Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto

Summary : Sekelumit kisah perjalanan hidup Hinata sang perawan mesum dalam menapaki jalan kedewasaan, bersama Naruto si gigolo submisif, apakah mungkin akan tersemai benih-benih cinta? [AU setting][Yang masih bocah, Husss! Jauh-jauh sana gih!]

Genre : Romance, Humor.

Rate : M

Setting : Alternate Universe

Warning : Typo, OOC, Gaje, Menistakan banyak chara dll.

Jum'at, 23 September 2016

Happy reading . . . . .

Menuju Impian

Chapter 2. Profesi Naruto.

"Hooooaammmmmm..."

kretakk...

kretakk...

kretakk...

"Brrrrrr..."

Menguap sekali, mengeliat untuk membenarkan posisi sendi tulang yang mungkin kurang pas, lalu bibirku bergetar dengan sendirinya. Itulah kebiasaanku setiap bangun tidur di pagi yang dingin.

Aku meremas pelan surai pirangku, menggeleng dan mengerjapkan kedua mata untuk mengumpulkan semua kesadaranku, baru kemudian aku menyingkap selimut yang menghangatkanku saat tidur, turun dari ranjang, lalu ...

"Brrrrr..."

Sial!, aku mengigil lagi.

Kepalaku tertunduk, mataku melihat ke lantai. Ada beberapa lembar pakaian yang berserakan. Bibirku mengulas senyum hambar. Kuangkat wajahku lagi dan tampak jelas di mataku cermin meja rias yang memantulkan bayangan tubuh telanjang seorang laki-laki tegap dengan otot-otot yang pas disetiap bagian, tidak kurus, tidak berlebihan apalagi berlemak. Itu pantulan tubuhku sendiri.

Di cermin itu pula aku melihat pahatan wajah rupawan seorang ikemen, ikemen khas yang tampak seperti keturunan campuran Jepang-Eropa. Wajah itu sangat tampan dan menarik wanita manapun yang melihatnya baik sebagai objek yang diidolakan maupun objek pembangkit gairah seksual. Hanya saja kalau lebih jeli, akan terlihat bahwa wajah itu tidak sedikitpun memancarkan suatu bentuk tanda syukur pada Tuhan atas apa yang orang itu miliki.

Segera ku ambil celana ku yang tergeletak di dekat kaki ranjang, dan kupakai. Setidaknya, selembar pakaian ini mampu membuat area tubuhku yang sensitif lebih hangat.

Aku berjalan ke dekat jendela kaca, menyibak gordennya agar cahaya matahari pagi bisa masuk. Pandanganku tertuju ke bawah, melihat hiruk pikuk lalu lintas kota. Dari balik jendela kaca, ah tidak, lebih tepat kalau ini disebut dinding kaca, aku leluasa melihat hampir seluruh isi Kota Tokyo.

Aku membuang nafas panjang, katakanlah ini nafas lelah. Kenapa aku bisa bangun tidur dalam keadaan lelah?

Oke, sebentar lagi kalian akan tahu jawaban dari pertanyaan itu.

Greebbb...

"Mouuuu, Naru-chan. Sudah kukatakan kan tadi malam, kau harus langsung membangunkanku segera setelah kau bangun."

Wanita yang memelukku erat dari belakang ini bertingkah seperti anak remaja manja yang sedang merajuk, padahal kenyataannya dia berumur jauh dari kelakuannya sekarang.

"Aa, etto, ma-maafkan aku, Uchiha-san. Sebenarnya aku juga baru bangun."

"Ya, sudah lah. Tak apa, yang penting saat aku bangun tidur, kau lah orang yang pertama kali kulihat."

Wanita ini semakin mengeratkan pelukannya pada tubuhku, namun tetap terasa lembut. Dia mencari sumber kehangatan diantara dinginnya pagi hari, seolah baginya aku adalah kekasih yang sangat dia cintai dan sayangi.

Faktanya, itu tidaklah seperti yang terlihat.

Dia penyewa jasa dan aku penyedianya.

Dia pelanggan, sementara aku orang yang mencukupi kebutuhannya.

Dia wanita kesepian, sedangkan aku gigolo.

Itu ... Fakta!

Itu pula yang menjelaskan kenapa saat ini, keadaanku begini.

Dia memanggilku 'Naru-chan', lebih lengkapnya namaku adalah Uzumaki Naruto. Aku mahasiswa Fakultas Teknik Todai semester empat, lalu wanita yang memelukku adalah seorang wanita sosialita kaya raya yang berumur empat puluhan awal.

Dan kejadian tadi sudah terjelaskan dengan fakta singkat, yaitu dia wanita kesepian dan aku gigolo.

Fakta yang menjadi alasan kenapa aku bangun tidur dalam keadaan telanjang.

Fakta yang menjadi alasan kenapa pakaianku berserakan di lantai.

Fakta yang menjadi alasan kenapa aku bangun tidur di kamar hotel, satu dari sekian banyak kamar dalam gedung hotel pencakar langit. Itu sebabnya tadi aku melihat ke bawah memandangi lalu lintas kota Tokyo.

Fakta yang menjadi alasan kenapa aku mengehembuskan nafas lelah padahal baru bangun tidur.

Fakta yang menjelaskan bahwa aku tidak tidur sendirian tadi malam, melainkan tidur seranjang bersama wanita yang sekarang ini memelukku dari belakang.

Oh iya, aku tidak sendiri bangun tidur dalam keadaan telanjang. Wanita yang memelukku ini juga bangun tidur dalam keadaan telajang tanpa tertutup apapun. Aku yang kini hanya memakai celana, bisa merasakan bagaimana kenyalnya sepasang bongkahan daging padat yang menempel ketat di punggungku sekaligus bagaimana rasanya ketika puncak kecil payudara itu bergesekan dengan kulitku.

Tapi hei, itu sama sekali tak membuatku terangsang, malah aku merasa jijik. Jijik, sangat jijik. Bukan pada wanita yang memelukku, tapi pada diriku sendiri. Aku merasa hina.

Jujur, aku sangat membenci pekerjaan ini. Sangat sangat sangat sangaaaaat benci, hingga membuatku ingin mengubur diri sendiri setiap kali aku bercermin.

Cukup terima dulu hal itu, segala hal tentangnya akan kuceritakan lain kali.

Kenyataan kalau aku sangat membutuhkan uang menjadi memaksaku bertahan pada profesi ini, dan masih 'bertahan hidup' hingga saat ini.

"Naru-chaaannnn~~~."

Seruan manja dari wanita yang memelukku dari belakang ini menuntut atensiku tertuju padanya.

"Ada apa, Uchiha-san?" tanyaku lembut.

"Ayolaaahh, berapa kali harus kukatakan agar kau berhenti memanggilku seperti itu."

"I-iya. Maafkan aku, Mikoto-san."

"Nah, begitu lebih bagus. Meski aku akan lebih senang lagi kalau kau mau memanggil namaku dengan lebih khusus seperti laki-laki memanggil nama kekasihnya."

"Kalau yang itu, tidak mungkin kan? Aku ini hanya ..."

"Ya. Aku mengerti. Kau selalu profesional dengan profesimu, dan menjaga ketat batasannya."

"Terima kasih atas pengertianmu, Mikoto-san."

Kurasakan gerakan mengangguk dari kepala yang dahinya menempel di pundakku.

"Sama-sama. Kau memang anak penurut."

'Anak penurut', itu yang baru saja Mikoto katakan dan itulah lakon yang kuperankan saat bersamanya, suatu hal yang menjadi tuntutan profesiku.

Cukup lama aku membiarkan dia memeluk tubuhku dari belakang. Rasanya hangat, namun hanya dikulitku, tidak sedikitpun sampai ke hatiku, apalagi memberikan rasa nyaman.

"Nee, Naru-chan."

Mikoto memanggil namaku lagi. Kalau sudah seperti ini, aku tahu, pasti ada sesuatu yang dia inginkan.

"Hm? Mikoto-san ingin sesua- ... Hyaaahhh"

Mikoto mengejutkanku dengan sebuah remasan keras pada area selangkanganku yang terbungkus kain celana. Walaupun itu cukup mengejutkan, tapi rintihan kecil yang keluar dari mulutku hanyalah sebuah refleks terlatih atas tuntutan pekerjaan, bukan karena aku menikmatinya.

"Mikoto-san, apa m-masih belum cu-cukup yang semalammhh, -ughhh?" pertanyaanku yang terputus-putus keluar seiring badanku yang bergetar. Aku tadi mengatakan kalau aku berlakon sebagai 'anak penurut' kan, karena itulah badanku kubuat bergetar seperti ini, mengikuti permainan yang dilakukan Mikoto.

"Belum cukup. Kita baru bermain lagi tadi malam setelah dua minggu lebih kita tidak bertemu. Aku sangat merindukanmu, tahu?"

Sialan wanita ini, jangan membuatku muak dan berkata seakan kau itu kekasihku. Lebih baik jujur, jujur kalau hanya tubuhmu saja yang merindukan tubuhku, iya kan?

"Tapi aku ada kuliah hari ini, kumohon." Aku meminta padanya agar dibebaskan, bertingkah seperti seorang anak kecil meminta dibelikan permen pada ibunya.

"Bolos saja. Kau kan mahasiswa pintar, dapat beasiswa pula, apa susahnya mengejar materi pelajaran belakangan huh?"

"Iya sih, tapi- Ugghhhh..."

Lenguhanku keluar lebih kencang karena tangan Mikoto berhasil menurunkan risleting celanaku dan mengeluarkan isinya.

"Tapi tubuhmu berkata lain tuh."

Mikoto mengejekku sambil tangannya mengelus dan meremas milikku. Tangannya hangat dan gerakannya begitu sensual hingga membuatku langsung ereksi.

dug...

Aku sedikit membungkuk dengan kedua tangan bertumpu pada dinding kaca. Mataku terpejam dan mulutku terus merintih karena perlakuan Mikoto. Jika saja kamar ini tidak terletak di lantai yang sangat tinggi dan kacanya tidak gelap, sudah pasti orang-orang dijalanan akan melihatku diperlakukan seperti binatang.

Kurasakan Mikoto tampak senang karena berhasil membuatku begini, dia merasa dirinya berhasil menaklukkan seorang laki-laki dibawah kuasanya, dia senang karena mendominasi atas tubuhku.

Nyatanya dia hanya wanita jalang yang bodoh. Aku gigolo, meski aku benci pekerjaan ini tapi aku yakin diriku cukup lihai memerankannya. Sebagai penyedia jasa, tentu aku harus selalu menyenangkan pelangganku. Aku selalu merintih dan bertindak serta membuat reaksi apapun yang sangat disukai pelangganku. Termasuk saat ini, ketika penisku ereksi begitu disentuh Mikoto. Itu hanya untuk menyenangkannya. Jika semua laki-laki diluar sana akan ereksi karena gairah seksualnya bangkit akibat sajian eksotik dari wanita yang mempertontonkan tubuhnya dan bertindak erotis, maka aku tidak sama sekali. Aku tidak sedikitpun tertarik dengan tubuh perempuan, malah dalam hati aku merasa jijik memandangnya, apalagi jika perempuan itu melakukan gerakan-gerakan sensual dan erotis, rasanya aku ingin muntah. Saat ini, penisku bisa ereksi karena akulah yang menginginkannya ereksi, bukan karena terangsang oleh apapun, dan akan kembali rileks jika penisku sudah selesai dengan tugasnya melayani pelanggan. Anggap saja itu sebuah kemampuan khusus yang hanya dimiliki gigolo sepertiku.

"Hnnngggh..."

Aku sengaja membuat rintihan yang lebih kencang dan berat saat tangan lain Mikoto menekan titik yang terletak dekat dengan kelenjar prostat. Mungkin dia berpikir disitu lah letak G-spot tubuhku, padahal mau ditekan di titik manapun, aku tidak akan merasakan apa-apa. Rintihan tadi hanya demi memuaskan ego dia, dengan cara menipunya tentu saja.

Tok tok

Tok tok...

"Che, sialan!. Mengganggu saja."

Mikoto mendengus kesal setelah dia menghentikan gerakan tangannya. Dia berjalan ke ranjang, "Naru-chan, itu maid yang mengantar sarapan kita. Aku memesannya tadi malam. Kau bukakan pintu dan suruh dia menatanya di meja!"

Setelah mengatakan perintah itu, Mikoto menyembunyikan seluruh tubuhnya dibalik selimut.

Aku tidak protes. Penisku sudah rileks kembali, lalu kubenarkan posisi celanaku. Tanpa baju, hanya mengenakan celana, aku berjalan ke arah pintu, lalu membukanya.

Seorang maid berusia 25-an, dia terbilang cantik. Pokoknya sesuai dengan kriteria maid yang seharusnya, mungkin nilai 8,9 dari 10.

Aku mempersilahkannya masuk, kusuruh dia menata sarapan di meja.

Dia keluar setelah selesai dengan pekerjaannya. Namun sebelum melewati pintu, dia memberiku sepotong kertas kecil.

Ku amati yang tertulis disana, sederet angka yang membentuk nomor telepon.

Maid itu tersenyum manis padaku, "Hubungi aku kalau kau senggang."

Dia pun berlalu. Pintu kututup kembali.

Saat aku berbalik, ternyata Mikoto sudah duduk dikasur. Hanya tubuh bagian bawahnya yang tertutup selimut, dia membiarkan payudaranya yang cukup besar kelihatan menggantung.

Wajahnya tertekuk cemberut, namun aku tahu itu hanya dibuat-buat. "Pelanggan baru lagi, Naru-chan?"

Dia pasti menanyakan tentang maid tadi. Aku mengangguk pelan sebagai jawaban pertanyaannya. Mikoto memang sering membawaku ke hotel ini, hotel bintang 5 miliknya sendiri. Sangat mungkin maid yang tadi mengantarkan sarapan mengenalku sebagai pria panggilan bossnya, mungkin atas dasar itu pula dia langsung memberiku nomor telepon walau baru pertama kali berbicara denganku.

"Huuuuu,,, seandainya aku belum punya suami dan anak, lalu kau bukan gigolo saat kita pertama kali bertemu, pasti akan lebih indah. Ufufuuu..."

Mikoto tertawa pelan dan anggun.

Itu hanya ada dalam imajinasimu, Mikoto. Meski kita bertemu dalam keadaan seperti itu, bagiku kau tetaplah wanita jalang. Itu fakta karena jelas-jelas saat ini kau mengkhianati suamimu sendiri.

"Oh iya, barusan ponselku berbunyi, aku baru saja dapat pesan penting, jadi aku harus pulang ke rumah. Lebih baik kau segera mandi! Setelah kita sarapan, aku akan mengantarmu ke kampus. Kau bilang tadi ada kuliah kan?."

Aku mengangguk, "Baiklah. Terima kasih, Mikoto-san"

Sepuluh menit cukup untukku mandi. Aku memakai pakaian baru yang dibawakan Mikoto, katanya untuk jaga-jaga kalau aku harus langsung ke kampus setelah melayaninya. Dia betul-betul penuh persiapan.

Kini aku duduk berhadapan dengan Mikoto, sarapan bersama sebelum beraktifitas kembali seperti biasa. Dia pun sekarang sudah memakai pakaiannya, berbeda dengan pakaian kemarin, pasti dia juga sudah menyiapkannya. Meski tidak mandi, tampaknya dia yakin parfumnya mampu menutupi sisa-sisa aktifitas kami semalaman yang melekat ditubuhnya.

"Tidak usah cepat-cepat makannya, memang kau buru-buru?"

Mikoto menegurku, dia sarapan dengan pelan dari sisi meja yang bersebrangan denganku. Dilihat dari etika yang dia gunakan saat makan, jelas sekali sangat mencirikan seorang ibu rumah tangga sekaligus pengusaha kaya raya bermartabat yang sangat anggun dan elegan, berbeda jauh kalau sudah meminta jasaku, saat itu dia akan terang-terangan tanpa malu-malu menunjukkan sisi jalangnya.

"Tidak juga, hanya saja hari ini dosen yang masuk sering memberikan pretest sebelum memulai materi, jadi aku ingin lebih cepat sampai di kelas agar sempat belajar sebentar."

"Oh."

Mikoto merespon singkat penjelasanku, Dia kembali makan dengan tenang.

Sambil makan, aku menatap dia. Mikoto adalah salah satu pelanggan tetapku, dan karena dia memberiku sangat banyak uang setiap kali aku melayaninya, dia kutempatkan dalam daftar pelanggan yang harus diprioritaskan.

Ah ya, tadi aku sudah mengatakan kalau kisah masa kelam bagaimana aku menjadi gigolo saat ini kuceritakan nanti kan? Tapi untuk sekarang aku punya cukup waktu untuk menjelaskan bagaimana aku menjalani profesiku sebagai gigolo.

Sama seperti pelacur, gigolo juga berkerja sebagai alat pemuas seks. Kebanyakan wanita cenderung menarik laki-laki disekitarnya untuk di ajak One Night Stand kalau mereka ingin bercinta, hanya wanita golongan tertentu saja yang sengaja menyewa jasa gigolo. Mereka adalah wanita berkelas yang punya penghasilan tinggi, atau paling tidak punya suami kaya namun kurang perhatian, dan juga punya selera aneh tentang seks. Itulah sebabnya tidak banyak laki-laki yang melakoni profesi ini jika dibandingkan dengan pelacur yang sangat digemari laki-laki haus seks bejat tak bermoral.

Pelacur memberikan tubuhnya pada pelanggan saja sudah cukup, berbekal bentuk tubuh ideal, seksi dan wajah cantik. Sangat berbeda dengan gigolo. Seorang gigolo dituntut harus berparas tampan rupawan, tubuh atletis proporsional, sehat fisik dan psikologis, berpenampilam modis dan catchy, punya daya tarik khas, serta yang wajib adalah mampu memberikan kepuasan seksual pada pelanggan, dalam hal ini aku dituntut memenuhi semua keinginan mereka yang seringkali menjadikanku pihak submisif diatas ranjang. Ada banyak kriteria yang harus dimiliki agar bisa laku menjadi gigolo karena pelanggan terlalu pilih-pilih.

Lalu yang paling penting dari semua itu, untuk bisa menarik minat pelanggan yang tidak segan membayar sangat mahal untuk sekali service, gigolo harus memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik, peka akan perasaan pelanggan, sanggup menghandle mood bermasalah, serta mampu memberi kebahagiaan dan menghapus mendung dihati mereka. Lalu ketika di atas ranjang, harus bisa memainkan peran sebagai tipe karakter pria apapun yang diimpikan wanita yang membayar mahal. Ini yang kusebut sebagai service plus bagi wanita yang hati dan perasaannya teramat kompleks.

Dan dari hal-hal itu, aku memiliki semua kriterianya.

Kalau cuma pelanggan biasa yang sebatas mencari kepuasan seksual, aku memasang tarif standar. Tapi berhubung wajahku tampan, badanku sehat dan proporsional serta punya daya pikat kuat, tak sedikit wanita-wanita jalang pencari kepuasan duniawi yang datang padaku. Hal itu kumanfaatkan untuk mencari uang lebih, dengan melelangkan diriku pada mereka, siapa yang bayar lebih tinggi akan lebih dulu kulayani.

Lain halnya dengan pelanggan kelas atas. Aku memasang tarif sangat mahal untuk layanan service plus dariku. Mereka adalah pelanggan tetap yang memiliki jadwal temu muka diatas ranjang yang teratur dan rutin. Memberi mereka kepuasan seksual dan kebahagian semu sesaat dari sosok laki-laki ideal yang diimpikan mereka. Jika aku berhasil melakukannya, mereka tidak segan membayarku lebih bahkan hingga lima kali lipat. Salah satu contohnya, ya Mikoto ini.

Apa aku kelihatan seperti laki-laki matre hedonis yang gila uang? Secara kasat mata memang begitu, tapi aku punya alasan kuat didalamnya, alasan yang memaksaku bertahan di profesi ini. Lain kali saja aku ceritakan tentang itu.

Sekarang fokus bicara tentang wanita di depanku ini, Uchiha Mikoto. Usianya sudah awal empat puluhan, meski begitu dia tetap kelihatan cantik seperti ibu-ibu muda. Dia datang padaku dan menjadi pelanggan tetapku sejak dua tahun lalu, dibawa oleh seseorang yang berperan besar mengubah hidupku yang awalnya normal menjadi seperti ini. Kudengar mereka berdua teman baik.

Sejak saat itu, hubunganku dan Mikoto selalu baik. Aku menjadi teman bicaranya, dia terbuka hal apapun padaku. Setiap dia ada masalah, pikirannya sedang tertekan atau pada titik jenuh, dia pasti datang padaku. Aku menjadi sosok pria penuh perhatian dan pengertian yang selalu ada di sisinya ketika dia butuh. Manakala di atas ranjang, aku memainkan peran 'anak penurut'. Mikoto punya sedikit kelainan pada jiwanya, dia selalu membayangkan mengagahi putranya sendiri. Namun itu urung ia lakukan karena meski jalang tapi dia masih waras.

Karena hubungan yang baik itulah, aku sangat mengenal bagaimana kepribadian Mikoto. Dia sebenarnya tidak mengalami masalah apapun dalam hidupnya. Suaminya tegas dan gila kerja tapi tetap perhatian, kedua putranya pun sangat sayang padanya, hartanya tak kurang apapun. Tapi dari yang kusimpulkan, dia hanya ingin berbuat di luar jati dirinya sebagai Nyonya Uchiha.

Hal itulah yang membuatku menganggap dia jalang. Dia itu sudah dilimpahi kebahagiaan, tapi masih mencari kepuasan padaku?

Sejauh ini, tidak hanya Mikoto saja, tapi menurutku semua wanita itu jalang, bejat, tak bermoral, egois, tak tahu diuntung dan tak mau bersyukur. Agak berlebihan kalau aku mengatakannya begitu, aku pasti akan didemo massal. Persempit saja begini, semua wanita yang kukenal selain ibu dan adik perempuanku adalah jalang dan aku membenci mereka.

"...-chan."

Aku benci perempuan!

"...ru-chan."

Aku benci diriku yang menjadi pemuas mereka.!

"Naru-channn~~~, heiii!"

"Ah yaa. Mikoto-san, ada apa?"

"Hm! Kau melamun?"

"Maaf." ucapku dengan kepala tertunduk, berharap sikapku sebagai anak laki-laki penurut bisa membuat emosinya luluh.

"Tidak masalah, hanya saja ekspresi wajahmu tadi membuatku takut."

"Benarkah?" aku mendongak lagi menatap lurus kekedua bola matanya, "Kalau begitu sekali lagi maafkan aku."

Mikoto tersenyum lembut padaku, "Iya-iya, lupakan saja." dia tampak berpikir mencari topik obrolan baru. "Bagaimana hubunganmu dengan Izumi-chan?"

Oh Shit! Apa-apaan dia ini, jalang memanglah jalang.

"Aku dan Izumi-san baik-baik saja. Kami rutin bertemu sekali seminggu."

"Begitu kah? Baguslah. Jaga dia ya, dia menantu kesayanganku loh. Jangan sampai dia tidak puas dengan layananmu."

"Iya." jawabku seraya mengangguk.

Ini lah yang membuat semuanya menjadi lebih jalang lagi. Uchiha Izumi adalah menantu resmi Mikoto yang pertama, istri dari putra sulung bernama Uchiha Itachi yang baru menikah enam bulan lalu.

Sebelumnya aku sudah cukup mengenal Izumi yang masih berstatus calon menantu Nyonya Uchiha itu. Dia juga orang berada, wanita karier yang punya segudang uang. Seperti perempuan Jepang pada umumnya, dia juga mengikuti gaya hidup seks di luar nikah, dan dia merasa kurang dengan calon suaminya dalam urusan ranjang. Dia datang padaku, lalu karena dia merasa langsung cocok dengan service plus dariku, dia berganti status menjadi pelanggan tetap dengan jadwal pertemuan rutin.

Kejadian itu terjadi tujuh bulan lalu, sebulan sebelum Izumi menikah dengan Itachi. Mikoto tiba-tiba tanpa sengaja memergoki aku melayani Izumi di hotel, hotel tempatku berada sekarang. Aku kira hidupku akan berakhir, aku senang memikirkan itu, namun kenyataan memukul telak pemikiranku.

Faktanya, bukannya mengamuk, malah Mikoto menunjukkan antusiasmenya atas apa yang kulakukan bersama Izumi. Awalnya Izumi juga shock pernikahannya terancam gagal, namun segera setelah kejadian itu hubungan Izumi dan Mikoto makin rekat. Mereka tampak saling memahami kondisi mereka masing-masing, saling jujur dan berbagi banyak cerita. Kata orang bijak, hubungan dua manusia akan cepat terbentuk dan makin kuat jika memiliki kesenangan atau hobi yang sama. Dalam hal ini, mereka berdua sama-sama menyukai gigolo sepertiku. Oh God!

Itu jalang kan? Apa ada wanita yang bisa lebih jalang dari mereka berdua?

Hal paling jalang adalah saat mereka berdua punya waktu senggang bersamaan, pasangan ibu mertua - menantu itu memintaku threesome dengan aku sebagai pihak submisif.

Begitulah bobroknya moral wanita dari keluarga Uchiha.

Suami Mikoto yaitu Uchiha Fugaku serta putranya Uchiha Itachi yang kini menjadi suami Izumi, sebagai laki-laki kaya mereka seringkali 'jajan' di luar. Untuk orang kaya Jepang, itu terbilang wajar dan para istri pun kadangkala cukup tahu tentang itu. Mungkin atas dasar keadilan lah salah satu alasan Mikoto dan Izumi datang kepadaku.

Dengar-dengar dari cerita mereka berdua, anak kedua keluarga itu yakni Uchiha Sasuke, laki-laki yang seumuran serta kuliah di kampus yang sama denganku, memiliki seorang pacar dan pacarnya itu pernah memakai jasaku. Aku tidak tahu siapa wanita itu, perempuan yang memakai jasaku cukup banyak hingga aku tidak hapal semuanya, kecuali pelanggan tetap. Lagipula Mikoto maupun Izumi tidak memberitahu siapa pacar Sasuke.

Demi keamanan, aku diberi oleh Mikoto data-data tentang Fugaku, Itachi, dan Sasuke berserta kegiatan hariannya. Tujuannya untuk mencegahku dari pertemuan tak sengaja dengan Trio Uchiha itu.

Ada satu hal aneh dari laki-laki keluarga itu. Trio Uchiha tadi melakukan sesuatu pada penisnya untuk mencapai ukuran panjang dan diameter yang fantastis. Ukuran yang akan membuat aktor film porno profesional minder. Bahkan percaya tak percaya, kuda pun akan dibuat menangis iri.

Lebih buruk lagi, penis besar dan panjang adalah kebanggaan pria-pria Uchiha, sebesar rasa bangga Klan Uchiha jaman dahulu akan mata Sharingan. Okeh, di kalangan laki-laki ukuran penis memang akan menjadi kebanggaan kalau lebih dari yang lain, dan tidak sedikit perempuan menyukai ukuran itu. Tapi sungguh, ukuran penis seperti itu tidak dapat dijadikan tolok ukur kepuasan seksual wanita. Kebanyakan kaum hawa lebih menyenangi ukuran ideal, yang ukurannya ngepas di rongga vagina mereka sendiri.

Hei…. Aku bersungguh-sungguh! Mikoto sendiri yang menceritakan hal nista itu padaku. Mikoto mengatakan kalau dia suka penis besar suaminya, dia suka bagaimana Fugaku menggagahinya diatas ranjang, tapi ego dan kodratnya sebagai wanita masih melekat kuat. Mikoto tidak hanya ingin kepuasan seksual semata, dia menginginkan laki-laki yang mengerti segala sisi tentang dirinya, suka diberi perhatian, senang berbicara banyak hal tentang apa yang dia sukai, suka laki-laki ideal seperti yang ada dalam mimpinya, dan itu semua hanya dia dapatkan dariku, meski semua itu semu karena ia sendiri sadar kalau aku melakukannya hanya atas dasar tuntutan profesi.

Oh iya, Mikoto tahu beberapa wanita yang menjadi penghangat ranjang suaminya ketika diluar rumah atau saat sedang tugas. Dia juga tahu kalau ada selingkuhan suaminya yang pernah memakai jasaku, kalau tidak salah namanya Fuuka. Bukan pelanggan tetap, hanya pelanggan biasa yang mencari nuansa lain kepuasan ranjang, mungkin dia juga bosan dengan Fugaku yang hanya membanggakan ukuran penis, dan pastinya dia membayarku menggunakan uang pemberian Fugaku. Sedangkan Mikoto, menutup mata dan telinga akan hal itu.

Absurd banget kan hidupku? Dikelilingi hal menjijikkan seperti itu. Jika ada liang kubur didepanku, saat ini juga aku ingin masuk dan tidur selamanya, saking bencinya aku dengan diriku saat ini.

Akhirnya sarapan pun selesai. Sesuai rencana, aku diantarkan langsung oleh Mikoto ke kampus. Kami berdua duduk di kursi belakang limosin hitam. Ada seorang supir dan asisten pribadi keluarga Uchiha di kursi depan. Tapi tak ada yang perlu dikhawatirkan. Semua pelayan di Keluarga Uchiha berkerja profesional dan mereka sudah punya aturan tetap untuk membutakan mata, menulikan telinga, dan membungkam mulut mereka sendiri terhadap urusan-urusan pribadi setiap anggota keluarga kaya raya itu.

Ketika sampai di depan kampus, baru saja keluar dari limosin, Mikoto sempat-sempatnya menarik tengkukku dari jendela mobil yang terbuka lalu menyerang dengan lumatan ganas. Aku merespon baik ciumannya hingga ia melepas sendiri pagutannya.

Aku berdiri, tersenyum hangat dan melambai mengantar kepergiannya. Dasar dia itu, jalang tak terduga. Apa dia tidak takut kalau ada orang yang melihat hal tadi dan muncul skandal besar yang merusak nama Keluarga Uchiha hah?

.

.

.

"Hooaammm..."

Aku menguap kecil, kedua kalinya aku bangun tidur hari ini. Sekarang masih belum siang, mungkin jam 10-an.

Hatiku sedang kesal sebenarnya. Setelah sampai di kelas, ternyata dosen tukang pretest itu tidak hadir. Kalau tahu begini, lebih baik aku pulang ke apartemen dan tidur sampai siang, baru ke kampus lagi jika sudah masuk jam praktikum di lab. Aku masih lelah karena melayani Mikoto semalaman. Tapi karena malas pulang, aku memilih tidur di perpustakaan. Namun tidurku tidak bisa lama, selain karena bukan kebiasaanku tidur di perpus, entah sial atau apa hari ini perpus sangat ramai dan berisik.

Kepalaku terasa sedikit pening, tidur singkat pagi hari sama sekali tak membuatku lebih baik, malah makin buruk. Aku berdiri dari kusri, lalu berjalan, tidak tahu kemana tujuan kaki ini melangkah, yang penting aku ingin keluar dari perpus.

Di luar sana, aku tak memiliki satupun orang yang benar-benar bisa kuanggap 'teman'. Setiap laki-laki di kampus hanya sebatas kenalan saja, sesekali berinteraksi normal layaknya teman sekelas, bercanda, atau berbagi jawaban tugas dan ulangan karena kapasitas dan kecepatan pemprosesan otakku cukup menonjol di kelas. Aku membatasi hubunganku dengan mereka, merekapun begitu padaku. Sebagian dari mereka cukup tahu apa profesiku namun tetap menghargai dan menghormati jalan yang kutapaki. Jika suatu saat secara tak sengaja ada di antara mereka yang punya kekasih, lalu kekasih mereka memakai jasaku, tentu akan jadi masalah kan? Aku dan mereka sama-sama sadar akan kemungkinan itu, seolah kami saling memahami. Karena itulah, pada akhirnya aku tidak sekalipun menjadi bagian dari mereka.

Itulah laki-laki, makhluk penuh logika yang mampu berpikir logis jauh ke depan. Bukan karena hati laki-laki kuat tapi karena menghindari rasa sakit dan tak mau merasakannya.

Kalau teman sekelas dan kenalan perempuan lainnya, mereka semua hanya jalang, tak ada satupun yang baik. Mereka mencariku hanya saat memiliki uang, lalu menarikku ke atas ranjang. Setelah selesai, mereka meninggalkanku dengan setumpuk rasa benci yang kian dalam pada jenis mereka.

Aku benar-benar sendirian di Tokyo ini, memikirkannya membuatku sadar betapa mirisnya takdir hidupku.

Brukkk.

Tidak tahu darimana datangnya, tiba-tiba ada tubuh perempuan yang jatuh menimpaku. Membuatku terbaring kesakitan di lantai dengan posisinya yang duduk di perutku.

Aku marah tentu saja, dalam hati. Sebenci-bencinya aku dengan diriku sendiri, tapi tubuhku ini aset berharga, aku tidak ingin ada luka lecet sedikitpun. Dengan tubuh ini aku mengumpulkan uang untuk bertahan hidup dan memenuhi kewajibanku yang lain.

Kulihat perempuan itu, dahinya tertutup poni rata dari surai berwarna indigo, rupa wajahnya terpahat sempurna, bentuk tubuh yang sangat pas dan ideal dengan bongkahan daging dan lemak yang komposisinya sangat tepat di bagian-bagian tertentu. Kulitnya, cukup hanya dengan melihat saja tanpa menyentuhnya, siapapun akan tahu kalau itu adalah kulit dengan kualitas nomor satu. Selera fashionnya kekinian namun tetap mengendepankan norma dan sopan santun.

Penilaianku pertamaku padanya, dia jalang, JA-LANG!. Kenapa? Karena dia perempuan, dan bagiku semua perempuan selain ibu dan adikku adalah jalang. Penilaian lainnya secara fisik sebagai perempuan, singkat kukatakan dia seperti mendapat berkah dari Sang Dewi Kecantikan.

Dia membuka kedua bola matanya yang menurutku indah dengan ekspresi wajah bingung, lalu berguman sendiri yang tak kudengar apa. Kupikir dia tidak sengaja menjatuhkan dirinya diatas tubuhku. Baiklah, saat ini kau kumaafkan, Jalang.

Setelah beberapa saat membuka mata dan sadar bahwa dia jatuh menimpaku, bukannya bangun menjauh, tapi dia malah menatapku lekat-lekat. Hei aku kesakitan tahu, dan kau malah enak-enakan menduduki perutku!

Kulihat dari bagaimana cara dia menatapku, tidak jauh berbeda dengan jalang-jalang lain yang melihatku karena nafsu dan ingin memakai jasaku. Cih! brengsek.

"Namaku Hyuga Hinata."

"Hah?" aku menyerngit bingung. Tentu saja, apa-apaan dia ini? Aku tak ingin tahu namamu, aku ingin kau menjauh dari tubuhku sekarang juga.

"Anooo..."

Dia tampak ragu ingin mengatakan sesuatu, "Ya?" anggukku sekali beserta ekspresi wajah penasaran yang sengaja kubuat lucu dan imut di mata para perempuan.

Seberapa besar pun aku tidak menyukainya, tapi bisa jadi suatu saat nanti aku membutuhkannya. Aku percaya pada Tuhan, dan takdir Tuhan tidak ada yang tahu. Bisa saja seseorang yang saat ini adalah penjahat, menjadi orang yang sangat baik dimasa depan nanti. Karena itulah, aku berusaha memberikan kesan pertama yang baik padanya karena mungkin dia akan menjadi salah satu tambang emasku nanti. Ahaaa, otakku benar-benar sudah rusak.

"Kau masiiiih..."

"Masih apa?"

Dia menunjukkan raut wajah manis menenangkan, "Masih,,,,,,, perjaka kan?"

Ha? Aku membuat ekspresi shock. What the fuck! Bajingan! Bedebah! Kau jalang keparat!

Untuk saat ini saja, dia perempuan yang paling kubenci.

Setelah menyingkirkan tubuhnya dengan sedikit paksaan, tentu saja aku masih waras untuk tidak membuat masalah pada siapapun, aku langsung pergi dari hadapannya.

Mungkin banyak pria Jepang akan tersinggung jika ditanyai seperti itu, terutama mereka yang benar-benar masih perjaka. Tapi jujur aku tidak tersinggung sama sekali, tapi pertanyaannya tentang 'perjaka' tadi membuatku mengingat lagi trauma mental hebat akibat kejadian yang pernah kualami saat aku baru masuk SMA dahulu. Aku tidak bisa menceritakannya sekarang, aku harus segera ke toilet untuk membuang semua isi perutku.

Sialan...!

.

.

.

Aku keluar dari toilet dengan kondisi perut yang lebih baik. Kulangkahkan kakiku menuju taman kampus. Disana ada pohon rindang dengan rumput halus sebagai lantainya. Menikmati angin segar saat cuaca mulai panas begini pasti bisa membuat kondisiku kembali seperti semula.

Lima langkah sebelum aku sampai di taman kampus, mataku menangkap sosok yang saat ini sangat ingin kuhindari karena aku masih lelah berurusan dengan pekerjaan.

Yamanaka Ino, usianya 3 tahun di atasku. Seperti Mikoto dan Izumi, dia juga pelanggan tetapku.

Kalau duo jalang Uchiha itu menginginkan aku karena hal yang tak mereka dapatkan dari suami mereka masing-masing, maka Ino menginginkanku sebagai partner latihan.

Yah, partner latihan, itu katanya. Kedengaran kurang masuk akal, tapi mengingat profesinya sebagai artis JAV profesional, maka jadi wajar kalau itu demi meningkatkan totalitasnya dalam membuat film porno.

Sebenarnya aku bingung dengannya. Dia artis pro, berakting menjadi kelihaiannya, sudah ratusan laki-laki yang menjadi lawan mainnya, serta sudah banyak teknik, gaya, dan aliran yang dia gunakan. Wanita normal secara seksual pasti sudah sangat puas dengan itu, atau mungkin bosan dan lelah dengan yang namanya seks. Tapi kenapa dia masih membutuhkanku juga?

Dia terdaftar sebagai pelanggan tetapku dengan service plus, jadi aku membangun komunikasi yang baik dengannya. Hubunganku dengan Ino, sama baiknya seperti hubunganku dengan Mikoto ataupun Izumi. Pernah suatu ketika aku menanyakan tentang hal itu padanya.

Lalu dia menjelaskan dengan santai, "Kau tahu Naru-kun, berhubungan seks itu tak semudah dan seenak kelihatannya. Bagi orang tertentu seperti aku, untuk benar-benar mencapai kepuasan harus memiliki chemistry yang bagus dengan partner. Aku ingin membuat karya yang berkualitas. Seringnya berganti lawan main bahkan dengan pria yang baru kenal membuatku tak mendapatkan sense itu. Agar aku bisa membuat ekspresi fake orgasm yang tampak sangat nyata saat membuat film, aku bahkan harus selalu membayangkan dirimulah yang menggagahiku. Hanya darimu aku mendapatkan itu, katakanlah aku mencintaimu, walau kita sama-sama sadar kalau hubungan kita diikat oleh uang."

Aku dibuat bungkam oleh ucapan manisnya. Karena itulah penilaianku padanya berubah. Aku yang semula menganggapnya jalang, sekarang menganggap dia jalang yang sangat mendalami perannya sebagai jalang.

Namun aku masih bisa melihat ada hal baik dibalik semua lakon hidup yang dia jalani. Saat bersamaku, dia kelihatan sangat jujur. Aku tidak dapat menampik kenyataan kalau Ino selalu merasa senang dan bahagia ketika bersamaku, sangat jauh berbeda dibanding saat dia bermain peran di filmnya.

Kalau bagaimana urusan ranjangku dengan Ino, kami selalu melakukannya dengan sungguh-sungguh, seperti pasangan suami istri yang saling terikat oleh chemistry cinta yang hakiki.

Sebab aku sanggup memberikan semua kebahagiaan itu untuk Ino, dia tak segan memberiku banyak uang. Bahkan dia pernah sekali memintaku untuk menjadi gigolo pribadinya dengan bayaran seluruh penghasilannya sebagai artis JAV. Aku mengartikan itu sebagai sebuah lamaran pernikahan. Dan secara tegas tanpa menyinggung perasaannya, aku menolak tawaran itu.

Heiii, aku ini laki-laki, logiku berjalan dengan normal. Sehina-hinanya aku sebagai gigolo, mana mungkin aku mau punya istri seorang artis JAV.

Aku bukan orang yang mempermasalahkan masa lalu orang lain. Jadi misalnya membuat negosiasi dan Ino berhenti menjadi artis JAV, lalu aku menjadi suaminya, itu tak masalah. Tapi tetap saja aku tidak bisa menerimanya. Bukan karena dia bekas artis JAV, tapi karena dia tidak punya sumber penghasilan fantastis lagi. Aku butuh uangnya, bukan dirinya, camkan itu!

Melihat ekspresinya saat aku menolak tawarannya, dia tampak mengerti apa isi kepalaku. Bagaimanapun kami saling mengenal kan? Namun dia tidak marah, kurasa dia cukup mengerti kondisiku.

"Naru-kuuunnn~~~, sini!"

Ino melambai padaku. Penampilannya modis dan tidak terlalu terbuka tapi tetap nampak seksi. Sebuah kacamata hitam tebal bertengger di atas batang hidungnya, surai pirangnya yang lebih pucat dari rambutku tergerai panjang dan tertutup selendang. Itu penampilannya saat di tempat umum. Karena profesi dan popularitasnya, dia selalu menutupi identitasnya di depan khalayak untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Aku melenggang berjalan menghampirinya. Kutampakkan senyum palsuku yang sangat dia sukai saat sampai di dekatnya.

"Yamanaka-san, sungguh tidak kusangka kau akan datang kesini." ucapku lembut.

Pada Ino, aku berperan sebagai karakter laki-laki romantis. Peran itu yang paling cocok kutopengkan, aku tahu lima menit pertama setelah pertama kali aku mengenalnya.

"Mouu, aku kangen tahu."

"Ya, aku juga sangat merindukanmu."

Tiba-tiba ada setangkai bunga kecil mekar berwarna putih yang jatuh melayang pelan didekatku, aku tidak tahu itu bunga apa tapi aku yakin berasal dari salah satu pohon di taman ini. Aku menangkapnya sebelum jatuh ke tanah lalu menyelipkannya di telinga Ino.

"Daripada jatuh ke tanah, bunga ini jauh lebih indah saat ia berada disini, Nona Manis."

Aku mengatakannnya dengan lembut dan penuh kasih tanpa sedikitpun mengurangi kehangatan senyuman palsu yang kuulas. Sebelum menarik tanganku kembali, aku mengusap pelan pipi Ino yang memerah.

Aku sukses membuat pelanggan tetapku ini tersipu malu.

"Et-etoo, b-bisakah ..."

"Apa?"

"Emmm..."

Dengan sabar aku menunggu dia melanjutkan ucapannya. Tampaknya dia benar-benar luluh karena perlakuanku tadi.

"Emm, b-bisakah kita ke apartemenku."

"Aa-..."

"Aku tahu!" Ino langsung memotong cepat ucapanku. Wajahnya tak berani menatapku, lirikan matanya bergerak liar ke kiri dan ke kanan, tingkahnya natural seakan dia gadis remaja polos yang dimabuk asmara. "Aku tahu hari ini di luar jadwal rutin kita, tapiiii... Kumohon, Naru-kun."

Melihatnya seperti itu, aku tak kuasa menolak, "Baiklah."

"Yeah. Arigatou, Naru-kun."

"Hm." dengusku pelan sambil mengusap-ngusap pucuk kepalanya yang tertunduk menyembunyikan ekspresi bahagianya.

Sialannnn...

Hei!, bukan berarti aku luluh padanya. Aku hanya butuh uangnya. Titik!

.

.

.

Jam makan siang sudah hampir berakhir. Aku kembali ke kampus karena ada praktikum. Ini di kawasan Fakultas Teknik Todai. Aku baru saja keluar dari mobil Ino, dia yang mengantarku kembali setelah aktifitas kami di apartemennya.

Ino juga keluar dari mobilnya, dengan kacamata hitam dan selendang yang menutup kepalanya. Dia memberikan amplop tebal padaku.

"Ini bayaranmu. Apa kurang, Naru-kun ?"

Aku membuka amplop dan menghitung isinya, "Ti-tidak. Kau terlalu berlebihan membayarku, Yamanaka-San."

"Uang segitu cocok untukmu, dan berhenti dengan Yamanaka dan -san itu. Ino... Panggil aku Ino saat kau merintih dan melenguh kencang di bawah kuasaku maupun saat di luar, mengerti?"

Dia nampak jauh lebih senang dan bahagia dibanding sebelum aku memberikan service padanya. Moodnya juga kelihatan sangat bagus. Bahkan saat ini dia menunjukkan sisi agresifnya padaku dengan perkataan manja bernada menuntut tadi.

"Ah, baiklah, Ino-chan."

"Bagus. Kau benar benar memberikanku yang terbaik. Kau tau, aku menginginkanmu lagi. Well, aku akan mengirimimu email nanti. Segera, saat aku tak sibuk."

Yamanaka Ino memelukku, menjilat leher dan kupingku.

Refleks yang terlatih kuciptakan sebagai responnya, aku melenguh kecil dengan tangan yang mendekap erat tubuhnya, lalu berbisik dengan nada sensual, "Kau nakal, Nona Manis."

Dia menghentikan perbuatannya lalu tersenyum genit padaku sebelum akhirnya dia masuk ke mobil dan pergi dari kampus Todai.

Aku mendesah panjang, tubuhku semakin lelah. Tapi tak apa, hal baiknya aku dapat tambahan uang yang cukup banyak hari ini.

Mobil Ino sudah tak tampak lagi dimataku. Aku berbalik, melangkahkan kaki menuju ruang lab di lantai dua.

"Tunggu!"

Suara perempuan yang memanggil namaku membuatku berhenti berjalan. Aku berbalik menatapnya, seorang perempuan cantik bersurai indigo. "Anda memanggil saya?" tanyaku sopan.

"Ya. Uzumaki Naruto kan?"

Aku mengangguk. Dari mana dia tahu namaku? Aku saja tidak mengenalnya. Kalau seperti ini situasinya, jawaban yang paling mungkin adalah dia jalang yang ingin menyewa jasaku. Begitulah kalau ada perempuan yang tak kukenal mengetahui namaku. Sebagai gigolo, aku cukup populer di kalangan para jalang-jalang berduit.

Kutatap dia lekat. Tck, apa-apaan ekspresi angkuh dan arogan di wajahnya itu? Memangnya dia siapa hah?

"Aku orang yang jatuh menimpamu saat di perpustakaan tadi."

Oh aku ingat, dia jalang brengsek tadi pagi. Sialan, kenapa aku harus berurusan dengannya sih?

Aku tak ingin mencari masalah, jadi lebih baik aku pergi.

"Tunggu!"

Suaranya mencegat langkahku.

Baiklah, aku menyerah. Lagian kalau kupikir-pikir, aku tidak bisa menyalahkannya karena pertanyaannya tadi pagi yang membuatku kembali mengingat trauma. Dia mungkin cuma iseng, tidak tahu apapun tentang masalahku. Tidak ada alasan aku membencinya selain karena dia berjenis perempuan alias makhluk jalang.

"Ini milikmu kan?"

Dia menunjukkan kartu mahasiswa milikku. Aku cukup terkejut, benda itu hilang sejak tadi pagi, tapi kapan dia memilikinya?

Hap...

"Khukhukhuuu..."

Dia tersenyum menyeringai karena berhasil mengagalkan usahaku merebut kartu itu dari tangannya.

Apa-apaan? Dia mau mengerjaiku huh?

"Terima ini, dan besok malam temui aku di Imperial Hotel.! Kau ingat namaku kan? Tanyakan saja pada resepsionis dan pelayan akan menunjukkan dimana kamarnya."

Dia mengembalikan kartu mahasiswa milikku bersamaan dengan sebuah amplop tebal yang aku yakini isinya segepok uang.

Sudah kuduga akan begini akhirnya. Dia datang dengan niat menyewa jasaku, bukan orang baik yang ingin mengembalikan barangku yang hilang. Dasar jalang bedebah!

Aku menata emosi di hatiku. Baiklah, saatnya bekerja. Aku butuh uangnya.

Kesan pertama yang kudapat darinya adalah dia tuan putri manja sok berkuasa yang bisa mendapatkan apapun yang dia mau. Karena itulah, aku membuat gestur tubuh dan ekspresi seperti budak penurut yang tak bisa membantah perintah tuannya. Kupikir dia akan menyukai karakter itu.

"Sampai berjumpa lagi besok malam."

Ucapnya lalu berjalan meninggalkanku.

Ingatanku kembali ke perpus, nama jalang itu, Hyuga Hinata.

.

.

.

Sesuai perjanjian. Kini aku sedang diantar oleh pelayan Hotel menuju kamar yang sudah di reservasi atas nama Nona Hyuga Hinata. Imprial Hotel, itu namanya. Hotel supermewah dengan layanan yang sangat menjaga privasi tamunya. Tidak salah kalau dia mereservasi kamar di hotel ini.

Aku sudah mencari tahu sedikit informasi tentang Hyuga Hinata serta kesehariannya. Bukan tanpa alasan aku melakukannya, mengingat dia membayarku dengan jumlah uang luar biasa fantastis, aku harus memberi pelayanan terbaik yang kubisa. Dia tambang emas, dan kalau bisa dia harus menjadi pelanggan tetapku.

Hyuga Hinata, putri sulung dari seorang pengusaha perbankan dan farmasi terbesar se-Asia, dia juga memiliki garis keturunan bangsawan yang bersambung langsung dengan Keluarga Kekaisaran Jepang. Masih single, belum menikah, dan kesehariannya selalu tampil sebagai sosok tuan putri anggun yang sangat menjaga sopan santun.

Itu sedikit informasi yang kudapat. Kupikir statusnya itu menjadikan dia perempuan bermartabat, nyatanya dia juga termasuk jalang.

Pelayan hotel pamit undur diri setelah mengantarkanku sampai di depan pintu kamar.

Menarik nafas sekali lalu mengetuk pintunya.

Pintu itu terbuka otomatis tanpa ada yang membukakan, mungkin mekanismenya sangat hebat, aku sendiri baru pertama kali ke hotel supermewah ini. Kuberanikan diri masuk dan menutup pintunya kembali rapat-rapat.

Melihat ke sekeliling, kuyakin ini kamar kelas terbaik. Desain interior ruangan serta fasilitas dan semua furniture, mewahnya seperti tak ternalar akal.

Di dekat jendela kaca yang tertutup gorden putih tipis, perempuan yang memanggilku kesini duduk anggun di kursi sambil membaca majalah.

Menyadari kedatanganku, dia cepat-cepat meletakkan kembali majalah yang ia baca. Lalu berdiri menatapku, ekspresinya tampak seperti orang panik.

"Se-sejak kapan k-kau disitu?" tanyanya sambil menunjuk wajahku.

"Ah, bukannya tadi pintunya terbuka otomatis. Aku kira aku sudah dipersilahkan masuk, Hyuga-sama."

Dia kini menghela nafas teratur, mungkin untuk mengurangi kepanikannya.

"Oh, mungkin aku tadi lupa menutup pintunya rapat-rapat."

Ha? Sialan. Aku tertipu. Kukira hotel mewah ini punya pintu yang bisa buka tutup otomatis atau dikendalikan dengan sebuat remote. Ternyata...!?

Dia tak berkata apa-apa lagi. Aku mengalihkan tatapanku pada majalah di atas meja yang baru saja ia baca. Dari gambarnya saja aku yakin itu majalah porno. Aneh, belum pernah aku menemukan pelanggan yang membawa benda macam itu, biasanya langsung ke praktek. Atau bisa jadi dia hanya ingin menambah referensi. Masa bodoh lah, aku tidak peduli.

"Hei kau, duduk disana!"

Hinata menunjuk ke arah kasur. Aku langsung mengikuti perintahnya. Dia sudah mulai dengan tingkah sok berkuasa, jadi aku akan menjadi budak penurut yang tak berani membantah.

Walau aku hanya melihat ke arah kakinya, tapi aku tahu Hinta sedang memandangiku sekarang. Mungkin jalang itu sedang berpikir, gaya macam apa yang ingin ia lakukan saat bercinta denganku.

Tch, terserahmu lah Hyuga-sama yang mulia. Aku akan mengikuti permainanmu.

"Eh?"

Aku sedikit terkejut saat dia sudah mendudukkan pantatnya di kasur, tepat di sampingku. Apa dia sebegitu tidak sabaran?

Hei jalang, setidaknya kau harus sedikit mengenalku dulu kan sebelum bercinta. Bicara apa kek!

Kurasakan tanganku digenggam olehnya. Genggaman tangannya erat, seolah ia tak mau melepaskan mangsanya. Ada sedikit getaran disana, mungkin karena nafsunya sudah hampir sampai di puncak.

Tidak kusangka akan bertemu pelanggan macam ini. Pelanggan lain selalu membangun suasana yang baik dulu sebelum mulai menyerang. Lah ini?

Brukkk..

Tahu-tahunya Hinata sudah merebahkan tubuhku di kasur tanpa berkata apapun.

Aku berperan sebagai budak yang tak berani membantah kan? Jadi aku tidak sedikitpun memberi perlawanan. Aku lebih memilih diam dan pasrah, bertindak pasif, membiarkan dia melakukan apa yang dia mau.

Jemari lentiknya bergerak menuju kancing kemejaku, lalu mulai melepasnya satu persatu.

Aku semakin bingung dengan wanita ini, biasanya dimulai dari hal-hal kecil dulu kan? Mengelus, meremas, atau paling tidak ciuman panas, baru membuka baju.

Kuamati gerakan tangannya, tampaknya dia sedikit kesusahan membuka kancing kemejaku. Padahal kan ini cuma kemeja biasa, apa susahnya sih melepasnya? Anehnya lagi, kedua tangan yang berusaha membuka kancing itu sedikit bergetar.

Kuperhatikan raut wajahnya, dia sepertinya sedang kesal.

Sreeetttt...

Sigh, kau jalang yang ganas, Hyuga-sama.

Kejemaku robek. Dia menariknya paksa. Apa kau sebegitu inginnya melihat tubuhku hah? Ya ampun, rasanya aku makin membenci jalang yang satu ini.

"Kenapa?" tanyanya padaku dengan tatapan lapar.

"Tidak. Teruskan saja, Hyuga-sama." jawabku dengan memalingkan wajah kesamping. Bukan tak berani menatapnya, hanya saja begini kan kalau budak sedang ditindas tuannya.

Kurasakan dadaku seperti ditusuk-tusuk. Hinata menusuknya dengan jari telunjuk. Kemudian jari itu bergerak pelan mengikuti lekukan otot-otot tubuhku. Lumayan lama dia melakukannya, sambil terus dengan tatapan lapar tentunya.

Apa sih yang kau mau? Tubuhku memang bagus, tapi kalau kau mengaguminya seperti itu, kau pasti baru pertama kali melihat tubuh laki-laki?

Aku belum bisa menebak, dia ini jalang yang seperti apa.

Sekarang aku merasakan risleting celanaku yang ditarik-tarik.

Kau mau langsung ke santapan utama hah? Hei, pemanasan dulu! Bukannya itu prosedur normal. Mencium bibirku saja belum kau lakukan.

"Kenapa ini sulit dibuka sih?" tanyanya dengan ekspresi kesal.

"A-aku juga ttidak tahu, Hyuga-sama." jawabku dengan nada yang kubuat takut-takut.

Dia tampak tak mau berhenti dengan diinginkannya. Masih saja menarik-narik risleting celanaku.

Aku tak tahu, mungkin risletingya rusak. Untung saat ini aku tidak sedang ingin kencing.

Kelamaan, aku bosan dengan kelakuannya. Lebih baik aku membantunya saja.

Greepp...

Batsss...

Dia langsung menepisku begitu aku menyentuh tangannya.

Respon yang aneh, dia ingin diriku tapi menolak kusentuh. Perempuan bernama Hinata ini kenapa sih?

"Maaf." kataku.

Ingat, budak selalu bersalah.

"Hn."

Hinata mendengus pelan lalu melanjutkan yang tadi. Tarikannya pada risleting celanaku makin kuat.

Aku jadi berpikir dan mengingat kembali semua kejadian sejak pertama masuk ke kamar ini. Dia panik saat aku memergokinya membaca majalan porno, walau sesaat kemudian dia berusaha terlihat normal. Dia bertingkah tidak sabaran ingin bercinta, tapi lebih menjurus karena ingin segera menuntaskan rasa ingin tahu. Dia memandangiku seperti baru pertama kali melihat tubuh topless laki-laki secara langsung. Tangannya bergetar, bergetar karena gugup seperti dia baru pertama kali melakukan ini. Yang terakhir, dia banyak melewatkan prosedur awal bercinta, tapi malah sangat menginginkan yang di dalam celanaku, seperti ada yang ingin segera dia capai dengan benda itu. Apalagi saat aku menyentuh tangannya, responnya menolakku tak kuduga sama sekali, seakan tubuhnya belum pernah sekalipun disentuh laki-laki.

Mengingat semua hal tadi, aku merumuskan kesimpulan. Apalagi mengingat dia pernah bertanya padaku apa aku masih perjaka. Apa mungkin dia...?

"Kau masih perawan, Hyuga-sama?"

Pertanyaanku sepertinya tepat sasaran. Apalagi ketika melihat ekspresi wajahnya sekarang. Dia terkejut dan malu, gerakan tangannya yang menarik risleting celanaku berhenti seketika.

"Hyuga-sama?" Aku sedikit bangun dari posisiku di kasur untuk mempersempit jarak dengannya.

Dia masih diam hingga,

"HUWAAAAAAAAA...!"

Hinata berteriak histeris hingga membuat telingaku sakit.

Dia berdiri dari kasur, namun naas, tiba-tiba tubuhnya oleng, lalu dengan gerakan slow motion, wajahnya berakhir menabrak sudut meja.

"Itteeiiiiiiiii..."

Kasihan...

.

Setelah insiden memalukan itu, setidaknya bagi Hinata, aku kini merawat luka kecil yang menimbulkan memar di hidung kecilnya. Tadi sempat berdarah, tapi sudah ku bersihkan.

Suasana tidak lagi canggung. Aku tidak lagi memerankan karakter budak. Kini aku berperan sebagai sahabat dekat yang pengertian.

Setelah pertanyaan fenomenal dariku tadi, yang dia respon dengan tindakan jujur, aku langsung mengerti masalahnya, masalah gaya hidup anak perkotaan.

Penilaianku berubah lagi. Dia tetap jalang, tapi jalang yang polos dan belum tahu apa-apa.

Dengan sedikit pendekatan dan komunikasi yang baik, dia jadi lebih terbuka padaku. Bahkan dia tak segan menunjukkan sifatnya yang periang dan lugu tapi mesum akut. Padahal sifatnya yang ini sangat dia tutupi, baik pada keluarga maupun teman-temannya.

Aku juga sudah tahu apa impiannya, ingin punya 100 partner seks yang berbeda setiap minggu. Hell yeaah, menurutku dia orang gila.

"Jadi kau menyewaku hanya untuk mengambil keperawananmu, begitu?" Tanyaku to the point.

Dia mengangguk.

"Terus kenapa kau memilihku?"

"Karena kau gigolo submisif, jadi kurasa tak menakutkan untuk yang pertama." Hinata mengatakannya dengan sangat yakin seakan pendapatnya itu mutlak benar.

Ya ampun, bagaimana sih otaknya bekerja? Harusnya hal itu dia jaga untuk suaminya nanti, demi nama baik keluarganya juga, bukannya dibuang demi mengikuti tuntutan gaya hidup. Bodoh!

"Ya sudah. Apa yang tadi kita lanjutkan?"

"Tentu saja." jawab Hinata bersemangat. "Aku ingin segera mengakhiri penderitaan ini tahu, kau pikir menyandang titel perawan itu enak?"

Aku tidak bisa berkomentar, kelakuan dan pemikirannya benar-benar ajaib.

"Baiklah. Begini, Hinata." aku tidak lagi memangggilnya dengan sebutan Hyuga-sama seperti saat aku melakonkan karakter budak. Kami sekarang sudah jadi sahabat. "Selama ini aku belum pernah melayani perawan, pelangganku sudah bolong semua. Jadi kuharap kita bisa bekerja sama, kau tentu ingin yang terbaik kan?"

Hinata mengangguk cepat. Dia kelihatan bersemangat.

"Kita mulai sekarang?"

"Tahun depan."

"Ha?"

"Ya sekarang lah!"

Kami sejak tadi mengobrol dengan posisi berhadapan duduk di atas kasur.

Pukkk...

"Untuk apa kau meletakkan tanganmu di bahuku?"

"Loh, katanya mau mulai sekarang?"

"Bukannya kau gigolo submisif? Biarkan aku yang mengendalikan permainan."

"Memangnya kau bisa?" tanyaku mengejek setelah menarik tanganku dari bahunya.

Dahinya berkedut kesal, "Hei, asal kau tahu ya, Naruto-kun. Aku ini sudah kenyang makan referensi teknik bercinta. Seandainya itu makanan, aku pasti sudah mati obesitas."

"Kau pikir teori dan praktek itu sama? Dasar perawan."

"Berhentiiii! Jangan mengejekku perawan lagi!"

"Nah kalau bergitu, biarkan aku memulainya. Biar kau tak perawan lagi. Jadi tidak akan ada yang mengejekmu."

"Tidak, aku yang memulai. Katamu tadi, kau belum pernah melayani perawan kan? Aku ragu kau bisa melayaniku dengan baik."

"Ya sudah kalau itu maumu."

Aku merebahkan diri di kasur.

Hinata menatapku heran. "Kau mau tidur? Pekerjaanmu mengambil keperawananku belum kau lakukan tahu."

"Ya ampun Hinata. Kau mau jadi yang mengendalikan permainan kan? Nah sekarang aku memasrahkan tubuhku dalam kuasamu, aku jadi pihak submisif seperti kau kau mau."

"Oh, heheheeee..." Hinata tertawa canggung.

Tak kusangka melayani jalang perawan akan seribet ini.

Duaakk...

"Awww, tolong jangan duduk di perutku tiba-tiba. Kau mengerti kan Hinata kalau tubuhku ini sangat berharga untuk mencari uang?"

"Iya iya ah. Bawel.!"

Hinata tak mempedulikan kekesalanku. Dia sudah bermain-main dengan otot-otot dadaku, bajuku sudah dia robek tadi. Hinata menekan-nekan pelan mainan yang baru pertama kali ia temui.

Tiba-tiba,

Tuk.

Seekor laba-laba kecil jatuh mendarat di dadaku, bersentuhan tepat dengan jari telunjuk Hinata yang sejak tadi menari-nari.

Dia diam.

Aku juga diam.

Wajahnya memerah takut, lalu.

"KYAAAAAAA..."

Hinata berteriak kencang. Dia melompat-lompat diatas kasur.

"Singkirkan makhluk menjijikkan itu!"

Aku mengibaskan laba-laba yang terdiam karena teriakan Hinata. Mungkin telinga laba-laba itu jadi tuli.

Ini kan hotel mewah, kenapa bisa ada makhluk macam itu?

Setelah laba-laba hilang, Hinata berhenti berteriak dan melompat-lompat di kasur. "Hiiieeee, awas saja kalau aku melihat makhluk itu lagi, hotel ini akan kubakar!"

"Sudah lah Hinata, lebih baik lupakan saja. Laba-labanya sudah tidak ada lagi."

"Hmmp, mana bisa!"

Hinata bersikap dada, wajahnya mendengus kesal, dia masih berdiri di kasur.

"Daripada memikirkan itu, lebih baik kau urus keperawananmu."

"Oh iya ya, betul. Ahahhaaaaa..."

Ekspresi Hinata berubah begitu cepat. Semesum apa sih dia ini?

Dia masih tertawa, tanpa menyadari satu kakinya tidak lagi berpijak di kasur.

Dan, akhirnya...

"Kyaaaaaaaaaaaaaaa..."

Hinata berteriak lagi, wajahnya kembali menabrak sudut meja yang sama.

Gadis ini benar-benar kasihan.

Sekali lagi aku mengurus lukanya. Kapas yang kubasahi etanol kuusapkan di hidungnya yang memar dan berdarah.

"Itteeeiiii, pelan-pelan Naruto-kun!"

"Ini sudah pelan."

"Apaan? Sakit tahu."

Bibirnya mengkerucut, lucu. Apalagi melihat kondisi hidung kecilnya sekarang, aku tidak prihatin, tapi malah ingin tertawa.

"Tertawa, kujahit bibirmu!"

Dasar tuan putri sok berkuasa, ancaman seperti itu tak mempan tahu.

Drrrrrrttttt...

Getar ponsel di meja menarik perhatian Hinata. Itu ponselnya. Sebuah panggilan, dan dia langsung menjawab segera setelah mengambil ponselnya.

"Hallo Hanabi-chan."

"..."

"Kenapa kau terdengar panik adikku yang manis? Ada sesuatu yang terjadi di rumah?"

Hinata berbicara di telepon sambil menatapku. Jadi begitu ya kalau bicara dengan keluarganya? Bertingkah seperti tuan putri yang ramah, lembut, dan santun. Beda sekali dengan sifat aslinya, jalang mesum.

"..."

"Aku tidak bisa pulang sekarang, Hanabi-chan. Aku ada tugas yang memaksaku menginap di rumah teman."

Pandai sekali dia berbohong. Hoooii adiknya Hinata, kakakmu disini ingin melepas keperawanan, pakai bayar lagi. Ingin sekali aku mengatakan itu, hahahaaaa...

"..."

"Emmm, begitu ya. Baiklah, aku akan pulang."

Tuuutttt...

Panggilan selesai. Hinata menatapku lekat. "Kita lanjutkan lain kali saja.!"

"Baiklah."

"Ingat, aku masih perawan. Sampai pekerjaanmu selesai, kau milikku!"

"Iya, hime-samaaaaaaa..."

Dengan cepat, Hinata membereskan barang-barang miliknya. Dia belum melakukan apa-apa, pakaiannya pun belum satupun yang lepas.

Pintu kamar hotel terbuka, dia langsung pergi.

Sebelum melangkah melewati pintu, dia memutar kepalanya dan menatapku, "Naruto-kun, aku suka senyum jujurmu yang hangat saat kau merawat lukaku dan saat aku menelpon tadi. Sering-sering begitu ya."

Blammm...

Hinata sudah pergi.

Aku tidak sempat membalas kata-katanya. Memangnya tadi aku tersenyum ya?

Ah tunggu! Aku sendirian, bajuku dia robek, bagaimana caranya aku pulang?

Shiittt! Kampret! Kembali kau perawan tak tahu diuntung!

.

.

...TBC

.

Note : Nah, udah selesai bagian Naruto-nya. Agak panjang, kesannya dia cerewet ya? Gimana pekerjaan Naruto, semuanya sudah jelas disini. Sisanya misteri tentang masa lalu dia, nanti saja. Chap depan kita balik ke sudut pandang Hinata lagi. Gantian.

Udah ah, sorry kalau kelamaan nunggu update. Ini proyek kolaborasi, kalau tidak dua-duanya punya waktu senggang, yaa ga ada yang ngerjain. Heheee...