Crazy Party

[Chapter 2]

.

.

Author : Xoxomumble

Cast : HunHan, BaekYeol/ChanBaek (dan bertambah sesuai alur)

Genre : Romance, family, comedy, little bit hurt, YAOI

Rate : M

Chaptered

.

.

.

Note :

Cast milik Tuhan YME, keluarganya, SM Ent. This is my story, dari hasil pemikiran saya sendiri, jadi JANGAN COPAS atau PLAGIAT juga NO BASH. Ga suka yaoi? Go back now! Jangan nge-bash. Hargai karya orang lain! Mohon reviewnya, karna kritik dan saran diperlukan. Maaf jika terdapat typo, karna saya juga manusia yang punya kekurangan.

.

.

.

.

Selamat Membaca

.

.

Chapter 2 ─ preview

Saat ia telah bosan menatap langit – langit bus, ia kembali menatap sekelilingnya. Tak sengaja maniknya menatap sebuah buket mawar yang terpampang indah di tempat sampah bus. Ia menghampiri tempat sampah, mengambilnya. Bukankan ini mawar yang aku berikan kepada Kyunsoo? Pikirnya. Maniknya kemudian menuju ke bawah buket tersebut.

'Saranghae Kyungie Chagi'

Jadi, ini−──

.

.

Benar. Itu buket yang ia berikan kepada Kyungsoo. Mata Sehun kembali berair. Sungguh, kau tega sekali D.O-ya. Sehun kembali memasukkan buket bunga tersebut ke tempat sampah. Mungkin kalian bertanya-tanya mengapa Sehun bisa mendapatkan bunga yang Kyungsoo buang itu. Karena jalur bus tersebut berputar, dan rumah Sehun dan D.O searah.

Sehun berdiri dan kembali menuju kursinya. Ia menundukkan kepalanya dan mulai mentikkan air mata.

Bus berhenti di sebuah halte, dan Sehun turun di halte tersebut karena jarak rumah dengan halte itu berkisar 20m. Sesampainya ia di rumah ia menemukan hyungnya, Baekhyun, yang sedang bermesraan dengan namja chingunya, Park Chanyeol.

Baekhyun melihat adiknya yang baru saja masuk ke rumah. "Kau dari mana Sehunnie?"

"Taman kota, hyung." Jawab Sehun tanpa menatap kakaknya tersebut.

Baekhyun yang merasa adiknya tersebut agak berbeda pun langsung menanyakan hal tersebut. "Ada apa denganmu Sehunnie?"

Sehun menggibaskan tangannya. "Tak apa hyung, aku hanya lelah, aku ingin beristirahat." Sehun masuk ke kamarnya.

Di dalam kamar Sehun menangis tersedu-sedu. Oh Tuhan! Kenapa hidupku menyedihkan sekali?! Renungnya di dalam hati.

Kini tepat pukul 11 malam, namun Sehun belum juga menutup matanya untuk tidur. Ia masih terbayang-bayang dengan seorang Kyungsoo yang tega meninggalkannya. Bahkan ia tak pernah terbayang bahwa barang pemberian Sehun ia buang.

Sehun tahu, bahwa sebuah hubungan itu di awali dengan ikatan, dan berakhir dengan pelepasan. Sehun tahu itu, itu memang resiko orang berpacaran, namun yang membuatnya menangis seperti sekarang ini adalah 'Kyunsoo yang tega membuang bunga terakhirnya.'

Sehun menagis lagi.

. .

Di lantai satu sana, Baekhyun yang sedang menutup pintu karena Chanyeol telah berpamitan pulang merasa khawatir pada adiknya. Ia pun memutuskan untuk pergi ke kamar adiknya.

.

.

CKLEK

.

.

Ia menatap Sehun tang terbaring membelakanginya. "Sehunnie? Apa kau sudah tidur?" Baekhyun berjalan mendekat, dan tetap menatap punggung Sehun. Baekhyun mendudukkan dirinya di atas tempat tidur Sehun.

"Sehunnie, aku yakin, kau pasti belum tidur. Apakah kau menangis?" Baekhyun membungkukkan badannya untuk menatap Sehun.

Bagaimana Baekhyun tahu semua itu? Sehun yang belum tidur, baru saja menangis. Padahal ia sudah menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.

"Aku tahu kau belum tidur dan baru saja menangis. Nafasmu masih sesenggukkan, Sehunnie." Baekhyun mengguncangkan tubuh Sehun.

Dengan sedikit terpaksa Sehun membalikkan tubuhnya dan menyingkap selimut yang menutupi kepalanya dan menghadap Baekhyun. "OMO! Kau kenapa Sehunnie? Kau terlihat.. . . . eerrrrrrr. . . . .Jelek."

Sehun mempoutkan bibirnya, "yah hyung, kau bukannya menghibur malah mengejek."

"Hehehehe, iya Sehunnie, tapi jika keadaanmu seperti ini benar-benar jelek, seperti monster hula hop dengan mata merah yang melotot seperti akan keluar, bibir bengkak seperti belahan duren, juga hidungmu yang juga bengkak seperti pantat kodok yang sedang berjongkok─"

"Hyuuuungg. . . ." Sehun merengek. "Aku ini dongsaengmu, tapi dengan jahatnya kau mengataiku seperti monster hula hop? Oohhh, so jahat sekali, dan apa itu monster hula hop?"

"entahlahh, aku hanya mengoceh. Dan kenapa dengan dirimu?" Baekhyun kembali ke jalan yang benar (?)

Sehun menyingkap selimut yang berada di bagian tubuh atasnya. Lalu manaruh tangannya di atas perutnya. "Hyung, aku─"

"OMO! Apa? Jadi, kau hamil? Ohhh, jangan begitu Sehun, kau membuat hatiku terluka oohhh. Hatiku sakit X_x" Baekhyun nerocos.

Sehun yang merasa mulai sebal dengan hyungnya, kini membentaknya, "HYUNG! Aku belum selesai bicara eoh! Jangan memutuskan perkataanku!"

Baekhyun terlihat sedikit memelas, "Aku tak memutuskanmu Sehunnie, lihat sekarang kita masih bersama kan?" Baekhyun pura-pura mengusap air mata yang sebenarnya tak ada.

"HYUNG! Kau lebih baik keluar saja dari kamarku eoh!" Sehun menunjuk pintu kamarnya.

Baekhyun beranjak turun dari tempat tidur Sehun, "Oke fix, aku keluar! Gud bai Sehunnie." Sehun sweatdrop. Baekhyun mulai berjalan menuju pintu, namun setelah beberapa langkah Baekhyun kembali berlari menuju tempat tidur Sehun dan,

.

.

BRRUUKKKKK

.

.

Ternyata seorang Baekhyun kembali jatuh terduduk kembali di tempat tidur Sehun, dan Sehun pun menjerit, "YA! Hyung kenapa kembali?!"

Baekhyun berdehem, "Ehm, disini Baekhyun akan mewawancarai seorang Sehun dengan, secara, sungguh-sungguh, serius." Baekhyun menarik guling yang di dekap Sehun, "Apa yang terjadi padamu hah?" Baekhyun menatap Sehun intens.

"Hyung, aku- aku- aku baru saja putus dengan Kyungsoo." Tangan Sehun bergetar.

"Kyungsoo?"

"Do Kyungsoo."

"Oh, iya, aku lupa. Kenapa? Siapa yang memutuskan?" Baekhyun tertarik.

"Tentu saja dia lah hyung. Jika aku yang memutuskan, mengapa aku menangis?"

"Bisa saja kan kau menyesal, atau apa begitu?" Baekhyun memonyongkan bibirnya.

Sehun menarik nafas, "Ani, hyung. Aku tak tahu kenapa dia memutuskanku. Katanya dia memutuskanku karena hatinya."

Baekhyun mengangguk-angguk. "Apa kau mengecewakannya?"

"Aku rasa tidak hyung."

"Mungkin dia butuh waktu sendiri, ayolah, jangan di pikirkan, pasti kau akan mendapatkan yang lebih baik Sehunnie." Baekhyun menasehatinya, "Kurasa kau mendapat masalah lain? Apa? Ceritakan saja, agar kau lega."

Sehun menarik nafas. "Hyung, sebelum ia memutuskanku tadi, aku memberinya sebuah buket bunga mawar."

"Lalu?"

"Kupikir ia akan menyimpannya. Tapi saat aku pulang, di bus lantai dua aku menemukan buket mawar yang aku berikan tadi kepada Kyungsoo. Ternyata ia membuangnya hyung."

Baekhyun merilekskan badannya, "Apa kau yakin itu buketmu?"

Sehun mendonggak, menahan tangisnya. "Tentu saja yakin hyung, karena bi bagian bawah buket tersebut aku memberinya kartu, dan di buket yang di buang itu juga ada kartunya."

"Apakah isinya sama? Apa isinya?"

Sehun menatap hyungnya. "Sama hyung, aku menuliskan 'Saranghae Kyungie Chagi'"

Baekhyun mengangguk-angguk. "Mungkin ada alasan ia membuang bungamu." Lalu ia menatap langit-langit kamar Sehun.

Sehun mengambil tisu, lalu menatap hyungnya, "Apa?"

Baekhyun menatap kembali adiknya, "Mungkin bungamu itu terjatuh ke got sewaktu Kyungsoo berjalan menuju ke halte, setelah ia ambil bungamu dan berdiri, ia terserempet sepeda anak-anak sekolah, lalu bungamu terbang ke jalan dan dari selatan ada sebuah truk container menelindas bungamu, dan saat Kyungsoo akan mengambilnya, tiba-tiba seekor anjing bulldog menyebrang jalan dan anjing tersebut eek di bungamu. Lalu saat kyungsoo ingin menyimpannya, ia sudah tak tega karena hanya mencium bungamu dengan radius 5 meter, ia akan pingsan. Setelah ia naik ke dalam bus, ia menaruh bungamu ke tempat peristirahatan terakhir. . . . . .TEMPAT SAMPAHHHHH."

Sebenarnya saat Baekhyun telah memulai ocehannya, Sehun telah sweatdrop di tempat karena ia yakin, cerita hyungnya itu sangatlah ngigo. NGI to the GO

"Hyung, jika itu yang terjadi pada bungaku, maka aku menemukan bunga itu kondisinya telah berodol atau pelontosss." Ucap Sehun dengan desisisan 's' di akhir.

"Memang kau menemukan bungamu itu dengan keadaan utuh?"

Sehun mengambil air mineral yang berada di nakasnya, lalu menenggaknya. "Uheuuum."

Baekhyun berpikir, "Mungkin tadi Kyungsoo tak sengaja menjatuhkan bungamu tepat di atas eek kodok, dan karena bau, ia membuangnya."

Sehun hampir menyemburkan minumnya, "Mana mungkin!" lalu ia meletakkan air mineralnya kembali.

"ooohh, kau sabar saja ya Sehunnie. Mending mulai sekarang kau berusaha move on." Kata Baekhyun dengan mantap.

"Tapi aku ragu hyung jika aku dapat move on dalam waktu singkat." Wajah Sehun memelas.

Baekhyun tersenyum menanggapinya, "Sehunnie, sebuah move on itu memang tidaklah mudah, sayang. Move on itu ada prosesnya, dan juga membutuhkan waktu."

Sehun menarik bantalnya, "Bagaimana caranya bisa move on cepat hyung?"

"Emmm, jika kau bisa menemukan penggantinya secara cepat, maka secara artinya kau telah move on." Baekhyun mengerlingkan mata pada Sehun.

"Tapi jika aku tidak bisa move on?" Sehun bersungut-sungut.

"Aku yakin kau bisa move on. Ya, tergantung itu tadi, waktu. Ini semua hanya tinggal waktu. Aku yakin, cepat atau lambat kau akan menemukan penggantinya." Baekhyun tersenyum dan mengelus kepala Sehun.

Sehun menghela nafas berat. Hyungnya ini memang agak aneh, terkadang sifatnya hiperaktif tidak bisa diam, terkadang juga bijak seperti sekarang. Walaupun hyungnya ini random, tapi Sehun sangat menyayanginya. Karna di dunia ini hanya Baekhyunlah yang ia punya.

Sehun kembali menatap Baekhyun, "Terimakasih hyung atas nasehatnya." Sehun memeluk pinggang Baekhyun.

"Ahhh, itu memang tugasku sebagai kakak untukmu Sehunnie." Baekhyun mengusap puncak kepala Sehun.

"Hyung, temani aku tiduuur." Rengek Sehun.

Baekhyun menajuhkan kepala Sehun dari badannya. Berpikir sebentar, "Ani. Aku tak mau tidur denganmu!" Baekhyun menolehkan kepalanya menghindari wajah Sehun.

"Jebal hyuuung."

Baekhyun yang melihat adiknya merengek pun langsung mengambil tindakan(?) ia menjejalkan guling Sehun yang sedari tadi ia peluk ke pangkuan Sehun lagi. Kemudian ia menarik selimut Sehun dan merebahkan dirinya di samping Sehun lalu memejamkan mata.

Sehun heran, bukannya tadi tidak mau? "Hei hyung! Katanya tadi kau tidak mau menemaniku tidur tapi─" Sehun berhenti memprotes hyungnya karena ia telah mendengar dengkuran halus darinya. Sehun tersenyum, menepuk pipi Baekhyun lalu manarik selimutnya, "Jaljayo hyung." Lalu ia pun juga jatuh tertidur di samping Baekhyun.

.

. .

Sehun menggerakkan tubuhnya, "UUAAAAHHHMMM." Lalu ia menatap sekitar, hyungnya sudah tidak ada. Ia mencoba duduk dan mencari slipper-nya yang entah nyungslep kemana. Kemudian ia berjalan menuruni tangga.

Aroma khas tepung terigu yang dibalut dengan telur dan gula menguar di seluruh rumah. Baekhyun, namja imut tersebut sedang memasak pancake madu untuk adik kesayangannya, Sehun.

"Hyung"

Baekhyun menoleh mendapati Sehun dengan wajah pucat "Aih, kau kenapa Sehunnie?"

Sehun menggerutkan alisnya. "Aku tidak apa-apa hyung, memang kenapa?"

"Kau terlihat pucat. Lihat saja di cermin." Ujar Baekhyun sambil menunjuk cermin.

Sehun melihat ke dalam cermin, setelahnya ia kembali berjalan ke arah meja makan, "Hyung, aku boleh tidak, tidak berangkat sekolah?" Tanya Sehun.

Baekhyun menoleh kembali, "Jika kau benar-benar sakit, kau istirahat saja di rumah."

Sehun mengangguk lalu duduk di kursi meja makan. Baekhyun meletakkan piring yang berisi pancake di depan Sehun. "Ini makan, agar kau cepat sembuh." Sehun tersenyum.

..

. . .

Matahari mulai meninggi, menghangatkan suhu kota Seoul perlahan-lahan. Seorang namja mungil tengah menenteng bukunya dan memasuk ke dalam mobilnya. Ia kemudian menekan tombol on pada mesin. Perlahan ia pergi meniggalkan rumah mungil di belakangya.

Sehun melambai pada mobel tersebut. Ternyata namja mungil tadi adalah hyungnya, Baekhyun yang akan pergi kuliah. Lalu ia kembali masuk kembali ke dalam rumah.

Sehun merebahkan dirinya ke sofa depan televisi. Ia bosan hari ini, tak ada yang menemaninya. Apa lagi dengan kondisi Sehun yang sedang demam ringan.

Sehun menyalakan tv dan mengganti-ganti channelnya menggunakan remote. Dari tadi sebenarnya ada yang telah mengusik aktivitas Sehun, yaitu sebuah benda persegi panjang berwarna putih melekat di dahinya. Ya, benda tersebut adalah kompres demam.

Sehun mendengus kesal, tentu saja, karena seorang Baekhyun menempelkan kompres demam ber merk 'bye bye fever'. Iya Sehun tahu bahwa merk itu di khususkan untuk bayi dan anak-anak, tapi seorang Baekhyun mau kau lawan? Bisa di gantung kau.

Karena hyungnya telah pergi, ia melepaskan kompres demam abal-abalnya dan mengganti dengan kompres kain yang di rendam di alkohol. Ia menatap kosong layar tv-nya hingga matanya yang mulai kabur dan gelap. Sehun kini telah tertidur di atas sofa dengan televisi yang masih menyala.

.

. .

"ANNYEONGGGGGG!" Baekhyun berteriak saat memasuki rumah, dan membuat Sehun yang sedang tertidur di sofa menggeliat dan menendang sandaran sofa hingga membuatnya terjatuh.

.

.

BRUUKKK

.

.

"ADAWWW!" pekik Sehun.

Baekhyun kaget oleh pekikan Sehun yang berada di depan televisi, "OMO! Sehunnie, jika kau mengantuk, kau tidur saja di kamar, atau kau mau menonton tv sekaligus tidur, kau seharusnya di sofa Sehun, bukan di lantai. Nanti kau sakit eoh!"

Sehun membalikkan badannya hingga terlentang, "Heh, hyung, aku tadi tidur di sofa dengan nyaman sebelum seorang Baekyun memekik dengan suaranya setinggi 3 oktaf"

Baekhyun membulatkan matanya. "Jinjayo, ku kira kau menyayangi lantai hingga kau peluk-peluk seperti itu."

Sehun menggerlingkan matanya, "Terserah."

"Kau sudah makan?" Tanya Baekhyun.

"Belum."

Kemudian di dalam dapur Baekhyun sedang menelepon seseorang di seberang sana. Ia kemudian berjalan menuju ke ruang tengah dengan membawa dua kotak yogurt strawberry dingin. "Kau mau?" tanyanya kepada Sehun

"Boleh." Kemudian Sehun kemudian menjulurkan tangannya kearah yogurt tersebut.

Telepon Baekhyun bordering kembali, ia mengangkatnya. "Yoboseyo?"

"Ooh, ya, boleh. Cepat."

"Euhem, aku tunggu."

Baekhyun menutup teleponnya dan menatap televisinya. Konsentrasinya terbuyarkan saat ia mendengar suara bel rumahnya.

.

.

TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT

.

.

Kali ini bukan suara bel rumah Baekhyun yang berbeda, suara tersebut terjadi karena bel rumahnya yang di pencet dengan kecepatan 6 pencet(?)/sekon.

Baekhyun berjalan menuju pintu, Sehun menatap hyungnya sambil mengernyitkan dahi. Baekhyun melihat seseorang namja yang berpawakan lucu menggunakan topi dan tersenyum. Oh, jangan lupakan bibirnya jika ia tersenyum seperti senyum joker.

Baekhyun membuka pintunya, "KAU MAU MERUSAKKAN BELKU HUH? BEL ITU MAHAL! BAHKAN KAU TAK BISA MEMBELINYA! BEL INI DI BELI APPA DARI PERANCIS!"

Namja itu mendongak dan cekikikan dan selanjutnya tertawa terbahak-bahak.

"Memangnya berapa harga bel tersebut huh?" Tanyanya.

"500 dolar amerika!" jawab Baekhyun. Kemudian ia melanjutkan, "Apa kau percaya?"

Namja itu menggeleng, "Ani."

Baekhyun menggendikkan bahunya. "Aku juga."

Seketika namja itu langsung memukul pelan bahu Baekhyun.

"Ayo masuk," Ajak Baekhyun.

Namja itu mengikuti Baekhyun masuk ke rumahnya yang kemudian di sambut oleh Sehun. "Annyeong Chen hyung."

Chen tersenyum, "Annyeong."

Baekhyun kemudian berjalan menuju dapur untuk mengambilkan sekotak yogurt lagi untuk Chen. Chen membalas perlakuan Baekhyun pun tersenyum.

Percakapan antara Baekhyun dan Chen berlanjut, sementara Sehun, ia sedang melihat televisi di depannya, hingga suara itu pun kembali.

.

.

TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT

.

.

Baekhyun berteriak frustasi, "YA SIAPA YANG MEMENCET BELKU SEPERTI ITU LAGI HAH?" Ia berjalan menuju ke pintu, membukanya dan langsung berteriak. "HEI! KAU INGIN MERUSAKKAN RUMAHKU APA? DAN MERUSAKKAN GENDANG TELINGAKU APA? KAU BISA KAN MEMENCET BELNYA HANYA SEKALI."

Kemudian ia menatap orang tersebut, ia menggunakan baju berwarna merah dengan topi yang senada dan sebuah name tag tertulis di dada kiri orang tersebut, "Ma-ma-ma-af tuan, tapi saya tadi hanya memencet bel rumah anda sekali."

Baekhyun yang tadinya menatap tajam orang itu kemudian berpaling menatap bel rumahnya. Ia memencetnya sekali.

.

.

TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT

.

.

Benar. Batin Baekhyun, "Oh, kau benar. Maaf atas kurang sopannya saya."

Orang tersebut mengangguk. "ini pesanan anda, sebuah pizza ukuran party."

Baekhyun menerima kotak tersebut dan merogoh celananya untuk mengambil uang. Setelahnya ia kembali menuju ke ruang tengah.

"Siapa mau pizza?" Tawar Baekhyun.

Sehun dan Chen menatap Baekhyun dengan berbinar. "Aku." Ucapnya bersamaan.

Kemudian Baekhyun meletakkan pizza tersebut di atas meja. "Silakan. Well, bagi kau, Chen. Kau hanya boleh makan satu potong saja."

Chen mendelik, "Waeyo?"

"Ganti rugi bel rumahku." Jawab Baekhyun datar.

"Terserah." Lalu Chen mengambil sepotong pizza dan melahapnya.

.

. .

Kini tepat pukul 5 sore, seorang Chen telah berpamitan kepada Baekhyun untuk pulang menjemput kekasihnya. Bakpao. Bukan bakpao beneran lohnya. Itu nama sebutannya saja.

Kemudian Baekhyun bergegas mandi, dan Sehun menatapnya heran. "Kau mau kemana hyung?"

Baekhyun berhenti, "Aku akan mandi lalu ke pesta mulik Suho hyung. Apa kau mau ikut?"

Sehun sedikit ragu, "Memang boleh?"

Baekhyun mengangguk. "Tentu saja. Kau disana dapat berkenalan dengan orang lain, dan melupakan mantanmu itu."

Sehun menelengkan kepalanya. "Sepertinya bagus, aku akan ikut."

Sehun lalu menuju ke kamar mandi di lantai dua. Dan Baekhyun, mandi di kamar mandi lantai pertama.

.

. .

Baekhyun dan Sehun telah selesai mandi, kemudian mereka mendengar suara itu kembali

.

.

TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT TING NOT

.

.

Kurasa bel rumah ini benar-benar rusak. Pikir keduanya. Lalu Sehun membuka pintunnya. Ia mendapati sebuah gigi lebar, eh bukan giginya, tapi senyumnya. "Oh, Chanyeol hyung! Mari masuk."

"Terimakasih. Well, apa bel rumahmu di ganti? Kurasa kalian telinganya masih sehat." Ucap Chanyeol sembari mengikuti Sehun.

Sehun mengerlingkan matanya, "Chen hyung yang menyebabkannya." Chanyeol langsung ber-'ooh' ria.

Baekhyun masuk ke ruang tengah. "Ayo, sekarang saja Chanyeol, kita bisa terlambat."

Sehun menatap Baekhyun dengan heran. "Hyung, apa kau ke party hanya akan menggunakan Celana jeans hitam dan kaus polo?"

"Tentu saja." Jawab Baekhyun enteng.

Sehun mengendikkan bahu dan mengikuti dua pasang sejoli tersebut di belakangnya. Mereka memasuki mobil Chanyeol dan berangkat menuju ke mansion Suho. Selama perjalanan Baekhyun dan Chanyeol berbicara sesuatu yang tidak di pahami Sehun, dan Sehun sendiri hanya mendengarkan music dari i-pod nya.

.

. .

Sesampainya di pesta tersebut Sehun sangat heran. Bukankah sebuah party harusnya terhiasi oleh barang-barang lucu? Tapi ini hanya seperti ruang aula yang tersebar bantal-bantal berukuran kecil hingga yang besar. Ia menatap pojok ruangan. Sebuah kotak besar yang ber stiker 'fragile' di atasnya.

Sehun duduk di samping Baekhyun yang sedang bermesraan dengan Chanyeol.

"Annyeonghaseo" Suara lembut tersebut menginterupsi Sehun.

"Bagaimana kabar kalian semua? Sudah siap untuk party ini? Semangat ya! Party akan di mulai, beberapa saat lagi." ucap namja tersebut sembari menurunkan mic-nya.

Tiba-tiba, lampu di ruangan tersebut bertambah terang. Namja tersebut memberikan aba-aba. "Kita mulai! Yak!"

Semua orang dengan pasangannya masing-masing mulai bermain-main yang membuat Sehun membeku. Benar-benar membeku, ia menatap hyungnya yang melakukan hal yang sama.

Sehun merasakan matanya pedih, sangat pedih. Bahkan hatinya kembali hancur karena pesta ini. Karena pesta ini adalah sebuah pesta─

.

.

.

.

.

END *plak* TBC kok

.

.

Anyyeong! *dadah dadah cantik* hohohoho. Saya seneng banget reviewnya lebih dari yang saya harapkan. Jika mau lanjutannya, Review dooong! Ayo semangat reviewnya! Oh ya, saya juga punya ff Baekyeol. Jika ini reviewnya banyak, maka saya akan publis tuh baekyeol. Well, fakta D.O kenapa mebuang bunganya nanti bakal terungkap. Tunggu saja, oke? *ngomong sendiri thor?* dan mungkin semua couple akan muncul. Dan juga, mianhae jika comedynya ngga lucu dan chapter ini agak suntuk karena saya ngetiknya sewaktu ada rumor Kris ituu. Hiks, saya juga sedih.

Well, sekian note dari saya, terimakasih yang udah review. Kamsahamnida!