Between Two Different Things
(sequel)

tryss (c) 2016

.

Jeno Lee X Na Jaemin X Mark Lee

.

Romance / School-life / T / AU

.

Summary

Pada saatnya, pilihan harus ditentukan karena kita hanya bisa memiliki satu akhir saja.

.


Story

Adakah kalimat yang dapat menjelaskan seberapa bahagia Jaemin telah dilahirkan di dunia dan dikaruniai sepasang penjaga yang luar biasa sempurna? Katakan Jaemin buta kalau tidak melihat seberapa sempurnanya Mark menemani Jaemin kala ia berada di titik terjemunya, atau Lee Jeno yang selalu meluangkan waktunya untuk Jaemin?

Anggap 'Duo Lee' yang penuh kesempurnaan itu malaikat, Jaemin pasti akan setuju.

Tapi hidup Jaemin bukanlah dongeng yang bila sudah ada happy ending, maka Jaemin akan bahagia selama-lamanya. Tidak. Di kehidupan ini, setelah kita menemukan satu akhir, akan ada akhir lain yang menanti. Akhir yang masih bergantung pada keputusan kita.

Sore itu Jaemin terjebak bersama Jeno, lagi. Entah sudah yang keberapa kalinya, tapi seingat Jaemin, hampir seminggu ini dia selalu pulang tanpa Mark diantara mereka berdua. Mark bilang klub bola-nya lolos memasuki pertandingan final, jadi latihan merupakan hal yang tidak bisa ditinggal.

"Ayo pulang." Ajak Jeno.

Jaemin tersenyum, menggamit tangan Jeno ketika mereka melangkah keluar sekolah.

"Bagaimana harimu?" Jeno kembali membuka percakapan.

Jaemin menoleh kemudian tersenyum manis,"Baik."

Saat langkah mereka mendekati gerbang, Jaemin tiba-tiba menghentikan langkah. Pandangnya mengarah ke depan terlihat kosong dan Jeno yang penasaran ikut mengarahkan pandang ke titik yang Jaemin lihat.

Disana, Mark Lee berdiri di depan gerbang bersama seorang adik kelas laki-laki. Cuma yang Jaemin sulit terima adalah tangan Mark yang bertengger manis dan mengelus kepala adik kelas itu mesra. Sedangkan disebelahnya, Jeno kehabisan kalimat.

"Jaem—" panggil Jeno.

Jaemin membalik tubuhnya kearah berlawanan,"Ah! Aku ingin ke perpus sebentar." Kemudian melangkah meninggalkan Jeno di lapangan sendirian.

Ada hal yang mendidih di dada Jeno. Jadi dia melangkahkan kakinya lebar-lebar kearah Mark serta tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya berubah putih. Seminggu ini Mark berhasil membuatnya marah, dan sekarang adalah puncak kemarahannya.

Interaksi pertama yang Jeno lakukan sejak seminggu ini adalah pukulan di rahang sahabatnya. Masa bodoh dengan tanggapan orang lain, dia hanya ingin menyampaikan rasa kecewa Jaemin yang telah terlimpahkan padanya. Siswa yang masih berada di hadapan Mark juga ikut terkejut dan menutup mulutnya syok.

Yang jelas, pukulan Jeno barusan, bukan pukulan main-main seperti yang mereka biasa lakukan. Lihat saja, Mark bahkan terhuyung dan jatuh semeter lebih jauh, juga punggung tangan Jeno yang berubah merah.

"Brengsek!" Itu suara Mark, terdengar marah dan kesal,"Apa alasanmu memukulku?"

Jeno tertawa sumbang,"Harusnya aku yang marah, Dasar-Tukang-Selingkuh."

Mark tidak menjawab, jadi Jeno langsung meninggalkannya untuk mencari Jaemin ke perpustakaan. Satu orang yang bertahan bersama Mark tetap diam, terlihat takut melihat Mark yang masih melayangkan tatapan marah pada punggung Jeno.

"Hyung..."

Mark mendongak ke arah si siswa laki-laki, matanya tetap terlihat marah tapi berusaha untuk tetap tersenyum,"Tidak apa-apa, Haechan-ah. Memang aku yang salah."

#

Jeno mendapati Jaemin duduk di kelas setelah tidak menemukan pemuda manis itu di perpustakaan seperti yang dikatakan sebelumnya.

Sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sekecewa mungkin Jaemin pada keadaan sekitar, Jeno tahu bahwa Jaemin cukup sadar diri agar tidak menyia-nyiakan nyawanya secara cuma-cuma. Dan lihat sekarang, Jaemin duduk di bangkunya, membaca novel yang sengaja ditinggalnya di laci. Jaemin pernah bilang pada Jeno-dan juga Mark-bahwa itu adalah alternatif lain ketika Jaemin merasa bosan saat pelajaran dan tidak berani mengeluarkan ponsel akibat killernya guru yang mengajar.

Jeno mendekatinya dan duduk dibangku depan Jaemin menghadap belakang. Memang Jaemin bisa lupa pada masalahnya saat membaca, tapi bukan berarti Jaemin tidak ingat sama sekali.

Jaemin tetap membaca ketika Jeno mengulurkan tangannya dan mengelus bekas air mata di pipi Jaemin.

"Kamu...tidak layak untuk di sia-siakan."

Jaemin mendongak menatap Jeno dan melayangkan tatapan tidak percaya. Setahu Jaemin, Jeno yang paling diam diantara mereka bertiga dan Mark merupakan orang yang paling banyak menyumbangkan suasana. Percaya atau tidak, Jaemin yakin kalau itu pertama kalinya Jeno mengatakan hal romantis sejak hari pertama mereka pacaran.

Jeno tetap mengelus pipi Jaemin sayang, menyampaikan perasaannya dengan baik lewat skinship yang akhir-akhir ini mulai intens, mengabaikan fakta bahwa Jaemin masih tertegun dengan kalimatnya.

Namun, sejurus kemudian, Jaemin tersenyum hangat sambil berujar,"Kalau kamu mau, aku bisa jadi punyamu saja."

Kalimat barusan... Jaemin sendiri tidak yakin akan apa yang terlontar dari bibirnya. Semenjak hari-harinya hanya diisi bersama Jeno, Jaemin kadang nyaris melupakan eksistensi Mark di kepalanya. Anehnya, tidak lama kemudian Jaemin ingat kalau dia berpacaran dengan dua orang sekaligus. Sejenak, Jaemin merasa konyol dan pengandaian akan selalu dimulai.

Bagaimana kalau hari itu Jaemin tidak memantapkan hatinya untuk memperjelas hubungan. Bagaimana kalau hari itu dia tidak mengindahkan saran sepupunya, Ten hyung. Dan satu bagian yang paling Jaemin sesali, bagaimana kalau seharusnya hari itu, Jaemin hanya memilih salah satu saja.

Dilihatnya Jeno tersenyum hangat. Dulu, setiap Jeno tersenyum dengan menawan, Jaemin sering membandingkan mana senyum milik siapa yang paling mempesona antara Jeno dan Mark. Alhasil, Jaemin akan menyerah dan mengakui kalau keduanya punya karisma diatas rata-rata.

"Kamu tidak boleh begitu, Jaem. Mark juga pacar—"

"Coba aku tanya," potong Jaemin,"lebih menyenangkan aku yang hanya punyamu atau punya kalian berdua?"

Dengan begitu senyum Jeno luntur dan mereka terdiam sampai satpam sekolah berniat mengunci kelas.

#

Sudah sewajarnya berita merebak seperti bau Bunga Bangkai—apalagi dimasa SMA—tercium ke segala arah dalam hitungan jam. Belum ada duapuluh empat jam sejak Jeno memukul Mark didepan gerbang. Paginya sudah ada berita kalau Mark memutuskan tali hubungan antara dia, Jaemin, dan Jeno.

Tetapi, gosip tetaplah gosip.

Sekalipun orang satu sekolahan berasumsi kalau hubungan mereka dengan Mark telah berakhir, kenyataannya tidaklah begitu.

Secara sah, Mark tetaplah pacar resmi Na Jaemin. Mark masih berhak memanggil Jaemin dengan sebutan sayang. Masih berhak memonopoli Jaemin dari orang lain (kecuali Jeno). Masalahnya hanya satu, kadang merealisasikan sesuatu yang mulai rusak bukan hal mudah.

Apalagi melihat Jaemin yang senantiasa menempeli Jeno dan merajuk tanpa ingat tempat. Niatnya Jaemin hanya ingin merasa 'dunia milik berdua' bersama Jeno, tapi makin lama, shipper mereka makin banyak. Kan, pusing juga.

Eksistensi nama Mark mulai menghilang disekitar nama Jaemin dan Jeno. Tanpa diduga, pasangan itu meroket dan mendapat predikat 'Relationship Goals' dari murid satu sekolah (kakak kelas juga masuk hitungan).

Sore itu, Jaemin berdiam diri di kelasnya sambil menunggu Jeno menyelesaikan kelas tambahannya. Semenjak Jeno sering mendapat kelas tambahan, Jaemin jadi lebih sering meminjam novel ke perpustakaan sekolah daripada membawa sendiri. Jaemin bahkan sudah merantas trilogi 'School of Good and Evil' karya Soman Chainani dalam waktu seminggu.

Ponselnya yang tergeletak diatas meja bergetar bersamaan dengan layar touch screen yang menyala terang. Disana Jaemin mendapati pesan dari nomor tidak dikenal. Jaemin ingin mengabaikannya, tapi pop-up pesannya berhasil memancing Jaemin untuk bangkit dan mengikuti arahan si pengirim, meninggalkan novel serta ranselnya di kelas.

#

Menurut pesan itu, Jaemin harus ke perpustakaan dan pergi ke pojok, tepat ke daerah rak buku berdebu. Tepatnya deretan buku usang yang jarang terpakai. Jaemin berniat pergi lagi setelah melihat seorang pemuda manis duduk di pojokan sambil membaca buku. Pemuda yang sama dengan pemuda yang Mark elus kepalanya dua minggu yang lalu.

Omong-omong tentang Mark, mereka sudah tidak bicara lagi. Entah Jaemin saja yang merasa atau memang faktanya kalau Mark berusaha menghindar.

Dan saat Jaemin sadar dari lamunannya, bocah itu sudah berdiri dihadapannya sambil memeluk buku.

"Na Jaemin, benar?"

Jaemin mengangguk.

Pemuda itu mengulurkan tangan kanannya,"Kenalkan, aku Haechan-"

Bukannya menyambut uluran tangan Haechan, Jaemin memilih menyembunyikan kedua tangannya di punggung dan tersenyum tipis,"Kumohon jangan bertele-tele."

Haechan menarik uluran tangannya diikut wajahnya yang berubah tidak bersahabat,"Kamu menganggapku virus?"

Jaemin tidak menjawab. Tujuannya ke perpustakaan memang bukan untuk melanggati kalimat-kalimat Haechan. Jaemin hanya ingin mendengar sendiri apa yang sudah Haechan dan Mark perbuat.

"Dengar, Na-Jae-Min. Mungkin beberapa bulan ini kamu merasa jadi Putri Dongeng dengan dua pangeran berkuda putih. Sayangnya, seorang yang 'dipandang rendah oleh sang Putri Dongeng' berhasil mencuri hati salah satu pangeran dengan usaha yang murni dan suci. Kalau menurutmu bagaimana?"

Jaemin menunduk dalam diam. Untuk apa membahas hal seperti ini? Toh, kalau Mark memang sudah tidak menyukainya, Mark pasti akan minta putus sendiri.

"Kenapa diam? Sudah merasa kalah?"

Jaemin kembali mendongak,"Kenapa harus?"

"Kamu harusnya menyesal sudah membuang Mark."

Jaemin tersenyum tipis,"Ingat Haechan-ssi, disini aku hanya korban."

Jaemin berniat pergi, namun Haechan mencekal pergelangan tangannya dan membanting tubuh Jaemin ke rak buku terdekat. Saking kerasnya, rak buku itu bergoyang, menggeser buku-buku tebal yang detik berikutnya siap terbang. Jaemin yang masih kesakitan hanya pasrah saja kalau buku-buku itu menimpa tubuhnya, namun seseorang dengan sigap menindih Jaemin, menjadikan tubuhnya sebagai tameng saat buku-buku itu terlanjur jatuh.

Kadang terlalu sering bersama membuat Jaemin lebih mengingat hal-hal yang nyaris hilang. Seperti aroma parfum yang merebak di sekitar tubuhnya. Jaemin kenal bau parfum ini, teramat kenal malah. Tapi Jaemin tidak punya waktu untuk bernostalgia. Dengan tenaga yang sudah pulih, Jaemin mendorong Mark dari atas tubuhnya pelan.

Haechan berdiri tak jauh dari mereka dengan kaku, tidak menyangka jika perbuatannya sudah melukai Mark, sosok yang dipujanya. Apalagi saat Mark melayangkan tatapan marah padanya dan menarik Jaemin keluar perpustakaan.

#

"Kamu tidak terluka, kan, Jaem?"

Mark mencoba untuk membuka percakapan, tapi Jaemin masih sibuk mencari pembungkus es di laci Ruang Kesehatan. Mark sudah menolongnya tadi dan Jaemin punya tatakrama. Jadi setelah mereka keluar dari perpustakaan, giliran Jaemin yang menarik Mark menuju Ruang Kesehatan.

"Diamlah—" Suara Jaemin tercekat, terlalu tidak siap dengan Mark yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.

"Kamu juga diam, kalau begitu." Dan Jaemin diam.

Setelah sepuluh menit berlalu, Mark melepaskan pelukannya dan menarik Jaemin untuk duduk di pinggiran ranjang.

"Jaem, aku minta maaf atas kelakuanku yang kekanakan. Satu sekolah sudah memberiku hukuman. Bukan maksudku ingin pergi, aku ingin Jeno juga merasakan bisa memilikimu sendiri. Aku sudah terlalu sering mengambil kesempatan, sedangakan Jeno tidak dapat apa-apa—"

"Lalu Haechan... Apa kamu punya penjelasan? Aku tidak bisa mengerti alasanmu. Kalau memang ingin memberi Jeno hyung kesempatan, kenapa harus pergi dengan yang lain? Kenapa kamu sampai menjauhiku? Kenapa..." Mata Jaemin berkaca-kaca,"Kenapa tidak minta putus saja?"

Pintu Ruang Kesehatan terbuka, disana Jeno berdiri sambil tersenyum lebar. Jaemin ingin menghambur ke pelukan Jeno, tapi disini, tepat di dadanya, Jaemin merindukan pelukan Mark.

Jeno mengambil duduk di sisi lain tubuh Jaemin, mendekapnya erat dan menyalurkan kehangatan,"Kenapa pacar kita sedih, Mark?"

Bukannya menjawab, Mark tersenyum, mengamati Jeno dan Jaemin yang terlihat sangat nyaman satu sama lain. Jaemin tidak pernah terlihat senyaman itu saat Mark memeluknya.

"Jeno-ya." Panggil Mark.

"Hm?" sahut Jeno.

"Ayo akhiri perjanjian kita."

Jeno merasa tubuh Jaemin yang berada di pelukannya menegang. Jeno dan Mark sudah pernah menceritakan perihal janji persahabatan mereka. Seandainya mereka memiliki suatu hal sama yang disukai, mereka dengan suka rela akan berbagi. Kalau perjanjian itu dibatalkan, salah satu dari mereka akan melepaskan dari dari ikatan. Dan kemungkinan terburuknya lainnya adalah, Jaemin tidak memiliki siapa-siapa lagi. Jaemin tidak suka hal seperti ini.

Jaemin melepaskan pelukan Jeno dengan hentakan yang keras. Jaemin memang tidak suka jika keduanya mengakhiri perjanjian, tapi kadang amarah mengacaukan segalanya. Dengan tangan terkepal erat, Jaemin menyuarakan isi hatinya dalam intonasi tinggi,"KALAU PADA AKHIRNYA KALIAN SEPERTI INI, SEJAK AWAL, JANGAN PERNAH MENDEKATIKU! AKU MERASA DIPERMAINKAN DISINI! KALIAN SUDAH MEMBUATKU SEPERTI JALANG DAN SEKARANG SEENAKNYA MENGACAUKAN HUBUNGAN INI! SEHARUSNYA KITA TIDAK USAH BERTEMU, TIDAK USAH SALING MELIRIK! TIDAK USAH MENGAJAKKU TERIKAT!" Jaemin menarik nafas,"Terima kasih sudah mewarnai hari-hariku. Lee Jeno, Mark Lee, hubungan kita berakhir disini. Selamat tinggal."

Kemudian pintu ruang kesehatan tertutup keras.

Mark menghela nafas lelah. Jeno hanya korban dari kekanak-kanakan. Harusnya Jaemin hanya memutuskan dia saja, bukan Jeno juga.

"Jen, kamu sayang sekali dengan Jaemin, kan? Kejarlah."

Mark menutup matanya pelan, lelah dengan perasaannya dan menyesal dengan apa yang sudah diperbuat. Namun, saat pintu Ruang Kesehatan kembali tertutup kasar dan suara langkah yang berlari terdengar samar, Mark menyunggingkam senyum bahagianya.

Jeno memang yang terbaik untuk Jaemin.

#

Jaemin terus melangkahkan kakinya menuju kelas, mengabaikan Jeno yang mengikutinya sambil menyerukan namanya dengan putus asa. Jaemin ingin berbalik, dan menghambur dalam pelukan Jeno, tapi dia ingin sendiri.

"Na Jaemin, berhenti disana!"

Langkah Jaemin berhenti seketika. Jaemin sudah berkali-kali mendengar Jeno marah, namun kemarahan itu tidak sekalipun tertuju padanya.

"Bukankah kamu menawarkan diri untuk jadi punyaku saja? Kamu lupa? Atau haruskah aku bilang, kalau disini aku juga merasa dipermainkan?" Suara Jeno melemah.

Jeno menunduk dalam diam dan semakin diam ketika Jaemin melangkah kearahnya pelan. Dia tidak berharap Jaemin menerimanya lagi, dia hanya ingin Jaemin tahu kalau Jeno menaruh seluruh hatinya di tangan Jaemin.

Pelukan itu terasa hangat bagi Jeno. Pelukan dari orang yang dulunya sering Jeno peluk ketika sedih, ketika bahagia, ketika putus asa, dan dalam keadaan apapun. Kadang melindungi merupakan bagian berat untuk Jeno. Kadang juga Jeno ingin dilindung, tapi disino Jeno tahu seseorang yang lebih layak untuk dilindungi.

"Mulai sekarang," suara Jaemin terdengar serak,"kamu bisa miliki aku sepuasmu."

.

.

END


A/N : Jadi, setelah aku liet-liet di review, banyak yang suka MarkMin, tapi yang suka NoMin juga banyak. Awalnya pun aku bingung mau di gimana-in ini bocah bertiga. Dan tiba-tiba aku inget ada yang review MarkHyuck. Maafkan saya yang menistakan dek Haechan. Sebenernya aku ngga tega (TAT). Yang request sequel, aku bersyukur bisa merealisasikan permintaan kalian. Makasih, ya. Luv ya...

XOXO, tryss