Love Saves The Earth
Author: Levio Kenta Uzumaki
Genre: Supernatural,Fantasy,Romance/Drama.
Rated:T (for now)
Pairing: [Naruto Uzumaki, Sakura Haruno] and others.
Disclaimer: Masashi Kishimoto's own.
Warning: OOC,abal,Typo,DLDR, etc.
My First Fanfiction, mohon bantuannya minna-san. Bagi yang tidak suka sama pairnya tolong jangan membaca, daripada menyesal, no flame, please?!.
Akhirnya update juga, hehe.. update kelamaan minna-san, pusing bagi pikiran, kadang aku kerjain waktu nganggur di tempat Praktek, tapi gk cepet selesai-selesai. Kalau udah nyampai rumah males ngetik soalnya udah capek & ngantuk. hufft. (*curhat, #abaikanOK)
Terima kasih yang sudah mereview/foll/fav fic saya, Arigatou Gozaimasu. Nah sekarang..
Ok cekidot..
.
.
.
Chapter 2
Ayam-ayam mulai berkokok mengepakkan sayapnya…
Matahari menampakkan sinar, tanda pagi hari. Dan tentu setiap orang kembali beraktifitas.
"Uh~" Sakura menggeliatkan badannya-menyipitkan mata , tangannya sibuk meraba jam weker di meja samping tempat tidur. Dan…
"Astaga… jam 6!" dia langsung beranjak dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi. Tak butuh waktu lama segera dia berdandan. Sakura turun kebawah-tepatnya ke lantai 1.
.
Tap…tap….tap…tap..
Langkah kaki sakura terdengar cukup jelas karena dia tengah terburu-buru. Kizazhi yang tengah sarapan di ruang makan hanya menggeleng pelan.
"Mm.. Ayah, ibu aku berangkat dulu." Pamit Sakura seraya menggambil sandwich di meja makan, membawanya-lebih tepatnya 'menyantap'sambil berjalan.
"Ya ampun, Sakura sarapan dulu sayang." Teriak Mebuki yang tengah menaruh telur di piring Kizazhi.
Yang di teriaki hanya menggelengkan kepalanya dan pergi.
.
.
.
KIHS
Hosh…hosh….hoshh
Sakura tengah terenggos-enggos di depan pintu kelas karena dia hampir saja terlambat jadi dia berlari dari stasiun sampai keruang kelas. Dan ternyata dia belum sepenuhnya terlambat karena kelasnya masih ramai. Sakura berjalan pelan memasuki kelas menuju ke bangkunya setelah nafasnya mulai stabil kembali, Hinata yang tengah membaca buku mengalihkan pandangannya ke Sakura.
"Kau kenapa Sakura-chan?" Hinata bertanya pelan. Gadis yang sopan dan lembut, pikir Sakura.
Sakura mendudukkan diri dibangkunya. "Hah~ Sungguh pagi yang melelahkan, Hinata! Aku bangun kesiangan jadi terburu-buru sampai aku berlari dari stasiun sampai kemari."
Hinata menggangguk mengerti-lalu melanjutkan kembali akttifitas membacanya. Sakura mengeluarkan bukunya dari dalam tas, kemudian mencari halaman yang hendak dia baca.
Ckllleekk…
"Pagi minna.." suara kas orang bermasker terdengar maskulin, siapa lagi kalau bukan Kakashi sensei. Semua murid yang tadinya bergerombol langsung merapat ke tempat duduknya masing-masing, Hinata dan Sakura menutup bukunya.
"Ehm..ehm.." Guru Kakashi berdehem pelan lalu mendudukkan diri.
"Anak-anak apa kalian sudah menentukan tempat untuk Ujian Praktek ?."
"Sudah, sensei!." Semua murid menjawab serentak.
"Bagus! Kalau sudah kita bisa segera mengirimkannya, tidak perlu menunggu tanggal 20. Besok semua surat pengantar dibawa dan dikumpulkan di ketua kelas kalian. Dan nanti jika sudah silahkan di kumpulkan ke ruang BK untuk segera dikirim."
"Baik, sensei!"
"Sekarang silahkan lihat buku kalian halaman 136, pelajari sebentar dan aku akan menjelaskannya.!"
Semua murid segera mengeluarkan dan membuka bukunya masing-masing. Guru Kakashi menyandarkan diri dan menghela nafas panjang. "Hhhhh~"
.
.
.
13.30
Bel pulang berbunyi nyaring tanda pelajaran telah usai, semua murid Konoha International High School berhamburan keluar kelas.
Sakura, Sarah dan Hinata berjalan dengan santai dan saling berbincang masalah Ujian Praktek mereka.
"Sakura kau jadi praktek dimana?" Sarah bertanya antusias.
"Eh.. a..aku," Sakura menunjuk dirirnya sendiri. Disusul anggukan dari kedua temannya.
"Ehm di Suna, tepatnya di FEE Center International Course."
"Bukankah i.. itu lembaga international terbesar di Tokyo ya, Sakura-chan.?" Tanya Hinata .
Sakura menggenggukkan kepala "Iya Hinata"
"Wahh, kau hebat, Sakura." Sahut Sarah.
Mereka mengobrol hingga tak terasa sampai di gerbang Sasuke berdiri bersandar di samping mobilnya.
"Hinata!"
Hinata menoleh merasa namanya dipanggil, mencari sumber suara tempat namanya dipanggil "Sasuke-kun.."
Sakura, Hinata, dan Sarah kemudian menghampiri Sasuke.
"A..ada apa Sasuke-kun?" Hinata gugup, kebiasaannya memang begini padahal dia sudah berpacaran dengan Sasuke. Tapi walaupun begitu dia tetap saja seperti ini. Bagaimana tidak Sasuke-kan pangeran sekolah, tampan, pintar dan-Uh, seksi. Entah apa yang diikirkan Hinata sampai berasumsi sejauh itu, tapi dia bukan wanita mesum!.
Sasuke menyambar tangan Hinata, menariknya lembut "Hn, Ayo pulang! Aku sudah menunggumu dari tadi."
"Eehhh… ta.. tap-"
"Kenapa?"
"Hari ini aku mau pulang naik kereta dengan Sakura dan Sa..rah." Hinata berujar lirih takut. Dan menundukkan kepalanya.
Sasuke berdecak malas "Ck.. Sudahlah lain kali saja, Aku mau kau menemaniku ke rumah nenekku sebentar." Kali ini Sasuke agak egois sih, sebenarnya tidak begitu juga, dia hanya ingin bersama dengan Hinata, berdua. Tidak ada yang salah bukan? Mereka pacaran dan itu wajar jika salah seorang dari mereka ingin bersama sang kekasih berdua saja.
"Sudahlah Hinata, Kau dengan Sasuke saja." Ujar Sarah mengedipkan matanya dan dengan nada sedikit menggoda.
"Iya!" sahut Sakura mantap.
"Lain kalikan bisa.. Kalau begitu kita pulang duluan saja, Jaa!"
Sarah dan Sakura melambaikan tangan dan melangkah pergi-tepatnya pulang.
"Eeh.. "
Kini tinggal Sasuke dan Hinata, Hinata menghela nafas. Sasuke tersenyum tipis, tentunya tidak kentara, dia lalu menggandeng tangan Hinata dan membukakan pintu mobil untuknya.
"Mari.. Sayang."
Blush
Pipi Hinata memerah, tidak biasanya Sasuke memanggilnya seperti itu, dia lalu memasuki mobil. Di susul Sasuke kemudian.
Brummmm…
.
.
.
Sakura kini tengah membaca buku yang tadi dibelinya sepulang sekolah, tadi saat sampai di depan stasiun Sarah meminta Sakura untuk menemaninya ke toko buku untuk membeli beberapa buku penting, sebenarnya niatnya hanya mengantarkan Sarah saja, namun saat melihat lihat dia tertarik dengan sebuah buku bersampul hitam kecoklatan yang berjudul 'Demons, Love & Angel' tetapi yang lebih membuatnya tertarik adalah di sampul buku itu tertulis 'Mitos, Nyata? Tergantung diri anda dalam menilai' . tanpa pikir-pikir lagi, Sakura langsung membelinya yah sebenarnya dia memang tidak begitu tertarik, tapi entah kenapa dia sangat ingin membacanya.
'Demons
Sejarah mengatakan bahwa terdapat sembilan ekor siluman (Demons) di dunia yaitu Ichibi, Nibi, Sanbi,Yonbi, Gobi, Rokubi, Nanabi, Hachibi, dan Kyuubi.
Mereka adalah siluman siluman terkuat di dunia, namun yang paling kuat yaitu Kyuubi, Dia adalah makhluk terbuas dan penuh nafsu setan, ganas dan liar. Dikatakan bahwa para siluman ini berinang di tubuh manusia dan akan menguasai tubuh tersebut saat nafsu amarah yang tidak bisa dikendalikan atau Demons yang sengaja dibangkitkan, dan sang inang akan kehilangan jiwanya selamanya tergantikan jiwa Demon yang abadi.
Namun usaha ini akan selalu gagal ketika pasangan hidup sekaligus malaikat jiwa (Guardian Angel) sang inang berada didekatnya bahkan bisa memindahkannya atau menyegelnya disuatu kuil dengan kemampuan khusus yang hanya dimiliki oleh sang Angel, tapi jika sang angel belum bisa menyempurnakan kekuatannya akan kemungkinan itu sangat tipis.
Sebenarnya tidak hanya Guardian Angel saja yang bisa menekan kekuatan tersebut, yaitu seorang 'Saint', namun tidak bisa sekuat Guardian Ange meskipun sama-sama keturunan Malaikat.
Banyak sekali para tetua atau pemimpin clan bahkan para Saint lainnya yang ingin membangkitkan kekuatan para Demons demi mendapat keabadian untuk klannya. Diramalkan bahwa Guardian Angel terakhir yang akan melenyapkan sang Demons tepatnya memusnahkan Demons pada jiwa inang dan Demons itu sendiri. Keturunan yang hilang , marga yang sulit bahwa Angel terakhir dan sang Inang berada pada garis keturunan yang sama.'
Sakura mengubah posisi membacanya, dengan posisi duduk. Dia menengok jam dinding, pukul 14.35. 'sudah hampir sore ternyata' batinnya. Hembusan nafas ia keluarkan. Lalu melanjutkan kembali acara membacanya.
'Ada suatu keterikatan antara sang Inang sebelumnya dan sang inang selanjutnya semacam reinkarnasi, begitupun sang Angel, pada dasarnya mereka memiliki keterikatan hati dan pikiran. Namun setiap Angel memiliki suatu kekuatan khusus yang berbeda beda dalam menahan/menyegel Demons. Ada sebuah buku tentang penyegelan Demons namun buku itu hanya bisa dimiliki oleh Guardian Angel, tidak ada seorangpun yang bisa menemukan buku tersebut, karena buku itu akan datang sendirinya kepada sang Angel.
Dikatakan bahwa bentuk fisik sang inang ketika berubah wujud menjadi Demon fisiknya menyerupai serigala/rubah, memiliki ekor berjumlah sembilan kuku kaki dan tangan panjang berbulu tebal dan berwarna hitam kecoklatan, dikatakan juga bahwa matanya tajam berwarna merah dan bergigi taring. Namun ada juga yang menyebutkan bahwa jika belum sempurna tubuhnya tidak sepenuhnya menjadi serigal/rubah, hanya matanya merah mengkilat bibirnya membiru, kuku jarinya memanjang dan giginya mengeluarkan taring. Jika masih dalam mode ini kekuatan Demon bisa ditekan atau diperkuat segelnya. Inang yang berubah dalam mode ini akan memiliki setengah kekuatan Demon begitupun sikap, sifat, dan perilaku. Bisa menjadi tak terkendali namun masih bisa memiliki kesadarannya.
Pada saat bulan merah tiba, biasanya sang inang akan mengasingkan diri lebih tepatnya menyendiri karena mereka takut jika melukai orang lain. Jika inang telah berubah dia bisa saja menyakiti siapa pun yang ada di sekitarnya, seperti mencekik atau bahkan membunuh. Sebenarnya inang akan merasa sangat kesakitan yang teramat didalam tubuhnya misalnya seperti terbakar atau tersayat sayat oleh benda tajam. Ketika dalam mode sempurna dia akan kehilangan kesadaran diri sepenuhnya, hanya ada nafsu hewan layaknya predator pembunuh yang bisa menghancurkan berhektar-hektar tanah."
"Hm, menarik. Apakah benar seperti itu kekuatan Demon?!" dia bertanya kepada dirinya sendiri.
"Tapi ini kan cuma mitos saja…" Sakura lantas tidak ambil pusing, karena dia memang tidak percaya tentang hal seperti itu. Saat dia hendak membaca kembali bukunya tiba-tiba saja Konohamaru datang menghampirinya.
"Nee-chan antarkan aku les sebentar saja ya..?" pinta Konohamaru dengan jurus andaalnnya, puppy eyes.
Sakura memutar bola matanya malas "Memang ini jam berapa? Biasanya kau kan diantar ibu."
Konohamaru mengerucutkan bibirnya "Ibu pergi ke mall tadi, katanya nanti kakak yang mengantarku. Ayolah kak ini sudah jam 3 aku bisa terlambat nanti."
"Hah.. kau ini." Keluh Sakura, lalu menutup bukunya.
"Ya sudah tunggu di teras sana." Putusnya beranjak dari posisinya
"Yey.. Ok cepat ya kak."
Konohamaru langsung melesat keluar kamar Sakura, Sakura hanya menggeleng melihat tingkah adik kesayangannya itu.
.
Sakura mengeluarkan sepeda dari dalam garasi. Memarkirnya di depan teras.
"Konohamaru kunci pintunya dulu."
"Baik." Konohamaru langsung mengunci pintu, setelah memastikan pintunya terkunci rapat Konohamaru langsung menghampiri Sakura dan berangkat dengan dibonceng Sakura.
.
.
.
Naruto berjalan lesu menuju stasiun, moodnya sedang tidak bagus kali ini. Bagaimana tidak niatnya malam ini ingin pergi bersenang senang dengan teman temannya semasa SMA, eh teman sekerjanya, Shino mengajaknya ke pesta perayaan ulang tahun pacarnya (pacar Shino). Huh bukankah sial? Dan lebih bodohnya Naruto mengiyakan ajakan itu akibat Shino menawarkan hal yang memang tidak bisa ditolaknya, tiket konser band idolanya. Huh gila bukan?. Sebenarnya Naruto heran dengan teman kerjanya itu, masa ke pesta pacarnya minta ditemani. Tapi yang namanya Shino selalu pintar berucap, dia bilang "nanti kau akan bertemu gadis-gadis cantik Naruto." Atau "makanannya pasti enak dan kau pasti tidak akan tahan untuk tidak memakannya." Dan lebih parah "kalau kau tidak mau, akan kukatakan pada teman-teman kalau kau menyimpan film 'blue' di ponselmu" dengan mata melotot. Dan tentu membuatnya tak berkutik, eits! tapi Naruto bukan pria mesum film itu milik kakaknya yang tak sengaja memorycard kakaknya dia pasang di ponsel miliknya. Dan saat Shino meminjam ponsel Naruto dia menemukan film itu, padahal Naruto tidak tau jika ada film seperti itu. Sempat Shino berteriak namun buru-buru Naruto membungkamnya. Kalau tidak bisa hancur reputasi Naruto. Naruto menggeram mengingat-ingat kejadian itu, dia menendangi kerikil yang ia temui di sepanjang jalan.
Tidak perlu waktu lama menuju stasiun, karena jarak antara tempat kerja Naruto dengan stasiun memang tidak jauh.
Di dalam kereta Naruto hanya melamun dan menghembuskan nafas berat beberapa kali, dia berpikir bahwa dengan melakukan hal tersebut akan mengurangi bebannya, jadi tanpa sadar dia selalu melakukan kegiatan itu tiap kali merasa terbebani. Sebenarnya dia tidak terlalu keberatan dengan ajakan teman kerjanya itu, Cuma dia merasa rindu dengan teman-teman masa SMA nya, walau sebenarnya teman-teman itu, rumahnya satu wilayah dengannya dan tentunya kapan saja mereka ingin nongkrong bersama pasti tidak akan repot. Hm, bukan hal yang buruk.
.
Kereta memasuki stasiun, Naruto berjalan santai keluar kereta. Kali ini dia sengaja memutar rute jalan pulang, dia memilih jalan yang memakan waktu cukup lama.
Saat tengah melewati sebuah gang dia melihat seorang kakek tengah terduduk dengan baju yang lusuh, wajahnya tidak terlalu jelas hanya menampakkan keriput dikedua pipinya dan jenggot lancip yang sudah memutih. Naruto menghampiri kakek itu dia tampak tak tega melihatnya. Dia duduk berjongkok.
"Kek, apa kakek sudah makan?"
Kakek itu menggeleng "belum cu.."
"Kalau begitu ini buat kakek, dimakan ya kek." Naruto tersenyum hangat lalu menyerahkan sebungkus roti yang sempat dibelinya tadi kepada kakek itu.
"Terima kasih cu." Kakek itu menerimanya , tangannya yang rapuh bergetar.
Naruto hendak berdiri lalu mengurungkang niatnya kembali saat kakek itu bersuara.
"Kau akan bertemu dengannya, dia akan keluar." Kakek itu menunjuk perut Naruto.
".."
"Kau harus berhati-hati, dia sangat mempengaruhimu."
"Mak-"
belum sempat Naruto menyelesaikan kata-katanya kakek itu menyela.
"Kau tau nak. Kau sudah merasakannya. Hanya kau belum cukup percaya. Dia akan menyelamatkanmu dan akan membahagiakanmu." Ujar sang kakek-tersenyum.
Naruto semakin tak mengerti "Sebenarnya apa maksudnya? A..Aku tak mengerti."
Kakek itu kembali berkata "Dia dekat denganmu. Dia gadis yang cantik"
Naruto menautkan alisnya. Saat hendak berbicara tiba-tiba kakek itu hilang bersama cahaya yang cukup menyilaukan. Naruto menyipitkan mata, dia langsung berdiri melihat sekelilingnya, lalu mengacak rambutnya asal. "Arrggh."
Tiba-tiba saja seseorang mengagetkannya dari belakang, menepuk pundak pemuda pirang jabrik yang dilanda kebingungan.
"Hey."
"Ah!" Naruto langsung menoleh kebelakang.
"Huh..Aku kira siapa." Naruto memutar tubuhnya.
"Kenapa kau disini Gaara?"
"Aku tadi kerumahmu kata bibi Kushina kau belum pulang. Jadi aku mencarimu dan ternyata aku menemukanmu disini."
Naruto mengangkat alisnya "Memang ada apa mencariku?"
"Sekarang ada pertemuan di Phoenix kau harus datang."
"Baiklah, tapi kenapa mendadak sekali? Tidak akan lama kan?"
"Tentu tidak, hanya ada suatu hal penting yang perlu kau tahu."
"Ok, Ayo."
Setelah itu mereka menghilang seperti angin dalam kilau matahari yang kian memudar.
Mereka tak menyadari bahwa seorang tengah mengawasinya dari tadi, mengumbar senyum penuh arti.
"Dunia akan damai, dia telah bereinkarnasi."
"Keinginanku sudah tercapai, bertahun-tahun aku menunggu. Hhh~" Hembusan nafas nafas kelegaan keluar dari rongga hidung orang itu, beban-ah bukan maksudnya kekhawatirannya seakan sirna setelah selama ini, pencariannya terhadap gadis reinkarnasi yang dicarinya membuahkan hasil, kini dia bisa tenang.
"Dia akan membebaskanmu cucuku." Setelah berkata demikian, cahaya putih menggantikan sosok orang tadi, pria tua berambut coklat yang dari tadi mengawasi pemuda blonde bermata safir yang tak lain adalah cucunya.
.
.
Phoenix
Bunyi gemericik air pancuran menggema di seluruh ruangan. Ruangan yang sangat luas, dinding yang sangat tinggi seperti bangunan istana didominasi dengan cat berwarna abu-abu gelap, ubin lantai bermotif sayap dan gambar burung Phoenix yang amat besar, terdapat banyak sekali pintu disana. Tampak seorang berambut hitam lembut dengan wajah pucatnya sedang asyik mengetik sesuatu di gadgetnya dengan posisi tidur di atas sofa ditengah ruangan, sebelum dia terhenti karena seorang teman menghampirinya-pria tampan dengan tato 'Ai' yangtercetak jelas di dahinya, pemuda itu tak lain adalah Gaara. Kemudian menyandarkan punggungnya di badan sofa.
Langkah kaki seseorang terdengar memasuki ruangan, menampakkan sosok pria berambut pirang yang cukup-ehmm, seksi?. Dirinya menghampiri kedua pria yang tengah duduk.
"Bisa kita mulai?"
"Tentu."
Mereka bersiap memulai rapat sebelum Sai orang yang tadi tengah asyik memainkan gadjednya, si muka pucat mayat bersuara "Tunggu yang lain belum datang, biar aku panggil mereka."
Pria berambut pirang, yang tak lain adalah Naruto hanya mengangguk mengiyakan, deru nafas yang terkesan berat dia hembuskan.
Gaara menyandarkan diri di sofa dan memejamkan matanya, tampak lelah. Yah memang lelah. Naruto yang melihatnya menyipitkan mata dengan seulas senyum tersimpul dibibirnya.
"Hh..Kau kenapa Gaara?"
Membuka matanya perlahan lalu menghembuskan nafas "Entahlah, hanya lelah. Kau sendiri kenapa wajahmu nampak susah begitu?"
"Aku?"
Membuang nafas panjang-lagi "Huhh~ bagiku hari ini sangat menyebalkan dan sedikit aneh." Seru Naruto ikut merebahkan diri di sofa.
Gaara mengerutkan alisnya "Memang apa yang terjadi padamu?"
"Kau tau nanti malam aku akan kepesta para remaja, aku tidak terlalu suka. Ini sangat gila! Dan yang kedua saat sebelum kau menemuiku,di gang tadi ada kakek yang bicara entah apa yang dimaksudnya, aku binggung."
"Dia bilang aku akan bertemu dengannya (gadis), dia dekat denganku, dia akan membahagiakanku dan… argh…" Naruto mengacak asal rambut pirangnya-frustasi. Gaara hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar curhatan pemuda yang sejak kecil menjadi sahabatnya itu.
"Dan lebih anehnya dia menghilang begitu saja." Timpal Naruto lagi.
"Hmm, Maksudmu?" sahut Gaara-masih setia pada posisinya.
"Saat aku ingin bertanya, tiba-tiba sebuah cahaya menyilaukanku dan saat cahaya itu hilang kakek itu sudah tak ada." Jelas Naruto, wajahnya nampak serius dan kening yang berkedut-kedut mengingat kejadian yang terjadi padanya saat di gang tadi. Gaara yang mendengarnya mengerutkan kening.
Gaara menegakkan tubuhnya kembali "Tidak ada bagaimana?"
" Yahh, tak ada. Err... seperti…hilang bersama cahaya itu." Jawab Naruto dengan raut wajah seperti orang bingung.
Gaara berpikir sejenak, lalu membuka suara lagi "Mungkinkah dia seorang Saint?" respon Gaara yang langsung mengubah posisi duduknya menjadi nampak lebih serius kali Ini.
Naruto memasang tampang tak percaya "Hahah~ Apa kau bercanda. Mana mungkin?" tawa remeh Naruto terdengar nyaring, lalu nampak serius kembali.
"Tapi mungkin saja kan? Karena kita juga begitu."
"…"
"Dan hanya para Saint yang hanya memiliki kemampuan seperti itu." Sebenarnya Gaara tidak mau berasumsi sejauh itu, tapi bisa jadi hal itu benar.
Naruto seperti memikirkan sesuatu.
Mana mungkin dan mana bisa kakek itu seorang 'Saint', hah rasanya mustahil bukan, tapi kenapa bisa dia tiba-tiba hilang tergantikan cahaya jika bukan 'Saint'. Dan yang dikatakan Gaara memang benar, hanya seorang Saint yang mempunyai kemampuan seperti itu. Arrggh! ini sungguh aneh.
"Entahlah Gaara, sepertinya kita har-…."
"Hey.. Ayo kita mulai rapatnya kawan." Belum sempat Naruto menyelesaikan kata-katanya semua temannya, anggota Phoenix yaitu para Saint mulai berdatangan dan bersiap memulai rapat.
.
Merasa semua sudah siap, Gaara langsung memulainya. Semua orang yang ada diruangan itu langsung terfokus pada Gaara, bersiap mendengarkan.
"Baiklah semua sudah ada langsung saja."
"Seperti yang telah aku katakan pada kalian sebelumnya. Ini mengenai Demons yang ada pada tubuh Naruto."
Naruto lansung berhenti mengunyah permen karet yang sejak tadi ada dimulutnya-hey sejak kapan dia mengunyah permen karet?. Dan mulai menyimak dengan serius apa yang akan dikatakan Gaara selanjutnya, berhubung ini terkait dirinya, eh bukan siluman yang ada ditubuhnya.
"Seperti yang kita tahu, sudah lama kita mencari 'Guardian Angel' Naruto, dan itu semua tidak mudah. Namun kali ini pencarian kita tidak sia-sia."
Pemuda berambut merah lembut mengernyitkan dahi "Maksudmu dia sudah muncul? Apakah Putri Tsunade telah berinkarnasi?"
Gaara menggangguk mengiyakan "Yah kau benar, Nagato."
"Ja..jadi kau sudah menemukan dia, Gaara?" sahut Naruto dengan raut muka tak percaya.
"Hm." Sang empu yang ditanya mengangguk.
"Ta.. tapi siapa? Siapa Angel itu?"
Sebelum menjawab pertanyaan Naruto, lelaki tampan dengan rambut Hitam legam satu hembusan nafas ia hembuskan. "Kami juga belum tau. Tapi…"
Naruto semakin penasaran "Tapi apa? Jekaskan Sai?!"
Sai yang tadi memejamkan matanya kini membukanya kembali, menatap langit-langit.
"Dia~" Sai menggantungkan kalimatnya.
"Dia berada di Konoha, dan dia dekat denganmu, Naruto. Itu yang dikatakan Tetua dan menurut viction yang kami dapatkan."
Naruto berusaha mencerna kalimat yang baru diucapkan oleh temannya itu dengan otaknya. Kalimat yang sama persis seperti yang diucapkan kakek yang bertemu dengannya tadi yang kemudian menghilang. Dia langsung membolakan matanya tampak ingin mengatakan sesuatu.
"Tunggu… tunggu, barusan kau bilang dia dekat denganku? Dekat bagaimana?" menegakkan tubuhnya mulai berbicara serius.
"Seperti yang dikatakan kakek yang kau maksudkan tadikan, Naruto?" sahut Gaara tiba-tiba. Naruto mengangguk.
"Aku berpikir, mungkin semacam kekasih atau teman!" tiba-tiba seorang yang tengah menyandarkan punggungnya pada sofa, pria yang cukup aneh?! Banyak pearcing pada bagian wajahnya memberi suara.
"Tapi aku tidak punya kekasih.." tungkas Naruto."Err.. maksudku belum, dan.. dan aku juga tidak punya teman wanita yang dekat denganku!"
Semua anggota Phoenix hanya diam, benar juga yang dikatakan Naruto, selama ini Naruto memang tidak pernah terlihat dekat dengan seorang wanita. Kalau begitu siapa? Mereka kemudian terlihat tengah memikirkan sesuatu, termasuk juga Naruto. Satu kata yang terngiang di kepalanya saat ini 'dekat', "dekat seperti apa?" bertanya pada dirinya sendiri masih tak mengerti. 'semacam kekasih atau teman'.
Selama ini Naruto tidak terlalu dekat dengan wanita, meskipun banyak sekali wanita diluar sana yang mengaguminya. Dan memang dia sempat mempunyai kekasih namun sudah tidak lagi sejak dirinya bekerja, terakhir kali dengan teman kuliahnya, Shizuka .
Sebenarnya ada dosen wanita yang terbilang cukup dekat dengannya, Mei Terumi. Dia masih muda mungkin 3-4 tahun lebih tua darinya cantik seperti wanita yang seumurannya, namun mereka tidak lagi dekat setelah dosen itu menyatakan ketertarikannya kepada Naruto, lebih tepatnya dia menyatakan cinta. Bukannya apa, hanya saja Naruto sudah mengganggapnya seperti kakak sendiri, tidak mau menambah kesalah pahaman dia memutuskan untuk menjauhi dosen cantik itu. Dan sampai sekarang dia belum memutuskan untuk memulai suatu hubungan. Karena baginya hal yang terpenting adalah mencari siapa sebenarnya Guardiannya itu, pasangan hidupnya itu.
"Apa mungkin kerabat, adik.. Err keluarga maksudku." Setelah sekian lama terdiam tiba-tiba lelaki yang wajahnya penuh dengan pearcing itu kembali membuka suara, membuat semua orang yang berada dirunangan itu memandangnya. Pein mengusap wajahnya setelah itu kembali menegakkan tubuhnya. Semuanya berpikir sejenak.
"Yah aku juga sependapat dengan Pain, bisa jadi itu ikatan keluarga." Kali ini Gaara menyahut.
Naruto menyimak setiap kata yang terlontar dari teman-temannya. Berpikir sejenak tentang perkataan mereka. Memang kata 'dekat' bisa diartikan ikatan keluarga sih. Tapi apa mungkin?.
.
.
.
Di dalam ruangan yang cukup luas, tetesan air yang berjatuhan dari pipa membuat lantainya sedikit basah yang bunyinya terdengar diseluruh ruangan. Langkah kaki seseorang ikut meramaikan suara tetesan air. Tak terlalu jelas sosok itu, karena saking redupnya cahaya diruangan tersebut. Sosok itu melangkah menuju salah satu ruangan yang cukup luas seperti sebuah gedung. Saat mulai memasuki ruangan perlahan memperlihatkan dengan jelas sosok itu, dia mengenakan jubah hitam bermotif awan merah, rambutnya panjangnya menutupi alah satu mata pria itu, dan tampak matanya berwarna merah.
Disisi lain sudah ada seorang lelaki yang tengah menikmati menghisap cerutu, bersandar di kursi, dengan mata terpejam. Saat menyadari dirinya kedatangan orang, dia membuka matanya, mata yang sama dengan pria yang kini hadir diruangan yang sama dengannya saat ini.
"Selamat datang, Madara." Orang yang dimaksud tak bersuara. Hanya mengerjapkan mata. Tampak wajahnya yang telah kusut.
"Kemarilah!"
Orang yang bernama Madara itu mendudukan diri di kursi, menyandarkan punggungnya.
"Apa kau sudah mendapat informasi?"
"Hhhh.." Madara mendesah lelah. Namun bukan berarti sebuah keputusasaan. Lalu dia menganggukkan kepala.
"Aku tidak sepertimu, Obito. Kerjaku lebih baik darimu." Ujar Madara meremehkan.
Obito menyunggingkan senyum yang juga sedikit meremehkan. "Ya.. ya, kau memang lebih baik dariku."
"Baiklah, lalu bagaimana?" putus Obito kemudian.
Madara mengubah posisi duduknya, yang mula bersandar kini menegakkan tubuhnya dengan tangan mengatup menyanggah dagu, matanya mulai terlihat serius. Tak kalah seriusnya, Obito juga antusias untuk menyimak apa yang akan dikataan oleh rekannya itu.
"Wanita itu ternyata tidak jauh dari kita. Dia cukup dekat dengan pemuda itu. Tapi.." Madara memutus kalimatnya
"Tapi, apa?"
".."
"Pemuda itu juga tidak tahu siapa wanita itu." Lanjutnya kemudian.
"Aku mencoba mencari tau lagi, dan ternyata wanita itu ada di Konoha."
"Lalu, apa kau sudah tahu siapa dia sebenarnya?"
Madara menggeleng, disusul decakan dari Obito.
"Ck, begini kau bilang kerjamu lebih baik?! Baik apanya?!" cerca Obito tangannya bersidekap.
Madara menghembuskan nafas yang terihat berat "Setidaknya aku mendapatkan hasil. Bukan kembali hanya dengan tangan kosong."
"Hhh, sama saja!"
Mereka kembali diam. Hanya terdengar bunyi tetesan air. Keduanya hanya diam mungkin memikirkan sesuatu. Obito kembali menghisap nikmat cerutunya dan Madara masih penasaran dengan wanita yang dia cari. Kali ini Madara tidak akan membiarkan kesempatan yang ia tunggu-tunggu hilang, bagaimanapun dirinya harus mendapatkan gadis itu atau tidak sama sekali. Penantiannya selama ini sudah di depan mata dan hanya menunggu waktu yang tepat untuk menggunakan kekuatan yang diincarnya.
"Sebentar lagi aku akan mendapatkanmu!" menyunggingkan senyum penuh arti.
.
.
.
Langit redup, sinar matahari tergantikan cahaya bulan dan gemerlab bintang yang bertebaran di angkasa. Sakura membuka rumahnya yang terkunci. Dia lelah sekali, tadi setelah mengantar Konohamaru dia tidak langsung pulang, Sakura mampir ke beberapa tempat, ia ke minimarket untuk membeli kebutuhan pribadinya, dan setelah itu saat melewati alun-alun Konoha, dia sangat senang karena ada bazar disana, lalu dia memutuskan untuk melihat-lihat, ya melihat-lihat mulanya, tapi begitu ada barang yang disukainya langsung saja dibeli, pemborosan namanya!. Persetan dengan hal itu, Sakura tidak akan memikirkan hal yang begitu. Dia berkeliling cukup lama sampai-sampai hari semakin malam baru kembali ke rumah, kebiasaan.
Untung saja saat kembali ibu dan ayahnya belum pulang. Sakura sedikit lega karena tidak disuruh menjemput Konohamaru, Ayahnya sendiri yang akan menjemput adiknya.
Segera Sakura membersihkan diri-mandi. Badannya sudah terasa lengket, bagimanapun dia tadi naik sepeda, karena motornya masih berada di bengkel. Meskipun sudah biasa menggunakan sepeda tapi kan tetap saja bikin berkeringat dan capek.
Selesai dengan kegiatan mandinya Sakura langsung ganti baju dan berdandan.
"Huh, segar sekali jika sudah mandi begini."
Krukk.
"Owh, saatnya makan malam." Dia langsung turun ke lantai satu menuju ke dapur memasak makan malam.
Sakura langsung membuka lemari es melihat apa yang bisa dimasaknya untuk makan malam kali ini. Dia lalu mencomot beberapa bahan-bahan darisana. Sepertinya kali ini dia akan memasak Kari dan Pasta. Beberapa menit berlalu akhirnya dia selesai lalu meletakkan masakannya di piring dan menaruhnya diatas meja.
Sakura menyiapkan beberapa piring, yaitu untuk ayah, ibu dan adiknya, dia berfikir bahwa pasti sebentar lagi mereka akan pulang.
Saat Sakura tengah mengambil nasi untuknya tiba-tiba bel rumahnya berbunyi.
"Siapa sih?!" gerutunya sedikit kesal. Lalu belnya berbunyi kembali dan semakin menambah kekesalannya. Dia lalu beranjak dari kursinya.
"Iya iya sebentar." Berjalan menuju pintu. Sakura menyalakan lampu ruang tamunya. Sampainya dipintu dia membukanya.
"Siapa sih yang datang jam segi-" kata-katanya terputus setelah apa yang dilihatnya. Seseorang dengan pakaian jubah berwarna hitam dengan motif awan merah, matanya hijau menyala wajah yang menyeramkan meskipun dia mnegenakan masker yang membungkus hidung dan mulutnya.
"A.. an..da siapa?" Sakura terbata-bata. Saat ini dia dilanda ketakutan. Karena ada orang yang aneh yang tidak dikenalnya saat ini sedang berada didepannya.
Orang itu menatap tajam Sakura. "Jadi kau orangnya. Aku akan membawamu kepada ketua." Ujarnya seram.
"Ka..kau siapa? Kenapa kau datang kemari?" Saking takutnya tangan Sakura sampai bergetar.
"Aku akan membawamu. Ayo ikut aku!" Orang itu langsung menarik tangan Sakura. Sakura yang tak terima memberontak.
"Lepas! Lepaskan aku! Tolong lepaskan! " dia meronta-ronta, tapi cengkraman orang itu semakin kuat . "Argh!" jerit Sakura, orang tersebut menggiring Sakura keluar dari rumah.
Sependar cahaya ungu terbentuk menyelubungi tubuh mereka. Saat hendak merapalkan mantra tiba-tiba "Fire Soul" sebuah api menghancurkan cahaya ungu itu.
Blasht
Seketika muncul seorang pria berambut hitam berkulit pucat memakai jubah panjang hitam. Orang tadi melepas cengkramannya dari tangan Sakura.
"Ternyata kau, Shimura Sai" orang itu menatap tajam Sai.
Sai tersenyum "Kau kaget? Kakuzu".
"Cih! Kau menghambat tugasku Shimura!"
Masih dengan ekspresi tersenyum, Sai lalu melontarkan api kearah Kakuzu "Fire Ball". Dengan gerak cepat Kakuzu menghindari api itu. Melihat aksi Kakuzu, Sai langsung melesat menuju ke Sakura yang masih terdiam tak mengerti dengan apa yang terjadi, menggendongnya kemudian men-teleportkan diri diteras rumah Sakura.
"Kau cepat kedalam!" perintah Sai.
Sakura masih terdiam di tempat, dia tak mengerti dengan semua ini, 'apa yang terjadi sebenarnya' itu yang ada dibenaknya sekarang.
"Hey! Cepat!" Sai menyuarakan lagi. Sakura tersadar dari lamunannya, dia langsung memasuki rumahnya, langsung mengunci pintu.
Sai melesat menuju ketempat tadi dirinya dan Kakuzu berada.
Sampainya disana Kakuzu sudah tidak ada, hanya ada temannya, Nagato.
"Dimana Akatsuki brengsek itu pergi?!" tanya Sai penuh emosi.
Nagato berjalan menuju kearah Sai. "Dia kabur, tapi dia terluka cukup parah."
Sai menghembuskan nafas lega. "Baguslah, setidaknya dia terluka."
Nagato teringat sesuatu "Oh ya, bagaimana keadaan Gadis itu?" tanyanya kemudian.
"Dia baik-baik saja." Sai lalu berjalan pergi dari tempat itu. Diikuti oleh Nagato.
Masih dengan ekspresi terkejut atas apa yang baru saja dialaminya, dia lalu membuka tirai jendelanya, melihat keluar apa yang terjadi setelahnya namun, kosong. Tidak ada siapa-siapa disana. Sakura semakin bingung, barusan tadi dirinya ditarik paksa oleh seseorang yang menyeramkam lalu tiba-tiba seorang pemuda datang menggagalkan pria aneh yang ingin membawanya dan pemuda itu membawanya kembali kerumahnya. Dan setelahnya mereka menghilang. Aneh!
Dia menutup tirainya jendelanya kembali, berjalan lagi menuju ke meja makan.
Sai menatap langit yang sedang terang dihiasi gemerlap bintang, sambil mengingat-ingat kejadian yang baru beberapa menit berlalu. Dia sangat kesal! Sering sekali para Akatsuki berkeliaran. Dan kali ini salah satu dari mereka hendak membawa seorang gadis. Tapi untuk apa dia ingin membawa gadis tadi?. Kecuali jika Akatsuki juga mengincar gadis yang juga dicari para Saint, Guardian Angel Naruto. Oh tidak! Ini bisa gawat. Sai yang memikirkan hal tersebut seketika menghentikan langkahnya. Nagato yang dibelakangnya juga ikut berhenti.
"Ada apa, Sai?"
"Menurutmu kenapa Akatsuki tadi ingin membawa gadis itu?" tanya Sai masih dengan berpikir.
Nagato mengendikan bahu."Entahlah, menurutmu?"
Mereka lalu melanjutkan langkahnya. Sai masih terihat berpikir.
"Aku berpikir, bagaimana jika mereka juga mencari Guardian Angelnya Naruto?"
Nagato memasang raut muka datar, "Mana mungkin? tidak ada hubungannya dengan mereka, Sai."
"Yah! Aku hanya berasumsi saja sih. Semoga asumsiku tidak benar. Dan jangan sampai para Eater mendahului kita" Sai membuang nafas pelan. Mereka masih terus berjalan. Sesampainya di perempatan mereka menghilang seperti hembusan angin.
.
.
.
Brukk
"Arggh!"
Tubuh penuh luka tengah terbaring di ubin lantai yang basah, bau anyir menguar di ruangan yang cukup luas tersebut. Geraman murka seseorang terdengar nyaring membuat siapapun takut untuk mendengarnya.
"Kau tidak mendapatkannya hah!"
"Ma..ma..af tuan. Aku gagal. A..aku.. di..ha..dang para.. Saint. Tu..an" ujar orang yang tubuhnya penuh luka, dengan suara tersendat-sendat.
"Bodoh kau Kakuzu! Bisa bisanya kau kalah dengan pemuda-pemuda ingusan itu hah!"
Kakuzu sangat ketakutan dengan tubuh yang sangat lemahya "Ma..af Tuan Madara.." rintih Kakuzu seketika dia memuntahkan darah dari mulutnya, sepertinya dia akan mati!.
"Maaf katamu? Kau mengecewakanku Kakuzu! Kau bilang kau akan mendapatkannya untukku hah?! Lalu mana? Mana gadis itu!" murka Madara, mencengkram kerah baju Kakuzu.
Kakuzu sudah tidak kuat, tubuhnya kian melemah akibat pertarungannya dengan Nagato tadi. Dia masih mencoba menjawab. "Ssshh.. maaf Madara." Ditengah kesakitannya dia mengucapkan maaf sekali lagi. Madara mulai muak, dia berjongkok.
"Cukup! Sekarang katakan siapa nama gadis itu?"
"Di..di..a.. Dia Ss-" Kakuzu semakin parah, darah keluar melalui sudut bibirnya, ucapannya terbata-bata. "Nama..nya. Ssa.. aarrrggh" rintihnya kemudian. Matanya melotot mulutnya menganga dan nafasnya terhenti. Dia mati!
Madara tadinya yang antusias untuk mendengarkan kata-kata Kakuzu semakin murka. "Argh, Sial!" geramnya. "Tidak bisa diandalkan!"
Glllrrr … Ctarrr
Madara melepaskan kekuatannya. Petir yang mengerikan. Suaranya terdengar cukup keras menggema diseluruh ruangan.
"Akan aku cari sendiri gadis itu." Madara kemudian berlalu dari ruangan tersebut, matanya berkilat berwarna merah dan membentuk sebuah pola. Pola yang indah namun siratan matanya sangat kejam.
Blam
.
.
.
Kediaman Haruno
Sakura tengah makan malam dengan keluarganya. Sudah sejak 15 menit yang lalu mereka makan, tapi Sakura belum memakan makanannya dari tadi ia hanya mengobrak-abrik makanannya, Mebuki menghela nafas dengan apa yang putrinya itu lakukan.
"Kau hanya membolak-balikkan makananmu daritadi, Sakura-chan"
Sakura tersentak oleh ucapan ibunya-karena sebelumnya ia melamun. "E-eh.. aku akan memakannya."
Mebuki dan Kizazhi menggelengkan kepala mereka. Sakura langsung memakan makanan yang daritadi hanya dicacah-cacahnya.
Dia masih teringat jelas kejadian yang menimpanya tadi, Tiba-tiba dirinya ditarik paksa oleh seorang yang mukanya menyeramkan, kemudian seorang pemuda menggagalkan niat orang tersebut dan membawanya kembali ke rumahnya, dan setelah ia masuk rumah lalu melihat keadaan diluar sudah tidak ada siapa-siapa, sepi. Sampai Konohamaru dan kedua orang tuanya pulang.
Dia berpikir bahwa yang ia alami barusan hanya mimpi, tapi kenyataannya tidak. 'Sebenarnya apa maksud semua ini?' ia bertanya pada dirinya sendiri.
..
Sakura kini berbaring tengah membaca buku-tepatnya kembali membaca, yang tadi siang sempat ia tunda karena mengantarkan Konohamaru ke tempat les.
'Kekuatan yang sangat besar, kebencian, dan rasa haus akan sesuatu yang sangat mengerikan saat dilepaskan. Dulu sebuah desa hancur karena kekuatan tersebut. Tidak ada orang yang selamat, mereka mati, darah dimana-mana, langit yang semula cerah berubah warna menjadi merah pekat sama seperti sebuah genangan darah. Demon semakin tak terkendali terus meraung-raung memporak-porandakan apapun yang ada disekitarnya, sampai Guardian Angel datang dan mengucapkan sebuah mantra dan tiba-tiba Demon berhenti bergerak, matanya yang semula merah menjadi hitam kelam yang sebelumnya menajam perlahan melembut. Mantra dari Angel kembali terucap seketika tubuh yang tadinya menjadi siluman perlahan-lahan kembali ke wujud manusia, saat itu pula Guardian Angel langsung mengucapkan mantra penyegel saat jiwa Demon keluar dari tubuh inang, dan Demon hilang, mencari inang yang lain, dan merupakan keturunan dari inang yang sebelumnya. Pada dasarnya jika sang inang mati maka harus ada pengganti, yaitu wadah untuk menyegel Demon. Ramalan menyebutkan bahwa ada 9 Guardian Angel yang terpilih dari Angel yang sebelumnya yang akan memusnahkan para Demons, bukan hanya dengan kekuatannya melainkan rasa cintanya, cinta abadi, cinta sejati.'
"Uh~" Sakura menggeliatkan badannya, matanya memerah tanda mengantuk, dan dia mulai menguap.
"Sepertinya kulanjutkan besok saja." Setelah berucap demikian Sakura langsung menutup bukunya, meletakkan buku itu diatas meja samping kasur.
Sakura melihat jam didinding, menunjukkan pukul 20.00. Sakura memang tidak terbiasa tidur larut malam, paling malam hanya sampai jam 9. Kini dia merapikan posisi tidurnya, mematikan lampu dan menutup matanya untuk segera menuai mimpi yang indah.
.
.
.
Naruto memasang muka tak senang di dalam mobil Shino, dia terus mengumpat dalam hatinya.
'Shit, seenaknya sendiri memaksaku!'.
Shino yang tengah konsentrasi menyetir melirik ke sahabatnya blondenya itu, dan hanya tersenyum menyerigai.
"Kau kenapa, Naruto?" tanya Shino masih fokus menatap jalanan.
Naruto berdecak sebal, "Heh, kau pikir kenapa?".
Shino tertawa hambar "Haha, maaf kawan. Lagipula tak mungkin aku datang sendiri, disana pasti banyak teman-teman sekelas Yakumo, akukan tidak kenal mereka! Kalau kau ikut bersamaku kan nanti aku ada teman ngobrol saat Yakumo sibuk dengan temannya."
"Ch, kau selalu beralasan!" Desis Naruto kesal.
Sebenarnya Naruto tadi berniat untuk kabur dari ajakan Shino saat ia sampai dirumah, dan hendak pergi bersama teman-temannya-maksudnya teman SMA-Mmm para Saint tepatnya. Persetan dengan ancaman Shino tadi siang tentang film 'blue' atau apalah.
Tapi sepulang dari tempat pertemuan (Phoniex), eh ternyata Shino sudah didalam rumah Naruto setengah jam yang lalu dan rencananya untuk kabur gagal!.
..
Deretan mobil dan motor tertata rapi di depan rumah yang cukup mewah. Shino memarkirkan mobilnya di ujung dekat pintu, pikirnya nanti tidak akan menunggu lama untuk mengeluarkan mobilnya saat pulang. Naruto melepas sabuk pengamannya begitu juga dengan Shino. Lalu mereka keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju rumah tempat pesta ulang tahun pacar Shino, Yakumo.
Suasana pesta sangat ramai, sepertinya acara pesta akan segera dimulai, terlihat semua orang tengah berkumpul diruang tengah mengerubungi gadis bersurai coklat digelung dengan menyisakan beberapa helai yang dikeriting, diserasikan dengan dress panjang lengan pendek berwarna putih, make up yang natural dan satu lagi tubuhnya yang ramping menambah kecantikannya. Gadis itu menoleh begitu dirasa ada yang datang dari arah pintu, dan dia tersenyum.
"Shino-kun!"
Shino yang namanya dipanggil kemudian berjalan menuju ke tempat Yakumo dan yang lainnya, Naruto mengikutinya dari belakang. Naruto sedikit risih namun tetap dengan muka dingin melekat diwajahnya, bagaimana tidak? Meskipun dia berdiri didekat Shino saat ini, banyak sekali gadis-gadis/teman-teman Yakumo yang berbisik-bisik sambil tersipu-sipu, mencolek tubuhnya, dan kata-kata yang membuatnya mual.
"Wah, dia tampan sekali!"
"Ya ampun dia sangat seksi!"
"Aku ingin jadi pacarnya!"
Dan masih banyak lagi ocehan-ocehan yang menggelikan dan memuakkan bagi Naruto, bukannya apa hanya saja dia tidak nyaman dengan cewek seperti mereka.
..
Naruto memejamkan mata, menikmati sejuknya angin malam yang berhembus di sekitarnya. Dia tengah berbaring di kursi pantai dekat kolam renang yang dihias cantik. Ah.. dia tidak peduli akan hal itu! Semula Naruto tengah memikirkan pekerjaannya, namun kini pikirannya tengah terbayang kenangannya bersama Sakura saat dia masih duduk di bangku SMA.
'Senja di desa Konoha,
"Naru-nii, kau mau kemana?" tanya Sakura yang tengah berlari kecil menghampiri Naruto.
Naruto mentorehkan senyum "Eh.. Sakura-chan ya? Aku mau ke ladang mau mengambil beberapa blueberry. Kenapa?"
"Tidak kenapa-kenapa." Ujar Sakura kemudian, lalu berucap kembali sebelum Naruto berniat pergi. "Mmm.. Naru-nii apa aku boleh membantumu memetik bluberrynya?" tawar Sakura penuh harap.
Naruto tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Baiklah. Kalau begitu ayo!"
Sakura langsung senang mendengarnya, dia pun segera mengekor Naruto.
Tak perlu waktu lama sampai di ladang, sesampainya disana mereka mulai memetik blueberry dan memasukkannya dikeranjang yang mereka bawa.
Sesekali mereka tertawa. Sakura yang tiba-tiba mengejar Naruto karena menjahilinya. Sampai akhirnya mereka selesai memetik bluberry dengan keranjang yang sudah terisi penuh.
Mereka berjalan pulang bersama cahaya matahari yang semakin memerah, langitnya terlihat sangat menabjubkan, dan Sakura terlihat sangat senang dengan pemandangan yang ia lihat. Naruto tertawa kecil melihat tingkah Sakura. Sesekali menegurnya karena tak memperhatikan jalan yang dilalui akibat keasyikannya memandang langit.
"Sakura-chan perhatikan jalanmu, nanti kau tersandung!"
Yang diomeli hanya tertawa, "Iya.. iya, habisnya langit itu indah sekali Naru-nii. Coba kau per-.. Kyaaa!"
Brruk
"Sakura-chan!" Naruto langsung meletakkan keranjang yang dibawanya dan segera menolong Sakura yang terjatuh di parit yang tidak cukup dalam, Naruto mengulurkan tangannya lalu menarik Sakura keluar.
Sakura meringis kesakitan sambil membersihkan tanah yang menempel di bajunya, lulutnya lecet hingga ternoda oleh darah. "Ssshh.. Aww, sakit."
Naruto mencoba membantunya berdiri, "Kau ini, sudah kubilang untuk hati-hati dan perhatikan jalan, Sakura-chan. Inikan akibatnya."
Sakura hanya bisa menganggukkan kepalanya, dia masih menahan sakit dan sepertinya kaki Sakura terkilir.
"Sepertinya kakimu terkilir Sakura-chan." Jelas Naruto sambil tetap memopoh Sakura.
Sakura hanya mengangguk lemah. Tiba-tiba Naruto menghentikan langkahnya, Sakura ikut menghentikan langkahnya yang terpincang pincang. "Ada apa Naru-nii?"
Naruto melepaskan tangannya yang tadinya memapah Sakura. lalu berjongkok didepan Sakura. Sakura mengerutkan kening hendak bertanya sebelum terhentikan ucapan Naruto.
"Cepat kemari, Aku akan menggendongmu."
Sakura tak bergeming, Naruto bersuara kembali. "Sakura-chan!"
Sakura tersentak, lalu segera menumpukan badannya di punggung Naruto. Pipinya memerah, entah kenapa, apa karena Naruto akan menggendongnya?, tak mungkin, karena sudah beberapa kali Naruto menggendongnya seperti ini. Tapi entah kenapa saat ini jantungnya berdegup kencang.
"Mmm, Sakura-chan tolong kau bawa keranjangnya ini."
Sakura mengangguk, "Y..ya" . sepetinya Naruto tidak menyadari ekspresi Sakura saat ini.
Mereka kemudian mulai berjalan pulang, Sakura masih merasakan sakit dikakinya yang terkilir memasang muka meringis. Naruto menyunggingkan senyum, "Tahanlah sebentar Saku-chan, sebentar lagi sampai rumah."
Sakura mengangguk lemah digendongan Naruto.
Dari tadi mereka hanya saling diam, tidak ada yang memulai pembicaraan. Sampai Sakura menanyakan sesuatu, "Mmm, Naru-nii? Apa aku boleh bertanya?"
"Ya, tentu boleh." Naruto menyahutnya dengan senyuman, sayang Sakura tidak melihatnya.
"Err, menurut Naru-nii bagaimana rasanya jadi anak SMA?"
Naruto terkekeh mendengar pertanyaan Sakura, Sakura mendengus sebal.
"Kau ini ada-ada saja Sakura-chan,bertanya yang aneh-aneh."
Sakura memanyunkan bibirnya, "Issh, tinggal jawab sajakan Naru-nii! Aku-kan cuma ingin tau!"
"Hehh~" Naruto menghembuskan nafasnya perlahan.
"Baiklah." Akhirnya Naruto menyerah, Sakura terkikik geli dalam gendongannya dan mulai menyimak penjelasan Naruto.
" Menurutku jadi siswa SMA itu cukup menyenangkan, yah walupun juga banyak yang menjengkelkan sih. Masa SMA, masa dimana kita dituntut untuk mulai menentukan sebuah pilihan, pilihan untuk masa depan kita nantinya. Masa dimana kita merasakan cinta yang rumit,berkelahi, berpetualang, bersenang-senang, melanggar aturan, keluar malam, membantah orang tua dan masih banyak lagi.
Bagaimana rasanya, tinggal individu masing-masing yang menjalaninya. Apakah dia banyak melakukan hal baik atau sebaliknya. Kalau aku kedua-duanya seimbang mungkin. Aku cukup merasa senang dan juga bebas. Kau pasti juga akan merasakannya Sa-" Naruto menghentikan kata-katanya, begitu merasakan bahwa Sakura tengah tertidur dalam gendongannya. Dia tertawa kecil.
"Huh~ dia pasti kelelahan." Naruto lalu tersenyum. '
Naruto tersenyum masih dengan mata terpejam sebelum akhirnya tersadar dari lamunannya, begitu handphonenya berdering. Segera dia mengangkat pangilan dari Handphonenya itu.
"Ada apa, Sai?"
"Kau dimana, Naruto?"
"Aku di pesta, kenapa?"
"Kami butuh bantuanmu, cepat ke Phoenix, Naruto!" suara yang terdengar serak.
"A..da apa sebenarnya, Sai?" ekspresi Naruto yang semula datar berubah menjadi serius.
"Sudahlah cepat!"
Tutt..ttuut
"Ck." Dia berdecak, melihat sekitarnya, ternyata sepi! sebelum akhirnya menghilang bersama hembusan angin.
…
TBC
~~~~Love Saves The Earth~~~~
Huhhh~ Akhirnya selesai juga nulisnya! Kepala rasanya berdenyut-denyut mikir nih Fanfic, chapter ini agak sedikit panjang dari sebelumnya. Padahal tadinya sangat berat, dan aku pikir bakal pendek, eh ternyata malah panjang. #Abaikan saja minna
Romancenya gimana? Lumayan gak? Aku gak terlalu ngefeel kalau buat romance.
Okeh aku ucapin thanks lagi yang udah review, read,fav & fol fanfic ini. Ada yang udah aku bales.
Yang minta Next, nih udah dilanjut.
Ren Supernaturalnya baru dikit di chap ini.
wah soal itu, maaf banget, aku salah taruh! *maap. Udah aku hilangin kok, hehe.
Cicely Garnetta Arigatou! , susah banget ngilangin tuh Typo, insyaallah gak banyak lagi yang ini. *berharap
Baiklah saya tunggu review yang lainnya, saran, kritik, dll.
