UNLEASH
Chapter 5
KAIHUN KAIHUN KAIHUN
GS!hun
.
.
.
Because Jongin loves Sehun
.
.
"Hey."
"Jongin."
Jongin mengernyit dalam tidurnya saat merasa seseorang memanggil namanya. Sayangnya dia tak peduli, for the God's sake, dia masih mengantuk dan akan melanjutkan tidurnya.
"Hey, bangun."
Jongin menepis tangan yang mencolek pipinya, masih dengan matanya yang tertutup, lengkap dengan wajah tidurnya yang terganggu. Lelaki itu kembali melanjutkan tidurnya saat tangan itu sudah berhenti mencolek wajahnya.
"Jongin bangun, sudah sore."
Si pemilik suara sepertinya sudah mulai kesal dengan Jongin yang tidak kunjung bangun. Suaranya berubah menjadi sebuah rengekan dan Jongin dapat merasakan pipinya kembali ditusuk-tusuk menggunakan sebuah jari yang terasa lentik. Jongin juga dapat merasakan bahwa tubuhnya ditindih dengan tubuh lain dan dia bisa merasakan nafas orang itu di depan wajahnya.
"Bangun."
Suara itu malah sekarang terdengar seperti rengekan dan setelah berulangkali pipinya diserang dengan jari itu, akhirnya Jongin memutuskan untuk membuka matanya.
Belum sempat Jongin mengeluarkan kata makian pada siapapun yang berani mengganggu tidurnya, suara Jongin tercekat melihat pemandangan yang ada di depan wajahnya. Rasanya Jongin benar-benar ingin mengumpat.
The fuck, surga mana yang mempunyai bidadari secantik ini. Setidaknya itulah kalimat yang muncul di kepala Jongin yang belum sepenuhnya berfungsi.
"Ayo bangun, ini sudah sore."
God, even the voice is so heavenly. Rasanya seperti masih berada di alam mimpi. Suara bidadari di hadapannya ini lembut sekali, wajahnya sangat cantik dengan kulit putih bersih dengan hiasan pipi merona yang indah, ditambah rambut panjang berantakan yang sangat menggoda. Sekilas Jongin bisa melihat pundak mulus gadis itu dan juga payudara bulat telanjangnya yang menempel dengan dada bidangnya—tunggu, apa seorang bidadari memang telanjang? Because hella motherfather, Jongin bisa merasakan kulit mulus telanjang yang bersentuhan langsung dengan kulitnya yang sama-sama telanjang! Fuck! Apa dia sudah mati dan Tuhan mengirimkan seorang bidadari untuk menemaninya tidur? Please, Jongin yakin tadi dia tidak tertabrak apapun ataupun terkena serangan jantung yang bisa menyebabkan kematian. Lalu siapa bidadari ini?
"Yah Kim Jongin! Kenapa wajahmu idiot sekali!"
God, Jongin baru tahu kalau bidadari bisa mengumpat.
Jongin tersadar dari lamunannya memperhatikan wajah bidadari itu saat pipinya di tepuk-tepuk beberapa kali. Dia mengerjapkan matanya dan seperti terkejut menyadari kenyataan yang sebenarnya "Se-sehun?"
Ya Tuhan, ternyata bidadari telanjang itu adalah gadis yang tadi "bermain" dengannya sebelum tidur. Astaga, Jongin tak tahu kalau gadis itu terlihat sangat cantik dengan rambut berantakannya.
"Kau kenapa, huh?"
Jongin menggeleng menanggapi pertanyaan gadis itu, matanya masih belum bisa berpaling dari kecantikan gadis itu. Gila, selain terlihat sangat menggemaskan dan innocent saat mengantuk tadi, ternyata gadis itu terlihat jauh lebih cantik dengan messy bed hairnya. Ditambah tubuh mulusnya yang tidak terbalut sehelai benang pun. Tuhan, cobaan macam apa yang kau berikan pada little monsterku saat ini.
"Bangun! Kita hampir terlambat untuk melakukan survey!"
Sebuah kecupan didapatkan lelaki itu dari si pemilik suara merdu. Kecupannya ringan dan bahkan tidak sampai tiga detik, tapi rasanya membangkitkan sesuatu dalam hati lelaki itu. Bukan, bukan perasaan horny atau semacamnya, tapi seperti ada sebuah bunga yang mekar dalam hati imajinernya. Rasanya seperti mendapatkan sebuah ucapan selamat saat kau berulang tahun, tapi lebih bermakna dari itu. Seperti mendapat sebuah hadiah setelah kau bekerja keras, tapi juga lebih bermakna dari itu. Perasaannya menyenangkan. Jongin tak bisa menggambarkannya karena baru sekali ini dirasakan olehnya.
Secara reflex, Jongin melingkarkan tangan kekarnya pada pinggang ramping gadis yang menindih tubuhnya itu dan entah sadar atau tidak, Jongin balas mengecup ringan bibir gadis itu yang menyebabkan serangkaian tawa manis meluncur dari bibir manisnya.
"Yah! Hentikan!"
Gadis itu menyuruhnya berhenti di tengah tawanya, tapi Jongin tetap melakukannya karena rasanya aneh tapi menyenangkan. Dia baru tahu ternyata mengecup orang bisa semenyenangkan ini. Jongin semakin mengeratkan pelukannya dan kini berguling sehingga menyebabkan posisi mereka berubah, gadis itu berada di bawahnya dengan tangannya menumpu pada kedua sikunya sehingga berat badannya tidak menimpa gadis itu.
Lelaki itu memandang tepat di mata gadis yang berada di bawah kungkungannya, menatap tepat pada mata yang sedang memancarkan cahaya tawanya. Cantik. Sangat cantik. Mata itu seperti mengajaknya merasakan kebahagiaan dari tawa gadis itu, dan JOngin sepertinya tidak bisa lepas dari keindahan mata tersebut.
Entah dorongan dari mana, Jongin merendahkan wajahnya sehingga bibirnya bersentuhan tepat dengan bibir yang mengeluarkan suara tawa merdu tadi, secara perlahan menghentikan tawa itu dengan sebuah ciuman yang ringan. Ciuman itu polos, hanya pertemuan bibir dengan bibir. Tapi Jongin bisa merasakan hatinya menghangat, seperti musim kering yang mendapat hujan, seperti bunga yang bermekaran akibat hujan itu.
Ciuman itu terasa sangat menenangkan, rasanya seperti mendapatkan angin sejuk di tengah teriknya sinar matahari. Ini baru pertama kali dirasakannya, dan rasanya indah sekali. Ciuman itu, bibir itu, gadis itu. Jongin menyukainya.
Dan dia tahu, dia benar-benar sedang jatuh cinta.
.
.
.
Matahari nyaris kembali ke peraduannya saat mereka memutuskan untuk keluar hotel dan memulai survey mereka. Karena hari sudah mulai gelap, mereka akan memulai survey untuk mendata keindahan sekitar site pada malam hari. Biasanya akan ada kumpulan lampu-lampu, entah dari perumahan atau dari pantulan bulan yang bisa dijadikan sebagai acuan untuk mendesain proyek mereka.
Selain memfoto dan mencatat, mereka juga berkeliling untuk melihat potensi-potensi wisata yang ada di seikitar wilayah proyek mereka yang mungkin saja bisa dikembangkan keindahannya atau lokalitasnya. Selama jalan-jalan itu, keduanya sangat professional dan terlihat sekali bahwa mereka adalah orang-orang yang kompeten. Jongin mencatat apa yang diperlukan untuk desain keseluruhan proyeknya, sedangkan Sehun mencatat apa yang dia butuhkan untuk mendukung desain interior proyeknya. Keduanya juga bekerjasama dengan baik.
Meski sudah malam begini, Jongin akan mengakui kredibilitas gadis itu. Benar-benar berdedikasi dan Jongin sangat suka saat gadis itu mengobrol dnegan penduduk sekitar untuk bertanya-tanya tentang kegiatan maupun budaya mereka. Gadis itu sangat ramah dan senyumannya sangat cantik.
Sehun juga, selain mengakui ketampanan dan kharisma lelaki itu, dia semakin mengakui kompetensi si arsitek itu. pantas saja dia sempat ditempatkan di luar negeri, yang notabene permintaan proyeknya lebih advance dibanding sekedar mendesain proyek biasa. Menyenangkan juga bekerjasama dengan lelaki ini karena opini dan juga masukan-masukannya yang sangat membantu, terlepas dari betapa gilanya Sehun berusaha menahan hasratnya tiap kali lelaki itu bicara atau menggerakkan tubuhnya. Bercinta di meja rias tadi siang sangat menggairahkan, dan tadi sore Jongin tak henti-hentinya menciuminya. Ciumannya sangat lembut, dan entah merasa terlalu percaya diri atau bagaimana, Sehun merasa bahwa ciuman Jongin itu berbeda, seperti menuangkan perasaannya. Sehun yakin lelaki itu tak akan berhenti kalau tidak diingatkan tentang survey ini. Bukannya tak suka, tapi Sehun terlalu menyukainya sampai-sampai takut kalau dia menjadi kecanduan. Ah, bahkan rasanya dia sudah kecanduan pada lelaki itu secara keseluruhan. Entah dari kehadirannya, ciumannya, bahkan little monsternya. Ups, pikiran Sehun mulai berkeliaran.
"Ayo kita makan malam, kau pasti sudah lapar." Ajak Jongin saat dia selesai mencatat apa yang dibutuhkan olehnya pada tab miliknya.
Sehun mengangguk dan menyimpan note dan tabnya, memang sudah merasa lapar dari tadi tapi tugasnya belum selesai. "Ayo. Perutku sudah berdemo."
Jongin tertawa dengan jawabannya, ditambah wajah gadis itu yang sedang menggembungkan pipinya. Sangat manis, rasanya ingin menyubit pipinya.
Keduanya kemudian pindah untuk mencari restoran atau setidaknya rumah makan yang bisa mengenyangkan perut mereka.
.
.
.
Setidaknya sudah menjelang pukul 11 malam saat mereka sampai di hotel. Keduanya lelah tapi sudah cukup terobati dengan makanan lezat yang tadi mereka makan. Jongin masuk ke kamarnya, dan begitu pula Sehun.
Sehun memutuskan untuk mandi, sekaligus mendinginkan pikirannya yang selama survey tadi merasa amat sangat tergoda dengan si arsitek pindahan itu. Rasanya perlakuan Jongin sore tadi terasa berbeda, sepeti lebih gentle dari biasanya. Atau memang lelaki itu pada dasarnya adalah gentleman dan karena mereka baru bertemu beberapa minggu jadi perilakunya belum terlihat? Tapi sungguh, rasanya beda sekali. bahkan dulu Jongin selalu menolak saat Sehun menggodanya, tapi tadi Jongin terlihat biasa saja dan bahkan lebih sering tersenyum, yang sialnya senyumannya itu membuat Sehun meleleh.
Sehun memang masih menggodanya tadi, tapi hanya berupa candaan dan dia tahu Jongin tidak merasa terganggu. Dan lagi, tiap kali lelaki itu berucap, bibirnya selalu mengingatkannya pada ciuman mereka sebelum keluar hotel tadi. Ciuman lembut yang entah bagaimana menenangkan, tidak menimbulkan gairah yang melenceng. Dan tadi setelah makan malam Jongin melakukannya lagi. Demi semua reputasi kerjanya, Sehun merasa meleleh saat Jongin melakukannya. Rasanya hangat sekali dan membuatnya ingin terus melakukannya.
Pipinya memerah mengingatnya dan Sehun sadar akan hal itu, tapi dia menyangkalnya, menepisnya dengan berpikiran bahwa rona merah pada pipinya itu adalah karena air hangat dari bak mandinya, karena gadis itu sekarang memang sedang berendam.
Setengah jam berlalu dan Sehun memutuskan untuk keluar dari baknya saat kulit-kulit jarinya sudah mulai mengeriput dan kulitnya sudah terlalu memerah akibat terlalu lama terkena air hangat. Gadis itu mengeringkan tubuhnya dengan handuk dan memakai lotion untuk menjaga kelembaban kulitnya, kemudian memakai bathrobenya dan berjalan keluar dari kamar mandi.
Setelah memakai serangkaian produk kecantikan wajahnya, gadis itu membaringkan tubuhnya di kasur, masih dengan manggunakan bathrobenya tanpa sedikitpun berkeinginan untuk memakai pakaian dalam, karena pada dasarnyagadis itu memang tidak suka memakai pakaian dalam. Dia berguling-guling di kasurnya, niatnya ingin tidur tapi matanya menolak mengikuti keinginannya. Dia hanya memperhatikan langit-langit kamarnya yang polos sampai sebuah ide muncul di kepalanya: sepertinya menggoda Jongin akan menyenangkan. Apa lelaki itu sudah tidur, ya?
Sehun bangun dari kasurnya dan merapikan bathrobenya yang berantakan dan menatanya menjadi seseksi mungkin, juga memastikan agar rambutnya berantakan seperti model-model habis bercinta. Perlahan-lahan, gadis itu membuka pintu yang menghubungkan kamarnya dengan kamar lelaki itu, mengintip sedikit dan memutuskan untuk masuk saat dilihatnya Jongin sedang duduk di meja kerja kamar itu, sudah dengan pakaian tidurnya.
Lelaki itu terlihat sangat berkonsentrasi, bahkan dia sepertinya tidak menyadari kehadiran Sehun yang sudah berdiri di belakangnya. Di atas meja terdapat sebuah laptop dan jari-jari lelaki itu dengan lihainya menari-nari di atas keyboard untuk mengetik yang bisa Sehun asumsikan sebagai analisis data yang mereka dapatkan tadi.
"Hey." Sehun menyapanya dan memeluk bahunya dari belakang. Sehun sangat menyukai bahu lelaki itu karena terasa sangat kekar dan benar-benar hugable. Sepertinya lelaki itu terkejut karena pergerakan jarinya terhenti dan Sehun terkikik karenanya.
"Ku pikir kau sudah tidur." Sahut lelaki itu.
Sehun menggeleng dan menciumi leher lelaki itu. Rasanya seperti seorang istri yang memergoki suaminya tengah bekerja di malam hari, menyenangkan juga. "Aku tak bisa tidur."
"Tidakkah kau lelah?"
Sehun menangguk dan melepaskan pelukannya, berjalan ke depan lelaki itu dan duduk di pangkuannya seperti seekor koala. Gadis itu memeluk Jongin seperti seorang bayi dan menyandarkan kepalanya di dada bidang lelaki itu. "Aku mau tidur denganmu saja."
Jongin terlihat keheranan dan tak bisa berbuat apa-apa saat gadis itu sudah duduk di pangkuannya dan memeluknya seperti seekor koala. Pelukannya hangat dan Jongin tak dapat memprotes hal ini. Lelaki itu kemudian menyimpan pekerjaannya dan memusatkan seluruh atensinya pada gadis itu. Tangan kekarnya mengelus punggung gadis itu dan tangan satunya bermain di rambut berantakannya.
"Kau pikir kau seorang bayi bisa bersikap seperti ini, hm?"
"Aku bayi besar yang membutuhkan perhatian."
Jawaban gadis itu membuat Jongin tertawa. Jawabannya sangat sesuka hati sekali.
"Tapi kau tidak imut seperti bayi."
"Tapi aku cantik."
Oh my God, Jongin tak tahu gadis itu memiliki sisi sassy seperti itu. Jongin mencubit pinggang gadis itu yang membuatnya menepis tangan jahil si pelaku, kemudian kembali memeluk Jongin lagi.
"Jongin ayo pindah ke balkon."
"hm?"
"Ayo ke balkon."
"Untuk apa?"
"Disana pemandangannya bagus dan anginnya sejuk."
"Tapi ini sudah malam, kau bisa sakit dengan pakaian begini."
"Tapi ada kau, kau hangat."
"Heh, kau pikir aku akan memelukmu seperti ini?"
Sehun mengangguk dan mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah lelaki itu, memperlihatkan wajah memohonnya.
"Hentikan wajahmu memelasmu itu. Aku masih belum terbiasa. Bahkan mengingat kelakuanmu yang selalu menggodaku masih tak bisa kupercaya kau punya wajah sok imut begitu."
"Ish!" Sehun memukul dada lelaki itu dan kembali menyandarkan kepalanya disana. "Lagipula kau tidak menolakku lagi. Mottomu tidak mempan."
"Sialan." Jongin mengumpat, tapi memang benar apa yang dikatakan gadis itu. dengan mudahnya pertahanannya runtuh tiap kali gadis itu menggodanya. Bahkan dengan perilakunya yang bermanja-manja seperti ini pun Jongin sudah jelas kalah. Gadis itu sangat menggemaskan seperti ini dan Jongin tidak tega untuk menolaknya, atau lebih tepatnya lelaki itu juga menyukainya.
"Kau mau menggodaku, heh?"
"Menggoda apa?"
"Kau tidak memakai pakaian dalam, kan? Lalu kenapa datang ke kamarku?"
Sehun tertawa dengan jahil dan mengangguk. "Awalnya iya, tapi dada dan pelukanmu terlalu nyaman, aku jadi tidak mau melakukan apapun selain memeluknya."
Jongin mencubit pinggang gadis itu lagi sebagai hukuman seenaknya saja menjadikannya bahan pelukan, tapi setelahnya mereka terdiam menikmati suasanya yang tenang itu.
"Jongin, kau pernah berpacaran?"
Pertanyaan tiba-tiba dilontarkan oleh gadis itu, membuat Jongin mengernyit dan menggelengkan kepalanya. "Tidak." Jawabnya singkat.
Sehun menegakkan tubuhnya yang sedang bersandar di dada pria itu dengan cepat, dan memberikan tatapan sanksi pada lelaki itu. "Kau pasti berbohong!"
"Kenapa aku harus berbohong?"
"Yang benar saja lelaki sepertimu tidak pernah berpacaran."
"Aku serius belum pernah."
"Hell, kebohongan macam apa ini."
"Kau brengsek sekali, aku yang menjawab tapi kau yang tidak percaya."
"Tapi kau lihai sekali di ranjang."
"Memang dari mana kau tahu aku lihai, huh? Kau pernah melakukannya dengan pria lain sampai bisa menilaiku?"
Sehun menggeleng sebagai jawabannya.
"Lagipula pernah atau tidaknya aku berpacaran tidak ada urusannya dengan kemampuanku di ranjang."
"Ku pikir kau sering melakukannya dengan kekasihmu sampai kau lihai sekali. kalau iya kau pernah punya kekasih pasti wanita itu bahagia sekali kehidupan seksualnya."
"Astaga sebenarnya pembicaraan macam apa ini. Memangnya kau berpacaran hanya untuk kehidupan seksual?"
Sehun menggeleng lagi, dan Jongin hanya bisa mendengus dengan jawaban itu.
"Lalu kenapa kau tidak pernah berpacaran?"
"Belum ada yang membuatku menginginkan mereka lebih dari sekedar seks."
Sehun mengangguk dan kembali menyandarkan kepalanya pada dada bidang lelaki itu. Dia sendiri tidak pernah berpacaran jadi sesungguhnya dia tidak tahu apa yag harus dibicarakan mengenai hubungan seperti itu. Memang, banyak temannya yang sudah memiliki kekasih dan bahkan menikah, tapi Sehu bukan tipe orang yang suka bertanya atau ingin tahu kehidupan orang lain.
"Aku mulai mengantuk."
Sehun mengangguk menanggapi perkataan Jongin, karena dia juga sudah mulai mengantuk, dan dada hangat Jongin sangat sempurna untuk dijadikan tempat tidur.
"Sana kembali ke kamarmu dan tidurlah."
"Tidak mau, aku mau tidur bersamamu saja."
"Kau punya kamar sendiri."
"Biar saja, pokoknya mau tidur denganmu." Sehun menggembungkan pipinya dan semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Jongin. "Boleh, ya?" Sehun mendongakkan kepalanya dan memberikan tatapan memohonnya lagi. Lagi-lagi Jongin menghela nafasnya melihat wajah itu.
"Boleh tidur denganku asal tidak melakukan hal aneh."
Sehun terlihat sangat senang dengan jawaban itu dan dia kembali menyandarkan kepalanya. "Aye aye, captain!"
Jongin tersenyum dan membiarkan Sehun menggunakan dadanya sebagai alas tidurnya. Sebenarnya dari awal Jongin tidak keberatan menemani gadis itu tidur, hanya saja lelaki itu masih sedikit menutupi perasaannya. Yang benar saja, dia baru menyadari perasaannya tadi sore dan akan langsung membuatnya terlihat jelas di depan gadis itu? tentu saja tidak. Setidaknya Jongin harus benar-benar meyakini perasaan jatuh cintanya itu tulus bukan hanya karena mereka pernah melakukannya (meski dia sudah yakin 75%) sebelum dia menyatakannya. Jongin ingin hubungan yang serius dan berkomitmen, bukan sekedar pelepas nafsu.
Sejujurnya, keadaan mereka saat ini memang aneh. Baru bertemu sekitar dua minggu sebagai rekan kerja, sudah melakukan hal yang tidak-tidak beberapa kali, dan bahkan sekarang bertingkah seperti pasangan pada umumnya—tidur bersama dan sebagainya—yang bahkan tak pernah dibayangkan oleh Jongin sebelumnya. Menyesal? Tidak, hanya saja merasa aneh because this thing is so fucking new for him. Dia hanya berharap gadis itu juga memiliki rasa yang sama dengannya, meski agak mustahil mengingat status dan keadaan mereka yang seperti ini. Bisa saja gadis itu hanya memanfaatkannya untuk kepuasan seksualnya, kan? Bahkan gadis itu sendiri yang mengatakan kalau dia melakukannya hanya karena Jongin memiliki aura kelelakian yang sangat kental. Kalau benar gadis itu hanya memanfaatkannya, hell rasanya Jongin tidak sanggup disakiti gadis secantik dan semenggemaskan Sehun.
Haruskah Jongin membuat Sehun jatuh cinta padanya? Dengan makan malam romantis misalnya? atau dengan mengajaknya ke suatu tempat yang indah hanya berdua? cih, sangat tidak Jongin sekali dan bahkan mereka beberapa kali melakukan seks bersama lalu apa gunanya pergi ke suatu tempat berdua. Ah, yang jelas Jongin sepertinya tidak akan melakukan usaha apapun untuk membuat gadis itu jatuh cinta padanya. Lelaki ini masih menikmati rasa jatuh cinta yag baru pertama kali dirasakannya. Toh jiwa possesif nya belum bangkit dan sepertinya apa yang dirasakannya masih dalam tahap yang biasa-biasa saja. Waktu mereka masih banyak dan Jongin akan mencari tahu lebih banyak mengenai gadis itu dan menikmati tiap-tiap momen jatuh cintanya.
.
.
.
Ahra_22/11/2016
Aku semakin bingung dengan plot cerita ini hahha.
Lama tak berjumpa yaaaa semuanyaa hahaha. Kali ini aku membawa chapter tanpa adegan dewasa di dalamnya hahahha. Jangan kecewa, ya. Nanti kalau terlalu banyak adegan seperti itu ceritanya tidak berkembang, atau malah menjadi seperti pwp.
Aku membaca banyak review kalian, banyak yang meminta mereka menikah dan punya dedek gemay (sungguh aku baru menemukan kata "gemay" dari revie kalian hahaha awalnya aku tidak tahu arti kata itu lol). Nikah tidak yaaaa. Tapi perasaan sehun belum muncul, dan jongin juga belum 100% yakin dengan perasaaannya..
P.S.: untuk n4, aku rasanya ingin ngobrol banyak denganmu, tapi sayang sekali kamu selalu pakai guest account aku suka caramu mereview.
P.S.S.; ada yang pernah lihat story SHILL? Aku rasanya mengabaikan story itu, bahkan chapter 1 belum di publish ((
