SAVIOR OF SONG
Naruto - Masashi Kishimoto
Story - Nano & Hiro
Naruto Uzumaki X Hinata Hyuuga
Rate: M
Warning: AU, OOC, Violence, Typo, Crime, Supranatural.
Don't Like Don't Read
..
..
"Baiklah, sampai di sini dulu pelajarannya, jangan lupa besok lusa, tugas sudah harus di kumpulkan."
Menatap keluar jendela, ketika lagi-lagi awan terlihat gelap. 'Hujan lagi?' tanyaku dalam hati dan mulai membereskan beberapa buku dan kembali memasukannya dalam tas. Menghembuskan nafas pelan, setelah itu mengambil sebuah buku saku.
Berdiri dari duduk, dan tak menghiraukan beberapa siswa yang masih berbisik-bisik atau sekedar berkumpul bersama teman-teman mereka, aku lapar, dan aku ingin makan.
"Hinata—"
Aku menoleh ke balakang ketika mendapati seorang pemuda tinggi berlari ke arahku. Dia tersenyum, dan yang ku lakukan hanya diam, sampai dia benar-benar mengatakan, apa tujuan dia memanggilku. Dia tertawa, dan setelah itu mengacak ponyku pelan.
"Mau pulang bareng?"
Tawarnya, dan aku berjalan kembali tanpa mempedulikannya lagi, tapi yang ku tahu, saat diriku melirik dari ekor mata, dia tetap berjalan di belakangku dengan senyuman mengembangnya. Aku tak mempedulikannya, aku tetap berjalan lurus, sekarang bahkan aku tak tau ke mana aku harus pergi.
"Hinata.."
Aku berhenti kembali ketika Kiba memanggilku dan menarik tanganku. Aku hanya menurut saja, karena aku juga tak tau apa yang harus aku lakukan hari ini. Karena hari masih terlihat sore, dan aku masih belum mendapatkan informasi, pria mana lagi yang harus aku lenyapkan.
"Kita duduk di taman dan makan Ice cream, kau mau kan?"
Aku mengangguk, dan aku tersenyum tipis. Kiba Inuzuka, adalah seorang pemuda yang selalu di dekatku, pemuda yang selalu menyapaku, ketika semua siswa di sekolahku, takut dengan mataku.
Mereka bilang mataku seperti monster, tak taukah mereka tentang mataku ini? Akulah satu-satunya gadis yang mempunyai mata ini. Keluarga di bunuh, dan jangan pernah lupakan dengan Kiba yang mengetahui rahasia terbesarku untuk menjadi pembunuh.
Kiba bahkan tak menjauhiku, Kiba selalu mengingatkan aku untuk berhati-hati. Kiba satu-satunya temanku, yang sama sekali tak pernah takut denganku.
"Hinata, kita sudah sampai, kau tunggu di sini ya— aku akan membelikan Ice cream di sebelah."
Kiba berlari dan menitipkan tasnya padaku. Setelah itu aku duduk di sebuah ayunan yang biasa aku naiki bersama Kiba. Menatap langit yang mendung, tapi masih belum ada tanda-tanda jika akan turun hujan.
DEG—
Aku mendelik dan berdiri, ketika mendapati perasaan tak enak. 'Apa ini?' mencari kesekeliling, aku benar-benar merasakan ada yang tak beres, buru-buru mengambil katana dari tempatnya, memejamkan mataku. Merasakan kehadiran seseorang, tapi sedetik kemudian tak ada yang kurasakan lagi, ada seseorang yang benar-benar bisa menyembunyikan keberadaannya dengan baik.
PUK—
Buru-buru membuka mata dan meremas katanaku. Tapi yang ku dapatkan Kiba menatapku dengan pandangan penuh khawatir, dan menepuk pundakku.
"Hi-Hinata— ada apa? Kenapa kau mengambil katanamu?"
Suara Kiba bergetar, memejamkan mataku sejenak dan meletekan katana ku kembali pada tempatnya.
"Tidak ada apa-apa, aku merasa ada seseorang yang mengikuti kita."
Kiba menoleh ke kanan dan ke kiri. Pemuda ini benar-benar membuatku ingin tertawa. Tak taukah dia hanya seorang pemuda biasa yang tak memiliki keahlian khusus apapun. Tapi dia mencoba mencari seseorang yang membuatku mempunyai perasaan tak enak.
"Disini tak ada apa-apa! Apa perlu ku antar pulang?"
Aku menggeleng, dengan kembali duduk pada ayunan. Ice cream yang sangat lembut, rasa vanilla bercampur blue berry, rasa yang ku suka.
"Hinata, apa kau baik-baik saja?"
Menatap Kiba yang terlihat masih khawatir denganku.
"Khawatirkan dirimu saja Kiba, aku tak apa—" Aku beridiri dan mengambil tas dan peti katanaku, waktunya untuk beraksi. "Aku pergi dulu."
Meninggalkan Kiba yang masih termenung, aku bahkan tak tau seperti apa ekspresinya. Dia terlalu ikut mencampuri urusanku, walau aku sudah menganggapnya sebagai teman, tapi dia tentu harus sampai mana mencari informasi tentangku, atau apapun itu.
..
..
SREETTT—
"Oyasuminasai.."
Mengangkat tinggi-tinggi, dan aku mulai memenggal kepalanya, seragam putihku bahkan sudah terkena noda darah. Mungkin sepertinya aku harus mencucinya sendiri, aku benar-benar tak boleh membuat bibi Sakura terlalu lelah.
"He-hei— kau membunuh bos kami?"
Menoleh ke belakang, ketika ada dua pria menodongku dengan sebuah pistol, ya— tentu aku tau mereka berdua memakai baretta, tapi aku tak akan membunuhnya, karena mereka bukan targetku.
DOR—
Satu tembakan mereka arahkan padaku, tapi meleset. Aku tersenyum, dan sekarang tentu aku ada alasan untuk membunuh mereka.
"Nee— paman, mau bermain denganku?"
Mereka berjalan lebih maju dan semakin maju, aku cukup diam di tempatku sampai timing yang ku dapatkan pas.
Mengambil kuda-kuda, dan berlari dengan cepatnya. Aku paling suka jika ada tembok di dekatku. Jadi aku bisa sedikit bermain Acrobat. Meloncat keatas mereka…
SREETT—
"AARRGGGG…"
"Ta-Takaya.."
SREEETT— SRAAATTT
"Jangan pernah mencoba menolong temanmu, jika kau akan bernasib sama sepertinya."
Darah mengucur, tapi kali ini yang kudapatkan langit sedang tak menangis, aku tak bisa membasuh tubuhku yang penuh dengan darah. Mungkin harus memakai mantel, untuk menutupi ini.
'Kiba'
Menoleh kebelakang, aku merasakan Kiba memanggil namaku. Tidak— aku berteriak dalam hati, jika Kiba tak di sini. Bagaimana bisa ada suaranya, aku benar-benar mendengar suaranya pelan. aku masih diam di sini, tapi suara mobil polisi semakin dekat. Aku harus cepat pergi dari sini. Mungkin tadi perasaanku saja, aku meyakini itu.
..
..
Normal Point of View
Kiba berjalan sendiri, hatinya masih kacau ketika Hinata mengacuhkannya lagi dan tak pernah mau lebih dekat denganya, Kiba berhenti dan menatap langit. Bergumam memanggil nama Hinata, ia tentu tau apa yang Hinata lakukan sekarang.
Mengeksekusi seseorang, Kiba tak pernah takut dengan Hinata apapun yang terjadi. Kiba menganggap Hinata adalah sahabatnya, dan keluarganya. Hinata adalah pahlawan baginya, ketika dia sendiri tak mampu membalaskan dendam terhadap kelompok Yakuza yang telah membantai keluarganya.
Hinata-lah yang rela bermandikan darah untuk membalaskan dendamnya. Kiba sungguh menyesal, kenapa dia menjadi pemuda lemah untuk orang yang di cintainya.
Ya— Kiba Inuzuka, sangat mencintai Hinata, hanya gadis itu yang ada di mata dan hatinya. Hinata adalah segalanya untuk Kiba.
"Hei—"
Kiba mendongak dan berhenti, ketika mendapati ada seorang pria tinggi dan bertubuh kekar, pria dengan satu matanya berwarna hitam dengan bola mata merah. Kiba meneguk ludahnya. Bahkan Kiba tak bisa melihat satu lagi warna mata pria itu karena tertutup surai berwarna blonde.
"Si-siapa?"
Kiba tampak gemetar, ketika pria di depannya itu semakin berjalan maju dan menunjukanya dengan Ibu jari. Kiba bahkan mencoba menggerakan kakinya untuk mundur, apa yang sekarang di dapat? Dia bahkan tak mampu melakukan itu.
"Berani-beraninya, kau mendekati dia.."
TUK—
Jari telunjuk pria bersurai blonde itu mendarat dengan apik pada jidat Kiba, membuat Kiba sesaat hilang kendali, Kiba terdiam dengan pandangan kosong.
"Dia sudah menolongmu, apa kau mau memintanya lebih? Dia milikku—" Pria itu menyeringai. "Ternjunlah dari lantai ini."
Kiba bahkan sudah tak sadarkan diri, kakinya berjalan dengan sendirinya dan melompat begitu saja dari lantai tiga apartemennya.
BRUUGGKK—
"KYAAAA—"
Jeritan menggema dari lantai bawah, Kiba terjatuh pada sebuah mobil yang terparkir apik di sana. Darah segar bahkan mengucur dari semua sisi kepala Kiba. Kiba tak sadarkan diri dengan cepatnya. Tapi beberapa menit sebelum kesadarahannya hilang, dia memanggil nama Hinata berkali-kali. Tersenyum kecil, dan setelah itu menutup matanya.
..
..
FLASHBACK
"Hinata, kau mau bermain di rumahku." Hinata menggeleng, pandangannya kosong, tapi Kiba masih tak mempedulikan itu. Kiba tau jika Hinata kesepian karena selalu di tinggal oleh paman dan bibinya.
"Kenapa?" Kiba melirik kota peti segi panjang yang selalu di bawah oleh Hinata. "Kau boleh membawa itu". Hinata mendongak, dan mengangguk. Setelah itu mereka bediri dan berjalan keluar.
"Hinata, jika kau lupa tak membawa kunci rumah, atau bibi Sakura dan paman Sasuke belum pulang, kau bisa kerumahku dulu."
Tawar Kiba dengan tersenyum kepada Hinata, tapi dengan gadis itu, dia lebih senang memandang jalan di depan. Kiba menghembuskan nafasnya, dia bahkan tak tau harus apa lagi sekarang.
Mereka kini sudah kelas 3 SMP, Kiba bahkan selalu mengikuti Hinata pergi kemanapun. Kiba adalah teman Hinata sejak kecil, tentu Kiba tau tentang insiden dimana semua keluarga Hinata di bantai habis-habisan. Tapi masih tak ada yang tau, bagaimana gadis ini bisa lolos dan hidup.
"Aku pulang— Ibu, aku bersama Hinata."
Mereka berdua masuk ke dalam rumah, Hinata terdiam, hidunya yang terlalu peka, mendapati sebuah bau anyir yang lebih tepatnya darah.
"Hi-Hinata, ada apa? Kenapa kau diam saja." Tanya Kiba yang menepuk pundak Hinata.
"Bau darah!" Jelas Hinata, yang langsung melempar kotak katananya, dan mengambilnya.
Membuka mantelnya dan melepas sepatunya, belari masuk kedalam dengan di ikuti Kiba di belakangnya.
Sekarang mereka bisa melihat semua keluarga Inuzuka di bantai habis, bahkan anjing kesayangan Kiba pun sudah tak bernyawa, ruangan ini penuh dengan darah dan bau anyir.
Hinata memandang seorang pria dan wanita di depannya, memakai sebuah jubah bewarna hitam.
"Khe— apa lagi ini? Ada gadis kecil yang menjadi pahlawan?"
Kiba terduduk dan menangis, dia bahkan shock habis-habisan ketika mendapati Keluarganya sudah tak bernyawa, darah di ruangan ini sebagai saksinya. "Ibu— Ayah.." Kiba bergumam dengan memanggil-manggil kedua orang tuanya.
"Tenanglah Kiba.."
Kiba mendongak ketika mendapati Hinata dengan pandangan lebih dingin dari biasanya, Hinata terkekeh, ketika dua orang di depan mereka mengambil sebuah pistol dan mengarahkannya pada Hinata.
"Kau pikir dengan menggunakan senjata itu kau bisa membunuhku?"
Ucap Hinata dengan pandangan meremeh. Kiba hanya bisa terdiam, ketika Hinata mengeluarkan suara lebih banyak dari pada biasanya.
"Kau hanya seorang gadis SMP, jangan bermain-main dengan sebuah katana dik.. Itu bisa melukaimu."
"Urus saja dirimu sendiri."
SREEETTT— ZEETTTT—
Hinata dengan cepatnya sudah berlari di dekat dua orang di depannya, dengan tersenyum dan menancapkan ujung katana pada perut.
"AARRGGG—"
Berteriak dengan kencang, saat Hinata mencabut katana itu dengan kasarnya, setelah itu memenggal seorang wanita di sebelah pria yang sudah Hinata tusuk satu kali. Tapi tentu pria itu masih sadar, walau darah sudah mengalir deras dari perutnya.
SREEETTT—
"Mi-Minami.."
Panggil pria itu bergetar, ketika wanita di sampingnya sudah limbung dengan kepala sudah tak pada tempatnya. Hinata menoleh kesamping dengan memutarkan padannya dan menebas sekali lagi tubuh pria itu.
Tak ada yang bisa membalas gerakan cepat Hinata yang bagai kesetanan. Mereka cukup diam dan menikmati semua yang Hinata lakukan.
Tidak sampai di sini pembatainya, masih berlanjut ketika kawanan anak buah datang dan langsung mengepung Hinata. Entah dari mana Hinata bisa lulus dari kepungan dan malah menghakimi mereka satu persatu dengan katana tercinta.
Kiba yang melihat itu hanya membuka mulutnya tak percaya, Hinata yang selalu pendiam dan tampak datar, bisa melakukan ini? Kiba cukup terkejut dan tak percaya, tapi di dalam hatinya yang lain, entah kenapa dia cukup senang apa yang di lakukan oleh Hinata saat ini. mengeksekusi orang-orang yang telah merenggut keluarganya.
Kiba menangis dan memeluk lututnya tak berdaya.
"Oyasuminasa.."
Mendongak kembali ketika mendapati Hinata membungkuk dan mengucapkan selamat tidur pada beberapa orang di depan gadis itu yang sudah tak bernyawa. Bahkan seragam Hinata saja sudah berwarna merah.
Kiba menangis, dan setelah itu tersenyum, berdiri dan berjalan memeluk Hinata dari belakang, mengucapkan kata terima kasih. Terima kasih karena Kiba tak salah memilih teman dan Hinata mau bersusah payah menghabisi semua orang yang telah membunuh keluarganya.
FLASHBACK END
..
..
"Hinata.."
Sakura berlari ketika mendapati Hinata sudah masuk ke rumah dengan memakai sebuah mantel, gadis itu melihat wajah Sakura tampak resah dan ketakutan. Hinata tetap diam, tapi Sakura hanya bisa menatap Hinata yang begitu terlalu pendiam dan berwajah datar.
"Kiba masuk rumah sakit."
Hinata membelalakan matanya, badanya terasa kaku dan sekarang membatu. Mengulang-ngulang kata-kata Sakura dengan baik. Setelah itu pandangannya kembali datar, dan mengambil kotak katananya yang sempat terjatuh, tanpa berpikir panjang, yang sekarang gadis itu lakukan adalah, berlari keluar rumah.
"Hinata, berhenti— tunggu Hinata."
Hinata berlari sekuat tenaga tanpa mempedulikan Sakura yang juga berlari mengejarnya. Tanpa Hinata sadari, salah satu matanya mengeluarkan sebuah air mata, mentes dengan pelan. Bahkan Hinata bergumam memanggil nama Kiba.
"Tunggu Hinata."
Sakura meraih pergelangan tangan Hinata, menarik Hinata untuk diam sejenak, dan memaksa Hinata untuk mendengar apa yang sebanarnya terjadi. Hinata, mengusap matanya yang tak henti-hentinya mengeluarkan air mata.
"Ini ada kaitannya dengan Naruto Uzumaki, jangan temui Kiba dulu."
Gadis itu pun membelalakan matanya tak percaya dengan apa yang ia dengar. 'Naruto Uzumaki?' Hinata menunduk langsung mengkibaskan tangan Sakura. Mengambil katananya, dan membuang kotak peti katana begitu saja, bahkan kekuatan lari Hinata semakin meningkat di kala emosinya meluap-luap, sebelumnya ia ingin mengunjungi Kiba, sekarang ia berganti arah—
Ya— sekarang yang perlu di lakukannya adalah, menghampiri seorang pria yang dengan berani dan lancang melukai sahabatnya. Dia bahkan tak mempedulikan lagi, jika kastil yang berada di tengah kota Tokyo itu di penuhi dengan orang-orang yang mengincar nyawanya.
Yang Hinata butuhkan adalah, memberikan sedikit pelajaran pada sang Raja, agar tak menyentuh orang yang sudah ia anggap sebagai keluarga.
..
..
"Yang mulia—"
Kakashi Hateke yang sendari tadi berada di belakang Naruto Uzumaki, sang Raja di era modern. Mulai mengeluarkan suara, ketika salah satu Earphone yang menancap pada telinganya memberikan sebuah informasi mengejutkan.
"Hinata Hyuuga sudah berada di depan gerbang."
Pria di depannya itu hanya terdiam menatap keluar jendela, yang menampakan seorang wanita yang memandang dari arah jendelanya. 'Instingnya benar-benar tak buruk.' Menyeringai ketika Hinata menatap ke arah jendelanya dengan pandangan datar dan dingin.
Tentu bukan Hinata tau jika pria blonde itu ada di sana dan sedang menatapnya, tapi Insting Hinata mengatakan jika ada seorang yang sedang memandangnya dari balik kaca buram itu.
"Tuan Naruto.."
Kakashi sedikit meninggingikan suaranya ketika Naruto benar-benar tak mendengarkan panggilannya. Naruto menoleh dengan kedua matanya yang sudah berganti dengan merah.
"Aku yang akan menemuinya sendiri, matikan aliran listrik dari pagar itu, agar dia bisa memanjatnya."
Pergi meninggalkan Kakashi yang masih terdiam dengan keringat dingin.
"Baik!"
..
..
KRIEEETT—
Pagar tinggi yang ada di depan Hinata pun akhirnya terbuka, membuat Hinata menyipitkan matanya sejenak dan menatap ke kanan ke kiri dengan ekor matanya. Setelah tak ada yang perlu di khawatirkan lagi, akhirnya Hinata memberanikan diri untuk melangkahkan kakinya masuk lebih dalam.
Mula-mulanya ia berjalan pelan, langkahnya bertambah cepat, dan sekarang berlari dengan matanya yang sudah menguar napsu membunuhnya.
TAB
TAB
TAB
Langkahnya berhenti, ketika mendapati seolah pria tinggi berjalan menghampirinya, pria tinggi dengan sebuah tudung jaket yang hampir menutupi wajahnya. Lalu, kemudian pria itu berhenti ketika mendapati Hinata juga berhenti.
Membuka tudungnya, dan mendongakkan wajahnya ke hadapan Hinata.
"Selamat datang, Ratu ku—"
"Menma.."
Gumam Hinata yang sedikit melongo karena begitu terkejutnya, siapa orang yang berada di depannya sekarang. Seorang pria dengan surai pirang jabrik acak-acakan, dengan kedua mata biru yang jelas-jelas Hinata kenal. Tidak— ini bukan menma, pikir Hinata.
Surai Menma berwarna hitam pekat, jelas ini bukan Menma. Tapi Hinata meyakini semuanya, Hinata tampak dilema, Hinata jelas tau Menma mengorbankan dirinya masuk keluapan api dan tak pernah keluar lagi.
Bahkan Menma memberikan sebuah pedang pada Hinata, pedang itu tentu yang ada di genggamannya.
Jadi, siapa dia?
"Naruto Uzumaki— jangan pernah memanggil ku dengan nama samaranku lagi, Ratu.."
..
..
TO BE CONTINUED
Halloo— salam kenal, namaku Nano, tentu itu nama samaran..
Sedikit cerita tentang kami berdua.. kami pecinta Naruto Hinata Lovers, dan kami juga pecinta Nano dan My First Story (salah satu band jepang) .. Jadi kami memakai nama Nano and Hiro bisa di artikan juga Naru Hina.
Nano: Naruto
Hiro: Hinata
Kali ini yang memberi A/N, Nano, karena Hiro lagi kesal dengan pekerjaan rumah, dan yang saya lakuin dari pagi ketemu malam hanya tidur, "Gomenasai Hiro,membuatmu repot"
Maaf, saya egga terlalu suka berbasa-basi, jadi saya bakal menjawab pertanyaan yang ada di kotak Review, dan cerita ini terinspirasi dari lagu Savior of Song.
Ahra: Terima kasih, nanti pasti lanjut kilat, ketika egga ada tugas kampus dan lain sebagainya.
Clara: Translate jidatmu.
Ikha Hime: Coba di google translate. Perbedaan umur mereka 10 tahun.
Jika Alurnya cepat dan apapun itu, ini memang di sengaja, karena chapternya egga sampek 10. Ini cuma iseng-iseng ketika kami para Fudanshi ingin bikin setidaknya cerita normal dan bukan Yaoi.
Sampai jumpa..
Salam, Nano
