My Life Change

Meanie—MinWon Couple (OTP pertama di fandom ini) :33

Seventeen FF

Rating T, tapi mungkin M untuk bahasa yang saya gunakan/banyak yang vulgar/kalo iya sih -_-

Drama, AU, Romance, dll

Typos, OOC level 99, Genderbend for uke :3 Don't Like Don't Read, RnR

.

.

Ch 2

Pagi hari berikutnya, Wonwoo terbangun. Tubuhnya terasa berat. Ia menguap lebar, turun dari kasurnya, berjalan menuju kamar mandi.

Mencuci wajahnya di wastafel, ia menatap pantulan dirinya di cermin.

Wonwoo merasakan keanehan. Bukan pada wajahnya, tapi pada tubuhnya. Tubuhnya atasnya terasa berat, seperti membawa sesuatu. Perlahan, tangannya meraba tubuh depannya. Matanya membulat kala tangannya menyentuh sesuatu yang kenyal dan bulat.

What—

Dan itu ada dua. Dengan cepat dia melihat ke arah dadanya. Darah mengucur dari hidungnya saat melihat dua buah bongkahan dada di tubuhnya. Wonwoo bahkan sampai membuka dua kancing teratas piyamanya untuk melihat benda itu secara jelas.

Masih dengan darah yang mengucur deras dari hidungnya dan wajahnya yang berubah mesum, ia tersenyum girang.

"Waw—baru kali ini aku melihat yang sejelas ini, serius." Monolognya.

Dengan cepat dia keluar dari kamar mandi, menuju kekamarnya, dan meraih ponsel lalu menghubungi seseorang.

"Halo?"

"Hai, tiang! Pagi! Dengarkan!" seru Wonwoo begitu tersambung.

"Huh?"

"Dengar! Kau tahu, aku baru saja melihat sesuatu yang menakjubkan!" seru Wonwoo.

"Apa?"

"Itu adalah—" Wonwoo terdiam saat mengetahui apa yang harus ia ucapkan berikutnya.

Ia tersadar dari kegirangannya dan wajahnya berubah pucat pasi.

"Hyung?"

Wonwoo mengerjapkan matanya, dengan gugup dia berkata, "So—sori, tidak jadi! Bye!" serunya lalu mematikan sambungannya begitu saja.

Wonwoo terdiam, menyeka darah yang keluar dari hidungnya dengan punggung tangan. Otaknya mulai memproses apa yang telah terjadi.

Wonwoo jatuh terduduk.

"Ini tidak mungkin, ini tidak mungkin, ini tidak mungkin…." Lirihnya dan membuka kancing piyamanya yang tersisa.

Itu nyata.

Benda itu benar-benar ada.

Menempel ditubuhnya.

Bergoyang saat dia bergerak.

OMG.

Dengan cepat dia mengecek sesuatu di balik celananya. Wajahnya berubah semakin pucat.

Tidak ada lagi batang.

Ia memakai celananya lagi, berdiri dan menatap pantulan dirinya di cermin.

Tubuhnya berubah. Dia memiliki dada dan dia—tidak berbatang lagi.

"ASDFGHJKL. NO! NO! NOOOOOO!"

Wonwoo merasa ini semua adalah hal paling gila yang pernah ia alami. Ini tidak mungkin, ini tidak bisa terjadi, ini tidak mungkin terjadi.

Katakan, ini hanyalah mimpi, ratap Wonwoo kemudian jatuh pingsan.

.

CM

.

Wonwoo terbangun dan panik. Ia bangkit dari lantai, mengobrak-abrik lemarinya kemudian masuk kedalam kamar mandi untuk mandi.

Selang beberapa puluh menit, ia keluar dari kamar mandi dalam keadaan segar dan sudah memakai baju lengkap. Wajahnya merah padam. Ia lalu menatap pantulan dirinya di cermin dan terdiam.

Wonwoo galau. Dia jelas tidak terima dengan tubuhnya yang berubah seperti ini. Wonwoo sedih.

Bagaimana reaksi orang lain jika mengetahui hal ini? Apakah dia akan dihina? Dijauhi?

Oh, tanpa tubuhnya berubah pun orang-orang sudah menjauhinya karena tidak ingin ketularan kebiasaan buruknya.

Wonwoo mengingat apa yang ia lakukan selama menjadi—pria. Ia akan melakukan apapun. Bersenang-senang—melompat, berlari, berkelahi, menggoda wanita—Wonwoo yakin dia takkan bisa melakukan hal seperti itu lagi.

Wonwoo menggigit bibir. Hal yang harus ia lakukan pertama-tama adalah merahasiakan hal ini dari orang lain. Dia menatap pantulan dirinya lagi dicermin. Rambutnya kini panjang sebahu.

Wonwoo meraih gunting dan mulai memotong rambutnya.

Wonwoo termenung. Ia mulai menangis. Kini ia menyesali kebiasaannya yang suka berkata buruk. Dan ia ingin tubuh aslinya kembali.

-.-.-.-

Wonwoo bingung harus melakukan apa setelah ia mengisi perutnya. Ia mondar-mandir, menggigit ujung jempolnya dan berpikir keras apa yang harus ia lakukan setelah ini—memberitahu ibunya!

Wonwoo berteriak banzai. Dia akan curhat pada ibunya setelah ini. Dia akan menanyakan apapun. Dengan cepat dia kembali kekamarnya. Menyiapkan tas ransel beserta isinya, memakai jaket dengan kerah tinggi, dan keluar dari kamar menuju pintu utama.

Setelah memakai sepatu, ia segera membuka pintu. Pintu terbuka dan matanya membulat kala melihat Mingyu tengah di depan pintu dengan tangan hendak menekan tombol intercome.

Keduanya terdiam cukup lama hingga Wonwoo dengan cepat menutup pintu dengan bantingan keras.

"Hey!" Mingyu berteriak sambil menahan pintu yang akan tertutup.

"Yah! Apa yang kau lakukan disini, bodoh?!" tanya Wonwoo sambil menahan pintu.

"Buka dulu pintunya!" seru Mingyu.

"Tidak akan!" seru Wonwoo.

"Buka!" seru Mingyu.

"Tidaaaak.. lagipula untuk apa kau kesini?" tanya Wonwoo.

Mingyu terdiam sebentar, "Menjengukmu?"

"Kenapa memakai tanda tanya?" tanya Wonwoo.

"Habis aku tidak yakin. Kau tidak terlihat sakit sama sekali. Malah terlihat cukup sehat." Ucap Mingyu.

"O—oh."

"Jadi, ini sebetulnya kau bukannya sakit. Tapi bolos dari pelajaran?" tanya Mingyu.

"Mana mungkin, kampret. Aku benar-benar sakit beberapa jam yang lalu juga kemarin!" seru Wonwoo.

Mingyu mengangguk, Wonwoo mengintip lewat celah pintu yang kini terbuka sedikit.

"Lalu, sekarang apa yang kau lakukan?" tanya Mingyu, tidak berniat untuk mendorbrak pintu apartement Wonwoo lagi.

Wonwoo terdiam sebentar, "Err… tidak ada.." jawabnya.

Mata Mingyu memicing, "Percuma jika kau berbohong."

Wonwoo berdecak, "Memangnya apa pedulimu? Sudah sana, balik ke sekolah! Aku tidak ingin melihatmu lagi sekarang, kampret!"

Wonwoo benar-benar menutup pintu di hadapannya.

Wonwoo menghela napas. Tetap berdiri di depan pintu sambil mengira-ngira apakah Mingyu sudah pergi.

Dan suara bel yang berbunyi berkali-kali menghentikan pemikirannya.

Wonwoo mengintip melalui lubang pintu, ia bisa melihat Mingyu masih ada disana. Wonwoo mendengus kesal.

Mingyu menghentikan tangannya dari menekan bel. Ia mendekatkan kepalanya pada pintu.

"Hyung." Panggil Mingyu.

Wonwoo yang melihat itu mengernyit heran, ia langsung menempelkan telinganya pada pintu.

"Hyung."

"…."

"Aku tahu kau ada dibalik pintu ini." Ucap Mingyu.

"….."

"Hyung kau dengar aku kan?" tanya Mingyu.

"…."

DUAK!

Mingyu menendang pintu dan Wonwoo spontan berteriak "Aw!" saat tendangan itu berimbas mengenai kakinya.

"Yeah." Ucap Mingyu.

"Bocah sialan." Umpat Wonwoo.

"Kau menelponku pagi tadi dan langsung memutuskan sambungannya, aku penasaran kau mau mengatakan apa." Ucap Mingyu.

Wonwoo mulai mengingat-ingat.

"Sebetulnya kau mau mengatakan apa? Kau terlihat senang sekali—padahal kau sedang sakit—" tanya Mingyu.

Wonwoo dengan cepat membuka pintu dan menatap Mingyu dengan pandangan datar, "Jadi kau datang kesini cuma ingin menanyakan itu?"

"Nggak juga." Jawab Mingyu.

"Nggak guna. Lebih baik kembali ke sekolah sana! Ga usah bolos!"

Mingyu mengendikkan bahu tidak peduli, "Well, sudah terlanjur. Tenang saja, lagipula ini pertama kalinya aku bolos." Ucapnya sambil tersenyum lebar.

"Justru itu masalahnya." Ucap Wonwoo.

Tangan Mingyu mendorong kuat pintu hingga terbuka dan Wonwoo terkejut karena lalai menahan pintu. Mingyu terkekeh.

"Lihat, kau memakai tas ransel itu. Kau mau pergi kemana?" tanya Mingyu.

"Tidak ada—aku hanya ingin memakai tas. Aku rindu sekolah." Jawab Wonwoo.

Mingyu menatap datar, "Dan kau juga memakai sepatu. Kau pasti mau pergi ke suatu tempat." Ucap Mingyu.

"Terserah aku—hey!"

Mingyu berusaha merebut tas Wonwoo.

"Apa sih isinya?" tanya Mingyu.

"Tidak ada!" Wonwo berusaha untuk tetap memakai tasnya, tanpa berniat menyerahkannya pada Mingyu. Mereka terus berusaha saling merebut tas hingga tangan Mingyu tidak sengaja menyentuh tubuh depan Wonwoo.

Hening.

Mingyu terdiam dengan mulut terbuka.

Wonwoo membulatkan matanya.

Mingyu menggerakkan jari-jarinya, menekan, lebih tepatnya meremas sesuatu ditangannya, dada Wonwoo.

"Ahhn—yah! Apa yang kau lakukan!" Wonwoo memekik, menepis tangan Mingyu kuat.

Mingu terdiam mematung dengan mulut masih terbuka dan matanya kosong, juga jiwanya seperti terbang entah kemana.

Wonwoo gugup, panik, dia berusaha untuk menghilangkan rona merah dan panas yang mejalar di wajahnya. Ditatapnya Mingyu yang sepertinya belum bergerak sama sekali.

Wonwoo menggigit bibir.

Mingyu tersadar, dia mengerjapkan matanya, memperhatikan tangannya dan membuka tutup berkali-kali.

"Apa tadi?" tanya Mingyu.

Mata Wonwoo bergerak liar, tidak ingin menatap Mingyu yang kini menatapnya dengan pandangan ingin penjelasan.

"Apa tadi? Itu seperti….dada wanita kalau tidak salah—dan seingatku kau itu lelaki tulen." Ucap Mingyu.

Wonwoo bergerak gelisah.

"Kau operasi plastik?" tanya Mingyu, "Jadi kau tidak masuk beberapa hari ini karena…"

"Enak saja! Tidaklah!" seru Wonwoo tidak terima.

Mingyu menatapnya heran, "Jadi?"

"Apanya?" tanya Wonwoo.

Mingyu menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki, "Apa yang terjadi padamu?" tanya Mingyu.

Wonwoo terdiam, menghela napas.

Hening kembali.

"…"

"…"

"…"

"Hyung.."

"Huft.."

"…"

"Beberapa hari yang lalu, aku bertabrakan dengan seorang wanita," ucap Wonwoo, "jadi aku menyuruhnya meminta maaf karena dia menabrakku dan aku mengejeknya," lanjutnya lalu menghela napas, "…dia tidak terima, lalu mengutukku…" Wonwoo menunduk, "menjadi wanita."

Mingyu membulatkan mata, lalu mulai tertawa. Tawanya semakin kencang dan itu membuat Wonwoo kesal.

"Berhenti tertawa!" ucap Wonwoo.

"Ups, sorry." Mingyu terkekeh, "itu beneran?" tanyanya kemudian.

Wonwoo berdecak kesal.

"Terserah kau mau percaya atau tidak. Sudah sana pergi. Huh, padahal aku berniat merahasiakan hal ini." Omel Wonwoo.

"Oh ya.. sorry. Ini serius? Kau dikutuk? Bukannya operasi plastik?" tanya Mingyu, "Aku pikir kau bosan hidup sebagai pria."

Wonwoo berdecak kesal, "Bocah sialan kurang ajar."

Mingyu kembali tertawa.

"Pergi dari sini, kau jelek!" seru Wonwoo.

Mingyu menghentikan tawanya dan menatap Wonwoo serius.

"Kau bilang kau di kutuk karena mengejeknya?" tanya Mingyu.

"Ya." Wonwoo menjawab dengan cepat.

"Lalu kau tidak mengambil hikmah dari situ?" tanya Mingyu, tangannya menyilang dan ia bersender pada dinding.

Wonwoo menatapnya dengan pandangan tidak mengerti.

"Kau mengejeknya. Dan sekarang setelah itu terjadi, seharusnya kau bisa mengintropeksi diri." Ucapnya.

Wonwoo terdiam ditempat. Kata-kata Mingyu bagai menusuk relung hatinya.

"Kau harus mengurangi perkataan burukmu bukan? Tanya Mingyu.

Wonwoo menatap kosong pada lantai dan memainkan ujung bajunya.

"Hyung—"

Wonwoo dengan cepat mendorong Mingyu keluar ia lalu keluar dan menutup pintu juga menguncinya. Ia kembali mendorong Mingyu dan berjalan menuju lift.

"He—hey!" Mingyu berseru tak terima.

Wonwoo menekan tombol 'G' pada papan lift dan lift pun bergerak turun ke bawah.

"Kau sebetulnya mau pergi ke mana?" tanya Mingyu.

"Bukan urusanmu." Jawab Wonwoo ketus.

"Okay." Ucap Mingyu lalu terdiam.

Hening.

Pintu lift terbuka dan keduanya pun keluar. Mingyu mengikuti kemana Wonwoo melangkah. Mereka pun berdiri di halte bus. Mingyu bertanya-tanya akan kemana kakak kelasnya ini.

Bus datang dan keduanya pun masuk. Wonwoo menatapnya jengkel.

"Kenapa kau ikut?" sewotnya.

Mingyu tak menjawab. Keduanya lalu duduk di kursi.

"Turun kau."

Mingyu menggeleng.

"Tiang."

"…."

"Mingyu-ah."

"Kim Mingyu."

Mingyu tidak bereaksi, ia bahkan berpura-pura tidur. Bus sudah melaju. Pada akhirnya Wonwoo menyerah. Ia menghela napas dan menatap keluar jendela. Diam-diam Mingyu memeperhatikannya.

"Kalau kau membiarkanku menemanimu, aku tidak akan mengatakan hal ini pada siapapun." Ucap Mingyu.

"Terserah." Lirih Wonwoo.

Keduanya terdiam hingga Wonwoo memencet bel. Bus berhenti dan keduanya turun. Mingyu mengikuti Wonwoo hingga mereka sampai di sebuah stasiun.

"Kau akan kemana?" tanya Mingyu.

"Kerumah ibuku." Jawab Wonwoo, dia menunduk.

Mingyu meliriknya.

Keduanya menuruni tangga lalu membayar tiket kereta dengan kartu id.

"Hyung—atau aku harus memanggilmu, noona?" tanya Mingyu.

Wonwoo tidak menjawab. Mingyu terdiam menatap manusia di depannya terlihat menyedihkan.

Sebuah kereta yang akan dinaiki Wonwoo datang. Pintunya terbuka dan beberapa orang keluar. Mingyu bertanya-tanya mengapa Wonwoo tidak segera memasuki kereta.

"Pintu akan segera ditutup." Terdengar suara dari loundspeaker.

Wonwoo segera masuk kedalam kereta, dengan Mingyu mengikutinya. Wonwoo berbalik, ia tersenyum datar dan mendorong tubuh pemuda itu kuat-kuat hingga keluar dari kereta.

"Maaf, kau tidak usah ikut." Ucap Wonwoo.

"Hyung—"

"Tidak perlu menemaniku, Kim Mingyu." Ucap Wonwoo sedetik sebelum pintu kereta tertutup.

Mingyu terdiam. Ia tidak bisa melakukan apa-apa. Dilihatnya didalam Wonwoo mulai menangis. Kereta mulai berjalan meninggalkan stasiun.

Mingyu menatap kereta yang telah bergerak jauh. Wajahnya berubah tidak senang.

"Aku harus bertemu Jihoon-noona."

.-.-.-.-.

Yaps, hai semua. Gua lanjut nih.

Reaksi pertama Wonu itu—aku buat-agak nyontoh dari gintama disalah satu arc, dimana satu wilayah itu diubah gender—yg cewek jadi cowo dan sebaliknya, dan reaksi si tokoh utama malah seneng karena dia bisa liat dada—lalu belagak jadi cabe—sayangnya aku gak bisa buat Wonu kayak gitu, gila aja XD Wonu belum cocok jadi cabe, kalau Junghan sih iya/disepak/dilemparmic

Oh ya, bentar aku mau curhat. Jadi, baru aja aku dapet presentasi dari PIP/Pelayaran (biasalah kalo udah kelas 12 ada presentasi dari univ) dan mereka kan bawa Taruna-Taruni juga (panggilan untuk mahasiswa/i nya) satu cowok tinggi ganteng satu lagi cewek tinggi cantik, rambutnya mirip Wonu dan aku spontan nganggap mereka MEANIE KW yash XD trus fangirlingan biarlah gak ketemu Meanie asli, yg kw aja aku udah seneng XDDD mereka cocoook banget bikin gemesss/udahheh

Oke, Thanks buat yg udah review dan beberapa saran—aku harap kalian beri lagi aku saran, kritik di review yap, jangan Cuma nyuruh aku lanjut, itu sedikit err—menyinggung perasaanku sebetulnya.

Udah gitu aja, babay~ /lemparemotlopelope