Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
High School DxD © Ichiei Ishibumi
.
.
.
Pairing: Naruto x Koneko
Genre: romance/adventure/fantasy
Rating: T
Setting: AU (zaman samurai. Desa-desa ninja dijadikan desa biasa.)
Selasa, 24 November 2015
.
.
.
Fic request dari Bima Ootsutsuki
.
.
.
THE WANDERERS
By Hikari Syarahmia
.
.
.
Chapter 2. Cerita di awal perkenalan
.
.
.
CHAPTER SEBELUMNYA:
'Kemana dia? Dia sudah menghilang. Aku terlambat. Sekarang dia sudah pergi,' Koneko memasang wajah yang sangat kusut. Dia pun terpojok di antara keramaian orang yang masih lalu lalang.
Jadi, kemanakah Naruto pergi sekarang?
.
.
.
Koneko pun terus mencari keberadaan Naruto. Dia bergegas cepat dan menyusuri jalan-jalan desa tersebut. Dia tidak ingin kehilangan jejak orang yang ditakdirkan menjadi calon gurunya. Dia harus cepat menemuinya.
'Orang itu pasti tidak jauh dari sini. Aku harus cepat mengejarnya,' batin Koneko berlari cepat menyusuri setiap jalan-jalan desa.
Dia terus berlari dan berlari hingga tak terasa dia sampai di luar perbatasan desa Nami, yang ditandai dengan pagar gapura kayu dengan desain yang klasik. Di mana ada jalan setapak yang menurun ke arah perbukitan yang dipenuhi pepohonan hijau rimbun. Tidak tampak pemukiman para warga desa di sana. Semuanya hanyalah hamparan padang rumput hijau dengan banyaknya pepohonan sebagai pemanisnya.
Koneko berada tepat di puncak jalan setapak yang menurun. Ia memandang lepas ke arah bawah sana. Tampak seorang laki-laki berambut pirang yang mengenakan jubah jingga, berjalan di ujung jalan setapak itu. Otomatis membuat Koneko senang melihatnya.
"ITU DIA!" seru Koneko keras seraya mempercepatkan larinya untuk mengejar laki-laki berambut pirang itu.
Laki-laki berambut pirang yang tak lain adalah Naruto sendiri. Ia merasa sayup-sayup terdengar suara yang hinggap di telinganya. Suara langkah kaki dan suara seorang gadis yang berteriak, sehingga membuat dirinya menoleh ke arah belakang.
"HEI, TUNGGUUUUU!"
Naruto melihat dengan terpaku, seorang gadis berambut putih yang menghentikan larinya. Gadis yang ditemuinya di kedai ramen tadi. Membuat Naruto keheranan karena gadis ini malah mengejarnya.
Sesaat angin pun bertiup lembut ke arah mereka. Sehingga membuat rambut dan pakaian mereka berkibar-kibar dimainkan angin.
Koneko tersenyum simpul sambil terengah-engah. Ia sangat kelelahan karena sudah berlari sekuat tenaga untuk mengejar Naruto. Pada akhirnya, Naruto berhasil dikejarnya.
"Ternyata kamu ...," kata Naruto dengan wajah yang terlihat tenang."Yang waktu di kedai ramen itu, kan?"
Koneko menghelakan napas leganya sebentar. Lalu ia menjawab perkataan Naruto itu.
"Iya, itu benar," Koneko mengangguk cepat.
"Hm, jadi ... Ada apa? Kenapa kamu mengejarku?" tanya Naruto penasaran.
"A-Ano, aku hanya memastikan sesuatu hal kalau kamu adalah orang yang ditakdirkan menjadi calon guruku. Seperti apa yang dibilang oleh kakakku, hatiku berdetak kencang ketika berjumpa dengan kamu pertama kalinya. Itu berarti kamu adalah calon guru yang tepat untukku. Guru yang bisa melatihku untuk mengontrol kekuatan yang kumiliki sekarang. Aku tidak bisa mengontrol kekuatanku. Jadi, aku meminta bantuanmu untuk melatihku mengendalikan kekuatanku sendiri. Aku mohon, latihlah aku, sensei."
Mendengar semua penjelasan Koneko itu, benar-benar sukses membuat Naruto tercengang sekarang. Dia benar-benar bingung.
"A-Apa? Melatihmu dan menjadikanmu sebagai muridku? Yang benar saja?" Naruto menunjuk dirinya sendiri."Asal kamu tahu kalau aku ini adalah pengembara biasa dan tidak mempunyai kemampuan khusus atau kekuatan apapun. Aku tidak tahu soal melatih kekuatan. Mungkin sebaiknya kamu mencari guru yang lain saja. Aku bukan orang yang tepat untuk menjadi gurumu. Maaf ya."
Setelah mengatakan itu, Naruto segera membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Koneko.
Koneko terperanjat. Ia pun segera mengejar Naruto.
"SENSEI, TUNGGU!"
BLIIIZT!
Tiba-tiba, Naruto menghilang begitu saja dari hadapannya. Koneko kaget bukan main. Ia pun menghentikan larinya.
"SENSEI!" teriak Koneko sekencang mungkin dan menggema di tempat itu.
Setelah itu, dia pun berlari cepat ke arah ujung jalan setapak yang menuju hamparan hutan hijau lebat. Nalurinya mengatakan bahwa Naruto pasti pergi ke arah hutan tersebut. Semoga saja ia menemukan Naruto lagi. Dia tidak akan berhenti untuk terus mengejar Naruto dan membujuk Naruto agar menerima dirinya menjadi seorang murid.
.
.
.
Koneko masih tetap mencari keberadaan laki-laki tadi, sampai dia memasuki sebuah hutan lebat yang banyak ditumbuhi pohon-pohon yang tinggi dan terkesan menyeramkan. Banyaknya semak-semak belukar yang tumbuh di sekitar pohon-pohon tersebut. Sehingga membuat suasana hutan menggelap seperti malam hari padahal hari masih siang. Suasana hutan sangat sepi dan sunyi. Walaupun begitu dia tetap mencari sampai ...
"Gigi ... Gigi ...," tiba-tiba muncul suara dari balik semak-semak belukar, tepatnya cukup dekat dari Koneko. Koneko mendengar suara itu. Suara yang gaduh dan berisik sehingga membuat semak-semak belukar bergerak-gerak sendiri.
"Gigi ... Gigi ... Gigi ...," suara itu semakin kencang saja dan hampir mendekati Koneko sekarang juga. Koneko merasakannya ketika ada sesuatu yang kini berjalan ke arahnya dengan gerakan cepat.
SYAAAT! SYAAAT! SYAAAAT!
Ia pun membalikkan badannya dan kedua matanya terbelalak kaget karena sekarang di depannya muncul sekitar 20 makhluk yang bertubuh kecil dan memiliki warna hijau dan wajah jelek. Bermata merah tajam. Rupanya sangat menyeramkan. Mirip seperti alien. Sejenis monster yang menghuni hutan lebat ini. Mereka sedang mendekatinya secara perlahan-lahan.
"Ma-Makhluk apa ini?" sahut Koneko kaget bukan main. Ia pun sedikit gemetar. Wajahnya pucat pasi.
Koneko yang merasa terancam, segera mulai mencoba untuk melarikan diri tapi terlambat.
SET!
Salah satu dari makhluk hijau itu, menjegal kakinya hingga dia terjatuh ke depan.
BRUK!
Koneko jatuh terjerembab dalam keadaan tertelungkup. Makhluk-makhluk aneh itu mulai bermunculan di mana-mana. Jumlahnya sangat banyak dan kini mengepung Koneko.
"Gigi ... Gigi ... Gigi ...," beberapa makhluk itu menyeringai sinis. Mulut masing-masing terbuka lebar sehingga tampaklah gigi-giginya yang tajam. Mereka segera membunuh calon mangsa di depan mereka ini sekarang juga. Sebab, mereka adalah makhluk pembunuh berdarah dingin.
Tanpa aba-aba lagi, semua mahluk itu mulai melompat dan menerkam Koneko sekarang juga.
Koneko tidak bisa berbuat apa-apa. Dia benar-benar sangat ketakutan. Tubuhnya membeku seperti es batu. Ia hanya bisa menutup matanya.
'Oooh, inilah akhirnya. Aku belum bisa menemukan guruku dan sekarang sudah waktunya kembali pada sang Pencipta. Gomen, Nee-chan, aku tidak bisa menepati janjiku. Sayonara ...,' batin Koneko yang sudah pasrah dengan keadaan.
Makhluk-makhluk yang bernama Saibaman itu telah melompat ke arahnya. Nyaris mendekati Koneko, namun sebelum mereka menyentuh Koneko ...
Tiba-tiba ...
CRASSH!
Suara tebasan terdengar keras dan menggema di hutan itu. Beberapa Saibaman, mendadak diam tak bergeming.
BRUK! BRUK! BRUK!
Beberapa makhluk yang terdiam tersebut, terbelah menjadi dua bagian dan memuncratkan darah merah segar akibat sabetan pedang dari seseorang. Seseorang yang mendadak muncul dan berdiri tepat di hadapan Koneko.
Seseorang yang tengah dicari oleh Koneko. Koneko yang tidak merasakannya.
Dia adalah Naruto. Naruto datang untuk menyelamatkan Koneko.
WHUUUSH!
Beberapa makhluk yang tidak terkena sabetan pedang Naruto, mencoba melompat dan balik menyerang Naruto lagi.
SYAAAAT!
Muka Naruto menjadi garang. Kedua matanya menajam dan berkilat. Dengan memegang pedangnya erat-erat, salah satu kaki Naruto maju ke depan. Ia segera melakukan serangan tebasan sekali lagi.
CRAAASH! CRAAASH! CRAAAASH!
Naruto bergerak secepat kilat tanpa terlihat oleh mata biasa. Semua makhluk itu berhasil ditebas sekali layangan pedang dalam sekejap mata.
SET!
Naruto berhenti bergerak di tempat lain. Semua makhluk itu terbelah dua lagi dan mati terkapar di tanah. Darah merah segar pun berceceran di mana-mana.
Naruto tampak terengah-engah karena sudah mengeluarkan segala kemampuannya yang tidak disadarinya sama sekali. Tangan kanannya memegang pedang dengan erat.
"Akhirnya selesai ...," gumam Naruto yang terlihat lega sedikit.
Namun, tiba-tiba lagi ...
CRAAAASH!
Terjadilah peristiwa yang tidak disangka-sangka. Tubuh Naruto terbelah dua akibat ditebas oleh seekor monster yang mendadak datang dari arah belakangnya. Ukurannya lebih besar dari sebelumnya.
BRUUK!
Naruto pun tumbang di tanah begitu saja. Darah segar berceceran di mana-mana.
"GROAAAAAAR!" monster yang telah menebas Naruto dengan menggunakan pedang, mengamuk dan berteriak gila karena syok melihat makhluk-makhluk hijau seperti dirinya sudah terkapar mati. Pasalnya makhluk-makhluk kecil itu adalah para rakyatnya. Berarti makhluk berukuran besar ini, adalah Rajanya para Saibaman ini.
Setelah puas membunuh orang yang telah menghabisi para rakyatnya, makhluk itupun menghilang entah kemana. Meninggalkan kesunyian dan tragedi berdarah di siang hari yang masih terik.
Koneko yang sedari tadi ketakutan dan menutup matanya, segera menyadari apa yang telah terjadi. Setelah merasakan suasana yang kembali hening. Sebelumnya terdengar gaduh, berisik dan menegangkan.
SET!
Dengan cepat, Koneko membuka matanya dan bangkit dari acara terkaparnya. Diperhatikannya keadaan sekelilingnya dengan seksama. Di mana banyak mayat monster dan darah merah yang berserakan di mana-mana. Seketika Koneko menutup mulutnya dengan tangan saking tidak kuatnya melihat pemandangan menjijikan seperti itu.
"Hiiii ... Mengerikan sekali ...," sahut Koneko berwajah pucat."Siapa yang telah membunuh semua makhluk ini?"
Kembali diedarkannya pandangannya ke segala tempat. Hingga tatapannya pun melebar pada sosok mayat manusia yang terbelah dua, tak jauh dari hadapannya.
"Eh, i-itu, kan?!"
Segera saja Koneko berlari dan melewati hamparan mayat-mayat monster itu begitu saja. Ia menghampiri Naruto yang kini sudah tidak bernyawa lagi.
Begitu dekat, Koneko membelalakkan matanya dengan sempurna. Sosok orang yang dicarinya kini sudah tewas dalam keadaan yang mengenaskan. Dia tidak menduganya sama sekali. Sosok orang yang akan menjadi calon gurunya sudah mati mendahuluinya.
"SENSEI!" Koneko menjatuhkan dirinya di dekat mayat Naruto. Ia berlutut sambil menitikkan air matanya.
"Ke-Kenapa? Kenapa begini? Semua orang yang kutemui pasti akan meninggal di depan mataku. Seperti Kaasan, Tousan, dan juga Neechan ... Kenapa? Hiks ... Hiks ... Hiks ...," lanjut Koneko sambil menangis tersedu-sedu. Dia menundukkan kepalanya. Ia teringat kejadian pilu yang menimpa keluarganya, sejak dua tahun lalu.
Kini tinggallah Koneko sendirian di sana. Menangis seorang diri di depan mayat Naruto.
Bagaimanakah nasib Naruto? Tidak mungkin dia mati begitu saja.
Di balik semua itu, ada sesuatu yang terjadi pada diri Naruto sekarang.
.
.
.
Di tempat berwarna putih tak berujung, di mana Naruto sekarang berada. Tubuh Naruto terbang mengambang di udara. Kedua matanya tertutup rapat. Rambut dan pakaiannya berkibar-kibar. Seakan-akan Naruto berada di tempat yang tidak memiliki gravitasi. Semuanya terang benderang. Hingga muncullah suara besar yang menyapanya.
["NA-RU-TO!"] kata seseorang yang berada di balik cahaya yang sangat terang ini.
Kedua mata Naruto terbuka secara perlahan-lahan. Menampilkan mata berwarna biru yang bercahaya terang. Kedua matanya membulat sempurna saat melihat secercah cahaya menyilaukan yang berada di depan matanya. Tidak dapat dilihatnya dengan jelas.
"Si-Siapa ka-kau?" tanya Naruto dengan raut wajah ketakutan dan memucat.
["Aku adalah Kami ..."] ucap cahaya itu.
"Kami-sama, rupanya."
["Ya, kita bertemu lagi wahai manusia terpilih."]
"Suatu kehormatan dapat bertemu dengan-Mu, Kami-sama yang agung. Lalu apakah aku sudah mati sekarang?" ucap Naruto seraya membungkuk hormat. Tubuhnya masih melayang-layang di udara.
["Sayangnya kau tidak akan mati sebelum menyelesaikan tugas dariku."]
Naruto kaget lagi mendengarnya.
"Tugas apa itu, Kami-Sama?" tanya Naruto penasaran.
["Tetapi, sebelum aku menjawab pertanyaanmu itu. Jawab dulu pertanyaanku, apa yang akan kau lakukan jika kau memiliki kekuatan yang sama denganku?"] tanya Kami-sama.
"Eeeh ... Eeem ... Aku akan menciptakan perdamaian, ttebayo!" jawab Naruto langsung saja tanpa memikirkannya matang-matang.
["Bagus, jika itu tujuanmu. Karena kau memang akan kutugaskan mendamaikan dunia ini."] kata Kami-sama itu.
Mendengar itu, Naruto pun bertanya,"Apakah aku akan sendirian melakukan itu?"
Kami-sama menjawabnya.
["Tentu saja tidak, kau tidak sendirian dalam mendamaikan dunia ini. Kau akan dibantu oleh gadis yang kau tolong itu dan juga kau kutugaskan untuk melatihnya. Lalu persiapkan dirimu untuk menerima kekuatanku ini. Naruto, bersiaplah untuk menanggung tanggung jawab yang sangat besar ini. Aku harap kau menggunakan kekuatan yang kuberikan ini sebaik-baiknya dalam jalan kebaikan demi perdamaian dunia."]
Kemudian sang Kami-sama menyentuh kening Naruto dengan pilar cahaya yang berkilauan. Naruto merasakan keanehan menimpa dirinya. Cahaya melebar dan menjalar ke seluruh tubuh Naruto.
PAAAATS!
Cahaya berkilauan menimpa mata Naruto sehingga membuat Naruto menutup matanya kembali karena saking silaunya.
Sedetik kemudian, ia pun merasakan kehangatan. Naruto segera membuka matanya untuk melihat apa yang telah terjadi.
Mendadak tubuh Naruto bercahaya kuning terang seperti emas. Lalu dari telapak tangan kanan Naruto, keluar cahaya yang sangat terang membentuk suatu rupa tertentu. Cahaya itu tumbuh, mengeras dan membentuk sebuah pedang berwarna emas. Pedang yang berwarna "Sword Of Eden".
Pedang itu melayang-layang di depan Naruto. Tangan kanan Naruto segera mengambil pedang itu.
Ketika pedang emas itu diraih oleh tangan Naruto. Cahaya emas yang menyilaukan di seluruh tubuh Naruto mendadak menghilang.
Kini tampak Naruto dengan mata vertikal berwarna emas dan sedang memegang pedangnya erat-erat.
Terdengarlah suara sang Pencipta yang sangat berat dan nyaring.
["Kembalilah ke duniamu, Naruto."]
Naruto hanya mengangguk saja. Tubuhnya terurai menjadi cahaya dan menghilang dari tempat itu.
["Semoga berhasil, Naruto!"]
.
.
.
Sementara itu, di dunia nyata ini.
Terlihat Koneko sedang menangis karena melihat tubuh Naruto terbelah dua. Ia sungguh sedih karena calon gurunya sudah tiada. Dia begitu terpukul padahal Naruto belum dikenalnya. Tapi, entah mengapa hatinya begitu sedih ketika melihat mayat Naruto itu. Seakan-akan ada ikatan batin yang kuat dirasakannya pada Naruto. Naruto seperti orang yang sudah lama dikenalnya.
"Sensei ... Jangan mati ... Jangan tinggalkan aku ... Aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi di dunia ini. Aku sendiri sekarang ... Hiks ... Hiks ... Hiks ...," ujar Koneko yang masih menangis tersedu-sedu.
Kemudian pedang yang tergeletak di samping Naruto, tiba-tiba mulai bercahaya terang. Bersamaan mayat Naruto yang terbelah dua mendadak menghilang. Lalu dari arah pedang bercahaya itu, muncul bola cahaya berwarna kuning dan terbang mengarah pada Koneko. Koneko yang melihat itu, kaget dan berhenti menangis.
SRIIING!
Bola cahaya kuning itu menjelma menjadi sosok laki-laki. Orang itu menghapus air mata yang masih mengalir di dua pipi Koneko dengan jempolnya. Koneko terpana melihatnya. Ia sangat mengenali sosok bercahaya kuning di hadapannya ini.
"Sensei!" gumam Koneko pelan. Bersamaan cahaya kuning pada tubuh laki-laki itu mulai berangsur-angsur hilang. Sehingga tampaklah sosok laki-laki berambut pirang dan bermata biru. Menampilkan senyuman terbaiknya untuk calon muridnya ini.
"Jangan sedih. Aku belum mati kok. Aku sudah hidup kembali untuk menjadi gurumu. Aku akan melatihmu sebagai muridku," sahut laki-laki yang memang adalah Naruto.
Koneko sungguh senang melihatnya. Ternyata calon gurunya masih hidup. Dia tidak sendirian lagi karena Naruto telah menerimanya menjadi murid secara langsung.
"SENSEI! SYUKURLAH KAMU SELAMAT!" seru Koneko langsung merangkul leher Naruto begitu saja. Naruto kaget dan ternganga habis karena dipeluk tiba-tiba begitu oleh gadis yang baru ditemuinya hari ini.
Sedetik kemudian, Naruto tersenyum simpul. Kedua matanya menyipit lembut. Ia membalas pelukan Koneko.
Ia hanya tersenyum dan terus membiarkan Koneko memeluknya dengan erat. Ia tahu keadaan Koneko sedang terguncang akibat insiden tadi. Jadi, ia berusaha menenangkan hati gadis mungil ini, yang telah resmi menjadi muridnya hari ini. Akhirnya dia menemukan tujuan hidup yang sebenarnya.
.
.
.
"Namamu siapa?"
"Toujou Koneko."
"Asalmu darimana?"
"Desa Kuoh."
"Oh, desa Kuoh. Terus umurmu berapa?"
"Lima belas tahun."
"Hm, tiga tahun lebih muda dariku."
"Memangnya umur sensei berapa?"
"Delapan belas tahun. Tapi, jangan sebut aku sensei. Aku tidak suka dipanggil sensei."
"Kenapa? Kamukan guruku. Sudah seharusnya aku memanggilmu dengan sebutan sensei."
"Jangan. Aku belum menjadi pendekar yang hebat sekarang. Aku juga masih banyak belajar. Jadi, kamu panggil saja aku Naruto. Nama lengkapku Uzumaki Naruto."
"Tidak mau. Aku akan tetap memanggilmu, sensei. Boleh, kan Naruto-sensei?"
Wajah Naruto sangat sewot saat memandang gadis berambut putih yang berada di hadapannya ini.
"Sudah kubilangkan jangan memanggilku sensei. Kamu itu tidak bisa dikasih tahu ya!"
"Tapi, kamu itu guruku. Jadi, aku harus memanggilmu sensei."
"Tapi, aku masih muda dan belum sehebat yang kamu pikirkan."
"Aku tidak peduli seberapa hebatnya kamu. Kamu adalah guruku. Aku akan tetap memanggilmu sensei. Titik."
"Kamu itu keras kepala juga ya ...," Naruto menghelakan napasnya sejenak."Ya, sudahlah. Kamu boleh saja memanggilku sensei. Asal kamu harus menuruti semua apa yang kukatakan padamu dan jangan berani membantah apapun yang kukatakan karena aku adalah gurumu sekarang. Mengerti?"
"Mengerti, sensei!"
Koneko mengangguk cepat. Naruto tersenyum simpul melihatnya.
Saat ini mereka sedang berada di tepi hutan, tepatnya di dekat tebing pegunungan. Mereka sudah keluar dari hutan mengerikan tadi karena hutan tersebut adalah hutan yang dihuni beberapa monster mengerikan. Jadi, mereka memilih beristirahat sejenak di tepi hutan tersebut.
Di dekat jurang pegunungan tersebut, banyak bongkahan batu besar yang berjejeran di dekat Naruto dan Koneko duduk sekarang. Pohon-pohon yang tumbuh di sekitar mereka, berjumlah sedikit dan tidak terlalu tinggi. Di seberang jurang sana, terdapat hutan yang lain. Mungkin di balik hutan seberang sana, ada desa yang tersembunyi.
Saat ini hari memasuki senja. Langit pun mulai berwarna jingga kemerah-merahan. Matahari semakin condong ke barat. Burung-burung tampak beterbangan di kaki langit. Semuanya akan pulang ke sarang masing-masing.
Naruto dan Koneko memandang ke arah matahari yang mulai tenggelam ke barat. Kegelapan mulai menanti untuk menyingkirkan siang.
"Ternyata sudah mau malam," ujar Naruto.
"Iya, sensei," Koneko mengangguk lagi tanpa melihat Naruto.
"Kita akan tidur di tempat ini. Besok siang, kita akan melanjutkan perjalanan kita ke arah sana," Naruto menunjuk ke arah seberang jurang. Di mana ada hutan yang lain.
Koneko melihat ke arah yang ditunjuk oleh Naruto.
"Ke sana, sensei?" tanya Koneko.
"Ya, aku belum pernah pergi ke arah sana," jawab Naruto seraya menengok ke arah Koneko.
Koneko juga memandang ke arah Naruto.
"Kemanapun sensei pergi, aku hanya menurut saja."
"Oh, begitu ya?" Naruto memegang dagunya dengan tangannya untuk berpikir sejenak."Hm ... Karena hari sudah mulai gelap. Sebaiknya kita cari kayu bakar sekarang. Ayo, bantu aku, Koneko."
"Baiklah, sensei!" Koneko mengangguk cepat dengan wajah yang berbinar-binar. Ia langsung bangkit berdiri dengan antusias.
Naruto tertawa kecil melihat tingkah Koneko.
"Oke, ayo kita pergi sekarang!" Naruto bangkit berdiri dari duduknya.
"Ha'i, sensei!"
Naruto duluan yang berjalan dan diikuti oleh Koneko dari belakang. Mereka pun pergi mencari kayu bakar ke dalam hutan. Kayu bakar yang digunakan untuk membuat api unggun. Bisa digunakan untuk menerangi keadaan dan menghangatkan badan di saat angin malam melanda. Di samping itu, Naruto juga akan berburu dan Koneko mengumpulkan daun-daun untuk kebutuhan tambahan. Mereka bekerja sama dalam mempersiapkan keperluan untuk menghadapi malam yang akan segera tiba.
.
.
.
Beberapa jam kemudian, malam pun tiba juga. Tampak kumpulan bintang yang tersebar di langit yang gelap. Tanpa ada bulan yang menerangi. Semuanya gelap dan sunyi sekarang.
Tapi, di sekitar tepi pegunungan di dekat hutan mengerikan itu, ada cahaya yang menerangi Naruto dan Koneko. Cahaya yang didapat dari api unggun. Sehingga menghangatkan suasana karena suasana malam sangat dingin. Padahal angin juga tidak bertiup.
Naruto dan Koneko sedang makan malam bersama. Mereka duduk di atas batu secara berdampingan, tapi cukup jauh. Mereka makan daging bakar dengan khidmat. Daging bakar yang merupakan hasil buruan Naruto saat mencari kayu bakar bersama Koneko.
Daging bakar hasil buruan yang didapat dari ayam hutan tersebut, dibakar oleh Koneko sendiri. Sementara Naruto duduk santai sambil menunggu daging ayam itu matang. Naruto menyuruh Koneko yang memasak. Dengan senang hati, Koneko mematuhi perintah Naruto. Hitung-hitung semua ini adalah latihan pertama yang diberikan Naruto untuknya sebagai tahap melatih kedisiplinan dan kepatuhan, begitulah yang dipikirkan oleh Koneko sendiri.
Tak lama kemudian, mereka sudah selesai makan malam. Di dekat api unggun tersebut, tergeletak sisa-sisa tulang daging yang dimakan mereka tadi. Sekarang mereka duduk santai di tempat masing-masing.
Naruto yang duduk santai sambil merilekskan badannya. Kedua tangannya bertumpu ke belakang. Dua matanya sedang memandang lepas ke arah langit yang dipenuhi lautan bintang. Sungguh indah dan nyaman dipandang.
Sedangkan Koneko juga duduk agak berjauhan dari Naruto. Dia memandang ke arah api unggun itu dengan lama. Entah apa yang dipikirkannya. Seketika raut wajahnya sangat suram.
"Tousan ... Kaasan ... Neechan ...," kata Koneko pelan dengan nada lirih.
Suara Koneko yang begitu lirih dan terkesan menyedihkan, terdengar oleh Naruto. Lalu Naruto melayangkan pandangannya ke arah Koneko.
"Ada apa, Koneko?" tanya Naruto heran.
"Aku teringat dengan keluargaku, sensei," jawab Koneko tanpa menoleh ke arah Naruto.
Naruto tampak penasaran. Ia pun membetulkan letak duduknya.
"Kenapa dengan keluargamu?" tanya Naruto sekali lagi.
Pandangan mata Koneko menjadi sayu ketika Naruto menanyakan tentang keluarganya.
"Mereka ... Sudah meninggal karena kebakaran, sejak dua tahun yang lalu, sensei."
Naruto terperanjat. Kedua matanya membulat sempurna. Sedetik kemudian, kedua matanya menyipit sayu.
"Aku turut prihatin dengan apa yang telah menimpa keluargamu. Maaf, jika aku terlalu ingin tahu tentang keluargamu sehingga membuatmu sedih begitu."
"Tidak apa-apa, sensei. Sensei tidak perlu meminta maaf begitu. Sensei berhak tahu siapa aku sebenarnya. Jadi, aku akan menceritakannya pada sensei," tukas Koneko seraya menoleh ke arah Naruto. Wajahnya datar tapi sayu.
Naruto terdiam. Wajahnya juga sayu. Ia pun siap mendengarkan semua cerita Koneko tentang keluarganya.
"Aku punya orang tua dan satu kakak perempuan yang bernama Kuroka. Kami tinggal di desa yang bernama Kuoh. Desa yang damai dan tenteram. Namun, pada suatu hari, sekelompok naga datang dan menyerang desa Kuoh. Mereka membakar semua rumah para warga desa tanpa tersisa sedikitpun. Sebagian warga desa lainnya menyelamatkan diri dan sebagian lagi memilih untuk melawan para naga itu. Termasuk orang tuaku dan Kuroka-nee. Kuroka-nee menyuruhku bersembunyi di bawah tanah agar aku tidak terlibat dalam pertempuran itu. Semula aku tidak mau. Tapi, Kuroka-nee bersikeras agar menyuruhku tetap bersembunyi di bawah tanah bersama para warga desa lainnya. Dia memberiku sebuah amanat agar aku mencari seorang guru yang bisa melatih kekuatanku ini. Tandanya adalah jika jantungku berdetak kencang saat bertemu seseorang untuk pertama kalinya, itu berarti orang itu adalah guruku. Aku harus ikut dengan orang itu dan mematuhi semua perintahnya. Aku akan aman bersamanya. Begitulah yang dikatakan Kuroka-nee untuk terakhir kalinya ..."
Gadis berambut putih itu terus bercerita panjang lebar. Naruto tampak fokus untuk mendengarkannya. Sesekali ia manggut-manggut sambil berdiam diri. Sementara Koneko yang terus berbicara mengenai dirinya.
"Setelah penyerangan itu mereda, aku dan para warga desa yang selamat kembali ke permukaan tanah untuk melihat keadaan desa. Desa sudah hancur lebur. Rata dengan tanah. Semua orang yang melawan para naga itu tewas. Termasuk orang tuaku dan kakakku. Aku sangat terpukul dan menangis melihat semua itu. Bahkan rumah yang kutempati bersama keluargaku, juga sudah hangus terbakar ..."
Perlahan-lahan kedua mata kuning Koneko berkaca-kaca. Ia pun memalingkan mukanya dari hadapan Naruto ketika ia merasakan kedua matanya memanas. Buru-buru ia seka matanya dengan tangannya agar air mata itu tidak jatuh membasahi bumi.
"Lalu atas amanat kakakku, aku pun mulai pergi dari desa itu dan melakukan perjalanan selama dua tahun untuk mencari orang yang ditakdirkan menjadi guruku. Selama di perjalanan, banyak rintangan yang kulalui. Tapi, aku berusaha untuk melewati semua itu dengan kekuatanku sendiri. Sampai pada akhirnya, aku bertemu dengan sensei. Hatiku berdetak kencang saat bertemu denganmu pertama kali. Makanya aku mengejarmu karena kamu adalah orang yang ditakdirkan menjadi guruku. Firasatku sangat kuat terhadapmu dan aku tidak ingin berpisah darimu, sensei. Apapun yang kamu perintahkan, aku akan mematuhinya sepenuh hati karena aku adalah muridmu."
Koneko menampilkan senyum simpulnya pada Naruto. Naruto pun tertegun.
'Koneko ... Ternyata dia juga sendirian di dunia ini. Sama seperti aku. Dia yatim piatu sekarang dan tidak mempunyai siapa-siapa lagi sekarang,' batin Naruto memasang wajah yang sangat suram.'Kasihan dia. Aku juga tidak tega kalau meninggalkannya sendirian. Apalagi aku sudah terlanjur mengakuinya sebagai muridku atas perintah Kami-sama. Ya, aku akan menjalani tugas ini dengan baik. Aku juga akan menjaga Koneko dengan segenap kekuatanku karena dia juga rekanku yang akan menolongku dalam mendamaikan dunia ini. Dunia yang penuh dengan monster-monster aneh. Entah darimana munculnya monster-monster tersebut. Dunia menjadi tidak aman setelah kemunculan monster-monster itu.'
Ya, inilah dunia di zaman samurai, era jepang kuno. Dunia aneh yang dipenuhi oleh berbagai monster. Monster-monster yang muncul untuk mengacaukan para penduduk. Entah darimana datangnya. Namun, yang pasti dunia tidak damai lagi sejak kemunculan berbagai monster. Monster-monster itu datang kapan saja dan di mana saja. Entah apa tujuannya. Tiada yang tahu.
Untuk itulah, sang Kami-sama memberikan tugas penting ini pada Naruto. Mendamaikan dunia yang tidak aman lagi. Apalagi Kami-sama telah memberikan kekuatan yang tak terhingga pada Naruto. Kekuatan setara dengan Kami-sama. Kekuatan yang digunakan untuk menyelamatkan dunia ini, yang kini berada dalam ancaman para monster. Dunia sedang dalam bahaya yang selalu mengintai kapan saja.
Setelah selesai bercerita, Koneko mengusap kedua matanya sekali lagi. Naruto terus memperhatikan Koneko. Wajahnya kusut sekali.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Koneko."
Koneko tersentak dan menoleh ke arah Naruto. Ia tercengang.
"A-Apa? Maksud sensei?"
"Kamu sendirian di dunia ini. Aku juga sendirian di dunia ini. Aku juga tidak mempunyai siapa-siapa di dunia ini. Asal usulku tidak diketahui. Aku juga tidak tahu siapa orang tuaku yang sebenarnya. Sejak bayi, aku tinggal di panti asuhan. Pemilik panti asuhan yang telah merawatku, membesarkanku dan memberiku nama Uzumaki Naruto. Dia bilang aku ditemukan di dalam sebuah keranjang berdesain spiral dan diselimuti dengan jubah jingga ini. Pemilik panti asuhan yang telah menemukan aku, saat aku diletakkan di depan pintu panti asuhan. Entah siapa yang menitipkan aku ke panti asuhan itu. Hanya berupa jubah jingga ini, tanda peninggalan seseorang yang tidak kuketahui sampai saat ini. Entah siapa orang itu. Entah orang tuaku atau tidak. Karena penasaran ingin mencari tahu tentang siapa aku sebenarnya, aku pun nekad melakukan perjalanan jauh saat berumur tiga belas tahun. Lalu pemilik panti asuhan memberiku sebuah bekal yang cukup dan pedang miliknya yang kugunakan untuk berjaga-jaga selama dalam perjalanan. Ya, aku hitung-hitung selama perjalanan ini, sudah enam tahun aku mengembara. Selama itu juga, aku belum menemukan jawaban atas pertanyaanku. Siapakah aku yang sebenarnya?"
Giliran Naruto yang bercerita. Giliran Koneko yang mendengarkannya.
Naruto menarik pandangannya ke arah atas sana. Memandangi bintang-bintang di langit. Wajahnya datar.
"Ya, siapa aku sebenarnya. Itu yang kucari dalam pengembaraan ini. Hingga pada suatu hari, aku selalu mengalami mimpi yang sangat aneh dan sama setiap kali aku tertidur. Bermimpi bertemu dengan Kami-sama dan menyuruhku untuk mendamaikan dunia ini. Sang Kami-sama juga mengatakan suatu hari nanti aku akan bertemu dengan seseorang yang ditakdirkan menjadi muridku dalam membantuku untuk menyelamatkan dunia. Ternyata muridku itu adalah kamu, Koneko."
Koneko kaget mendengarnya.
"Eh, sensei bertemu dengan Kami-sama? Aku harus membantu sensei dalam menyelamatkan dunia ini," Koneko ternganga.
"Ya, itu benar. Aku tidak bohong," Naruto menurunkan pandangannya dan menoleh ke arah Koneko lagi."Jadi, mulai besok aku akan melatihmu, Koneko. Kamu mau, kan?"
Ketika mendengar itu, Koneko terpana. Sedetik kemudian, dia mengangguk cepat.
"Iya, aku mau sensei. Mulai besok kita mulai latihannya. Apalagi sekarang sudah malam. Hoaaam."
Koneko menguap panjang. Ia menutup mulutnya dengan tangannya agar tidak terlihat seperti kuda nil. Naruto tersenyum melihatnya.
"Rupanya kamu sudah mengantuk."
"Begitulah, sensei."
"Kalau begitu, kamu tidur saja dulu."
"Sensei sendiri? Belum mengantuk ya?"
"Aku belum mengantuk. Kamu saja yang tidur dulu. Biar aku yang berjaga-jaga agar tidak ada yang menyerang kita di sini. Apalagi kita masih berada di daerah banyaknya monster mengerikan. Aku takut mereka berkeliaran sampai ke sini."
"Eh? A-Ada yang menyerang?"
Koneko tampak ketakutan. Wajahnya pucat pasi. Naruto menyadarinya. Ia pun tersenyum ngeles.
"Tenang saja. Itu baru dugaanku. Entah benar atau tidak. Jangan takut. Aku ada di sini kok. Jadi, kamu tidur saja ya, Koneko."
"Hm, baiklah. Aku tidur dulu. Oyasumi, sensei."
"Ya, oyasumi."
Segera saja Koneko merebahkan badannya yang sudah dialasi dengan daun-daun lebar sebesar daun pisang. Daun-daun yang diambil pada saat mencari kayu bakar bersama Naruto. Ia pun tertidur dengan nyenyaknya di dekat api unggun yang masih menyala. Sedangkan Naruto masih duduk di atas batu sambil memandangi api unggun tersebut. Kedua mata birunya meredup. Ada yang sedang ia pikirkan. Ia termenung sejenak.
Beberapa menit kemudian, angin malam pun berdesir cukup kencang sehingga membuat api unggun menjadi terganggu. Kobaran api unggun bergoyang-goyang seiring arah angin itu bertiup. Membuat lamunan Naruto buyar.
"Eh?" Naruto tersadarkan dan menyadari api unggun mulai hampir mati karena tertiup angin. Ia pun segera mendekati api unggun tersebut dan mengambil kayu-kayu yang tersisa di sampingnya. Lalu melemparkan kayu-kayu itu ke pusat api unggun agar nyala kobaran api unggun tidak padam karena tertiup angin malam.
"Uhm, di-dingin sekali!" ucap gadis berambut putih itu dan menyita perhatian Naruto padanya.
Sang gadis tertidur dalam keadaan miring ke kanan. Ia meringkuk seperti kucing. Ia melipat tangannya di dadanya kuat-kuat. Menandakan dia sedang ditusuk oleh angin malam yang sangat dingin.
'Koneko ... Dia kedinginan,' Naruto langsung membuka jubah jingganya itu. Kemudian ia berjalan mendekati Koneko dan menyelimuti Koneko dengan jubah jingganya agar berharap Koneko tidak kedinginan lagi. Jadi, jubah jingga yang membungkus tubuh Koneko akan memberikan kehangatan buat Koneko.
Laki-laki berambut pirang itu tersenyum saat melakukannya. Bahkan dia mengelus rambut Koneko dengan pelan. Ia memberikan perhatian pada sang murid dengan penuh kasih sayang.
"Tidur yang nyenyak ya, Koneko," bisik Naruto pelan.
Lantas ia memperhatikan Koneko dengan lama sambil berlutut. Entah mengapa rasanya hatinya begitu senang saat memandang gadis itu. Entahlah ada suatu perasaan yang aneh muncul mendadak di hatinya. Dia sendiri juga tidak tahu. Entah perasaan apa itu.
Setelah itu, Naruto pun menguap panjang. Rasanya dia mengantuk juga. Tapi, dia harus menjaga api unggun itu agar terus menyala sampai pagi hari tiba. Apalagi angin malam terus bertiup kencang. Ia harus menjaga Koneko agar Koneko tidak kedinginan.
'Aku harus tetap berjaga. Aku tidak boleh tertidur. Apalagi aku dan Koneko masih berada di daerah yang rawan seperti ini. Lagi pula aku merasa Koneko belum cukup berpengalaman dalam bertarung. Terbukti saat bertemu para Saibaman, Koneko kelihatan sangat ketakutan begitu. Berarti dia masih harus banyak belajar untuk bertarung. Ini demi membantuku untuk menyelamatkan dunia yang semakin aneh ini. Ya, aku harus melatihnya secara bertahap-tahap.'
Itulah tekad Naruto yang akan menjadi guru untuk melatih Koneko. Naruto yang baru. Dia baru saja dibangkitkan lagi setelah mengalami mati sekali. Sang Kami-sama menetapkan suatu jalan yang terbaik untuk menyelamatkan dunia ini. Dari kekuasaan "Yang Terkuat" dan bisa mengendalikan para monster yang didatangkannya dari dimensi lain. Dunia monster sudah terbuka. Monster-monster yang kini akan menguasai dunia. Entah siapa di balik dalang semua awal mula monster-monster datang ke muka bumi ini.
Setelah ini, petualangan dan konflik sebenarnya akan dimulai. Tunggu tanggal mainnya.
Semua orang masih terus mencari Naruto sampai sekarang ini.
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
SAATNYA MEMBALAS REVIEW:
fatoni udaneni: terima kasih atas review-mu ya. Hm, naruto dan koneko nggak bakal pergi ke masa depan kok. Yahiko dan dkk nggak bakal jadi muridnya naruto. Ini udah lanjut.
Thiyahrama: terima kasih. Ini udah lanjut kok.
ambar the fill: oh gitu ya. Kurang greget. Oke, bakal saya buat lebih greget lagi. Terima kasih atas review-nya ya.
Train Heartnett: terima kasih ya.
Namikaze Nogami: terima kasih. Ini udah next.
JoSsy aliando: terima kasih.
Zhai Beh: terima kasih. Ini udah lanjut.
asd: terima kasih. Ini udah lanjut kok.
kizami namikaze: hehehe, saya memang suka yang antimainstream. Terima kasih kizami.
Ryuuki Namikaze Lucifer: terima kasih. Ini udah lanjut.
cungkrings: kok ketawa? Ini udah lanjut.
mizuki runa 5: settingnya di zaman samurai. Ini udah lanjut.
The KidSNo OppAi: oke, lanjut. Arigatou.
Marvell569: silakan numpang lewat aja. Arigatou.
.
.
.
A/N:
CHAPTER 2 UPDATE!
Maaf, baru sekarang saya update karena kendala tidak ada paket internet. Jadi, terlambat dari jadwal update yang saya tetapkan. Banyak yang mesti saya pertimbangkan dalam perkembangan cerita ini. Termasuk berunding dulu sama Bima, orang yang merequest fic ini. Terima kasih sudah membantu juga dalam scene cerita ini, Bima. Banyak yang sudah saya tambahkan pas menemukan yang agak menjanggal.
Bagaimana Bima? Bagaimana pendapat kalian tentang chapter kali ini?
Saat mengerjakan cerita ini, saya kurang sehat. Pilek dan pusing. Tapi, tidak menyurutkan keinginan saya untuk menyelesaikan chapter 2 ini. Jadi, idenya udah muncul, jadi saya tulis dan nggak terasa semakin panjang saja.
Karena ada ide buat chapter 3-nya, maka saya lanjut lagi nih ceritanya.
Oke, terima kasih sudah membaca cerita ini. Terima kasih udah mereview, fav dan fol cerita ini.
Salam ...
Hikari Syarahmia
Rabu, 25 November 2015
Berikan review-mu ya ...
Kalau ada saran buat cerita ini, kasih tahu saya ya. ^^
