I'm Happy Because of You
Chapter 2
Part 1
.
[WARNING]
Story Gaje, Typo everywhere
HUNHAN
BOYXBOY
DLDR – Just go away kalau ga suka
.
.
.
3 tahun kemudian
Annecy, Paris
Udara musim semi sungguhlah menyejukkan untukku. Aku menyukai angin yang berhembus di wajahku, cahaya matahari yang bersinar begitu terang. Aku masih bersantai ditaman belakang rumahku sembari menganggumi pemandangan danau yang terbentang. Keputusanku untuk keluar dari pekerjaanku sebelumnya di Paris dan pindah ke Annecy untuk mengajar di sekolah dasar sebagai guru seni sungguhlah tepat. Tidak ada deadline pekerjaan jauh dari kebisingan, Annnecy mungkin merupakan kota yang cocok untuk jiwaku. Hari ini adalah hari Sabtu dan aku tidak memiliki jadwal apapun, sehingga aku mengisinya dengan bersantai di belakang rumah dan rasanya aku ingin melukis pemandangan ini.
"Là vous êtes, Lu han.(disana kau rupanya, Lu han)" Aku menoleh sesaat mendengar suara yang sudah kukenal 1,5 tahun ini semenjak pindah ke Annecy dan tersenyum padanya, "hai, Alex, ada apa?" laki-laki dengan perawakan tinggi dan mata biru yang indah, dan kalau aku bilang dia adalah laki-laki yang sangat tampan menurutku. Alex bekerja disalah satu firma hukum sebagai seorang pengacara dan aku mengenalnya ketika aku masih bekerja di Paris saat dia memiliki pekerjaan disana dan dirinyalah yang merekomendasikan untuk diriku pindah ke Annecy. Oleh karena itu aku meganggapnya sebagai saudara laki-laki yang menjagaku.
"Apa kau sudah makan siang?" Alex tersenyum lembut padaku dengan senyumannya yang tampan, aku menggelengkan kepala, "kalau begitu ayo kita makan siang, aku sedang istirahat sekarang jadi aku punya waktu." Alex menawarkan diri, sesungguhnya aku tahu dirinya memiliki perasaan padaku, hanya saja aku selalu membangun pembatas diantara kami dan Alex-pun tahu tentang masa laluku juga. Tetapi sepertinya dia tidak pernah menyerah?
"Kau ini, apakah tidak apa-apa kau sering makan siang denganku dibanding dengan rekan kerjamu?" Aku tertawa lirih dan Alex hanya mengangkat bahu dengan senyum miring, "pas de problème pour moi (tidak masalah bagiku)" Aku tersenyum dan beranjak dari dudukku kemudian menuju depan rumah diikuti Alex. Kami pun menuju restoran di pusat kota Annecy untuk makan siang. Entah kenapa jika mengobrol dengan Alex selalu menyenangkan, seperti dirinya sudah sangat mengenalku. Sembari mengobrol, aku mendengar handphoneku berbunyi dan kulihat ada pesan masuk dari Kyungsoo.
Acara pelelangan lukisanmu akan dimulai besok. Disana saat ini pasti masih siang kan? Semua lukisan yang kau buat sudah dibawa ke tempat lelang. Apakah kau yakin akan melakukannya?
"Siapa, Lu?" Alex bertanya padaku sembari memasukkan makanan ke mulutnya, kemudian aku tersenyum, "Kyungsoo, dia hanya mengingatkan acara pelelangan lukisanku di Seoul besok." Alex hanya menganggukan kepala dan melanjutkan makan siangnya dan akupun membalas pesan Kyungsoo.
Hai Kyung,, disini masih siang. Apakah kau tidak tidur? Bukankah disana sudah malam haha. Untuk masalah lukisan itu, aku sudah yakin. Lagipula hasil dari lukisan tersebut akan aku donasikan :) jadi akumohon bantuanmu ya oemaaa :D
Belum ada 1 menit, Kyungsoo sudah membalas pesanku
Baiklah kalau memang begitu,, tenang saja, semua sudah beres. Oiya, sebenarnya aku tidak ingin memberitahumu. Tetapi sebenarnya sebulan lalu setelah saat aku dan Kai ke apartementmu untuk mengambil semua lukisan, kami bertemu Sehun di lobby. Kami berdua lumayan kaget karena semenjak kepergianmu, kami tidak pernah mendengar kabar darinya. Kau tau sendiri, aku dan Kai juga tidak datang ke pernikahannya. Sebenarnya banyak yang ingin aku ceritakan tapi aku sudah ngantuk. Hehehe,, besok kau aku hubungi lagi. Bye Luluu.
Aku tersenyum dan juga berdebar membaca pesan dari Kyungsoo, tersenyum karena kebaikannya dan berdebar ketika Kyungsoo menyebutkan namanya. Sudah lama sekali Kyungsoo tidak pernah mengungkit masalah Sehun, terakhir Kyungsoo memberitahuku tentang Sehun saat setelah diriku baru beberapa minggu di Paris. Kyungsoo bilang dirinya dan Kai tidak datang ke pernikahan Sehun, dengan alasan mereka tidak terlalu dekat. Kemudian setelah itu tidak pernah sekalipun Kyungsoo membicarakan Sehun, toh diriku juga tidak memikirkannya. Benarkah?
Setelah makan siang, Alex mengantarku kembali ke rumahku dan dirinya kembali pergi bekerja. Sebenarnya Alex mengajakku makan malam, tetapi aku menolaknya dengan alasan aku ingin istirahat. Ya, tiba-tiba aku merasa memang butuh istirahat sepertinya. Tiba-tiba aku ingat pesan Kyungsoo kalau misal dia bertemu Sehun di lobby apartement. Untuk apa dia ke daerah apartementku? Apakah dia memiliki seorang kenalan disana? Atau dia ada bisnis? Entahlah, aku tidak ingin memikirkannya. Lebih baik aku menghubungi sekolah seni yang akan aku berikan donasi. Aku melelang semua lukisanku yang aku tinggal di Seoul untuk aku donasikan ke sebuah sekolah seni di Paris. Waktu itu aku tidak sengaja sedang melakukan penelitian disebuah sekolah seni yang mana rata-rata siswa disana adalah remaja yang memang memiliki bakat sejak dini dan kebanyakan mereka bukan dari keluarga yang mampu. Oleh karena itu aku memutuskan untuk menjualnya.
.
.
.
Seoul, Korea Selatan
No one's POV
Terlihat dua orang pria sedang duduk dia counter sebuah bar sembari menyesap minuman beralkohol di depan mereka. Salah satu pria yang memiliki mata bulat bernama Kyungsoo terlihat sedang berkutat dengan handphonenya sebelum pria yang satunya berbicara dengan suara beratnya, "Apakah Lu han baik-baik saja disana?" kemudian pria bermata bulat tersebut melihat kearah pria disebelahnya dengan senyuman tipis, "Yeah, dia baik. Jadi, apa yang membuatmu memanggilku kesini, Sehun?" Kemudian pria yang merasa disebut namanya menoleh ke arah pria yang diajaknya bertemu di salah satu bar di Seoul. Satu hal yang ingin Kyungsoo ceritakan kepada Lu han adalah tentang Sehun. Semenjak kepergian Lu han, sebenarnya Sehun masih berhubungan dengan Kyungsoo ataupun Kai walaupun Kyungsoo berusaha tetap merahasiakan hal ini pada Lu Han. Dan sebenarnya Kyungsoo dan Kai tahu apa yang dilakukan Sehun di sekitaran apartement Lu han.
Flashback
Sehun sedang berada diruang ganti sembari memperbaiki dasinya dengan cemas, "Kau harus bisa." Sehun berbisik padanya sendiri. Hari ini adalah hari pernikahannya dan juga hari kepergian Lu han. Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar kemudian Baekhyun yang merupakan calon pengantinnya masuk dan hal tersebut membuat Sehun terkejut karena tidak seharusnya Baekhyun disini.
"Baek? Kenapa kau kesini?" Ungkap Sehun yang masih terkejut, dan dibalas dengan senyuman yang terlihat dipaksakan oleh Baekhyun. Sehun merasa ada yang aneh dengan sikap Baehyun. Kemudian Baekhyun menatap Sehun dengan tatapan yang sangat tulus, berbeda dengan saat mereka bersama. Kemudian Baekhyun meraih Sehun dan membawa kepelukannya. Tingkahnya membuat Sehun bingung, "Hei, ada apa sayang?" tetapi Baekhyun hanya menggelengkan kepala sembari tersenyum di pelukan Sehun, dan hal selanjutnya membuat Sehun membuka matanya lebar dengan ucapan Baekhyun, "Aku akan mengurus sisanya dari sini. Pergilah sebelum penerbangan Lu han berangkat." Sehun kemmudian melepaskan pelukan Baekhyun dan menatapnya dalam, masih tidak percaya dengan apa yang dikatakannya.
"Well, aku merasa kita terlalu tergesa-gesa dengan pernikahan ini dengan semuanya. Lagi pula kita manusia, dan manusia selalu membuat kesalahan bukan? Jadi, aku tidak ingin aku ataupun dirimu membuat kesalahan kali ini. Penerbangan Lu han akan berangkat 40 menit lagi, cepat pergilah sebelum aku berubah pikiran." Baekhyun mengakhiri ucapannya dengan ancaman yang menurut Sehun hanya sebuah candaan. Karena Sehun bisa melihat ketulusan Baekhyun ketika berbicara padanya. Dan ucapan Baekhyun terus terngiang di kuping Sehun kemudian dengan cepat Sehun berlari keluar gereja menuju jalan utama untuk mengentikan taksi. Sehun meminta supir taksi untuk membawanya ke Bandara Internasional Incheon. Sembari melihat jam di tangannya, Sehun mencoba menghubungi ponsel Lu han akan tetapi selalu dialihkan.
Disisi lain, di bandara Lu han merasa jantungnya berbeda, entah karena dirinya akan melakukan penerbangan jarak jauh atau suatu hal lainnya. Sesaat kemudian panggilan untuk penerbangannya sudah di umumkan. Lu han pun beranjak dari tempat duduknya. "Kau pasti bisa Lu han." Lu han meyakinkan dirinya sebelum akhirnya berjalan menuju pesawatnya. Disaat bersamaan, Sehun tiba di bandara akan tetapi Sehun tidak sempat bertemu dengan Lu han karena penerbangannya sudah berangkat. Dengan nafas yang masih terengah-engah, Sehun kemudian terduduk di bangku terdekat kemudian meletakkan kedua tangannya di kepala sembari meremas rambutnya dengan frustasi dan airmata yang jatuh.
Sejak saat kembali dari bandara, Sehun tidak langsung kembali ke rumahnya melainkan menuju apartement Lu han karena dia tahu kode apartementnya. "Gunakanlah apartementku semaumu jika kau bosan dirumah." Itu adalah ucapan Lu han dahulu saat Sehun belum memiliki kekasih. Dan semenjak itu pula, Sehun lebih menghabiskan waktu di apartement Lu han dibanding rumahnya sendiri.
End of flashback
Pertemuannya malam ini dengan Kyungsoo tidak lain menyangkut diri Lu han. Semenjak kepergian Lu han, Sehun menjadi semakin pendiam dari sebelumnya. Dia lebih banyak menghabiskan waktu disuatu ruangan di apartement Lu Han. Ya, Sehun sudah tahu tentang apa yang Lu han sembunyikan di salah satu ruangan di apartementnya, karena sewaktu mereka masih bersama –pun, Sehun dilarang memasuki ruangan tersebut. Ruangan yang berisikan lukisan-lukisan yang Lu han buat yang hampir seluruhnya merupakan wajah Sehun. Sebenarnya Sehun bisa saja meminta informasi, kontak atau alamat Lu han di Paris dari Kyungsoo. Tetapi Kyungsoo tidak memperbolehkannya dengan alih agar Lu Han beristirahat dan menyegarkan pikirannya.
"Mengenai lukisan-lukisan itu, aku akan membeli semuanya." Kyungsoo langsung menoleh tidak percaya dengan apa yang Sehun ucapkan.
"A-apa? Apa kau sudah tidak waras?" Kyungsoo kembali meyakinkan dirinya dengan apa yang di dengarnya, Sehun kemudian mengalihkan pandangannya dari gelas yang iya genggam ke arah Kyungsoo, dan tersenyum tipis, "Aku memang sudah tidak waras semenjak kepergian Lu han." Kyungsoo makin menggeleng-gelengkan kepalanya karena masih tidak percaya.
"Sehun, aku tahu kau sangat merindukan Lu Han, tetapi aku yang juga sebagai sahabatnya hanya tidak ingin Lu Han terluka lagi. Walaupun dirimu tidak jadi menikah 3 tahun lalu, tetapi aku hanya menghormati permintaan Lu Han yang untuk sementara ini tidak mengungkit tentang dirimu. Dan jika kau membeli semua lukisan tersebut, dia pasti akan curiga." Kyungsoo menghela nafas dalam sembari melihat Sehun yang sedang meneguk habis vodka miliknya seakan-akan tidak mendengar apa yang dia katakan. Beberapa menit kemudian mereka tidak berbicara, yang terdengar hanyalah musik yang mengisi bar.
Tiba-tiba suara tawa renyah dari bibir Sehun mengagetkan Kyungsoo, "Baiklah, aku tidak akan membelinya dan tidak akan ikut campur acara lelang besok. Kalau begitu aku pulang. Terimakasih sudah menemaniku malam ini. Bye Kyungsoo." Sehunpun beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Kyungsoo yang kemudian menghela nafasnya, "Lu han, seandainya kau tahu bagaimana keadaan Sehun sekarang." Ucap Kyungsoo pada dirinya sendiri.
.
.
.
"Ya! Lukisan angin yang diam terjual 756.251 Won oleh klien nomor 23." Suara pembawa acara lelang hari ini terdengar lantang setelah 11 dari lukisan milik Lu han terjual. Kyungsoo yang duduk di depan mencatat sembari melihat sisa lukisan yang belum di lelang kemudian mengernyitkan dahinya karena lukisan terakhir adalah lukisan dengan sisi wajah Sehun dan kalau tidak salah Sehun sering memandang lukisan ini ketika dia berdiam diri di studio Lu han. Sesuai janjinya Sehun tidak datang ataupun membeli lukisan Lu han dan entah Kyungsoo harus bernafas lega atau merasa bersalah padanya. Handphone Kyungsoo bergetar dan ternyata Lu han mengirim pesan.
Aku diberitahu Mrs. Jung, lukisan angin yang diam terjual 900 ribu won? Woah daebak! Aku sangat senang karena akhirnya aku bisa mendonasikan semuanya. Apakah masih ada lukisan yang belum terjual?
Dengan cepat Kyungsoo membalas pesan tersebut
Iya, aku juga tidak percaya ada klien nomor 23 membelinya dengan harga tinggi. Aku ikut senang jika keinginanmu tercapai Lu :)
Tinggal 1 lukisan lagi, yaitu lukisan wajah Sehun yang mana lukisan terakhir yang kau buat dulu sebelum kau pergi. Nanti aku kabari untuk perkembangan selanjutnya. Sekarang sedang sesi istirahat.
Kyungsoo berdiri dari tempat duduknya setelah selesai mengirim pesan pada Lu han. Dirinya menuju ruang administrasi untuk bertemu dengan klien nomor 23 mengurus proses pembayaran dan penyerahan lukisan. Akan tetapi entah kenapa Kyungsoo merasa bersalah lagi. Apakah aku harus menghubungi Sehun? dirinya menghela nafas berat kemudian menggelengkan kepala untuk menghilangkan perasan bersalahnya. 15 menit berlalu dan acara lelang kembali dimulai. Pembawa acara mulai menaiki podium dan diikuti Kai dan Kyungsoo yang kali ini juga menuju podium sembari membawa lukisan terkahir.
"Kali ini lukisan bernama Lost Prince adalah lukisan terkahir dari koleksi Lu Han. Dan karena lukisan ini memiliki makna yang penting dari pembuatnya, saya akan membuka harga 250.000 won. Lealng di mulai!" Setelah itu mulai banyak yang mengangkat tangan dan memberi penawaran tinggi, Kai dan Kyungsoo saling menatap karena antusiasme klien yang hadir. Hingga di beberapa menit terkahir ada 1 klien perempuan yang mengangkat tangannya dan memberi penawaran yang membuat semua mata terbuka lebar termasuk Kai dan Kyungsoo.
"10 Juta won. Aku ingin lukisan tersebut." Suara alto wanita tersebut membuat semua mata menatapnya tidak percaya. Kyungsoo menatapnya terkejut akan tetapi dibalas dengan senyuman.
"A-pa ada lagi? Penawaran terakhir adalah 10 juta Won. Ada yang ingin menawar lagi?" Ucap pembawa acara sembari melihat sekeliling dan setelah beberapa detik akhirnya pembawa acara menutup harga tersebut, "Ya! Lukisan Lost Prince terjual dengan harga 10 juta won oleh wanita cantik dengan nomor 10 disana. Berikan tepuk tangan yang meriah!"
"Aku akan ke ruang administrasi sebentar, kau urus yang disini ya." Ungkap Kyungsoo pad Kai yang setuju, kemudian Kyungsoo bergegas menuju ruang administrasi untuk menemui penawar terkahir. Karena entah kenapa, Kyungsoo merasa ada sesuatu yang harus dirinyaketahui.
Cklek
"Oh, Kyungsoo, kemari. Perkenalkan dia adalah Ms. Kim yang membeli lukisan Lost Prince tadi." Mrs. Jung kemudian memperkenalkan Kyungsoo dengan wanita yang didepannya. Dengan senyuman Kyungsoo mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, "Hai. Saya Kyungsoo, koordinator acara ini dan juga sahabat Tuan Lu han." Perempuan bermarga Kim tersebut membalas jabatan Kyungsoo dengan senyum cantiknya, akan tetapi entah kenapa Kyungsoo seperti pernah melihat perempuan didepannya entah dimana dan kapan, "Hai Kyungsoo, perkenalkan saya Kim Seoyon."
"Mohon maaf jika saya lancang, apakah kau bekerja di OSH Holding Inc.? Karena sepertinya aku pernah melihatmu?" Dan benar saja, ketika Kyungsoo mengucapkan nama perusahaan tersebut, terlihat perempuan itu sedikit tegang dan akhirnya tersenyum tipis.
"Ya tuan Kyungsoo, saya sekertaris Tuan Oh." Akhirnya Seoyon mengungkap identitasnya, kemudian Kyungsoo hanya tertawa lirih dan menggelengkan kepala, "Pasti Sehun yang menyuruhmu datang bukan? Tch, aku sungguh tidak percaya." Kyungsoo masih tertawa dan membuat Mrs. Jung yang ada di sebelahnya terpaksa ikut tertawa padahal tidak tau apa-apa untuk eringankan suasana, "Baiklah kalau begitu, silahkan proses pembayarannya dan mrs. Jung akan menyerahkan lukisannya. Terima kasih ms. Kim. Saya permisi." Kyungsoo akhirnya membungkukkan badannya dan meninggalkan mrs. Jung dan Seoyon untuk menemui seseorang. Tiba-tiba handphone Kyungsoo bergetar ketika Kyungsoo masih berjalan menuju parkiran mobil. Dan benar sepertinya Mrs. Jung sudah memberi tahu Lu han.
Yah! Kyungsoo apakah benar terjual 10 juta Won!? Siapa pembelinya? Sepertinya aku harus menemuinya dan berterimakasih _
Kyungsoo menghiraukan pesan dari Lu Han karena dirinya harus mencari tahu kebenarannya, dan mengirim pesan ke Kai jika dirinya harus pergi kesuatu tempat terlebih dahulu.
.
.
.
Mobil yang dikendarai Kyungsoo berhenti di sebuah bangunan besar dan megah di daerah Gangnam. Dan langsung saja dirinya keluar dari mobil dan masuk ke bangunan bernama OSH Holding Inc. tersebut dan menuju meja resepsionis, "Ada yang bisa saya bantu, tuan?" ucap resepsionis di depan Kyungsoo dengan senyuman.
"Aku ingin bertemu dengan Oh Sehun." Tanpa basa–basi Kyungsoo memberi tahu maksud tujuannya kepada resepsionis tersebut.
"Ah, tetapi direktur sedang ada tamu diruangannya saat ini, mungkin anda bisa meninggalkan pesan yang nanti bisa saya sampaikan?"
"Bisa kau sampaikan sekarang bahwa temannya bernama Do Kyungsoo datang, karena ini penting." Nada Kyungsoo sedikit memaksa yang membuat perempuan tersebut akhirnya menghubungi Sehun, setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Kyungsoo diperbolehkan naik, "Silahkan tuan menuju lantai 21, Direktur Oh sudah menunggu." Kyungsoo tersenyum pada perempuan tersebut sebelum dirinya bergegas pergi menemui Sehun. Sesampainya di lantai 21, Kyungsoo langsung menuju ke ruangan Sehun dan masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, karena ini tidak pertama kalinya dirinya datang kesini. Dan benar, Sehun sudah menunggunya dengan berdiri membelakangi Kyungsoo.
"Apakah kau datang kesini karena kau sudah mengetahuinya?" Itu adalah hal pertama yang diucapkan Sehun setelah Kyungsoo masuk ke ruangannya.
"Hmm, aku awalnya tidak ingin percaya sebelum mencari tahu. Tetapi sepertinya dugaanku benar kalau itu adalah dirimu." Kyungsoo kemudian menghela nafas panjang sebelum melanjutkan, "Lalu, akan kau apakan lukisan tersebut?"
"Tentu saja akan aku pajang di tempatku." Sehun kemudian berbalik menhadap Kyungsoo dan menatapnya dengan senyumannya, tetapi Kyungsoo tahu bahwa itu adalah senyuman yang dipaksakan. Kyungsoo akhirnya menghela nafas sembari berjalan ke arah meja Sehun dan megambil sebuah kertas serta pena. Baiklah, apa boleh buat. Sehun hanya memperhatikan dan mengangkat alisnya, "Kau mau apa?" lalu Kyungsoo memberikan secarik kertas bertuliskan nomor handphone kepada Sehun. Sehun menatap Kyungsoo sejenak sebelum kembali mengakat alisnya.
"Aku hanya ingin teman dan sahabtku bahagia." Hanya itu ucapan Kyungsoo dan Sehun tahu apa maksudnya. Dengan hati-hati Sehun mengambil secarik kertas tersebut, Kyungsoo tersenyum melihat tingkah Sehun, "Aku pergi. Semoga berhasil, Sehun." kemudian meninggalkan Sehun diruangnnya. Dalam beberapa menit Sehun hanya berdiri ditengah ruangannya sembari menatap secarik kertas di tangannya. Jantungnya berdebar tidak karuan, karena akhirnya dia bisa menghubungi seseorang yang sangat ia rindukan, Lu han.
Sehun berjalan ke arah tempat duduknya dan meletakkan kertas tersebut didepannya, dirinya bingung dengan apa yang harus dirinya katakan jika Lu han mengangkat teleponnya. Apakabar? Atau Hai aku Sehun, kau masih ingat?, Aku merindukanmu. Banya sekali yang ingi dirinya katakan.
.
.
.
Annecy, Paris
Diriku kembali mondar-mandir di ruang tengah menunggu balasan dari Kyungsoo. Aku masih tidak percaya karena seseorang telah membeli lukisanku dengan harga tinggi dan yang terpenting lukisan tersebut adalah lukisan wajah Sehun. Entah kenapa jantungku begitu berdebar, dan rasanya aku tidak bisa duduk dengan tenang sebelum aku mengetahui siapa pembelinya.
Diriku begitu lelah, bagaimana tidak? Sekarang sudah tengah malam di Annecy dan perbedaan waktu Korea Selatan adalah 7 jam lebih awal. Tetapi aku tidak bisa tidur dan tidak ingin tidur, disamping karena ingin mengetahui bagaimana acara lelangnya ditambah kali ini ada seseorang yang membeli lukisan Sehun dengan harga tinggi. Tiba-tiba handphoneku bergetar dan dengan cepat aku lihat, ternyata balasan dari Kyungsoo
Hai Lu, maaf baru bisa membalas pesanmu. Klien yang membeli lukisan terakhir akan menghubungimu langsung. Tetapi aku tak tahu kapan? Karena pasti disana sudah malam bukan? Semoga kau tidak terlalu terkejut.
Pesan terakhirnya rancu, aku memang sudah sangat terkejut tadi. Lalu akan ada kejutan apalagi? Aku menghela nafas panjang, dan aku sangat lelah. Rasanya aku ingin segera tidur jika memang klien yang membeli lukisanku akan menghubungiku langsung. Aku sudah sedikit merasa tenang. Akhirnya kulangkahkan kakiku menuju kamar untuk beristirahat. Lagipula besok aku harus mengajar, dan aku tidak ingin tertidur di ruang kelas.
.
.
.
.
Holaa maaf baru update hahaha. Awalnya ga mau gw lanjutin tapi ya gimana yaa, gw sendiri ga suka ending sedih hahaha :v
Ini gw bagi jadi 2 part soalnya kepanjangan. Maaf kalau banyak typo :)
