DISCLAIMER

VOCALOID MILIK PEMILIKNYA MASING-MASING

Story by MiyuTanuki

Dilarang keras meniru tanpa sepengetahuan MiyuTanuki

Kesalahan penulisan, typo, dan lain-lain mohon dimaklum.

Untuk itu dimohon untuk RnR.

Kita masih belajar ^^


CHAPTER 2


Huek!

"Yang benar saja, ini hanya mayat biasa" Mayat biasa.

Meiko mengerlingkan mata dan segera meninggalkan toilet. Ia bisa tahan dengan keadaan paling buruk dimana mayat dalam kondisi mengenaskan. Benar-benar mengenaskan. Seperti daging manusia yang terkoyak, atau darah yang bececeran dari kepala yang sudah tidak berbentuk. Namun ia akui bahwa ia tak tahan dengan bau menyengat yang akan di keluarkan oleh muntahan seseorang.

Meiko menghampiri Kiyoteru yang kini terdiam di tepi ruangan. Bersandar dengan tenang pada dinding sembari memejamkan mata. Ia terlihat sangat lelah. Mungkin efek dari kekurangan tidur selama 1 minggu.

"Apa gadis itu benar-benar terpilih dengan pemilihan selektif?" Meiko berbisik. Berharap tim lain tak dapat mendengarnya.

Kiyoteru tidak menanggapi. Ia masih mengerutkan keningnya dengan mata yang terpejam. Mata Meiko tetap terkunci pada tim D. Melihat betapa sibuknya mereka yang berbanding terbalik dengan timnya. Meiko kembali menatap Kiyoteru, dengan teliti ia memperhatikannya.

"Dan kau tertidur?! Hei!" Meiko mendorongnya, membuat Kiyoteru terlonjak kaget sebelum ia mendarat di lantai dengan keras.

Kiyoteru mengusap rahangnya yang kini berdenyut. Erangan terdengar dari mulutnya. Ketika kau terjatuh dengan posisi kodok seperti itu, siapa yang tidak akan malu? Dan tepat sekali Kiyoteru terlihat konyol dengan posisi mengerikan itu.

Ia menggeliat disana. Terlihat tanda-tanda ia akan kembali memejamkan mata dan menenangkan diri di alam mimpi. Meiko duduk di hadapannya, mencubitnya berkali-kali. Namun itu tak membatalkan niat Kiyoteru untuk kembali tertidur. Dan kali ini Meiko menampar wajah Kiyoteru, membuat matanya sontak terbuka dengan horor. Ia melenguh ketika mendapati Meiko dihadapannya. Dan hal yang parah adalah Kiyoteru yang masih belum menyadari betapa awkward nya posisi ia sekarang. Meiko secara tak sadar menertawakannya, membuat Kiyoteru mengerjapkan mata beberapa kali. Meiko berdiri dan mengeluarkan ponselnya, tanpa aba-aba ia mengambil beberapa foto posisi Kiyoteru dan kembali menertawakannya.

"Apa yang sebenarnya kau lakukan?" Akhirnya Kiyoteru duduk dan membenahi letak kacamatanya.

"Konyol sekali." Kekehan Meiko kembali terdengar. Beberapa petugas menatap tajam ke arah mereka.

Kiyoteru mencoba untuk memfokuskan diri pada keadaan disekitarnya. Ia bahkan tak pernah mengingat ia sedang berada di tempat kejadian. Ia menatap kearah seorang gadis yang kini tergeletak tak berdaya. Dengan besi yang menancap di perutnya, matanya yang terbuka begitu saja, dan juga rambutnya yang dipotong secara acak. Kiyoteru mengusap matanya, lalu menatap Meiko yang kini terkekeh pelan.

"Aku bahkan amnesia sesaat hanya karena kekurangan tidur." Hal itu kembali membuat Meiko bersusah payah untuk menahan tawanya.

Kiyoteru berdiri dan membuka beberapa file di ponselnya. Meiko kembali menanyakan gadis yang baru saja kembali dari toilet itu. Gadis yang kini sedang meminta maaf karena terlalu lama berada ditoilet itu nampak sangat pucat.

"Ah? Miku? Tentu saja ia terpilih secara selektif. Dan yang kulihat, kinerjanya pun cukup bagus—" Jawaban itu membuat Meiko menatap tajam ke arah Kiyoteru.

"Di bidang arsip. Bukan di lapangan. Sejujurnya aku cukup terhibur ketika melihat petugas yang mual karena melihat keadaan mayat. Namun untuk kasus gadis itu, aku tak tega. Ia baru saja bergabung." Kiyoteru menatapnya tak percaya.

Sekali lagi ia membenahi letak kacamatanya. Bahkan ia tak membalas argumen Meiko. Kembali ia tenggelamkan konsentrasinya pada data-data korban pembunuhan lain. Meiko berdecih, merasa dirinya diabaikan oleh sang ketua perfeksionis ini. Ia kembali melihat situasi di apartemen korban ini. Ia bahkan tak tau tugas apa yang harus ia selesaikan disini. Ini hanya pembunuhan biasa. Ia menyentuh beberapa barang disana, yang langsung saja mendapat tatapan sangar sang ketua.

Sebenarnya ia hanya ingin pulang. Menikmati kehangatan selimut. Namun lagi-lagi ia terjebak pada kasus rendahan seperti ini. Pembunuh yang satu ini hanya mencoba untuk meniru trademark sang psycho namun gagal. Meiko sudah menghadapi berbagai macam cara pembunuhan sang psycho, dan ia mengetahui bahwa korban selalu memiliki tanda bekas cekikan kuat. Dan korban ini secara jelas tidak memiliki tanda itu. Namun para petinggi tetap mengirimkan Meiko dan Kiyoteru –yang kebetulan saat itu mereka akan pulang— untuk mengecek sang korban yang di sinyalir adalah korban sang psycho itu.

Meiko menghela napas kasar. Ia beberapa kali mengirim pesan kepada gakupo –pesan yang berisikan taktik agar mereka bisa pergi— untuk segera datang ke tempat kejadian. Terlihat tim D yang secara jelas sibuk dengan beberapa bukti yang tersedia. Meiko bahkan tak ingin membuang tenaganya secara sia-sia hanya untuk membantu mereka. Ponselnya berdering, membuat Meiko kembali menghela napas berat.

1 Message

Kai: aku sudah membawa file yang kau tinggalkan di apartemen ku. Aku sedang dalam perjalanan kesana.

Ia tersentak dengan pesan itu. Ia bahkan tak pernah mengingat tentang file yang berada di apartemen Kaito itu. Mungkin saja ini efek dari ia yang tidak –sangat tidak— ingin berada disini. Membuat pikirannya berterbangan ingin segera membaringkan diri di ranjang hangatnya. Lagi-lagi ponselnya berdering. Dan sudah dipastikan bahwa Kaito sudah berada di depan gedung apartemen ini.

"Yah! Megane-kun. Seseorang memanggilku. Aku akan kembali beberapa saat lagi." Dengan itu Meiko berlari, meninggalkan Kiyoteru yang kini melenguh lemas tak berdaya.


Malam di musim dingin membuat beberapa petugas menghangatkan diri dengan secangkir kopi yang sengaja di bawakan oleh beberapa diantara mereka. Malam ini salju turun cukup lebat. Bahkan ketika Meiko baru saja menginjakkan kaki ke luar gedung apartemen, angin malam yang dingin ini pun seketika membuatnya mengigil. Ia mencari-cari sosok bersurai biru di balik kerumunan manusia yang memiliki rasa penasaran tinggi tentang apa yang terjadi di gedung ini. Beruntunglah para petugas kepolisian membatasi mereka dengan police line. Karena gedung ini sudah di karantina, di tujukan agar mereka dapat menemukan jejak si pembunuh. Namun tetap saja itu sia-sia.

Akhirnya ia melihat pria itu. Di tengah kerumunan dan sedang berusaha untuk mencapai police line. Meiko tersenyum kecil melihat betapa konyolnya kepolosan Kaito ketika ia tak sengaja menyenggol seseorang. Dan ucapan kata 'permisi' selalu terlihat ketika ia melewati seseorang. Disinilah pria itu, berbincang sebentar kepada petugas disana dan akhirnya dapat menghampiri Meiko secara leluasa.

"Ini file mu." Meiko menatap isi file itu. Lalu ia mengingat semuanya.

Meiko membuka lembar demi lembar. Memastikan semuanya dalam posisi yang tepat sebelum di berikan pada ketua perfeksionis itu. Meiko mengangguk pasti. Ia merasa bangga pada dirinya sendiri hanya dengan melihat file ini. Hingga akhirnya Gakupo mendekati mereka.

"Yo!" Tepukan Gakupo mendarat di bahu Kaito. Yang di balas dengan anggukan dari Kaito.

Meiko memicingkan matanya. Melihat mereka berkelakuan seperti teman dekat membuatnya tak nyaman. Gakupo mencuri-curi pandang pada file yang kini ia genggam. Dan ekspresi terkejutpun terlihat di wajahnya.

"Kau? Kau berhasil mendapatkan file ini? Kau benar-benar gila." Gakupo merebut file itu sesegera mungkin.

"Aku meretas beberapa file dari divisi forensik. Dan aku berhasil mendapatkan itu. Bukankah itu cukup membanggakan?" Meiko membusungkan dadanya. Benar-benar mencoba untuk bertingkah angkuh. Sementara Gakupo hanya mengangguk senang.

"Kau berikan file itu pada Megane-kun. Ia pasti akan lupa dengan rasa lelahnya." Gakupo memberikannya kedipan dan pergi berlari meninggalkan Meiko dan Kaito secepat kilat.

Hanya karena file itu, tim mereka dapat merasa senang. Mengapa? Tentu saja hal itu karena Meiko berhasil merebut file tentang pembunuhan 1 bulan yang lalu –insiden gadis tanpa 10 jari—. Dan itu akan membuat mereka lebih mudah satu langkah untuk menemukan siapa pembunuh yang sudah mereka kejar selama 3 tahun.

Meiko terkekeh pelan. Menyadari betapa mudahnya ia mendapatkan file itu. Pasalnya, mereka tidak di berikan wewenang untuk mendapatkan berkas secara menyeluruh tentang insiden itu. Namun Meiko tahu bahwa di balik senyuman menerima-dengan-lapang-dada Kiyoteru saat petinggi memberitahukan bahwa mereka tak memiliki wewenang untuk itu, benar-benar sangat dipalsukan. Ia melihat adanya keinginan yang menggebu di balik tatapan palsu Kiyoteru saat itu. Ia dengan posisi sebagai ketua –yang terlalu perfeksionis— sudah cukup lelah untuk berdecih ketika ia –lagi-lagi— tak dapat menemukan jejak sang pembunuh.

Dengan senyuman yang masih mengembang di paras indahnya –yang terkadang menjadi cukup menakutkan—, Kaito bedeham keras. Membuat Meiko kembali pada kenyataan.

"Malam ini cuaca cukup buruk. Ku harap kau segera pulang ketika semua ini selesai." Kaito melepaskan syal biru itu dan mengenakannya pada Meiko.

Meiko hanya tersenyum. Ia merasa hidup seperti manusia normal. Ia senang dengan kehadiran Kaito di kehidupannya. Pria yang terkadang cukup idiot untuk mengatakan sesuatu. Pria yang terkadang membuatnya kesal hanya karena sebuah ice cream. Pria yang terkadang menjadi sangat dewasa ketika Meiko terlalu memforsir dirinya pada pekerjaan. Namun kembali pada kenyataan, ia tak seperti Kaito yang dapat dengan mudahnya bersosial. Sifat psychopath nya inilah yang membuat ia memutuskan untuk bekerja di bidang ini. Tak sedikit orang yang menganggapnya menakutkan atau aneh. Dan disinilah ia menemukan tempat ia berada. Tetap saja di balik semua itu, Meiko menyayangi Kaito seperti ini –meskipun ia tak pernah mengatakan secara lisan—.

Dan Meiko menyadari pandangan Kaito bukan padanya. Ia mengikuti arah pandang Kaito, dan melihat sepasang kekasih yang sepertinya sedang kencan lalu menemukan adanya keributan ketika korban itu dibawa menuju ambulans. Tak ada seorangpun yang dapat melihat keadaan sang korban karena kondisinya yang dihalangi begitu banyak petugas. Kaito memandang jauh pada pasangan itu. Seolah ia sedang berangan-angan tentang sesuatu.

Meiko tahu bahwa hubungannya dengan Kaito tak akan berjalan seperti sepasang kekasih yang kini mereka perhatikan. Tak akan seperti sang pria yang menjaga gadisnya dengan protektif seperti itu. Ia tak bisa memberikan harapan bahwa ia bisa menjadi seperti gadis cantik dan anggun itu. Gadis itu memiliki mata berwarna biru sebiru sapphire, dengan rambut blonde halus sebahu. Ia memandang penampilannya sendiri. Ia tak lebih dari seorang wanita selalu berpakaian formal karena terlalu banyak menghabiskan waktu untuk pekerjaan. Matanya pun tak seindah gadis itu. Tatapan Kaito penuh dengan harapan, membuat jantung Meiko berdegup kencang hingga ia merasa tak ada oksigen yang tersisa di sekitarnya.

Kaito melepaskan pandangan pada sepasang kekasih itu ketika Meiko menggenggam tangan hangatnya. Apa yang Meiko rasakan kali ini? Ia bahkan tak mengetahuinya. Baik di akui ataupun tidak, jauh di lubuk hatinya Meiko berteriak. Tak menginginkan Kaito memandang pasangan lain. Tak menginginkan Kaito berharap hubungan mereka seperti pasangan lain. Atau jawaban yang termudah adalah ia cemburu? Baik, ia terlalu egois untuk mengakui hal itu.

"Ah! Maaf. Aku sedikit melamun tadi." Tawa Kaito di ikuti dengan terlihatnya rona merah di wajahnya.

"Baiklah. Sepertinya aku harus pulang. Esok pasti akan menjadi hari yang panjang." Rona di wajahnya masih terlihat. Membuatnya tertawa dengan canggung.

Kaito kembali membetulkan letak syal yang kini Meiko kenakan. Lalu ia mengelus perlahan puncak kepala Meiko. Sebelum akhirnya ia berlalu.


Meiko kembali terjebak pada keadaan dimana ia tak bisa menghabiskan waktunya di rumah. Dan ia bersumpah ketika semua file sialan ini selesai, ia akan menghabiskan waktu di apartemen Kaito. Meiko mendengus dan melemparkan beberapa file yang sudah ia tangani. Sudah satu minggu sejak pembunuhan gadis itu terjadi. Namun masih tak ada tanda-tanda akan di temukannya si psycho sialan itu.

"Keluarkan aku dari kegelapan ini!" Teriak Meiko. Membuat beberapa inspektur yang bernasib sama dengannya memberikan tatapan tajam.

Bersamaan dengan itu Meiko hampir saja terjatuh dari duduknya. Itu disebabkan karena ponselnya yang berdering cukup nyaring membuat siapa sajak akan terlonjak mendengarnya. Dengan tergesa-gesa Meiko menjawab panggilan itu.

"Sakine desu." Meiko berdiri canggung ketika ia menyadari betapa memalukannya posisi dia.

"Meiko. Apa sekarang kau bisa ke Sakura House?" Kiyoteru berbicara di ujung sana.

"Letak?" Meiko bergegas memasukan benda yang ia butuhkan ke dalam tas.

"Shibuya. Sekarang!" Kiyoteru memutuskan sambungan panggilan.

Dengan tergesa-gesa Meiko berlari dari tempat mengerikan itu. Ia ingin segera menikmati kesenangan atmosfir penyidikan.


Meiko berjalan cepat kearah dimana berkumpulnya para petugas. Memperlihatkan kartu ID miliknya, dan segera menghampiri Kiyoteru yang kini berada di depan pintu.

"Tak salah lagi ini adalah korban yang sebenarnya." Kiyoteru mempersilahkan Meiko untuk melihat apa yang di lakukan si psycho itu kepada korbannya.

Sepersekian detik Meiko mematung disana. Menatap tubuh yang tergeletak dekat sofa, dengan kedua telapak tangan yang ditusuk dalam menggunakan pisau hingga menembus lantai kayu ini. Memenjarakannya dalam sebuah ketidak berdayaan. Bekas cekikan tertera jelas di leher indah gadis itu. Mulutnya yang terbuka menunjukan betapa mengerikannya hal yang telah ia lalui.

"A-aku... Aku pernah melihat gadis ini."

Tentu saja Meiko pernah melihatnya. Gadis yang memiliki rambut blonde itu pernah ia perhatikan bersama Kaito. Gadis yang memiliki bola mata indah, membuat Meiko iri padanya. Namun keadaannya kali ini sungguh menyakitkan. Rambut halus itu berantakan. Pipi chubby nya penuh dengan goresan dalam yang membuatnya mengeluarkan cairan merah. Tubuhnya penuh dengan luka memar.

Terlebih dengan posisinya seperti itu, Meiko melihatnya secara jelas. Melihat kedalam rongga mata yang kini hampa. Bola mata indah itu sudah tidak berada di tempatnya. Hanya meninggalkan lubang yang menjijikan di parasnya yang manis. Darah masih memancar keluar dari sana, mengartikan bahwa gadis ini baru saja di bunuh. Dan satu hal lagi yang mengalihkan perhatiannya. Sebuah kertas dengan tulisan tak jelas. Meiko menggunakan sapu tangannya, lalu mendekatkan kertas itu agar terlihat lebih jelas.

AKULAH YANG SEBENARNYA

Kiyoteru dan Meiko saling bertukar pandang. Sang psycho ini ingin membuktikan bahwa ia bukan pelaku dari pembunuhan minggu lalu.


A/N

Demi apapun aku minta maaf T-T

laptopku error, tiba-tiba cerita ini keformat.

Dan aku sempet lupa ini nyertain apa xD

But finally aku inget. Dan aku juga inget siapa pelakunya wkwkwk.

Maaf chapter yang satu ini kurang 'wah'.

Dan kasih aku semangat buat nerusin cerita ini T^T

Well.. jangan lupa RnR ya ^^

Salam KaiMei dari MiyuTanuki ^^