Meja kosong dekat jendela dilirik menyadari meja lainnya sudah penuh terisi, cepat-cepat kakinya melangkah karena merasa risih ditatapi beberapa pasang mata. Menurut Sasuke, mengunjungi kedai kopi pada jam penuh seperti ini sungguh menyebalkan.
Terbiasa mendapat segala yang dibutuhkan tanpa harus meminta, membuatnya sulit beradaptasi dengan kenyataan jika mulai hari ini harus melayani dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain. Sakura—junior merangkup asisten pribadi—yang bekerja dengannya lebih dari 7 tahun baru saja menikah, lalu memutuskan untuk berhenti bekerja.
Tidak ada kopi di meja, tidak ada potongan tomat segar sebagai kudapan, juga tidak ada susunan kegiatan apa saja yang harus dilakukan setiap hari. Kini waktunya terbagi antara perkejaan versus apa yang dibutuhkan, dan jujur saja itu membuat kepalanya sakit.
Arsitek ternama sepertinya tidak bisa membuang-buang waktu jika tidak penting. Setidaknya itulah yang dijadikan alasan utama saat menghapus kopi dari dalam daftar 'kebiasaannya' pagi ini. Namun ia lupa jika tubuhnya yang berusia 32 tahun memiliki hak untuk memprotes, dan memberontak.
Pukul tiga sore, candunya pada kafein tidak bisa lagi ditahan.
"Espresso-mu, tuan."
Sasuke mengernyit bingung memerhatikan cangkir di hadapannya. Cairan hitam beraroma khas yang kuat membuatnya sedikit memundurkan tubuh ke arah punggung kursi tanpa disadari. "Aku tidak memesan espresso."
"Pelanggan sebelumnya adalah pelanggan ke-1.000 toko ini. Sayangnya, dia pergi sebelum kami sempat memberitahu ada satu cangkir espresso gratis untuknya sebagai tanda terima kasih," jelas si pelayan.
"Lalu?" tegas Sasuke.
"Kopi ini untukmu, tuan. Kurasa pelanggan kami yang berambut pirang itu tidak akan keberatan."
Ah. Sasuke tahu siapa yang dimaksud si pelayan; pria pirang yang menatapnya selama sepuluh detik, juga menghalangi jalannya masuk beberapa menit lalu dengan ekspresi bodoh di wajahnya.
"Huh? Terima kasih ..., mungkin?"
.
Continued
