Hello ff bubble datang,
Please Read+Review
Don't be silent Reader!
Typo bertebaran dimana-mana.
Chapter 1 of 5
Xi Luhan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi dalam kereta Shinkansen yang akan membawanya melesat ke Kota Kyoto. Hari ini, saatnya ia pergi meninggalkan Kota Beijing. Kelak ia harus membiasakan diri hidup di Kota Kyoto yang tentunya tidak seramai Beijing.
"Nín bùbì dānxīn Lu (Kau tak perlu kuatir Lu). Kyoto bukan kota kuno seperti yang kau kira. Kau tahu kan, Kyoto juga sama modernnya dengan Beijing. Walau Kyoto dikenal sebagai kota kuno, kenyataannya teknologi modern tercipta di kota itu. Pusat game Nintendo, IT Giant Kyocera dan pembuat microchip ROHM ada di Kyoto. Industriwan kimia, Koichi Tanaka yang bekerja di Shimadzu Corporation, Kyoto, juga pernah mendapat hadiah Nobel." Kata Tuan Xi Zhoumi ayah Xi Luhan.
Luhan hanya menoleh sekilas ke arah ayahnya yang duduk di samping kanannya.
"Ah, Baba (Ayah), apa hubungannya peraih hadiah nobel dengan pindah ke Kyoto?" batin Luhan. Luhan tidak peduli Kyoto kuno atau modern. Ia hanya sedikit berat meninggalkan teman-teman sekolahny di Beijing. Tetangga-tetangganya yang telah hidup bersamanya selama hampir sepuluh tahun. Dan Suho… Kim Joonmyeon. Ia tak bisa melihat Suho lagi Kim Joonmyeon atau Kim Suho, pemuda berjiwa seni, yang hobi memeik bernyanyi di tempat sunyi.
Luhan berusaha merelakan semua yang harus ditinggalkannya di kota ini. Hanya dalam dua setengah jam, kereta api super cepat Shinkansen yang tersohor ini akan membawa Luhan ke Kyoto dari Tokyo -ia mendarat di bandara Tokyo karena ada beberapa hal yang harus di urus ayahnya-, meninggalkan semua yang disayanginya di Beijing…
Sudah tiga hari lalu mereka sampai di Kota Kyoto.
Xi Luhan menghirup udara pagi dalam-dalam, menikmati sejuknya setelah beberapa menit berada dalam bus sekolah yang membawannya dari rumahnya menuju tempat ini. Higashi Senior High School. Sekolah yang cukup besar. Perlahan Luhan melangkahkan kakinnya melewati pintu gerbang sekolah. Ia memasang wajah ceria.
"Ohayoogozaimasu (selamat pagi), Sensei (Pak Guru)" sapa Luhan pada seorang lelaki yang berdiri di depan pintu masuk sekolah.
"Ohayoo." Sahut lelaki itu.
"Saya Xi Luhan, murid baru di sini. Yorushikuonegaishimasu (Mohon bantuannya), di manakah letak kelas tiga, Sensei?"
"Ah, kau murid baru pindahan dari Beijing, kan? kau sudah lancar berbahasa Jepang ternyata"
"Iya, betul sekali, Sensei. Dulu saya sempat tinggal di Jepang" Jawab Luhan.
"Silahkan kau melapor dulu ke ruang guru. Di sana, ruang keempat dari sini." Kata bapak itu lagi.
"Domoarigatogozaimasu,Sensei (Terima kasih banyak, Pak Guru)." Sahut Luhan.
Luhan membungkukkan badannya, lalu ia bergegas menuju ruang yang ditunjukkan bapak tadi. "Ah, kenapa aku tidak sopan? Lupa menanyakan nama pak guru tadi." Batin Luhan.
Setelah dipersilahkan masuk ke dalam ruang guru, Luhan diminta untuk menunggu Siwon-san, wali kelas sekaligus guru bahasa inggris. Tak lama masuk bapak yang tadi telah membera informasi pada Luhan.
"Kau, Xi Luhan, ikut aku!" kata bapak itu.
Luhan membungkuk memberi hormat. Lalu segera mengikuti langkah bapak itu.
"Ojyamashimasu (Permisi), Sensei, apakah ini sensei Siwon-san?" Tanya Luhan. "Tebakanmu tepat sekali! Sepertinya kau anak yang cerdas, Xi Luhan-san." Jawab Siwon sensei.
Luhan tersenyum. Sesampainya di kelasnya yang terletak di lantai tiga. Ia hanya punya waktu satu tahun untuk bersekolah di sini. Dan ia akan melanjutkan pendidikannya sebagai mahasiswi.
"Ohayoogozaimasu (selamat pagi), anak2." Sapa Siwon setelah ia berada di depan kelas.
"Ohayoogozaimasu (selamat pagi), Siwon Sensei." Sahut semua anak kompak.
"Hari ini kelas kita mendapat teman baru. Xi Luhan-san, silahkan perkenalkan dirimu." Kata Siwon sensei.
"Hajimemashite. Xi Luhan desu. (Salam kenal. Namaku Xi Luhan). Aku baru
pindah dari Beijing tiga hari yang lalu. Aku pernah tinggal di Jepang, jadi bahasa Jepang ku sudah lancar" Sapa Luhan.
"Saat istirahat nanti, kau bisa berkenalan dengan semua teman kelasmu, satu persatu. Sekarang kita lihat di mana kau bisa duduk." Kata Siwon sensei.
Siwon sensei mengedarkan pandangannya ke seluruh isi kelas. Kemudian matanya berhenti di sebuah meja paling depan di barisan paling kanan. Satu dari dua kursi di hadapan meja itu.
"Chanyeol-san, ke mana teman sebangkumu Kai? Ia tidak masuk lagi?" Tanya Siwon sensei pada anak lelaki yang duduk di salah satu kursi di hadapan meja itu.
"Sepertinya Kai tidak masuk lagi, Sensei." Jawab anak itu.
"Untuk sementara, silahkan duduk di kursi kosong ini, Xi Luhan." Kata Siwon sensei. Luhan mengangguk dan segera duduk di sana. Park Chanyeol melirik diam-diam ke arah Luhan yang duduk di samping kirinya. Tiba-tiba saja Luhan menoleh ke arahnya dan tersenyum kepadanya.
"Hajimemashite.Douzo yoroshiku (Salam kenal. Senang berkenalan denganmu). Panggil saja aku Luhan." Sapa Luhan pada Chanyeol dan mengulurkan tangannya ke arah Chanyeol mengajak bersalaman.
Chanyeol menyambut uluran tangan Luhan.
"Kochirakosoyoroshiku (Senang juga berkenalan denganmu) Park Chanyeoldesu (Namaku Park Chanyeol)." Sahut Chanyeol.
Chanyeol mulai merasa murid baru ini menyenangkan. Ia merasa sangat beruntung murid baru ini ditempatkan sebangku dengannya. Sebangku dengan gadis manis seperti Luhan tentulah lebih menyenangkan daripada sebangku dengan Kai yang biang ribut.
Dan Xi Luhan, gadis itu memiliki aura positif tertentu. Senyum Luhan terlihat tulus dan manis sekali. Ia juga pandai bahasa inggris. Ia pandai melucu. Chanyeol menyukai gadis itu sejak melihatnya pertama kali tadi.
"Apa hobimu?" Tanya Luhan pada Chanyeol saat istirahat sekolah dan mereka duduk berhadapan di meja kantin.
"Aku suka sekali main basket." Jawab Chanyeol.
"Chanyeol bukannya suka lagi. Ia sangat terobsesi basket. Chanyeol akan melakukan apa saja demi basket. Termasuk berjuang memperebutkan posisi sebagai kapten basket. Iya kan, Chanyeol?" sahut Byun Baekhyun.
Chanyeol mendelik, merasa sedikit sebal karena Baekhyun yang tiba-tiba muncul. Baekhyun adalah teman sekelas mereka yang duduk tepat di belakang Chanyeol. Baekhyun memang seringkali menunjukkan perhatian berlebih pada Chanyeol. Tapi Chanyeol lebih sering tidak memedulikannya.
"Oh ya, Lu, kau tahu, kursi yang kau duduki di kelas sebenarnya adalah tempat duduk Kim Jongin , kami biasa memanggilnya Kai. Tapi Kai hari ini tidak masuk. Aku rasa besok kau terpaksa harus pindah tempat duduk." Lanjut Baekhyun.
"Benarkah Chanyeol? Seperti apa Kai?" Tanya Luhan.
"Tapi kau tak usah khawatir. Kursi belakang masih ada yang kosong. Besok kau bisa pindah tempat duduk di bagian belakang." Lanjut Baekhyun.
Chanyeol melirik Baekhyun, ia menduga ada nada iri dalam setiap kalimat Baekhyun. Sepertinya Baekhyun tak suka Luhan duduk sebangku dengan Chanyeol.
"Eh, aku tak keberatan duduk sebangku denganmu. Aku yakin, Siwon sensei tak akan memindahkanmu, Luhan. Tak mungkin murid baru ditempatkan di kursi paling belakang. Apalagi kau perempuan." Sahut Chanyeol sambil tersenyum.
"Memangnya kenapa kalau aku perempuan? Aku tak keberatan duduk di kursi belakang. Jika memang tempat duduk di sampingmu sudah ada pemiliknya, Chanyeol, nanti aku akan pindah ke kursi yang masih belum ada pemiliknya." kata Luhan dengan raut wajah serius.
"Jangan!" teriak Chanyeol tiba-tiba.
"Memang seharusnya begitu!" ujar Baekhyun.
Mendadak Chanyeol sebal sekali dengan tingkah Baekhyun. Luhan tertawa geli melihat reaksi Chanyeol dan Baekhyun .
"Gomennasai (maaf), Chanyeol-san. Bukannya aku tak suka menjadi teman sebangkumu. Aku hanya tak mau menyerobot milik orang lain." Ucap Luhan sambil nyengir lebar ke arah Chanyeol. Chanyeol menghela nafas. Ia memandang ke arah Baekhyun dengan tatapan kesal, sedangkan Baekhyun balas memandangnya dengan wajah puas penuh kemenangan.
Luhan sedang membereskan bukunya untuk pelajaran pertama di hari kedua ia bersekolah di Hagashi Senior High School, saat tiba-tiba saja telapak tangan kanan yang cukup besar menggebrak buku yang baru saja ia letakkan di atas mejanya itu.
"Kau murid baru ya?" Tanya anak lelaki penggebrak mejanya itu.
"Kai, apa yang kau lakukan?" Chanyeol tiba-tiba saja berdiri di samping anak itu.
"Kau jangan ikut campur Chanyeol! Aku ingin bicara dengan murid baru ini." Sahut anak yang dipanggil Kai itu.
Luhan mulai memahami situasi ini. Ia tersenyum manis.
"Kim Jongin? Hajimemashite.Xi Luhandesu. (Apa kabar? Namaku Xi Luhan). Aku sudah mendengar tentang kamu, Kai. Gomen nasai (maaf) kemarin aku meminjam kursimu. Tapi sekarang aku sudah pindah, tidak duduk di kursimu lagi. Apa ada masalah?" ucap Luhan.
"Itu masalahnya. Mengapa kau pindah dari kursiku? Silahkan duduk di kursiku itu, di sebelah Chanyeol. Biar aku yang duduk di sini." Sahut Kai.
Kai meletakkan tasnya di atas meja Luhan, lalu duduk begitu saja di samping Luhan. Meja yang terletak di barisan tengah paling belakang itu memang kosong. Luhan memandangi anak yang bersikap cuek itu dengan heran.
"Kau ingin duduk di sini?" Tanya Luhan.
"Iya. Ada masalah? Kau tidak suka duduk di meja paling depan?" sahut Kai dengan sikap tak peduli dan senyum sinis.
"Tapi kenapa kau ingin duduk di sini? Lebih enak duduk di depan, kan? Kau bisa lebih focus mendengarkan penjelasan sensei (guru)." Tanya Luhan lagi. Kai mencondongkan tubuhnya ke arah Luhan.
"Aku lebih suka duduk di kursi paling belakang. Duduk di depan membuatku mengantuk. Ini adalah kesempatan bagiku untuk kembali duduk di kursi paling belakang. Sekarang, silahkan kau duduk di depan. Jangan banyak tanya lagi. Kau cerewet sekali." Jawab Kai.
"Luhan, menurutku, sebaiknya kau duduk di tempat kemarin yang sudah ditunjukkan Siwon sensei saja." Kata Chanyeol.
"Ya, betul sekali. Chanyeol lebih pantas menjadi teman sebangkumu, murid baru!" sahut Kai sambil nyengir lebar.
"Namaku, Luhan, Kai-san! Tolong kau panggil aku Luhan, jangan murid baru." Kata Luhan menatap sedikit kesal ke arah Kai.
"Terserah apa pun maumu." Sahut Kai.
Ia malah mengeluarkan ipad, memasang headset, dan asyik mendengarkan musik. Kemudian bel tanda masuk berbunyi, Luhan lalu kembali ke tempat duduknya kemarin, di samping Chanyeol. Diam-diam Chanyeol melirik Luhan. Ia menarik nafas lega karena akhirnya Luhan kembali menjadi teman sebangkunya.
"Kau mau kan, menemaniku menjelajahi Kota Kyoto? Aku belum tahu seluk beluk kota ini." Pinta Luhan pada Chanyeol setelah jam pelajaran terakhir usai. Chanyeol tersenyum lebar.
"Tentu saja aku mau. Kau pasti suka Kyoto. Kota ini asyik sekali." Jawab Chanyeol.
Wajahnya cerah sekali. Menemani Luhan keliling Kota Kyoto, bagi Chanyeol sama artinya dengan kencan berdua.
"Kyoto sering sekali disebut sebagai kota kuno Jepang. Sebenarnya tidak sekuno itu. Hanya saja banyak peninggalan sejarah masa lalu yang masih dipertahankan di kota ini. Kau tahu kan, Lu, Kyoto pernah menjadi ibu kota kekaisaran Jepang. Tapi sekarang Kyoto adalah kota pariwisata. Banyak turis yang datang berkunjung ke kota ini, bukan hanya turis dari seluruh pelosok Jepang, tapi juga turis mancanegara. Bagi yang ingin melihat bagaimana aslinya budaya Jepang, cukup berwisata saja di kota ini." Kata Chanyeol.
"Kau menjelaskannya persis sekali pemandu wisata yang sedang memandu aku." Kata Luhan sambil tersenyum geli.
"Baiklah, bagaimana jika kita berperan seolah aku pemandu wisata dan kau adalah seorang
turis?" ajak Chanyeol.
Luhan tertawa semakin lebar. Dan Chanyeol suka sekali melihat Luhan tertawa. Luhan semakin cantik bila sedang tertawa.
"Popcorn!" gumam Chanyeol.
"Kau bilang apa, Chanyeol?"
"Ah, tidak apa2. Bagaimana, kau setuju menjadi turis yang aku pandu?"
"Berarti kau akan menjelaskan semua yang ada di Kota Kyoto ini?" Luhan balik bertanya.
"Kota Kyoto ada di bagian selatan Prefektur Kyoto. Ada empat sungai yang mengalir di kota ini. Sungai Kamogawa di bagian timur, Sungai Takanogawa di bagian tengah, Sungai Katsuragawa di bagian barat dan Sungai Ujigawa di bagian selatan. Kota Kyoto tepatnya berada di Lembah Kyoto, sering juga disebut lembah Yamashiro. Dikelilingi Gunung Higashiyama, Gunung Kitayama dan Gunung Nishiyama." Kata Chanyeol memulai penjelasannya.
"Pengetahuanmu luas sekali." Ucap Luhan sambil tersenyum senang.
Chanyeol tersipu malu.
"Nilai pelajaran geografimu pasti bagus." Lanjut Luhan.
Nilai pelajaran geografinya memang selalu bagus. Hanya saja ia lemah di pelajaran matematika, fisika dan kimia. Dan satu lagi, pelajaran bahasa inggris!
"Ah, tebakanmu kenapa tepat sekali, Lu? Aku memang paling suka pelajaran geografi." Sahut Chanyeol.
"Terlihat dari wajahmu yang antusias sekali bercerita tentang keadaan kota ini, sampai sedetail itu. Kau harus menjadi ahli geografi, Chanyeol! Atau sekalian saja menjadi ahli geofisika. Negara ini butuh banyak ahli geofisika, terutama untuk memantau keadaan gempa yang sering mengancam Jepang." Kata Luhan sambil menepuk bahu Chanyeol lembut.
Chanyeol semakin tersipu disentuh Luhan seperti itu. Diam-diam Chanyeol melirik ke arah Luhan.
"Ah, Luhan… kau benar-benar membawa perubahan positif dalam hidupku…" batin Chanyeol.
"Idemu bagus sekali, Luhan! Selama ini aku malah tak terpikir untuk menjadi ahli geografi. Tapi… sebentar, ahli geofisika… berarti harus paham ilmu fisika juga? Ah, justru itu kelemahanku!" sanggah Chanyeol.
"Fisika itu tidak sulit, Chanyeol. Kau hanya perlu memahami alam untuk bisa memahami ilmu fisika." Sahut Luhan.
"Luhan bilang fisika tidak sulit? Pasti dia anak jenius!" ucap Chanyeol dalam hati.
Jangan-jangan gadis itu bisa segalanya. Sudah dua minggu Luhan bersekolah di sini dan ia tak pernah terlihat kesusahan menghadapi semua pelajaran di sekolah. Lalu apa kelebihan Chanyeol di banding Luhan? Chanyeol pandai bermain basket. Ia adalah kapten basket di sekolah ini.
"Ohya, kau harus siap-siap menghadapi perubahan suhu dan cuaca yang ekstrim di kota ini. Karena kota ini dikelilingi pegunungan, perbedaan suhu antara siang dan malam, antara musim dingin dan musim panas lumayan besar. Mungkin kau butuh waktu untuk beradaptasi sampai kau terbiasa dengan perubahan suhu di kota ini." Kata Chanyeol.
Luhan mengangguk-angguk tanda mengerti.
Chanyeol melanjutkan aksinya sebagai tour guide bagi Luhan.
Luhan terpesona melihat rumah-rumah kayu di kota ini yang masih terawat dengan baik.
"Bagaimana Kyoto menurutmu? Tidak semodern dan seramai Beijing ya?" Tanya Chanyeol.
"Di sini tidak sesibuk Beijing. Tapi, aku mulai suka berada di sini. Aku jadi punya banyak waktu merenung." Jawab Luhan.
"Aku suka sekali tinggal di kota ini. Aku pernah ke Beijing, tapi bagiku, suasana Kyoto lebih menyenangkan. Kyoto selalu indah sepanjang tahun. Dipenuhi salju di musim dingin, bunga sakura bermekaran di musim semi, bukit2 yang sejuk di musim panas dan pemandangan warna-warni daun musim gugur." Kata Chanyeol.
"Ah ya, mekarnya bunga sakura! Sekarang masih ada, kan? Ini kan musim semi…" sahut Luhan.
"Kau sudah pernah ke bukit di belakang sekolah? Di sana ada sebatang pohon sakura. Walau hanya satu pohon, tetapi saat musim semi, bunganya penuh sekali. Bukit yang biasanya sepi itu mendadak akan ramai dipenuhi guru dan murid2 yang ingin menikmati indahnya bunga sakura bermekaran. Tapi sepertinya saat ini bunga sakura di pohon itu sudah berguguran semua. Kau terlambat datang. Bunganya sudah mekar sejak tanggal 3 April kemarin." Kata Chanyeol.
"Bukit di belakang sekolah?" Mata Keiko mendadak berbinar-binar.
"Di Kyoto, tempat untuk hanami (melihat sakura) yang paling ramai adalah di Maruyama Park dan sepanjang sungai Kamogama. Tapi sekarang sudah akhir April. Pasti sudah tak banyak bunga Sakura yang mekar di sana." Lanjut Chanyeol.
Luhan masih saja memikirkan bukit di belakang sekolah. Bukit itu cukup rimbun ditumbuhi banyak pepohonan besar dan tampak sepi.
"Aku rasa, tur kita hari ini sudah cukup. Capek juga berjalan kaki keliling kota. Kapan-kapan kita lanjutkan lagi." Ucap Luhan.
Kenichi mengangguk.
"Kita jelajahi Kyoto pelan-pelan. Aku akan setia menjadi pemandumu. Kapan pun kau perlu aku untuk menenmaimu, katakan saja." Sahut Chanyeol.
Luhan tersenyum lebar.
"Kau memang teman yang baik, Chanyeol!" kata Luhan.
"Ayo, kuantar kau pulang. Kita naik bis saja. Nanti kau kelelahan jika harus berjalan kaki lagi." Ajak Luhan.
Luhan mengangguk. Sebenarnya rumah Chanyeol dan Luhan tidak terlalu jauh. Hanya berjarak lima blok saja. Chanyeol mengantar Luhan hingga sampai di depan rumahnya.
"Domoarigatogozaimasu (terima kasih banyak). Kau sudah menemaniku berkeliling Kota Kyoto dan mengantarku sampai di rumah, Chanyeol." Ucap Luhan, ia tersenyum.
"Douitashimashite (terima kasih kembali). Kapan-kapan aku akan mengundangmu makan siang bersama di rumahku. Ibuku pandai sekali memasak. Dan dia suka sekali jika ada teman perempuan yang datang berkunjung ke rumah." Sahut Chanyeol.
"Aha, pasti sudah banyak gadis-gadis di sekolah kita yang pernah kau undang ke rumahmu ya? Aku tau Chanyeol, banyak gadis yang menyukaimu di sekolah. Park Chanyeol, kapten basket Higashi Senior High School! Tentu saja menjadi idaman banyak gadis." Goda Luhan.
"Aaah, tentu saja tidak, Luhan! Belum ada satu pun gadis di sekolah kita yang pernah kuundang datang ke rumahku." Sahut Chanyeol.
"Tapi tadi kau bilang, ibumu senang sekali jika ada gadis yang berkunjung ke rumahmu."? Ucap Luhan.
"Eh, maksudku, ibuku sering bilang begitu. Ibuku sering bilang begini: kenapa kau tak pernah mengajak teman sekolahmu yang perempuan berkunjung ke sini, Chanyeol? Haha (ibu) ingin sekali menjamunya dengan hidangan yang lezat. Kapan kau punya pacar?" kata Chanyeol.
Luhan tertawa terbahak-bahak.
"Ah, mana mungkin kau belum punya pacar?" sahut Luhan.
"Tapi aku memang belum punya pacar." Sanggah Chanyeol.
"Serius? Memang‟y tak ada gadis yang kau sukai di sekolah? Ah, kasihan sekali kau Chanyeol. Sudah kelas tiga senior high school tapi belum punya pacar." Ledek Luhan.
Chanyeol tertegun. Tentu saja sekarang ini ada gadis yang disukainya di sekolah, gadis itu Xi Luhan.
"Kau sendiri, memangnya kau sudah punya pacar?" Chanyeol balik bertanya.
Luhan menatap Chanyeol lekat.
"Tentu saja. Aku pernah punya pacar di Beijing." Jawab Luhan.
"Pernah punya? Maksudmu sekarang sudah tidak punya lagi?" Tanya Chanyeol.
"Kami terpaksa berpisah karena aku harus pergi meninggalkan Beijing. Untuk apa tetap menjalin hubungan jika jarak kami sudah terlalu jauh." Jawab Luhan.
Padahal bukan itu alasannya kenapa ia tak bisa meneruskan perasaannya pada Kim Joonmyeon.
"Jika kalian memang sungguh-sungguh saling mencintai, jarak sejauh apa pun tak akan ada artinya." ucap Chanyeol.
Ucapan Chanyeol itu telak sekali membuat Luhan mati kutu.
"Eh, maafkan kata-kataku, Keiko. Aku ini sok tahu sekali. Padahal aku sendiri belum pengalaman soal cinta. Aku belum pernah pacaran sama sekali." Kata Chanyeol.
Ia merasa bersalah melihat raut wajah Luhan berubah menjadi murung.
"Hah? Kau belum pernah pacaran sama sekali, Chanyeol? Kau serius tidak pernah jatuh cinta?" Tanya Luhan.
Chanyeol menggeleng kuat-kuat.
"Padahal aku ingin juga sekali-kali merasakan nonton film bioskop berdua dengan gadis yang aku sukai seperti teman-temanku yang lain. Aku tidak seperti Kai yang sudah berkali-kali gonta- ganti pacar." Jawab Chanyeol.
"Hm, baiklah. Aku akan mengajarimu cara mendekat seseorang yang kau sukai." Kata Luhan.
"Itu bagus sekali! Luhan, maukah kau kapan-kapan menemaniku nonton film di bioskop?" Tanya Chanyeol.
"Memangnya kau menyukai aku? Kau bilang kau ingin nonton berdua dengan orang yang kau sukai, kan?" Luhan balik bertanya.
"Aku memang menyukaimu." Jawab Chanyeol. Kemudian ia tertegun dengan jawabannya sendiri.
"Maksudku, aku menyukaimu sebagai teman. Kau teman yang menyenangkan." Lanjut Chanyeol.
Chanyeol masih ingin menyembunyikan perasaannya pada Luhan.
"Okay, aku mau nonton berdua denganmu. Tapi ada syaratnya." sahut Luhan.
"Apa syaratnya?" Tanya Chanyeol.
"Kau harus bisa mengalahkan aku bermain basket satu lawan satu." Jawab Luhan.
Chanyeol tertegun. Ia belum pernah melihat Luhan bermain basket. Kegiatan olahraga yang dipilih Luhan adalah atletik. Chanyeol tersenyum lebar. Ia yakin sekali bisa mengalahkan Luhan.
"Aku setuju sekali." Sahut Chanyeol.
"Baiklah, besok setelah usai sekolah, kita akan bertanding. Siapkan dirimu, Chanyeol." Kata Luhan sambil tersenyum.
"Setiap hari aku sudah bermain basket, Luhan. Aku berharap besok tak sulit mengalahkanmu." Sahut Chanyeol.
"Kita lihat saja besok." Ucap Luhan sambil mengedipkan mata kirinya.
"Jaa (sampai jumpa), Chanyeol." Lanjut Luhan.
Chanyeol mengangguk.
"Mataashita (Sampai jumpa besok) di sekolah." Ucap Chanyeol.
Ia mulai melangkah menjauh dari depan rumah Luhan. Luhan tersenyum. Hari ini cukup menyenangkan.Selama enam belas tahun hidupnya, Luhan hanya pernah sekali berkunjung ke kota Kyoto saat study tour bersama rombongan sekolah junior high schoolnya.
Mentari musim panas masih bersinar menyelimuti lapangan basket outdoor di Higashi Senior School. Padahal ini sudah jam bubar sekolah. Chanyeol bersiap memantulkan bola basket yang sejak tadi ia pegang erat. Luhan sudah bersiap untuk menghalangi Chanyeol memasukkan bola basket itu.
Pertandingan basket satu lawan satu akan segera dimulai. Sebenarnya mereka tidak mengumumkan rencana mereka ini kepada siapa pun. Tetapi melihat mereka asyik bertanding berdua, beberapa murid yang belum pulang tertarik untuk melihat Chanyeol dan Luhan bertanding. Baekhyun juga ikut menonton. Ia berharap Chanyeol mengalahkan Luhan. Kai yang super cuek pun ikut menonton juga. Ia ingin tahu seberapa tangguh murid baru itu. Diam-diam Kai kagum dengan kecepatan lari Luhan. Kai tertarik ingin mengajak Luhan ikut serta dalam komunitas Yamakashi (free running) Kota Kyoto. Awalnya Chanyeol sedikt menganggap remeh Luhan. Tetapi ia keliru. Berkali-kali Luhan berhasil menggagalkannya memasukkan bola ke keranjang. Bahkan Luhan mendapat skor lebih dulu. Kai berseru memberi semangat paling keras.
"Sugoi (hebat), Luhan!" teriak Kai sambil bertepuk tangan.
Baekhyun menatap sebal kepada Luhan dan menatap heran kepada Kai yang tiba-tiba mendukung Luhan.
Chanyeol semakin waspada. Sedangkan Luhan tetap santai tapi serius. Hingga akhirnya Chanyeol mendapat skor. Ia tak mengira Luhan sehebat ini. Chanyeol tersenyum agak lega saat ia bisa mengungguli dua angka dari skor Luhan. Tapi senyumnya segera lenyap saat sampai waktu yang mereka tentukan habis, skornya dan Luhan seri.
Seri dengan Luhan sama saja kalah baginya. Bagaimana mungkin ia bisa kalah dari perempuan?
"Sayang sekali, Chanyeol. Kau tidak berhasil mengalahkan aku. Itu artinya kita tidak jadi kencan nonton berdua." Ucap Luhan, lalu ia tersenyum lebar.
"Luhan, kenapa kau tak bilang-bilang kalau ternyata kau jago main basket?" Tanya Chanyeol penasaran.
"Kau tidak pernah bertanya." Jawab Luhan singkat.
"Apakah kau… ikut tim basket sekolahmu waktu di Beijing?" Tanya Chanyeol curiga.
"Aku dulu kapten tim basket di sekolahku di Beijing. Dan rasanya aku kangen juga sudah lama tak bermain basket. Tiba-tiba saja aku tertarik ingin mendaftarkan diri ikut basket wanita di sekolah ini." Jawab Luhan.
"Dame! (jangan)." Cegah Chanyeol cepat-cepat.
"Kenapa? Kau tak suka aku bermain basket?"
"Luhan… aku… aku baru mengenalmu sebentar, tetapi kau selalu membuatku terkejut. Kau mengusai hampir semua hal. Sedangkan aku, aku hanya mahir bermain basket. Jika kau ikut basket juga, dan berhasil menjadi tim basket wanita di sekolah ini, apa yang bisa aku banggakan dari diriku padamu Luhan? Aku mohon, bisakah kau memilih fokus pada olahraga lain?" jawab Chanyeol.
"Baiklah, Chanyeol, aku tidak akan ikut tim basket sekolah. Kau jangan khawatir." Janji Luhan sambil tersenyum.
Lalu ia pergi meninggalkan lapangan itu. Diiringi tatapan sebal Baekhyun dan tatapan kagum Kai. Luhan segera pergi ke tempatnya merenung. Tempat yang disebutnya sebagai Heavenly Garden.
Di bukit belakang sekolah ini, Luhan kembali menikmati tempatnya menyepi.
"Kimochi (nyaman rasanya)." batin Luhan, lalu ia memejamkan mata.
'Jangan masuk tim basket sekolah.'
Permintaan Chanyeol tadi sempat mengejutkan Luhan.
"Baiklah, Chanyeol! Aku tidak akan masuk tim basket sekolah. Demi kamu." Batin Luhan sambil tersenyum lebar.
Luhan memberanikan diri mendatangi bukit ini setelah Chanyeol memberitahukan padanya tentang keberadaan bukit di belakang sekolah ini. Ia terkadang butuh saat menyendiri. Terutama jika ia sedang terkenang dengan seorang yang disukainya waktu di Beijing dulu. Kim Joonmyeon… Suho yang dulu disukainya dan menyukainya. Tapi Luhan terpaksa harus mengalah, karena Zhang Yixing juga menyukai Suho. Zhang Yixing sahabatnya sejak kecil dulu. Luhan tidak mungkin melukai perasaan sahabatnya sendiri. Luhan masih bisa melanjutkan hidup tanpa Suho…
Perlahan namun pasti ia mencoba melupakan sosok Suho. Ia akan menemukan pengganti Suho. Tapi mengapa bayangan sosok Suho masih saja sering muncul jika ia sedang menyendiri seperti ini?
"Kau merebut tempat favoritku!"
Suara teriakan itu mengejutkan Luhan. Ia segera mambuka matanya. Luhan segera bangkit duduk dan memperhatikan sosok yang telah berdiri tegap di hadapannya.
TBC/END?
Bubblejoy coming, chapter pertama udah bubble update.
review ok?
makin banyak yang minta lanjut, chapter 2 makin cepat bubble publish.
