Hi..
Saya datang lagi yah :D
Makasih karna udah mau baca Fanfic ga jelas ini xD
Sacrifices
Disclaimer : Masashi Kishimoto-san
Genre : Friendship, romance
Rate : T, aman kok xD
Warn!: Semi-canon, Fem!Naru, Typo(s), Gaje, OOC, ide pasaran dll.
Note: Naruto cewe yah, jadi ini bukan Fanfic humu xD
Enjoy~
"Kibaaa~" pekikan cempreng membahana disepanjang jalan konoha membuat beberapa orang mendelik kearah pemilik suara yang kini hanya menampilkan wajah tanpa dosanya sambil menyengir. Kiba- orang yang di teriakkan namanya, mendengus lalu berhenti berjalan menunggu pemilik suara itu menghampiri dirinya.
"Kau ini berisik sekali, Naruto" Kiba lagi-lagi mendengus saat gadis itu hanya menyengir tanpa merasa bersalah sama sekali. Dia pun kembali melangkahkan kakinya. Kedua tangannya dia sialangkan di belakang kepala.
"Kau mau kemana, ttebayo? Dimana Shino dan Hinata-chan?" Naruto melihat kiba dengan tatapan menyelidik. Naruto sedikit heran karena tidak biasanya Kiba pergi tidak bersama timnya. Kiba hanya menampakkan wajah bosannya membuat Naruto mendengus sebal. Dia sangat tidak suka di acuhkan. Apalagi di acuhkan oleh Kiba yang notabene adalah teman sekelasnya dulu di Akademi.
"Mereka masing-masing sedang ada misi individu. Kau sendiri? Kemana Sakura dan Sasu-" Naruto berhenti mengikuti Kiba. Kiba merutuki dirinya karena memiliki mulut yang lumayan ceplos. Oh yah, salahkan Moodnya yang hari ini sedikit buruk karena pagi-pagi dia harus beradu mulut dengan Onee-sannya. Kiba jadi sedikit canggung melihat Naruto menunduk. Dia tahu, gadis itu masih belum bisa melupakan kepergian Sasuke. Dia memutar otaknya memikirkan langkah apa yang harus dilakukannya sekarang. Hh~ sangat merepotkan jika gadis berisik ini merajuk. Kiba sendiri tidak ingin menjadi sasaran rajukan Naruto. Kemudian dia teringat dengan Kedai Ichiraku. Bingo! Pasti Naruto bisa kembali ceria.
"Sudahlah Naruto, lebih baik kau ikut aku ke Kedai Ichiraku" Naruto mendongak lalu menampilkan senyum tipisnya membuat hati Kiba sedikit lega. Namun Naruto yang berbalik membuatnya heran.
"Terima kasih atas tawaranmu, ttebayo. Tapi aku ada urusan. Lain kali kau harus mentraktirku!" Kiba melongo saat itu juga ketika Naruto sudah menghilang didepannya.
"Kenapa kau begitu peduli pada Sasuke, Naruto?"Kiba bergumam lalu melanjutkan langkahnya di ikuti oleh Akamaru, anjing putih miliknya.
.
.
.
"Chidori!" Sasuke melesat kearah seorang shinobi yang kini berdiri di hapannya. Dengan gerakan cepat, tangan kanan Sasuke yang dialiri listrik diarahkan tepat dijantung shinobi itu. Shinobi tersebut langsung memuntahkan darah ketika tangan sasuke behasil melubangi jantungnya. Matanya terbelalak merasakan kesakitan yang mendera sekujur tubuhnya.
"Uchiha.. Sas..ke" mulut shinobi itu menggumamkan nama Sasuke. Sasuke dengan gerakan pelan menarik tangannya hingga tampak dada Shinobi tersebut kini berlubang.
Tidak jauh dari tempat itu seringaian terlihat diwajah pucat milik Orochimaru dan pengikutnya. Dia ingat betul beberapa waktu lalu saat Kabuto, pengikut Orochimaru melaporkan bahwa ada satu orang mata-mata yang berhasil menemukan markas mereka. Orochimaru berdecak kagum karena sangat jarang ada Shinobi yang bisa mendeteksi markasnya kecuali shinobi yang sedikit berada dilevel tinggi. Orochimaru benar-benar tidak menyangka bahwa kekkai yang dia buat untuk menutupi markasnya bisa dipatahkan oleh seorang mata-mata. Dia cukup penasaran siapa yang memerintahkan mata-mata itu.
"Aku sama sekali tidak terkejut, Tuan. Dia mata-mata Uchiha Itachi.."
-BRAKKK!-
Orochimaru dan Kabuto menoleh secara bersamaan kearah belakang dan mendapati pintu ruangan Orochimaru sudah hancur.
"Sasuke-kun.." Seringai Orochimaru mengembang.
Sasuke meninggalkan shinobi yang baru saja dibunuhnya. Tatapan dingin penuh dendam terlihat jelas dimata hitamnya.
"Akan kubunuh kau, Uchiha Itachi!"
.
.
.
.
Naruto berdiri memandangi Akademi yang dulunya menjadi tempat dia, Sasuke dan Sakura menghabiskan waktu untuk berlatih. Terputar kembali memori gadis itu, mengingatkannya akan Sasuke yang selalu mengatainya bodoh, ingatan saat dia dengan garangnya menantang Sasuke bertarung yang berakhir dengan giginya yang harus tanggal karena pukulan Sasuke, serta ingatan ketika Sakura selalu mengeluh-eluhkan Sasuke didalam kelas yang membuatnya mendengus bosan. Dada Naruto kembali sesak. Di tempat inilah pertama kalinya Sasuke mengakui keberadaan Naruto. Dia sangat ingat saat melihat Sasuke tersenyum untuk pertama kalinya ketika Sasuke mengatakan bahwa Naruto adalah temannya. Sasuke mengakui dirinya. Hanya Sasuke yang tidak pernah menatapnya dengan tatapan muak. Hanya Sasuke yang mengerti akan kesepian yang dirasakan Naruto sejak kecil. Dada Naruto naik turun, entah kenapa nafasnya semakin berat. Dia ingat saat Sasuke hampir mati karena melindunginya dari serangan Haku ketika sedang menjalankan misi bersama tim 7. Naruto mengepalkan tangannya.
"Aku.. Akan membawamu pulang, Sasuke"
Naruto bergumam sebelum akhirnya melesat pergi meninggalkan akademi.
Digerbang utama desa konoha, sudah ada Tsunade, jiraiya, Kakashi serta beberapa teman-teman Naruto. Tidak lama kemudian Naruto muncul membuat semua orang menoleh kearah gadis itu.
"Kau sudah siap, Naruto?"
Naruto mengangguk dengan semangat. Tsunade kemudian menjelaskan prosedur latihan khususnya. Naruto akan ke gunung myouboku untuk berlatih senjutsu. Naruto sedikit bingung dengan apa itu Senjutsu karena Tsunade tidak menjelaskan secara detail apa itu senjutsu. Dia hanya mengatakan bahwa semuanya akan dijelaskan oleh sesepuh katak di gunung myouboku saat dia sudah ada disana.
"Lalu bagaimana aku akan kesana, ttebayo? Aku bahkan tidak tau rutenya." Naruto meringis. Namun Tsunade kemudian memberitahu Naruto bahwa Jiraiya yang akan langsung menjadi guru pendamping Naruto. Naruto sangat senang. Meskipun Naruto tau Jiraiya adalah guru paling mesum sedunia shinobi, gadis pirang itu yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja. Naruto juga sangat mengagumi Jiraiya karena kehebatannya.
Tsunade mendelik kearah Jiraiya membuat Ero sennin itu menatapnya dengan tatapan bosan.
"Jangan macam-macam dengan Naruto!" Tsunade memperingatkan sedangkan Jiraiya hanya mendengus .
"Sudah ku bilang, aku tidak tertarik dengan Gadis dibawah umur seperti Naruto." Tsunade menggeram, hampir saja dia melayangkan pukulannya ke wajah Jiraiya.
Jiraiya dan Naruto pun berangkat. Meninggalkan Tsunade dan beberapa Shinobi Konoha lainnya yang masih setia berdiri didepan gerbang.
"Hokage-sama? Kau yakin Naruto bisa menjalani latihan ini? Bukannya dia masih terlalu muda?" Kakashi berbisik pelan di telinga Tsunade. Tsunade mengangguk, dia yakin Naruto bisa menjalani latihannya kali ini. Kakashi hanya bisa menghela nafas, bagaimanapun, dia juga harus mempercayai Naruto.
"Semoga berhasil, Naruto."
.
.
.
.
Kematian. Sudah terlalu banyak nyawa shinobi yang dikorbankan konon untuk perdamaian dunia. Tapi kenapa? Semakin banyak yang mati, membuat lubang di hati semakin besar. Naruto meraba dada kanannya, tepat dimana jantungnya berada.
"Lubang dihati" dia bergumam. Matanya masih betah menatap langit malam tanpa bintang yang selalu mengingatkannya pada seseorang. Dia menarik nafasnya dalam, kemudian menghembuskannya dengan pelan berharap bisa membuat hatinya yang kini berkecamuk tidak jelas sedikit lebih tenang.
"Apakah balas dendam adalah satu-satunya cara untuk menghilangkan kebencianmu, Sasuke?"
Mata safirnya meredup. Dia ingin menangis, tapi untuk apa?
Dia kemudian melirik Jiraiya yang tertidur pulas tak jauh darinya. Senyum tipis menghiasi wajah manisnya.
Udara malam terasa lebih dingin. Dia berulang kali memejamkan matanya mencoba untuk tidur. Besok dia masih harus berjalan. Dia membutuhkan tenaga. Dia tidak ingin menjadi gadis lemah yang hanya bisa merepotkan Ero sennin.
"Hah~"
Naruto menghela nafas. Sesaat hening, hanya ada gemericik angin yang beradu dengan dedaunan. Sesaat Naruto menoleh saat matanya menangkap sosok banyangan. Matanya menyipit memastikan apakah banyangan itu benar bayangan seseorang atau hanya hewan hutan. Dengan gerakan pelan, dia menarik satu kunai dan langsung melemparnya ke arah pohon. Dan benar saja, seseorang berhasil menghindari kunainya. Gadis pirang itu lalu berlari dengan cepat mengejar sosok yang semakin menjauh masuk ke hutan. Naruto terus mengejar hingga dia berada disebuah tanah kosong yang tidak begitu luas. Dia melihat tubuh tegap di hadapannya dengan tatapan menyelidik. Sinar rembulan menyorot jelas gambar awan merah yang berada dijubah orang itu.
"Akatsuki.."
Naruto was was. Dia merasakan suasana yang sedikit menegangkan memaksanya untuk meneguk ludahnya berkali-kali. Apapun yang terjadi, dia tidak akan mati disini.
"Siapa kau?"
Suara lantang Naruto menyeruak di indera pendengaran sosok itu. Namun hanya dengan sekejap mata, dia sudah berhasil berada di depan Naruto dan menghunuskan sebuah kunai di leher Naruto. Mata gadis itu terbelalak. Tenggorokannya terasa tercekat. Beberapa kali dia mengerjapkan matanya untuk memastikan ini bukanlah mimpi.
"U-uchiha Itachi?"
Tubuh Naruto bergetar. Orang ini, orang yang telah membuat Sasuke harus pergi dari desa. Orang inilah yang menjadi penyebab penderitaan Sasuke. Naruto meninju perut Itachi membuat hunusan kunai mengenai lehernya
'BOFFTT!'
"Bunshin?"
Itachi bergumam. Dia mengaktifkan sharingan untuk mencari dimana Naruto yang asli. Tiba-tiba Naruto muncul dari udara dan mengarahkan pukulan ke wajah itachi. Itachi dengan mudahnya menghindar dan langsung memelintir tangan Naruto.
"Arrggh!"
"Asli."
Itachi kembali bergumam. Naruto mengerang berusaha melepas tangannya dari tangan Itachi.
"Kau! Kau penjahat! Kau tega membantai klan mu sendiri!" Teriak Naruto membuat Itachi terdiam. Dia menatap mata Naruto yang berkilat tajam.
"Kau! Kau yang telah membuat Sasuke pergi. Kau yang telah menanamkan kebencian kepada Sasuke, adikmu sendiri!" Naruto berteriak hingga merasakan perih di tenggorokannya.
"Sasuke? Bocah bodoh itu?"
Tatapan dingin Itachi membuat Naruto merinding. Namun dia sama sekali tidak terima dia menghina Sasuke.
"Apa artinya Sasuke bagimu?"
Naruto tersentak. Dia melihat ada yang berbeda dengan sorot mata Itachi. Mata merah yang mengingatkannya akan mata Sasuke di pertarungan terakhir mereka. Naruto menghapus keraguannya dan menjawab pertanyaan Itachi setenang mungkin.
"Aku, menganggapnya saudara lebih daripada kau yang sudah menghancurkan kebahagiaannya." Naruto berujar dingin.
"Saudara? Apa kau yakin dia pun menganggap mu demikian?"
Naruto bungkam. Mungkin bagi Sasuke, dia hanya rekan se tim. Tidak, Sasuke menganggapnya sebagai teman. Dia tidak akan terpengaruh oleh ucapan penjahat rank S ini.
"Bagaimana pun, suatu saat nanti dia akan menjadi ancaman untuk desa. Saat hal itu terjadi, apa kau akan membunuhnya demi melindungi desa?"
Mata safir Naruto terbelalak. Mana mungkin Sasuke akan menyerang desa. Dia pergi hanya untuk menemukan Itachi untuk membalas dendam. Naruto sibuk dengan fikirannya sendiri. "Sasuke hanyalah bocah bodoh yang akan melakukan apa saja agar keinginannya terpenuhi"
Itachi mendesis. Dia tau persis seperti apa adiknya, dan dia harus mengakui bahwa semua itu karena dirinya sendiri.
"Aku akan tidak akan membiarkannya menyentuh desa tanpa harus membunuhnya"
"Kau terlalu naif Naruto. Kau pikir perdamaian bisa kau dapat tanpa harus membunuh? Memangnya apa yang bisa kau lakukan? Usia mu saja belum genap tiga belas tahun!"
Itachi mencibir. Naruto menunduk mencerna setiap cibiran Itachi. Dia membenarkan setiap ucapan kakak dari sahabatnya itu, bahwa dia memang hanyalah gadis bodoh yang bahkan tidak bisa mencegah Sasuke meninggalkan desa. Tapi keyakinannya tidak akan goyah. Dia mengangkat wajahnya dan menatap Itachi tanpa rasa ragu.
"Aku akan membawa Sasuke kembali, apapun resikonya!" Ujar Naruto mutlak.
Itachi tersenyum. Naruto menatap Itachi dengan tatapan aneh. Dia baru saja melihat Itachi tersenyum. Dan Naruto berani bersumpah itu adalah sebuah senyum yang tulus.
Itachi membentuk segel tangan, kemudian muncul satu gagak dengan mata sharingan dimata kiri gagak itu. Gagak itu terbang kearah mulut Naruto dan memaksa masuk. Naruto menjerit sejadi-jadinya. Bola matanya terasa seperti akan keluar ketika gagak itu memaksa masuk kedalam mulutya. Gagak itu akhirnya berhasil masuk.
"Apa yang telah kau lakukan padaku?"
Nafas Naruto terengah-engah. Dia berusaha mendongakkan pandangannya untuk menatap Itachi. Itachi perlahan berubah jadi puluhan gagak.
"Aku memasang satu genjutsu di tubuhmu. Jika waktunya sudah tiba, ada satu rahasia yang ingin kuberitahu padamu."
Gagak-gagak itu berterbangan memutari Naruto.
"Aku percayakan Sasuke padamu"
Seiring dengan hilangnya suara Itachi, gagak-gagak itu juga menghilang. Tiba-tiba perut Naruto terasa panas. Naruto memegangi perutnya sambil meringis.
"Aaaaarrrggghhhh!"
Naruto mengerang kesakitan. Cakra merah Kyuubi perlahan menguar dari dalam tubuhnya membuatnya harus merasakan sakit yang mendera sekujur tubuhnya. Tiba-tiba Jiraiya datang dan segera berlari saat mendapati Naruto yang sudah di penuhi chakra merah Kyuubi. Jiraiya langsung menempelkan sebuah kertas yang dapat menekan kekuatan Kyuubi diperut Naruto, dan tidak lama kemudian chakra itu kembali masuk ke tubuh Naruto
"Naruto? Naruto?"
Jiraiya menguncang tubuh kecil gadis pirang yang sudah tidak sadarkan diri itu. Dia kemudian menggendong tubuh mungil gadis itu kembali ke tempat peristirahatan mereka yang sebelumnya.
.
.
.
.
Tik! Tik!
Bunyi tetes demi tetes air menyapa indera pendengaran Naruto. Naruto mencoba membuka matanya namun dia tidak bisa melihat apapun. Dari kejauhan dia bisa melihat dua titik merah seperti mata sedang menatapnya.
"Sasuke? Apa itu kau?" Suara serak Naruto bergema. Perlahan dua titik merah itu meredup, seakan kelopak mata tersebut akan tertutup. Gadis itu kemudian berlari kearah titik itu namun dia tersandung dan akhirnya titik itu menghilang. Naruto menjerit meneriakkan nama Sasuke, tidak peduli jika suaranya akan memecahkan ruangan gelap itu.
Fukasaku dan Shima, pasangan katak yang ada di gunung Myouboku saling berpandangan. Sudah hampir tiga hari Naruto pingsan dan selalu meneriakkan nama Sasuke. Jiraiya tiba-tiba datang dan langsung duduk di samping tempat Naruto berbaring dan menatap gadis itu. Peluh membanjiri pelipis Naruto.
"Naruto.. Bangunlah, Naruto!" Jiraiya berusaha membangunkan Naruto dengan cara menepuk-nepuk pipi gadis itu pelan. Akhirnya kelopak mata Naruto perlahan-lahan terbuka menampilkan mata birunya. Shima dan Fukasaku mendesah pelan, merasa bersyukur akhirnya gadis itu kembali sadar.
Naruto mengerjap-ngerjapkan mata hingga pandangannya lebih jelas. Dia sedikit terkejut melihat dua kodok tua yang menatapnya dengan tatapan bahagia. Kemudian mata birunya menangkap sosok yang sangat familiar, Jiraiya.
"Jiraiya-sensei, kita dimana?" Tanya Naruto sambil berusaha bangun. Dengan sigap Jiraiya langsung membantu gadis itu mendudukkan dirinya.
"Kita sudah berada di gunung Myouboku, Naruto. Dan Ini Fukasaku dan Istrinya, Shima"
Naruto tersenyum kearah dua kodok tua itu. Gadis itu kemudian teringat akan pertemuannya dengan Itachi. Dia ingin menceritakan hal itu ke Jiraiya, namun diurungkannya niat tersebut.
Shima kemudian menyodorkan sebuah mangkuk yang berisikan sesuatu yang menurut Naruto sangat menjijikkan. Naruto menatap Jiraiya seakan bertanya 'apa itu?', namun Jiraiya hanya tersenyum samar. Dengan ragu Naruto mengambil mangkuk yang lebih mirip tempurung kelapa dari tangan Shima. Gadis itu meneguk ludah dan langsung meneguk isi mangkuk itu dalam sekali telan. Dan detik berikutnya Naruto berlari karena merasa mual. Fukasaku dan Jiraiya tertawa pelan sedangkan Shima merasa kecewa karena masakannya jelas tidak disukai oleh Naruto.
Setelah merasa lebih baik, Naruto menghampiri Jiraiya yang sedang berlatih di dekat air terjun. Naruto berdecak kagum, karena meskipun sudah tua, gurunya yang satu ini masih memiliki tubuh yang cukup kekar. Menyadari kehadiran Naruto, Jiraiya menoleh dan memberi isyarat ke Naruto agar lebih mendekat.
"Dengar Naruto, aku tau ini akan sulit mengingat usiamu yang masih terlalu muda." Naruto mengangguk pelan. Dia tau bahwa latihan khususnya sebentar lagi akan di mulai. Dia sudah siap. Dia tidak akan menyerah apalagi hanya karena umur. Dia sudah bertekad untuk menjadi lebih kuat apapun yang terjadi.
"Aku akan menjelaskan latihan khusus mu ini, jadi dengarkan baik-baik!" Jiraiya menekankan. Dia sebenarnya ragu Naruto akan mengerti prosedur latihannya mengingat Naruto adalah gadis yang cukup bodoh. Tapi mau tidak mau dia harus tetap yakin dengan gadis pirang itu.
"Kau akan berlatih Senjutsu atau lebih dikenal dengan sebutan Sennin Mode."
Naruto mengerutkan dahinya, dia tidak paham apa itu senjutsu atau pun Sennin mode. Jiraiya menghela nafas lalu mulai menjelaskan panjang lebar bahwa Sennin Mode atau Senjutsu adalah hasil dari penggunaan energi alam bersama dengan Chakra milik sendiri dengan perbandingan yang sempurna, membuat pengguna mendapat peningkatan kekuatan yang luar biasa. Dengan kata lain, jika berada dalam Sennin mode, pengguna bisa menyerap chakra alam dan menggabungkannya dengan chakra milik sendiri.
Naruto mengangguk mengerti, dia mendengarkan tiap penjelasan Jiraiya dengan seksama.
"Dari awal sudah ku katakan bahwa ini tidak akan mudah, Naruto. Bahkan aku pun tidak bisa menguasai Sennin mode dengan sempurna."
Naruto terkejut mendengar penuturan Jiraiya. Dia mulai pesimis, jika Jiraiya saja tidak bisa menguasai tekhnik ini dengan sempurna, bagaimana dengan dirinya?
"Jika kau gagal dalam menguasai tekhnik ini, kau akan berubah jadi patung batu seperti itu!" Ujar Jiraiya seraya menunjuk patung-patung katak yang berjejer rapi di sisi air terjun gunung Myouboku. Naruto menoleh dan meneguk ludah dengan susah payah melihat deretan patung yang ditunjuk oleh Jiraiya. Apa dia akan menjadi seperti itu juga? Gadis itu mengepalkan tangannya. Dia tidak boleh pesimis. Dia sudah jauh-jauh dari konoha bukan untuk menjadi patung katak pajangan. Bukankah di antara orang-orang gagal, ada orang yang berhasil?
"Aku siap, Jiraiya sensei!"
Jiraiya tersenyum. Dalam hati dia mengutuk dirinya yang sudah meragukan Naruto. Tiba-tiba, Fukasaku datang menghampiri Jiraiya dan Naruto.
"Aku menyukai semangatmu, Gadis kecil!"
Ucapan Fukasaku membuat Naruto semakin bersemangat. Jiraiya kemudian beranjak dan menyerahkan Naruto sepenuhnya kepada Fukasaku.
"Dia lah yang akan menjadi gurumu, Naruto. Bersikap baiklah!"
Naruto menatap Fukasaku dengan tatapan tidak yakin, di pikirannya kini terbesit pertanyaan 'bisakah kodok tua ini mengajariku tekhnik ini?'. Naruto nampaknya meremehkan sesepuh katak.
"Kau siap?"
Tanya Fukasaku disambut anggukan antusias dari Naruto.
"Baiklah! Latihan awal dari penguasaan teknik sennin mode adalah, kau harus bisa merasakan energi alam. Ini akan mempermudah dirimu merasakan energi alam!"
Fukasaku kemudian menyemprotkan minyak katak disekitar Naruto. Naruto sedikit terlonjak saat minyak katak itu hampir saja mengenai dirinya.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan?"
"Sekarang duduk dan berkonsentrasilah. Bayangkan kau bisa melihat energi alam itu berkumpul di satu titik dalam tubuhmu."
Sesuai intruksi Fukasaku, Naruto duduk dan mengadu kepalan tangannya sendiri. Perlahan-lahan, konsentrasi Naruto semakin meningkat membuatnya bisa merasakan energi alam yang berada di sekitarnya. Naruto bisa merasakan energi alam mengalir dalam tubuhnya.
"Ingat, Naruto! Pengendalian chakra yang kau miliki dengan chakra alam yang kau serap harus seimbang, atau kau akan gagal"
Samar-samar Naruto bisa mendengar suara Fukasaku yang mengingatkannya. Naruto harus mengakui bahwa latihan kali ini memang tidak mudah. Desakkan chakra yang cukup kuat dalam tubuhnya membuatnya sedikit kualahan.
Dari jauh, Jiraiya memperhatikan Naruto dengan wajah yang sedikit gusar. Dia sedikit khawatir Naruto akan gagal.
"Berjuanglah, Naruto!"
Naruto merasakan panas dalam tubuhnya. Jumlah energi alam yang diserapnya terasa sudah melampaui chakra miliknya sendiri. Fukasaku terlihat lebih tenang, dia percaya akan gadis pirang ini. Dia yakin Narutolah yang bisa menguasai Sennin Mode dengan sempurna. Entah keyakinan itu dia dapat darimana, yang jelas dia percaya pada Naruto sejak pertama kali melihat tekad dan semangat gadis itu.
Naruto berusaha untuk meningkatkan konsentrasinya, dia berusaha menyeimbangkan antara chakra miliknya dengan chakra yang dia serap. Perlahan-lahan kelopak mata Naruto berubah menjadi merah. Fukasaku menyeringai senang melihat kemajuan Naruto. Dia sangat kagum, diusia yang belum genap tiga belas tahun dia sudah berhasil menjaga keseimbangan Chakra alam dan chakranya sendiri dalam tubuhnya.
"Bagus, Naruto!"
Puji Fukasaku, membuat Naruto membuka kelopak matanya. Tidak ada perubahan ekstrim pada wajah Naruto, hanya saja matanya birunya kini berubah mejadi agak kekuningan dengan garis horizontal seperti mata katak, dan itu menandakan bahwa Naruto berhasil, hanya tinggal menyempurnakan tekhniknya.
"Ini luar biasa, ttebayo!"
Naruto berseru girang, membuat Jiraiya tersenyum dari kejauhan.
"Sekarang kau hanya tinggal menyempurnakan Sennin Mode mu, Naruto! Tahap selanjutnya adalah mengontrol senjutsu dan penggabungan"
Kening Naruto saling bertaut. Dia tidak begitu paham apa maksud Fukasaku dengan penggabungan.
"Apa maksudnya penggabungan, ttebayo?"
"Dalam tahap pengontrolan, tubuh kita berdua harus bergabung. Ini akan mempermudah dirimu dalam menguasai tekhnik sennin mode secara sempurna. Ini adalah bagian yang paling sulit, Naruto! Jadi kuharap kau benar-benar konsentrasi"
Naruto mengangguk paham. Fukasaku kemudian bersiap. Begitupun dengan Naruto, kedua tinjunya kembali ia adu dan mulai berkonsentrasi. Dia kembali bisa merasakan desakkan-desakkan energi yang ada dalam tubuhnya. Benar kata Fukasaku, mengontrol dua jenis chakra jauh lebih sulit daripada mempertahankan keseimbangannya. Fukasaku mulai merapal segel tangan dan melakukan penggabungan dengan tubuh Naruto. Tiba-tiba dari dalam tubuh Naruto menguar chakra merah. Naruto sadar bahwa chakra merah itu adalah chakra kyuubi. Naruto berusaha setengah mati menekan kembali chakra Kyuubi, sedangkan Fukasaku juga sedikit kualahan.
Akhirnya perlahan-lahan chakra kyuubi membentuk sebuah Jubah chakra yang menyelimuti tubuh Naruto dan chkara merah itu pun menghilang digantikan jubah berwarna merah dengan motif api hitam di bagian bawah jubah. Naruto berhasil menyempurnakan Sennin modenya. Tiba-tiba, tubuh Fukasaku terkapar di rerumputan. Naruto segera berlari menghampiri Fukasaku. Nampaknya chakra kyuubi tadi berefek juga pada tubuh Fukasaku.
"Aku baik-baik saja, tapi sepertinya rubah itu tidak suka aku berada dalam tubuhmu."
Fukasaku terkekeh pelan. Dia juga tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bahagia melihat keberhasilan Naruto dalam menyempurnakan sennin mode. Shima datang tergopoh-gopoh menghampiri Naruto dan Fukasaku disusul Jiraiya. Fukasaku lalu dibantu oleh Shima berjalan masuk ke kediaman mereka.
Jiraiya menatap Naruto dengan tatapan bangga, membuat Naruto tersipu.
"Aku benar-benar tidak menyangka kau bisa menyempurnakannya, Naruto!"
Puji Jiraiya sambil menepuk pundak kecil Naruto. Naruto menyeringai senang hingga matanya menyipit.
"Itu semua karena aku punya guru sehebat kau dan Fukasaku-san, sensei!"
Jiraiya mengacak rambut pirang Naruto membuat gadis itu semakin senang.
"Tapi jangan senang dulu, ini bukan akhir dari latihan mu."
"Aku tahu, ttebayo!"
Naruto mengacungkan jempolnya kearah Jiraiya sambil menyengir menampilkan deretan giginya yang putih bersih. Akhirnya dia berhasil melewati latihannya hari ini, namun dia belum bisa berbangga hati, bagaimanapun juga, masih banyak yang harus dia pelajari. Dia sudah bertekad untuk menjadi lebih kuat agar bisa membawa Sasuke pulang.
Mengingat Sasuke membuatnya kembali tersenyum pahit. Entah bagaimana dia harus menghapus kebencian yang ada dalam hati Sasuke.
.
.
.
.
Hari-hari berikutnya, Naruto lebih giat berlatih. Dia juga berusaha mengefektifkan penggunaan Sennin Mode, dengan cara menggunakan clonenya untuk mengumpulkan energi alam. Jumlah clone yang dapat dibuat untuk menyerap energi alam maksimal lima. Naruto tidak bisa membuat clone lebih dari lima karena jika terlalu banyak clone, akan membuatnya tidak bisa berkonsentrasi dalam pertarungan. Clone-clone itu akan mempermudah Naruto tetap berada dalam mode sennin ketika dalam pertarungan saat mode senninnya berakhir.
Dua setengah tahun sudah Naruto menjalani latihan di gunung myouboku, perkembangan Naruto terlihat pesat sejak menguasai Sennin mode. Mulai dari peningkatan Taijutsu, ketajaman indera, kecepatan, serta pengembangan Ninjutsunya. Bahkan dia bisa membuat Rasengan sedikit lebih besar dan dalam jumlah banyak, tentu saja berkat sennin mode. Jiraiya sangat bangga dengan kemajuan Naruto, padahal Naruto adalah murid yang ceroboh dan juga bodoh. Akan tetapi, berkat semangat, tekad dan kerja kerasnya selama hampir tiga tahun, dia bisa sampai sejauh ini. Jiraiya berdecak kagum. Dia juga hampir tidak menyadari bahwa gadis itu sudah tumbuh menjadi gadis cantik yang kuat, rasanya seperti melihat Kushina berambut pirang, Jiraiya terkekeh.
Saat sedang beristirahat setelah berlatih dengan Naruto, Jiraiya yang sedang duduk disebuah batu sedikit terkejut dengan salah satu Katak kuchiyose miliknya. Katak tersebut memberikan sebuah gulungan kepada Jiraiya. Dengan tergesa-gesa, Jiraiya membuka gulungan tersebut dan sedikit terkejut. Mimik wajah Jiraiya yang biasanya terlihat santai kini sedikit serius. Naruto tiba-tiba datang menghampiri Jiraiya. Dengan cepat lelaki tua itu menyembunyikan gulungan yang diberikan salah satu katak Kuchiyose di balik bajunya.
"Ada apa, ttebayo? Wajah sensei terlihat lebih jelek!" Ledek Naruto membuat Jiraiya mendengus. Naruto menyeringai senang melihat Jiraiya, dia senang sekali menjahili guru pertapa genitnya yang satu ini.
"Beberapa bulan lagi, latihanmu akan selesai. Dengan begitu, kita akan segera kembali ke desa"
Mata Naruto berbinar. Dia begitu bersemangat mendengar hal tersebut dari Jiraiya. Sudah hampir tiga tahun menjalani latihan di gunung Myouboku tentu saja membuatnya sangat merindukan konoha. Bukan hanya konoha, dia juga sangat merindukan teman-temannya dan terutama Ichiraku Ramen. Membayangkannya saja sudah membuat air liur Naruto menetes. Saking semangatnya, Naruto kembali berlatih. Rasanya dia tidak ingin membuang tiap detiknya yang berharga untuk bersantai. Dia akan segera menyelesaikan latihannya dan kembali ke desa.
Jiraiya menggelengkan kepalanya pelan melihat semangat Naruto. Tangannya kembali mengeluarkan gulungan yang dia simpan di dalan baju dan menatap gulungan tersebut dengan serius.
"Bagaimanapun juga, aku tidak akan membiarkan Akatsuki menyentuhmu, Naruto!"
TBC
Iuh~ XD
Duh, kok nulis ff ninja-ninjaan susah yak :"
Hehe terima kasih sudah membaca ff ini ya~ semoga kalian tidak bosan :D
Sankyuuu~
Michi Mikacang.
