Disclaimer: Masashi kishimoto
Pairing: Narufem!Sasu
Warning: AU, Genderbender, OC, OOC, typo, alur berantakan, dst
Ikatan
chapter 2
Normal POV
Di sebuah apartemen kecil
"Ohayou kaa, eeh?"
Naruto baru bangun dan keluar dari kamarnya, tak ada orang lain selain dirinya, sepertinya ibunya telah berangkat kerja lebih dulu, untungnya saat ini ia tak kesiangan seperti hari kemarin, dilihatnya meja makan, ada telur dadar dan segelas susu, juga sebuah kertas berisi catatan. Naruto membaca catatan itu dan mengangguk, "dasar, selalu sibuk setiap saat, untuk sekedar pamit secara langsungpun tak bisa." keluhnya, ia pun duduk dan menyantap sarapan sebelum dingin, ibunya sangat jarang meluangkan waktu untuk pemuda bersurai kuning ini, semenjak ia menjadi orang tua tunggal, jadwalnya pun semakin padat.
Setelah selesai ia pun mandi dan mempersiapkan diri untuk berangkat sekolah, ya, walaupun menjadi korban pembullyan, tetapi Naruto sangat jarang bolos sekolah, ia masih menikmatinya walaupun harusnya sudah tak ada yang dapat dinikmati lagi dari sekolah. Ia tak takut jika dijahili secara fisik, ia bahkan tidak peduli, justru yang membuat dirinya risih jika aibnya dibicarakan siswa-siswa.
Kali ini Naruto mengayuh sepedanya dengan santai, ia masih memiliki banyak waktu, mungkin ia akan memutari taman dulu sambil menikmati kicauan burung di pagi hari, tentu saja tidak mungkin, itu bukan Naruto banget, bocah itu lebih memilih mampir ke minimarket untuk membeli majalah shonen jump edisi terbaru untuk dibaca di WC ketika dia bosan, tapi sayangnya uang sakunya sedang tipis, jadi ia menggelengkan kepalanya lagi, dan memilih untuk langsung ke sekolah saja.
FYUUUH
Setelah memarkirkan sepedanya, ia mengembus lega dengan tatapan bangga, seakan mengatakan ' lihatlah aku, keren kan? datang pagi, contohlah aku.'
Tak lama ada dua orang siswa yang membicarakannya.
"Hei, lihat si bodoh itu, bodoh sekali ya, parkir di parkiran wanita."
"Mungkin dia merasa kalau dirinya itu wanita."
Seketika Naruto cemberut dengan wajah memerah karena malu, ya, siswa garang ternyata juga manusia, ia pun memindahkan sepedanya ke tempat seharusnya, dan kemudian masuk kedalam gedung sekolahnya. Ia menuju loker untuk menaruh beberapa barang miliknya, dan, ketika ia melihat siapa yang berada di dekat lokernya, ia langsung kaget.
Sasuke Uchiha, gadis yang menurutnya sangat absurd.
"Apa yang kau lakukan di lokerku?" tanya Naruto dengan emosi.
"Lokerku berada di sebelah lokermu." ujar Sasuke datar, bahkan tak menoleh, ia tak mempedulikan Naruto.
"Kalau kau coba-coba mengerjaiku seperti yang lain, maka kau akan tahu akibatnya." ujar Naruto tanpa mendapat respon.
Mereka berdua pun membuka loker masing-masing, dan tentu saja emosi Naruto meningkat saat dilihatnya banyak sampah di loker bocah itu, tentu saja ia yakin sedang dikerjai, langsung ia tengok Sasuke dan mulai memakinya.
"Teme sialaan, apa maumu haah?"
"Tidak, bukan aku pelakunya." ujarnya datar, seperti sebelumnya.
"Tidak usah berbohong!"
"Kau boleh lihat isi lokerku." ujar Sasuke.
Naruto melihat loker gadis itu, ia langsung murung, isi lokernya telah dilumuri cat merah, buku-buku yang Sasuke simpan pun tak luput dari cat tersebut, lalu di dinding loker banyak coretan cat berbentuk huruf kanji bertuliskan mati dan sial. Naruto menyerah, ia tak jadi marah pada Sasuke, bahkan menurutnya apa yang dialami gadis itu lebih parah dari apa yang dialaminya, bahkan isi loker Naruto pun hanya barang-barang tak penting. Ia melihat wajah Sasuke, tak ada ekspresi marah atau sedih, wajahnya tak memunculkan ekspresi, Naruto pun menepuk pundak Sasuke lalu kemudian pergi.
"Gomenasai Teme."
~oOo~
Normal POV
Di Kelas
Naruto terlelap dalam mimpinya saat sebuah tangan menepuk pundaknya, bocah itu terbangun, ternyata Anko sensei, Naruto menatap bingung, seperti tatapan 'apa yang terjadi' Naruto bergidik ketakutan melihat sneseinya dipenuhi dengan aura hitam. Naruto pun langsung berpura-pura membaca buku, tetapi terlambat kepalan Anko sensei sudah semakin keras, Anko sensei terkenal dikalangan siswa sebagai guru wanita paling galak, bahkan seorang Naruto pun ngeri dibuatnya.
"Na... Ru... To..., padahal istirahat tinggal sebentar lagi, namun kau masih sempat tidur di kelasku.."
Naruto memejamkan matanya dan tangannya melindungi wajahnya, sebuah antisipasi untuk melindungi dari pukulan kesayangan Anko sensei. Banyak dari siswa yang ada di kelas dan memperhatikan hal ini, kebanyakan dari mereka tersenyum, bahkan ada yang tertawa, mereka senang melihat orang yang mereka benci tersiksa, namun Sasuke, gadis itu hanya memperhatikan sekilas, kemudian menoleh ke arah lain dengan raut muka yang tak bisa ditebak.
TREEEEENG
Bel istiraha berbunyi, Naruto selamat dari jitakan Anko sensei, ia lega, mungkin sepulang sekolah nanti ia akan mampir ke kuil untuk berterimakasih pada Dewa keberuntungan. Anko sensei cemberut, sementara siswa-siswa banyak yang mengumpat kasar, menyumpahi Naruto, karena bocah itu begitu beruntung, Naruto mengarahkan sedikit senyum kemenangan pada siswa-siswa yang menatapnya, untuk kemudian keluar dari kelas.
"Awas saja anak itu, kalau di pelajaranku dia tidur lagi, tidak akan kuampuni sampai keturunan selanjutnya!" umpat Anko sensei.
...
Naruto berjalan di koridor sekolah sambil menyeruput jus jeruk, dirinya dengan jus jeruk memang seperti langit dan awan, tak bisa dipisahkan, sangat lekat, beberapa siswa lewat, memandang jijik pada Naruto, dirinya sudah sangat biasa menghadapi pandangan seperti itu. Untungnya, hari ini kejahilan yang didapat Naruto tak sebanyak yang lalu-lalu, jadi dirinya boleh bernapas sedikit lega.
BRUUGH
Naruto berjalan dengan ceroboh, sehingga ia menabrak seseorang sampai terjatuh, ia hendak menolong orang itu, sampai begitu ia melihat bahwa yang ia tabrak tak lain adalah Sasuke. Sebenarnya ia enggan untuk menolong gadis itu, namun apa yang dialami gadis itu pagi tadi membuat Naruto bersimpati kepadanya, akhirnya Naruto menghilangkan egonya dan menolong Sasuke untuk berdiri.
"Oy Teme, dasar gadis lemah." ejek Naruto sambil mengulurkan tangannya pada Sasuke.
Sasuke menerimanya dan mencoba berdiri, kemudian ia memberihkan pakaiannya dari debu-debu, kemudian ia membungkuk untuk mengambil sebuah foto, membuat Naruto penasaran dengan foto tersebut, ia pun merebutnya dari tangan Sasuke dan segera melihat foto tersebut, dan..
"EEEEEEEEEEE!" Naruto terkejut.
Sekujur wajahnya memerah.
Bibirrrnya gemetar.
'T-teme si-sialan, ke-kenapa di-dia m-masih menyimpan f-foto i-itu..' Naruto bicara dalam hati.
"Kenapa? ini kan hanya fotomu yang sedang..."
Tanpa pikir panjang Naruto langsung membekap mulut sasuke di depan kerumunan orang yang lewat, sontak membuat kerumunan itu mengarah kepada mereka berdua. Naruto memberikan senyum seolah sedang tidak terjadi apa-apa, ia berjalan mundur membawa Sasuke yang masih ia bekap dengan keringat dingin, dan tawa yang dipaksakan.
"Hahahaha,, ano, ti-tidak t-terjadi apa-apa kok hahahaha, gadis ini hanya memintaku mengajarinya menari, dan kini sedang kuajarkan hahaha." ujar Naruto kepada beberapa siswa yang menatap bingung ke arah mereka berdua.
Naruto lari menjauhi beberapa siswa itu sambil masih membekap Sasuke, dan akhirnya membawanya ke ruang olahraga yang kosong, di sana hanya ada mereka berdua sepertinya. Akhirnya Naruto melepas bekapannya, Sasuke bisa bernapas sekarang, kemudian menatap orang di depannya dengan ekspresi bingung, meminta penjelasan.
"Ck, kau ini! apa-apaan sih? sebenarnya apa maumu?" tanya Naruto langsung.
"Kau yang menabrakku Dobe, lagipula aku hanya ingin membuang foto tak berguna ini."
"Bukankah kemarin kau mengajakku untuk.."
"Sudah pasti kau tidak akan mau, lagipula aku tak selemah yang kau kira, aku akan melawannya sendiri."
~oOo~
Normal POV
"Melawannya sendiri?"
"Hnn."
"Jangan melakukan hal aneh, Teme!"
"Kau sampah pengecut."
Naruto kesal, benar-benar kesal, ia tidak terima dikatakan seperti itu, kalau saja yng di depannya itu seorang pria, pikirnya, ia akan langsung menghajarnya, seenaknya saja bicara seperti itu. Tapi ia juga mengingat bagaimana perlakuan para siswa terhadp Sasuke, ia melihat bagaimana loker gadis itu dirusak, penderitaan mereka sebenarnya sama, tapi tetap saja membalas perlakuan mereka adalah hal yang menurut Naruto adalah tindakan bodoh.
"Hei Uchiha, memangnya kenapa kau sebegitunya ingin membalas mereka?"
Sasuke diam, tak menjawab.
"Hei, apa yang kau alami, aku juga mengalaminya, tahu! dulu aku juga sempat berpikir begitu, namun tak ada gunanya, dengan membalas mereka apa yang akan kau dapat? kau tak akan dapat pengakuan." ceramah Naruto.
Sasuke masih diiam.
"Huuh, kau ini keras kepala sekali sih, Teme!"
Sasuke masih saja membatu.
"Baiklah baiklah! aku akan membantumu, tapi sekali ini saja! karena aku simpati terhadapmu, tapi untuk seterusnya aku tidak mau terlibat, mengerti?"
"Hnn." hanya itu Jawaban yang keluar dari mulut gadis bernama Sasuke Uchiha ini.
'Dasar gadis sialan, bisa-bisanya dia hanya membalas singkat!' maki Naruto dalam hati.
"Baiklah, kau bilang bahwa kau pintar kan? lalu apa rencanamu?"
Lalu Sasuke dengan singkat menjelaskan rencananya pada Naruto, ada beberapa bagian yang Naruto tidak mengerti, dan akhirnya membuat Sasuke harus menjelaskan ulang lagi, memang dasar otak Naruto lambat. Akhirnya merekapun keluar dari ruang olahraga, meninggalkan ruangan yang kosong itu, namun tanpa sadar di sebuah sudut dekat pintu keluar yang lain, jauh dari posisi Sasuke dan Naruto bicara tadi, ada seorang siswa yang sedang mencoba tidur dan kini sedang mengucek matanya.
"Mendokusei, mereka berisik sekali, menganggu rencana tidur siangku yang tenang saja, eh."
...
Selesai pelajaran
Tiga orang siswi, berjalan di koridor mereka saling mengobrol dan bercanda, mereka saling membicarakan tentang gadis yang sering mereka usili, "tapi, apakah kalian sadar? saat pelajaran Terumi-sensei tadi, gadis Uchiha itu terlihat beberapa kali memperhatikan bocah Namikaze, jangan-jangan, gadis itu menyimpan rasa padanya, hahaha..." tawa mereka semakin jadi, sungguh hal yang menggelikan bagi mereka bertiga. "Hei Tenten, itu berita yang menarik, bukankah lucu jika para siswa mendengar kabar bahwa dua orang tertindas di sekolah akhirnya pacaran? hahaha.."
"Gadis dan pemuda tak berguna, hanya jadi sampah masyarakat, mungkin mereka sedang merencanakan bunuh diri bersama hahahaha.."
Mereka asyik tertawa ketika Sasuke lewat di depn mereka dengan raut wajah poker face miliknya, tentu saja Sasuke menarik perhatian mereka bertiga, tapi dalam artian yang buruk, mereka mengejek gadis dengan bola mata onyx itu tanpa rasa bersalah, sementara yang diejek sebenarnya mendengar, namun ia sama sekali tak peduli, malah sedikit tersenyum. Tiga orang siswi itu pun tiba di depan loker mereka, tidak ada hal yang aneh yang mereka lihat di sana, namun begitu mereka masing-masing membuka loker mereka, mereka terkejut. Loker mereka bertiga dipenuhi sampah, tentu saja dengan jijik mereka mundur, tiga gadis itu marah, wajahnya memerah, salah satu dari mereka hampir menangis.
"Sialaaaaan!"
"Si-siapa?"
"Si-siapa yang berani melakukan hal seperti ini?"
"Aku akan melaporkan hal ini pada ibukuuuuu!"
"Tunggu dulu, sepertinya aku tahu siapa yang berbuat seperti ini." kata salah satu dari gadis itu.
"Siapa?" tanya dua gadis yang lain bersamaan, dengan nada marah.
"Siapa Temari? aku ingin menghajar pelakunya segera!"
"Menurut kalian, siapa lagi yang datang ke loker selain kita? bukankah tadi dia juga dari sini? si gadis itu.."
Mereka bertiga serentak berteriak.
"UCHIHA SIALAAAN!"
~oOo~
Normal POV
Di koridor sekolah, tiga gadis itu berlari mencari keberadaan Sasuke, gadis yang mencari masalah dengan mereka, seolah tidak tahu siapa mereka bertiga itu, mereka terus mencari anak ayam itu, julukan yang mereka berikan kepada Uchiha Sasuke. Kali ini mereka benar-benar akan memberikan pelajaran kepada gadis aak ayam itu, sebuah pelajaran yang tak akan terlupakan menurut mereka, entah nantinya siapa yang benar-benar akan mendapat pelajaran, namun pada saat itu mereka terlihat siap menerkam siapapun yang menghalangi. "Hei lihat." ucap salah satu gads itu seraya menunjuk jendela, ternyata ia melihat Sasuke berada di bawah sana, berada di halaman sekolah tepatnya, "itu bocah Uchiha."
"Lihat, dia sedang menyiram tanaman, sok baik, bahkan dia tidak merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya pada loker kita, huuh!."
Mereka bertigapun turun, berniat membalas perbuatan Sasuke, sementara gadis yang dituju tetap di tempatnya, tak berpindah, masih menyiram tanaman, Sasuke masih tetap tak menunjukan ekspresi apapun ketiga ketiga gadis itu telah sampai pada tujuannya. Sasuke diam bergeming tak berubah searahpun, ia kini dikepung oleh tiga gadis itu, gadis-gadis yang sedang mengepalkan tangannya, namun tak ada rasa takut ditunjukan oleh gadis bermarga Uchiha itu, malah ia terus menyirami tanaman dan tak mengacuhkan keberadaan tiga gadis itu.
"Hei anak ayam sialaan! kau kira kami ini hantu apa?" ujar Temari, salah satu gadis itu.
"Hnn?" Sasuke menanggapi.
"Hanya itu tanggapanmu, sialan?"
"Memangnya aku harus menjawab apa?" Sasuke bertanya balik, dengan nada dingin.
BRUUGH
Temari mendorong Sasuke hingga terjatuh, wajah gadis bersurai hitam itu kini tertutupi oleh rambutnya, seragamnya jelas kotor, Ssuke diam, sementara tiga gadis itu tertawa.
"Kau pantas mendapatkan ini Uchiha, hahahaha..., ini adalah buah dari kesalahanmu, kau adalah gadis yang mempunyai banyak kesalahan, kau terlahir sebagai seorang Uchiha yang kaya raya, kau cerdas, kau disenangi para pria, kau kuper, tidak bisa bergaul, dan selalu bersikap dingin kepada orang-orang, dasar Uchiha sombong.."
"Dan kesalahanmu yang paling parah, kau mengotori loker kami bertiga! kau pikir kau bisa balas dendam disini, haah?"
BYUUUR
"Kau pikir aku mau terlahir dari keluarga Uchiha? jangan sok tahu tentang sesuatu yang bahkan kau tidak tahu kenyataannya." ujar Sasuke dingin.
Sasuke bukan gadis lemah yang akan langsung menangis ketika diperlakukan seperti tadi, ia membalas perbuatan mereka, gadis itu mengarahkan selang serta menyemprotkan air pada mereka bertiga, cukup untuk membuat seragam mereka basah kuyup. Sasuke berdiri kembali dan kembali menyemprotkan air ke arah mereka bertiga sampai puas, sementara mereka bertiga berteriak karena baju mereka basah, juga karena merasa telah dipermalukan.
"Kalian dendam padaku? kalau begitu aku ingin melihat seberapa besar tekad kalian untuk membalas perbuatanku." ejek sasuke, kini ia sedikit tersenyum, sebuah senyum yang meremehkan, kemudian ia berlari menuju ke dalam gedung sekolah dan meninggalkan mereka bertiga
"UCHIHA SIALAAAAAN!" teriak mereka.
"Ayo, jangan biarkan gadis sombong itu bangga dengan apa yang telah diperbuatnya pada kita, kita buat Uchiha itu memakan omongannya sendiri, aku ingin menyiksanya hingga tak berbentuk! ayo kejar dia!" ujar Temari dan akhirnya mereka bertiga berlari mengikuti jejak Sasuke.
Sementara Naruto yang dari kejauhan telah melihat juga menguping seluruh percakapn tadi hanya bisa bersedekap dan memejamkan matanya seperti orang tidur.
"Hnn, Teme, dasar kau itu.."
...
Di Dalam Gedung Sekolah
Temari paling depan diantara dua gadis lainnya, ia yang paling kesal dengan perbuatan Sasuke, ia akan benar-benar menyiksa gadis Uchiha itu, tangannya mengepal erat. Naruto lewat di depan tiga gadis itu, lantas membuat mereka bertiga berhenti karena memang mereka telah kehilangan jejak Sasuke, ada baiknya mereka bertanya pada korban bully lainnya selain si gadis Uchiha, mungkin saja pemuda ini bisa diajak bekerja sama. Gadis-gadis itu menghampiri Naruto dan bertanya kepadanya.
"Namikaze, apa kau melihat gadis Uchiha?" tanya Temari.
"Gadis Uchiha itu siapa? kok aku baru mendengar nama marga itu ya?" tanya Naruto yang ternyata memang tidak pandai berpura-pura.
"Jangan belagak bodoh Namikaze! kami tahu kau mengerti maksud kami!" ujar Temari, kesal.
"Se-serius, aku tidak tahu siapa yang kalian maksud itu." elak Naruto.
"Dasar cowok bodoh! yang kami maksud itu Uchiha Sasuke, padahal kalian berdua selalu terlihat bersama belakangan ini."
"Etoo, kalau dia, ka-kalau dia, tadi aku melihatnya ke sana, ke arah WC wanita."ujar Naruto, seraya menunjukkan tangannya untuk meyakinkan ketiga gadis itu.
"Yosh! awas saja kalau kau bohong, akan kami beri pelajaran!" ancam Temari.
"Coba saja kalau kau bisa haha.." ujar Naruto pelan.
"Kau bilang apa barusan?" tanya Tenten, salah satu dari tiga gadis itu.
"Tidak ada." Naruto mengelak lagi, namun tiga gadis itu tidak mempedulikannya, mereka berlari ke arah WC, sementara Naruto mengikuti mereka diam-diam.
Sesampainya di depan WC tiga gadis itu berhenti sebentar, mecoba mengatur napas, Naruto dari jauhpun memperhatikan mereka, mereka tersenyum penuh kemenangan, juga bersumpah serapah kepada Sasuke. Tenten menyadari ada sesuatu yang tak biasa di WC ini, tapi mereka tidak tahu apa yang aneh, sengaja mereka tidak menggedor pintu WC itu agar menjadi kejutan untuk Sasuke, mereka membuka pelan pintu itu dan kemudian berteriak. "Anak ayam,, kami tahu kau ketakutan dan meringkuk di dalam WC.." mereka bingung, yang dicari sama sekali tak ada, "sial! mungkin saja dia ada di salah satu bilik WC ini, ayo kita buka satu-persatu.."
BLAAM
"Eh? siapa di sana?" tampaknya tiga gadis itu mulai ketakutan, mereka mulai membayangkan yang tidak-tidak.
"T-temari, pi-pintunya dikunci.."
Temari sadar, ia baru sadar sekarang, pukul lima, harusnya WC di lantai lima sudah dikunci, karena sudah tidak ad siswa lagi jam segini. sasuke mempermainkannya lagi.
~oOo~
Normal POV
Seorang gadis dan seorang pemuda tampak berjalan bersama, mereka baru saja pulang dari sekolah tepat di saat matahari akan tenggelam, pemuda itu menenteng tasnya dengan malas, seragamnya tampak acak-acakan, matanya tampak mengantuk. Sementara sang gadis, diam tanpa ekspresi, entah apa yang sedang dipikirkannya, pakaiannya sedikit kotor karena tadi ia terjatuh, Sasuke tak peduli itu. "Oyy Teme, apa tidak apa-apa kita meninggalkan mereka dengan keadaaan seperti itu?" walaupun berwajah garang namun ternyata Naruto masih memiliki rasa khawatir juga.
"Hnn, kau tak perlu khawatir, aku juga tidak sejahat itu, nanti akan ada anggota OSIS yang akan mengecek ulang setiap lantai, pasti dia sadar kalau ada tiga gadis yang terkunci dalam WC." penjelasannya makin membuat Naruto terkesima, ternyata gadis itu telah memikirkan rencana dengan matang.
"Aku kaget, ternyata mengotori loker mereka hanya umpan untuk mereka megejarmu, aku kira tadi itulah rencana utamanya." Naruto berjalan cepat agar bisa di samping Sasuke.
"Hnn."
"Kau masih saja jutek padaku ya, haha."
"Hnn."
'Ck, gadis ini, jutek sekali sih pada orang yang telah membantunya.'
"Tapi, apa kau tidak takut mereka akan laporkan hal ini pada guru? bisa-bisa kita mendapat hukuman kan?" Naruto menanyakan hal seperti itu bukan berarti ia takut akan mendapatkan hukuman, ia bahkan sudah sangat sering mendapatkan hukuman, teramat sering hingga membuat guru-guru bosan, namun yang ia tkutkan adalah gadis di sampingnya itu, gadis itu terkenal pintar di mata guru, ia takut reputasi gadis itu akan hancur.
"Kau ini menyebalkan ya." ujar Sasuke.
"Eeeee?" Naruto tak mengerti.
"Wajahmu menunjukan bahwa kau khawatir kepadaku, aku kira kau itu cowok yang cuek." goda Sasuke.
"Si-sialan, siapa juga yang khawatir kepadamu? sok tahu sekali kau ini!" seru Naruto yang tak sadar ada semburat merah yng muncul di pipinya.
Tibalah mereka pada suatu taman, sudah sepi karena matahari sudah hampir tenggelam, Naruto menarik tangan Sasuke dang membawanya ke dalam taman itu, mata Sasuke terbelalak sesaat, baginya rasanya seperti berbeda. Mereka duduk di ayunan, Sasuke menggoyang-goyangkan kakinya, sementara Naruto menatap onyx yang berkilau di senja ini, yang pemuda itu pikir ini mengalahkan indahnya matahari yang terbenam sial, apa-apaan, Naruto jadi orang yang puitis begitu, itu bukan Naruto. "Teme, jadi bagaimana dengan guru? apa kita akan mendapat hukuman?'
"Kau tidak akan mendapat hukuman, kau hanya menunjukan jalan pada mereka, dan ketika kau mengunci WC itu, mereka tidak melihat wajahmu."
"Bukan itu.." Naruto memotong.
"Kemungkinanku untuk dihukum juga sedikit, mereka tidak memiliki bukti kalau aku yang melakukan hal itu pada mereka."
"Syukurlah." Naruto bisa bernapas lega.
Seketika Naruto terpikir lagi oleh kata-kata sasuke ketika menjawab tiga gadis yang membullynya tadi, ia tidak habis pikir gadis itu mengalami penderitaan yang sama sepertinya, Naruto bisa merasakan seperti apa penderitaan Sasuke di sekolah, bedanya Naruto masih bisa hidup walaupun banyak cemoohan datang kepadanya, namun gadis ini, sepertinya dia menyembunyikan lukanya dibalik kosongnya ekspresi wajah yang ia tampilkan.
"Teme."
"Hnn?"
"Apa kau akan melanjutkan pembalasan dendam ini?"
"Hnn."
"Sudah kuduga, kau memang gadis yang keras kepala."
"..."
Naruto bangkit, matahari telah tenggelam, sementara Sasuke masih duduk di ayunan itu, pemuda dengan iris sapphire itu berjalan beberapa langkah, sementara Sasuke memperhatikan dari belakang. Kala itu di mata Sasuke, seperti ada yang berbeda pada diri pemuda yang sering berkelahi ini, sesuatu yang tak dapat dijelaskan olehnya, hanya saja, Sasuke pikir Naruto berbeda.
"Teme.."
"Hnn."
'Ckk, gadis ini benar-benar menyebalkan!'
"Tugasku sudah selesai kan?" tanya Naruto, ia mencoba sok keren.
"Hnn."
"Untuk selanjutnya, aku tidak mau membantumu lagi untuk membalas dendammu."
".."
"Tapi aku ingin membantumu agar kau memiliki teman, ya, teman-teman yang berharga."
"E-eh?"
"Untuk memulainya, izinkan aku menjadi temanmu, Teme, mungkin aku jadi teman pertamamu ya? hehe" pinta Naruto seraya menoleh ke arah Sasuke dengan senyuman yang hangat.
"Baka Dobe.." Sasuke menoleh ke arah lain.
Sasuke blushing.
Ya, hari telah berakhir, bulan mulai tampil dengan malu-malu, mereka berdua, entah apa yang akan terjadi pada mereka berdua nantinya,
Bersambung...
bales review dulu, sorry ya minna
Hikari: iya nih, narufemsasu jarang banget di fandom ini, ayo kita ramaikan dong hehehe
Rei: foto ya, aduh nanti jadi R dong ratednya wkwkwk masalah foto gak dibahas di chapter ini, nanti di chapter 4 or 5 mungkin akan dibahas hehehe
Inay-kun: hmm, akan sedikit panjang nanti aku PM aja ya
athena Uzuki: makasiii ^^ baca lagi ya
Khioneizys: ditunggu, nanti bkal tau kok itu foto apa hehehe
Yuuki hatsu: wah, itu bisa jadi refrensiku untuk buat fic selanjutnya tuh kayaknya hehehe
Hyuuhi Ga ara: hehehe, mari ramaikan fandom ini dengan narufemSasu, utuk oneshoot, kayaknya gabisa sekarang-sekarang ini deh, soalnya utng ficku udah numpuk abiss
natasya agustine 12: ini udah lanjut hehehe
guest: mkasih, silakan baca
Askasufa: Ada alasan dibalik itu, fotonya nanti juga dibahas kok, makasih udah nyemangatin kuuu hehehe
ChuaChuaAi: kalo kamu baca chapter ini kamu akan kaget, tenang aja, namanya gabakalan aku rubah kok hehehe, soalnya aku juga ngerasa aneh kalo namanya kuubah
Dark Exrcist: Ba-baka, i-ini bukan berarti a-aku senang dipuji olehmu, tahu *padahal blushing* *tsundere modeon* btw wordnya udah 3k lebih hehehe
Nakagawakirana: Sasuke lucu plus ngeselin, fixx wkwkkw btw maap ya udah bikin kamu nunggu lama
Author note
Gomen minna-san, aku tau mungkin cerita ini udah basi bagi kalian semua, aku minta maaf sebesar-besarnya karena baru update fic ini, fic yang pertama aku buat tahun 2015, baru aku lanjutin dua tahun kemudian, ada banyaka lasan kenapa fic ini terhambat dan jadi hiatus dua tahun, tapi bagiku ini adalah utang, dan utang harus dibayar, mulai sekarang Uchiha Azaka akan berusaha bangkit di fanficition dan berusaha menulis lagi, ya walaupun nyari mood nulisnya agak susah sih hehehe, dan ficku yang lain pun akan kuusahakan untuk kulanjutkan, ya walaupun aku ragu masih ada yang nunggu ficku apa enggak, palingan juga udah gak ada wkwkwk salahku karena kelamaan update, maaf ya, ceritaku mungkin makin nambah gak menarik hufft, tapi yaudahlah, alasan lain aku nulis karena buat nyenengin diriku sendiri, karena ada terlalu banyak imajinasi yang ingin kutuangkan disini, daripada dipendem sendiri, nanti yang ada malah jadi mengkhayal, lebih baik kutuangkan aja disini hehehe
jangan lupa review ya readers hehe
