Dengan mengucap syukur kepada tuhan yang maha kuasa saya dapat melanjutkan fic ini.

Hai semua, maaf karena keterlambatan Update-digebuk-.

ngomong-ngomong kok Fandom ini jadi sepi yah? ato cuman kesotoyan saya aja?-dicincang-.

saya juga gak mau banyak omong jadi silakan anda baca Fic saya.

dan P3 Series dan P4 hanya punya Atlus.


Welcome to Yasogami High

"Kau mau menemukan kebenaran?" Suara aneh menggema di tempat aneh dengan jalan setapak berbentuk kubus yang berjajar dan membentang ketempat yang tidak di ketahui., dilangit juga melayang kubus-kubus yang berjajar rapih, "Kalau kau ingin mengetahui kebenaran, temukan aku." Ucap suara itu kepada pemuda berambut putih mangkuk, dengan bingung pemuda itu mulai berjalan mendekati sebuah tembok aneh berbentuk kotak.

Ketika ia menyentuh tembok tersebut, tembok itu membuka dengan sendirinya dan memperlihatkan ruangan berkabut tebal. Tapi walaupun berkabut tebal ia masih bisa melihat bayangan seseorang didepannya. "Fufufufufu, selamat."

"Tak kusangka kau bisa menemukanku, kita lihat seberapa besar kemampuanmu untuk mencari kebenaran." Ketika bayangan itu menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba tangan pemuda itu menggenggam sebuah katana. "Kalau begitu serang aku" tantang si bayangan. Tanpa pikir panjang pemuda itu menghunuskan pedangnya kebayangan itu. bayangan itu terbelah menjadi dua dan menghilang.

"Jadi..hanya segitu kemampuanmu?" kata bayangan itu dari balik punggung pemuda itu. sadar musuhnya tepat di belakang punggungnya pemuda itu segera berbalik arah menghunuskan pedangnya kebayangan tersebut, sayangnya hasilnya sama saja.

'Cis, kabut ini sangat mengganggu' batin pemuda itu. bayangan itu muncul lagi di hadapan sang pemuda,tapi bayangan tersebut telah membuat jarak lumayan jauh. "Khukhukhu, sepertinya hanya segitu kemampuanmu."

"Tapi, cukup sampai disini pertemuan kita kali ini, dan ingat aku selalu mengawasimu." Bayangan itu mulai menghilang di telan kabut, meninggalkan pemuda itu sendirian di sebuah ruangan tak jelas dengan kabut yang tebal.

.

.

.

Di suatu tempat yang tidak di ketahui dimana letak keberadaannya seorang gadis berambut merah berjalan menuju tempat yang tidak diketahuinya maupun orang lain. Sepanjang jalan hanya ada titik-titik kecil bercahaya yang menerangi tempat gelap yang tak berujung itu. iya terus berjalan dan berjalan tanpa tahu arah sama sekali, sampai ia menemukan seorang anak kecil berambut hitam yang poninya menutupi iris matanya yang berwarna merah, anak itu mengenakan kaos dan celana pendek berwarna biru dan sepatu warrior berwarna biru campur putih. Anak itu tersenyum ganjil kepada gadis itu.

"Apakah kau bisa merasakan kematian?" tanya anak itu kepada gadis yang berdiri dihadapannya. Gadis itu tak bisa menjawab karena bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan anak itu. "Merasakan kematian? aku sama sekali tidak mengerti apa maksudmu."

"Hm, mungkin sekarang kau belum merasakannya, tapi suatu hari nanti kau akan merasakannya." Perkataan anak itu membuatnya takut sekaligus khawatir, tapi ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Ia melihat anak itu seperti sosok yang pernah ia kenali.

"Kita akan bertemu lagi suatu hari nanti dan ingat kita tidak bisa melawan takdir." Anak itu mulai menghilang di telan kegelapan. "Tunggu!." Teriak gadis itu. tapi terlambat anak itu sudah menghilang entah kemana.

'SRAK!'

Kedua anak remaja 1 kamar tapi pisah kasur itu bangun dengan tempo yang sesingkat-singkatnya. Walaupun mereka bangun nyaris secara bersamaan tapi mereka posisi mereka bangun berbeda. Pemuda berambut abu-abu yang kita kenal sebagai Souji Seta Sanada bangun dengan posisi duduk dan memegang kepalanya, sementara gadis berambut merah yang juga kita kenal sebagai Kaori Nagisa Arisato bangun dengan tangan kanan terjulur kedepan.

Souji melirik Kaori dan tersenyum geli melihat posisi rekan sekamarnya. Merasa di perhatikan Kaori menatap Souji yang masih tersenyum dan baru menyadari kalau tangannya masih terjulur kedepan. Wajah Kaori merah padam karena malu, lalu ia berdiri dan mengambil seragam Yasogami High dan handuk.

"Apa, kau mau memakai kamar mandi?" tanya Kaori dengan tenang walaupun sebenarnya ia masih malu karena kelakuan aneh yang baru saja ia lakukan. Kaori keluar kamar meninggalkan Souji sendiri dikamar. Ia memegang kepalanya sejenak dan berpikir tentang mimpi aneh yang baru saja ia alami. 'Apakah ini ada hubungannya dengan apa yang Igor maksud?' pikirnya

Souji turun dengan seragam Yasogami, sementara Kaori masih dikamar mandi yang jelas mandinya belom kelar. Souji sedikit kaget karena sarapan telah siap dan Nanako sedang mencuci tangannya di wastafel.

"Nanako, kamu yang menyiapkan sarapannya?" Nanako mengangguk lalu beranjak kemeja dekat Tv di ikuti Souji dari belakang. Begitu mereka duduk Souji langsung menanyakan hal yang ada di benaknya. "Jadi selama ini kamu bisa memasak ya Nanako?" tanya Souji.

"Yah, tapi hanya membuat roti bakar dan telur saja, selebihnya kami membeli makanan di luar karena ayah tak bisa memasak." Kata Nanako cerah. Memang benar sarapan kali ini hanya di dominasi dengan roti bakar serta telur mata sapi.

"Oh ya Nanako, ayahmu kemana, kok gak ada?" Wajah Nanako yang tadi cerah langsung berubah menjadi murung. "Ayah selalu berangkat pagi-pagi sekali, ia tidak pernah sarapan kukira." Tiba-tiba Kaori turun dari lantai dua dan menemukan dua orang sedang berbincang-bincang. Segera saja ia mendekati kedua orang tersebut.

"Wah, kalian sedang ngobrolin apa? Dan hei, siapa nih yang buat sarapannya?" tanya Kaori dan langsung di jawab oleh penjelasan Souji. "Oh, jadi Nanako yang membuat sarapan, hebat banget kamu Nanako." Dipuji seperti itu Nanako langsung tersenyum."Terimakasih." ucapnya dengan rona merah dipipinya.

Setelah mereka selesai sarapan, mereka segera keluar dari rumah dengan paying masing-masing ditangan dan segera mengunci pintu rumah. Siapa yang memegang kuncinya? Tentu saja Nanako. "Nanako, kamu yakin kamu yang pegang kunci itu?" tanya Kaori khawatir. Dibalas dengan senyuman oleh Nanako. "Tentu saja, aku sudah terbiasa menjaga rumah sendirian, lagi pula sekolahku lebih dekat dari rumah." Kaori mengangguk lalu mereka berjalan bersama sampai Samegawa River bank.

"Kalau begitu kita berpisah disini, sekolahku berlawanan arah dengan kalian." Souji mengangguk tapi Kaori yang masih bingung langsung bertanya kepada Nanako. "Yasogami High berada dimana sih Nanako?"

"Sekolah itu ada di dekat bukit, kalian ikuti saja kakak-kakak yang berseragam sama seperti kalian." Nanako menunjuk dua remaja perempuan yang memakai jaket hijau dan cardigan merah. Kaori ber-O- Ria, sementara Souji memutar bola matanya karena kepolosan temannya ini.

"Kalau begitu sampai bertemu nanti sore." Kata Nanako lalu ia berbalik arah dan pergi meninggalkan mereka berdua. Souji dan Kaori berjalan mengikuti pelajar-pelajar berseragam sama dengan mereka. Sesampainya mereka di sebuah perempatan, tanpa ada tanda-tanda yang jelas sebuah sepeda berwarna orange menyelonong melewati mereka, hampir saja sepeda itu menabrak Souji kalau saja Souji tidak bergerak menyamping. Alih-alih menabrak Souji pengendara sepeda itu malah menabrak gundukan sampah dan stang sepeda itu mengenai sang elang milik pengendara itu diikuti dengan teriakan keras dari pemuda itu.

Souji yang melihat kejadian itu langsung merasa ngilu di bagian vitalnya, sementara Kaori malah mesam-mesem ngeliat orang itu menderita. Tanpa mereka sadari orang-orang yang melihat kejadian itu juga sama seperti Souji dan Kaori. Kalo para cowok pada ngilu, para cewek malah pengen kasian mereka berdua segera meninggalkan si pengendara sepeda itu.

Sesampainya mereka di sekolah, mereka segera keruang guru untuk menemui wali kelas mereka.

.

Di tempat yang sama tapi berbeda ruangan, terdapat 3 orang yang sedang duduk santai walaupun satu dari mereka tidak duduk dengan santai. Seorang gadis berambut bob bewarna coklat susu melihat dengan tatapan aneh kepada lelaki berambut coklat susu yang terlihat murung.

"Kau kenapa Yosuke? Tidak seperti kau yang biasanya." Tanya cewek tersebut. "Bukan urusanmu." Jawab pemuda yang di panggil Yosuke itu dengan ketus. 'Kalau Chie mengetahui apa yang terjadi bisa mampus aku jadi bahan olok-olokannya' batin Yosuke

"Hei, jawabanmu ketus sekali." Chie segera berdiri mendekati Yosuke. Ia langsung memegang kerah baju milik Yosuke dan mengguncang-guncang tubuh lemah milik Yosuke sembari berkata. "Jawab pertanyaanku dengan benar!"

"Sudahlah Chie, mungkin dia tidak enak badan, makanya dia tidak mau bicara." Ucap cewek percardigan merah. Chie yang sedang mengguncang tubuh Yosuke langsung berhenti. Dengan ketus Chie berkata. "Bersyukurlah karena Yukiko berkata seperti itu, kalau tidak mungkin sudah masuk keruang kesehatan."

Yosuke yang dibagian vitalnya masih terasa sakit sekarang ditambah kepalanya terasa pusing diguncang-guncang chie serasa ingin mati saja. Tiba-tiba pintu terbuka dengan kasar dan masuk seorang pria bergigi tongkos bertampang sombong masuk dengan tangan masuk di kantong celananya. Dengan cepat seorang pemuda berkacamata segera berdiri dan memberi sebuah komando untuk mengucapkan salam kepada pria itu.

Pria itu cuman membalas dengan ketus. "Ya-ya cukup sudah omong kosong tak jelas ini." Dibalas dengan jawaban kurang ajar dari guru itu seluruh murid kelas langsung sweatdroped.

"Aku tak ingin berbasa-basi lagi, kali ini kita kedapatan 2 orang pengacau yang datang dari kota." Si guru tak tahu diri itu member komando yang sedikit kurang ajar kepada murid baru yang akan menempati kelas itu.

Begitu orang yang bersangkutan masuk si guru kurang ajar langsung menyuruh mereka memperkenalkan diri mereka masing-masing. "Namaku Souji Seta, mohon bantuannya selama 1 tahun kedepan." Ucap Souji. "Sekarang giliranmu, wanita jalang." Kepala Kaori langsung berkedut mendengar si guru mengatakan perkataan kurang ajar kepadanya. "Siapa yang kau maksud wanita jalah, HAH?" Gertak Kaori tanpa hormat.

"Sudahlah Kaori, biarkan dia berkata semaunya, sekarang kau lebih baik memperkenalkan dirimu." Bisik Souji menenangkan. Kaori menghela nafas lalu segera memperkenalkan dirinya. "Namaku Kaori Nagisa, mohon bantuannya."

"Ya-ya sudahlah, sekarang kalian cepat duduk." Perintah si guru kurang aja. "Kami harus duduk dimana?" tanya Kaori tapi si guru tidak menjawab. Tiba-tiba wanita berjaket hijau yang mereka lihat di jalan mengangkat tangannya. "Pak, disebelah bangku saya dan bangku Yosuke kosong, mereka bisa duduk disini."

"Ya-ya yang penting kalian cepat duduk!" perintah si guru kepada Kaori maupun Souji. Mereka berdua nurut lalu pergi kearah bangku yang di maksud. Souji duduk di sebelah Chie dan Kaori di sebelah Yosuke.

"Hey, namaku Chie Satonaka, mungkin masuk kekelas King Moron adalah sesuatu ketidak beruntungan. Aku harap kalian senang disini."bisik Chie. Selanjutnya mereka hanya diberi penjelasan dan pelajarn oleh king moron.

'Teng! Teng!'

Bunyi bel bergema diseluruh sekolah tersebut tanda selesainya jam pelajaran. "Baiklah segini dulu pelajaran kita kali ini, dan besok kita akan bertemu lagi" kata King moron. Ketika ia mengeser pintu kelas, sebuah suara seseorang menggema masuk kedalam kelas.

"Perhatian kepada seluruh siswa, dimohon tidak meninggalkan sekolah sebelum ada pengumuman lebih lanjut, sekali lagi tidak ada yang boleh meninggalkan sekolah sebelum ada pengumuman lebih lanjut, terima kasih." Ucap Suara yang menggema tersebut.

"Kalian dengar, jangan ada yang meninggalkan sekolah kalau tidak ada pengumuman lebih lanjut." King Moron lalu menutup pintu kelas. Seketika itu juga kelas ramai karena pengumuman tadi. Mulai dari kenapa tidak boleh pulang sampai mereka mendengar suara sirine mobil polisi.

"Hey, ini sebenarnya ada apa ya?"tanya Chie. "Mungkin ada sebuah kecelakaan." Jawab Souji cepat.

"Oh ya, aku lupa memperkenalkan sahabatku, dia bernama Yukiko Amagi." Chie lalu menunjuk wanita dengan cardigan merah. "Namaku Yukiko Amagi senang berkenalan dengan kalian." Kata Yukiko.

"Namaku Souji Seta, senang berkenalan."

"Namaku Kaori Nagisa, senang berkenalan."

"Hey, bagaimana kalau kita pulang bersama nanti?" Ajak Chie kepada Souji dan Kaori. Tanpa pikir panjang mereka mengangguk setuju. Mereka berempat mengobrol dengan santainya sampai kemunculan seseorang bernama Yosuke.

"Miss Satonaka.." panggilnya Ragu-ragu. Orang yang bersangkutan langsung menoleh dengan cepat. "Ada apa Yosuke?" tanya Chie.

"Sebenarnya.. Aku…" Yosuke terdiam dengan raut wajah bersalah. "Sebenarnya kenapa?" Ulang Chie. Tiba-tiba Yosuke memberikan sebuah kotak kaset DVD bergambar dan bertuliskan Trial of the Dragon. "Maafkan aku aku benar-benar tak sengaja, tolong maafkan aku."

"Memangnya ada apa dengan kaset itu?" tanya Chie dengan polos. "Yah, lebih baik kau lihat sendiri saja ya, aku mau pulang dulu." Yosuke langsung berbalik arah dan berjalan cepat menuju pintu keluar. Melihat Yosuke bertingkah aneh Chie langsung mengejarnya dan menendang bagian Vital milik Yosuke. Yosuke langsung mengerang kesakitan, nasib malang menimpa Yosuke hari ini. Chie langsung membuka kotak DVD miliknya dan terkejut melihat baretan besar terdapat pada kaset DVD tersebut.

"TRIAL OF THE DRAGON KUUUUU!" Chie meraung kecang sampai 1 kelas terkejut mendengar raungan Chie. "Kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu ini!"

'TING! TONG!'

"Perhatian kepada seluruh murid, kalian diizinkan pulang sekarang dan disarankan kalian segera pulang kerumah masing-masing." Kata pusat Informasi tersebut.

"Ayo kita pulang dan kita tinggalkan si ceroboh ini." Ajak Chie dengan jengkel lalu ia keluar kelas itu. Yukiko dan Kaori segera mengikuti Chie, sementara Souji masih memerhatikan Yosuke dengan ngeri lalu ia meninggalkan Yosuke untuk mengejar Chie dkk.

Ketika mereka sampai dipintu gerbang mereka di cegat oleh seseorang yang cukup aneh dan pandangannya menatap seseorang yang berpakaian merah yaitu Yukiko.

"umm, Yuki-chan maukah kamu berjalan bersamaku?" ajak lelaki aneh yang berdiri di depan mereka. "Jalan? Oh maaf aku sedang sibuk." Balas Yukiko Bingung. Tiba-tiba si lelaki menggerutu aneh dan berlari meninggalkan mereka.

"Sebenarnya lelaki itu mau apa sih?" tanya Yukiko dengan lugunya. Ketiga orang yang ada di situ tercengan karena keluguan Yukiko. "Yukiko kamu lugu sekali sih, dia itu mengajakmu kencan tau." Kata Chie. Sementara Yukiko cuman mengangguk.

Tanpa mereka sadari, Yosuke yang menguping dari tadi segera berjalan membawa sepedanya kedepan mereka. "Aku harap,kalian tidak terlalu akrab dengan pendatang baru seperti mereka, mungkin aja mereka kesini ada maksud terselubung." Begitu selesai melontarkan kata-kata yang kurang enak di dengar, Yosuke langsung menaiki dan memacu sepedanya meninggalkan mereka bereempat. "Yosuke, dia memang selalu sepeti itu." kata Chie lalu berjalan diikuti oleh ketiga temannya.

Sambil berjalan mereka berempat mengobrol dengan santainya hingga sebuah pita kuning bertuliskan Police line terbentang menutupi sebuah jalan di sebuah perempatan.

"Hey ada apa ini?" tanya Yukiko bingung. Berikutnya seseorang berjas dan bercelana biru berlari melewati mereka dan muntah di selokan. "Adachi! Jangan bertindak sebagai seorang pemula!" ucap suara yang sangat di kenal oleh Kaori maupun Souji. Seorang Detektif dengan dasi merah berjalan mendekati mereka bereempat.

"Sedang apa kalian disini?" tanya Dojima dengan curiga. Dengan tenang Souji menjawab. "Kami hanya kebetulan lewat saja, memangnya ada apa?"

Dojima menghela nafas sejenak lalu menjawab pertanyaan yang di lontarkan Souji. "Yah hanya sebuah kasus pembunuhan, tapi ada sedikit ke ganjilan disini."

"Keganjilan?" tanya Souji. "Yah begitulah, sebentar lagi kalian akan tahu, dan Adachi cepat kesini! " perintah Dojima kepada orang yang bernama Adachi. "Baik pak" jawab Adachi lalu ia pergi mengikuti Dojima dari belakang.

"Sepertinya yang di maksud pamanku adalah akan ada beritanya di TV." Jelas Souji. Mereka semua lalu berpisah kerumah masing-masing.

.

.

.

"Selamat datang." Kata Nanako ketika Kaori dan Souji pulang. Souji langsung beranjak kekamar untuk menaruh tas miliknya dan Kaori.

"Jadi bagaimana hari pertama kalian?" tanya Nanako dengan muka penasaran. "Parah, Gurunya gak enak banget." Jawab Kaori Ngasal. Nanako tiba-tiba berdiri dan mengambil sebuah bungkus plastic yang ternyata adalah 3 set bento yang sudah jadi.

"Hanya tiga? Bukankah kita terdiri dari 4 orang?" Nanako langsung mengeleng. "Ayah hari ini lembur jadi ia tidak bisa pulang hari ini." Kata Nanako lesu. Melihat Nanako begitu lesu Kaori langsung menghiburnya kalau ia dan Souji akan mengajaknya bermain sehabis makan. Souji yang baru turun dari kamar langsung ditanya seperti.. "Kau maukan?" tanya Kaori. Bingung, Souji cuman menjawab "Ya" yang di sambut riuh oleh Nanako.

"Kalau begitu ayo kita makan." Ajak Nanako ceria sambil mengeluarkan 3 set bento. Souji yang bingung melihat bento yang terdiri dari 3 set saja ingin menanyakan hal yang sama dengan Kaori kalau saja Kaori tidak membungkan mulut Souji. Makan malam terasa begitu menyenangkan bagi mereka bertiga, mereka terus berbicara tentang acara-acara TV dan Nanako terus bercerita tentang kejadian lucu di sekolahnya, sampai sebuah berita memotong pembicaraan mereka.

"Sore ini terjadi sebuah kasus pembunuhan aneh yang terjadi di Yasoinaba. Sang korban yaitu Mayumi Yamano terbunuh dengan posisi yang aneh yaitu tergantung diantena sebuah rumah milik salah seorang warga sekitar. Tapi para kepolisian tidak menemukan petunjuk apapun untuk mengungkap pembunuh yang membunuh nona Mayumi Yamano. Desas- desus mengatakan bahwa Misuzu Hiragi yang telah merencanakan pembunuhan tersebut dan Taro Namatame sebagai mantan Suami dari Mayumi Yamano sedang diperiksa di kepolisian setempat." Souji,Kaori dan Nanako hanya diam mendengar pembunuhan mengerikan seperti itu, sampai Nanako memecahkan keheningan. "Mengerikansekali ya." Kaori mengangguk sementara Souji masih terdiam.

"Apakah, ayah akan baik-baik saja ya?" gumam Nanako. "Ayahmu pasti baik-baik saja kok." Ucap Kaori lembut sambil mengelus kepala Nanako. "Kami disini akan menjaga kamu kok." Kata Souji.

"Sungguh?" tanya Nanako yang di jawab dengan anggukan dari mereka berdua. "Yeay" kata Nanako sambil berdiri lalu duduk di antara mereka berdua, layaknya seorang anak mendapat perlindungan dari kedua orangtuannya.

"Oh ya Nanako, kamu mau aku bacain cerita?" tawar Kaori yang disambut dengan anggukan riang dari Nanako. Mereka berdua lalu masuk kekamar Dojima dan Nanako, lalu Souji membereskan sisa-sisa makanan tadi. Setelah selesai membereskan sia-sia makanan, Souji naik kekamarnya lalu mengambil sebuah buku novel untuk dibaca.

Tak lama kemudian Kaori masuk kekamar mereka. "Bagaimana? Apa Nanako sudah tidur?" tanya Souji. "Yah, dia cepat sekali tidurnya, kau perlu tahu kalau kalau Nanako sedang tidur wajahnya lebih manis dari wajah ketika ia bangun walaupun ketika ia bangun tetap manis sih." Souji tersenyum mendengar hal itu. "Yah, dia memang anak yang manis dan baik." Souji mulai membaca Novelnya lagi.

"Kau tidak tidur?" Souji menurunkan novelnya sedikit lalu menatap Kaori. "Kau tidur saja dulu. Aku mau melanjutkan membaca novel ini sedikit lagi." Souji lagi-lagi tenggelam dalam novel bacaannya dan tak merasa kalau Kaori sedang tesenyum ganjil kearahnya.

"Sebelum itu, keluar dulu dari kamar ini, aku mau GANTI BAJU!" Kaori langsung menendang Souji keluar kamar mereka berikut novel yang sedang Souji baca.

.

.

.

Cayooo

Akhirnya Fic ini selesai dengan pengorbanan waktu yang cukup lama. Dan saya rasa di chap ini lebih sedikit dibanding chap sebelumnya

Oh ya, disini saya tidak memperkenalkan Souji dan Kaori tidak menggunakan nama belakang mereka yaitu Sanada dan Arisato, karena di cerita chap sebelumnya telah di beritahu alasan mereka tidak menggunakan nama Sanada maupun Arisato.

Dan terima kasih atas Revienya kepada Baekzzz,Ginryuumaru, Shaku Zakkosei, meshi-chan, Dark Hayato Arisato. Yang telah memberi review kepada Fic saya.

Untuk Baekzzz dan Dark Hayato Arisato, tolong ampuni saya karena telah menaru Souji dan Kaori 1 kamar.

Untuk Ginryuumaru, sebenarnya yang berantakin Dojima tapi Nanakonya sering capek kalau beres-beres rumah. kalau dia udah beres-beres rumah paling juga Dojima berantakin lagi. Dan ingan perbuatan ini jangan di tiru.

Untuk Shaku Zakkosei, Sebenernya belom Pairing tapi mungkin cuman terlihat seperti itu.

Untuk meshi-chan, Sebenarnya Souji bukan anaknya Akihiko cuman nama keluarganya emang sama. Saya kasih sedikit spoiler nih, mungkin nanti Akihiko bakal muncul di Fic ini. Di chap keberapa, hanya saya dan yang diatas yang tahu.

Dan mungkin ada banyak kesalahan dalam Fic buatan saya jadi saya mohon di Review