Chapter 2
a/n : Halo saya kembali, nggak nyangka cerita saya ada yang review, nangis kejer karena kesenangan. Yah yang penting terimaksih pada reviewers yang menambah semangat saya melanjutakan cerita ini, terimakasih atas saran yang diberikan , untuk pertanyaan siapa yang menjadi keempat penjaga semua menjawab hampir bener kok. Sasuke, Gaara, dan Neji emang sang penjaga.
Kalau Naruto 98% dia bukan penjaga # bletak dijitak readers. Itu karena sebenarnya bukan Naruto yang jadi penjaga, karena penjaganya adalah Si... *dibekep Naruto
Author : kenapa kau bekap mulutku
Naruto : *Sweetdrop. bukankah kau ingin menjadikannya kejutan chap depan kenapa kau bilang sekarang
Author : Oh benar juga ya, baiklah para pembaca sekalian chap ini fokus ama Sasunaru, semoga romance Sasunarunya kelihatan #bletakkk
Baik kita mulai !
Discalaimer : Masa si Kishimoto? (kukira aku haha) # dilempar sandal ama Om Masashi.
Rating : T ( artinya Tak tahu) # Tendang
Genre : Adventure,romance, friendship, dll (bletakkkk... dijitak) plus sepertinya akan mengandung Sho-Ai tapi nggak tahu apa bisa membuatnya #dihunus katana
WARNING : OOC, TYPO, geje dan kawan-kawannya... Tapi yang terpenting
DON'T LIKE DON'T READ. SILAHKAN KETIK TOMBOL BACK SEKARANG JUGA, SEBELUM ANDA MENYESAL
THE WORLD OF ABRA
Semilir angin yang berhembus kuat disekitarnya, seperti membuat permasalahan yang ada dipundaknya saat ini menghilang begitu saja. Entah sejak kapan, dia menyukai angin yang selalu menyelimuti dirinya. Seakan mengerti dirinya saat ini, bagaimana hangat angin itu membelai tubuhnya membawa serta masalahnya. Tapi sepertinya kegiatannya ini akan terusik karena instingnya merasakan bahwa ada sesosok orang yang mengikutinya.
"Keluarlah... kalau kau ada urusan denganku," tak berapa lama sesosok rambut nanas memperlihatkan dirinya, dengan tatapan malas seperi biasanya.
"ck... insting seorang panjaga memang sangat bagus," sang pemuda yang dikatai hanya bisa menaikkan alisnya tanda tak mengerti. " Kenapa kau mengikutiku dari tadi?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya yang seperti menelanjangi itu, mencoba mengerti isi pikiran lawannya.
"Hanya ingin cari waktu yang tepat untuk bicara,"
"Dan sekarang sepertinya sudah tepat," jawab si pemuda. Tanpa basa-basi pemuda nanas yang mengikutinya a.k.a shikamaru tersebut melemparkan sebuah bandul kecil yang mirip seperti kristal. Saat berhasil ditangkap oleh si pemuda, beberapa saat kemudian kristal itu memacarkan warna hijau muda, pendar itu kuat pada awalnya tapi kemudian mulai meredup dan membuat warna sejatinya mucul yaitu hijau yang memancarkan kedamaian.
"Batu pirus*, itulah milikmu. Turquoise yang indah itu akan memancarkan sinarnya saat kau telah mengusainya dengan sempurna,"
"Jangan membuatku tertawa dengan trik murahanmu, lebih baik kau tunjukkan maksudmu sebenarnya,"
" Itulah maksudku, aku hanya ingin membawamu ketempat seharusnya kau berada, wahai sang penjaga angin,"
" Bualan yang hebat. Aku bahkan tak pernah bertemu denganmu, dan sekarang apa yang kau bicarakan itu?" ucap sang pemuda, "ck, mendokusei," itulah kata terakhir yang diucapkan sang Nara sebelum mengeluarkan sebuah kalung batu bewarna merah, digenggamnya kalung lalu mengumamkan kata yang tak begitu jelas.
Seperti terseret pada arus yang tak tampak, pemuda itu berada dalam dimensi lain yang tak ia ketahui, terlihat jelas sisa-sisa perang, bagaimana tubuh-tubuh itu bergelimpangan mengalirkan darah layaknya sungai yang tak bisa mengering. Teriakan yang begitu membahana, meneriakan kata-kata yang tak ia mengerti, jerit tangis juga tak kalah memekakkan telinganya. Kegelapan yang mengelilinginya membuat dirinya bergetar hebat, teriakan-teriakan itu bagai sebilah piasu yang terasa mengghujam dirinya, sadar atau tidak kini ia menemukan dirinya mengalirkan air mata yang terus merembes tanpa bisa ia hentikan. Secepat ia mengedipakan mata secepat itu pulalah keadaan sekitarnya berganti. Kini ia melihat orang tua dengan jenggot putihnya yang terlalu panjang dengan keadaan lemah dan terbaring diatas tempat tidur dan dikelilingi beberapa orang
"Uhuk...,"pria tua itu terbatuk lagi " kali...an dengarkanlah aku...," ucapnya tergetar menahan batuk yang terus ingin keluar
" Para penjaga tidak pernah meninggalkan kita. Sekalipun tubuh mereka telah hancur, tapi jiwa dan kekuatan mereka tak akan pernah mati," orang itu berusaha bernafas dan meneruskan kata-katanya " Mereka telah meninggalkan kekuatan dan jiwa mereka pada para penerusnya, tempat dimana sang gelap tak akan pernah menduga dan menyentuhnya," ucapnya lalu memberikan sebuah gulungan tua dan langsung diterima oleh salah seorang dari mereka
"Carilah mereka dan cegahlah perang kedua itu, jangan sampai kegelapan dalam dasar hatinya memberikan kekuatan terbesar untuk menyatukan kempat elemen itu. Dan kalian pasti tahu akibatnya," ucapnya terakhir kali sebelum tertidur lagi. Dan dengan cepat sang pemuda kembali kedunianya.
Wajahnya masih tampak syok melihat hal-hal yang baru saja dialaminya, wajah dingin yang selama ini telah dibangunnya hancur tanpa sisa, tapi itu hanya sepersekian detik sebelum dia kembali kealam nyata.
"Kenapa kau memperlihatkannya?" pertanyaan itulah yang pertama muncul setelah ia berhasil menguasai dirinya
"Ku rasa kau bukan orang bodoh yang tak mengerti apa yang kumaksud setelah menerima ingatan dari memoar amethyst* tadi?" ucap Shikamaru, tapi itu hanya membuat tatapan dingin sang pemuda menjadi lebih dingin dan keras
"aku tak ingin ikut campur urusanmu dan duniamu itu, " setelah itu sang pemuda itu pergi dan menyerahkan bandul kristal yang tadi dilempar oleh Shikamaru. Shikamaru hanya menghela nafas melihat bandul yang kini telah kehilangan warnamya lagi. Bagaimanapun juga tak mungkin membujuk sesorang untuk menyerahkan nyawanya begitu saja.
"Hei kau yang di atas keluarlah," perintah Shikamaru yang membuat seorang berambut pirang keluar dari persembunyiannya. Dia melihat ke sosok Shikamaru dengan pandangan yang tak bisa diartikan
"Teme," gumannya pelan kemudian memandang pintu yang tadi dilewati Sasuke. Sekali lagi Shikamru melamparkan sebuah barang, kali ini kearah bocah pirang itu, tapi bukanlah sebuah bandul yang diterimanya hanya sebuah botol kecil yang berisi sedikit cairan aneh didalamnya.
"Minumlah itu dan kau akan melupakan semua yang terjadi hari ini,"
"Apakah aku harus melupakan kejadian ini?" tanya Naruto lemah, yang sekaligus membuat Shikamaru sedikit membelalakkan matanya
"Kau juga ikut menerima memoar amethyst kan? Dan kau dengar semua ucapan tadi kan?" tanya Shikamaru tak percaya. Naruto masih menampakkan wajah bingung dengan pertanyaan itu Shikamaru mendesah lagi
" Kau tadi juga ikut melihat bayangan tentang sebuah perang kan? Lebih baik kau tak mengingatnya karena ini bukan urusanmu, yang mungkin akan jadi mimpi burukmu," jelas Shikamaru
"Tidak... itu tidak akan jadi mimpi burukku ! Itu akan menjadi semangatku," ucap Naruto mantap, kali ini terlihat jelas kilat semangat yang entah dari mana munculnya, yang membuat Shikamaru sedikit tak percaya dengan orang yang ada dihadapannya.
"Aku akan membantumu membujuk Sasuke Teme agar dia mau membantumu menghentikan perang itu. AKU JANJI!" itulah ucapan terakhir yang diberikan Naruto sebelum dia melesat pergi meninggalakan Shikamaru yang sepertinya jadi OOC karena liat sifat Naruto.
"ck... terserah kau saja, sekalipun kau teriakkan pada seluruh dunia paling juga kau dianggap orang gila" ucapnya pada diri sendiri " seandainya kaulah yang jadi penjaga mungkin tidak akan serepot ini,"
oo0O0oo oo0O0oo oo0O0oo oo0O0oo oo0O0oo
"TEMEEEE..." pagi ini bukanlah sebuah bentakkan yang keluar dari mulut sang matahari tapi sebuah sapa bahagia dengan api semangat yang tampak sekali diwajah tan itu
"Hn" hanya itulah jawaban rambut raven, membuat Naruto sadar akan siapa sebenarnya si rambut raven. Tapi kemarahannya kali ini dia tahan karena semalam kemarin dia sudah membuat keputusan untuk membantu seorang berambut nanas yang bodohnya baru kemarin dia sadar bahwa ia tak tahu siapa namanya.
"Bagaimana kabarmu hari ini?" tanya Naruto tak lupa dengan senyum lima jarinya. Sasuke sedikit mengangkat alisnya tak percaya, sejak kapan dobe rival abadinya ini menjadi orang yang bisa bersikap manis dihadapannya. Sebersit rasa bahagia terselip dihatinya, tapi tak mungkinkan seorang Uchiha akan balas tersenyum ramah dan menjawab balik sapaan Naruto. Jadi pilihan akhirnya adalah tetap bersikap cuek dengan tampang stoicnya.
"Teme!," teriak Naruto mulai kesal, karena dari tadi hanya didiamkan dengan pandangan cuek sasuke, yang sukses membuat Naruto hampir membatalkan niatnya untuk melakukan aksi damai sama rivalnya.
"Ck... kau itu emang orang yang tak bisa diajak damai ya, padahal aku akan ingin sekali berdamai denganmu," ucap Naruto kesal dengan menggembungkan pipi tannya dan sedikit mengerucutkan bibirnya. Ekspresi Naruto saat ini bener-bener membuat Sasuke berpikiran yang tidak-tidak dan juga yang iya-iya , kalau saja dia bukan keluarga Uchiha yang dididik dari kecil untuk mengendalikan diri pasti sekarang Naruto sudah nggak berbentuk lagi (?)
" Karin," entah pertanyaan atau pernyataan yang dilontarkan Sasuke. Naruto mengacak rambutnya dengan kesal, kenapa si Sasuke teme pantat ayam ini malah menyebut nama Karin. "Apa maksudmu teme?" tanya Naruto heran
"kau disuruh Karin untuk berdamai denganku, dan menyuruhmu jadi mak comblang antara aku dan Karin kan," jelas Sasuke. Sekarang Naruto bener-bener kesel setengah mati dibuatnya. Niat berdamai hilang sudah.
DUAKKKK!
Sebuah tinjuan mendarat mulus dipipi si rambut raven, yang sukses membuat fansgirlnya berteriak gak keruan. Dia emang sengaja menerima pukulan itu, sebuah senyum tak kentara terukir diwajah stoicnya. Sementara itu Naruto sendiri segera berlari kearah kamar mandi.
Naruto POV
"Arrghhhhh...," teriakku frustasi. Aku hanya bisa melampiaskan rasa frustasiku ini dengan menjambaki rambutku ini. Aku tak habis pikir dengan pikiran Si Teme pantat ayam itu, bagaimana mungkin dia berpikiran sepicik itu tentang Karin. Memang benar aku berdamai karena punya maksud tertentu, tapi itu kan bukan karena Karin. Aku berdamai dengannya agar aku bisa menghasutnya agar mau mendengarkan kata-kata si rambut nanas itu.
Apakah aku salah jika melakukan ini, tapi ini untuk kebaikan dunia kan. Apa aku sebaiknya memikirkan rencana lain saja ya, tapi aku bukanlah tipe pemikir. Sial, seandainya akulah yang punya kekuatan itu...
Masa bodohlah dengan rencana, yang harus kulakuan saat ini adalah membuat si baka teme itu mau menggunakan kekuatannya untuk membantu semua orang. Awalnya aku emang tak begitu yakin tentang pembicaraan Sasuke dan si rambut nanas itu kemarin. Tapi hatiku mengatakan hal itu benar dan bukanlah bohong. Jadi misiku saat ini adalah membuat Sasuke menyadari apa yang harus dilakukan. Setidakanya sekalipun aku tak punya kekuatan, tapi menjadi orang yang bisa menyadarkan seorang hero bukankah itu juga hal yang baik
"Semangat Naruto, ini adalah salah satu jalanmu agar bisa menjadi pahlawan sejati!" ucapku mengembalikan api semangat dalam diriku. (Author kok jadi teringat ama pemuda yang berbaju ijo rambut mangkok *tendanged)
Naruto POV End
Sudah dari tadi bel sekolah berbunyi, tapi Naruto tetap pada posisi duduknya di closet toilet. Dia emang udah tak berminat lagi mengikuti pelajaran jam pertama, karena moodnya udah dihancurin ama rambut pantat ayam itu. Sekarang dia sedang sibuk meredam amarah dan mengembalikan moodnya yang dirusak Sasuke.
Blakkkk! Pintu toilet ditendang dengan tidak elitnya, membuat naruto kaget dan langsung berdiri seketika. Sedikit tak percaya dengan orang yang ada dihadapannya saat ini.
"Teme... apa yang kau lakukan?," teriak Naruto tak percaya. Sasuke lalu menghampirinya dan menghempaskan tubuhnya kedinding, mengunci naruto agar tak bisa kemana-mana.
"Hanya ingin balas dendam dobe," Sasuke menatap tajam Naruto. Hati Naruto sedikit bergetar juga mendapat tatapan seperti itu. Apalagi saat melihat kepalan tangan Sasuke yang berada diudara dan siap dilayangkan kewajahnya. Dia menutup matanya erat-erat bersiap-siap menerima pukulan itu.
1 menit... 2 menit... Tukk!
"Ouch," ringis Naruto sambil memegangi dahinya yang dijitak ama Sasuke. Dia membuka matannya, memperliahatkan saphire birunya dan menatap kedalam mata kelam Sasuke, seperti mencari sesuatu tapi dia sendiri juga tak tahu apa yang dicarinya. Yang ditatap jadi bergetar juga.
"Sudahlah...kita kembali ke kelas," ucap Sasuke buru-buru membalikkan badannya dan berjalan keluar dari toilet. Seorang Sasuke lebih memilih dipukul berpuluh-puluh kali oleh dobenya, daripada harus dipandangi dengan jarak seperti itu. Bisa-bisa dia dikehabisan darah dan kehilangan kontrol dirinya sendiri. Apalagi ditempat sepi kayak gini, dimana kesempatan terbuka selebar-lebarnya.( Author : Sasuke emang pervert, pikirannya itu ckckck... *dilempar kelaut)
"Tunggu teme!" teriak Naruto. Sasuke menghentikan langkahnya, dan membalikkan badannya "Bukan... bukan Karin yang menyuruhku berbaikan denganmu. Itu murni keinginanku sendiri walaupun...," Naruto sedikut gugup mengatakannya . Sasuke menunggu dalam diam agar Naruto bisa melanjutkan kata-katanya, dia hampir tersenyum mendengar pernyataan Naruto.
"Arghhhh..." teriak Naruto frustasi " kemarin aku melihatmu bersama si rambut nanas itu. Aku juga mendengar semua yang kau bicarakan ama dia. Karena itu aku ingin kau percaya dan mau membantu si rambut nanas itu," jelasnya. Sasuke memberikan tatapn tajam nan dingin a.k.a deathglare tingkat tinggi pada Naruto. Tapi Naruto yang udah biasa melihat tatapan itu tiap harinya yang dilakukan Sasuke untuk para FGnya hanya bersikap biasa saja.
"Sekali dobe tetaplah dobe. Apapun yang kau lakukan aku tak akan pernah mau melakukannya. Aku bukan maniak hero sepertimu," ucap Sasuke beranjak meninggalkan Naruto, tak mau mendengar lagi omongan Dobenya itu
"Dengar teme aku tak akan menyerah. Akan kubuat kau mau melakukannya!" teriak Naruto sekencang mungkin, sampai terdengar keluar toilet .
"Lakukan kalau kau bisa Do-be," ucap Sasuke terus berjalan dan menampakkan seringai khasnya itu.
\ (O.O)/ \ (O.O)/ \ (O.O)/ \ (O.O)/ \ (O.O)/ \ (O.O)/ \ (O.O)/ \ (O.O)/
Baiklah, Sasuke tahu dan sangat tahu kalau naruto adalah orang yang pantang menyerah. Dia juga tahu rencananya untuk membuat dobenya nempel terus itu sukses besar. Hampir tiap waktu kau bisa melihat Sasuke yang selau dibuntuti oleh Naruto, bahkan ini lebih parah daripada FGnya. Mulai dari berangkat sampai pulang sekolah, Naruto selalu ada disisinya. Bahkan tiap malam pun , Naruto tak pernah absen untuk meneleponnya.
Lalu apa yang membuat Sasuke gerah dengan pemuda berambut pirang itu? Apakah sasuke sudah tidak suka dengan dobenya itu? Bukan...bukan itu. Itu karena tujuan dobenya mendekati sang teme hanya untuk memaksanya mau menuruti ajakan si rambut nanas yang tak jelas itu. Satu minggu Sasuke masih bisa menahannya, tapi diminggu kedua ini, dia hampir meledak dibuatnya, aura-aura gelap udah keluar dari tubuhnya. Tapi itu tak sedikitpun memberikan sebersit kata menyerah pada Naruto. Hampir setiap waktu Naruto selalu mencekoki Sasuke dengan hal-hal kepahlawanan yang Sasuke sendiri tidak menyangka bagaimana Dobenya bisa mempunyai pengetahuan seluas itu. Padahal yang dikatakan si rambut nanas juga belum jelas adanya.
"Kau tahu teme kalau kau...,"
"Hentikan BAKA DOBE!" teriak Sasuke memotong ucapan dobenya, habis sudah kesabarannya sekarang. Sedangkan naruto hanya menatap tak percaya dengan orang yang ada dihadapannya ini. 'Bukannya biasanya teme hanya diam saja mendengar semua ucapanku, kenapa sekarang dia seperti ini,' pikir Naruto
"Dobe apa kau tak berpikir bagaimana jika seandaianya aku menyetujuinya lalu meninggalkan semua yang ada disini. Mungkin saja aku akan pergi bartahun-tahun lamanya atau tak mungkin kembali lagi kesini," jelas Sasuke "Bagaimanapun juga kehidupanku adalah didunia ini, ada hal yang tak bisa kutinggalkan didunia ini dan itu membuatku terikat untuk berada disini,"
Naruto menundukkan wajahnya dalam-dalam. Sasuke hanya membiarkannya saja, mungkin penjelasannya kali ini bisa membuat Naruto menyerah. Tapi melihat Naruto yang terlihat murung disepanjang jalan saat mereka pulang sekolah seperti ini, tidak enak juga
"Kenapa hari ini jalan terlihat sepi banget ya?," ucap Sasuke mengalihkan topik pembicaraan
"Teme...,"
"Hn,"
"kalau seandainya aku diberi kesempatan memiliki kekuatan sepertimu aku akan menyetujuinya," Sasuke menghentikan langkahnya mendengar perkataan itu "Mungkin aku akan kehilangan keluargaku, sahabat-sahabatku, dan juga orang yang paling berarti untukku," Naruto menghela nafasnya sebelum melanjutkan perkataannya dia menegakkan kembali wajahnya dan menghadap Sasuke "Tapi...tapi dengan pengorbanan itu akan banyak orang yang tak harus kehilangan keluarganya, akan banyak orang yang bisa menjaga persahabatan mereka, dan terakhir mereka tak akan kehilangan orang yang berarti bagi mereka," Senyum Naruto kembali tersungging diwajahnya. Sasuke sedikit kaget mendengar perkataan dobenya, dia tak pernah menyangka bahwa dobenya akan memiliki pikiran seperti itu. Pikiran, yang bahkan dirinya sendiri tak pernah memiliknya.
"AWASSSSS!" sebuah teriakan menghentikan kegiatan mereka berdua, ada sesuatu yang tiba-tiba menubruk mereka berdua. Dan suara berikutnya yang terdengar adalah ledakan tembok disamping mereka, karena panah yang melesat kedinding.
"Kalian tak apa-apa?" tanya suara orang yang menabrak mereka
"Tidak," jawab Naruto masih bingung "Untunglah aku belum terlambat, " ucap orang itu lagi. Sementara Sasuke menatap tidak suka dengan si Rambut nanas yang ada dihadapannya.
"Dobe ayo kita pergi dari sini!" ucap Sasuke menarik lengan Naruto " Kau bener-bener merepotkan... Apa kau tak tahu sekarang ini kau dlam bahaya? Kalau kau pergi dariku sama saja kau menyerahkan nyawamu," jelas Shikamaru, matanya masih tetap mengawasi sekitar.
"Aku bisa melindungi diriku sendiri dan Naruto, tanpa bantuanmu, " Shikamaru hanya menatap bosan sang penjaga terpilih didepannya
"Kau sudah tahukan lawan kita bukanlah dari duniamu, mereka tidak bisa dikalahkan hanya dengan tendangan atau pukulan sekelas anak SMA sepertimu," Sasuke hanya mengepalkan erat tangannya "Lalu apa yang harus kulakukan supaya kalian menjauh dariku?"
"Tak ada, lebih baik...," ucap shikamaru terhenti "gili wlahar," ucap Shikamaru cepat dan tiba-tiba tanah yang ada dihadapan mereka bertiga bergetar naik dan membentuk sebuah benteng yang menghalangi beberapa panah yang melesat ke arah mereka.
Shikamaru meletakkan kesepuluh jarinya ketanah, bayangan jari-jarinya terus memanjang, dan beberapa saat kemudian ada 4 orang jatuh dari persembunyian mereka, Shikamaru tersenyum puas karena bisa menemukan persembunyian mereka sekaligus mengunci gerakan mereka. Keempat orang itu kini berdiri dihadapan mereka bertiga, kempat orang bertopeng aneh, yang sekarang tak bisa bergerak karena kunci bayangan dari Shikamaru.
"Hoamm...Tak kusangka, lord kalian hanya mengirimkan orang-orang macam kalian untuk membunuh penjaga terpilih," Cibir Shikamaru sambil menguap "wlahar," ucap Shikamaru lagi menimbulkan tanah disekitar keempat orang itu retak dan mulai menghisap mereka kedalamnya, tapi sebelum tanah itu menghisap mereka sepenuhnya, seseorang dari mereka terlepas dan melemparkan sebuah pisau es ke arah Sasuke, tapi entah kenapa Naruto tahu akan hal itu dan menggunakan tubuhnya sebagai tameng
"jlebb!" pisau itu tertancap tepat dipundak Naruto perlahan pisau itu mencair dan menghilang berganti dengan darah yang mulai merembes dibajunya
"Naruto!" teriak Sasuke saat menyadari yang telah terjadi, dia mendekap tubuh Naruto yang mulai terjatuh kearahnya.
"Hehehe... teme, aku hebat kan bisa melindungi seorang hero," bisiknya di telinga Sasuke sebelum akhirnya dia terkulai lemas dan menutup matanya dipelukan Sasuke
TBC
Penjelasan:
*Batu Pirus : salah satu batu dari Batu Akram, yaitu batu yang dimiliki oleh para penjaga. Batu yang dimiliki penjaga angin disebut batu pirus. Batu akram akan memancarkan sinar jika berada dekat dengan pemiliknya
*memoar amethyst : salah satu batu yang digunakan untuk merekam ingatan orang sesorang lalu ingatan itu bisa diperlihatkan kembali pada orang lain yang ingin melihatnya.
* yang dibold dan digaris bawahi adalah kata-kata jurus, bahasa yang digunakan dan juga istilah-istilah yang digunakan dalam cerita ini 90% adalah dari bahasa Sansekerta, karena saya sekarang sedang tertarik dengan bahasa itu. Jadi maaf kalau terlihat aneh.
Baiklah apakah pembaca masih bingung atau malah semakin bingung dengan penjelasan diatas. Maaf kan saya (_ _), apakah saya juga perlu memberikan arti dari bahasa yang saya gunakan dari sansekerta? Kalau emang perlu mungkin di chap depan bisa saya berikan dalam penjelasan.
Dan akhir kata maaf jika cerita ini terlalu panjang dan membosankan? Menyesalkah membaca? Silakan katakan semua yang pembaca rasakan melalui review ya? Agar author ini bisa belajar. Sekali lagi saya katakan tolong Review.
Dan cerita untuk para penjaga yang lainnya mungkin saja ada di chap depan # dibacok readers
MOHON REVIEW YA! YA! YA! #pake mata puppy eyesnya Naruto...readers : muntah berjamaah
Sepertinya cara manis emang bukan sifat saya jadi POKOKNYA READERS HARUS REVIEW! merintah seenaknya dibuang readers kelaut.~~~~~~
Balasan review yang gak login:
Penumpang gelap : terimakasih sudah mau membaca dan review^^ , bagaimana dengan chap kali ini? Apakah tambah banyak lagi yang perlu diperbaiki? Klo ya tolong sebutkan, karena author bodoh ini nggak nyadar ama kesalahnnya? Hehe #bletakk
Rosanaru : Terimakasih sudah mau membaca dan review^^ dengan sangat menyesal saya bilang Naruto bukanlah seorang penjaga. Maaf ya saya ingin buat Naruto agak (baca:Banyak) mengalami penderitaan haha... #ditusuk ama Rosa. Tapi saya hanya bisa memastikan kalau suatu saat nanti Naruto akan punya peran sendiri disini (?)
Asakura Echo Yume-chan males login : Terimakasih sudah mau membaca dan review^^, tebakannya benar kok Sasuke, Neji, sama Gaara emang penjaganya tapi soal Narutonya hehe... dah tau sendiri kan. Apakah ini sudah termasuk ekspress? Semoga nggak bosen dengan chap ini.
