Naruto © Masashi Kishimoto-sensei

Story © Arleinz Kyousuke

Rated T

Happy reading...

.

.

.

.

CHAPTER 2

.

.

.

Tahun ajaran baru telah dimulai, semua siswa berharap dapat melauinya dengan baik dan mendapat prestasi atau setidaknya tidak mendapat nilai yang jelek. Tak terkecuali di Kelas 2-A. Semua siswa nampaknya bersemangat memulai hari pertama mereka di kelas 2. Tapi, ada pemandangan berbeda di kelas ini. Apalagi kalau bukan kedatangan seorang siswi baru di kelas ini. Terlebih bagi seorang Naruto Namikaze yang sepertinya sudah mengenal gadis itu...

.

.

Naruto masih terpaku menatap seorang gadis berambut panjang yang berdiri di depan kelasnya. Gambaran-gambaran tentangnya masih tercetak jelas di ingatannya. Rambutnya, matanya, suaranya semua tentangnya masih ada di dalam pikiran Naruto. Ia masih belum tahu atau lebih tepatnya ia belum mengerti tentang gadis itu.

.

.

"Di-di-dia...Apakah ini mimpi...aku tak percaya ini."

"Baiklah, perkenalkan dirimu..."

"Ha-ha'i, sensei. Hajimemashite, watashi no namae wa..."

"Di-di-dia...Hinata..."

"Hi-Hinata Hyuuga, desu. Yoroshiku onegaishimasu..."

"Baiklah anak-anak, kalian sudah tahu namanya. Dia Hinata Hyuuga, pindahan dari Kota Ame, tepatnya dari SMA Amegakuen. Saya harap kalian bisa berteman baik dengannya. Baiklah, Hinata kau bisa duduk di...Hmmm,nampaknya semua tempat duduk sudah terisi penuh,ya. Shikamaru, apa tidak ada lagi tempat duduk yang kosong?"

"Hmm..., sepertinya tempat duduk di samping Naruto, masih kosong, atau lebih tepatnya tidak ada yang mau duduk dengannya. Dia bisa duduk di samping Naruto, sensei."

"Hmm...baiklah. Hinata, kau bisa duduk disamping anak yang berambut kuning itu."

"Ha-ha'i..."

"Hinata...dia pindah ke sini...Aku tak percaya ini. Tapi, aku merasa lega. Setidaknya aku bisa lebih mengenalnya dan menjadi temannya. Eeehh... dia menuju kesini. Akh.. aku baru ingat, tempat duduk di sampingku masih kosong. Apa sebaiknya aku menyapanya..", pikir Naruto

.

.

"Eee, namamu Hinata Hyuuga,kan",tanyanya, padahal ia sendiri sudah mengetahui nama gadis itu.

"I-iya."

"Ternyata ini benar-benar kau, Hinata. Apa.. kau mengingatku?"

"Etto..sepertinya tidak.."

"Hahh...apa kau tidak ingat pertemuan kita di Taman waktu itu. Waktu itu kau terus saja memandangi bulan, sampai-sampai aku mengira kau sedang dirasuki sesuatu atau apa.."

"Etto...Akh, kau..Na-naruto-kun. Kau Naruto Namikaze,kan?"

"Hahaha, akhirnya kau mengingatku juga. Jadi apa kabarmu?"

"Aku baik-baik saja seperti yang Naruto-kun lihat."

"Oh, begitu. Baiklah semoga kau betah disini. Kalau perlu apa-apa, bilang saja padaku,oke.."

"Ha-hai'i"

.

.

Kringg...

Tak terasa Bel tanda istirahat telah berbunyi di KHS. Murid-murid nmpak berhamburan keluar kelas. Sepertinya mereka sudah lapar dan ingin segera mengisi perutnya. Tak butuh waktu lama, kantin sekolah telah penuh dengan murid-murid yang nampak khusyuk menikmati makanannya atau hanya bercengkerama sesama murid. Sementara itu, Naruto...

.

.

"Ahh, akhirnya istirahat juga-ttebayo. Aku lapar sekali...", kata Naruto setengah berteriak. Nampaknya ia benar-benar lapar sampai-sampai ia berkata seperti itu.

"Hinata, apa kau ingin ke kantin?"

"Mmm, ti-tidak, Naruto-kun aku ingin di kelas saja..."

"Apa kau yakin? Makanan di kantin sangat enak lho..."

"Umm. Aku yakin. Kalau Naruto-kun ingin ke kantin, duluan saja..."

"Baiklah. Kalau begitu, aku duluan, yaa.."

Naruto langsung bergegas ke kantin bersama kedua sahabatnya, Sasuke dan Kiba yag sudah menunggu dari tadi. Sepanjang perjalanan ke kantin, Naruto tidak tidak bisa melepaskan pikirannya kepada Hinata. Ia memikirkan apa yang ada di pikiran gadis itu dan apa yang membuatnya menjadi orang yang penyendiri seperti itu.

.

.

"Hoi, Naruto. Apakah kau tidak makan. Dari tadi kau terus-terusan memandangi Ramenmu. Biasanya kau akan mengahibskan Ramenmu seperti orang gila, tapi sekarang kenapa kau melamun seperti ini. Apakah kau sedang tidak enak badan? Atau jangan-jagan kau sedang dirasuki roh halus ya?", tanya Kiba yang sepertinya khawatir atau lebih tepatnya heran dengan perangai Naruto yang agak aneh.

"Hah..kalau tidak makan, kau bisa sakit, Dobe. Kalau kau sakit apa yang harus ku katakan pada Paman Iruka nanti. Bisa-bisa aku malah dimarahinya..", sahut Pemuda Uchiha berambut Raven A.K.A Sasuke Uchiha.

"Hah... aku hanya memikirkan Hinata. Ia nampak kesepian. Sejak tadi dia Cuma diam dan tidak banyak bicara."

"Dia tidak banyak berubah sejak SMP", sahut Kiba.

"Heeh, kau mengenalnya, Kiba?", tanya Naruto

"Tentu saja. Kau lupa, saat aku masih SMP , aku tinggal di Kota Ame. Di sana, aku sekelas dengannya."

"Kalau begitu, apakah sifatnya juga seperti ini saat SMP. Apakah dia tidak memiliki teman?"

"Ya, aku tidak terlalu akrab dengannya, tapi saat SMP ia memang selalu menyendiri. Aku, tidak tahu apakah ia memiliki teman atau tidak. Tapi yang aku tahu, ia anak yang selalu menyendiri. Tapi dia itu anak yang pintar. Dia selalu jadi juara kelas, Aku rasa kepintarannya hampir setara dengan Shikamaru", jawab Kiba.

"Jangan-jangan...Apakah kau menyukainya, Dobe?", tanya Sasuke penuh selidik sambil tersenyum mengejek.

DEGG...pertanyaan Sasuke sukses membuat Naruto terkejut sekaligus terdiam. Apakah aku menyukainya?, pertanyaan itu berkecamuk dalam pikiran Naruto.

"A-a-apa maksudmu, Teme. Aku hanya ingin berteman dengannya. Lagipula dia kan teman semejaku sudah seharusnya aku akrab dengannya."

"Baiklah, Naruto-sama...", sahut Kiba.

Naruto pun melanjutkan makannya sampai bel masuk berbunyi. Mereka pun kembali ke kelas. Tak lama kemudian guru mata pelajaran berikutnya masuk.

.

.

"Konnichiwa, Minna. Senang sekali kembali bertemu dengan kalian disini. Nama saya Shizune. Saya adalah guru Biologi di sini. Ya, sensei berkata seperti ini karena, nampaknya ada murid baru disini. Siapa namamu?"

"Hi-hinata. Hinata Hyuuga, sensei."

"Ya, Hinata semoga kau betah disini dan dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Baiklah, minna, buka halaman 6 Bab pertama."

Pelajaran pun berlangsung dengan lancar, sampai...

.

KRINGGGG...

.

"Baiklah, Minna, karena ini hari pertama di tahun ajaran baru, maka hari ini kalian boleh pulang lebih cepat."

Terdengar sorak-sorai murid kelas 2-A yang nampak senang karena bisa pulang lebih cepat. Tapi, karena ini hari pertama, tak heran sekolah memberikan jam pulang lebih cepat dari biasanya. Tapi, perkataan Shizune-sensei selanjutnya, nampaknya akan membuyarkan sukacita mereka.

.

"Tapi sebelum itu, Sensei akan memberikan kalian tugas..."

.

Seketika, murid yang awalnya senang karena pulang cepat menjadi ricuh saat mereka mendengar penjelasan Shizune-sensei. Nampaknya mereka semua sangat anti dengan yang namanya tugas...

.

"Sensei, ini masih hari pertama. Apa sensei bergurau.."

"Sensei tega sekali..."

"Kalian tidak boleh begitu, teman-teman. Dengan mengerjakan tugas, kita akan menjadi lebih pintar. Semangat masa muda harus kalian tanamkan dalam hati. Walaupun aku juga merasa agak keberatan, sih..."

.

Naruto hanya terdiam. Keadaan masih agak canggung diantara dia dan Hinata. Ditambah lagi tugas tiba-tiba yang diberikan oleh Shizune-sensei, semakin membuatnya pusing.

.

"Sudah-sudah...,minna. Baiklah, tugasnya adalah kalian harus meneliti tentang satu spesies bunga. Terserah bunga apa dan spesies apa, yang jelas kalian harus menuliskan namanya, mengklasifikasikannya, mencari tahu manfaatnya, dan membawa sampel bunganya. Lebih bagus lagi kalau kalian membuatnya dalam bentuk presentasi digital. Tugas dikumpul dan dipresentasikan di depan kelas Minggu depan. Tapi tenang, kalian tidak akan mengerjakannya sendiri. Kalian akan mengerjakannya secara berkelompok yaitu teman semeja. "

"Yatta, ternyata tugasnya tentang Bunga. Kalau ini sih, aku sudah menguasainya..", sahut Ino. Ya, ia memang berjualan bunga hidup di depan rumahnya, jadi tak heran ia hapal berbagai jenis bunga.

"Haah..sayang sekali aku tidak satu kelompok denganmu, Ino. Kalau kita sekelompok, pasti pekerjaanku akan lebih mudah..", terdengar suara seorang gadis bernama Sakura.

"Hahh, kau hanya ingin mengambil keuntungan dariku kan, Sakura. Untungnya, kita tidak sekelompok..."

"Apa maksudmu dengan untungnya, Ino-buta!"

Dan akhirnya kedua perempuan yang bersahabat sekaligus rival itu pun saling adu mulut, sampai-sampai Sasuke yang duduk di sebelah Sakura hanya bisa geleng-geleng kepala..

Mendengar tugas yang tadinya cukup memusingkan, Naruto sekarang nampak senang mendengar penjelasan Shizune-sensei yang mengatakan jika tugas ini berkelompok dengan teman semeja. Ini adalah kesempatannya untuk lebih akrab dengan Hinata...

.

.

NARUTO POV

"Hoi, Naruto kami pulang duluan", teriak Kiba

"Ya."

Kulihat kedua sahabatku telah pulang duluan nampaknya mereka memiliki urusan yang begitu penting, sehingga mereka pulang duluan. Kulihat Hinata masih merapikan alat tulisnya. Terlintas sebuah ide di kepalaku untuk mengajaknya pulang bersama.

"Eee.. Hinata, kau tidak pulang?"

"Aku harus pergi ke Ruang Administrasi untuk menyelesaikan dokumen penerimaan murid baru, Naruto-kun."

"Begitu. Baiklah aku akan ikut denganmu. Lagipula aku memang mau kesana untuk membayar uang sekolah. Walaupun ini masih awal bulan, tidak ada salahnya kan menyelesaikan pembayaran uang sekolah di awal. Daripada aku terus-terusan ditagih seperti tahun lalu.

"Umm..Baiklah.."

"Yoshh...ayo.."

Dan akhirnya aku menemaninya menuju Ruang Administrasi. Bagaimanapun, sebagai teman yang baik aku harus membantunya di hari pertamanya di sini. Lagipula, ia kan masih baru disini, bisa saja nanti ia tersesat atau diganggu anak dari kelas lain.

.

.

"Aku sudah selesai, Naruto-kun"

Aku tersentak dari lamunanku mendengar suara lembut disampingku. Ya, setelah menyelesaikan pembayaran uang sekolah, aku menunggunya sembari duduk di kursi. Tak kusangka, menyelesaikan urusan administrasi saja akan memakan waktu lebih dari 1 jam.

"Yosh, bagaimana kalau kita pulang bersama saja. Kebetulan motorku masih di bengkel, jadinya aku harus naik bis kota."

"Eeeh..Pulang bersama?"

"Ya. Hinata pulang naik apa?"

"Naik bis kota juga..."

"Yosh, bagus kalau begitu. Ayo..."

"Eee..ha-hai.."

Akhirnya aku bisa mengajaknya pulang bersama. Mungkin kalian bertanya-tanya kenapa aku sangat ingin untuk lebih akrab dengan Hinata. Jawabannya, entahlah...Aku tak tahu. Entah kenapa sesuatu dihatiku berkata bahwa aku harus menjadi temannya. Aku tidak ingin melihat orang lain kesepian, seperti halnya aku di masa lalu. Selama dalam perjalanan di bis, kami lumayan banyak berbicara. Ya, setidaknya aku bisa membuatnya berbicara banyak dengan orang lain.

.

.

"Hah...akhirnya aku sampai di halte tempatku turun-ttebayo. Hinata, kau turun dimana?"

"Aku juga turun disini..."

"Yosha... baguslah dengan begitu, aku bisa mengantarmu sampai rumah. Omong-omong, dimana rumahmu?"

"Eh?"

"Ya, rumahmu Aku akan mengantarmu sampai ke rumah."

"Apa tidak apa-apa? Sepertinya itu akan merepotkanmu, Naruto-kun.."

"Daijobu. Lagi pula, aku tidak bisa membiarkanmu pulang sendirian. Bagaimna kalau terjadi apa-apa denganmu,Hinata."

"Baiklah kalau kau berkata begitu. Rumahku ada di Jalan Hashirama Senju."

"Wah, jalan itu kan dekat dengan rumahku..."

"Be-benarkah..."

"Ya, tentu saja. Itu artinya, aku bisa sering-sering mampir ke rumahmu."

"Ehh..."

"Ya, apa kau keberatan?"

"Ti-tidak..."

"Baguslah kalau begitu.."

Aku melihat wajahnya agak merona mendengar kalau aku akan sering mampir ke rumahnya. Tapi, aku masih melihat kalau wajahnya menyiratkan rasa kesepian. Ahh... ingin sekali aku memeluknya sekarang ini. Eh... memeluknya? Memangnya aku siapanya.

.

Kami terus berjalan menyusuri jalan menuju rumah Hinata. Sepanjang perjalanan kami benyak bercengkerama. Banyak hal yang kami bicarakan. Aku berharap ia juga banyak berbicara kepada orang lain selain diriku. Kami terus menyusuri jalan, tak terasa Matahari mulai terlihat terbenam di ufuk barat. Rumah kami memang lumayan jauh dari sekolah, jadi tak heran kalau perjalanannya akan jadi selama ini. Kalau saja si Sasuke itu tidak memilih bersekolah di KHS, aku juga tidak mau masuk di sekolah yang jaraknya terlalu jauh dari rumahku. Tapi, karena KHS memang sekolah yang bergengsi, dan terkenal dengan prestasinya, tak heran Sasuke-teme itu mau jauh-jauh bersekolah di sana. Aku pun juga didesaknya untuk bersekolah di sekolah yang sama dengannya dengan dalih kalau KHS bisa membantuku untuk menjadi lebih pintar. Padahal aku yakin kalau itu hanya alasannya saja. Nampaknya dia tidak ingin jauh-jauh dari ku, hehehe. Tapi tak apalah, di KHS aku juga memiliki banyak teman, jadi aku tak terlalu mempermasalahkan jarak. Lagipula, kalau aku tak bersekolah di sana, aku tidak akan bisa sekelas dengan Hinata seperti sekarang ini.

Kami sampai Di sebuah tempat di dekat jalan Hashirama Senju, tepat di samping Sungai yang membelah Kota Konoha. Te-tempat ini...Ya, aku ingat kalau tempat ini adalah tempat yang sama saat aku pertama kali bertemu dengan Hinata. Ya, Taman Bunga Konoha. Disanalah pertama kali aku bertemu dengannya. Saat itu ia tengah menatap sinar rembulan di tepi sungai. Aku juga ingat betapa indahnya surai Indigo-nya diterpa cahaya rembulan dan mata Amethyst-nya yang terus menatap sinar rembulan seakan tak ingin melepaskan pandangannya sedikit pun dari rembulan.

.

.

"Hinata..."

"Ya..."

"Apakah kau ingat tempat ini..."

"I-Ini.."

"Kau ingat?"

"Ya... aku selalu datang kesini setiap malam hari untuk memandangi cahaya Bulan. Rasanya tempat ini memberikanku ketenangan."

"Kau juga ingat, bukan bahwa tempat ini adalah tempat pertama kali kita bertemu.."

"Ya. Saat itu kau mendatangi diriku seperti orang yang penasaran. Aku juga ingat ekspresimu waktu itu. Ekspresimu membuatku ingin tertawa...Hihihi.."

"Ya. Kau tahu, waktu itu aku bingung kenapa kau terus-terusan menatap bulan. Aku kira kau sudah gila atau sedang dirasuki sesuatu atau yang paling buruk aku berpikiran kau sedang putus asa dan berniat bunuh diri..."

"Hahaha, apa maksudmu Naruto-kun. Aku tak mungkin berbuat hal seperti itu walau seberat apapun masalah hidupku. Walaupun sekarang hidupku memang dipenuhi banyak masalah..."

Aku tersentak mendengar jawabannya. Apakah ia memang memiliki banyak masalah di hidupnya.. Aku tak ingin ia bersedih. Aku ingin terus bersamanya apapun yang terjadi. Tapi sebenarnya, kenapa aku sangat ingin bersama dengannya? Kenapa aku tidak ingin ia bersedih? Atau mungkinkah ini...Mungkinkah aku me-

"Naruto-kun! Kau tidak apa-apa? Jangan melamun seperti itu. Apa ada yang sedang kau pikirkan?"

"Akh...Gomen Hinata. Tidak ada apa-apa,kok. Lebih baik kita segera pulang sebelum malam hari. Aku tidak mau dimarahi nanti.."

"Hihihi.. Baiklah ayo..."

Akhirnya kami berjalan meninggalkan Taman itu. Taman yang menjadi saksi bisu pertemuan pertama kami. Ya, nampaknya aku akan sering pergi ke sana. Tapi yang menjadi pikiranku, masalah apa yang sedang diemban Hinata. Mengapa ia selalu menyendiri di kelas..

.

Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya kami sampai juga di depan rumah Hinata. Rumahnya, memang tidak terlalu besar, tapi jika dibandingkan dengan rumahku dan Paman Iruka, rumahnya ini tergolong cukup besar.

.

.

"Umm...Naruto-kun terima kasih sudah mengantarku.."

"Yaaa.. tidak apa-apa. Lagipula, mana bisa aku membiarkan gadis secantik dirimu pulang sendirian..."

Aku bisa melihat wajahnya memerah saat ia mendengar perkataanku barusan. Aku juga tak tahu kenapa aku bisa mengatakan itu. Tapi ia memang cantik..."

"Na-Naruto-kun mau mampir dulu?"

"Ahh, tidak usah. Lagipula, ini sudah hampir malam. Bisa-bisa aku dimarahi karena pulang malam..."

"Hmmm... Baiklah kalau begitu. Sekali lagi aku berterima ka-"

Tiba-tiba, pintu rumah Hinata terbuka menampakkan sosok laki-laki paruh baya bersurai hitam. Wajahnya menyiratkan rasa kekhawatiran...

.

"Hinata, dari mana saja kau?"

"Ahh, tou-san. Tou-san sudah pulang?"

"Ya, kebetulan pekerjaan di kantor tidak terlalu banyak hari ini, jadi Tou-san bisa pulang lebih cepat..."

"Sou desu ka..."

Nampaknya pria itu adalah ayah Hinata. Penampilannya terlihat masih gagah walaupun usianya tidak bisa dibilang muda lagi. Wajahnya terlihat tegas dan penih wibawa. Dia memang pantas menjadi ayah Hinata. Tapi...entah kenapa, sepertinya aku pernah bertemu dengannya sebelumnya. Aku mencoba mengingat-ingat dimana aku pernah bertemu dengannya. Astaga dia...

.

"Oh, Hinata nampaknya kau bersama dengan temanmu.."

"Oh, iya Tou-san. Dia tadi mengantarku pulang. Kebetulan katanya rumahnya juga di dekat sini. Tou-san ini Naruto-kun, Naruto-kun ini Tou-san."

"Aah...Kau..."

"Pa-Paman Hiashi..."

.

.

.

.

.


~TBC~


Yosh...setelah beberapa minggu, akhirnya chapter 2 update juga. Karena kesibukan dunia dan kemalasan Author yang menjadi-jadi, jadinya gak sempat update dalam waktu dekat .Jadi, Semoga kalian semua suka dan mau membaca fanfic yang gaje bin aneh ini.

Yosh...akhir kata Author ucapkan Arigatou Gozaimasu dan jangan lupa Read and Review...