Author: Cocoa2795.
Ranting: T.
Genre: Romance, Humor.
Disclaimer: Naruto milik Om Masashi Kishimoto.
Warning: Typo, OOC, BL.
.
.
.
Hembusan angin pagi terasa sejuk menerpa wajah seorang remaja laki-laki. Rambut kuning yang berantakan itu dibelai angin pelan. Helaian kelopak bunga sakura masih berjatuhan dan terbawa belaian angin. Seulas senyuma lebar telah terukir di wajah Naruto. Remaja laki-laki itu mengayunkan langkahnya menusuri koridor sekolah. Akhirnya tiba juga hari ini, Hari pertama Naruto sebagai murid sekolah menengah atas Konoha. Seragam gakura telah ia lepaskan, dan kini Naruto sudah mengenakan celana berwarna abu-abu dengan kemeja putih dalam balutan sweater berwarna coklat muda dengan satu garis hitam melingkar di lengan kirinya. Garis hitam yang menandakan bahwa ia adalah murid kelas satu Konoha Gakuen.
Naruto bersenandung pelan sembari melangkah menuju kelas barunya. Pemuda pirang itu menghentikan langkahnya sejenak dan mengambil nafas dalam-dalam sebelum menghembuskannya perlahan. Tangan kanannya terangkat dan terkepal kuat dengan kedua mata yang berbinar.
"Ha~ akhirnya aku bisa bernafas dengan bebas. Aku tidak perlu bertemu dengan senior gila itu lagi." Naruto menatap jendela di sampingnya yang memberikan pemandangan guguran kelopak bunga sakura. Senyum Naruto tak juga luntur, bahkan ia melebarkan sudut bibirnya. "Ayo maju terus Naruto! Mari buat banyak kenangan indah di sekolah ini, punya teman yang banyak serta pacar yang cantik tentunya, muahahaha!" Remaja pirang itu mulai tertawa renyah tanpa mempedulikan tatapan murid-murid yang baru datang.
Saat akan melewati lorong yang menjadi penghubung antar gedung depan dan gedung utama. Naruto mengernyit bingung begitu mendapati kerumunan siswi-siswi. Tidak hanya siswi kelas dua namun beberapa juga terdapat siswi kelas satu. Penasaran dengan keramaian di depannya, Naruto segera berlari untuk melihat.
"Ada apa sih?" gumam Naruto sembari berjinjit dan mendapati sosok laki-laki dengan rambut hitam tengah dikelilingi para gadis. "Ah... ada seseorang di sana. Tu-tunggu... rasanya aku kenal..." manik biru laut itu melebar saat mengenali wajah yang tidak asing baginya itu. "Geh?!"
Naruto mundur beberapa langkah dengan raut pucat, Oi oi... dia itu se-senpai menyebalkan dari anggota osis! Pemuda pirang itu meringis pelan, tidak menyangka akan bertemu dengan ketua menyebalkan itu di hari pertama ia belajar di Konoha Gakuen. Tidak hanya itu saja, Naruto merasa sudut pelipisnya berkedut begitu melihat senyum dan aura bling-bling di sekitar ketua osis itu.
"Apa-apaan dia memasang wajah yang bersinar-sinar seperti itu? padahal waktu itu dia seperti setan gentayangan, kenapa sekarang malah di penuhi dengan gadis-gadis? Oi ini bukan game otomen!" Naruto mendengus pelan, buat apa dia menggerutu seperti ini, toh mau laki-laki itu dikelilingi para gadis atupun bersikap seperti setan gentayangan. Naruto tidak perduli selama ketua menyebalkan itu tidak mendatangi dan mencari gara-gara dengannya seperti yang lalu-lalu.
Iris biru laut itu entah kenapa masih setia menatap Sasuke yang tengah tersenyum dan menanggapi candaan adik kelasnya. Semakin lama sudut perempatan makin banyak di kepala Naruto, remaja laki-laki itu mendengus pelan. Senyum itu... sifat itu... kenapa berbeda sekali ketika denganku? Ketua menyebalkan itu... memang positif memiliki pribadi ganda! Tidak mau peduli lagi, Naruto mulai melangkahkan kakinya menuju kerumunan di depannya.
Pemuda pirang itu terlalu malas jika harus mengambil jalan memutar untuk sampai ke kelasnya. Lebih baik pura-pura tidak lihat dan secepatnya melesat pergi dari sini. Yeah, itu ide bagus dan lebih bagus lagi jika kedua mata mereka tidak sengaja bertemu. Shit! Kenapa disaat seperti ini ketua menyebalkan itu melirik ke arahnya. Naruto menghela nafas pendek, jika sudah seperti ini lebih baik jalan lurus tanpa lihat kanan kiri dan pura-pura tuli saat ketua osis itu memanggilnya.
Sudut pelipis Sasuke berkedut saat Naruto melewatinya dan tidak menyahut ketika ia memanggilnya. Remaja dengan manik hitam kelam itu melangkah untuk menyusul Naruto.
"Oi... oi kau dengar tidak sih? Oi jangan pura-pura tidak dengar dobe!" setelah berhasil menahan lengan Naruto, ketua osis Konoha menghela nafas pendek. "Kenapa kau diam saja ketika aku memanggilmu?"
Masih tidak mendapatkan respon dari Naruto, pemuda dengan rambut hitam itu mengernyit heran. "Kau baik-baik saja? Oi dobe..." ketika Sasuke hendak menyentuh bahu Naruto, pemuda pirang itu sudah lebih dulu berbalik dan menatapnya sengit.
"Urushe na! Pagi-pagi jangan cari masalah ketua! Lagi pula aku punya nama tahu, dari tadi 'oi' 'oi' terus! Dan berhenti memanggilku dobe!" iris biru laut itu menatap nyalang namun Sasuke hanya membalasnya dengan tatapan santai.
"Kenapa kau tiba-tiba marah, Uzumaki Naruto?"
Naruto mengerjapkan matanya, entah mengapa saat laki-laki itu memanggilnya dengan fullname. Jantungnya mendadak bekerja lebih cepat dalam memompa darah. Heck! Yang lebih penting darimana ketua osis ini tahu nama lengkapnya?
"Ja-jangan seenaknya memanggil namaku! Dan kau tahu darimana namaku?"
"Apa kau lupa kalau aku ini ketua osis? Tentu saja aku tahu seluruh nama murid sekolah ini." Sasuke tersenyum tipis, maa aku tahu segalanya tentangmu berkat angket datamu, dobe. Pemuda dengan rambut hitam itu mendengus pelan, sepertinya sifat Sai sudah mulai mempengaruhinya.
"O-oh... la-lagi pula aku marah karena kau memanggilku dengan 'oi' terus tahu!" Setelah mengatakan hal itu, wajah Naruto berubah pucat. Apa yang sudah ia katakan, kalau seperti itu Naruto seakan memberi kesan bahwa ia ingin Sasuke memanggil namanya. Oh tuhan, Naruto ingin mengubur dirinya sekarang juga.
Seringaian tipis kini hadir di wajah Sasuke, "Kalau begitu mungkin akan lebih baik jika mulai sekarang aku memanggilmu 'Naruto-kun' atau 'Uzumaki-san' begitu?"
Na...Naruto-kun? pemuda pirang itu dapat merasakan dadanya berdesir dan wajahnya memanas. U-Uzumaki-san...? apa-apaan dia?! Saat menyadari kalau ia kini menjadi pusat perhatian para siswi yang tadi mengelilingi Sasuke. Naruto segera membalik badannya, " Sudah! Aku malas bertemu dengan siluman bertopeng pagi-pagi, selamat tinggal!"
Baru beberapa langkah Naruto melangkah, perasaannya sudah tak enak saat salah satu siswi memanggil Sasuke. "Ano.. ketua, apa dia itu... yang berdansa dengan ketua?"
"BUKAN! Jangan sembarangan!"
"Iya memang dia." Naruto mendelik sengit ke arah Sasuke dengan wajah yang kembali memerah. Sasuke membalas tatapan pemuda pirang di depannya dengan seringaian tipis. " Dia anak yang aku ajarkan berdansa saat penutupan, bukan begitu Naruto-kun?"
"Na-Naruto-kun?" Pemuda pirang itu tidak menyangka dampak dari Sasuke memanggil namanya begitu besar. Wajahnya sudah memanas dan memerah. Sasuke tertawa kecil dan dalam hati senang karena dapat membuat wajah Naruto merona merah.
"Ja-jangan memanggilku seperti itu! kau membuatku merinding tahu!" Naruto segera berlari meninggalkan Sasuke yang tersenyum kecil menatap sosoknya yang mulai menjauh.
"Sial, sial, sial!" Naruto mengumpat kesal sebelum menyenderkan punggung di dinding. Pemuda pirang itu mencoba mengatur nafasnya dan berharap detak jantungnya mulai stabil. Namun sialnya, dentuman itu kian menggila dan membuat Naruto mencengkram dada kirinya. "Sejak pertama kali bertemu dengannya... sifatnya yang menyebalkan sudah membuatku kesal. Tapi kenapa sekarang, orang menyebalkan itu mulai memenuhi pikiranku?"
Mengapa dia bisa membuatku berdebar-debar? mengapa dia selalu bisa membuatku memerah? Naruto menggelengkan kepalanya, percuma ia memikirkan hal itu. Untuk apa memusingkan perasaan aneh yang ia dapatkan dari ketua osis menyebalkan itu. Lebih baik sekarang ia memikirkan bagaimana caranya mendapatkan teman baru dan mencari pacar cantik untuk membuat masa mudanya lebih menyenangkan. Yosh! Naruto kini pulih dari perasaan aneh yang tidak ia kenali itu.
...
Sudah hampir sebulan lebih Naruto menjadi murid Konoha Gakuen. Pepohonan yang dulu memperlihatkan bunga sakura yang mekar kini mulai menghijau kembali. Suara bel yang menunjukkan istirahat sudah berdentang sejak sepuluh menit yang lalu. Naruto bersama dengan dua temannya yang baru saja dari kantin memutuskan untuk bersantai di dekat lapangan sekolah. Manik biru laut itu tertarik pada kerumunan para murid perempuan yang tengah berseru menyemangati anak laki-laki yang tengah bermain bola.
Naruto meminum susu putihnya sampai tandas sebelum memanggil Kiba yang berdiri di sebelahnya. "Oi Kiba, memang di sekolah ini ada idola? Kenapa banyak gadis-gadis berkumpul di sana?" Pemuda pirang itu mengernyitkan alisnya, rasanya aneh jika banyak murid perempuan berkumpul di lapangan hanya untuk melihat anak laki-laki bermain. Kiba, remaja dengan rambut coklat itu mengikuti arah tatapan Naruto sebelum ikut mengernyit.
"Idola? Setahuku tidak ada, tapi kalau senpai yang populer sih memang ada."
"Oh! Aku pernah mendengarnya, kabarnya senpai itu selain pintar dia juga tampan dan ramah." Chouji, remaja dengan rambut coklat yang sedikit panjang itu ikut menimpali.
Naruto mengangguk beberapa kali, "Hee~ aku baru tahu."
"Tapi, aku kurang suka dengan senpai itu karena dia terlalu menyebarkan pesonanya. Kalau tidak salah namanya itu..." Kiba tampak berpikir sejenak, dia agak lupa dengan nama senpai yang sering ia dengar dari anak-anak perempuan.
Sementara itu Naruto menatap ke arah lapangan, di mana anak laki-laki bermain bola sepak. Salah seorang dari mereka kini tengah menggiring bola sebelum menendangnya, mengoper pada salah satu temannya yang diterima dengan baik. Permainan bola yang semula cukup menarik minat Naruto kini berubah menjadi kejutan bagi pemilik mata biru itu. Bagaimana tidak, penerima operan bola itu ternyata laki-laki yang sudah beberapa kali ia hindari dalam sebulan ini.
"Uchiha Sasuke?!" Naruto menutup mulutnya sendiri begitu sadar kalau ia tengah berteriak. Kiba dan Chouji menatapnya bingung. Sementara itu Sasuke yang mendengar seseorang memanggil namanya melirik sekilas.
Saat manik hitam malam itu mendapati sosok Naruto, Sasuke menyeringai tipis. Kemudian tanpa aba-aba, sebuah bola sepak menghantam wajah Naruto. Kiba dan Chouji terbelalak kaget sementara Sasuke melambaikan tangannya.
"Ups! Maaf kakiku terpeleset."
Kedua bahu Naruto bergetar pelan, tanda bahwa pemuda itu mulai emosi. "Te-teme..." dengan sekuat tenaga Naruto menendang bola sepak yang berada di sampingnya sambil berseru keras. "Pakai matamu, memangnya aku ini gawang?! Dasar ketua idiot!"
.
.
.
"Ma-maafkan saya senpai..."
"Mohon maaf atas kejadian tadi senpai."
Naruto menggigit bibir bawahnya dengan perasaan bersalah bercampur kesal. Sungguh pemuda pirang itu lupa, meki kemampuan olahraganya di atas rata-rata tapi jika menyangkut sepak bola. Kemampuannya begitu payah hingga membuat para dewa tertawa.
"Sudahlah itu tadi tidak sengaja, aku tahu kok." Perkataan dari kakak kelasnya yang memiliki rambut biru muda hampir mendekati putih itu semakin membuat Naruto merasa bersalah. Pemuda pirang itu melirik kepala kiri seniornya yang kini memiliki benjolan merah muda.
Naruto meringis pelan, sungguh ia tidak bermaksud untuk mengenai kepala seniornya ini. Target Naruto itu ketua menyebalkan yang kini berdiri di sampingnya. Namun naas bola yang seharusnya mengenai kepala ketua osis justru meleset dan mengenai senior di depannya ini. Bukan hanya itu saja, Sasuke juga ikut meminta maaf bersamanya membuat Naruto semakin kesal dan gundah.
"Terimakasih untuk pengertiannya Suigetsu-senpai," suara Sasuke yang ramah dan berwibawa itu membuat darah Naruto mengalir turun. Namun dengan tiba-tiba darahnya kembali naik dan dadanya berdesir pelan saat tangan besar Sasuke mengacak-acak pelan rambut pirangnya. "Anak ini tidak memiliki niat buruk, pada dasarnya dia anak yang baik hanya saja sedikit ceroboh."
Harusnya saat ini Naruto memarahi Sasuke karena pemuda itu mengatainya ceroboh. Namun kenyataannya pemuda pirang itu tengah berusaha untuk menenangkan detak jantungnya yang menggila. Bagaimana tidak, jika untuk pertama kalinya ketua osis itu tersenyum lembut ke arahnya.
"Dia akan lebih berhati-hati, benarkan Uzumaki-san?"
"E-eh, I-iya..."
Oh tuhan, Naruto segera berbalik dan menutupi wajahnya yang sudah merah padam. Mu-mustahil ini tidak mungkin... ke-kenapa dia tiba-tiba tersenyum seperti itu?! Batin Naruto berkecamuk. Pemuda pirang itu sibuk berusaha meredakan dentuman di dadanya hingga tidak menyadari kalau senior kelas tiga itu sudah berlalu pergi.
Sasuke mengernyit saat melihat Naruto yang terdiam dan begitu ia teringat dengan apa yang sudah ia lakukan. Ketua osis Konoha segera menghampiri Naruto dan membalikkan badan yang lebih pendek beberapa senti darinya.
"Bagaimana dengan hidungmu? Coba kemari sebentar, biarkan aku memeriksanya." Naruto sedikit tersentak dan ia hanya bisa menurut saat tangan dingin Sasuke menyentuh pipinya. "Jangan bergerak dulu."
A-apa yang terjadi? Ja-jantungku... Debaran serta sentuhan Sasuke membuat Naruto tanpa sadar menahan nafasnya. Sementara itu ibu jari Sasuke mengusap lembut hidung Naruto yang sedikit memerah, well sebenarnya seluruh wajah Naruto sudah memerah akibat sentuhan lembut Sasuke.
"Hn... untung tidak ada luka, hanya sedikit memerah saja."
Ta-tangannya..."Tu... he-hen..." Jantungku rasanya sakit sekali.
"Huh? Ada apa?" sebelah alis Sasuke terangkat saat adik kelasnya terlihat sulit untuk bicara.
Duagh!
"AKU BILANG HENTIKAN, DASAR BODOH! Kau mau membuatku mati berdiri?! Dasar mesum, lagipula ini semua karena ulahmu dasar ketua idiot!" Dalam sekali tarikan nafas Naruto mencerca habis ketua osis Konoha Gakuen, ah dan jangan lupakan pukulan telak yang Sasuke terima di puncak kepalanya.
Naruto segera berlari pergi sambil menggerutu kesal, " Selalu tidak ada hal bagus jika berdekatan denganmu ketua bodoh!"
Sasuke mengusap bagian kepalanya yang terkena jitakan Naruto sementara manik hitamnya setia memandang punggung Naruto yang mulai menjauh. Jujur saja melihat tingkah Naruto dan bagaimana pemuda manis itu memerah membuat Sasuke mengulas senyum geli. Kekehan kecil justru kini sudah meluncur bebas dari bibir tipisnya, Sasuke menutup mulutnya sembari bergumam pelan.
"Gawat, dia menggemaskan sekali."
...
Bel pulang sekolah sudah berdentang sejak lima menit yang lalu. Saat ini para murid yang piket tengah membersihkan kelas mereka masing-masing. Salah satu dari murid yang piket di kelas 1-D adalah Naruto. Pemuda pirang dengan tiga garis halus di kedua pipinya itu tengah menyapu di depan kelasnya. Namun meski kedua tangannya memegang sapu, pikiran serta tatapannya tengah menerawang jauh.
Semenjak kejadian istirahat tadi, bayang-bayang Sasuke yang tersenyum tidak mau hilang dari benaknya. Gemas dengan dirinya sendiri yang terus terbayang akan senyum Sasuke, pemuda pirang itu memukuli keningnya dengan tongkat sapu. Dasar bodoh, kenapa wajah senpai bodoh itu terus saja ada?! Kenapa pula aku berdebar-debar seperti ini? dasar bodoh bodoh bodoh bodoh!
"Ukh... sakit..." Naruto mengusap keningnya yang memerah kemudian menghela nafas pendek. Wajahnya kembali bersemu tiap kali mengingat senyum Sasuke. Sial, aku sama sekali tidak bisa berhenti memikirkannya. Perasaan apa ini sebenarnya?
"Be-berat..."
Naruto menolehkan kepalanya dan mendapati senior yang terkena tendangan bola salah sasarannya. Remaja dengan sweater coklat muda dan memiliki tiga garis hitam melingkar di lengan kirinya itu tengah kesulitan membawa dua buah kardus. Naruto yang memang pada dasarnya anak baik dan suka menolong, segera berlari ke arah seniornya dan membantu membawakan salah satu kardus besar itu.
"Wah wah, aku tertolong, terimakasih sudah mau membantu untuk membawa ini. Siapa sangka ternyata kardus ini cukup berat."
"Iya, tidak masalah. Ini juga sebagai tanda maaf atas kejadian tadi saat istirahat."
Suigetsu tertawa kecil, "Maa sudahlah, lupakan saja."
Pemuda pirang itu tersenyum lebar, untunglah seniornya ini baik dan tidak menyebalkan seperti salah satu senpai yang ia kenal. " Lalu, ini mau dibawa kemana Suigetsu-senpai?"
"Ah, barang-barang ini harus di taruh di gudang."
Naruto mengangguk paham lalu mereka berdua berjalan menuju gudang sekolah yang terletak di pojok bangunan utama. Pemuda pirang itu membuka pintu gudang cukup terkejut melihat barang-barang bekas tertata rapi.
"Cukup di taruh di sini saja senpai?"
"Iya, setelah itu kau bisa pulang Uzumaki-san."
"Ups, kalau begitu saya letakan di sini, senpai." Naruto meletakan dengan hati-hati kardus besar yang sepertinya memiliki barang-barang mudah pecah di dalamnya. "Nah... beres—"
Graak!
Clak!
"Eh?"
Naruto mengerjap beberapa kali dan terkejut melihat pintu gudang tertutup. Segera remaja pirang itu menghampiri pintu dan mencoba membuka pintu. Namun anehnya pintu gudang terkunci, Naruto mulai panik karena jujur saja dia cukup takut dengan gudang.
"Ma-maaf senpai, apa kau di luar? Tolong buka pintunya."
Dari balik pintu gudang, Suigetsu berdiri bersandar dengan senyum lebar dan licik. Pemilik rambut biru muda itu menyeringai senang karena berhasil menjebak adik kelasnya. Oh dia selalu suka mengerjap orang-orang dengan wajah polosnya.
"Hei anak kelas satu, apa kau tahu? kalau di sekolah kita terutama di gudang ini, katanya ada hantu perempuan."
"Eh?!"
"Karena aku ingin membuktikannya, bagaimana kalau kau bermalam di sini?"
"EKH?! SENPAI KAU PASTI BERCANDA!"
Suigetsu terkikik geli begitu adik kelasnya memukuli pintu dan terdengar panik serta ketakutan.
"Tentu saja aku tidak bercanda, karena itu sampai besok Uzumaki-san."
"Senpai! Oi hentikan candaan ini, senpai!" Naruto dapat merasakan darahnya mengalir turun, wajahnya kini pucat pasi. Ya-yang benar saja!
...
"Eh, Naruto tidak ada?"
Sasuke mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang kelas Naruto dan benar saja pemuda pirang itu tidak terlihat di manapun. Ketua osis Konoha menghela nafas pendek, gagal sudah niat ia untuk mengantar pulang adik kelasnya. Padahal dia sudah membuat pancingan dengan menggunakan game milik pemuda pirang itu.
"Iya, sejak piket tadi saya tidak melihatnya." Manik hitamnya kini kembali fokusa pada dua orang adik kelas yang ia tanyai.
Gadis dengan rambut coklat yang ia kuncir ekor kuda itu mengangguk lalu menatap temannya yang memiliki rambut panjang berwarna biru gelap. "Aneh, padahal tadi dia masih ada, tapi entah sejak kapan dia menghilang padahal tasnya masih ada."
Pemilik rambut hitam itu mengernyit dan tatapannya berubah cemas. Tas miliknya masih ada, tapi dia tidak ada? Sebenarnya kau dimana Naruto?
"Ah iya! Aku melihat Uzumaki-san bersama dengan seorang senpai kelas tiga!" seruan dari gadis dengan rambut coklat muda itu menarik perhatian Sasuke.
"Eh, benar juga aku juga melihatnya, mereka terlihat akrab!" timpal si gadis dengan manik serupa bulan.
Entah mengapa pemilik marga Uchiha itu merasakan firasat yang tidak mengenakan. Senpai? Rasanya ada yang tidak beres. Setelah mengucapkan terimakasih kepada dua adik kelasnya, Sasuke segera berlari mencari keberadaan Naruto.
Sementara itu di gudang sekolah.
GUSRAK!
"HEG! MUNCUL! HANTU PEREMPUAN ITU MUNCUL! Siapa saja keluarkan aku dari sini! huwa! dia muncul!"
Naruto memukul dan berusaha membuka pintu coklat tua di depannya. Sungguh dia tidak kuat dengan hal-hal berbau menakutkan seperti hantu serta hal-hal menyeramkan lainnya. "Senpai itu... akan aku bunuh!" Naruto menghela nafas lelah, sudah hampir sejam ia berada di gudang ini dan tidak ada yang kemari. Jika seperti ini terus, bisa-bisa ia akan menginap di gudang angker ini, oh tuhan pemuda pirang itu menggelengkan kepalanya dan wajahnya kembali pucat.
"Sial... senpai itu wajahnya saja yang baik ternyata sifatnya lebih parah dari si ketua osis." Naruto mendengus pelan lalu ia memilih untuk menyandarkan punggung di balik pintu. Sesekali pemuda pirang itu mengacak-acak rambutnya, kesal dan juga malu karena di saat seperti ini, ia justru teringat dengan ketua osis Konoha. "Kenapa aku justru berharap kalau ketua bodoh itu dapat menemukanku di sini?"
Lagi-lagi dentuman lembut itu terasa dari balik dadanya. Naruto menyentuhnya dada kirinya dengan wajah yang sudah memerah. "Mengapa setiap kali mengingat laki-laki bodoh itu, jantungku seperti habis berlari? Apa ini wajar?" pemuda pirang itu kembali mengacak-acak rambutnya, "Jangan bilang kalau aku tertarik padanya, jangan bilang kalau aku ada rasa padanya. Oh ayolah kami ini sesama laki-laki!" Naruto mengerang frustrasi, sungguh ia yakin kalau dia ini normal. Saat sekolah menengah pertama saja dia pernah memiliki kekasih dan kekasihnya itu perempuan. Kenapa sekarang dia malah tertarik dengan laki-laki?
"Ini bukan cinta ini bukan cinta ini bukan cinta!" Puas berteriak Naruto kembali bersandar. "Aku bahkan tidak tahu apa-apa tentangnya, kalau tidak salah nama ketua bodoh itu... Uchiha... Sasuke..."
.
.
.
Ckrek!
Ckrek!
Ckrek!
"Huh?" Naruto mengerjapkan matanya sebelum beranjak duduk. "Sejak kapan aku tertidur?" sambil mengusap sebelah matanya, Naruto yang masih setengah sadar memperhatikan sekitarnya. Melihat ruanga penuh barang bekas dan cahaya yang remang-remang membuat Naruto membulatkan matanya. Dia baru ingat kalau sekarang ia tengah terjebak di dalam gudang dan suara berisik dari pintu membuat Naruto mengalihkan tatapannya.
"Akhirnya ada yang datang!" seru pemuda pirang itu senang.
Setelah suara kunci yang terbuka, pintu coklat itu mulai terbuka lebar dan memperlihatkan sosok yang tidak pernah Naruto kira akan datang. Ah tidak sebenarnya sudut hati kecilnya memang mengharapkan sosok itu datang untuk menemukannya.
"Naruto!"
"Ke-ketua... ke-kenapa bisa—Ufh!
Naruto tidak sempat selesai bertanya begitu dengan tiba-tiba Sasuke menariknya kedalam pelukan hangatnya. Naruto dapat merasakan hawa panas serta peluh yang mengalir di pelipis dan leher Sasuke. Deru nafas yang tidak beraturan juga membuat Naruto menyadari bahwa laki-laki di depannya ini tengah kelelahan.
"Da..."
"Da?"
"DASAR BODOH! Apa yang kau pikirkan sampai terjebak di sini? kau ini benar-benar dobe!"
"Uwaaa! Maaf maaf maaf maaf maafkan aku!"
Naruto bergidik ngeri, ini kali pertama ia melihat ketua osis itu marah besar seperti ini. Siapa yang menyangka bahwa saat marah laki-laki itu begitu menyeramkan. Tapi ada yang lebih aneh, kenapa laki-laki itu marah? yang terjebak di gudang itu dirinya, kenapa malah pria itu memarahinya
"Ke-ketua terimakasih sudah menolongku, ta-tapi kenapa harus marah-marah seperti ini?"
"TENTU SAJA!" Sasuke menahan nafasnya sebelum menghembuskannya perlahan. Melihat wajah naruto yang pucat serta ketakutan seperti itu membuat Sasuke sadar bahwa ia telah menakuti adik kelasnya. Sekali lagi, Sasuke menarik Naruto kedalam pelukannya, kali ini pemuda itu melembutkan suaranya. "Karena aku khawatir padamu, dobe."
"Eh?"
Iris biru laut itu kini bertemu dengan manik hitam milik Sasuke. Tatapan teduh bercampur cemas Sasuke berikan pada pemuda pirang itu. "Kau tidak tahu bagaimana khawatirnya aku, bodoh. Mencari sosokmu di setiap sudut sekolah ini dan tidak menemukanmu. Kau tidak tahu bagaimana takutnya aku jika sampai terjadi sesuatu padamu, dobe."
Sasuke menghela nafas lega sebelum tersenyum lembut, "Syukurlah kau baik-baik saja Naruto."
Naruto menelan ludahnya susah payah, jujur ia tidak menyangka Sasuke akan begitu khawatir padanya. Ini kali pertama Naruto menatap mutiara hitam Sasuke yang memancarkan kecemasan, keteduhan sebelum berubah menjadi kelegaan. Selain itu cara ia bicara, cara ia menyentuhnya serta cara ia menatapnya membuat darah Naruto terasa mendidih dan dadanya berdesir pelan.
"Ke-kenapa ketua begitu mencemaskan aku? Bukankah ketua membenciku?" Naruto mengumpat dalam hati begitu menyadari suaranya bergetar. "Sejak aku masuk kemari, ketua terus saja mengerjaiku. Tapi kenapa sekarang ketua sampai mati-matian mencariku?"
Degh...
Naruto menunduk, manik biru lautnya membulat saat mendapati tangan Sasuke menyentuh tangannya. Tidak hanya itu, perlahan kedua jemari mereka saling terpaut dan menyalurkan kehangatan yang tidak pernah Naruto kira akan terasa begitu nyaman. Sasuke duduk di depan Naruto dan membawa salah satu tangan pemuda pirang itu dan mengecup telapak tangan Naruto.
Manik hitam malam itu menatap teduh iris biru laut di depannya, "Suka." Iris biru laut itu melebar tak percaya dengan apa yang ia dengar. " Sejak pertama kali melihatmu di antara barisan murid baru. Sosokmu tidak bisa aku lupakan, terutama mata biru lautmu." Sasuke menatap lurus mata biru laki-laki di depannya. "Aku mengusilimu dengan maksud agar mata birumu melihatku, aku ingin kau melihat mataku yang memancarkan kasih sayang hanya untukmu, dobe."
Pemuda pirang itu kembali menelan ludahnya, pernyataan ketua osis itu benar-benar membungkamnya. "A-apa kau serius ketua? Ki-kita ini sama-sama laki-laki..."
"Aku tahu, tapi aku tidak bisa memilih pada siapa aku akan jatuh cinta." Pemuda dengan rambut hitam itu mencondongkan badannya membuat pemuda pirang itu sedikit memundurkan badannya. "Aku menyukaimu Naruto."
Harus berapa kali agar laki-laki itu puas membuat wajahnya memerah? Naruto menahan badan Sasuke yang kian mendekat, "A-apa kau serius?"
"Aku serius Naruto," tanpa aba-aba Sasuke mengecup kening Naruto. Wajah pemuda pirang itu kini sudah merah padam. Sasuke tersenyum kecil, "Kau bisa memukulku jika kau tidak mau." Perkataan Sasuke membuat Naruto mengernyit tak mengerti.
Sasuke yang menyadari tatapan tidak mengerti Naruto terkekeh pelan, "Seperti ini maksudku." Iris biru laut itu melebar saat sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Lumatan demi lumatan membuat Naruto tersadar bahwa kini Sasuke tengah menciumnya.
Oh tuhan, apa yang sedang terjadi sebenarnya. Bagaimana mungkin ia membiarkan laki-laki menciumnya? Yang lebih membuatnya tidak mengerti adalah dirinya yang tidak mendorong Sasuke dan menghentikan ciuman pemuda itu.
"Hm..." desahan pelan lolos dari bibir kecil Naruto. Saat menyadari hal itu Naruto segera berpaling dan membekap mulutnya sendiri, wajahnya sudah pucat pasi. SUARA APA ITU TADI?! Naruto histeris dalam benaknya, dia sama sekali tidak menyangka akan mengeluarkan suara aneh seperti itu.
Sasuke yang mendengar desahan lembut Naruto kini sudah tersenyum geli. Pemuda pirang ini memang benar-benar menggemaskan. Sasuke mengusap pipi Naruto dan membuat pemuda pirang itu kembali menatapnya. Tanpa membuang waktu, Sasuke kembali mengecup bibir tipis namun berisi itu dengan pelan. Kecupan demi kecupan yang kini berubah menjadi lumatan serta perang lidah yang saling beradu membuat Naruto merasa pening seketika.
"Haa... haa... Ke-ketua..."
Sasuke bergumam pelan menanggapi adik kelasnya yang terengah-engah selepas ciuman yang ia berikan. Tanpa mempedulikan Naruto yang masih mengambil nafas, Sasuke mengecup pipi Naruto lalu menggigitnya pelan. Puas dengan pipi gembul Naruto, pemuda dengan rambut hitam itu mendorong pelan badan Naruto agar membaringkan punggungnya pada lantai yang dingin menyentuh kulit. Sasuke mulai menjilati telinga Naruto sebelum mengecup dan menggigitinya pelan. Erangan serta desahan berat kembali keluar dari mulut Naruto.
"Aku menyukaimu Naruto." Kembali Sasuke membisikan kata-kata itu tepat di samping telinga Naruto. Saat merasakan badan Naruto menegang, seringaian tipis hadir di wajah Sasuke. "Telingamu itu bagian sensitifmu ternyata."
"He-hentikan... ke-ketu—Ah!"
Jilatan dan hisapan yang Sasuke berikan di puting Naruto membuat pemuda pirang itu mendesah kuat. Entah sejak kapan tangan Sasuke sudah melucuti sweater naruto dan membuka kancing kemejanya. Naruto mengerang pelan, dapat ia rasakan suatu sensasi aneh yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu pula Sasuke, ia tidak pernah mengira bahwa mendekap Naruto dan mencium aroma tubuhnya dapat membuatnya lupa diri.
"Naruto..."
"Hngh..." lagi, tubuh Naruto menegang saat tangan kekar Sasuke mengusap lembut pusar dan daerah bagian bawahnya. Naruto mengerang pelan, ada rasa sesak yang membuatnya frustrasi, entah apa itu tapi ingin rasanya ia bebaskan agar tidak terasa sesak.
"Naruto..." Sasuke kembali memanggilnya, kini pemuda itu juga menatap mata biru laut di depannya. "Jatuh cintalah padaku."
Naruto mengerjapkan matanya, tatapan yang Sasuke berikan seakan menghipnotisnya dan membuatnya tidak bisa mengelak. Kembali bibir mereka berdua bertemu, dan kali ini entah dorongan darimana Naruto membalas lumatan itu dan membiarkan dirinya terhanyut dalam perasaan yang tidak ia pahami.
.
.
.
To Be Continue...
AN/ YA AMPUN INI SAYA BIKIN APAAN? KENAPA RATINGNYA HAMPIR M! Maaf kalau ada typo saya gak berani baca ulang, masih syok batin ini. Niat cuma bikin shounen ai dengan hanya adegan kissing, kenapa hampir merembet kemana2 *uwaaa!*
Terima kasih untuk kalian yang sudah memfollo, fav, review. Sebagian sudah aku balas, silakan liat PM. Dan untuk para guest terimakasih. Aku akan membalas beberapa guest di sini.
Hunkailovers: dalam pedekate kita harus genjar membuat kesempatan *plakk*
KuroSNL: Iya~ SasuNaru in the school broh!
ArashiloveSN: dia itu hanya ngerjain naru, game naru? Di simpan buat jadi modus biar bisa nganterin Naru pulang *plakk* angket datanya? Buat jadi pedoman mencari ide modus2 lainnya.
Neko-chan: siapa yang gak deg-degan kalau ada sosok yang sifatnya gak bisa di tebak dan bikin doki-doki ngahaha.
Mikokako: suara innernya Sasuke, yang pertama kali kan?
Tora-chan: konflik? Entahlah belum kepikiran *plakk*
Revhanaslowfujosh: itu... kehabisan ide makanya tbc *alesannya aja.* kayaknya chapter depan tamat, entahlah.
Tsuno michigawa: ini udah di lanjut sayang~
Guest: kurang jelas pairnya? Coba dibaca lagi dari awal terus liat nametag di atas. Cuma ada Naru dan Sasu. Jadi kira-kira pairnya siapa?
Narufans: sudah di lanjut~
see you next chapter~
