Title:Di Balik Kegelapan – Tepian Cahaya
Author:nanaspineapple
Pairing:Kaisoo, slight!Chanbaek, mentioned!Hunhan, bff!Sekai
Genre:Drama, blind!Kyungsoo, dancer!Sekai
Rating:T
Disclaimer:Kesamaan nama tokoh memang disengaja
Word Count:3,377
Summary:Tidak peduli seberapa gelapnya dunia di depan Kyungsoo, ia tahu Jongin akan membawa cahaya baru tiada berujung di hidupnya yang disebut cinta.


CHAPTER 2 – Tepian Cahaya

Pacaran dengan Kyungsoo tentu membawa banyak perubahan pada hidup Jongin.

Lelaki berkulit gelap yang aslinya memang lumayan banyak omong itu makin ceria, makin ramah, makin murah senyum. Mungkin karena terbiasa menjaga Kyungsoo, sikapnya pada murid-muridnya juga makin lembut. Begitu studio mereka membuka pendaftaran lagi dan kelas-kelas baru dimulai, Jongin dengan cepat jadi populer karena keramahannya itu.

Orang pertama yang Jongin kenalkan pada Kyungsoo secara serius adalah Sehun.

Setelah mereka selesai mengajar, Jongin mengajak Sehun untuk beli bubble tea dulu sebelum pulang, sekalian mengenalkannya pada Kyungsoo. Sebagai sahabat yang baik, Sehun sebenarnya sudah menunggu-nunggu saat Jongin mengenalkannya pada Kyungsoo. Sebelumnya Jongin tidak pernah memberitahu Sehun soal kebutaan Kyungsoo, tapi ia tahu sahabatnya itu tidak akan mengatakan apapun soal itu.

Makanya waktu Sehun membelalak di depan Kyungsoo, Jongin terkejut.

"Jongin… orang ini…" Sehun melihat Kyungsoo dari atas ke bawah, dan ekspresi Kyungsoo terlihat tidak nyaman. Kadang Sehun memang tidak terduga, tapi Jongin takut kalau Sehun tiba-tiba menyinggung soal mata Kyungsoo. "Jong, aku sebenarnya tidak terlalu ingin mengatakan ini, tapi seleramu bagus! Wajahnya manis sekali, astaga. Rasanya aku tahu kenapa kau suka padanya."

Jongin bermaksud menghela napas lega, tapi justru keluar sebagai tawa pelan.

"Aku Oh Sehun. Senang berkenalan denganmu, Hyung," salam Sehun sambil menarik tangan Kyungsoo untuk bersalaman dengannya.

"Do Kyungsoo. Senang berkenalan denganmu juga," jawab Kyungsoo sambil tersenyum. Sehun lalu berdiri di sebelahnya dan merangkulnya, membuat Kyungsoo sedikit terkejut.

"Astaga Jongin bahkan tingginya pas sekali untukmu! Just fit!" ujar Sehun, lalu melepas rangkulannya. "Hyung, bagaimana pacaran dengan Jongin? Apa dia pencium handal? Tapi aku yakin dia sering merepotkanmu, ya?"

Kyungsoo hanya tersenyum mendengar itu. Justru akulah yang merepotkannya.

"Heh! Kalau ada orang yang membuatku repot di dunia ini itu kau, tahu! Mana ada orang 24 tahun sudah kerja masih saja nangis-nangis kalau mau minum bubble tea!" bentak Jongin.

"Apaan, sih, aku sudah bilang bubble tea itu hidupku! Lagian ngaca, dong! Mana ada orang 24 tahun baru bangun tidur langsung pesan ayam bumbu tiga potong buat sendiri!"

Kyungsoo tertawa mendengar perdebatan mereka. Sekali dengar saja, ia sudah tahu kalau Jongin dan Sehun sangat akrab, dan ia sejujurnya merasa sedikit cemburu pada hal itu. Tetapi begitu mereka berjalan bersama ke toko bubble tea di dekat taman dan Jongin menggandeng tangannya dengan penuh sayang, Kyungsoo tahu ia tidak akan pernah meragukan perasaan Jongin padanya.

(Sehun terus-terusan mengeluh karena tidak membawa Luhan bersamanya saat itu.)

oooooooooooooo

Perlahan tapi pasti, Jongin mulai sering menghabiskan waktu di rumah Kyungsoo.

Para tentor dance di studio tempat Jongin bekerja yang shift mengajarnya siang dan sore mendapat jatah latihan di pagi hari. Tapi latihan mereka hanya dua atau tiga kali dalam seminggu. Sisanya saat Jongin senggang, ia akan selalu pergi ke rumah Kyungsoo. Biasanya kalau pagi, Jongin akan malas-malasan dengan Sehun di sofa. Tapi belakangan ini Jongin selalu sudah berpakaian rapi biarpun masih pagi dan Sehun senang melihatnya karena ia suka kalau Jongin senang (atau karena, "pergi terus saja sana, nggak usah balik biar aku bisa ajak Luhan hyung ke sini terus.").

Biarpun sebelumnya sudah sering mengantar Kyungsoo ke rumah, Jongin tidak pernah benar-benar masuk ke dalam. Saat ia pertama kali datang, Baekhyun menyambutnya dengan ceria dan menyuruhnya masuk. Rumah mereka sangat rapi, beda dengan rumahnya dan Sehun (terkutuklah kebiasaan mereka malas beres-beres).

Belakangan Kyungsoo bekerja sebagai penulis artikel untuk sebuah kolom koran (terima kasih pada Junmyeon yang sudah menawarinya pekerjaan ini!) dan Jongin sangat terkejut pada saat ia mengetahui itu. Biarpun Kyungsoo tidak bisa melihat apapun, tapi lelaki itu sangat lancar mengetik menggunakan komputer. Biasanya setelah menyelesaikan sebuah artikel, Kyungsoo akan meminta Baekhyun membacanya jika ada yang salah ketik. Kali ini tentu saja Jongin dengan senang hati membantunya.

Tapi yang membuat Jongin lebih terkejut lagi adalah kemampuan Kyungsoo bersih-bersih dan memasak. Cara Kyungsoo menggunakan vacuum cleaner untuk membersihkan karpet di ruang tengah, cara Kyungsoo mengangkat vas saat mengelap meja, bahkan kelihaiannya memotong sayuran dan spaghetti buatannya yang begitu enak membuat Jongin begitu terheran-heran. Mata Kyungsoo memang selalu kosong dan pucat, tapi setiap Jongin menatapnya, ia bisa melihat suatu kehidupan tanpa ujung.

Baekhyun yang bekerja sebagai administrator sebuah super market memiliki jam kerja umum, yaitu jam sembilan sampai jam lima. Kebetulan super market itu berdekatan dengan kantor Chanyeol, jadi pacarnya yang tinggi itu biasa menjemputnya untuk berangkat bersama.

Karena sering main, Jongin jadi sangat akrab dengan Baekhyun dan Chanyeol. Bahkan Chanyeol sepertinya jadi terlalu suka pada Jongin karena menurutnya Jongin sangat tampan. Baekhyun memukul-mukul lengannya sambil tertawa saat Chanyeol menyatakan diri sebagai fans nomor duanya Jongin (karena ia yakin nomor satunya pasti Kyungsoo).

Sudah sebulan sejak Kyungsoo dan Jongin mulai pacaran. Saat ini sudah hampir masuk pertengahan musim gugur dan festival kembang api semakin dekat. Karena harus melakukan penampilan dengan dance baru, Jongin jadi latihan setiap hari dan hampir tidak pernah bertemu Kyungsoo. Karena Kyungsoo sementara tidak punya ponsel, jadi ia harus menghubunginya lewat Baekhyun dan berjanji akan menemuinya kalau punya waktu. Kyungsoo tentu saja tidak keberatan dan menyemangati Jongin.

"Aku bersumpah aku akan mati sebentar lagi," ucap Jongin suatu siang, ia terkapar telentang di lantai studio yang dingin. Saat itu para tentor baru saja selesai latihan untuk penampilan di festival kembang api yang akan datang. Dari sekian banyak tentor, Jongin dipilih jadi center utama ("Kenapa aku?" "Kau tampan dan dancemu bagus.") jadi dia harus berlatih sangat keras. Mungkin kebanyakan orang berpikir menjadi center itu menyenangkan karena sering berada di depan, di tengah dan mendapat perhatian terbanyak. Sebaliknya, itu justru jadi beban untuk Jongin. Karena mendapat perhatian penonton terbanyak itulah gerakannya harus sempurna karena ia bertanggung jawab untuk mewakili teman-teman di belakangnya. ("Aaah, harusnya Hyukjae hyung dan Yunho hyung juga ikut festivaaal, kenapa aku harus jadi center utama sih!)

"Karena kebanyakan latihan?" tanya Sehun yang duduk di sebelahnya.

"Karena enggak bisa ketemu Kyungsoo hyung," koreksi Jongin.

"Sesekali cobalah suruh dia yang main ke rumah kita."

"Apa kau gila? Menyuruhnya naik kereta selama 10 menit berdesak-desakan dengan orang lain? Aku yakin Baekhyun hyung dan Chanyeol hyung pasti akan dengan senang hati mengantarnya tapi tidak, aku tidak mau merepotkan mereka."

"Dasar tante-tante," cibir Sehun, dan Jongin memukul pahanya sambil tertawa. "Jadi, kau sebenarnya belum cerita soal keadaan Kyungsoo hyung. Kenapa dia bisa jadi sepert itu."

"Ah…" Jongin mengangkat kepalanya sedikit untuk berbaring di pangkuan Sehun. "Dia lahir normal. Tidak cacat apa-apa. Tapi dua tahun lalu, saat ia baru setahun lulus kuliah, ia mengalami kecelakaan dan itu membuatnya buta. Dia punya orang tua dan seorang kakak, di… tempat asalnya. Mereka ingin Kyungsoo hyung tinggal dengan mereka lagi, tapi saat itu datanglah Baekhyun hyung yang berkata bahwa ia akan menjaga anak mereka dengan baik."

"Wow." Sehun membelalak dengan kagum. Jemarinya mengusap rambut di dahi Jongin. "Orang itu setia sekali."

"Iya, kan? Sekarang Kyungsoo hyung menulis sedikit artikel di koran. Pendapatannya memang tidak seberapa, tapi setidaknya lebih baik dibandingkan tidak bekerja sama sekali."

"Tapi kenapa dia tidak melakukan transplantasi mata?"

"Tentu saja dia akan melakukannya. Hanya saja yang bernasib seperti itu kan bukan hanya dia. Kyungsoo hyung sudah mendaftar di sebuah rumah sakit sebagai salah satu kandidat yang akan mendapatkan donor mata, tapi kau tahulah orang yang mendonorkan matanya tidak sebanyak itu, sementara yang butuh jauh lebih banyak. Makanya, sampai saat ini belum waktunya."

"Begitu, ya." Sehun menghela napas. "Pasti berat, ya, hidup seperti itu. Saat ia pertama kali mengalaminya pasti sulit menerima kenyataan. Hidup dikelilingi kegelapan seperti itu… biarpun ia pernah melihat sebelumnya, ia pasti sebenarnya sedih sekali."

"Makanya kalau sedang bersamanya bawaannya ingin membuatnya senang terus."

"Dia beruntung sekali bisa pacaran denganmu, Kkamjong. Kalau suatu hari dia bisa melihat lagi, dia pasti sangat bahagia karena selama ini memacari lelaki setampan dan seseksi kau."

"Kyungsoo hyung… dia menilai orang dari pribadinya, bukan penampilannya. Mungkin itulah yang membuatku suka padanya."

"Yah... Tapi aku tidak bohong waktu bilang dia manis. Aku yakin dia akan tambah manis kalau sudah transplantasi mata nanti."

Jongin tersenyum, lalu berguling sedikit dan membenamkan wajahnya di depan perut Sehun, lalu melingkarkan tangan di pinggangnya, tidak peduli kalau temannya itu berkeringat. "Terima kasih, ya, Hun."

"Ha?" Sehun menepuk-nepuk kepala Jongin. "Untuk apa?"

Jongin tidak menjawab dan Sehun membiarkan posisi mereka tetap seperti itu selama istirahat sampai Jongin tertidur. Yixing menegurnya dan menyuruhnya untuk membangunkan Jongin tapi Sehun menggeleng dan berkata bahwa Jongin sangat lelah dan butuh lebih banyak istirahat dari pada yang lain.

oooooooooooooo

Festival kembang api tiba.

Bagi kebanyakan orang, ini saatnya liburan dan menghabiskan waktu dengan keluarga. Tapi tidak bagi Jongin yang sudah berlatih selama dua minggu penuh demi penampilan hari ini. Bahkan di rumah pun, ia dan Sehun terus-terusan mengulang gerakan dancenya. Mereka berdua cukup menarik perhatian karena mereka tentor yang paling muda di sana, sementara kemampuan dance mereka sudah setara dengan senior mereka seperti Zhang Yixing dan Lee Taemin, terutama Jongin.

Saat hari festival, tadinya Jongin ingin ke salon saja untuk mengatur rambutnya, tapi Sehun ngotot agar dia saja yang mengatur rambut Jongin dengan gel dan hair spraynya. Bukannya Jongin tidak percaya pada Sehun, tapi mereka jadi harus menghabiskan waktu empat jam sampai rambut mereka berdua benar-benar tertata. ("Oh Sehun hair stylist wannabe~" "Berisiiik.")

Mereka berdua langsung berangkat ke tempat festival dan mendapatkan banyak tatapan dari orang lain. Siapa yang tidak kaget melihat dua orang lelaki muda yang begitu tampan dengan rambut ditata dengan kerennya naik bis yang rutenya cukup jauh? Tapi tentu saja mereka tidak peduli, karena Jongin langsung tidur begitu duduk dan Sehun terus memandang ke depan dengan poker facenya.

Kedua orang itu sampai di tempat festival dan stanby di tempat yang sudah dipesan untuk studio mereka. Kostum yang membalut tubuh mereka memang kurang nyaman, tapi setiap mereka akan tampil di sebuah pertunjukan memang selalu begitu. Make up tebal, rambut kaku, kostum yang bikin gatal, dan kali ini mereka cukup beruntung karena diperbolehkan pakai sepatu biasa. Kadang mereka diharuskan pakai sepatu kulit tinggi bersol tebal dan itu menyakiti kaki mereka.

"Giliran kita jam berapa, sih?" gerutu Jongin. Ia melepas jaketnya karena lengannya sangat gatal, lalu menggantinya dengan jaketnya sendiri.

"Masih dua setengah jam lagi," jawab Yixing yang sedang makan pisang di dekat rak kostum.

"Iya, dua setengah jam dan aku harus menghabiskan hidupku menunggu di sini. Aku mau jalan-jalan dulu, deh. Ikut nggak, Hun?"

"Enggak, deh. Aku di sini saja. Hati-hati, lho, Jong! Kalau rambutmu rusak, kubunuh kau!" ancam Sehun.

"Iyaa."

Jongin keluar dari backstage dan mulai berkeliling di sekitar panggung. Ia melihat banyak stand makanan, tapi uangnya ada di tas dan ia akan dapat makan nanti, jadi ia harus menahan diri saat melihat stand ayam bumbu di sana. Baru sebentar berjalan, ia menangkap sosok manusia yang begitu tinggi dan tidak butuh waktu lama baginya untuk sadar siapa itu.

"Yeolie Hyung!" panggilnya keras, lalu menyeruak di antara orang-orang (sehati-hati mungkin agar rambutnya tidak rusak) untuk menghampirinya. "Chanyeol Hyung!"

Chanyeol menoleh dan tersenyum lebar saat melihat Jongin, dan ia langsung menepuk-nepuk bahu Baekhyun di sebelahnya, lalu menunjuk Jongin. Mereka berdua tersenyum pada lelaki berkulit gelap itu sebelum menghampirinya.

"Jongin-aaah kau tampan banget astaga!" puji Chanyeol dan Jongin hanya tersenyum malu seperti biasa. Tapi lalu ia melihat mereka berdua dengan sedikit bingung.

"Kyungsoo hyung… tidak ikut?"

"Ah, Kyungsoo… dia demam," jawab Baekhyun, terdengar menyesal. "Aku tadinya tidak mau pergi, sumpah. Tapi dia ngotot tidak mau minum obatnya kalau aku dan Chanyeol tidak pergi kencan. Bukannya aku tidak mau pergi dengan Chanyeol, tapi aku sangat mengkhawatirkannya…"

Chanyeol mengusap-usap lengan Baekhyun dan mengecup kepalanya untuk menenangkannya. "Sudahlah, aku yakin dia bisa jaga diri. Paling dia tertidur setelah minum obat. Nanti kita pulang setelah makan siang, bagaimana?" tanya Chanyeol, dan Baekhyun mengangguk.

"Setelah makan siang? Astaga, festivalnya kan sampai malam!" seru Jongin, jelas-jelas tidak setuju dengan keputusan mereka. "Kalau begitu aku akan ke rumahmu nanti, Hyung. Aku yang akan jaga Kyungsoo hyung sampai kalian pulang. Masa mumpung kalian punya waktu kencan tidak dimanfaatkan, sih? Yang benar saja!"

Chanyeol dan Baekhyun saling pandang, lalu menatap Jongin sambil tersenyum. "Benar, nih, Jongin?"

"Iya. Ayolah, kalau kalian senang kan aku juga senang. Aku akan tampil sekitar dua jam lagi, setelah itu aku akan langsung ke rumahmu."

"Kalau begitu aku akan merekamnya dalam video nanti," ujar Chanyeol bersemangat. Mereka akhirnya jalan-jalan bertiga sambil menunggu giliran Jongin tampil. Sekitar satu jam sebelum giliran Jongin tiba, ia pamit untuk kembali ke backstage untuk makan dulu. Bertahun-tahun menari membuat tubuhnya secara otomatis mengingatkannya untuk makan sebelum tampil, tetapi tetap menjaga agar minimal 30 menit sebelum naik panggung tidak makan apa-apa.

Sehun terus-terusan memijat bahu Jongin agar temannya itu rileks dan konsentrasi. Biarpun Jongin sangat khawatir pada Kyungsoo tapi setidaknya untuk sekarang dia harus fokus pada performance mereka dulu. Tapi memang bukan Jongin namanya kalau tidak bersikap profesional di setiap penampilannya. Jongin memasuki panggung paling pertama diikuti Sehun yang menepuk-nepuk punggungnya pelan. Tubuh Jongin gemetar karena gugup, dan ia bersyukur Sehun ada di sebelahnya untuk menenangkannya.

Di barisan penonton, Chanyeol sudah siap dengan ponselnya untuk membuat fancam yang tentu saja hanya fokus pada Jongin. Lelaki berkulit gelap itu bersiap di posisinya sebagai center—di depan dan di tengah. Ia mengatur napasnya, merasa tanggung jawab atas penampilan tim ada di bahunya selama ia yang ada di depan. Lagunya belum mulai dan Jongin menutup mata, telinga hanya fokus pada bisikan Sehun di belakangnya, Jongin bisa, Jongin tenang, Jongin menari berkali-kali. Kata-kata itu selalu Sehun ucapkan sejak mereka SMA dan seolah itu adalah mantra, Jongin benar-benar merasa tenang dan lebih percaya diri.

Chanyeol dan Baekhyun memang sudah sering diceritakan Kyungsoo bahwa Jongin bisa menari, tapi apa yang mereka lihat mungkin jauh di atas dugaan mereka. Begitu lagu mulai, tatapan mata Jongin langsung berubah. Ekspresinya yang biasanya malu-malu dan polos berubah menjadi seksi dan penuh karisma sampai Chanyeol merasa tidak mengenalinya lagi. Gerakan tubuhnya yang cepat, tajam dan penuh kekuatan begitu menghipnotis, lambaian tangan, goyangan pinggul bahkan anggukan kepala terasa sejalur dengan musik yang mengiringi.

Jongin sesekali pindah ke belakang dan bagian center diisi oleh Sehun, Yixing dan Taemin bergantian. Tetapi center utama tetaplah Jongin, jadi ia tetap sering berada di depan dan Baekhyun merasa malu saat Chanyeol menjerit bersama anak-anak perempuan ketika Jongin menyeringai dengan begitu tampan dan seksi, tapi lelaki ber-eyeliner itu hanya tertawa.

Begitu selesai tampil, Sehun membantu Jongin membersihkan make upnya dan membiarkan Jongin mengganti baju tidak di ruang loker karena ia terlalu terburu-buru. Setelah berterimakasih pada rekan dancenya terutama Sehun ("Iiih jangan cium aku, orang sial!") ia bergegas keluar backstage, lalu menemui Chanyeol dan Baekhyun untuk pamit.

Perjalanan dari rumahnya ke tempat festival itu saja sudah 30 menit naik bis, lalu turun di stasiun dan lanjut naik kereta 10 menit. Ia berlari ke rumah Kyungsoo, berharap kekasihnya itu baik-baik saja.

Jongin tidak mengetuk dan langsung membuka pintu, dan seperti yang ia duga, rumah itu sepi jadi Kyungsoo mungkin masih tidur. Ia melangkah perlahan ke kamar Kyungsoo dan melihat lelaki itu bergulung di bawah selimutnya. Jongin masuk ke dalam, berjongkok di sebelah kasurnya untuk melihat wajahnya. Ekspresinya tenang, napasnya pelan dan teratur, dan Jongin merasa makin jatuh cinta lagi. Jemarinya menyibak beberapa helai rambut dari dahi Kyungsoo, merasa suhu tubuhnya sangat tinggi dan langsung menyesalinya karena Kyungsoo langsung terbangun setelah itu.

"Baekhyunie…?" panggil Kyungsoo pelan. Tapi Kyungsoo lalu sadar Baekhyun tidak akan pernah membangunkannya seperti itu, jadi kemungkinan hanya ada satu orang yang akan melakukan itu padanya. "Jong—Jongin-ah?"

"Hai, Cinta," sapa Jongin sambil mengusap pipi Kyungsoo pelan. Kyungsoo terdiam pada panggilan itu, tapi lalu tersenyum. "Bagaimana keadaanmu? Suhu tubuhmu tinggi sekali…"

"Aku sudah baikan, kok. Tadi pagi malah lebih parah," jawab Kyungsoo pelan, lalu memegang tangan Jongin di pipinya. "Kau… hari ini ada penampilan untuk festival kembang api, kan?"

"Iya, begitu selesai aku langsung ke sini. Tadi aku bertemu Chanyeol hyung dan Baekhyun hyung juga. Tadinya mereka mau langsung pulang begitu selesai makan siang, tapi aku bilang aku akan menjagamu sampai mereka pulang. Mereka pantas mendapat waktu untuk kencan sesekali."

Kyungsoo terdiam. "Maaf, aku… tidak bisa datang hari ini dan melihatmu tampil…"

"Tidak apa! Tadi Chanyeol hyung merekamnya di video. Tapi aku janji suatu saat akan menunjukkannya padamu langsung," ujar Jongin. Kyungsoo tersenyum karena Jongin selalu optimis bahwa ia akan bisa melihat lagi. "Apa aku mengganggumu, Hyung? Kau harus istirahat lagi…"

"Tidak, tidak." Kyungsoo menggeleng dan menggenggam tangan Jongin. "Aku… aku ingin kau menemaniku… bukannya tadi kau bilang akan ada di sini sampai Baekhyun dan Chanyeol pulang…"

Jongin terkekeh. "Iya, tentu saja aku akan melakukannya. Boleh aku tidur di sebelahmu? Aku capek sekali, nih."

Begitu Kyungsoo mengangguk, Jongin melepas jaket dan kaus kakinya lalu menumpuknya di atas tasnya di lantai. Ia merangkak ke atas kasur di sebelah Kyungsoo, lalu saat menyibak selimut, ia terdiam karena Kyungsoo hanya mengenakan boxer. Menyadari hal itu, Kyungsoo memerah.

"Maaf, aku… aku tidak suka pakai celana kalau tidur, rasanya tidak nyaman—aku akan pakai celana kalau kau mau—"

"Wow," potong Jongin. "Kalau begitu kita terbalik, Hyung. Aku tidak suka pakai baju kalau tidur. Boleh kulepas bajuku?"

Kyungsoo tertawa mendengarnya, lalu mengangguk dan membiarkan Jongin melepas kausnya dan melemparnya asal-asalan. Jongin menutupi tubuh mereka dengan selimut dan berpelukan di bawahnya. Hidung Kyungsoo tenggelam di ceruk leher Jongin dan wajahnya memerah karena merasakan tubuh setengah telanjang di depannya. Jongin membenamkan wajahnya di kepala Kyungsoo, selalu menikmati wangi yang menguar dari sana.

"Jongin-ah…"

"Hm?"

"Apa benar, kalau kau tidak ke sini, Chanyeol dan Baekhyun akan langsung pulang setelah makan siang?"

"Mereka sih bilangnya begitu. Tapi karena sekarang aku ada di sini, aku yakin mereka akan makan malam di luar juga. Akan lebih bagus kalau Baekhyun hyung menginap di tempat Chanyeol hyung untuk satu atau dua 'ronde,' hahaha," tawa Jongin garing.

"Me-memangnya kenapa kalau Baekhyun tidak menginap?"

"Kan aku jadi tidak bisa menemanimu semalaman, Hyung." Jongin mendorong Kyungsoo sedikit agar ia bisa melihat wajahnya. Kyungsoo tersenyum pada Jongin, dan itu membuat Jongin sedikit sedih karena sesering apapun ia tersenyum pada Kyungsoo, kekasihnya itu tidak akan bisa melihatnya. Jongin lalu menangkup pipi Kyungsoo dan menciumnya, tapi Kyungsoo mendorongnya.

"Jongin!" katanya, kaget. "Aku sedang sakit…"

"Tularkan saja," ujar Jongin. "Tularkan saja semuanya. Aku tidak peduli. Selama kau bisa sehat, apapun akan kulakukan untukmu."

Setelah berkata begitu, Jongin mencium Kyungsoo lagi, tapi kali ini Kyungsoo membiarkannya. Kyungsoo merasa ingin menangis, karena ini pertama kalinya ia merasa begitu dicintai oleh seseorang. Ciuman mereka bertambah dalam, dan Kyungsoo mulai terisak. Tangannya merayap di bahu telanjang Jongin, merasakan hangat tubuhnya mengalir ke sana.

Tapi ia lalu teringat keadaan matanya dan tak tahu kapan ia akan bisa melakukan operasi. Sampai saat itu tiba, ia juga tidak tahu apakah Jongin masih akan bersamanya atau tidak. Ia percaya pada Jongin dan perasaannya, tapi ia sendiri tidak yakin jika ia bisa tahan merepotkan Jongin terus. Selama ini lelaki itu sangat baik padanya… tiap mereka jalan berdua, Jongin akan dengan sabar menuntunnya, menjaganya agar ia tidak menabrak sesuatu atau ditabrak orang lain. Tiap mereka makan bersama dan Kyungsoo kesulitan makan, Jongin akan membantunya bahkan menyuapinya.

Kyungsoo merasa bersalah karena ia merasa akan terus merepotkan Jongin dengan keadaannya sekarang. Ia sangat mencintai lelaki itu sampai tidak tahu harus berbuat apa.

Seolah mengerti pikiran Kyungsoo terganggu, Jongin berhenti menciumnya. "Hyung."

"J-Jongin," bisik Kyungsoo, masih terisak. "Aku—"

Jongin rasanya sudah tahu apa yang mau Kyungsoo katakan, jadi dia memotongnya. "Tolong jangan katakan apapun. Jangan pikirkan apapun." Jongin mengelus bagian di depan telinga Kyungsoo dengan jempolnya. "Kecuali aku. Dan bibirku."

Mendengar itu, Kyungsoo langsung mencium Jongin, air matanya justru makin deras. Ia harusnya tahu Jongin benar-benar tulus mencintainya sampai mau menerima keadaannya yang seperti ini. Kalau bukan Jongin, Kyungsoo pasti tidak akan percaya, karena ia hanya percaya pada Jongin. Pada Jongin, hatinya, sentuhannya, dan ciumannya.

oooooooooooooo

Musim gugur hampir berakhir dan musim dingin datang.

Hampir semua pohon sudah menanggalkan daunnya, tumpukan daun yang menggunung selama puncak musim gugur kemarin sudah hilang semua, digantikan angin dingin yang tidak berhenti berhembus.

Jongin dan Kyungsoo masih pada kebiasaan mereka bertemu setiap sore di taman setelah Jongin pulang kerja. Kali ini, tidak seperti awal hubungan mereka, tidak ada lagi Baekhyun yang menjemput Kyungsoo, karena ia tahu Jongin akan mengantar Kyungsoo pulang dengan selamat. Baik Baekhyun maupun Chanyeol senang karena Kyungsoo mendapat pacar yang begitu baik dan perhatian serta selalu bersedia menjaganya.

Suatu hari saat Jongin datang ke taman, ia merasa ada yang aneh karena Kyungsoo berdiri di depan bangku, padahal biasanya ia akan duduk di ujung bangku itu sambil menunggu Jongin datang. Dengan agak bingung, Jongin mendekatinya dan bertanya jika ada sesuatu yang terjadi. Kyungsoo memeluknya dengan sangat erat, dan Jongin tidak bisa lebih bingung lagi saat Kyungsoo menangis.

"Aku ditelepon Rumah Sakit, Jongin-ah," ujar Kyungsoo di antara isakannya. "Aku sudah dapat donornya. Aku akan operasi tiga hari lagi."

Jongin bersumpah waktu berhenti bergerak saat itu.


A/n: Iya, maaf ya, minggu kemarin saya janjinya hari Kamis up, tapi hari Kamis saya baru pulang dari luar kota dan Jumatnya lupa lupa ingat, jadi baru sekarang upnya. (kebanyakan ngeles)
Minggu depan saya akan berusaha upload last chapter hari Kamis!
Sekali lagi maaf!

Makasih buat yang udah baca, terutama yang udah review :B