Suki desu, Naruto-sensei by Akuma Kurama
.
Naruto by Masashi Kishimoto
.
2
.
.
Entah apa yang ada dibenak Itachi saat tiba-tiba saja ia kehilangan fokus dan hampir menabrak seorang anak kecil yang tengah menyebrang jalan. Ia memang memilih lewat jalan alternatif dan ia sangat tidak menyangka akan seperti ini jadinya. Anak bertubuh gempal tersebut sepertinya terkejut dan menangis keras, membuat ayah satu anak ini mau tidak mau harus segera keluar dan menenangkan si bocah.
"Chouji-kun... astaga... apa yang terjadi sayang? Apa ada yang terluka?" Itachi terdiam sejenak saat melihat seorang wanita muda yang kini tengah duduk bersimpuh memangku anak bertubuh gempal tersebut dan berusaha untuk menenangkannya, tidak peduli akan bajunya yang kotor
"maaf, tadi aku hampir menabraknya, mungki anak ini terkejut…" sahut Itachi yang kini ikut berjongkok disamping wanita tersebut.
"anda ini bagaimana? Lain kali kalau membawa kendara hati-hati… disini banyak anak kecil. Apa anda tidak membaca tanda yang ada." Seru wanita tersebut kesal, tapi tidak juga memperhatikan Itachi yang kini ada disampingnya.
"maafkan aku nona… biar aku bertanggung jawab." Direktur dari Uchiha Corp. ini memanglah terkenal akan rasa tanggung jawabnya yang besar.
"shh... sudah Chouji-kun, jangan menangis lagi..." wanita pirang yang ternyata adalah Naruto itu kini lebih fokus pada Chouji.
"Chouji-kun ne? Ji-san minta maaf ya... apa Chouji-kun mau memaafkan ji-san?" Itachi mengusap surai coklat jabrik milik anak kecil yang masih menangis di pangkuan Naruto.
"ne, bukankah ji-san ini sudah minta maaf? nanti akan sensei belikan yakiniku untukmu, jadi jangan memangis lagi yah?" bujuk Naruto, kembali mengusap pipi tembam milik Chouji penuh sayang.
"sensei janji?" sahut bocah berusia 5 tahunan itu serak, tapi berusaha untuk tidak menangis lagi.
"tentu saja, sensei janji…" melihat interaksi yang terjalin antara Naruto dan Chouji membuat Itachi tersenyum kecil. Entah kenapa pria dewasa ini merasakan perasaan hangat yang menjalar didalam hatinya.
"kalau begitu, biar ji-san yang mengantar Chouji-kun, bagaimana? Kita berteman?" Itachi mengulurkan tangannya. Seperti anak kecil yang ingin berteman biasanya, Chouji meraih tangan Itachi dan menyambutnya dengan senyuman khas anak kecil.
"arigatou ji-san…" Naruto tersenyum kecil melihat salah satu anak asuhnya kembali ceria dan tahu bagaimana berterima kasih yang baik.
"maaf karena tadi sudah membentak ada tuan…"
"bukan masalah. Lagipula itu hal yang wajar, karena memang aku yang salah. Ah, namaku Itachi, siapa namamu, kalau aku boleh tahu?"
"Uzumaki Naruto, tuan.." Itachi merasa tidak suka saat wanita muda didepannya ini memanggilnya tuan.
"kurasa usia kita tidak berbeda jauh, jadi tolong jangan panggil aku tuan, Itachi saja." Ralatnya.
"baiklah tu- ah, maksudku Itachi-san." Ralat Naruto saat ia kembali memanggil Itachi dengan kata tuan.
"jangan ditambah –san, aku jadi terlihat tua..." guraunya, yang sama sekali tidak lucu.
"baiklah, maafkan aku Itachi..." mendengar namanya disebutkan dengan benar oleh Naruto, membuat perasaan Itachi senang bukan main, bahkan jantungnya berdebar-debar.
"apa kau mengajar didekat sini?"
"uhm, iya. Aku hanya bertugas mengajari mereka hal apa saja yang harus dan tidak boleh dilakukan oleh anak seusia mereka."
"kau wanita yang hebat..." pujinya tulus, Naruto tersenyum kecil mendengar pujian Itachi.
"arigatou..."
Dring ring...
Suara ponsel Itachi membuatnya tersadar dan segera membuka benda persegi panjang pipih tersebut. Sekertarisnya menghubungi kalau meeting akan segera dimulai.
"ah, maaf Naruto… sepertinya aku harus segera pergi…" pamit Itachi.
"iya, hati-hati, jangan sampai mau menabrak lagi ya…" sahut wanita tersebut disertai tawa kecil yang menyejukan. Bahkan Chouji juga berpesan hal sama pada Itachi.
"aku mengerti, Chouji-kun, sampai jumpa lagi. Nanti akan ji-san traktir yakiniku. Okey?"
"okay!" serunya girang. Itachi mengacak pelan surai jabrik Chouji, lalu berjalan menuju mobil yang terparkir didekat situ. Duda satu anak tersebut terus tersenyum dalam perjalanannya menuju kantor. Seperti anak muda yang baru merasakan cinta, mungkin? Entahlah Itachi sendiri merasa tidak yakin.
.
2
.
Uchiha Sasuke, pemuda yang bisa dikategorikan sebagai manusia yang cenderung sempurna, bagaimana tidak. Sebagai seorang Uchiha, ia memiliki paras yang tampan, kecerdasan otak yang tidak perlu diuji lagi, kekayaan yang bisa dibilang, wah. Tapi sekali lagi, tidak ada yang namanya sempurna didunia ini, ia hanya cenderung sempurna.
Bagaimanapun juga, Sasuke hanya manusia biasa, dia memiliki kekurangan, meskipun lebih banyak kelebihannya. Hal tersebut adalah, komunikasinya dengan lawan jenis. Entah karena apa, Sasuke merasa terganggu jika harus bicara dengan kaum hawa. Jangankan berbicara, berdekatan saja ia risih.
Dan lagi, ia juga tidak suka anak kecil. Karena menurutnya anak kecil itu berisik dan seperti iblis cilik dengan berjuta trik licik. Namun sayangnya, kali ini ia harus rela untuk berhubungan dengan dua hal tersebut.
"jadi untuk kegiatan ini, semua murid harus ikut serta, tidak ada bantahan maupun alasan!" tegas Ibiki-sensei, selaku guru sosial di sekolah tersebut.
"sensei... memangnya harus ya? Kenapa harus di taman kanak-kanak sih? Kenapa kita tidak menggunakan acara lain, seperti bakti sosial mungkin?" celetuk Sakura. Dia kan paling tidak suka dengan anak kecil.
"Haruno-san, ini sudah ketetapan sekolah. Jadi tidak bisa diganggu gugat. Dan untuk hal ini, kalian akan bekerja secara berkelompok." Dan Ibiki-senseipun membacakan kelompok.
"Uchiha Sasuke, Hyuuga Neji, Sabaku Gaara, Haruno Sakura dan Tenten" Sakura yang sebelumnya mengeluh, kini malah berbalik dan terlihat girang karena bisa satu kelompok dengan pangeran pujaannya.
"dan kalian bisa memulai kegiatan kalian minggu depan. Untuk tempat mana yang akan kalian datangi, silahkan kalian lihat di papan pengumuman nanati." Dengan begitu, penjelasan Ibiki-senseipun berakhir. Setelah sensei yang terkenal kejam itu pergi, semua siswi kelas tersebut ricuh. Mereka merasa iri dengan Sakura dan Tenten karena bisa satu kelompok dengan pangeran-pangeran sekolah mereka.
"hahh... menyebalkan."
"kita tidak bisa menolaknya Neji."
"memang benar sih. Hey Sasuke, tidak bisakah kau hubungi ayahmu untuk membatalkan acara ini?" tanya Neji, bagaimanapun Uchiha adalah pemilik yayasan sekolah ini, jadi tidak ada yang tidak mungkin bukan bagi seorang Uchiha?
"hn, akan kucoba."
"lagipulan, apa untungnya kita berinteraksi dengan anak kecil begitu?" protes Neji lagi.
"untuk masa depanmu kelak Neji." Sahut Gaara
"apa maksudmu Gaara?"
"berkeluarga." Dan jawaban Gaara pun membuat Neji memutar bola matanya bosan. Sedangkan Sasuke terlihat tidak peduli dengan sekitarnya.
Tapi dalam diamnya, Sasuke memikirkan bagaimana cara membujuk ayahnya untuk membatalkan kegiatan ini. seharusnya ayahnya itu tau kalau ia sangat tidak bisa berinteraksi dengan anak kecil.
2
"maaf Sasuke, Tou-san tidak bisa mengabulkan permintaanmu." jawab Itachi, saat putra tunggalnya ini meminta perubahan kegiatan di sekolah.
"kenapa?"
"itu sudah menjadi tradisi sekolah kita."
"tapi tou-san.."
"hahh... tou-san akan carikan taman kanak-kanak. Jadi kau tidak perlu repot Sasuke. Belajarlah untuk menyayangi orang lain Sasuke.." dan Sasukepun sama sekali tidak bisa membantah perkataan ayahnya. Bagaimanapun ia tidak mau membuat sang ayah kecewa.
"hn.."
"tou-san yakin, kamu bisa menghadapi mereka... apa kau mau ikut ayah? Kebetulan ayah punya kenalan." Tawar Itachi. Sekalian ia ingin mengunjungi bocah gembul yang hampir ia tabrak beberapa waktu lalu. Bukan karena mau bertemu dengan senseinya ya? Hahaha...
"hn." meskipun sedikit enggan, tapi Sasuke ikut juga dengan Itachi. Keduanya pergi menuju tempat dimana Naruto bekerja, Konoha Garden's.
"jadi, siapa saja yang menjadi anggota kelompokmu, Sasuke?" tanya Itachi,
"Neji dan Gaara. Tenten dan Sakura." Jawabnya malas, bagaimanapun kalau mengingat ia satu kelompok dengan gadis seberisik Sakura, membuat moodnya menurun.
"hmm... begitukah. Syukurlah kalau Gaara dan Neji jadi teman satu kelompokmu." Dan setelahnya, keheningan kembali melanda hingga mobil hitam tersebut berhenti disebuah tempat penitipan anak.
"disini?" tanya Sasuke ragu.
"hn, ayo." Meskipun begitu, Sasuke tetap mengikuti kemana ayahnya pergi. Hanya saja dia tengah berpikir. Kenapa ayahnya bisa memiliki kenalan yang tidak begitu... mencolok?
"ah, sepertinya mereka sudah bersiap pulang." Sedikit bergegas, Itachi menghampiri seorang wanita bersurai pirang.
Sasuke mengernyit heran. Sejak kapan ayahnya itu akrab dengan seorang wanita. Jangan katakan kalau ayahnya berniat untuk mencarikan ibu baru untuknya? Hell no!
Pemuda bersurai raven ini segera menyusul sang ayah yang terlihat sedang menobrol dengan salah satu pengurus. Semakin ia mendekat, semakin jelas pula wajah wanita yang tengah berbicara dengan Itachi.
"ah, ini dia putraku.. dia akan membantu disini selama 2 bulan kedepan. Dimulai minggu depan."
"baiklah.. kurasa Shizune-sensei tidak akan keberatan." Sahut Naruto disertai senyum ramah.
"Sasuke, dia adalah salah satu sensei yang bertanggung jawab disini." Sasuke membungkuk kecil, menghormati wanita yang lebih tua.
"kurasa aku akan merepotkanmu dengan putraku ini, Naruto."
"bukan masalah kok, Itachi. Dia terlihat mirip denganmu." Entah kenapa suasana akrab yang tercipta antara Itachi dan Naruto membuat Sasuke tidak enak hati.
"oh, dimana Chouji-kun? Apa anak itu sudah pulang?" lagi, Sasuke merasa seolah ayahnya ini tidak mau kehilangan topik untuk dibicarakan dengan wanita didepan mereka.
"hmm, sayang sekali. Anak itu baru saja pulang. Ada apa Itachi mencarinya?" Itachi tertawa kecil.
"hanya ingin memenuhi janjiku saja. Tapi karena dia sudah pulang, mungkin lain kali saja." Keduanya terlibat dalam percakapan yang tidak Sasuke mengerti sama sekali.
"nah, bagaimana kalau kita makan malam bersama?" tawar Itachi. Wanita bersurai pirang tersebut terlihat berpikir sejenak.
"mungkin lain kali saja... hari ini tugasku untuk membuat makan malam." Tolak Naruto secara halus, bagaimanapun ia tidak mau melukai perasaan Itachi.
"baiklah. Kalau begitu titip salam untuk Shizune-san…" dan percakapan keduanya berhenti, setelah Itachi berpamitan dan pergi bersama Sasuke, barulah Naruto membereskan taman kanak-kanak tersebut.
2
"jadi, siapa dia? Kekasih baru tou-san?" tanya Sasuke sesaat setelah keduanya berada di kediaman Uchiha.
"ah.. tou-san lupa belum bercerita. Beberapa waktu lalu, tou-san hampir menabrak salah satu anak didiknya. Disitulah tou-san mengenal Naruto." Sahut Itachi. Merasa tertarik akhirnya Sasuke memutuskan untuk duduk disofa seberang ayahnya.
"hn, aku tak berminat dengan ibu baru." Dan kalimat tersebut sudahlah menyuarakan penolakan Sasuke.
"hahh... dia wanita baik. Juga penyayang." Sasuke mengernyit.
"darimana tou-san tau. Bukankah kalian baru saling kenal diwaktu dekat ini?" tanyanya tajam. Entahlah, Sasuke merasa tidak rela saja kalau wanita pirang tersebut menjadi ibu tirinya.
"kau benar Sasuke, tapi kasih sayang yang ia pancarkan tulus. Tou-san bisa melihat itu."
Sasuke mendengus kecil, ayahnya ini ternyata benar-benar terpikat dengan wanita tadi. Cantik memang, tawanyapun ramah dan menyenangkan. Meskipun Sasuke tidak berbicara secara langsung padanya.
Tapi kalau boleh jujur, hatinya merasakan suatu kehangatan dan kenyamanan saat wanita tadi tersenyum kearahnya. Membuat detak jantungnya berpacu lebih cepat.
"sepertinya... aku pernah mendengar marganya..." gumam Itachi secara tidak sadar.
"maksud tou-san apa?"
"ah, bukan apa-apa. Sebaiknya kita segera makan malam." Dan ayah anak itu segera beranjak menuju ruang makan, dimana hidangan sudah tersaji untuk keduanya.
'Uzumaki eh? Aku akan cari tau tentang itu nanti...' batin Itachi, penasaran akan asal usul Naruto.
To be continued…
Absurd ya? Hahaha..
update lagi ya? buat gantiin waktu hiatus Kuu. Kuu mo hiatus dlu. jaa jaa..
Sekali ketik dan gak Kuu edit. Jadi maaf kalo ada typo berkeliaran..
Review? Thankyou.. bye! ^-^)/
