Let's Talk
Setelah dua tahun berpisah, tidak ada salahnya berbincang-bincang. Sebab, mungkin ada hal menarik yang ingin kau ketahui.
Disclaimer: bukan milik saya
Rating: T/15+
Pairing: NamiLuffy
Genre: Romance, Hurt/Comfort
3D2Y
Fic ini aku persembahkan untuk:
edogawa Luffy, Sheryl Cerbreaune, PortgasTsuchiya D. Michi, KoroCorona, licob green, bebobobo, roronoalolu youichi, via sasunaru, Marigold Eye's, Andara, Mugiwara 'Yukii' UzumakiSakura, Kuchiki Rukia-taichou, GennyClos-chan, Ochibi, airi-zela, Cerullean Reed, Merai Alixya Kudo
Makasih buat dukungannya, baik itu dengan review, fave maupun alertnya. Chapter ini aku persembahkan khusus untuk kalian...X)
Enjoy...
Setelah dua tahun berpisah dari krunya, Nami langsung menghadapi masalah rumit dalam hidupnya. Masalah ini sangat berbeda dengan masalah yang ia hadapi sebelumnya. Ia sedang tidak menghadapi musuh baru, menghindari serbuan marine, kesulitan mengatur keuangan di kapal ataupun kesulitan dalam mencuri barang-barang berharga. Permasalahan yang muncul kali ini jauh lebih besar dari semua itu sebab permasalahan yang ia hadapi kali ini adalah kaptennya sendiri, Monkey D. Luffy.
Perbincangannya dengan sang kapten beberapa hari yang lalu telah membuat kepalanya pusing. Nami ingin menyingkirkan kalimat terakhirnya dengan Luffy jauh-jauh dari otaknya. Tapi semakin ia berusaha menyingkirkannya, semakin jelaslah ia mengingat setiap kata yang Luffy ucapkan.
Nami berusaha mengalihkan perhatian dengan membuat dirinya sibuk seperti membuat peta. Tapi malangnya Nami baru menyadari bahwa ia telah terjebak di Watheria selama dua tahun sehingga ia tidak pernah menjejakkannya kakinya di tanah baru seperti biasanya. Nami juga telah menyelesaikan seluruh peta Watheria, sehingga tidak ada yang bisa ia lakukan untuk membuat peta. Nami hanya ingin menyibukkan pikirannya dan menggoreskan sesuatu di atas kertas, tapi ia tidak memiliki memori baru untuk menambah koleksi petanya. Pada akhirnya tanpa ia sadari ia menulis nama Luffy di atas kertas, bahkan ia membuat sketsa wajah Luffy. Nami langsung melompat dari kursinya dan menatap hasil kerjanya.
"Oh, kacau. Aku harus menyibukkan diriku agar otakku tetap waras!"
Nami kemudian meninggalkan ruang 'kerjanya' dengan perasaan gusar. Ia memutuskan akan membaca buku di perpustakaan saja. Nami kemudian memilih buku yang paling tebal di antara rak-rak buku di hadapannya: Sejarah Navigasi Grand Line. Nami mengambil buku dengan tebal hampir seribu halaman tersebut, menaruhnya di atas meja baca dan mulai membaca buku itu halaman demi halaman. Baru setengah halaman pertama Nami membaca bukunya, pikirannya langsung melayang ke awang-awang. Yang ada di pikiran Nami saat ini adalah sosok laki-laki berambut hitam yang selalu memakai topi jerami di atasnya, memiliki bekas luka di bawah matakirinya, selalu tersenyum dengan senyum khasnya dan baru-baru ini ia memiliki bekas luka menyilang yang memenuhi hampir seluruh perut sispaxnya.
"Sialan kau Luffy!" umpat Nami sambil menutup bukunya dengan keras. Nami menghela napas, menutup kedua matanya dan meletakkan kedua tangannya untuk menutupi wajahnya yang kalut. Ia benar-benar kelimpungan dengan perkataan Luffy kemarin. Nami ingin marah dan menumpahkan kekesalannya, sehingga seharian ini ia tidak henti-hentinya memukul hampir seluruh anggota kru, khususnya Luffy. Tapi semakin ia memukul Luffy, semakin ia merasa frustasi. Nami tidak merasa lebih baik sedikitpun. Merasa semakin sesak di dalam perpustakaan dengan pikirinnya yang semakin kusut, Nami memutuskan untuk menghirup udara segar.
"Mungkin itu bisa menjernihkan pikiranku."
Baru saja ia menutup pintu perpustakaan, ia langsung menemui sumber permasalahannya.
"Nami!"
Seorang laki-laki berambut menyapanya dengan senyum lebar di wajahnya. Senyum khas Luffy yang dua tahun belakangan ini ia rindukan dan entah mengapa seringkali muncul di mimpi-mimpinya. Sekarang setelah ia benar-benar bisa melihat senyuman Luffy secara nyata, Nami malah merasa ketakutan. Ia takut, sebab setiap kali Luffy tersenyum kepadanya, seluruh tubuhnya terasa bergetar mulai dari ujung kepala sampai ujung kakinya. Tapi secara bersamaan, Nami merasa ada kehangatan dalam tubuhnya dan sesuatu telah mengisi hatinya yang kosong belakangan ini. Hanya dengan melihat senyuman Luffy, ia merasa seluruh tubuhnya bekerja tidak normal namun ia juga merasa bahagia. Bagaimana mungkin ia tidak takut dengan perasaannya ini?
"Ah...Luffy. A-Apa yang k-kau lakukan di sini?" tanya Nami dengan terbata-bata.
"Aku ingin menemuimu. Shishishi..." Luffy menyilangkan kedua lengannya dan menyandarkannya di belakang kepalanya.
"Menemuiku?" jari telunjuk Nami mengarah kepada dirinya sendiri. Luffy mengangguk sambil tetap tersenyum riang. Entah mengapa Nami merasa cuaca sore ini terasa panas padahal matahari mulai tenggelam. Dadanya terasa sesak dan napasnya mulai memburu.
"Untuk apa?" lanjut Nami berusaha bersikap sewajarnya, walaupun dia sekarang dalam posisi 'waspada'.
"Aku tidak tahu. Aku hanya ingin menemuimu", jawab Luffy tanpa menjelaskan apapun lebih lanjut.
"Kau datang ingin menemuiku karena hanya ingin menemuiku?" Nami merasa bingung sendiri dengan apa yang baru ia simpulkan. Luffy mengangguk lagi.
"Kau ingin membicarakan sesuatu denganku, Luffy?"
"Hmmm...Tidak."
"Lalu kenapa kau mau menemuiku?"
"Kenapa kau bertanya lagi Nami. Aku bilang aku ingin menemuimu karena aku memang ingin menemuimu."
Nami hanya mendesah pelan. Ia merasa sedang dipermainkan.
"Baiklah kalau tidak ada hal yang ingin kau bicarakan", Nami langsung melangkahkan kakinya, pergi meninggalkan Luffy.
'Sial. Aku kira ia ingin bilang apa', batin Nami dengan kecewa. Sebelum Nami melangkahkan kakinya lebih jauh, Luffy meraih tangan Nami dan membuat perempuan berambut orange itu tersentak.
"Tunggu dulu Nami!" teriak Luffy dengan nada panik.
Nami menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Luffy, "Apa lagi Luffy?"
Nami menunggu Luffy untuk angkat bicara, namun semakin ia menunggu semakin ia tidak tahan dengan kesunyian di antara mereka berdua. Nami semakin tidak tahan dengan situasi kikuk ini dan memasang tampang kesal. Luffy yang sudah tahu bahasa tubuh Nami yang satu ini, langsung menggigit bibir bawahnya dan menunjukkan wajah ketakutan sebagai balasan.
"Kalau kau tidak mau bicara, biar aku saja yang bicara!" ancam Nami. Luffy menelan ludahnya sambil menatap Navigatornya dengan tatapan horor. Ia masih tidak menyadari kalau ia masih memegang erat lengan Nami. Nami mengambil napasnya dalam-dalam, memberikan tatapan tajam kepada Luffy dan berusaha untuk mengintimidasinya.
"Kapten. Kau membuatku frustasi!" Nami menyentakkan lengannya dan membuat Luffy melepaskan genggamannya secara spontan. Luffy langsung melindungi kepalanya dengan kedua tangannya, berusaha membuat tameng pelindung atas apa yang akan terjadi di detik selanjutnya. Luffy memejamkan matanya dan bersiap menerima pukulan khas Navigatornya yang kerap kali 'mampir' di atas kepalanya. Sesaat Luffy mengira ia akan mendarat di atas lantai kapal dengan luka yang tidak ingin ia bayangkan selama dua tahun ini, namun ia menyadari bahwa tidak ada satupun kepalan tangan yang mendarat di bagian tubuhnya. Luffy membuka matanya pelan-pelan sebab ia masih bisa mendeteksi bahaya di hadapannya. Dan benar saja, Nami masih berdiri di hadapannya. Nami tidak mengepalkan tangannya atau memasang kuda-kuda untuk 'menyerangnya,' justru Nami sekarang tengah melipat kedua tangannya. Nami masih menatapnya dengan tatapan kesal, namun ada raut sedih dan kecewa yang tersirat di wajahnya. Luffy bisa menangkap emosi yang diberikan Nami kepadanya dan hal itu membuatnyanya merasa tidak nyaman.
"Kau marah Nami?" tanya Luffy berusaha menyimpulkan sesuatu.
"Tidak", jawab Nami dengan ketus.
"Tapi kelihatannya kau marah."
Nami memejamkan matanya.
'Aku marah pada diriku sendiri', batin Nami kesal. Ia kesal karena ucapan Luffy beberapa hari yang lalu. Ia terkejut. Bukan! Lebih tepatnya ia schok. Bagaimana mungkin laki-laki seperti Luffy bisa mengatakan hal seperti itu. Ia sempat meragukan ucapan Luffy, namun jelas ia bisa mengingat semua perkataan Luffy, setiap kata yang ia ucapkan! Entah hal baru apa yang ia pelajari selama dua tahun belakangan ini. Nami tahu Luffy adalah tipe orang yang akan mengatakan hal apapun yang ada di pikirannya saat itu juga. Nami juga tahu Luffy bukanlah orang bodoh. Ia sangat tahu bahwa sebenarnya Luffy memiliki kecerdasaannya sendiri dalam memandang kehidupan dan orang-orang di sekitarnya. Nami tidak pernah membayangkan kalau Luffy mengetahui konsep mengenai pernikahan. Benar-benar sangat jauh dari bayangannya mengenai Luffy. Mungkin saja Luffy mengetahui banyak hal tapi Luffy tidak ingin terlalu memusingkannya. Ah, mungkin saja!
Nami mulai meragukan dirinya sendiri dan menyadari bahwa ia tidak terlalu mengenal kaptennya sendiri secara lebih personal. Sejak Luffy mengatakan kalimat itu, Nami mulai merasakan sesuatu yang aneh dan hal ini membuatnya merasa tidak nyaman. Ia merasa kesal setiap kali melihat wajah Luffy sebab ia 'harus' melihat wajah Luffy sepanjang hari, bahkan di dalam mimpinya sendiri. Selama dua tahun belakangan ini ia memang sering memimpikan para krunya dan anehnya Luffy adalah orang yang paling sering muncul di setiap mimpinya. Tapi semenjak mereka bertemu kembali, terlebih lagi sejak Luffy mengatakan kalimat itu, Luffy semakin sering hadir di dalam mimpinya. Ia tidak bisa tidur dengan nyenyak sebab seringkali ia terbangun di tengah malam dan pada akhirnya mau tidak mau ia memikirkan Luffy. Selera makannya semakin menurun karena tanpa ia sadari ia memikirkan Luffy saat ia memegang sendok dan menatap makanan di hadapannya. Kenyataan ini membuatnya semakin gila sebab seringkali ia memikirkan Luffy pada saat Luffy sedang duduk di hadapannya. Cukup sudah Luffy membuat kekacauan dengan segala tingkahnya karena seringkali ia harus mengatur Luffy agar ia tidak memancing musuh baru. Sekarang ditambah lagi dengan Luffy yang terus berputar-putar di kepalanya.
"Nami. Kau bilang aku membuatmu frustasi. Memang apa yang kulakukan?"
Nami masih memejamkan matanya dan berusaha menenangkan pikirannya yang semakin menggila. Ia mengehela napas lagi dan membuka matanya, berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk menatap kedua mata kaptennya sendiri.
"Lupakan saja Luffy. Aku sedang lelah."
"Hmmm...Tapi kau kelihatan sedang sedih."
Nami cukup terkejut mendengar ucapan Luffy. Seringkali Luffy tahu suasana hatinya di saat orang lain tidak menyadarinya. Seperti saat di Water 7. Saat itu para kru tengah bersemangat membicarakan mengenai Fishman Island dan hanya ia yang tidak terlalu berminat denga semua itu. Ia masih memiliki trauma dengan manusia ikan karena masa lalunya yang menyakitkan. Luffy adalah satu-satunya orang yang mendekatinya dan mengerti apa yang sedang ia pikirkan.
"Aku ingin menemuimu sebab aku ingin melihatmu Nami. Apa kau marah kalau aku ingin menemuimu tanpa alasan?"
"Ha?" Nami mulai mencerna kata-kata Luffy.
"Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa aku harus menemuimu saat ini juga."
"Baiklah. Kau sudah menemuiku kan?"
"Mmm...tapi setelah menemuimu, aku merasa aku harus..."
"Apa?"
Tiba-tiba saja Luffy menarik Nami dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Nami. Nami memekik pelan dan dalam sekian detik ia menyadari wajahnya bersandar di bahu Luffy. Luffy baru saja memeluknya!
"Aku merasa aku harus memelukmu. Shishishi..."
Tubuh Nami tenggelam di atas dada Luffy. Ia cukup terkejut dan baru menyadari bahwa dada Luffy semakin bidang dan pundaknya lebih lebar. Tubuh Luffy terasa hangat dan Nami bisa merasakan rasa nyaman saat kedua lengan Luffy melingkar di pinggangnya yang ramping. Ada perasaan protektif saat Luffy mempererat pelukannya dan meletakkan dagunya di atas kepala Nami. Namun entah mengapa Nami merasa aman saat itu, seakan-akan jika ada bahaya yang datang, ia tahu siapa orang yang paling ia andalkan.
"Luffy..."
"Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa aku ingin memelukmu. Apa kau marah Nami?"
Nami tidak menjawab, ia hanya meletakkan dagunya di atas bahu Luffy dan melingkarkan tangannya di leher Luffy.
"Apa ada alasan lain kenapa kau memelukku, Luffy?" tanya Nami yang sebenarnya juga tengah memeluk Luffy dengan erat.
"Mungkin karena aku merindukanmu. Tapi aku tidak yakin. Mungkin aku ingin memelukmu karena aku memang ingin melakukannya", jawab Luffy dengan nada santai.
Nami mendesah lagi. Lagi-lagi jawaban sama yang diberikan Luffy. Luffy melakukan hal yang ia inginkan saat itu juga dan tidak ada yang bisa menghalanginya. Tapi dalam situasi seperti ini, Nami sungguh ingin tahu motiv apa yang membuat Luffy bersikap lain kepadanya. Ia tidak ingin salah menyimpulkan situasi ini dan berharap kaptennya memiliki pemikiran dan perasaan yang sama dengan dirinya. Tapi mungkin saja membicarakan masalah ini dengan Luffy hanya akan berakhir dengan rasa frustasi di kepalanya karena Luffy tidak akan pernah mengatakan hal-hal yang ingin di dengarnya.
Nami kini tengah memeluk kaptennya dengan perasaan yang bercampur aduk. Ia menumpahkan segala rasa rindunya selama dua tahun terakhir ini dan kini ia juga tengah bermain-main dengan perasaannya sendiri. Siapa yang ia bodohi sekarang ini? Semakin lama ia memeluk Luffy, semakin kuat perasaannya terhadap kaptennya, semakin merasa frustasilah dia. Nami melepaskan pelukannya, menaruh kedua telapak tangannya di atas pipi Luffy dan menatap wajahnya kaptennya dalam-dalam. Ia ingin menyelami kedua mata Luffy, berusaha menemukan jawaban yang ia cari. Luffy agak terkejut dengan tindakan Nami, tapi ia tidak memprotesnya. Ia membiarkan Nami melakukan apa yang ingin ia lakukan.
Semakin lama Nami menatap kedua bola mata Luffy, semakin ia tenggelam ke dalamnya. Sesaat ia menyadari bahwa ia bisa melihat kedua bola mata Luffy dengan sangat jelas dan hidung mereka bersentuhan. Entah darimana, Nami merasakan ia tengah menyentuh sesuatu yang lembut dengan bibirnya dan Nami bisa melihat Luffy perlahan-lahan menutup kedua matanya. Ia tengah mencium kaptennya sendiri! Otaknya meyuruh Nami untuk menghentikan semua ini namun tubuhnya berkata lain. Tanpa ia sadari, ia semakin memperdalam ciumannya dan menumpahkan semua rasa rindunya serta perasaan gundahnya. Secara mengejutkan, Luffy merapatkan pelukannya dan membalas ciuman Nami dengan pelan, lembut dan ada kesan bahwa ia tidak ingin menyakiti Nami. Nami tentu saja terkejut, jantungnya berdebar kencang, seluruh tubuhnya bergetar namun di sisi lain ia merasa lega. Nami mempererat pelukannya dan salah satu tangannya membelai lembut rambut hitam Luffy.
Lagi-lagi Nami merasa takut. Ia merasa takut dengan perasaannya dan ia juga merasa takut dengan dunia baru yang baru saja ia buka. Nami merasa semua ini tidak nyata namun ia tidak ingin semua ini berakhir begitu saja karena ia merasa bahagia. Perasaannya meluap begitu saja dan entah apakah ia bisa mengendalikannya atau tidak. Ia tidak ingin melukai perasaan Luffy atau perasaannya sendiri. Nami menarik wajah Luffy dan melihat kedua matanya lagi.
"Luffy..."
"Nami...A-Aku minta maaf..."
"Untuk apa?"
"Apa aku menyakitimu?"
Nami menggeleng.
"Seharusnya aku yang minta maaf Luffy", Nami mengelus wajah Luffy dengan ibu jarinya dan menatap Luffy dengan perasaan bersalah.
"Kenapa kau yang minta maaf Nami?"
"Karena...Karena aku baru saja menciummu?"
"Menciumku? Oh, tadi itu ciuman?"
Nami hanya tersenyum getir.
"Tapi kenapa kau harus minta maaf. Tadi cukup menyenangkan."
"Ha? Apa?" teriak Nami dengan mata terbelalak. Apa yang baru ia dengar? Nami mulai meragukan indera pendengarannya sendiri. Belum sempat ia mencerna kalimat Luffy, Luffy malah mengajukan pertanyaan baru.
"Nami, kenapa kau menciumku?" tanya Luffy penasaran, masih dengan posisinya yang tengah memeluk pinggang Nami.
"Karena aku ingin", jawab Nami berusaha menggoda Luffy. Ia tidak ingin terlihat seperti orang bodoh lagi saat menanggapi pertanyaan Luffy.
"Hanya karena kau ingin?" tanya Luffy dengan alis terangkat.
"Lalu kenapa kau membalas ciumanku?" Nami mencoba lagi menggoda kaptennya yang tengah kebingungan.
"Karena aku ingin", jawab Luffy dengan nada datar. Nami kini tertawa geli. Ia menertawakan situasi ini. Tadi baru saja ia kesal karena Luffy memberikan jawaban yang tidak jelas setiap kali ia bertanya. Namun kali ini ia juga memberikan jawaban yang sama dengan Luffy. Apa bedanya ia dengan Luffy?
"Nami, kenapa kau tertawa?"
Nami berhenti tertawa dan menatap Luffy yang tengah kesal dengan dirinya. Pembalasan itu memang terasa manis, apalagi kalau orang itu tidak menyadarinya.
"Kau ingin melakukan apa yang kau rasakan saat ini juga tanpa tahu apa artinya itu?" selidik Nami. Luffy mengangguk. Nami merapatkan kedua lengannya di leher Luffy dan menatap Luffy dalam-dalam.
"Lalu Kapten, apa yang kau rasakan saat ini dan apa yang akan kau lakukan?"
"Shishishi..."
Luffy menundukkan wajahnya ke arah Nami, mengurangi jarak di antara mereka berdua, memejamkan matanya dan membiarkan instingnya bekerja.
A/N:
*Menatap fic kali ini, mendesah pelan*
'Huh, sepertinya bukan tulisan terbaikku'
OK, di sini aku mau buat pengakuan dosa
Sebenarnya Let's Talk ini adalah one shoot
Waaaa...Gomenasai! XO
Tapi setelah menyelesaikan cerita di chapter pertama, entah kenapa aku pengen ngelanjutin cerita ini. Cuma pengen aja...XP
Dan yang minta fic ini dilanjutin ternyata banyak banget
Baik itu yang review, nge fave sampai ngasih alert. Ah, aku jadi ga enak
Jadi sebagai permintaan maaf, aku bikin chapter terakhir ini
Gaya bahasanya beda ya? Hehehe...
Maaf ya kalau mengecewakan *nyengir kuda*
Oh, atau kalian pengen fic ini dilanjutin lagi (hah, cari penyakit lagi XP)
