Don't Like! Don't Read!
Read It—Enjoy It

- What did I do wrong? -

.

.

.

Kisahku berawal dari kehadiran sosok bayi mungil yang sangat manis dan rapuh. Saat itu, usiaku baru menginjak 4 tahun. Dimana seorang anak kecil sangat merasa bahagia ketika mendengar kabar bahwa dirinya telah menjadi seorang kakak. Itulah hal yang aku rasakan di siang itu.

Euforia menyelimuti keluarga kecil kami, sosok bayi mungil yang masih mengatupkan mata. Menggeliat lucu di sisi ibuku. Aku memperhatikan setiap pergerakannya dengan antusias.

Ibuku tersenyum hangat, Ayahku menggendong tubuh mungilku, yang lantas menurunkanku agar aku lebih leluasa memperhatikan adikku yang sangat manis.

Dua bola mata yang tampak seperti bola pingpong, membulat kian lebar ketika mendengar bayi itu melenguh. Aku semakin antusias. Perlahan dua kelereng ametyst itu menampakkan kilauannya. Aku tersenyum menyambutnya.

Dia adikku.
Adik kecilku yang paling manis dan cantik.

Pertama yang ia lihat adalah sosokku, yang kemudian beralih ke Ibuku dan Ayahku. Siapa sangka, keluarga kami benar-benar keluarga yang bahagia pada saat itu. Senyum pun tak luntur dari tiga manusia yang tengah menatap bayi mungil itu.

"Ibu, siapa nama adikku?" tanyaku malu-malu. Bahkan netraku masih enggan melepas pandang dari setiap pergerakannya yang menggemaskan.

"Namanya Hanabi! Kau harus menyayangi adikmu ya, Hinata-chan!" jawab Ayahku lembut. Aku mengangguk antusias. Menyetujui mandat dari Ayah.

Kebahagian benar-benar menyelimuti keluarga kami. Hingga kabar itu datang, melenyapkan semua senyuman yang dahulu pernah hadir.

Adikku menghilang. Kata orang, adikku diculik oleh seseorang. Dahulu aku masih bocah, aku pun tak tahu betul akan musibah itu.

Ayahku kalang kabut mengerahkan seluruh anak buahnya untuk menemukan adik kecilku. Namun, usahanya hanya sia-sia.

Perihal inilah yang membuat kondisi Ibuku kian hari kian parah, mungkin kondisi seorang Ibu usai melahirkan jauh lebih rentan, sehingga mudah sekali terserang depresi.

Saat itu, di bawah rintik hujan. Aku berjongkok sendu, di atas pusara tanah seseorang yang sangat berharga bagiku. Sosok yang kini telah tiada lagi di dunia ini. Sosok yang akan selalu kurindu. Sosok penuh cinta yang akan selalu aku damba. Sosok pelita hidupku. Ibuku.

Aku terisak, bahkan tubuhku bergetar. Netraku masih menatap pusara ibu tentu dengan perasaan biru di dalam sini. Aku seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Tak tahu harus kemana melangkah.

Bola pingpongku menatap sendu sosok pria tegap yang berdiri dengan tegarnya disisi pusara ibu. Ia ayahku, menatap tajam pusara tanah itu. Ia membisu, bergeming.

Apakah Ayah tak sedih?

-oOo-

Beberapa bulan berlalu. Ayah semakin membisu, bahkan Ayah telah berubah. Bukan sosok yang penuh cinta seperti yang dulu. Bukan sosok yang menyenangkan yang selalu bermain denganku seperti dulu. Bukan sosok yang aku banggakan seperti dulu.

Ia telah berubah, berubah menjadi orang asing. Yang entah seperti apa wataknya yang baru. Dia mengacuhkanku. Dia tak pernah bicara denganku. Dia tak pernah dekat denganku. Dia seperti semakin menjauh, jauh, hingga tangan ini tak lagi sanggup meraihnya.

Ayah apa salahku?

Di saat yang sama. Sosok lain muncul menemaniku. Aku cukup senang aku akan memiliki teman. Dia adalah kakakku, Neji Hyuuga. Putra dari adik kandung ayahku. Paman Hizashi Hyuga.

Dia selalu menemani hariku. Mengajarkanku banyak hal. Dia saudara yang baik. Hanya saja aku terkadang mengeluhkan sikapnya yang-

BUGG.. BUGG... BRAGH..
"Ayo bangun, Hinata!" titah Neji-nii tegas.

Aku menarik tanganku ke dua sisi bahuku. Menjadikannya tumpuan. Perlahan aku mengangkatnya. Tubuhku terasa nyeri dan perih di beberapa titik. Terkadang latihan ini tak hanya melelahkan namun juga menciptakan luka. Walau hanya ringan.

Patah-patah aku berdiri dengan posisi kuda-kuda. Kakiku mulai gemetar, aku sudah tak sanggup untuk berdiri lagi.

"Kau jangan seperti gadis lemah yang bodoh! Ayo serang aku!" teriak Neji-nii masih menatapku dengan tajam. Aku bergeming, "Ayo serang! Atau aku yang akan menyarangmu." tiga detik aku masih bergeming, merasa geram, Neji-nii lantas berlari ke arahku dan siap menendang tubuhku, namun,

GUBRAK
Aku tak mampu menopang tubuhku sendiri, jatuh tersungkur, dengan pandangan mulai buram. Neji-nii berjongkok dihadapan wajahku, ia memperhatikan kusesaat, lantas tersenyum sarkatis, "Kau terlalu lemah, Hinata! Baiklah, latihan kali ini selesai dengan sangat mengecewakan, sebagai hukumannya, latihan besok ditambah 30 menit lagi."

Apa ia tak merasa iba dengan diriku?

"Segera persiapkan dirimu, 10 menit lagi les private akan segera dimulai. Tenang saja adikku yang manis, aku tak akan lelah mengajarimu sekeras apapun itu." sejenak ia membelai surai indigo milikku, lantas beranjak, balik kanan, dan melenggang pergi.

Aku menatap sosok itu, mengulurkan tanganku hendak meneriakinya, namun, serentak semua gelap seketika.

To Be Continued...

Mind to Review?

.

_ Nami-Aika71 _
Sabtu, 8 Oktober 2016