Hai, hai!
Aku kembali dengan membawa chappy 1 bersamaku. Semoga kalian suka!
Ohya, disini Naruto berumur lebih tua 3 tahun dari yang di canon. Dan semua posisi Naruto yang dilakukannya saat di aslinya akan digantikan oleh adik Naruto. Juga di remake ini aku langsung kasih tahu bagaimana pertemuan pertama pemeran utamaku yaitu, jeng-jeng! ItaFemNaru!
Selamat bertemu di minggu depan! Bye-bye~😋
.
.
.
Happy Reading, minna!
Selamat Membaca!
.
.
.
Hutan daerah Hi no Kuni terkenal dengan keluasan dan bagaimana suburnya pohon-pohon itu tumbuh. Saking lebat hutan kebanyakan penduduk tak berani masuk lebih dalam ke hutan ini.
Rumor aneh pernah beredar namun tidak pernah bisa dipastikan. Hal-hal itu memang terjadi namun tak bisa dibuktikan. Penduduk percaya jika Hutan ada penunggunya dan mereka menghormati hutan agar tidak ada yang mengusik kehidupan di pemungkiman.
Yah, Naruto cukup beruntung dengan adanya rumor itu. Ia takkan bisa hidup setenang ini jika rumor itu tidak ada. Berbekal tekad dengan sedikit modal dari Biwako sang pengasuhnya, ia bisa membangun sebuah rumah pondok diatas pohon.
Sesekali ia akan ke kota untuk mendaur isi lemarinya. Tentu pergi dengan jubah kesayangan. Makanan dengan mudah didapat dengan memetik buah, memancing atau berburu. Lalu menjual barang itu untuk menghasilkan uang atau barter.
Hidup itu mudah, bagi Naruto. Ia bahagia dengan kehidupan seperti ini.
Sekarang ia sedang berjalan-jalan sambil mengunyah apel di tangannya. Ia menelusuri tanah hutan sah hak milik pemerintahan Daimyo Hi no Kuni dengan santai.
Ia terus berjalan hingga bertemu arus sungai tempat ia biasa mancing, mencuci atau mandi. Yah, ngomong-ngomong soal itu, ia ingin mandi jadinya.
Membuang apel tanpa dagingnya, lalu ia membuka dan melemparkan bajunya sembarang. Berlari lalu menyeburkan diri ke air jernih tersebut.
Naruto berenang, menikmati kejernihan air itu. Ia mengelus kulitnya yang tadinya berkeringat, dan membasuh rambutnya, menyibaknya kebelakang. Naruto terhanyut dengan kenikmatan mandinya tanpa menyadari seorang anak lelaki seumurannya beransel memandangnya dengan tatapan polos.
"Bidadari."
Dengar suara lelaki, ia langsung menenggelamkan hampir seluruh tubuhnya kedalam air berharap jika orang asing itu tidak melihat.
Naruto melihat anak usia 7 tahun memandangnya polos. Tentu, apa yang kalian harapkan dari anak usia tujuh tahun tanpa tau namanya hasrat?
Tapi, tidak, Uchiha Itachi tahu tentang itu, makanya ketika ia melihat mata biru Naruto yang menatap tajam, ia langsung memalingkan wajahnya yang memerah.
Naruto yang tahu Itachi takkan berani mengintip, langsung berlari meraih pakaiannya dan bersembunyi dibalik batuan besar. Ia kini memakai pakaiannya yang berupa yukata sederhana berwarna kuning keemasan yang cocok dengan rambut emas Naruto.
"Baiklah, kau bisa melihatku," ucap Naruto yang berjalan kearah Itachi. "Siapa kau, tukang intip?"
"Hm, kau tahu. Aku tidak tahu jika ada orang yang mandi disini. Kupikir tak ada yang berani untuk masuk ke kedalaman hutan, walaupun begitu, gomennasai," kata Itachi menjelaskan lalu menundukkan kepalanya sedikit.
"Uhm, oke. Aku maafkan, dan hei, siapa namamu?"
"Itachi. Kau bisa memanggilku Itachi," ucap Itachi sambil mengulurkan tangannya.
"Naruto," kata Naruto meraih dan berjabat tangan dengan Itachi. "Dan apa kau sudah makan Itachi? Aku heran ada anak kecil yang berani masuk kehutan sendirian, apa kau bawa perbekalan?"
Itachi mengangguk, "Aku membawa onigiri buatan ibuku tadi pagi," katanya sambil menurunkan tas ranselnya ke batuan pinggir sungai. Ia duduk di sebuah batu menonjol lalu mengobrak-ngabrik isi tasnya, dan terhenti ketika merasakan tetesan air dibahunya.
Ia melihat rambut emas Naruto meneteskan air ketika menunduk ikutan melihat isi tasnya. Menelan ludah gugup, entah karena apa -hanya Itachi yang tahu. Ia mengalihkan pandangan, fokus mencari sesuatu.
"Bagus! Aku kehilangan ikanku, gara-gara kau tadi. Jadi sebagai gantinya apa boleh aku meminta onigirimu?" tanya Naruto menatap Itachi dengan pandangan berharap.
Luluh dengan bola mata Naruto yang berbinar, Itachi mengangguk. "Satu saja, aku hanya membawa dua karena habis dimakan adikku," katanya sambil mengeluarkan sebuah kotak yang hendak dirampas Naruto. Namun tidak ketika Itachi menaruhnya jauh dari Naruto dan kembali mengobrak-ngabrik tasnya. "Namun sebelum itu keringkan dulu rambutmu dengan handukku, kau sungguh tak sopan makan dengan keadaan seperti itu."
Naruto menurut walau bersungut-sungut, ia lalu datang dengan rambut setengah kering dan menjemur handuk kesebuah ranting pohon didekat mereka.
"He, kupikir kau langsung mengerahkannya padaku tanpa mengeringkannya terlebih dahulu," kata Itachi yang melihat gerakan Naruto yang menjemur handuknya.
"Memang kau mau menyimpannya basah-basah?" sindir Naruto mengambil kotak bekal Itachi lalu membukanya. Mengambil bagiannya lalu duduk di sebelah Itachi. "Ngomong-ngomong, kenapa kau masuk ke dalam hutan? Apa orangtuamu tidak melarangmu masuk kesini?"
"Tenang saja, aku kesini karena aku mampu. Sedangkan kau, kenapa kau ada disini dan mandi tanpa peduli apapun? Kau tahu anak gadis itu lebih rentan daripada anak lelaki. Apa orangtuamu tak cemas?"
"Mereka takkan cemas," tukas Naruto dingin, mata biru Naruto berkilat-kilat tak wajar. Tanpa menatap Itachi, Naruto menelan gigitan terakhir onigiri dan tersenyum kecut. "Lagipula, aku tinggal disini. Hutan ini adalah tempat tinggalku."
"Hah? Mana mungkin!" seru Itachi tak percaya. "Tak mungkin kau tinggal dihutan yang penuh hewan buas dan makhluk tak wajar ini!"
"Yah, terserah kau mau percaya atau tidak. Tapi, aku bersedia memandumu menelusuri hutan ini," kata Naruto sambil berkacak pinggang.
"Baik, apa kau tahu apa ada sebuah peninggalan di hutan ini?" tanya Itachi menelan onigiri terakhirnya.
"Peninggalan? Apa yang kau maksud dengan batu besar bertulisan aneh?"
Mata hitam Itachi berkilat senang, "Ya, salah satunya seperti itu. Dimana batu itu?" tanya Itachi siap, sambil menyandang tas ranselnya kembali.
"Ikuti aku."
.
Mereka berjalan melintasi aliran sungai, mendaki bukit dan menyibak semak. Beberapa kali bertemu hewan yang membuat Itachi mundur selangkah, tapi dijinakkan Naruto dengan perlahan. Malah beberapa binatang yang ditemui telah diberi nama oleh Naruto.
Sembari jalan mereka bercerita macam-macam, Itachi bercerita bagaimana kehidupan dikota dan Naruto menyasih trik menakhlukkan binatang. Lalu ketika menemuka peninggalan, Naruto meninggalkan Itachi fokus membaca tulisan aneh itu. Dan ketika selesai, Naruto akan bertanya lagi apa yang tertulis disana.
Itachi pun menjelaskan keinginannya yang ingin mengetahui seluk beluk shinobi, Naruto mendengarkan. Dan tiba saat sore, Naruto menunjukkan jalan keluar hutan.
"Ini menyenangkan, sungguh terimakasih, Naruto," kata Itachi berjalan dijalan setapak diantara semak-semak. "Aku tak tahu jika dunia luar sangat menyenangkan seperti ini."
"Yah, akupun juga. Terimakasih untuk onigirinya, itu nasi pertama yang kumakan pada tahun ini kau tahu. Terimakasihlah pada Ibumu oke?" ucap Naruto yang berada didepan Itachi berbalik sambil sedikit menundukkan badan dengan kepala terangkat.
"Yah, tentu saja. Aku selalu berterimakasih pada Ibuku," ucap Itachi penuh percaya diri. "Kaupun jangan membuat kedua orangtuamu cemas dan pulanglah."
Naruto menenggakkan tubuhnya, "Cih, sok tahu. Pergilah, lurus saja kau akan menemukan jalan besar dan selebihnya kau tahu jalanmu ke rumah kan? Cepatlah sebelum matahari tenggelam dan hutan ini akan menjadi gelap."
"Tenang saja, aku kan mempunyai Shari-" ucap Itachi terputus, lalu terdiam mengundang tanya Naruto. "Tidak, tidak jadi. Sebaiknya aku cepat pergi. Sampai jumpa Naruto."
Itachi melambaikan tangan lalu berlari pergi, meninggalkan Naruto yang reflek membalas lambaian tangan dengan terbengong. Tapi, cepat pulih dari termenungnya dan berjalan masuk ke hutan. "Yah, aku tidak menyangka ada Uchiha yang ramah seperti itu. Senangnya hari ini, hehe"
