Olla, minna~. akhirnya setelah sekian lama Grey bisa ngupdate chapter baru. Maafkan Grey karena ngupdatenya lama banget. Yosh, tanpa basa basi, silakan dibaca minna...
2 minggu berlalu, Oikawa sudah tidak terlihat murung lagi. Selama latihan mereka sore ini, Oikawa bermain dengan serius dan bisa dibilang hari ini adalah permainan terbaiknya setelah ia ditolak secara tidak langsung oleh Sakuya. Iwaizumi mengira pemuda Oikawa sudah bisa melupakan Sakuya, dan itu membuatnya senang.
Sekarang mereka sedang beristirahat setelah latihan keras yang mereka lalui. Seperti biasa, Hanamaki akan memutar lagu untuk menghidupkan suasana. Tapi sepertinya lagu pilihan Hanamaki adalah pilihan yang buruk bagi Oikawa.
These wounds won't seem to heal
This pain is just too real
There just too much that time cannot erase
When you cried I'd wipe away all of your tears
When you'd scream I'd fight away all of your fears
"Makki, ganti lagunya!" teriak pemuda bersurai coklat itu. Bagaimana tidak, lagu itu malah membuatnya teringat akan Sakuya. Padahal sudah susah payah ia melupakannya, tapi tetap saja ia dalam hati ia masih merasa kehilangan.
Hanamaki yang tidak tahu apa apa hanya memandang Oikawa dengan aneh, sebelum memutar lagu berikutnya
Cecilia, you're breaking my heart
You're shaking my confidence daily
Oh Cecilia, I'm down on my knees
I'm begging you please to come home
"Makki, jangan putar lagu itu! Ganti!" teriak Oikawa lagi.
Kali ini tidak hanya Hanamaki, tapi semua orang merasa heran dengan sikap Oikawa. Tidak biasanya setter mereka itu sensitif dengan hal hal kecil seperti ini.
"Ada apa denganmu, Oikawa? Kau terlihat aneh akhir akhir ini." Matsukawa akhirnya menanyakan pertanyaan yang mengganjal di benak setiap orang.
Oikawa tidak menjawab, dan beranjak pergi dari sana sambil mendecih kesal. Iwaizumi tidak menghentikan Oikawa, karena ia tahu pemuda itu perlu waktu sendiri, dan juga Oikawa harus mencari solusi masalahnya sendiri.
Jeez, untung saja Rei tidak serumit Sakuya. Pikir Iwaizumi dalam hati.
Disisi lain, Oikawa berjalan setengah berlari menuju ke ruang OSIS. Tujuannya hanya satu, yaitu berbicara empat mata dengan Sakuya. Ia butuh penjelasan dari gadis yang membuatnya setengah gila selama 2 minggu ini.
Oikawa membuka pintu ruang OSIS dengan keras, dan ia menemukan Sakuya sedang berdiri di depan rak buku, menyusun berbagai arsip arsip. Sakuya sendiri terkejut akibat suara pintu, tapi ia lebih terkejut melihat Oikawa berdiri disana dan menatapnya bagai predator kelaparan.
"Ada apa,Oikawa-san? Kurasa kau tidak perlu membuka pintu sekeras itu."
Oikawa tidak menjawab. Ia malah menutup pintu dibelakangnya dan menguncinya. Hal itu membuat Sakuya makin heran, apalagi Oikawa berjalan menghampirinya secara perlahan, bagaikan predator menghampiri mangsanya.
Oikawa berdiri tepat dihadapan Sakuya, membuat gadis itu terjepit diantara rak buku dan dada bidang Oikawa. Ditambah lagi Oikawa mengulurkan tangannya kedepan, membuat Sakuya tidak bisa melarikan diri kemana mana. Yup, Oikawa melakukan kabe-don.
"Sakuya... apa kau menyukaiku?" kata Oikawa setelah diam beberapa saat.
Sakuya menatap Oikawa sejenak, sebelum memejamkan mata dan menggelengkan kepala, "tidak. Aku tidak pernah menyukaimu."
"Kau bohong."
Sakuya terkejut, tapi dengan lihai ia menyembunyikan ekspresinya.
"Kalau kau memang tidak menyukaiku," Oikawa berkata lagi, "tatap mataku dan katakan demikian. Katakan bahwa kau memang tidak pernah menyukaiku. Setelah itu, aku berjanji aku tidak akan muncul lagi dihadapanmu."
Sakuya membuang wajahnya, membuat Oikawa semakin kesal.
"Kubilang tatap aku Sakuya!"
Sakuya menggigit bibir bawahnya sebelum menatap Oikawa dan berkata, "kalaupun aku menyukaimu, hubungan kita tidak akan berhasil."
"Atas dasar apa kau bisa berkata seperti itu? Kita tidak akan tahu sebelum mencobanya."
"Tentu saja aku tahu, Oikawa. Hubungan dengan orang mati tidak pernah berhasil"
Oikawa terdiam. Ia tidak mengerti perkataan gadis dihadapannya itu. Sakuya menghembuskan nafas, sebelum berkata, "sejak kematian Reika, aku tidak bisa merasakan apa apa. Hidupku terasa hampa dan membosankan. Aku bahkan tidak bisa bermain biola lagi, membuatku didiskualifikasi dari audisi orkestra nasional. Orangtuaku mengkhawatirkan kondisiku, dan memutuskan untuk membawaku ke Amerika untuk bertemu dengan psikiater kenalan Tou-san. Pada saat itu usiaku 12 tahun, dan sejak itulah karir biolaku terhenti."
"Pengobatan itu membawa hasil yang cukup baik, karena aku sudah bisa kembali berinteraksi dengan orang lain. Tapi walau begitu, aku masih tidak bisa memainkan biola, dan juga aku tidak bisa merasakan perasaan apapun. Aku lalu meminta kembali ke Jepang, dan untungnya orangtuaku setuju. Aku lalu masuk ke SMA Aoba Johsai, menjadi Sakuya McAvey yang kalian kenal."
Sakuya menatap Oikawa tepat ke manik coklatnya, "sekarang, setelah kau mengetahui semuanya, apakah kau masih menyukai gadis sepertiku? Gadis yang membunuh sahabatnya sendiri, dan menjadi gila karenanya? Apakah kau masih menyukai gadis yang telah mati ini?"
"Ya."
Pupil Sakuya membesar karna terkejut mendengar jawaban tegas Oikawa. Pemuda itu menyatukan dahinya dengan milik Sakuya, sebelum melanjutkan, "ya, aku menyukaimu. Bukan hanya suka, tapi aku telah jatuh cinta padamu. Aku mencintaimu, Sakuya McAvey."
Sakuya mengepalkan kedua tangannya dan mendorong Oikawa dengan cukup keras. Ia berkata, "Kenapa?! Kenapa kau mencintai orang sepertiku?! Aku bahkan tidak bisa mencintai diriku sendiri, tapi kenapa kau bisa mencintai gadis hina sepertiku ini?!"
Tak disangka, Oikawa malah tersenyum, "entahlah. Aku pun tidak tahu mengapa aku bisa jatuh cinta padamu. Tanpa kusadari, kau selalu hadir dalam mimpiku. Kau selalu menjadi orang pertama yang kupikirkan saat aku bangun dari tidur. Aku selalu tak sabar untuk kembali ke sekolah, hanya supaya aku bisa melihat wajahmu."
"Bahkan walaupun aku katakan padamu bahwa aku tidak pernah menyukaimu, akankah kau masih mencintaiku?"
Oikawa menganggukkan kepalanya mantap, membuat Sakuya kembali mengigit bibir bawahnya, "tapi Oikawa. Aku sudah mati. Sekeras apapun usahaku, aku tetap tidak bisa merasakan apa apa."
"Itu karena kau sendirilah yang tidak mengizinkan dirimu untuk merasakan apapun."
Sakuya tertegun mendengarnya. Oikawa menghampiri Sakuya, menangkupkan kedua tangannya di pipi gadis itu, dan menatap tepat ke iris biru miliknya.
"Kau belum mati, Sakuya. Jiwamu masih ada, tertidur dalam bayang bayang masa lalumu. Menunggu seseorang untuk membangunkannya dari mimpi buruk. Dan akulah yang akan membangunkan jiwamu. Aku akan menyelamatkanmu dari kenangan buruk yang menghantuimu."
Sakuya membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu. Tapi tak satu pun kata terlontar dari bibirnya. Bola mata gadis itu berkaca kaca, dan perlahan terbentuklah air sungai kecil dari iris birunya. Sakuya meletakkan kepalanya di bahu tegap Oikawa, menangis terisak isak disana.
"Selamatkan aku, Tooru."
Dan sebagai jawaban, Oikawa memeluk Sakuya dengan erat.
Aku akan selalu ada untukmu, Sakuya.
-Skip Time-
"Bulan depan kalian sudah akan menjalani Ujian Akhir, karena itulah Sensei harap kalian belajar sebaik mungkin."
"Baik, Sensei.."
Setelah mengatakannya, Ishida-sensei meninggalkan kelas dan tak lama setelahnya terdengar suara bell tanda berakhirnya pelajaran. Murid murid segera meninggalkan kelas dan pulang ke rumah. Berhubung mereka sudah kelas 3, maka mereka dilarang mengikuti kegiatan klub. Alasannya agar mereka bisa fokus menghadapi ujian.
Sembari bersenandung, Oikawa mengemasi barang barangnya dengan sedikit tergesa gesa. Alasannya karena ia ingin menemui Sakuya di kelasnya, dan karena gadis itu punya kebiasaan pulang cepat, ia khawatir Sakuya sudah pulang. Tapi sepertinya Tuhan sedang baik kepada Oikawa. Buktinya saat ia akan keluar kelas, ia hampir bertabrakan dengan Sakuya, yang hendak masuk kedalam kelasnya.
"Oikawa, ada apa denganmu? Kenapa kau begitu buru buru?"
"Ah, maaf Sakuya-chan. Aku tadi ingin menemuimu di kelasmu, tapi ternyata kau malah datang ke kelasku. Hmm.. tapi tak biasanya kau kemari. Apa kau perlu sesuatu?"
Sakuya menggaruk pipinya dengan telunjuk, dan sambil tersenyum malu malu, ia berkata, "ano.. sebenarnya.. a-apa kau mau belajar bersamaku hari ini? Soalnya sebentar lagi ujian, dan masih banyak hal yang belum aku mengerti. Karena itulah, aku pikir, apa kau mau mengajariku?"
Oikawa terdiam, membuat Sakuya keheranan. Tiba tiba Oikawa meneteskan airmata, dan Sakuya langsung panik.
"O-Oikawa? Kau kenapa? Kalau kau tidak mau, tidak masalah kok. Aku tidak memaksamu."
"Tidak, bukan begitu," jawab Oikawa sambil mengusap airmatanya, "aku hanya senang -ah, bukan- aku bahagia. Aku bahagia mendengar permintaanmu itu. Tak kusangka aku akan mendengarmu meminta bantuanku, dan ditambah wajahmu yang sangat imut saat mengatakannya membuatku sangat bahagia, Sakuya-chan."
Sakuya tertawa canggung, bingung dengan sikap Oikawa yang menurutnya sangat berlebihan. Sejak peristiwa di Ruang OSIS, hubungan Oikawa dengan Sakuya sudah semakin dekat. Mereka sering pulang bersama, dan tak jarang mereka makan siang bersama. Tapi walaupun begitu, Sakuya tetap tidak terbiasa dengan sikap kekanakan Oikawa. Dalam hati ia bertanya tanya kenapa Iwaizumi bisa tahan menghadapi pemuda ganteng nan alay ini.
"Yosh, kalau begitu tunggu apa lagi. Ayo kita segera ke rumahku!" perkataan Oikawa menyadarkan Sakuya dari lamunannya, dan tahu tahu Oikawa menggandeng tangannya dan menarik pelan tangan gadis itu.
Sakuya mengikuti langkah Oikawa yang cukup cepat dengan setengah berlari, "tunggu dulu, Oikawa. Tadi kau bilang rumahmu?"
Oikawa berhenti, dan kini menatap Sakuya dengan heran, "Iya. Kenapa memangnya? Kau tidak mau?"
"Bukan begitu, tapi sebenarnya ingin mengajakmu belajar di rumahku."
"Memangnya ada apa di rumahmu?"
"Ng... sebenarnya orangtuaku sedang berada di Amerika, jadinya aku disuruh jaga rumah. Lagipula, aku merasa tidak enak dengan Kaa-san mu kalau tiba tiba aku datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu."
Oikawa mencerna semua informasi yang baru masuk ke kepalanya. Kalau orangtua Sakuya sedang tidak berada di rumah, itu artinya Oikawa akan berduaan saja dengan Sakuya. Ini adalah sebuah kesempatan langka yang diragukan akan terulang kembali jika ia menolaknya. Tapi sebagian kecil dari hati nuraninya menolak, takut terjadi hal hal yang tidak diinginkan. Lagipula status mereka saat ini masih sebatas teman. Padahal hanya memilih tempat belajar bersama saja, tapi Oikawa benar benar mengalami perang batin dalam dirinya.
Sakuya memperhatikan wajah serius Oikawa dengan geli. Ia sepertinya bisa menebak apa yang ada di kepala coklat Oikawa. Maka untuk menengahi perang batin itu, Sakuya berkata, "Jangan khawatir, kalau kau pulang sebelum jam 8, kurasa tidak akan ada masalah."
Bagaikan mendapat pencerahan, wajah Oikawa berseri seri dan tersenyum lebar ala cheshire cat. Sakuya yang melihat perubahan drastis di wajah Oikawa tidak bisa menahan tawanya, sedangkan Oikawa yang melihat itu tidak bisa menahan rona pink di pipinya. Baginya tawa gadis itu bagaikan tawa malaikat surga, dan ia langsung terpesona.
Masih dengan sela sela tawanya, Sakuya berkata, "maaf, aku tertawa begitu keras, habisnya kau sangat lucu, Oikawa." Sakuya berdehem untuk menetralkan suaranya, "ayo kita berangkat sekarang."
Oikawa menjawab ajakan itu dengan senyuman khas-nya. Ia lalu meraih tangan Sakuya, dan mereka pergi sambil bergandengan tangan.
"Sudah semua?"
"Ump. Terimakasih sudah menemaniku belanja, Oikawa."
Ditengah perjalanan mereka mampir ke sebuah minimarket, karena Sakuya bilang ia ingin membeli makanan kecil. Dia bilang dia tidak bisa belajar jika tidak ada makanan.
"Tidak masalah-Ouch!"
Saat berjalan keluar, seorang pemuda berambut hitam menabrak bahu Oikawa dengan cukup keras. Pemuda itu lalu membungkuk sambil meminta maaf.
"Maaf, aku tidak melihat lihat tadi." Kata pemuda itu.
Oikawa mengusap bahunya, "tidak apa. Aku juga kurang memperhatikan."
Pemuda itu mengangkat kepalanya, dan ia langsung menatap horor kepada Oikawa.
"O-Oikawa-san?!"
Oikawa sendiri juga tak kalah horor melihat wajah pemuda itu, "Geh, Tobio-chan?!"
Sakuya yang berdiri disamping Oikawa melihat adegan itu dengan heran. Tapi begitu Oikawa menyebut nama Tobio, Sakuya menyeringai. Sambil mengeluarkan senyuman terbaiknya, gadis itu menghampiri Kageyama dan berkata, "Oh, jadi kau Tobio-kun ya? Oikawa bercerita banyak tentangmu kepadaku."
Kageyama bingung menjawab apa. Ia menggaruk tengkuknya dan berkata, "te-terimakasih, ano.."
"Sakuya McAvey. Tapi kau boleh memanggilku Sakuya." Sakuya mengulurkan tangannya, "senang berkenalan denganmu."
"Kageyama Tobio. Senang berkenalan denganmu, ano, Sakuya-san." Jawab Kageyama.
"Kau benar benar persis seperti yang dikatakan Oikawa. Tubuh tinggi, wajah imut, dan dari luar saja sudah tampak bahwa kau itu seorang jenius."
Oikawa yang sedari tadi memperhatikan mendecih keras dan membuang muka sambil cemberut layaknya anak kecil, cemburu karena sang gebetan memuji rivalnya. Sakuya tertawa geli melihat sifat kekanakan Oikawa.
Sedangkan Kageyama menggaruk pipinya dengan telunjuk dan mengucapkan terimakasih dengan malu malu, tidak biasa menerima pujian.
"Tapi," Sakuya melanjutkan masih dengan senyumannya, "dengan sekali lihat aku juga tahu bahwa kau itu seorang yang sombong, arogan, tukang maksa, dan tukang ngatur. Sejujurnya aku masih tidak percaya kalau Oikawa bisa kalah dari orang sepertimu."
Senyumannya berganti menjadi seringai dan tangannya terulur menunjuk Kageyama, "Mungkin kau menang kali ini, tapi yang berikutnya, Oikawa pasti akan mengalahkanmu. Dan aku pasti akan menonton pertandingan dimana kau dikalahkan oleh Oikawa. Maka sambil menunggu hari itu datang, kuharap kau berlatih dengan keras, Tobio-kun."
Kageyama terdiam untuk beberapa saat, tapi akhirnya ia ikut menyeringai dan menjawab, "selanjutnya, aku pasti juga akan menang."
"Sangat percaya diri," Kata Sakuya pelan, "baiklah. Senang berkenalan denganmu, Tobio-kun. Sampai jumpa." Setelah membungkuk kecil, Sakuya berjalan melewati Kageyama.
Oikawa bersiul, "that's my girl. Kau dengar sendirikan, Tobio-chan? Sebaiknya kau persiapkan dirimu, karena selanjutnya aku pasti menang."
"Aku tidak akan kalah, Oikawa-san."
Oikawa menyeringai dan berlalu menyusul Sakuya yang sudah jauh di depan. Kageyama menatap kepergian mantan senpainya, sebelum akhirnya pergi ke arah yang berlawanan. Dimata pemuda itu terlihat tekad yang kuat akan kemenangan.
"Sakuya-chan... udahan dong belajarnya..."
"Eh? Tapi aku masih belum paham. Sepuluh menit lagi."
"Kau mengatakan itu satu jam yang lalu..."
"Benarkah?" Sakuya terdiam sebentar, "kalau begitu sepuluh menit lagi."
Oikawa mengerang dan menjatuhkan badannya ke lantai. Bukannya pemuda itu malas, tapi mereka sudah belajar selama lebih 4 jam lamanya, dan jujur saja Oikawa tidak pernah belajar lebih dari 2 jam. Ia heran bagaimana bisa gadis itu betah duduk selama itu dan mengerjakan soal soal yang memusingkan kepalanya.
Sakuya melihat Oikawa yang tepar merasa kasihan. Ia melirik jam yang kini menunjukan pukul 18.25 dan memutuskan untuk menyudahi belajarnya.
"Oikawa," kata Sakuya yang dijawab dengan gumaman pelan, "apa kau suka omelet rice?"
"Well, aku tidak membencinya sih. Kenapa?"
"Aku berencana memasak omelet rice untuk makan malam kita. Atau kau ingin makan yang lain?"
"Tidak tidak, aku tidak masalah dengan omelet rice."
"Kalau begitu aku buat dulu, ya," ujar Sakuya sambil beranjak ke dapur, "ah, kalau kau bosan, hidupkan saja TV nya. Atau kau kalau kau ingin melihat lihat, silakan saja."
Oikawa menjawab dengan membentuk tanda OK dengan tangannya. Sepeninggal Sakuya, Oikawa mulai menjelajahi isi rumah Sakuya. Matanya terhenti pada sebuah foto di atas lemari hias. Ia mengambil dan melihat seorang anak gadis kecil di tengah tengah orang dewasa; yang ditebak oleh Oikawa adalah Sakuya kecil dan kedua orangtuanya. Pemuda itu tersenyum melihatnya, sebelum akhirnya ia mengembalikan foto itu ketempatnya.
Ia kembali melihat lihat, mulai dari berbagai foto, koleksi buku, dan berbagai hiasan didalam rumah itu. Setelah lelah berkeliling, Oikawa memutuskan untuk beristirahat di sofa. Saat itulah matanya menangkap sebuah kotak hitam yang diletakkan dibawah kolong meja, sengaja disembunyikan. Rasa penasaran menggelitik pemuda itu, dan memutuskan mencari tahu.
Oikawa menarik kotak itu dan melihatnya dengan heran. Seharusnya kotak itu penuh debu, tapi kenyataannya tak ada sedikitpun debu disana. Hal ini makin mengusik rasa penasarannya. Dengan perlahan ia membuka kotak itu, yang ternyata berisi sebuah biola lengkap dengan kertas kertas partitur. Dengan hati hati Oikawa mengeluarkan biola itu, dan saat itulah ia melihat sebuah pigura foto yang tampak usang. Di foto itu tampak seorang gadis pirang-yang Oikawa yakini sebagai Sakuya- dan seorang gadis berwajah oriental. Di sudut kanan bawah foto itu terdapat tulisan yang sedikit kabur, membuat Oikawa harus memfokuskan matanya untuk membaca tulisan itu.
"Musim panas di peternakan Hokaido"
Terdengar suara Sakuya tepat dibelakang Oikawa, membuat pemuda itu terkejut setengah mati. Ia berbalik dan melihat gadis itu berdiri tepat dibelakangnya sambil menatap foto itu dengan sendu.
"Ma-maaf, aku tidak bermaksud membongkar barang barangmu." Ucap Oikawa agak panik.
Sakuya menggeleng, "tidak apa, kok. Ah, makan malam sudah siap. Ayo kita makan."
Oikawa menggangguk, walau dalam hati ia merasa bersalah. Pasalnya, raut wajah Sakuya langsung berubah. Bahkan saat makan pun Sakuya tidak banyak bicara.
"Sakuya. Apa kau marah padaku?" tanya Oikawa setelah mereka selesai makan.
Sakuya tidak menjawab, dalam hati memikirkan jawabannya. Dia tidak marah pada Oikawa, tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, meski ia tidak tahu apa itu.
"Sakuya." Sekali lagi Oikawa memanggil Sakuya tanpa suffix apapun, pertanda pemuda itu serius dan membutuhkan jawaban.
"Tidak kok." Jawab Sakuya akhirnya, "tapi sejujurnya, ada perasaan tidak nyaman melihat kau membuka kotak itu, tapi aku tidak tahu apa. Mungkin karena kau membuka kotak yang penuh dengan kenangan burukku."
"Kalau memang kotak itu penuh dengan kenangan buruk, kenapa kau terus menyimpan dan merawatnya?"
Sakuya kembali terdiam. Perkataan Oikawa benar benar tepat sasaran. Saat ia membuka mulutnya untuk menyangkal, Oikawa menginterupsinya.
"Kau tidak bisa bohong padaku, Sakuya. Buktinya sudah jelas. Kotak itu bersih tanpa debu sedikitpun, dan barang barang didalamnya -kecuali bingkai foto itu- masih terawat baik."
Sakuya tertawa pelan, "kau ini benar benar observant yang hebat, ya. Kau benar, aku memang selalu merawat kotak itu beserta isinya. Tapi tetap saja, kotak itu memang menyimpan kenangan burukku."
Gadis itu menghela nafas sebelum melanjutkan, "biola itu punya Reika. Orangtuanya memberikan itu kepadaku, katanya Reika pasti tidak keberatan. Tapi seperti yang pernah kubilang, aku sudah tidak bisa bermain biola lagi. Setiap kali aku memegangnya, wajah Reika selalu membayangiku, dan itu membuatku ketakutan."
Oikawa bisa melihatnya, ketakutan yang teramat sangat terlihat jelas di iris birunya. Pemuda itu lalu mengambil biola dari kotak itu dan menyerahkannya kepada Sakuya dan berkata, "mainkan satu lagu untukku."
Sakuya terlihat sangat ketakutan, "t-tapi Oikawa..."
"Jangan khawatir. Aku ada disini, dihadapanmu."
Dengan sedikit gemetar, Sakuya meraih biola dari tangan Oikawa dan meletakkannya dibahunya, mengambil posisi. Ia memejamkan matanya, dan kilasan kematian Reika kembali membayanginya.
"Buka matamu."
Sakuya membuka matanya, dan melihat Oikawa berdiri dihadapannya sambil tersenyum menenangkan, yang memberinya keberanian. Tangannya mulai menggesek biola itu, memainkan lagu My Heart Will Go On dengan sangat baik. Ia menghasilkan nada nada indah sepanjang permainannya, membuat Oikawa yang mendengarnya ikut terhanyut dalam emosi.
Saat Sakuya menghentikan permainannya, Oikawa bertepuk tangan sambil tersenyum lebar.
"Luar biasa! Permainanmu sangat hebat, Sakuya-chan! Aku jadi tidak yakin kalau kau bilang kau tidak bisa bermain biola lagi."
Sakuya tersenyum malu malu, "terimakasih. Tapi sebenarnya permainanku tadi tidak terlalu bagus. Ada beberapa nada yang sedikit sumbang, dan juga-"
"Tapi tetap saja, bagi orang awam sepertiku itu sangat hebat! Kau seharusnya tidak merendah seperti itu, Sakuya-chan. Ah, bagaimana kalau kau bermain satu lagu lagi?"
Sakuya menimbang nimbang, sebelum akhirnya mengiyakan. Ia kembali menggesek biola itu, namun kali ini dengan tempo yang cukup cepat. Sakuya memainkan melody dari lagu Senbonzakura dengan sangat baik.
Tiap kali Sakuya selesai bermain, Oikawa pasti meminta satu lagu lagi. Dan anehnya Sakuya tidak keberatan sama sekali. Hingga akhirnya mereka berhenti saat Sakuya merasa kelelahan. Oikawa melirik jam tangannya, dan matanya langsung melotot ketika melihat bahwa sekarang sudah jam setengah sepuluh malam. Sakuya sendiri juga tidak sadar bahwa ia sudah bermain sangat lama.
"Ah, gomen Sakuya-chan. Sepertinya aku harus pulang. Sekarang sudah sangat larut, dan aku yakin kau pasti kelelahan. Beristirahatlah, dan jangan lupa kunci pintu." Ucap Oikawa panjang lebar sambil mengemasi barang barangnnya.
Setelah yakin tidak ada yang tertinggal, Oikawa berjalan menuju pintu ditemani oleh Sakuya yang mengantarnya. Pemuda itu memberikan senyuman khasnya sambil berkata, "baiklah, aku pulang dulu. Bye bye~"
Sakuya tidak menjawab. Tepat saat Oikawa membuka pintu, Sakuya memeluk Oikawa dari belakang dengan erat, membuat pemuda itu terdiam di tempatnya.
"... jangan pergi..."
Oikawa tidak mempercayai pendengarannya. Otaknya bekerja lambat menerjemahkan dua kata yang baru diucapkan Sakuya. Alhasil, ia cuma bisa mengedipkan matanya dua kali.
"Jangan pergi," gadis itu mengeratkan pelukannya, "menginaplah disini untuk malam ini. Karena... karena aku... takut."
stopped working.
Kali ini otaknya benar benar berhenti bekerja. Maksudnya, bagaimana bisa seorang gadis tenang seperti Sakuya tiba tiba memeluknya dan memintanya untuk menginap dirumahnya? Ditambah lagi cara dia mengatakannya sangat imut bagi Oikawa, membuat otaknya eror.
"Heehh? Tu-tunggu dulu, Sakuya-chan. Ba-barusan kau memintaku untuk apa?"
Sakuya menguburkan wajahnya ke punggung tegap Oikawa, "ma-maukah kau menginap disini? La-lagipula besok hari minggu, jadi kupikir tidak ada masalah. Mau, ya?"
Oke, sekarang Sakuya sudah benar benar OOC. Dengan perlahan Oikawa melepaskan pelukan Sakuya dan menatap ke wajah gadis itu –yang sekarang sudah semerah kepiting rebus.
"Ada apa denganmu, Sakuya-chan? Apa kau sakit?"
"A-apa itu artinya kau tidak mau?" kata Sakuya dengan wajah memerah.
"Tidak-tidak, bukan begitu. Hanya saja, aku sedikit, eh, terkejut mendengarnya. So-soalnya tidak biasanya kau meminta seperti ini." ucap Oikawa sambil menggaruk pipinya dengan telunjuk.
Sakuya mengerucutkan bibirnya, "se-sebenarnya, aku takut mimpi buruk. Biasanya setiap kali aku memainkan biola itu, aku selalu dihantui mimpi buruk. Ka-karena itu, kupikir kalau bersamamu aku tidak akan mimpi buruk lagi."
Oikawa terdiam sebentar, sebelum mengusap kepala Sakuya, "baiklah, aku akan menginap. Karena itu, jangan takut. Lebih baik kita tidur sekarang."
Walau wajahnya masih memerah, Sakuya memberikan senyuman manis untuk Oikawa. Detik itu juga Oikawa merasakan jantungnya berdetak 2x lebih cepat dari normalnya, dan ia merasa pipinya mulai memanas.
Haaah... gawat. Hanya dengan senyumannya saja aku sudah kalah telak. Sungguh sebuah senyum yang indah, membuatku ingin melihatnya lagi dan lagi. Kuharap aku bisa menjaga senyuman itu. Pikir Oikawa sembari berjalan mengikuti Sakuya menuju ke kamar tidur.
Dua sejoli ini kini berbaring di tempat tidur yang sama dengan posisi saling membelakangi. Sudah lebih setengah jam berlalu, tapi mereka masih terjaga. Sampai akhirnya ketika mata Oikawa perlahan menutup, sepasang lengan mungil melingkari pinggangnya, membuat mata itu kembali terbuka lebar.
"Ma-maaf, tapi bolehkah aku memelukmu, Oikawa?"
Oikawa membalikkan badannya sehingga kini mereka saling berhadapan, "tentu saja. Tapi, bolehkah aku memelukmu juga?"
Sakuya mengangguk kecil sebagai jawaban. Lengan kekar Oikawa perlahan melingkupi tubuh Sakuya. Anehnya, walaupun Sakuya tergolong tinggi, tapi entah kenapa saat ini dirinya sangat mungil bagi Oikawa. Mereka saling beradu pandang, masing masing terhanyut oleh pesona yang dipancarkan melalui bola mata pasangannya.
"Aku mencintaimu, Sakuya. Jadilah pacarku." Ungkap Oikawa dengan suara yang dalam dan –menurut Sakuya- seksi.
Sakuya mengedipkan matanya, dan melalui bibir merah cerinya, Sakuya berkata, "sebelum aku menjawabnya, maukah kau berjanji satu hal?"
"Katakanlah."
"Berjanjilah kau tidak akan mencampakkanku demi gadis lain."
Oikawa tertawa kecil, "apa apaan itu? Melihat perjuanganku untuk mendapatkanmu, seharusnya kau tidak perlu khawatir aku akan berpaling darimu. Tidak, Sakuya. Aku tidak akan pernah mencampakkanmu. Aku, Oikawa Tooru, mencintai Sakuya McAvey dari lubuk hatiku yang terdalam. Aku akan mencintaimu untuk selamanya."
Sakuya tidak dapat menahan luapan kebahagiaan yang dirasakannya. Dia menangis dan membenamkan wajahnya ke dada bidang Oikawa.
"Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu, Tooru."
Itu dia. Itulah yang sangat ingin didengar oleh Oikawa. Pemuda itu mengangkat wajah Sakuya dengan jarinya, dan memberinya ciuman yang dalam dan penuh akan emosi.
Diawali dengan kecupan ringan yang berakhir pada ciuman panas yang menuntut. Oikawa menghisap, menjilat bahkan menggigit kecil bibir Sakuya, membuat gadis itu terpekik kecil didalam ciuman panasnya. Kesempatan itu tidak disia siakan oleh Oikawa untuk melakukan French Kiss. Lidahnya menjelajahi mulut Sakuya, mencari lidah gadis itu untuk diajak berdansa bersama. Sakuya sendiri yang tidak pernah berciuman sebelumnya hanya bisa pasrah membiarkan Oikawa mendominasi dirinya.
"Ikuti aku."
Oikawa melepas ciumannya sebentar hanya untuk mengatakan 2 kata itu, sebelum kembali mencium Sakuya lagi. Kali ini tanpa basa basi lidah Oikawa langsung memasuki rongga mulut Sakuya dan mengajak Sakuya untuk mengikuti gerakan lidahnya. Awalnya gadis itu kewalahan mengimbangi gerak Oikawa yang agresif, tapi lama kelamaan ia mampu unutk mengikuti gerakan lidah pemuda itu dan semakin larut dalam ciuman yang semakin memanas itu.
Jika saja paru paru mereka tidak protes akibat kekurangan oksigen, mungkin mereka akan terus berciuman sampai pagi. Oikawa memutuskan ciuman mereka, menciptakan benang benang saliva diantara bibir mereka. Oikawa menatap Sakuya yang kini terengah engah dibawahnya. Seluruh wajah gadis itu memerah, ditambah saliva yang menetes keluar dari mulutnya membuat gadis itu seperti Succubus yang menggoda imannya. Membuatnya ingin menjadikan gadis itu miliknya seorang.
Tidak. Aku tidak boleh melakukannya. Oikawa membuang segala pemikiran setan yang merasukinya. Tapi dasar lelaki, ia menggoda Sakuya dengan menjilati sisa sisa saliva disekitar bibir Sakuya. Sakuya sendiri sudah terlalu lelah hanya bisa mendesah kecil.
"Bagaimana? Apa ciumanku hebat?"
Sakuya menatap Oikawa yang kini tengah menyeringai padanya, "well, aku tidak punya pembanding. Tapi aku akui itu tadi luar biasa."
"Mau melakukannya lagi kapan kapan?"
Sakuya mendengus dan menyikut pelan pemuda yang kini berstatus sebagai pacarnya, "aku tidak mungkin bilang tidak."
Oikawa tertawa senang, sebelum akhirnya ia menarik Sakuya kedalam dekapannya.
"Tooru."
"Hm?"
"Aku mencintaimu."
"Akupun demikian. Aku sangat mencintaimu, Sakuya."
-SKIP TIME-
"Iwa-chan, lihat! Aku lulus di Universitas Tokyo!" ucap Oikawa kegirangan.
"Benarkah? Selamat Oikawa. Eh, tunggu dulu. Kenapa kau masuk ke universitas yang sama denganku? Bukankah kau mendaftar ke Universitas Tohoku?"
"Tentu saja karena aku tahu Iwa-chan tidak bisa hidup tanpaku!" jawab Oikawa dengan pedenya, membuat Iwaizumi menatapnya dengan tatapan katakan-saja-yang-sebenarnya-atau-aku-tendang-bokongmu-Trashykawa, yang sukses membuat Oikawa bergidik ngeri.
"Aku hanya bercanda, Iwa-chan. Sebenarnya aku dengar kabar kalau Ushiwaka mendaftar disana. Kalau kami satu universitas, bagaimana mungkin aku bisa mengalahkannya nanti?"
Iwaizumi menatap sahabatnya, "kau masih berniat mengalahkan Ushiwaka?"
"Tentu saja! Dia adalah orang selain Tobio-chan yang harus kukalahkan."
Iwaizumi menghela nafas, "Asalkan kau tidak berlebihan, maka itu terserahmu."
"Aww... Iwa-chan, kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Selain itu, kurasa kau harus lebih mengkhawatirkan pacarmu daripada aku."
Iwaizumi mengangkat alisnya dengan heran. Namun pertanyaannya terjawab saat ia mendengar suara isak. Namun pertanyaannya terjawab saat ia mendengar suara isakan dari belakangnya. Pemuda itu segera membalikkan badannya dan melihat Rei menangis terisak isak.
"He-hei, kenapa kau menangis, Rei?"
"Ha-habis, ka-kalau Hajime pergi ke Tokyo... i-itu artinya kita akan berpisah... a-aku tidak mau berpisah denganmu... Hwaaaa..."
Suara tangisan Rei makin kencang, membuat Iwaizumi kebingungan menghadapinya, "Kata siapa kita akan berpisah? Kita masih bisa berhubungan, kan? Aku akan melakukan video call setiap hari. Aku akan mengunjungimu saat libur. Atau kau bisa pergi ke Tokyo juga, lagipula kan jaraknya tidak terlalu jauh."
"Ta-tapi, kalau kau selingkuh gimana? Aku dengar gadis gadis Tokyo sangat cantik. Sedangkan aku hanyalah gadis kampungan."
Iwaizumi tidak bisa menahan senyum, "Dengar ya, Rei. Kau sudah mencuri hatiku, kau memilikiku seutuhnya. Tidak ada tempat bagi oranglain untuk masuk kedalam hatiku, karena kau sudah mengisi seluruh ruangan didalamnya. Percayalah padaku, aku tidak akan selingkuh."
Rei merona parah, dan ia memilih membenamkan wajahnya di dada bidang Iwaizumi supaya tidak ada yang melihat.
"Tahun depan, aku pasti akan menyusulmu." Kata Rei sambil tersenyum pada pacarnya.
Iwaizumi membalas dengan mengecup kening Rei, "aku tunggu."
Dua sejoli yang lagi dimabuk asmara ini sepertinya lupa akan kehadiran Oikawa yang sedari tadi menonton. Pemuda itu melirik satu nama yang terpampang pada papan pengumuman kelulusan sambil tersenyum sedih.
Sakuya McAvey, diterima di Royal Academy of Music, United Kingdom
"Oikawa."
Lamunannya buyar saat Iwaizumi memanggilnya, "Ada apa, Iwa-chan?"
"Jam berapa penerbangan Sakuya?"
"Jam 1 siang," Oikawa melirik jamnya, "dan sekarang sudah hampir jam 11. Kurasa aku harus pergi sekarang. Bye bye Iwa-chan, Rei-chan."
Oikawa berlalu meninggalkan mereka. Rei menatap kepergian senpainya sambil bergumam, "Tooru-senpai benar benar tegar, ya."
"Ya. Padahal mereka baru pacaran selama sebulan, tapi sekarang harus berpisah. Ditambah lokasi yang sangat jauh membuat mereka tidak bisa berjumpa dalam waktu yang lama."
"Kau benar. Semoga ini bukanlah akhir dari kisah mereka."
"Sakuya-chan!"
Sakuya menoleh dan melihat Oikawa datang menghampirinya, "Tooru! Aku senang kau datang!"
"Tentu saja aku pasti datang. Aku tidak mau melewatkan saat saat terakhir bersamamu."
"Jangan berkata seperti itu. Kesannya seperti aku akan mati saja."
Oikawa tertawa dan mengacak acak rambut Sakuya, membuat gadis itu terpekik kecil dan memarahi Oikawa.
"Maaf, Tooru," kata Sakuya dengan sedih, "padahal kita baru jadian, tapi aku dengan egoisnya memilih kuliah yang jauh. Aku benar benar pacar yang buruk."
Oikawa menghela nafas, "sejujurnya, aku tidak suka dengan pilihanmu yang memilih kuliah di luar negri. Tapi aku bisa memahaminya. Kau ingin mengembangkan bakatmu, karena itu kau harus pergi ke tempat terbaik. Aku tidak akan protes."
Sakuya tersenyum. Kemudian terdengar pemberitahuan bahwa penumpang pesawat yang ditumpangi Sakuya diharap melakukan check in. Sakuya menatap Oikawa dengan mata berkaca kaca, membuat Oikawa menyentil dahi gadis itu dengan cukup keras.
"Aww! Apa apaan itu, Tooru?!"
Oikawa tidak membalas, melainkan mendaratkan ciuman di dahi Sakuya. Ia lalu menyatukan keningnya dengan milik gadis itu.
"Aku akan menunggumu. Karena itu, cepatlah pulang." Kata Oikawa dengan suara yang dalam.
Sakuya mengangguk, "tunggulah aku."
Mereka memundurkan kepala, menciptakan jarak, dan saling memandang wajah satu sama lain.
"Aku pergi dulu, Tooru."
"Hati hati, ya."
Sakuya lalu membalikkan badannya, dan saat itu juga airmatanya mulai mengalir, menciptakan anak sungai kecil. Airmata yang sedari tadi ia tahan akhirnya keluar dengan deras.
Aku pasti akan kembali secepatnya.
Sedangkan Oikawa menatap punggung tambatan hatinya sampai menghilang dari pandangan. Tangannya menyentuh pipinya yang kini basah karena airmatanya. Oikawa membalikkan badannya, melangkah keluar dari bandara.
Ini bukan perpisahan. Suatu hari nanti, kami akan bertemu kembali.
Jreng... demikian akhir kisah setter alay dengan cewek setengah bule genius. Mohon reviewnya ya, minna~ Grey butuh masukan dan tanggapan dari kalian untuk project berikutnya~ Arigatou minnaa...
.
.
.
.
.
ps. Grey berencana membuat extra chapter. karena itu doakan Grey tidak malas, dan juga semoga tugas tugas Grey tidak menumpuk T_T
Sekali lagi, Mohon Reviewnya...
