Blood and Tears
.
.
[kim taehyung x jeon Jungkook]
.
.
niexra
.
.
"Jungkook, Jeon Jungkook!" seorang pria bersurai pirang menerobos kumpulan manusia di lantai dansa. Mata sipitnya menatap ke segala arah. Merasa bahwa sosok yang ia cari tidak ada disana, dia kembali menuju bar.
"Ya Tuhan, dasar anak itu." gumamnya kesal sekaligus lega saat melihat sosok yang ia cari ternyata tengah duduk disalah satu kursi di sana, dengan tangan memegang segelas minuman alkohol yang mampu membuatnya lupa diri. Jas hitam yang dipakainya sudah kusut, dasinya terbuka, dan didepanya seorang wanita berpakaian minim dan berbadan sintal tengah tersenyum menggoda.
Tanpa menghabiskan waktu lagi, pria itu menghampiri sosok itu dan menarik kerah kemeja atasannya. "Jeon Jungkook, ayo pulang." ucapnya tegas.
Sesuai dugaan pria itu, Jungkook memberontak. "Tidak mau! Yoongi pulang sendiri saja sana!"
Pria pirang bernama Yoongi itu menghela nafas kesal. Tak memperdulikan rengekan Jungkook, ia menarik lengan Jungkook dengan kuat hingga dia benar-benar bangun dari kursinya. "Lalu aku dibunuh oleh Seokjin, begitu? Tidak mau. Jadi ayo pulang!"
"Eehh… Yoongi jahat!" serunya sambil cemberut. Tapi kakinya mengikuti langkah Yoongi untuk berjalan keluar dari bar. Tapi badannya masih mengarah kebelakang dengan tangan melambai menuju wanita yang tadi menemaninya. "Bye, Sophie!"
"Dasar merepotkan. Jalan yang benar!" tegur Yoongi, kali ini lebih keras.
"Ehehe.. iya, Yoongi hyung!"
Masih dengan menggerutu Yoongi membantu Jungkook untuk berjalan karena sosok itu berjalan seperti cara orang mabuk yang biasanya. Dengan usaha yang panjang, Yoongi berhasil membawa Jungkook masuk kedalam mobil dengan selamat.
"Nanti kalau mau pergi, beritahu aku terlebih dahulu. Berbahaya berkeliaran sendirian di club seperti itu."
Jungkook menatap Yoongi dengan mata tak fokus dan bibir cemberut. "Tapi aku bukan anak kecil lagi, Yoongi!"
"Yeah, katakan itu pada orang yang hampir diculik minggu lalu."
"Tapi aku 'kan berhasil lolos!"
"Dan kau membiarkan mereka mengambil sample proyek robot JT9335 yang akan diluncurkan bulan depan. Untung saja saat itu aku berhasil mengganti sample yang kau bawa dengan yang palsu. Kalau tidak," Yoongi mengacungkan kunci mobil pada Jungkook yang mengangkat kedua tangannya. "kupastikan perusahaanmu akan bangkrut saat ini."
Dulu, Jungkook pernah mabuk tanpa Yoongi dan Seokjin disampingnya. Dua minggu kemudian perusahaan saingan mereka meluncurkan sebuah produk yang jelas-jelas sama dengan rancangan milik Jeon Industries. Hal itu membuat Jungkook menjadi bulan-bulanan Yoongi dan Seokjin. Setelah itu keduanya memutuskan menyiapkan banyak sekali flashdisk dan dokumen palsu.
"Itu tidak mungkin, aku kan punya Yoongi dan Seokjin." balas Jungkook dengan cengiran lebar. Saat atasannya memasang wajah seperti itu, Yoongi merasa Jungkook seperti remaja lainnya. Oh, tunggu. Atasannya ini memang seorang remaja.
"Kalau aku punya Yoongi dan Seokjin, aku tetap bisa mengatasi masalah apapun." Lanjutnya lagi. Yoongi berdecak.
"Ingatkan aku untuk resign besok pagi."
"Hee… jangaannn!" rengekan Jungkook tak menghentikan Yoongi untuk menyalakan mesin mobil. Dia menoleh pun tidak. "Yoongi tahu aku mencintai Yoongi, kan? Jadi jangan pergi!"
Yoongi menghela nafas. Yoongi sering mendengar Jungkook mengatakan kalimat itu saat ia sedang mabuk atau mimpi buruk, tapi tetap saja. Kalimat itu selalu berhasil membuat Yoongi lemah.
"Ck, aku juga mencintaimu, jadi jangan berkeliaran seperti tadi dan membuatku dan Seokjin khawatir. Oke?"
"Oke, soldier!"
…
"Kami memutuskan untuk mempekerjakan bodyguard untukmu."
Jungkook terlonjak kaget mendengar suara itu. Dia berbalik dan berlari memeluk sosok yang baru saja berbicara, mengabaikan rancangan yang seharusnya dia selesaikan modelnya minggu ini.
"Seokjin! Sudah berapa lama kita tidak bertemu?!" serunya gemas. Bibir Jungkook mengecup pipi dingin pelayan pribadinya itu.
Ucapan Jungkook membuat Seokjin memutar mata. "Jangan terlalu dramatis, Tuan Muda. Kita berpisah hanya lima menit."
"Tapi tetap saja aku merindukanmu." tangan Jungkook bergerak melepas pelukannya. Mata Jungkook menatap berkas-berkas di tangan Seokjin dengan curiga. "Seokjin, apa itu?"
"Kau tidak dengar ucapanku tadi? Yoongi dan aku memutuskan untuk—"
"Ah ya, bodyguard!" seru Jungkook sambil mundur dengan cepat, menjauh dari Seokjin hingga ia sampai di meja kerjanya. Insting Jungkook yakin kalau akan ada hal tak beres yang terjadi, jadi dengan perlahan dia mengambil sweater yang tergeletak di meja dan memakainya, tak sadar bahwa sweater itu sudah dihiasi oli. "Aku tak membutuhkan hal seperti itu, kau tahu 'kan. Aku bisa menja—"
Sret!
Dan tiba-tiba saja Seokjin sudah ada didepannya. Jungkook jadi menyesali keisengannya memasang roket di kaki Seokjin, jadi robot pelayannya itu –ahh, Jungkook tak sampai hati memanggilnya begitu—jadi Seokjin bisa ada dimana saja, kapan saja, dengan cepat sekali.
"Yoongi bilang Sophie itu salah satu orang yang disewa perusahaan sebelah untuk menggali informasi darimu. Aku sudah mengeceknya dan itu memang benar. Untung saja malam itu kau tidak membawa dokumen penting, Tuan Muda." Seokjin berkata sambil memamerkan senyum manisnya. Nada bicaranya dingin sekali, Jungkook sampai merinding dibuatnya. Mata coklat Seokjin bersinar terang, begitu juga dengan dua garis yang berada di bawah mata kanan dan kirinya, yang memanjang vertical hingga ke tulang pipi.
"Tunggu –tunggu, kita punya banyak sekali perusahaan sebelah, perusahaan mana yang kau maksud?" tanya Jungkook, pura-pura tertarik dengan topik Sophie untuk menghilangkan ketakutannya akibat kemarahan Seokjin.
Seokjin menghela nafas –apa robot bisa bernafas?- "Kane."
Mata Jungkook membulat dramatis. "Kane? Perusahaan milik si cantik pirang itu? Aku sudah menduga dia mencurigakan saat ingin berkerja sama dengan kita. Suruh Yoongi-"
"Yoongi sudah memutuskan kontrak dengan mereka sejak tiga hari yang lalu."
"Wow." Jungkook mengerjap tak percaya. "Yoongi memang asisten yang bisa diandalkan. Aku harus mentraktirnya sekarang sebagai rasa terimakasih karena telah menjadi asisten terbaik selama hidupku! Dah, Seokjin!"
Dia baru berjalan satu langkah dan Seokjin sudah melayang didepannya. Jungkook mengerang dalam hati. Kenapa Seokjinnya yang manis menjadi seperti ini?!
(Jungkook tak ingat saja, kalau dialah yang membuat sifat si robot Seokjin memiliki sifat yang sama persis dengan Seokjinnya dulu.)
"Aku yakin Yoongi pasti bisa menunggu. Lagipula dia tak suka keluar di siang hari yang terik seperti ini." ucap Seokjin masih dengan senyum palsunya. Masih dengan kaki yang tidak menapaki lantai, Seokjin mendorong Jungkook yang sudah pasrah menuju sofa terdekat. Pasrah dengan keadaannya sekarang, Jungkook duduk disofa dengan wajah merengut.
"Aku pastikan kau akan ku jual ke pasar loak." gerutu Jungkook kesal dengan kedua tangan mendekap dada.
"Aku yakin itu tidak akan terjadi." balas Seokjin sambil terkekeh. Dia duduk disamping Jungkook lalu menyerahkan berkas-berkas berisi data orang-orang yang mendaftar menjadi bodyguard Tuan Mudanya.
"Hm, tunggu sebentar. Coba jejerkan berkas-berkas ini didepanku."
Seokjin menatap Jungkook penuh tanya, yang dibalas dengan mata bulat yang menatapnya balik. Terlihat begitu polos dan tanpa dosa. Sekali lagi Seokjin menatap Jungkook, lalu melakukan apa yang Jungkook minta.
"Oke. Berapa banyak bodyguard yang aku butuhkan?"
"Yoongi ingin lima."
"Kalau begitu aku akan ambil tiga bodyguard saja." Jungkook berkata sambil mengabaikan ekspresi Seokjin yang terlihat benar-benar lelah dengan tingkah lakunya.
Jungkook mulai menutup mata. Dia menjulurkan tangan kanannya ke depan, mengambil secara acak satu, dua, dan tiga berkas. Saat membuka mata, dia dihadapkan dengan wajah Seokjin yang menatapnya datar.
"Jangan bilang kau akan memilih pelindungmu dengan cara seperti itu."
"Wah, itu ide bagus, Seokjin! Aku akan memilih tiga orang ini sebagai bodyguardku!" seru Jungkook dengan wajah sok senang. "No, no. Jangan bilang bahwa mereka itu pelindungku. Pelindungku hanya dua, " Jungkook menunjukkan dua jarinya. "Satu adalah kau," satu jari diturunkan. "dan satu lagi adalah Yoongi." Satu jari diturunkan lagi.
"Terserah sajalah." Seokjin merapikan berkas yang tidak diambil Jungkook. "Tapi kau yakin ingin memilih tiga orang itu? Kau bahkan belum membaca data mereka."
"Yakin, kok." Jungkook menyerahkan tiga berkas itu pada Seokjin, lalu berdiri dari duduknya. "Sekarang, aku akan benar-benar mengunjungi Yoongi." lanjutnya sambil berjalan menuju pintu.
"Setidaknya ganti sweatermu dulu, Tuan Muda!"
"Ah, benar. Terimakasih, Seokjin! Nanti kubelikan kau satu galon oli rasa strawberry!"
Seokjin terkekeh pelan mendengar perkataan Tuannya. Dia membuka tiga berkas yang dipilih oleh Jungkook, sekedar mengecek siapa nama dari orang-orang tak beruntung yang harus berurusan dengan mereka.
Kim Namjoon
Kim Taehyung
Park Jimin
…
Sore hari adalah waktu pribadi Jungkook untuk menghabiskan waktu di bengkel sekaligus laboratorium nya, menyelesaikan sample barang elektronik untuk perusahaannya. Diselingi kegiatan merakit robot-robot kecil sebagai teman Seokjin, karena pelayan robotnya yang malang itu masih belum terlalu mengerti dengan emosi dan perasaan manusia. Jungkook jadi ingat saat Yoongi dan Seokjin belum terlalu akrab. Saat itu Yoongi sedang membuat sandwich. Seokjin memperhatikannya dari belakang, dengan raut wajah serius sekali. Yoongi yang sadar bahwa Seokjin memperhatikannya berbalik.
"Apa ada masalah?" ucapnya kala itu.
"Aku bingung kenapa manusia bisa tumbuh dengan tinggi berbeda." jawaban Seokjin menimbulkan kernyitan di dahi Yoongi. "Padahal Tuan Muda lebih muda darimu, tapi kenapa ia lebih tinggi?"
Jungkook ingat betul mesin kopinya rusak akibat lemparan gelas Yoongi yang meleset dari Seokjin dan mengenai mesin kopinya yang berharga jutaan. Sedangkan Seokjin malah bertanya kenapa Yoongi bisa marah karena kalimat seperti itu.
Sore ini berbeda. Masih dengan kaus oblong dan celana kain selutut yang biasa ia pakai saat bekerja di lab, Jungkook tidak berada di ruang kerjanya itu, melainkan ruang tamu di lantai tiga. Pintu lift yang terbuka memperlihatkan pemandangan yang asing baginya; Yoongi dan Seokjin berdiri disamping sofa, sedangkan tiga pria berpakaian resmi membelakangi mereka.
"Maaf aku terlambat." ucapnya sambil melangkah masuk, mengabaikan Yoongi yang menatapnya tajam. "Aku ada sedikit urusan tadi."
Tiga pria yang Jungkook yakini adalah bodyguardnya berbalik, tapi Jungkook tak memberikan perhatian lebih pada mereka. Yoongi yang melotot dan hampir melempar smartphone-lah yang mengambil perhatian pemuda itu.
"Aku memang menyuruhmu untuk cepat kemari, Kook. Tapi bukan berarti kau harus mengenakan pakaian santai seperti itu sementara kami semua memakai pakaian formal seperti ini." Yoongi buka suara, menunjuk Jungkook dengan jari telunjuknya.
Jungkook mengangkat kedua tangan dengan ekspresi pura-pura bersalah, "Ops, maafkan aku, Yoongi. Siapa yang sudi terperangkap oleh pakaian seperti itu saat ada pakaian santai yang tersedia." ucapnya sambil berjalan lurus menuju Yoongi, melewati ketiga pria yang menatapnya dalam diam.
"Itulah yang dikatakan oleh orang yang selalu memakai sepatu dengan hak tiga senti didalam rumahnya sendiri." balas Yoongi sambil mengendikkan dagu pada kaki atasannya.
Jungkook baru akan membalas ucapan asistennya itu sebelum—
"Kurasa ada benarnya. Bukankah pertemuan ini juga tidak terlalu formal?"
Sosok yang paling muda di ruangan itu dengan anggun membalikkan badan, menatap pria bersurai hitam yang baru saja membuka suara. "Nah, akhirnya ada seseorang dirumah ini yang mengerti style fashionku!" serunya senang, kakinya melangkah dengan ringan menuju pria yang balik menatapnya dengan cengiran di wajah.
Jungkook melihat tag name yang tersemat di dada kiri pria didepannya. "Well, Park Jimin, kau baru bekerja dirumah ini selama beberapa menit dan aku sudah menyukaimu."
"Itu sebuah kehormatan untukku, Mr. Jeon." balas Park Jimin sambil tersenyum lebar. Matanya yang sipit membentuk bulan sabit. Pipinya jadi seperti kue mochi.
"Tidak, tidak, tidak." ucap Jungkook sambil mengibaskan tangannya. "Jangan panggil aku se-formal itu, panggil saja Jungkook. Lagipula kau lebih tua dariku. Jadi.." dia meletakkan telunjuknya di pelipis, sambil lanjut berkata, "apa aku harus memanggilmu Jimin hyung?"
"Hei, kau bahkan tidak memanggilku dengan embel-embel hyung!" protesan yang berasal dari balik punggungnya membuat Jungkook menolehkan kepala. Yoongi tengah menatapnya garang.
"Kapan aku seperti itu, Yoongi hyung?" tanya Jungkook, menekankan kata hyung saat berbicara. Kepalanya dimiringkan ke samping dan matanya membesar.
Pria blonde itu mengerang kesal. "Oke, oke, kau menang."
Jungkook tersenyum lebar, kembali membalikkan badan untuk menghadap ketiga bodyguardnya. Pria berambut coklat yang berdiri disamping kiri Park Jimin membuat Jungkook kaget. "Kim Taehyung-ssi, kau jadi bodyguardku?"
"Aku bahkan tak menyangka kalau aku yang akan diterima, Mr. Jeon."
Yang lain menatap keduanya penuh tanya.
"Kau mengenalnya?" Seokjin membuka suara. Namjoon dan Jimin terlihat agak kaget, apalagi saat Seokjin melangkah mendekati mereka berempat.
"Dia kenalanku." Jawab Jungkook santai. "Ingat saat kau merusak sarapanku di café ? Dia duduk didepanku."
"Tapi sepertinya sekarang aku naik pangkat." Ucap Taehyung sambil tersenyum lebar, "Dari kenalan menjadi bodyguard."
Jungkook mengangkat bahu sambil menggumamkan kata 'terserah'.
"Selamat datang di kediaman keluarga Jeon." ucap Jungkook dengan kedua tangan direntangkan. Matanya menatap tiga pria yang tersenyum sopan. "Lantai ini adalah lantai tempat kalian tinggal. Dan itu bukan berarti kalian tidak bisa mengelilingi rumah ini. Di lantai satu adalah aula dan dapur serta ruang makan utama. Sebenarnya fungsinya hanya sebagai tempat berkumpul orang-orang saat ada acara tertentu. Lantai dua adalah.." Jungkook terdiam sebentar, "ruang bebas? Well, aku menyebutnya begitu. Disana tempat kita bisa bersenang-senang, ada gym yang bisa juga digunakan untuk tempat latihan saling memukul satu sama lain, mini bar, dan kolam renang. Yoongi biasa menyeretku kesana untuk menonton film bersama. Lantai tiga, lantai khusus milik kalian. Sebenarnya bukan khusus untuk kalian juga sih, karena Yoongi biasa menginap di salah satu kamar disini. Lalu lantai empat, adalah milikku. Setiap lantai memilik tiga guest room" Jelas Jungkook.
Kim Taehyung, Kim Namjoon, dan Park Jimin menatapnya tak percaya.
"Tunggu, kau—kau memberikan satu lantai ini," Kim Namjoon menggerakkan tangannya ke seluruh arah, "untuk kami bertiga?!"
Jungkook mengendikkan bahu, "secara teknis, untuk kalian berempat, karena biasanya Yoongi juga menginap di lantai ini, atau di lantaiku. Lantai ini memiliki kamar tidur yang sudah dilengkapi dengan kamar mandi. Tentu saja dapur dan ruang santai ada. Perabotnya juga sudah lengkap, Kalau ada yang kurang, kau bisa memberitahu salah satu dari kami."
Kim Namjoon dan Park Jimin mengangguk, sedangkan Kim Taehyung malah melakukan hormat padanya. "Terimakasih, Mr. Jeon! Aku janji akan melindungimu dari orang lain!"
"Kau unik sekali, Kim Taehyung-ssi. Sudah kukatakan panggil saja aku Jungkook. Itu juga berlaku untukmu, Kim Namjoon-ssi."
"Baik, Jungkook." ucap Namjoon smabil tersenyum. Jungkook bisa melihat dua lesung pipi menghiasi pipi pria itu. "Kalau begitu apa kau tak keberatan memanggilku hyung?"
"Namjoon hyung? Terdengar keren!" Jungkook tersenyum lebar. "Kalau begitu, kalian langsung istirahat saja. Aku tahu kalian pasti lelah. Anggap saja rumah sendiri, oke?"
…
TBC
Jadi, ini tuh... aneh sekali.
Tolong, saya lagi bingung dengan style menulis saya sendiri :"(
Seperti biasa, maaf kalau ada salah tulis ataupun hal-hal ambigu dichapter ini. Buat yang mau bisa kritik dan saran di kolom review :)
Thanks to:
Illyasviel Solace Fani446 Ly379 hinazuki aisha
( ini udah dilanjut ya.. makasih sudah review :) )
Terimakasih buat yang sudah review, favoritnya, dan follow cerita ini. Saya harap chapter ini bisa membahagiakan kalian :)
-love,
niexra
