengan hasil yang hampir mustahil didapatkan oleh anak buahnya yang sudah mencari identitas pelaku sejak dirinya berusia 17 tahun.

"Sebentar lagi tuan muda, kami mohon anda bersabar sebentar lagi."

"Dengar...kesabaranku menipis dengan kerja kalian yang buruk. Aku ingatkan waktu kalian hanya sampai akhir tahun, jika kalian tidak bisa menemukan informasi tentang keluarga si pembunuh itu aku bersumpah akan melakukan sesuatu yang buruk pada kalian. Apa kalian mengerti?" geramnya mengepalkan tangan menatap masing-masing anak buahnya.

"Baik tuan muda."

"CEPAT PERGI!"

Sehun membentak seluruh anak buahnya dan seluruh anak buahnya pun langsung membungkuk dan menghambur keluar dari kamar Sehun dengan wajah pucat luar biasa.

Dan wajah pucat itu tak hanya terlihat di wajah anak buah Sehun, namun juga terlihat di wajah pria cantik yang sedang berdiri didepan kamar pria yang pernah menjadi kekasihnya berniat untuk memberikan segelas air dan vitamin karena sang tuan muda mengeluh tak enak badan pada kakaknya sepulang dari kampus siang ini.

"AARGGGGGHHHHHHH…!"

Lamunan Luhan pun buyar saat teriakan penuh kemarahan dan kesakitan dari prianya terdengar begitu memilukan.

Luhan pun memberanikan diri memasuki kamar Sehun dengan hati teriris ingin menenangkan prianya namun ia tahu dia tidak punya hak untuk itu lagi.

Tok….Tok….!

Sehun yang sedang menjambak kencang rambutnya menoleh dan cukup berbinar mendapati Luhan berdiri dikamarnya, namun saat menyadari wajah Luhan tanpa eksperesi membuatnya mendesah pelan dan hanya bisa menerima kenyataan kalau Luhannya dulu memang sudah tak ada lagi

"Masuklah…" gumamnya lirih berusaha tak mempedulikan Luhan…..namun gagal.

Matanya selalu menatap kemana dan apa yang akan Luhan lakukan, sampai dia nenyadari kalau Luhan sedang berjalan ke arahnya.

"Minumlah ini dan beristirahatlah tuan muda."

Jantung Sehun berdegup kencang tatkala wajah Luhan hanya berada lima sentimeter dengan wajahnya, membuatnya bisa melihat kecantikan hampir sempurna dari Luhan dengan mata indah dan bibir yang teraenyum manis dan tulus ke arahnya. karena saat ini pria cantiknya sedang berjongkok didepannya dan mengusap pelan keringat didahinya.

Aku merindukanmu…

Batin keduanya memberontak saat menatap satu sama lain, tatapan yang penuh kerinduan dan rasa frustasi yang teramat karena tak mampu saling memiliki walau dalam jarak sedekat ini.

"Jangan terlalu memaksakan dirimu tuan muda, kau bisa sakit."

Suara itu memang terdengar datar namun Sehun yakin ada rasa khawatir yang ditujukan untuknya dari pria yang sangat ia cintai dengan hidupnya ini, hal ini membuat Sehun tersenyum menangkup wajah Luhan lalu mencium dahi dahi Luhan dengan sayang.

"Jangan khawatirkan aku. Aku akan baik-baik saja." Gumam Sehun mengusap lembut wajah yang begitu dirindukannya.

"Tuan mu-.."

"Sehun..aku mohon." Pintanya frustasi pada Luhan. Luhan menatapnya lama dan kemudian mengangguk, bukan mengiyakan keinginan Sehun, namun seolah memberi izin pada dirinya sendiri untuk memanggil nama yang dulu sering ia sebut ini dengan nama panggilannya.

"Sehun…"

"Hmmm.." katanya tersenyum senang menjawab panggilan Luhan

"Bisakah-…bisakah kau berhenti mencari siapa pembunuh kedua orang tuamu" tanyanya tak berani menatap Sehun.

Sehun kembali tersenyum dan memaksa Luhan menatapnya "Aku sudah setengah jalan Lu, tunggulah sebentar lagi."

"Kau tahu karena alasan itulah aku meminta kita mengakhiri hubungan kita. Jadi bisakah kau melupakannya dan kembali padaku. Aku mohon Sehun." Katanya bergetar sedikit ketakutan meminta pada Sehun.

"Kenapa menangis hmm…Apa kau tahu hal yang paling berharga untukku dan kebahagiaannya adalah hal mutlak untukku?" katanya bertanya menghapus air mata Luhan.

Luhan mengangguk dan menjawab pertanyaan Sehun dengan suara serak "Yunho."

"Dan kau.." Sehun menambahkan "Kau dan Yunho-…kalian berdua adalah hal yang paling berharga untukku. Aku hanya ingin hidup dengan kalian selamanya."

Luhan terdiam mendengar penuturan Sehun yang sedang mencium lembut seluruh wajahnya "Setelah aku menemukan keluarga pembunuh sialan itu, aku akan kembali mengejarmu dan kali ini aku tidak akan pernah melepaskanmu." Katanya memberitahu Luhan

"Lalu apa yang akan kau lakukan pada keluarganya saat kau menemukannya?"

Sehun terdiam menatap Luhan, mencari tahu kenapa pria cantiknya begitu mengkhawatirkan sesuatu yang harusnya tak ia khawatirkan.

"Tentu saja aku akan membuat mereka menderita, aku akan membuat mereka merasakan apa yang aku dan Yunho rasakan selama hampir seumur hidup kami." Katanya penuh kemarahan membuat Luhan benar-benar ketakutan karenanya.

Luhan kemudian berdiri dan menjauh dari Sehun "Apa kau pernah berfikir untuk tak mencari orang itu terlalu keras? Apa kau pernah berfikir kalau orang itu berada tidak jauh dari tempatmu berada? Kau bisa melakukan apapun padanya sesukamu jika waktunya tiba. Tapi apa kau pernah berfikir juga kalau keluarganya sama sekali tidak mengetahui apapun dan mereka tak bersalah?" Luhan bertanya sedikit berteriak memandang Sehun dengan tatapan sama terluka dengannya.

"Apa maksudmu Lu?" Sehun bertanya bingung membuat Luhan semakin merasa frustasi.

"Lupakan. Saya permisi tuan muda." Ujarnya menghapus kasar air matanya dan berjalan keluar meninggalkan kamar Sehun.

Sehun hanya bisa menatap kepergian Luhan dengan dahi mengernyit tak mengerti mengapa Luhan begitu marah dan terlihat kesakitan.

Sementara Luhan terus berjalan ke kamarnya yang berada di gedung B, melewati hujan yang entah sejak kapan sudah turun deras dan menjadikan hujan itu sebagai pelampiasan rasa kecewa dan ketakutan karena terus bersembunyi dari Sehun mengenai siapa dirinya sebenarnya.

Flashback…

Saat itu Sehun menginjak usianya yang ke 17. Dan saat itu juga, Yunho memberikan kewenangan tak terbatas pada adiknya untuk melakukan apa saja yang ia inginkan. Dan hal pertama yang Sehun inginkan ialah mencari identitas pembunuh orang tuanya.

Sebenarnya Luhan dan Yunho sudah tahu kalau Sehun memiliki obsesi tersendiri kepada pria yang membunuh orang tuanya. Dan keduanya pun memaklumi karena hampir setiap malam Sehun akan tidur dihantui kejadian yang tak semestinya dilihat oleh anak seusianya, dan hal itu pula yang membuat Yunho mendatangkan enam detektif terbaik yang dimiliki Seoul dengan harapan adiknya bisa hidup lebih baik setelah menemukan siapa yang membunuh orang tua mereka dengan keji. Karena sebenarnya, jauh dilubuk hati Yunho yang paling dalam. Dia juga menyimpan rasa benci pada orang yang telah membuat hidupnya dan hidup adiknya kacau dan menderita saat ini.

Dan setelah pesta ulang tahun Sehun selesai, Luhan kembali berjalan ke gedung B untuk beristirahat setelah sebelumnya dirinya menemani Sehun yang memberikan perintah untuk segera menemukan identitas pelaku dan keluarganya.

Cklek..!

Luhan membuka pintu utama gedung B dan sedikit mengernyit melihat ibunya yang tampak khawatir dan gusar. "Eomonim…kenapa kau belum tidur."

Mendengar suara Luhan, wanita yang sangat membenci Luhan itu pun menoleh, menghampiri Luhan dan mencengkram erat lengan Luhan "Apa benar tuan muda Sehun ingin mencari pembunuh kedua orang tuanya?" katanya menggeram bertanya pada Luhan

"Y-ya eomonim. Sehun-..maksudku tuan muda. Beliau memang memerintahkan enam detektif untuk mencari pembunuh kedua orang tuanya."

"KENAPA KAU MEMBIARKANNYA BODOH? KITA SEMUA BISA MATI KARENA HAL ITU!" katanya membentak Luhan membuat Luhan mengernyit semakin tak mengerti.

"A-apa hubungannya dengan kita?" Luhan sedikit meringis saat cengkraman di lengannya semakin kuat.

"Dasar Anak sialan! Apa kau belum mengerti juga?" katanya kembali membentak Luhan

"Mengerti apa?" Luhan pun semakin kehabisan kesabarannya dan bertanya dengan nada menantang.

"Apa kau ingat tujuh tahun yang lalu saat ada seorang pria yang menghampirimu dan berbicara padamu dengan seluruh kalimat menjijikannya?" katanya mendesis membuat Luhan terbelalak karena memang sampai saat ini dia juga memikirkan pria tua tersebut.

"Ba-bagaimana eomma tahu?"

"TENTU SAJA AKU TAHU KARENA PRIA ITU ADALAH AYAHMU!"

Luhan terdiam membeku, penglihatannya terasa kabur dan jantungnya berdegup kencang "A-apa maksudmu? Bagai-bagaimana bisa dia ayahku? Kau bilang ayahku sudah meninggal." Katanya berusaha menampik kenyataan yang seperti tamparan untuknya ini

"Ayah yang aku bilang sudah meninggal itu adalah suamiku. Dan sayangnya suamiku itu bukan ayahmu."

Luhan semakin lemas mendengar penuturan ibunya yang terlihat semakin panik dan marah "Sebaiknya eomma beristirahat, aku rasa kau sedang demam."

"AKU BUKAN IBU KANDUNGMU JADI BERHENTI MEMANGGILKU IBU!"

Luhan yang sedang melangkah ke kamarnya terpaksa berhenti karena seperti ada sesuatu yang menghantam keras tepat di hatinya. Kenyataan yang ia terima malam ini, ingin ia anggap mimpi buruk, tapi entah kenapa ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi jika dirinya tak mengetahui kebenarannya malam ini.

Luhan menoleh dan menatap ibunya dengan pucat "Sebenarnya kau bicara apa?" katanya bertanya dengan jantung yang tak mau berdegup secara normal.

"Dengar anak sialan! Pria yang bertemu denganmu tujuh tahun yang lalu adalah ayahmu. Itu artinya dia adalah pria yang sama yang membunuh orang tua Sehun dan Yunho. Dan jika mereka mengetahui keberadaan ibumu, itu artinya kita semua akan tewas. DAN AKU TAK SUDI MATI HANYA KARENA PERBUATAN TOLOL AYAHMU."

Suara teriakan yang mengerikan itu berhasil membuat Luhan tak sanggup menopang tubuhnya lagi, dia mencari pegangan untuk bersandar karena dia merasa setelah ini hidupnya tidak akan sama lagi.

Luhan tak memberikan respon apapun membuat wanita didepannya menggeram marah "Dengar! Kakak tiriku melakukan kesalahan besar menikah dengan ayahmu dan melahirkan anak sepertimu. Awalnya aku bahagia karena kakak ipar ku seorang pengusaha yang kaya raya. Namun sialnya, dia menjalankan bisnis illegal dan saat itu perdana menteri Oh memerintahkan kepada anak buahnya untuk menangkap semua yang orang yang terlibat. Dan kau tahu apa yang paling sial? Ayahmu adalah satu-satunya orang yang tak memiliki penangguhan hukuman karena dirinya bukan warga asli Korea. Hal itu membuatnya harus menerima hukuman mati karena berbisnis illegal. Membuat ibumu harus mengurus bayi menyusahkan seperti dirimu." Ujarnya menceritakan hal yang membuat Luhan semakin memucat dan ketakutan.

"Dan yang lebih menjijikannya lagi, ibumu sakit-sakitan setelah mengetahui suaminya tak bisa kembali bersamanya. Dia divonis dokter mengidap kanker hati, aku berharap dia sudah mati, tapi ternyata belum, jadi demi kebaikanku, aku memintamu untuk membawa ibu sialanmu pergi sejauh mungkin agar Sehun tak bisa menemukannya. Aku bersumpah jika mereka sampai menemukan ibumu, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri. ini alamatnya, cepat pergi dan temui ibu kandungmu, bawa dia pergi sejauh mungkin dan jangan membuat tuan muda curiga." Geramnya menghempaskan Luhan ke lantai dengan kertas yang berisi alamat ibu kandung Luhan berada.

Luhan merasa hidupnya berakhir malam itu, dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam saat Sehun memerintahkan untuk mencari keluarga tersangka, rasanya Luhan ingin berlari kea rah Sehun dan meminta kekasihnya itu untuk tidak repot-repot mencari keluarga si pembunuh karena ternyata dialah orang yang Sehun cari.

..

..

..

Keesokan harinya, saat matahari belum menampakan sinarnya, Luhan sudah bergegas pergi dari rumah Sehun untuk mencari tahu kebenaran tentang siapa dirinya. Alamat yang diberikan ibunya semalam berada di Hangdong, membuatnya harus pergi pagi dan pulang tak larut malam sehingga Sehun tak curiga.

Dan sekitar pukul delapan pagi, Luhan sudah menelusuri daerah Hangdong mencari alamat yang benar, sampai akahirnya dia menemukan rumah yang mungkin menyimpan sejuta cerita tentang dirinya.

Tok….tok…!

Luhan awalnya tampak ragu namun kemudian dia memberanikan diri mengetuk pintu rumah yang terlihat sangat kecil namun terasa hangat karena ditata dengan benar.

Cklek…!

"Ada apa? Kau mencari siapa anak muda?"

Terlihat seorang wanita paruh baya yang sangat cantik namun berwajah pucat, menyapa Luhan dengan senyum yang terlihat sangat tulus dan sungguh menenangkan hati.

"Umh…" Luhan tampak tak bisa menahan diri, menebak-nebak apakah wanita didepannya ini benar adalah ibunya.

"Ada apa nak? Kenapa kau menangis?" katanya bertanya lembut pada Luhan

"Umh…tidak-…tidak apa. Mataku sepertinya kemasukan debu." Katanya salah tingkah membuat si wanita tua tersebut tersenyum maklum.

Fuh…

Dan secara naluriah pun, wanita tersebut sedikit berjinjit dan meniup mata Luhan yang benar-benar basah bukan karena debu tentunya, tapi karena dia sedang berperang melawan dirinya sendiri.

"Sudah selesai. Apa merasa lebih baik?" katanya mengusap wajah Luhan, Luhan memejamkan matanya sekilas membuat sang wanita tersenyum semakin lembut.

"Nah…sekarang kau mencari siapa?" Luhan dengan tak rela membuka matanya dan kembali mendapati wajah wanita yang begitu cantik ini tersenyum padanya.

"Umh…aku mencari…aku mencari Xi Gao Han.'

Senyum di wajah wanita itu menghilang dan digantikan wajah pucat, kentara sekali kalau wanita paruh baya itu sedang ketakutan.

"Aku rasa kau salah alamat. Silakan pergi." katanya berusaha menutup pintu namun Luhan menghadangnya.

"Aku Luhan-…Kim Luhan..ah bukan-…Maksudku aku Xi Luhan."

Wanita paruh baya tersebut tampak terkejut dengan penuturan Luhan, dirinya sudah hampir jatuh kalau Luhan tak segera menangkapnya dan membantunya bersandar pada dirinya.

"Tidak mungkin." Gumam wanita paruh baya itu menatap Luhan dengan matanya yang sudah berkaca entah bahagia atau menyesal. Luhan tak bisa membacanya saat ini.

"Jadi benar kau orangnya…jadi benar kalau kau ibuku?" Luhan tak kalah bergetar bertanya pada wanita paruh baya tersebut.

..

..

..

"Syukurlah kau tumbuh dengan sehat nak. Aku seperti melihat wajah ayahmu pada dirimu. Kalian terlalu mirip jika diperhatikan secara mendalam."

Saat ini Luhan dan wanita yang memang benar adalah ibunya sedang berada di rumah yang sangat kecil dan hampir tak layak dihuni oleh wanita tua sepertinya sendirian. Luhan mengedarkan matanya ke seluruh ruangan dan melihat banyak foto dengan wajah bahagia yang terlihat dari dua orang didalam foto tersebut. Luhan memicingkan matanya dalam-dalam dan tersenyum lirih menyadari kalau pria yang berada di foto adalah pria yang sama yang bertemu dengannya tujuh tahun lalu di halaman belakang rumah Sehun.

Dia kemudian kembali mengedarkan pandangannya ke arah lain dan menemukan satu foto dengan seorang bayi yang sedang tertawa di tengah-tengah pria dan wanita yang tampak sangat bahagia, dia kembali tersenyum miris karena menyadari bayi itu adalah dirinya sewaktu kecil.

"Apa adikku berbuat baik padamu? dia tidak menyakitimu kan?"

Suara wanita tersebut membuat Luhan kembali menoleh dan mendapati wajah ibunya yang berkeringat. Luhan kemudian mendekatkan dirinya dengan ibunya dan menangkup wajah ibunya "Kenapa pucat sekali?" lirihnya khawatir dan menghapus keringat yang memenuhi wajah ibunya.

"Aku baik-baik saja nak. Aku mohon jawab aku." Katanya meminta pada Luhan

Luhan menghela pelan nafasnya dan menggeleng lemah "Dia tidak memperlakukanku dengan baik, dia selalu membentakku, memukulku, dan selalu mengatakan aku sialan. Aku menderita hidup dengannya." Katanya memberitahu ibunya dengan tatapan kosong

Grep…!

Luhan sedikit membelalak saat merasakan pelukan di tubuhnya yang begitu berat "Maafkan aku nak. Maafkan aku tidak cukup sehat untuk merawatmu dengan tanganku sendiri, maaf." Wanita tersebut terisak begitu menyesal mengelus sayang punggung Luhan yang terasa tegang dan dingin.

"Kenapa dia membunuhnya? Kenapa dia membunuh orang tua Sehun?" Luhan bertanya begitu terpukul kepada ibunya.

Ibu Luhan pun tampak sama terpukulnya dengan pertanyaan Luhan, dia kemudian menatap Luhan dan kembali menangkup wajah putranya "Semuanya hanya salah paham yang berujung mengerikan." Katanya memberitahu Luhan yang mengernyit bingung.

"Ayahmu tidak melakukan bisnis ilegal. Dia dijebak dan dengan sengaja dibuat bekerja sama dengan pebisnis senjata api dan narkotik terbesar yang berada di Seoul. Dan saat itu ayahmu belum mengetahui apapun sampai perdana menteri Oh menetapkan kalau ayahmu adalah tersangka utama karena ada tanda tangannya disana. Semuanya menjadi semakin rumit saat semua rekanan ayahmu tidak ada yang membelanya, semuanya berkhianat karena telah disuap dengan jumlah yang banyak. Dan puncaknya adalah penangguhan hukuman untuk ayahmu tidak berlaku karena dia orang asing." Katanya memberitahu Luhan dengan sangat terluka.

"Aku mohon jangan mempercayai apapun yang dikatakan bibimu pada dirimu nak. Semuanya hanya kebohongan, ayahmu orang yang baik dan sangat menyayangimu." Katanya mengusap wajah Luhan yang saat ini tak berekspresi.

"Aku kehilangan semuanya malam itu…ayahmu ditahan, aku sakit dan tak bisa mengurusmu, lalu kemudian Minah membawamu pergi dariku. Aku memang memintanya membantuku mengurusmu tapi aku tidak pernah menyangka kalau dia benar-benar membawamu pergi dan mengatakan kalau dirimu akan bekerja untuknya dan menjadi mesin penghasil uang untuk dirinya. Aku hancur saat itu….sangat hancur." Katanya menangis didepan Luhan dengan tersedu dan sangat terlihat kalau ibunya benar-benar hancur.

"Aku tidak tahu harus mempercayai siapa. Tapi aku juga bersyukur kalau kau adalah ibuku. Aku akan menanggung semua hal yang harus aku tanggung karena perbuatannya. Aku tidak akan pernah membiarkanmu sakit atau disakiti, aku akan menjagamu…eomma."

Dan panggilan ibu pada wanita paruh baya itu pun akhirnya Luhan lontarkan, hatinya menghangat sangat nyaman saat panggilan itu ia ucapkan.

"Luhan….anakku" Ibu Luhan semakin menangis tersedu saat Luhan memanggilnya ibu dan ia bersumpah tidak ada yang paling membuatnya ingin bertahan hidup selain dengan putranya saat ini.

"Aku akan membawamu pergi darisini"

Dan sesuai ucapannya, mulai hari ini dia akan menjaga ibunya dengan hidupnya, dia akan melakukan apapun agar Sehun tak menemukan ibunya. Dan jika pada akhirnya Sehun akan mengetahui kebenarannya, dirinyalah yang akan menanggung semua kesalahan yang dituduhkan Sehun pada pria yang merupakan ayah kandungnya.

..

..

..

Tiga bulan kemudian…

"Luhan..!"

Sehun tampak mengejar Luhan saat upacara kelulusan mereka selesai

"Hey…selamat untuk kelulusanmu Sehunnie." Katanya sedikit berjinjit dan mengecup pipi Sehun.

"Kau juga sayang, selamat untukmu." Katanya yang juga mengecup pipi Luhan memberikan selamat.

"Umhh…ikut aku, aku ingin memberitahu sesuatu padamu." Sehun pun menarik Luhan ke halaman belakang sekolah mereka yang sepi dan tak terlalu banyak orang yang sedang merayakan kelulusan mereka.

"Ada apa?" tanya Luhan mengernyit bingung

"Kau ingat detektif yang aku sewa untuk mencari pembunuh itu?" tanya Sehun tampak antusias membuat Luhan sedikit berkeringat dan ketakutan

"Hmm..Tentu aku ingat. Kenapa? Apa kau menemukannya?" tanya Luhan sangat ketakutan

"Belum…tapi si pembunuh itu tidak hanya membunuh orang tuaku, dia membunuh banyak orang dan dilihat dari nama-nama korban, sepertinya mereka orang penting seperti orang tuaku. Lihatlah Lu..sayang dia sudah mati. Jika belum aku akan membalas perbuatan yang dia lakukan pada orang tuaku." Geram Sehun meremat kertas yang berada di tangannya dan tak lama tubuhnya bergetar menahan amarah.

Luhan tersenyum pahit memandang kekasihnya iba. Dia lelah bersembunyi, tapi dia juga tidak bisa mengatakan kebenaran tentang dirinya pada Sehun. Setidaknya tidak saat ini. saat dimana Sehun terlihat bersemangat menemukan siapa keluarga pelaku dan disaat dirinya harus membiayai pengobatan ibunya yang terbilang mahal karena ibunya benar mengidap kanker hati yang terbilang kronis dan harus segera ditangani

"Sehun.."

"Hmmm..ada apa?" katanya bertanya mendekap Luhan ke pelukannya

"Apa bisa kau berhenti mencari tentang pembunuh ayahmu?"

Luhan merasa tubuh Sehun menegang dan kekasihnya itu pun melepas pelukannya menatap Luhan "Apa maksudmu? Kenapa aku harus berhenti? Aku bahkan baru memulainya." Katanya sedikit tak suka dengan permintaan Luhan.

"Aku merasa kau terlalu keras pada dirimu hanya untuk menemukan identitas pelaku itu." Katanya lirih berharap Sehun mengubah keputusannya.

"Luhan! Aku menunggu saat ini hampir seumur hidupku. Jadi kau tidak berhak memintaku melakukan hal yang membuatku berhenti mencari pembunuh sialan itu." Katanya sedikit membentak Luhan membuat Luhan sedikit bergedik.

"Maaf aku terlalu emosi. Kita bertemu dirumah. Sampai nanti." Sehun berjalan mendului Luhan dan pergi karena menyadari emosinya masih belum stabil jika berbicara menyangkut hal tentang orang tuanya.

"Aku ingin kita mengakhiri hubungan kita."

Luhan berujar pelan namun ucapannya masih terdengar oleh Sehun, membuat Sehun menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Luhan emosi.

"Apa maksudmu?"

Luhan menghapus cepat air matanya dan berjalan mendekati Sehun

"Dapatkan apa yang sedang kau cari, lalu kembali padaku jika kau sudah mendapatkan apa yang kau cari. Teruslah mencari Sehun, dapatkan orang itu dan buatlah dia menderita sampai rasa sakit kalian sama. Lalu kembali padaku setelah itu. Aku menunggu jika kau masih ingin kembali. Sampai nanti." Katanya melewati Sehun bergegas pergi sebelum dia menyesali ucapannya.

"Baik jika kau ingin kita berakhir. Aku menyetujuinya dengan tiga syarat." Sehun mencengkram erat lengan Luhan dan memastikan Luhan mendengar ucapannya.

"Pertama, aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi dariku hanya karena hubungan kita berakhir. Kedua jangan biarkan siapapun baik pria atau wanita mendekatimu, kau tahu aku tipe yang kejam dan arogan jika milikku direbut kan?" katanya tertawa pahit mengingatkan Luhan siapa dirinya.

"Dan ketiga…Saat nanti aku menjadikanmu milikku lagi, aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi." Katanya menghempaskan lengan Luhan dan berjalan meninggalkan Luhan dengan rasa sakit yang sama yang mereka rasakan di hati masing-masing.

Dan hari itu adalah hari dimana keduanya mengakhiri hubungan mereka namun tetap bertemu dan saling mengawasi satu sama lain. Luhan semakin putus asa menyadari kalau Sehun semakin gencar mencari keluarga pelaku yang masih hidup, namun tak ada yang bisa dia lakukan selain tetap hidup dan berada disamping Sehun sebagai Kim Luhan, untuk menenangkan pria nya saat pria nya merasa tak memiliki sandaran. Dia akan terus hidup sebagai Kim Luhan selama yang dia bisa sehingga dirinya terus bisa bersama Sehun.

End of flashback.

"Sampai kapan akan terus seperti ini." gumam Luhan yang terus menelusuri hujan menuju gedung dimana kamar beradanya.

"Sampai kapan aku harus bersembunyi agar bisa bersamamu." Luhan menggeram dan berlari sebelum

Brak….!

Dirinya terjatuh karena genangan air yang licin, dia kemudian membiarkan dirinya dibawah guyuran hujan selama beberapa menit, tertunduk bergetar merasakan air yang mengenai seluruh tubuhnya dia kemudian tertawa miris mengingat betapa kejam takdir mempermainkan dirinya.

Arghhhhhh….!

..

..

..

Keesokan paginya Luhan sudah kembali berada di Mansion A, tempat dimana Sehun dan Yunho tinggal. Dan setiap pagi pula dirinya harus mendengarkan seluruh percakapan kakak-beradik yang memang terlihat saling menyayangi satu sama lain ini.

Luhan masih sibuk menata piring Yunho dan Sehun, sampai putra tertua keluarga itu memasuki ruang makan.

"Selamat pagi Tuan besar." Katanya membungkuk menyapa Yunho

"Hmm.. Pagi Lu.. mana adikku?"

"Sepertinya belum bangung tuan."

"Tolong bangunkan dia."

Luhan memejamkan matanya saat lagi-lagi permintaan membangunkan Sehun, Yunho perintahkan padanya. "Baik Tuan Besar." Luhan membungkuk dan tak punya pilihan lain selain menuruti permintaan putra tertua keluarga Oh itu.

"Tidak perlu-…aku sudah disini."

Suara Sehun pun mengedar di ruang makan, membuat Luhan bisa sedikit bernafas lega karena tak perlu berhadapan dengan Sehun dikamarnya. Karena kejadian semalam membuatnya semakin gugup untuk berbicara dengan Sehun.

"Hey…duduklah." Yunho terlihat bersemangat melihat Sehun yang sedang berjalan ke arahnya.

"Aku kira kau tidak sempat sarapan denganku." Katanya menyindir Yunho yang memang semenjak kepulangannya dari Jepang sangat sibuk dan hampir tidak memiliki waktu untuk Sehun.

"Aku akan mengusahakan makan dengan adik kecilku mulai hari ini." balas Yunho mengusak sayang rambut Sehun.

Sehun hanya mencibir jawaban Yunho yang terdengar seperti janji palsu untuknya, sementara matanya terus melihat ke arah Luhan yang sedang menuangkan segelas air ke gelasnya, dia menyadari kalau tangan Luhan sedikit bergetar, namun saat Luhan menatapnya dia mengalihkan pandangannya ke arah lain.

"Nanti malam akan ada jamuan makan malam dengan para menteri dan beberapa pengusaha lainnya. Pastikan kau hadir Sehunna, karena sepertinya direktur Baek ingin mengenalkan putri cantiknya padamu." Yunho menggoda Sehun yang tampak tak peduli dengan ucapannya.

Prang….!

Berbeda dengan Sehun yang tak peduli, Luhan sepertinya secara tak sadar menjatuhkan gelas yang berada di genggamannya membuat kakak beradik itu menoleh padanya.

"Luhan apa kau baik-baik saja?" Yunho bertanya pada Luhan yang sedang memunguti pecahan gelasnya.

"Saya baik-baik saja tuan besar. Maafkan kecerobohan saya, silahkan melanjutkan sarapan anda." Katanya kentara sekali dengan suara bergetarnya.

Sehun tersenyum mengetahui penyebab Luhan menjatuhkan gelas yang berada di gengamannya

"Hyung…siapa nama putri direktur Baek?" katanya bertanya kencang pada Yunho

"Eh?..Ah-…Namanya Baek Seulgi. Kalian sepertinya sekelas di kampus kalian. Apa kau mengenalnya?" tanya Yunho merasa bingung karena Sehun menanggapi ucapannya.

"Umhh…sepertinya pernah dengar, aku rasa dia wanita cantik." Katanya melirik ke arah Luhan yang semakin salah tingkah dan berhenti memunguti pecahan gelasnya mendengarkan seluruh ucapan Sehun.

"Mungkin…aku sendiri tidak tahu yang mana putrinya." Yunho mengangkat kedua bahunya sedikit tak mempedulikan celotehan Sehun, karena mau sebanyak apapun dirinya berusaha menjodohkan adiknya dengan orang lain. si keras kepala Sehun hanya akan tetap memilih Luhan sebagai pendampingnya.

Sementara Luhan berusaha menulikan telinganya agar tak mendengar percakapan ucapan kakak-beradik yang entah mengapa membuat hatinya berdenyut dan kepalanya seketika mual. Dia terus memunguti asal pecahan kaca sampai dia merasa pergelangan tangannya di cengkram oleh tangan yang sudah sangat ia kenal itu.

"Aku akan menghadiri acara makan malam itu hyung." Katanya memberitahu Yunho namun matanya menatap tajam Luhan yang semakin salah tingkah.

"Ya..Ya terserahmu saja bocah. Semua orang dirumah ini juga tahu kalau kau hanya Luhan yang bisa membuatmu bertindak sangat bodoh." Katanya terkekeh melihat Sehun yang kini sudah membawa Luhan entah kemana.

"Tuan muda kita mau kemana?" tanya Luhan yang tangannya masih dicengkram kuat oleh Sehun menaiki tangga.

Sehun tak menjawab apapun, sampai akhirnya dia berada di kamarnya dan mendudukan Luhan di kasurnya

"Diam disitu."

Perintahnya sementara dirinya mencari-cari sesuatu dengan terburu-buru "Dimana benda itu." Geramnya dan sedikit memekik saat menemukan apa yang dia cari, Sehun pun kemudian menghampiri Luhan dan berjongkok didepan pria cantiknya.

"Buka mulutmu."

"Tuan muda..aku baik-baik sa….mphhh."

Ucapan Luhan teredam saat termometer yang Sehun cari sudah berada di mulutnya, Sehun terus mengusap dahi Luhan yang berkeringat dan sesekali menempelkan dahinya ke dahi Luhan menyamakan suhu tubuh mereka yang memang tampak berbeda.

Tit…..tiittt…

Sehun dengan cepat mengambil termometer di tubuh Luhan dan mendelik tajam ke arahnya "Kau demam." Katanya memberitahu Luhan menyindirnya.

"Ah..mungkin karena semalam aku kehujanan menuju kamarku tuan muda."

"Sehun..!" Luhan tak sengaja memekik memanggil nama Sehun saat tuan mudanya dengan tiba-tiba menggendongnya dan membaringkannya dikasur miliknya.

"Hari ini kau hanya diperbolehkan istirahat dan tidur dikamarku. Aku akan menyuruh bibi Lee menyiapkan sarapan dan memberikan obat untukmu. Jika sampai nanti malam demam mu belum turun aku akan membawamu ke rumah sakit. Aku pergi dulu." Katanya menaikkan selimut yang biasa ia gunakan untuk dirinya sendiri dan bergegas pergi ke luar kamarnya.

Namun baru beberapa langkah, Sehun mendengus dan kembali menghampiri Luhan "Cepat sembuh hmm.." katanya mengecup lama dahi Luhan dan kali ini benar-benar meninggalkan Luhan dikamarnya.

Luhan entah kenapa saat Sehun hilang dari balik pintu kamarnya, tiba-tiba terisak, perasaannya kembali berkecamuk karena sikap dan rasa sayang Sehun untuknya yang begitu besar.

"Aku tidak mau kehilanganmu Sehun…" lirihnya terisak dan berusaha memejamkan matanya karena memang kepalanya terasa pusing dan sangat tidak enak badan.

..

..

..

Malam harinya, Sehun sedang bersiap untuk acara yang dipersiapkan Yunho dan sedikit mendengus sebal karena tidak mendapati Luhan dikamarnya, tapi mendengar penuturan bibi Lee yang mengatakan Luhan sudah lebih baik membuatnya merasa lega dan ingin segera bertemu dengan pria caniknya. Tentu saja Sehun memiliki segala cara hanya untuk melihat Luhan sesuka hatinya.

Tok…tok..

Dia tersenyum saat pintu kamarnya diketuk dan kembali duduk di ranjangnya dengan wajah dingin "Masuk" perintahnya dan tak lama seseorang yang ia tunggu memasuki kamarnya. Awalnya Sehun berniat tidak ingin berbicara dengan Luhan, namun sepertinya gagal karena saat ini dia sedang mengagumi pria cantiknya yang semakin cantik mengenakan blazer putih dengan lengan ditekuk serta warna rambut yang sangat indah memasuki kamarnya, membawakan hal yang sebenarnya tak begitu penting untuknya saat ini.

"Selamat malam tuan muda. Saya membawakan dasi pesanan anda." Luhan membungkuk didepan Sehun yang masih menatapnya tak berkedip.

"Tuan muda.." Luhan kembali memanggil Sehun yang hanya diam tak menjawab.

Sehun pun tersadar dari lamunannya dan mendesis karena tak pernah bisa menolak pesona Luhan, dia kemudian berdiri menghampiri Luhan dan dapat mencium bau wangi khas yang selalu Luhan gunakan.

"Pakaikan." Perintahnya membuka kedua kancing atas kemejanya agar Luhan bisa lebih mendekat ke arahnya.

Luhan sedikit gugup namun berusaha setenang mungkin saat Sehun berdiri tepat di depannya, dan dengan perlahan dia mengalungkan lengannya di leher Sehun bermaskud memakaikan dasi untuk Sehun dengan cepat.

"Apa demammu sudah turun?" katanya bertanya mengusap dahi Luhan

"Hmm..terimakasih untukmu. Aku sudah merasa lebih baik tuan muda."

Sehun sendiri terus menatap intens Luhan, mengabsen satu persatu bagian favoritnya di wajah Luhan hingga rona wajah pria cantiknya berubah menjadi merah karena sadar sedang diperhatikan "Kau cantik." Gumam Sehun melingkarkan tangannya di pinggang Luhan membuat Luhan sedikit memekik terkejut.

"Sehun..!" Luhan semakin memekik saat tangan bukan hanya tangan Sehun yang sedang bermain bebas di bagian belakangnya namun juga kini Sehun sedang menyesapi leher Luhan membuat Luhan menggelinjang karena merasakan sensasi yang sudah lama tak ia rasakan.

"Aku merindukanmu Lu.." gumamnya menjilati telinga Luhan. Luhan sedikit memberontak dan dia tahu itu percuma karena Sehun semakin erat memeluknya.

"Sehun…tamu Yunho hyung menunggu di bawah. Kau harus segera turun." Luhan berusaha menolak ciuman Sehun yang semakin intens, namun terlihat Sehun tak mempedulikannya.

"Mereka tidak akan keberatan menunggu lima belas menit sepertinya." Bisik Sehun dan tak lama

Brak…!

Dia menghempas tubuh Luhan agak kencang ke kasur dan

"Nggghhh"

Sehun menindih tubuh Luhan dan mencium bibir Luhan dengan penuh nafsu. Luhan masih meronta dibawah Sehun, berharap Sehun menghentikan kegiatannya dan segera turun untuk mengikuti jamuan makan malam yang diadakan Yunho.

"Se-Sehun…aku mohon berhenti..mphhhh.." Luhan memohon namun Sehun kembali menulikan telinganya dia terus melumat bibir Luhan, memaksa Luhan untuk mengikuti permainannya, awalnya Luhan terus menerus memukul pelan dada Sehun, namun dia tahu itu percuma karena semua yang diinginkan Sehun memang harus terpenuhi. Luhan pun secara sadar tidak mau lagi menolak Sehun, dia hanya membiarkan dirinya untuk kembali merasakan percintaan yang sama yang pernah mereka rasakan sebelum ini.

Sehun pun tersenyum di sela-sela lumatannya di bibir Luhan, dia tahu kalau pria cantiknya tak lagi menolaknya, dia kemudian melumat Luhan lembut, agar rasa rindu keduanya benar-benar terbayar dengan gairah cinta yang keduanya rasakan malam ini.

Tangan Sehun bergerak lihai mengelus punggung Luhan dan mengelus lembut wajah Luhan yang terlihat sangat cantik. Puas dengan punggung dan wajah pria cantiknya. Sehun membawa tangannya menuju pinggang Luhan. Dirabanya milik Luhan yang sudah menegang dibalik celana biru dongker milik namja itu.

Sehun melenguh nikmat dalam ciuman mereka dan menyeringai ketika puas ketika Luhan juga meremas miliknya. Tangan keduanya sudah saling memasuki dan saling meremas bagian private milik masing-masing. Saling mendesah dan terus berciuman panas tanpa ada sedikitpun niat untuk menyudahi ciuman mereka. Namun beberapa detik kemudian Luhan mendorong pelan dada Sehun. Dan Sehun cukup mengerti bahwa Luhan memintanya melepaskan ciuman mereka. Mata sayu Luhan menatap pasrah pada Sehun membuat Sehun semakin tak bisa menahan nafsunya yang telah membara. Tatapan Luhan padanya,wajah merona Luhan,dan jangan Lupakan bibir Luhan yang membengkak karnanya. Dan kini,namja manis itu tengah mengigit bibir bawahnya sembari memeluk tengkuk Sehun.

"Se-hun..ahh" desah Luhan

Kini bibir Sehun tengah meraja lela perpotongan leher Luhan. Di kecupnya,di hisapnya, dan di gigitnya kulit leher Luhan hingga menimbulkan tanda cinta yang sangat kentara. Sehun terus menandai leher Luhan yang terus melenguh nikmat. Sama halnya seperti Luhan yang terus mendesah kala Sehun menandai Lehernya sembari menghembuskan nafasnya dengan sengaja pada kulit Leher Luhan.

Sehun melepas agak kasar piyama Luhan dan berhasil membuat pria cantiknya merona karena malu. Sehun kemudian menyambar dada Luhan, memberikan beberapa tanda cinta di sana.

Ciuman Sehun semakin turun dan beralih melumat puting Luhan, menghisapnya, menjilatnya dan sesekali menggigit gemas puting Luhan yang sudah mengeras membuat Luhan benar-benar mengerang nikmat karenanya.

Dengan nafas berburu dan wajah merona penuh nafsu, Sehun melepaskan celana dan kemejanya, Membuka boxer dan celana dalamnya melemparkannya asal dengan mata yang terus menatap tubuh sempurna Luhan yang berada didepan matanya ini.

Sehun menggocok miliknya yang telah menegang dengan tempo cepat. Ia lepaskan seluruh kain yang menutupi milik Luhan dan membuangnya sembarang. Sehun melebarkan selangkangan Luhan..

Sehun menggarahkan miliknya ke hole Luhan. Dan ..

JLEBB

"Arghh…" Luhan melengkungkan tubuhnya ke atas saat junior Sehun masuk seutuhnya ke dalam dirinya, dia tak bisa menahan rasa sakit yang seperti membuat dirinya terbelah menjadi dua seperti saat ini.

"Kau akan merasa lebih baik sayang." Gumam Sehun dan perlahan mulai menggerakan tubuhnya maju mundur berharap bisa segera menemukan titik kenikmatan Luhan

"Sehun….arghhh…hmphh." Luhan menggigit kencang bibir bawahnya saat Sehun terus menggerakan tubuhnya didalam dirinya dengan tempo yang membuatnya semakin menikmati gairah cinta mereka.

"Disitu Sehun…!" Luhan mengerang saat Sehun menghujamnya tepat dititik kenikmatannya.

"Aku mendapatkannya Lu." Sehun sedikit menyeringai dan mulai berani menambah kecepatannya memasukkan dan mengeluarkan juniornya ke lubang Luhan dengan cepat dan agak kencang

"Umh….hmphhhh." Luhan hanya bisa pasrah saat Sehun benar-benar memasuki dirinya hingga ke bagian terdalam miliknya. Dia bisa merasakan kehangatan Sehun saat juniornya menghentak kuat dirinya, membuatnya tersenyum memejamkan mata menikmati rasa nikmat yang begitu memabukkan dirinya.

"Sehun..Sehunnn…hmphhh"

Tubuh Luhan tersentak-sentak seiring gerakan Sehun menghujam holenya. Keduanya saling menatap saat yang satu sedang menghujam dengan kencang dan yang satu dihujam dengan cepat.

Sehun terus menangkup bibir Luhan yang sedang mendesah seksi, dia tak mau melewatkan kesempatan melumat bibir pria cantiknya yang selalu ia inginkan setiap saat.

Luhan pun tak bisa leluasa mengeluarkan desahannya karena Sehun terus melumat bibirnya, sampai akhirnya di mencengkram erat punggung Sehun dan mengerang tertahan saat tak bisa lagi menahan kenikmatan yang diberikan Sehun untuknya.

Sehun tersenyum dan melepas ciumannya, menatap Luhan yang sedang merasakan klimaksnya, tak melewatkan satupun semua tentang ekspresi pria cantiknya saat dirinya berhasil membawanya merasakan kenikmatan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Dan setelah puas memastikan Luhan telah mendapatkan klimaksnya, Sehun kembali menggerakan juniornya yang masih berada didalam hole Luhan. Kali ini cepat dan sedikit keras karena dirinya juga sudah tak bisa menahan lebih lama lagi gairah cinta yang begitu memabukkan yang dirinya dan Luhan lakukan.

"Luhan…..hmphhhhh.."

Dan dengan satu kali hentakan kuat di hole Luhan, Sehun memejamkan matanya dan bersandar di atas Luhan menikmati kenikmatan yang tak terhingga saat dirinya kembali mendapatkan klimaks dengan Luhan berada dibawahnya.

Keduanya masih terengah, saling memeluk erat, tak berkata dan menikmati aroma khas yang dengan cepat menguar di kamar Sehun.

Tok…Tok..

Sehun mengumpat, bersumpah akan memecat siapapun yang berani mengusik moment indahnya dengan Luhan, sementara Luhan menggeliat tak nyaman karena takut yang mengetuk pintu adalah Yunho.

"Siapa?" teriak Sehun yang dengan tak rela mengeluarkan juniornya dari hole Luhan, dan memakai asal piyamanya membuka pintu.

Cklek…!

"ishhh…dasar anak ini! kenapa belum bersiap."

Sehun meringis saat merasakan dahinya disentil kencang oleh pria yang mengetuk pintunya yang ternyata Yunho.

"Kau cerewet sekali." Gerutu Sehun mengelus sayang dahinya yang disentil kencang oleh kakaknya.

"Aku tidak melihat Luhan, dimana di-….Ah sepertinya kau habis bersenang-senang." Yunho menggoda adiknya karena memergoki Luhan yang tampak memakai blazernya dengan terburu-buru.

"Berisik..! Aku akan segera turun." Gumam Sehun menutup pintunya dan berjalan menghampiri Luhan yang sudah lengkap mengenakan pakaiannya.

"Saya permisi tuan muda." Luhan kembali membungkuk tak berani menatap Sehun namun lagi-lagi Sehun mencengkram erat lengannya.

"Maaf tidak bisa menahan diri dan membuatmu kesulitan berjalan." Gumamnya mengancingkan blazer Luhan yang terlihat berantakan.

"Tidak apa tuan muda, aku-…aku juga tidak keberatan." Gumam Luhan membuat Sehun tersenyum gemas.

"Pergilah, aku akan menyusulnya. Dan jangan terlalu jauh dariku di pesta nanti." Gumamnya mengecup kening Luhan.

Luhan mengangguk cepat dan segera bergegas pergi meninggalkan Sehun yang tampak bersiap-siap.

Luhan menuruni tangga dengan tak enak hati karena beberapa pasang mata menatapnya mengira Sehun yang turun. Dia kemudian menundukan kepalanya dan berjalan ke arah dapur.

"LUHAN!"

Luhan sedikit berjengit saat suara wanita yang berperan menjadi ibu palsu untuknya memanggilnya dan tampak marah.

"Ada apa?" tanya Luhan berusaha tak peduli

"Darimana saja kau sialan? Apa kau tidak punya kerjaan selain menggoda Sehun." Geramnya mencengkram lengan Luhan dengan kencang dan membawanya paksa ke dapur.

"Aku tidak menggodanya." Luhan menahan rasa sakitnya karena cengkraman di lengannya semakin erat.

"Terserah kau. Awas sampai kalau Sehun tahu kau anak pembunuh yang dia cari." Desisnya membuat Luhan merasa sangat sakit hati.

"Aku ada pekerjaan untukmu besok malam. Kerjakan dengan cepat dan jangan membuat Sehun curiga. Sekarang antarkan minuman ini untuk tamu." Katanya menyerahkan nampan pada Luhan dan menyuruh Luhan membagikan minuman yang kini ada di tangannya.

Luhan hanya bisa mengangguk dan membawa nampan yang berada di tangannya dengan terpaksa, awalnya dia pikir dia hanya akan mengawasi tamu namun karena ibu angkatnya memintanya untuk mengantarkan minuman dia tidak punya pilihan lain selain melakukannya walau harus menahan malu karena ternyata rata-rata rekanan tamu yang Yunho undang juga merupakan teman Sehun dan Luhan di kampus mereka.

"Hey pembantu. Aku ingin minum, cepat kemari.!"

Luhan sebenarnya ingin mengabaikan panggilan yang ditujukan untuknya itu, namun lagi-lagi sorot tajam mata ibu angkatnya membuatnya harus melakukan semua yang diperintahkan untuknya.

Luhan membalikan badannya dan berjalan menuju wanita yang sangat terkenal di kampusnya, wanita yang juga ingin dikenalkan Sehun oleh ayahnya, Baek Seulgi.

"Lulu…aku mau minum!"

Dan minuman terakhir yang berada di nampan Luhan telah diambil oleh Kyungsoo yang sedang diikuti Kai dibelakangnya.

"Kau.." geram Seulgi menatap marah pada Kyungsoo dan Luhan.

"Ada masalah?" Kai bertanya menakutkan pada wanita yang langsung menciut karena tatapan tajam Kai

"Kenapa kau mengantarkan minuman? Apa sehun yang menyuruhmu?" Kyungsoo bertanya pada Luhan yang menggeleng dengan cepat.

"Ini pekerjaanku. Aku senang kalian datang." Gumam Luhan menatap sepasang kekasih yang merupakan teman kecil yang selalu bersama dan hampir tak terpisahkan seperti Kai dan Kyungsoo ini.

"Itu Sehun.." Kai memberitahu Luhan dan Kyungsoo yang otomatis melihat ke arah tangga, Luhan sendiri memandang tak berkedip sosok yang begitu sempurna dari pria yang sangat ia kagumi itu. Sehun hanya memakai kemeja putih dengan dasi yang Luhan bawakan dan rambut berwarna hitam legam. Kentara sekali jika matanya mengedar mencari seseorang, dan saat kedua pasang mata itu bertemu, Sehun tersenyum lega namun sedikit mengernyit mendapati Luhan membawa nampan di tangannya.

"Aku tidak memintamu menjadikan Luhan pelayan malam ini." geramnya mendekati Yunho yang tampak bingung dengan tuduhan Sehun.

"Bukan aku yang melakukannya, ibunya tentu saja. Kau tahu Luhan dan ibunya sedikit tidak akur dan Luhan sangat takut pada ibunya kan?" katanya mengingatkan Sehun yang tampak mengerang marah.

"Harus berapa kali aku memperingati wanita tua itu." Geramnya hendak menghampiri ibu Luhan namun Yunho menahannya.

"Kami sudah terlambat karena kau. Jangan membuat tamuku pulang karena bosan adik kecil."

Sehun mendesah tak percaya karena kakaknya saat ini menatapnya dengan tatapan sok polosnya membuatnya kalah dan tak pernah tahan dengan tatapan memohon andalan kakaknya

"Baiklah, buka pestamu." Sehun sedikit terkekeh memberitahu Yunho yang tiba-tiba menarik tangannya.

Dan setelahnya Yunho membuka kata sambutan untuk para tamunya dengan Sehun berada persis di sampingnya. Ada beberapa point yang disampaikan Yunho saat membuka pesta dan jamuan makan malam dengan para tamunya. Diantara point yang Yunho sampaikan, salah satu berisi bahwa Sehun merupakan pewaris tunggal dari Oh Nation yang bergerak di bidang teknik mesin dan distribusi mobil sport.

Yunho juga meyakinkan kalau adik tunggalnya itu bisa menjalankan bisnis keluarga mereka dengan baik walaupun masih berstatus mahasiswa. Hal itu membuat para tamu bertepuk riuh menyampaikan rasa kagum mereka pada kemampuan kakak beradik Oh ini yang patut diperhitungkan dan tak bisa diremehkan.

Usai membuka kata sambutan yang singkat, Yunho dan Sehun ikut berbaur di kerumunan tamu yang tampak sangat menikmati pesta. Sehun sendiri kembali mencari keberadaan Luhan, dia sedikit menggeram kesal saat melihat Luhan masih sibuk membagikan minuman dengan nampan di tangannya.

"Ayolah…." Gumamnya mendekat ke arah Luhan.

"Oh Sehun….pemuda yang luar biasa dan cocok untuk masa depan putriku."

Sehun hampir saja mengumpat marah pada pria tua dan botak yang tiba-tiba menghadang jalannya bersama putrinya yang terus tersenyum menggoda ke arahnya.

"Anda..?" Sehun bertanya karena lupa dengan siapa yang sedang berbicara dengannya saat ini.

"Ah aku direktur Baek Dae Hoo dan ini putriku Baek Seulgi. Kau pasti mengenalnya karena kalian sekelas sewaktu SMA dan kalian berada dalam satu universitas."

"Ah benarkah?" mata Sehun terus menatap arah Luhan yang sepertinya harus melayani sepasang suami istri yang terus menghina ke arahnya.

"Tentu saja putriku cantik dan berbakat, dia-.."

"Tunggu sebentar." Sehun mengangkat jari telunjuk meminta pri tua didepannya berhenti berceloteh karena saat ini pemandangannya benar-benar terganggu melihat Luhan yang sepertinya benar-benar kesulitan.

"Ada apa?" Sehun berdiri didepan Luhan menatap tajam kedua pria dan wanita yang langsung membeku karena kehadiran Sehun yang tiba-tiba.

Luhan memegang lengan Sehun, berusaha mengatakan semua baik-baik saja. Sehun yang masih sangat marah pada kedua orang didepannya ini menghela kasar nafasnya dan menatap mengerikan pada sepasang suami istri tersebut "CEPAT PERGI..!" teriaknya membentak sepasang suami istri tersebut yang langsung menjauh dari Sehun dan Luhan.

"Kenapa kau selalu diam jika ada yang membentakmu?" Sehun memegang pundak Luhan sedikit mengguncangnya.

"Hentikan tuan muda." Luhan berkata lirih mengingatkan Sehun kalau banyak pasang mata yang saat ini melihat ke arahnya.

"Hentikan apa? Kenapa aku harus berhenti?" tanpa sadar Sehun ikut membentak Luhan membuat Luhan menatap wajahnya.

"Karena aku hanya pelayan disini. Jadi berhenti bersikap baik padaku." Desisnya frustasi meninggalkan Sehun begitu saja.

Sehun mengepalkan tangannya erat, menahan rasa marahnya yang luar biasa atas apa yang Luhan katakan padanya beberapa detik yang lalu. Sehun mengambil segelas champagne saat pelayan lain datang mendekatinya dan

PRANG…..!

Dia membanting kencang gelas itu membuat seluruh mata melihat ke arahnya. Luhan yang berada didapur mendengarnya dan menyadari kalau dirinya sudah membuat kesalahan dengan membentak Sehun malam ini.

..

..

..

Keesokan paginya Sehun sudah berada di kampusnya dengan wajah dingin dan bosan andalannya, dia sengaja datang pagi-pagi dan pergi dari rumahnya karena sedang tidak ingin bertemu Luhan yang masih membuatnya kesal karena ucapan yang mengatakan dirinya hanya pelayan.

"Kenapa sulit sekali." Gumam Sehun frustasi mengacak rambutnya kasar.

"Hey man…" Chanyeol yang baru saja tiba langsung mengganggu Sehun yang sedang merasa sangat tak ingin diganggu.

"Berhenti menggangguku yeol.." geramnya memberitahu Chanyeol yang mencibir karena Sehun sama sekali tak bisa diajak bercanda.

"Eh? Kenapa kelas terlihat sepi? Mana wanita-wanita penggemarmu?"

Chanyeol bertanya namun kembali mendengus karena tak mendapat jawaban dari Sehun

"Dia pasti tidak akan lolos kali ini. Seulgi benar-benar kelihatan marah." Terdengar segerombolan wanita memasuki kelas dan berbisik terdengar oleh Chanyeol dan Sehun yang tampak tak peduli.

"Tentu saja…lagipula dia hanya pelayan di pesta semalam. Bagaimana bisa dia membuat kacau suasana pesta."

Sehun membelalak mengerti topik apa yang sedang dibicarakan oleh wanita-wanita genit disekitarnya.

"Siapa yang kalian bicarakan?" Sehun mendekat dan bertanya mendesis pada gerombolan wanita yang terdengar saat mengganggu pendengarannya.

"Se-Sehun?" salah satu wanita yang dicengkram kuat oleh Sehun tampak membelalak dan tak menyangka kalau Sehun sudah berada di kelas sepagi ini.

"SIAPA?" tanyanya berteriak membuat tidak hanya para wanita namun Chanyeol juga bergedik takut karenanya.

"Luhan-…Seulgi membawa Luhan ke ruang atletik renang."

Dan tanpa berbasa basi, Sehun langsung berlari menuju ke ruangan yang Luhan benci, karena pria cantiknya sangat membenci air dan sama sekali tak bisa berenang.

Dan kekhawatiran Sehun benar, karena saat ini Luhan sedang dicengkram oleh dua pria suruhan Seulgi dengan Seulgi dan kerumunan gadis lainnya yang tertawa jahat di ruang renang tempat mahasiswa kesehatan dan olahraga biasa menghabiskan waktu.

"Kenapa kalian membawaku kesini?" Luhan bertanya dengan tenang namun

PRAK!

Seulgi menampar telak wajahnya membuat Luhan memanas karena tamparannya begitu pedih sementara kedua pria suruhannya mencengkram erat tangan Luhan di belakang.

"Kau berani bertanya padaku?" geramnya mengejek Luhan dan tertawa sangat jahat.

"Kau hanya pelayan menjijikan tapi kenapa Sehun begitu memujamu. Dia bahkan tidak menyadari kehadiranku saat aku sudah memperhatikannya sejak dibangku sekolah." Katanya mendekati Luhan dan mencakar wajah Luhan dengan kuku tajamnya. Luhan hanya diam tak berniat membalas sedikitpun ucapan atau perbuatan Seulgi padanya.

Seulgi merasa geram karena Luhan tak merespon, tangannya terus menelusuri wajah Luhan yang sialnya bahkan lebih cantik dari wajahnya sendiri, tangannya terus turun sampai berada di leher Luhan dia menemukan sesuatu yang menarik.

"Jangan…"

Luhan berteriak saat Seulgi menarik paksa liontin pemberian Sehun untuknya.

"Menjijikan sekali. Apa Sehun yang memberikannya?" katanya bertanya marah pada Luhan yang mulai menunjukan ekspresi ketakutannya.

"JAWAB AKU…!"

"Iya…itu dari Sehun…milikku… aku mohon kembalikan padaku, kau boleh melakukan apa saja padaku, asal kembalikan liontinku." Katanya menjawab cepat dan ketakutan.

"Menarik.." gumam Seulgi membuat Luhan semakin bergetar ketakutan.

"Kau mau ini kembali padamu?" katanya bertanya pada Luhan dan Luhan mengangguk dengan cepat.

"Kalau begitu…"

Byur….!

"AMBIL LIONTIN ITU DAN CEPAT MATI TENGGELAM."

"Tidak.." gumam Luhan setengah berteriak dan meronta dari pegangan kedua penjaga Seulgi. Dan kedua penjaga itu dengan sengajan melepaskan pegangan mereka pada Luhan atas perintah Seulgi. Luhan menatap marah ke arah Seulgi dan tanpa berfikir panjang.

Byur….!

Dia juga menjatuhkan dirinya ke kolam berharap masih bisa menemukan liontin itu.

"Luhan…" gumaman lain terdengar dari pintu masuk, terlihat Sehun yang berlari menuju kolam dan

Byur…!

Dia juga menceburkan dirinya ke kolam, menangkap Luhan yang bahkan sudah tak bisa bernafas namun tetap meronta, Sehun tak punya pilihan lain selain mencengkram erat tangan Luhan, tak ingin membuat pria cantiknya pingsan karena terus meminun air kolam.

Haaahhhhh~

Keduanya mengambil nafas dalam-dalam. Luhan terbatuk di pelukan Sehun mencari udara karena dirinya sudah benar-benar tak bisa bernafas.

"Apa yang-….APA YANG KAU LAKUKAN?" Sehun tanpa ampun membentak Luhan yang tampak tak merespon karena lemas.

"Sehun-..liontinnya..liontinku." katanya mengulang di pelukan Sehun yang sedang membawanya naik.

Sehun membaringkan Luhan di lantai, lalu matanya menatap marah kerumunan yang tampak ketakutan karena kedatangannya.

"Bajingan…" geramnya mendekati kedua pria yang berada disana dan

BUGH!

Sehun memukuli keduanya yang tak berani membalas Sehun karena tahu benar siapa Sehun "JIKA KALIAN BERANI MENYETUHNYA LAGI AKU BENAR-BENAR AKAN MEMBUNUH KALIAN!" Sehun menggeram menginjak kedua wajah pria sialan yang sudah pasti bertugas menyakiti Luhan

"Dan Kau..!" katanya mencengkram lengan Seulgi 'Ini adalah terakhir kalinya aku melihat wajah menjijikanmu, jika sampai aku melihatmu lagi, kau akan menanggung akibatnya sendiri." Desisnya dan kemudian

Byur…..!

Sehun mendorong Seulgi jatuh kekolam, kemudian memandang menyeramkan pada segerombolan wanita yang tampak ketakutan "Hal itu juga berlaku untuk kalian." Desisnya memberitahu dan kembali berjalan ke arah Luhan.

"Sehunnie…liontinnya."

"DIAM!" katanya membentak Luhan yang kini berada di gendongannya dan terus menggumamkan liontin sialan itu.

Luhan hanya terisak pelan dan harus merelakan liontin yang Sehun berikan sebagai hadiah ulang tahunnya. Sekarang dia hanya bisa pasrah karena tampaknya Sehun benar-benar marah dan entah akan membawanya kemana.

Sehun mendudukan Luhan di ruang kesehatan pribadi miliknya. Ruangan yang disediakan oleh universitas khusus untuknya karena mengetahui Sehun adalah adik kandung dari Yunho yang dielu-elukan menjadi calon terkuat perdana menteri Korea selatan periode lima tahun mendatang.

Luhan hanya diam dan pasrah saat Sehun melepas seluruh pakaiannya dan menggantinya dengan baju ganti miliknya. Sehun sama sekali tak berbicara dan hanya mengganti seluruh pakaian mereka berdua dengan cepat, setelah selesai dia mengambil selimut dan memakaikan selimut pada Luhan yang masih lemas dan menggigil.

Sehun kemudian menarik kursinya berhadapan dengan Luhan yang duduk di ranjang ruang kesehatan miliknya

"Kenapa tidak menangis?" katanya bertanya menuntut pada Luhan yang hanya diam tak bekata apa-apa.

Luhan menggeleng lemah dan hanya tertunduk.

"Kenapa kau selalu berpura-pura kuat. Kau boleh menangis karena aku disini." Katanya sedikit membentak Luhan karena benar-benar merasa frustasi dengan sikap Luhan.

"Kau benar-benar tidak akan menangis?" katanya mendesis bertanya pada Luhan

Luhan kembali menggeleng membuat Sehun kehabisan kesabarannya.

"Dengar.." katanya mengangkat dagu Luhan dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya menggenggam liontin yang sedari tadi Luhan cari, membuat Luhan sedikit berekspresi melihatnya.

"Jika karena benda sialan ini aku sampai kehilanganmu, aku bersumpah tidak akan pernah memberikannya padamu. Dan untuk saat ini, aku benar-benar menyesal telah memberikannya padamu." geramnya lalu kemudian membuang asal liontin itu membuat Luhan yang sudah mati-matian untuk tidak menangis menjadi berkaca-kaca.

Luhan semakin ketakutan saat Sehun berjalan menuju pintu keluar dengan rasa kecewa yang teramat padanya, dia memungut cepat liontin itu dan berlari menghadang Sehun yang hampir membuka pintu dan pergi.

"Pakaikan ini." katanya bergetar mengangkat liontin yang sudah berada di genggamannya. Sehun hanya menatapnya datar tak melakukan apapun memandang Luhan yang berusaha mati-matian menatapnya tak berkedip.

"Aku mohon pakaikan ini." pintanya memohon pada Sehun yang masih diam tak melakukan apapun.

Luhan kembali tertunduk menyadari Sehun yang sedang marah karena dirinya terus berulah sejak kemarin. Dia hanya bergetar dengan tangan yang terus menyodorkan liontin pada Sehun.

Luhan mendongak merasakan pegangan liontin ditangannya menghilang, dan saat ini dia sedang mencium khas aroma Sehun yang sedang memakaikan kembali liontin ke lehernya tersebut.

Namun harapan Sehun akan berbicara padanya hanyalah sebuah harapan, karena Sehun kembali melewatinya membuat Luhan semakin ketakutan.

"Sehun…aku ingin menangis…sangat ingin menangis." gumamnya menggenggam erat tangan Sehun tak membiarkan Sehun pergi, setidaknya tidak untuk saat ini.

"Jangan pergi. Aku mohon." Pintanya lirih

Luhan sedikit frustasi karena Sehun kembali diam, namun saat sedang berperang dengan pikirannya, Luhan sedikit membelalak merasakan lengan hangat Sehun merengkuhnya kuat.

"Lakukanlah…menangislah dan berhenti membuatku khawatir." Ujar Sehun berbisik di telinga Luhan, kentara sekali kalau dirinya sangat mengkhawatirkan Luhan.

Untuk sejenak Luhan hanya terdiam, namun perlahan bahunya bergetar, dia juga memeluk erat Sehun dan mencengkram kuat punggung Sehun

"Maafkan aku Sehun,,,maaf." Lirihnya menyesal menyembunyikan seluruh wajahnya di pelukan Sehun yang hanya mendekapnya erat dan mengelus sayang punggung yang sangat tegang dan bergetar hebat saat menumpahkan rasa sakit yang terlalu lama ia pendam.

Luhan semakin mencengkram erat punggung Sehun, berharap Sehun semakin erat memeluknya dan tak peduli dengan takdir yang begitu tega mempermainkan keduanya.

Entah bagaimana akhir cerita mereka, namun saat ini yang Luhan inginkan hanya Sehun, begitupula sebaliknya, yang Sehun inginkan hanya Luhan. Keduanya diam-diam memohon dan berdoa pada Tuhan agar semua cerita tentang kisah cinta mereka berakhir sebagaimana mestinya tanpa rasa sakit dan air mata yang akan dirasakan keduanya nanti.


tobecontinued...


gilssss...gw ga sadar nulis sampe tujuh ribu words...kebiasaan sama cerita lain soalnya :""D

.

fyi...cerita ini ga seribet kelihatannya dan kalo ditanya sama ga kaya last hope? ya ngga dong jawabannya. Last hope tripletnya lagi mode kesetanan...kalau restart lagi mode normal kok :p

.

lagian rulesnya happy ending kan? jadi bisa berbahagialah kalian bukan gw yang nentuin endingnya :" wkwkkw..

.

okay! selamat membaca dan review...:)

.

.

.

.

.

.

.

.

.

pengumuman...pengumuman...

sebenernya bukannya sombong ga mau bagi contact information, tapi takut ga bisa bales satu-satu. Gw termasuk jarang bales chat walau pada akhirnya selalu dibales. jangankan kalian doi gw aja jarang gw bales :D...tapi masih awet kok #curhatrasapamer wkwkw

.

dan berhubung buanyak banget yang bilang triplet odong-odong ini syombong #jleb# gegara chat personal ga dikasih

yuk di add id line nya _nurulistiqomah

.

tapi jangan baperan klo dibalesnya lama yak...tapi pasti dibales kok :)

.

terimakasih...!

.

see you di tdf chap 2 hari minggu tanggal 22 november kalau tidak ada halangan ya semuanya...:)