Renn di sini :D
Chapter sebelumnya aku memotong di saat yang penting ya hehehehe
Updatenya juga agak lama... udah mulai sibuk sekolah lagi soalnya
Gomen ne~~
Dari sini Renn mau fokus ke keluarga para tokoh utama di cerita ini dan ada beberapa hal yang disembunyikan selama beberapa tahun.
Ini kelanjutannya ^^
.
.
Chapter sebelumnya..
.
.
Ting Tong...
Dare? Batinku. Tidak biasanya ada tamu jam segini, apalagi sedang turun salju. Aku segera mengganti pakaianku dengan yang setidaknya pantas (?) untuk dipakai. Jujur saja, bajuku baru saja dicuci karena aku lupa. Yah yang ada hanya celana pendek dan kaos milik aniki-ku yang sudah kekecilan.
Aku membuka pintu rumah. Tak disangka seorang pria berdiri di depan pintu rumahku. Aku mengedip-ngedipkan mata sedikit tak percaya. Bagaimana Itachi-senpai dan Uchiha-san berkunjung ke rumahku?
"A-ano... Uchiha-san Itachi-senpai... Silahkan masuk.."
Mereka berdua masuk dan duduk di sofa dekat perapian. Rumahku tidak terlalu besar dan tidak juga terlalu mewah. Keluargaku hidup berkecukupan. Aku segera membuatkan teh hangat untuk mereka.
"Apa yang membuat senpai berdua kemari?" tanyaku sambil meletakan cangkir dan duduk di hadapan mereka.
"Begini, Sakura-chan," Uchiha Fugaku memulai pembicaraan. Aku diam mendengarkan.
"Otou-san dan Okaa-san Sakura-chan mengalami kecelakaan pesawat. Pesawat mereka gagal mendarat karena roda pesawat macet saat akan mendarat. Aku turut berduka cita. Sayangnya seluruh penumpang dan awak pesawat tak ada satupun yang selamat."
.
.
(Bukan) Waktu yang Tepat untuk Cinta
Chapter 2
.
.
Aku menelengkan kepala. Merasa aneh dan tak siap dengan apa yang Uchiha-san katakan.
"Anda bercanda kan. Otou-san dan Okaa-san tidak bilang apa-apa tentang kepulangan mereka. Kalian pasti salah orang."
"Sakura..." Itachi-senpai memanggilku, semuanya benar adanya."
"Uso..."
Aku masih tak bisa percaya. Semua ini begitu tiba-tiba. Jantungku bahkan masih berdetak cukup normal. Hanya saja pikiranku kosong. Sebuah tangan hangat menyentuh bahuku. Membimbing tubuhku untuk bersandar padanya. Aku hanya mengikutinya karena aku tak bisa menggerakan tubuhku. Aku ingin bertanya lagi, namun lidahku terasa kaku untuk mengucapkan kata-kata. Perlahan air mataku mulai menggenang dan turun membasahi pipiku. Apa ini? Aku menangis?
BRAAKK
Pintu rumahku terbuka dengan sangat keras. Aku mengetahuinya namun tak punya kekuatan untuk melihat siapa yang memaksa masuk.
"Sakura!" suara itu... Aku mengenalinya, suara milik Uchiha Sasuke. Ya, Uchiha Sasuke, baru kemarin dia menyatakan perasaannya padaku.
"Sakura!... Lihat aku," sepasang tangannya mengelus kedua pipiku. Aku menatap kedua mata onyx nya. Mata milik orang yang aku sayangi sejak dulu. Terpancar kekhawatiran di mata itu yang membuat pertahananku hancur. Semua emosiku mengalir dengan deras meski sudah aku tahan sebelumnya.
"Hiks... Kaa-san dan Otou-san... Hiks... Hwaaaa~~"
Dia memelukku. Hangat... Terasa sangat hangat. Tangan milik Itachi aku rasakan mengelus punggungku. Sasuke berusaha menenangkanku tapi aku tak bisa berhenti. Kedua kakak beradik ini berusaha menenangkanku namun emosiku tak dapat dibendung lagi.
Apa ini? Emosi macam apa ini? Aku sendiri pun bertanya-tanya pada diriku. Sudah terlalu lamakah aku menyimpan semua kesedihanku sehingga berakhir seperti ini? Mungkin benar. Selama ini aku rasa aku tak pernah menangis saat kesedihan menimpaku. Aku memilih untuk tersenyum. Aku tak ingin orang lain melihatku lemah. Tapi kenapa hari ini berbeda? Aku merasa dapat menuangkan semuanya pada Sasuke. Merasa terlindungi oleh Sasuke seperti ada sepasang sayap yang melindungiku.
Aku berusaha untuk mengontrol emosi lagi, "Ba-bagaimana dengan... aniki?"
"Menurut informasi dari perusahaan penerbangan, kakakmu yang mengoperasikan pesawat itu," jelas Uchiha-san.
Dadaku terasa sangat sesak. Sakit. Nafasku mulai tidak teratur. Aku terbatuk-batuk cukup keras. Sudah tak ada air mata lagi namun kenapa ini terasa lebih sakit. Pandanganku mulai mengabur. Memori demi memori yang aku alami bersama keluargaku terulang kembali.
Normal POV
Flasback
Langit senja terbentang luas. Burung-burung mulai kembali ke sarang mereka masing-masing. Salju putih lembut turun secara perlahan menutupi atap-atap rumah dan jalanan. Sesosok gadis kecil berambut merah muda menatap lurus ke arah horizon dari balkon kamarnya. Dia menutup mata emeraldnya. Angin lembut menerpa rambutnya. Gadis kecil itu bernama Haruno Sakura. Anak bungsu dari keluarga Haruno yang cukup sukses dalam dunia perdagangan. Umurnya menginjak 10 tahun pada hari ini.
"Sakura?"
Sakura menengok ke belakang dan mendapati kakaknya sedang bersandar pada daun pintu. Semburat merah menghiasi pipinya yang mungil. Kakaknya mengelus rambut Sakura. "Ayo kita masuk. Kaa-san dan Tou-san sudah menunggu di dalam."
"Memangnya ada apa, Gaara-nii?"
"Bukankah ini hari ulang tahunmu? Kita rayakan bersama hari ini," ucap kakak Sakura dengan senyum manis yang terukir di wajahnya. Rambut merahnya yang tumbuh cukup panjang menutupi tato bertuliskan "ai" di dahinya.
Sebuah pelukan hangat datang dari Sakura yang berlari ke arahnya. Sakura menggembungkan pipinya saat melihat ada yang berbeda dengan kakaknya itu, "Rambut nii-san jelek! Sakura lebih suka rambut nii-san yang pendek seperti dulu. Jangan seperti kakaknya si pantat ayam."
"Iya, iya. Nanti Nii potong kok rambutnya."
"Janji ya?"
"Iya."
.
.
"Tou-san, Kaa-san, Garaa-nii dimana? Sakura takut gelap,... Hiks... hiks..." Sakura kecil yang baru berumur 7 tahun berdiri di depan pintu kamarnya. Malam itu sangat gelap dan Sakura sangat takut gelap. Tak ada tanda-tanda bahwa ketiga orang yang Sakura panggil datang sehingga membuat Sakura semakin ketakutan.
Lalu tiba-tiba saja lampu di rumah itu kembali menyala. Wajah Sakura terlihat sangat kebingungan dengan air mata yang masih menggenang di matanya. Di depannya berdiri Haruno Mebuki , Haruno Kizashi, dan Gaara yang membawa hadiah untuk Sakura.
"Selamat Sakura-chan! Kamu menjadi juara kelas di seluruh pelajaran," ujar Kaa-san nya.
Mata Sakura yang besar berbinar-binar gembira. Dia berlari menuju mereka bertiga dan disambut pelukan oleh semuanya. Tawa dan tangis gembira terdengar dari bibir mungil Sakura. Untuk pertama kalinya dia mendapatkan penghargaan ini. Dia sangat gembira. Terlebih lagi Gaara membelikannya sebuah boneka beruang berwarna emerald.
.
.
"Gaara-nii..." gumam Sakura pelan. Matanya tertutup dan air matanya telah kering namun tubuhnya menggigil. Sakua berkali-kali mengucapkan nama Aniki nya. Hubungan mereka sangatlah dekat. Orang yang selalu menghapus air mata Sakura, orang yang selalu bersedia menjadi tempat mencurahkan perasaan Sakura, orang yang melindungi Sakura, orang yang berusaha selalu membuat adiknya berbahagia, dan orang yang sangat menyayangi Sakura melebihi apapun di dunia ini. Orang tersebut adalah Gaara, sosok yang sangat berarti bagi Sakura, yang selalu menempati posisi khusus di hatinya sebagai seorang kakak.
Tak berapa lama kemudian tubuh Sakura lemas. Air matanya kembali mengalir perlahan dan Sakura kehilangan kesadarannya. Sasuke belum mengetahui hal itu sedari tadi memeluk Sakura dengan erat dan membisikan kata-kata yang sekiranya dapat menenangkan hati Sakura. Namun kata-kata seperti apapun itu, Sakura tak mendengarkannya.
"Sakura... Sakura... Sakura!" panggil Sasuke yang mulai sedikit panik karena Sakura tak merespon dirinya.
"Dengarkan aku Sakura!"
"Sakura."
"Aku ada di sini. Aku akan selalu disampingmu, karena itu bertahan.. cherry.."
Tak ada respon apapun dari Sakura. Dia kini telah kehilangan kesadarannya sepenuhnya dan benar-benar pingsan. Tubuhnya mulai panas.
"Itachi menyingkirlah!"
Sasuke melepaskan pelukannya. Diusirnya Itachi dari sofa itu lalu dia membaringkan Sakura di sana. Wajah Sakura terlihat sangat pucat. Bibirnya berwarna putih. Sasuke mengusap pipi Sakura dan menciumnya pelan.
"Sasuke, lebih baik kita membawa Sakura ke rumah sakit segera," ucap Fugaku.
"Dia terlihat sangat terguncang," tambah Itachi.
Sasuke menggendong Sakura dengan pelan-pelan. Dia takut menyakiti Sakura. Kemudian mereka akhirnya membawa Sakura ke rumah sakit.
.
.
Rumah Sakit Konoha
Sakura masih dalam penanganan dokter. Itachi dan Sasuke duduk menunggu berita dari dokter dalam diam. Apa berita dari dokter itu menggembirakan atau berita yang sangat tak ingin mereka dengar. Apapun itu mereka tetap menunggu. Uchiha Fugaku terlihat sibuk menerima telepon entah dari siapa. Kemudian Fugaku mendekati kedua anaknya.
"Tou-san pergi dulu ada kepentingan menyangkut kecelakan pesawat itu," ucap Fugaku.
Kedua anaknya hanya mengangguk singkat dan Fugaku meluncur ke Tempat Kejadian Perkara kecelakaan itu. Tak berapa lama kemudian, Ino datang sambil berlari. Napasnya tersengal-sengal, sangat terlihat bahwa dia terlihat kelelahan akibat berlari. Beberapa tetes keringat mengalir di pelipisnya.
"Bagaimana... dengan Sakura?" tanya Ino sambil mengatur napasnya.
"Belum ada kabar. Masih dalam penanganan," ucap Itachi singkat.
Itachi berdiri dan membimbing Ino untuk duduk di samping Sasuke, kemudian Itachi memakai jaket hitamnya dan berkata, "Aku akan membantu Tou-san mengurus jenazah para korban, termasuk keluarga Sakura."
Tertinggal Ino dan Sasuke duduk berdua bersebelahan. Ino memandang sosok Itachi hingga tak terlihat lagi.
"Sasuke, ngomong-ngomong kenapa Anikimu pergi ke sana? Apa dia boleh masuk ke pesawat itu?" tanya Ino.
"Aniki ahli di bidang forensik. Jadi untuk semua kasus yang ditangani kepolisian hampir semua urusan jenazah dipegang olehnya," jelas Sasuke.
Kedua tangan Sasuke mengepal erat. Semua kegelisahannya berusaha dia tutupi. Seorang Uchiha Sasuke tidak akan menunjukkan emosinya kepada sembarang orang. Dia berusaha untuk tetap tenang dan bersikap seperti tak terjadi apa-apa.
Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam telah berlalu. Belum ada kabar apapun dari dokter. Sakura hanya mengalami pingsan biasa karena syok namun kenapa harus selama ini? Batin Sasuke.
Ketika Sasuke akan berdiri, dokter keluar dari ruangan.
"Keluarga Haruno Sakura?"
"Saya," jawab Sasuke segera. Ino berdiri di sampingnya.
"Bagaimana keadaan Sakura, dok?" tanya Ino.
"Dia butuh istirahat beberapa hari di rumah sakit. Dan untuk Sasuke, ikut ke kantor saya," jelas dokter.
Sasuke menurut dan mengikuti sang dokter menuju kantornya. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalan saku celana. Dalam pikirannya dia bertanya-tanya apa yang terjadi pada Sakura sehingga dia dipanggil untuk ke ruangan dokter. Hal seperti ini biasanya ada hal yang tak biasa. Akhirnya mereka berdua sampai dan masuk ke ruangan.
"Silahkan duduk dulu," ucap dokter.
"Ada apa dengan Sakura?" tanya Sasuke tanpa basa-basi.
"Sepertinya dia mengalami syok berat. Beban itu membuat beberapa memorinya terhapus. Hal itu dilakukan oleh tubuhnya akibat dari reaksi terhadap sesuatu yang diterima oleh Sakura. Otaknya menghapus beberapa memori agar keadaan Sakura tidak semakin bertambah parah."
"Bagaimana hal itu dapat terjadi?"
"Dalam dunia kedokteran kami hal ini masih sangat jarang terjadi. Seakan ada sesuatu di dalam dirinya yang berbeda."
"Berbeda?"
"Kami masih belum tahu. Hal itu masih kami periksa."
"... Saya permisi dulu," pamit Sasuke segera, lalu keluar dari ruangan.
.
.
~Dua Tahun Lalu~
"Sakura, kenalkan ini adalah nenek Chiyo. Salah satu tenaga medis terkemuka di Sunagakure," ucap Gaara mengenalkan nenek Chiyo pada Sakura.
Gaara dan Sakura sedang berlibur berdua saja di Sunagakure. Kedua orang tua mereka terlalu sibuk untuk melakukan liburan sehingga Gaara yang berinisiatif untuk mengajak Sakura berlibur ke Suna. Hal pertama yang ditunjukkan Gaara adalah rumah sakit Suna karena Sakura sangat ingin menjadi seorang dokter yang ahli dan profesional.
"Salam kenal. Namaku Haruno Sakura," salam Sakura sopan.
"Sakura ya... Aku dengar dari Gaara kau suka hal medis. Bagaimana kalau kutunjukkan peralatan medis di Suna?"
Sakura akan menjawab namun Gaara menyela dengan sopan, "Gomenasai, Chiyo-baasama. Kami baru sampai hari ini. Mungkin besok setelah Sakura istirahat. Hari ini aku akan mengantar Sakura keliling Suna dahulu."
"Ah, baiklah. Kalau begitu hati-hati di jalan."
Sakura membungkuk sedikit untuk menghormati nenek Chiyo. Mereka berdua kemudian keliling Suna. Sesekali Sakura meminta kakaknya untuk sekedar mampir ke sebuah toko. Dia terlihat bahagia dan itu membuat Gaara senang melihatnya.
"Gaara-nii... Aku ingin takoyaki," pinta Sakura memelas.
"Tunggu di sini. Akan kubelikan. Jangan kemana-mana," ucap Gaara yang kemudian meninggalkan Sakura di persimpangan jalan dan Sakura mengangguk menurut.
Persimpangan itu terletak di depan sebuah taman bermain. Sakura memutuskan untuk pergi ke sana karena kakinya sudah cukup lelah untuk berdiri. Dia memilih sebuah bangku yang sekiranya terlihat dari jalan saat Gaara kembali membawa takoyaki untuknya. Sakura duduk di bangku itu dan membuka buku mengenai obat-obatan herbal yang dia bawa dari Konoha.
"Sakura?"
Sebuah suara yang Sakura kenal seperti memanggilnya. Sakura mencari darimana suara itu berasal dan mendapati Sasori, senpainya, berdiri tak jauh darinya.
"Sasori-senpai?"
"Apa yang kau lakukan di sini, Sakura?"
"Berlibur bersama Gaara-nii."
"Gaara?"
"Iya, itu dia sudah datang," ucap Sakura sambil melambaikan tangannya pada Gaara.
Gaara terlihat sedikit lega menemukan Sakura namun tatapan matanya berubah seketika dia melihat Sasori. Dia mendekati Sakura dan Sasori.
"Siapa dia, Sakura?"
"Gaara-nii ini Sasori-senpai. Sasori-senpai, ini Gaara-nii."
"Akasuna no Sasori, cucu dari nenek Chiyo kan. Senang bertemu denganmu," sapa Gaara dan dia menyalami Sasori.
"Jadi kau kakak Sakura?" tanya Sasori.
"Iya benar."
"Sepertinya aku pernah melihatmu entah dimana."
"Eh?" Sakura kaget.
Gaara langsung pamit pada Sasori dan dia segera membawa Sakura pergi ke penginapan.
"Aku sangat familiar dengan wajah Gaara," ucap Sasori pelan.
Sasori merogoh saku dan mengeluarkan ponselnya. Mencari sebuah foto yang dia kira pernah melihat Gaara di sana. Dan dia menemukan foto dari pemimpin Suna yang telah wafat dan Gaara sedikit mengingatkannya pada sosok pemimpin Suna itu.
"Apakah Gaara anak yang telah menghilang itu?"
.
Keesokan Harinya
.
"Hei, Sakura. Bangun," ujar Gaara sedikit keras.
Sudah berkali-kali Gaara membangunkan Sakura namun adiknya hanya mengerang kecil dan kembali masuk ke alam mimpinya. Gaara menggelengkan kepalanya dan dia menarik selimut yang menutupi tubuh Sakura.
"BANGUN! Hari ini kita bertemu dengan nenek Chiyo. Apa kau lupa?"
"APA? Kenapa Nii-chan tak membangunkan dari tadi?" ucap Sakura.
"Sudah berkali-kali. Sekarang cepat mandi."
Sakura menurut dan segera menuju kamar mandi. Gaara duduk menunggu Sakura di tempat tidurnya. Sudah menjadi hal biasa baginya membangunkan adiknya itu. Lebih tepatnya Sakura bukanlah adik kandungnya karena sebelum Sakura lahir, Gaara diangkat sebagai anak oleh kedua orang tua Sakura.
Beberapa menit kemudian Sakura keluar dari kamar mandi dan sudah siap untuk pergi ke rumah sakit. Gaara mengangguk singkat dan mengajak Sakura ke rumah sakit.
Jarak rumah sakit Suna dengan penginapan mereka cukup jauh. Mereka harus naik bus untuk sampai ke rumah sakit. Dan saat mereka sampai, nenek Chiyo ternyata sudah menunggu di depan rumah sakit bersama dengan seseorang yang tak Sakura duga, Sasori.
"Sasori-senpai, di sini juga?" tanya Sakura.
"Aku hanya menemani nenekku."
Mereka berempat kemudian berkeliling rumah sakit Suna. Sakura menanyakan segala hal yang dia tak tahu kepada Nenek Chiyo. Sedangkan dua orang laki-laki yang ikut bersama mereka hanya diam seperti patung berjalan di belakang Sakura dan Nenek Chiyo.
Sudah cukup lama mereka mengitari rumah sakit itu. Masuk ruang ini, masuk ruang itu. Mencoba ini dan itu hingga mereka berhenti di kantin rumah sakit. Nenek Chiyo dan Gaara duduk berdua untuk makan sedangkan Sakura diajak oleh Sasori untuk berjalan-jalan.
"Kita mau kemana, Sasori-senpai?" tanya Sakura yang berusaha menyamai langkahnya dengan Sasori.
"Ikut saja denganku. Nanti kau akan tahu sendiri," jawab Sasori dengan senyum misteriusnya.
Sakura menggembungkan kedua pipinya menandakan bahwa dia sedikit kesal dengan sikap Sasori yang menutupi sesuatu darinya. Tak lama kemudian mereka berdiri di depan sebuah ruang operasi. Sakura yang tak tahu apa-apa sibuk dengan ponselnya. Dia sibuk menjawab berbagai pesan singkat dari teman-temannya di Konoha.
"Sasori-sen—"
Sebuah pukulan cukup keras mengenai leher belakang Sakura sehingga membuatnya pingsan seketika. Sasori membawa Sakura masuk ke ruang operasi tersebut dan membaringkannya di meja operasi. Dengan sigap Sasori mengambil beberapa cairan yang ada di lemari yang sebelumnya sudah dia siapkan. Botol-botol tersebut hanya berinisial seperti PO, OP, AB, AA, PT, KL, BI, IN, dan masih banyak lagi.
Sasori melihat botol-botol itu lalu dia hanya mengambil cairan dari botol PO dan OP yang ditaruhnya di sebuah suntikan. Kemudian dia menyibakkan rambut lembut Sakura.
"Maafkan aku, Sakura," bisik Sasori pelan dan dia mengecup bibir Sakura singkat.
Seiring dengan itu dia menyuntikkan cairan itu pada tubuh Sakura.
.
.
.
Sakura POV
Aku merasakan sesuatu yang menggenggam tanganku. Dengan perlahan aku membuka mataku dan mendapati sosok Sasuke sedang tertidur lelap menjagaku. Mataku menatap sekitar dan aku mendapati bahwa aku berada di rumah sakit. Kepalaku masih terasa sangat sakit.
Sasuke sedikit menggeliat namun belum ada tanda-tanda bahwa dia tersadar. Aku suka melihat wajahnya yang tertidur. Kuusap pipinya dan hal itu membuatnya terbangun.
"Sakura? Kau sudah bangun?" tanya Sasuke kaget.
"Kenapa aku bisa di rumah sakit?"
"Kau pingsan semalam. Soal keluargamu aku minta maaf, Sakura."
Deg.
Aku lupa. Bagaimana aku bisa melupakannya. Kemarin malam keluarga Sasuke datang ke rumahku. Tou-san, Kaa-san, dan Gaara-nii mengalami kecelakaan pesawat kemarin. Dan mereka... meninggal.
Kepalaku terasa sangat berat dan dadaku kembali sesak. Namun ada sesuatu lain yang aku rasakan di tubuhku. Dan sejak aku pingsan aku seperti bermimpi. Tidak, lebih tepatnya mengingat kembali apa yang terjadi dua tahun lalu saat aku berlibur bersama Gaara-nii. Saat itu aku pergi ke Suna. Bertemu dengan Nenek Chiyo dan Sasori. Lalu saat aku sedang berjalan berdua dengan Sasori, dia memukulku. Kenapa?
"Sasuke..."
"Hm?"
"Ada yang aneh dengan tubuhku?"
"Apa maksudmu Sakura?"
Dan aku pun menceritakan semuanya pada Sasuke. Reaksinya sedikit terkejut seakan dia tahu sesuatu yang tak aku ketahui.
"Apa kata dokter tentangku, Sasuke-kun?"
"Mereka bilang ada sesuatu yang aneh dengan otakmu Sakura... Tunggu di sini. Aku akan kembali."
Normal POV
Sasuke keluar dari ruang rawat Sakura dan segera menemui dokter. Dia menceritakan apa yang Sakura alami dan hal itu membuat dokter yang merawat Sakura terkejut.
"Orang yang Anda ceritakan memasukan racun ke dalam tubuh Sakura. Racun itu baru bereaksi setelah dua tahun. Itu adalah serum terlarang di dunia kedokteran. Perlahan-lahan ingatannya akan hilang dan kemudian dia akan meninggal."
"Anda berbohong!"
"Tidak... Itu kenyataannya..."
Sasuke memukul meja dokter itu dan ia berlari keluar. Di luar Sasuke bertemu dengan Itachi.
"Hei, Sasuke. Ada apa?" tanya Itachi heran, Sakura sudah sadar bukan?"
"Aniki tolong jaga Sakura."
"Ada apa?"
Sasuke menceritakannya pada Itachi. Itachi segera menghubungi ayahnya. Akhirnya mereka berdua keluar bersama dengan satu tujuan yang sama. Membunuh Sasori.
.
.
"Kenapa Sasuke tiba-tiba keluar?" ucap Sakura pelan.
Saat ini dia berada di kamar rawatnya sendirian. Dadanya terasa sangat sesak kembali. Sakura mengambil gelas yang berisikan air dan meneguknya.
"Sasuke..."
Kepalanya kembali terasa sangat sakit.
"Sasuke? Siapa dia?"
.
.
"Tou-san kami sedang dalam perjalanan ke rumah Sasori," ucap Itachi di ponselnya.
"Jangan terburu-buru," ujar Fugaku di seberang telepon.
"Baik."
Itachi menutup ponselnya dan mereka tetap melaju dengan kecepatan penuh. Sasuke sudah tak sabar ingin meninju wajah Sasori. Sasori ingin membunuh Sakura. Dan dia tak akan membiarkannya hidup bebas.
Beberapa saat kemudian mereka berdua sampai. Sasuke tiba-tiba saja kehilangan kendali dan dia langsung berlari keluar mobil dan menerobos masuk. Pemilik rumah, Sasori, terkejut bukan main.
"ADA APA INI?"
"DIAM KAU!" bentak Sasuke yang melayangkan tinjunya pada Sasori.
BUUKKK BRAAKK
Tubuh Sasori menghantam tembok. Sasori menatap Sasuke marah dan dia dapat melihat warna mata Sasuke yang berubah menjadi merah. "APA YANG KAU LAKUKAN PADA SAKURA?!"
Raut wajah Sasori tiba-tiba berubah. Tawa mengerikan memenuhi ruangan itu. Itachi berdiri di belakang Sasuke berusaha menahan adiknya itu namun sepertinya sudah terlambat.
"Sakura? Aku mencintainya. Dan karena itu aku ingin menjadikannya koleksi bonekaku."
"Psikopat."
"Kau terlambat Sasuke. Sebentar lagi obat itu akan meracuni Sakura. Waktumu terlambat saat menyatakan cinta pada Sakura. Terlambat, Sasuke. Dia sudah menjadi milikku. HAHAHAHA"
"Tch."
Sasuke mengahajar Sasori berkali-kali.
"Jiwanya bukan milikmu, Sasori."
Sasori mengeluarkan sebuah pisau lipat dari sakunya. Itachi yang melihat itu segera menyiapkan pistolnya dan mengarahkannya pada Sasori.
Lalu sesuatu terjadi dengan sangat cepat. Sasori menusukkan pisaunya tepat di jantung Sasuke dan saat itu juga Itachi menembakkan pelurunya menembus jantung Sasori. Mereka berdua terjatuh bersama. Meninggalkan gadis yang sama-sama mereka cintai dengan cara yang berbeda.
.
.
Beberapa menit sebelum hal itu terjadi, keadaan Sakura semakin memarah. Sakura merasa tubuhnya seperti terbakar namun itu hanya beberapa saat. Lalu rasa dingin mengampiri tubuhnya. Tubuhnya menjadi sedingin es. Dan kemudian dia menghembuskan napas terakhirnya sebelum perawat dan dokter sempat menolongnya.
THE END
Maaf kalau gaje, banyak typo. Ngebut soalnya dan ini udah mentok.
Hehe. Reviewnya.
Boleh kritik pedes kok. Gak masalah ^^
