Main Cast : Luhan, Sehun, Chanyeol, Baekhyun.
Rate : T+ nyerepet M.
Gendre : Romance.
PS : Ini yaoi,jadi buat yang ga suka yaoi dan ga suka HunHan couple juga ChanBaek couple tidak di sarankan untuk membaca Ini,aku nerima kritikan tapi tidak menerima bash hohoho happy reading^^
.
.
.
.
.
Baekhyun duduk termenung di dalam kamarnya, teve yang ada di depannya menampilkan sebuah drama yang tidak bisa menarik perhatian Baekhyun. Baekhyun hanya menatap lurus pada sebuah bingkai foto yang dia gantung di tembok kamarnya.
Sebuah bingkai foto yang memajang foto bahagianya dengan Chanyeol.
Chanyeol, hanya itu yang ada di benak Baekhyun sekarang.
Baekhyun menarik nafasnya panjang, sudah tiga hari ini Baekhyun merasakan kalut, kesal dan amarah yang tidak tahu bisa dia luapkan pada siapa. Menutupt matanya dan mengulang ingatan saat dia dan Chanyeol berada di apartement Luhan.
Baekhyun tahu semuanya, Baekhyun melihat semuanya.
Baekhyun mendengar bagaimana Luhan mendesahkan nama kekasihnya saat itu.
Baekhyun sudah lama mencium bau aneh di antar Chanyeol dan Luhan selama dua tahun dia menjadi kekasih Chanyeol dan Baekhyun menyesal setelah memastikannya sendiri.
Baekhyun tidak bisa memungkiri kalau Luhan pernah ada di hati Chanyeol tapi bukankah itu dulu?. Chanyeol kekasihnya sekarang dan Baekhyun merasa sangat kecewa pada Chanyeol.
Sekarang Baekhyun takut untuk bertemu Chanyeol, Baekhyun sangat mencintai Chanyeol.
Baekhyun takut kalau harus menerima kenyataan bahwa Chanyeol tidak mencintai dia dan menerima cinta Baekhyun dua tahun silam hanya sebagai pelampiasan patah hatinya karna berpisah dengan Luhan.
"Baek.." Suara Nyonya Byun membuyarkan lamunan Baekhyun.
"Ya Bu.."
"Ada Chanyeol mencarimu"
SIAL!
"Suruh saja dia masuk"
Baekhyun bangun dari duduknya dan beralih begelung di dalam selimut yang ada di ranjangnnya.
Tak lama suara pintu terbuka dan tertutup kembali terdengar.
Baekhyun memejamkan matanya.
"Baek" Chanyeol memanggil.
"Ada apa Yeol? aku lelah" Baekhyun menjawab tanpa menoleh.
Chanyeol mendekat dan ikut berbaring di ranjang Baekhyun, memeluknya dari blakang.
"Aku merindukanmu Baek, tiga hari ini kau susah untuk aku hubungi"
"Aku sibuk.."
Mendengar jawaban singkat Baekhyun yang cendrung tidak seperti biasanya membuat Chanyeol gemas, dia tahu ada yang Baekhyun sembunyikan.
"Ada apa?"
"Tidak ada, yak! Park Chanyeol"
Baekhyun menatap Chanyeol kesal karna dengan tiba tiba menggulingkan badannya membuat dia berada di atas tubuh Chanyeol.
Chanyeol tersenyum lebar menatap Baekhyun, menyingkirkan poni rambut Baekhyun yang menutupi matanya dan mencium bibir Baekhyun lembut.
Hanya beberapa detik karna Baekhyun melepaskannya dengan paksa.
Chanyeol merengut.
"Baek kau kenapa?" Chanyeol menatap Baekhyun tegas, memaksa kekasih mungilnya untuk jujur.
Baekhyun merasa ragu sesaat untuk mengatakan apa yang ada di fikirannya tapi dalam beberapa detik Baekhyun yakin bahwa dia harus melakukan itu.
"Yeol"
"Heeemmm"
"Menikahlah denganku!"
Chanyeol menatap Baekhyun dengan bingung, berusaha membuat tau Baekhyun kalau dia tidak yakin dengan apa yang dia dengar.
"Aku serius Yeol.." Seolah mengerti Baekhyun dengan malasnya menjawab kebingungan Chanyeol.
"Kenapa?"
"Kenapa? apa kau tidak mau menikah denganku!" Baekhyun hampir berteriak saat mengatakan itu, seperti ketakutannya bisa jadi benar kalau dia hanyalah pelampiasan Chanyeol.
"Bukan seperti itu" Chanyeol menggeleng dan mendudukkan Baekhyun di pangkunnya.
Baekhyun merasakan dadanya semakin sesak sekarang.
"Aku hanya ingin tahu kenapa mendadak kau memintaku menikah denganmu, jangan salah faham"
Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun , mencoba meredam kesedhan Baekhyun yang bisa Chanyeol liat di matanya.
"Aku mencintaimu, apa alasan itu tidak cukup?" Baekhyun berusaha untuk tidak menangis sekarang.
Dulu baekhyun yang meminta Chanyeol untuk menjadi kekasihnnya dan Baekhyun berharap kalau suatu saat nanti Chanyeol yang akan meminta Baekhyun untuk menikah denganya tapi takdir berkata lain, kata kata itu terucap dari mulutnya sendiri, bukan Chanyeol.
Chanyeol menghela nafas dan memeluk Baekhyun, menyandarkan kepala Baekhyun pada dada hangatnya.
"Aku belum siap Baek" Suara Chanyeol penuh dengan penyesalan.
Sekali lagi Baekhyun harus menelan pil pahit.
Baekhyun sudah menduga kalau itu adalah jawaban yang akan keluar dari mulut Chanyeol. Chanyeool belum bisa melepas Luhan dari hatinya sampai sekarang.
"Kau tidak mencintaiku?"
Suara Baekhyun bergetar, dengan sekuat tenaga Baekhyun menahan air matanya untuk tidak keluar
"Aku mencintaimu, kenapa kau bertanya seperti itu?"
-Kau bohong yeol..- Lirih Baekhyun dalam hati.
Chanyeol mendongakkan wajah Baekhyun dan Chanyeol bisa melihat mata Baekhyun yang berkaca kaca.
"Sungguh, aku hanya belum siap, beri aku waktu" Chanyeol mengusap pipi Baekhyun dengan jarinya.
Sebuah permintaan yang hanya bisa Baekhyun angguki.
"Aku mencintaimu Baek, percayalah" Chanyeol mendekatkan wajahnya pada Baekhyun. Mencium bibir Baekhyun lembut, berharap Baekhyun bisa merasakan cinta tulus yang Chanyeol punya untuknya.
Chanyeol tidak berbohong saat mengatakan dia mencintai Baekhyun, karna itu memang yang sebenarnya, namun Chanyeolpun masih sangat mencintai Luhan dan belum sanggup untuk melepas salah satunya.
Biarlah untuk saat ini Baekhyun melupakan malam kelam itu, biarlah untuk saat ini Baekhyun melupakan kalau yang Chanyeol sentuh bukan hanya dirinya.
Baekhyun memeluk leher Chanyeol dengan erat, membalas ciuman Chanyeol dengan gila, Baekhyun berusaha membuang semua emosinya dengan nafsu birahi.
Chanyeol yang mendapatkan balasan luar biasa dari Baekhyun tentu semakin membuatnya hilang akal. Chanyeol membaringkan Baekhyun tanpa melepas ciumannya, bibirnya semakin rakus melahap bibir manis Baekhyun.
Baekhyun menjambak rambut Chanyeol penuh hasrat, menggeliat bagai ulat saat Chanyeol semakin liar menyentuhnya.
"Aaaahhh Yeol.." Baekhyun mendesah serak saat Chanyeol mencumbu lehernya.
Chanyeol menggila, birahi yang sudah dia abaikan selama tiga hari ini memuncak dan harus segera di tuntaskan.
.
.
Tiga hari setelah prtengkaraan itu, Sehun dan Luhan tidak pernah saling menyapa.
Tidak ada lagi canda gurau yang biasa mereka ciptakan, mereka hanya bersikap layaknya atasan dan pegawai saat bertemu di kantor dan Sehun sudah mulai jengah, dia tidak tahan berjauhan dengan Luhannya.
Pintu ruangan Sehun di ketuk, membuyarkan semua lamunan Sehun.
Sehun tau siapa yang akan dia hadapi saat ini.
"Masuk"
Luhan.
Luhan muncul membawa document.
"Ini tolong tanda tangani" Luhan menaruh dokument di atas meja Sehun.
Dengan sigap Sehun mengambilnya dan menandatangani semua berkas dan mengembalikannya pada Luhan tanpa menatap matanya.
"Terimakasih"
Luhan membungkuk sedikit dan siap melangkah keluar sebelum suara Sehun membuatnya diam di tempat.
"Maafkan aku" Sehun berbicara nyaris berbisik tapi Luhan masih bisa mendengarnya.
Luhan menarik nafas dan membalas tatapan Sehun yang sekarang tertuju padanya.
Luhan tau Sehun bersungguh sungguh, Luhan dapat melihatnya.
"Kau tidak salah, semua yang kau ucapkan benar" Luhan kembali merasakan kebas di hatinya.
Sehun bangkit berdiri dari kursinya, menghampiri Luhan dan memeluk Luhan dengan erat.
"Akan percuma jika aku membantah omonganmu, sekarang cukup maafkan aku dan ayo kembali seperti biasa"
Luhan selalu merasa nyaman saat sehun memeluknya seperti ini.
"Ya ayo kembali seperti biasa" Luhan membalas pelukan sehun dan itu membuat sehun lega.
Luhannya kembali, Sehun sangat bersyukur untuk itu.
.
.
Malam itu saat Luhan tidak sengaja bertemu Baekhyun adalah saat mereka sedang berbelanja di super market. Baekhyun menghampirinya lebih dulu dengan senyum lebar seperti biasanya, Baekhyun berkata.
"Ayo kita mengobrol"
Dan jadilah sekarang mereka ada di sebuah cafe, duduk berhadapan dengan asap dua cangkir kopi yang mengepul.
Seoul sekarang memasuki musim winter jadi sangatlah wajar jika cafe ini penuh dengan aroma kopi.
Baekhyun menyesapnya lebih dulu.
"Kau tidak meminumnya ?" Menaruh kembali cangkir itu di meja dengan hati hati.
"Tidak apa Baek, aku tidak haus" Luhan tersenyum.
"Sudah lama kita tidak bertemu sejak malam itu"
Entah hanya perasaan atau bukan tapi Luhan merasa nada bicara Baekhyun berubah dari biasanya.
"Ya kau sibuk Baek" Luhan terkekeh kecil.
Baehyun tersenyum lebar.
"Ya aku sibuk akhir akhir ini, tapi kau tau Lu? aku punya kejutan"
"Oh apa?" Luhan mencoba membuat nada sepenasaran mungkin.
"Aku akan menikah dengan Chanyeol" Baekhyun mengucapkannya dengan bahagia, itu bisa terlihat dari matanya.
Sementara Luhan yang mendengar itu hanya bisa menelan rasa sesak di dadanya.
Luhan cukup terkejut! Sangat sangat terkejut hingga Luhan hanya bisa diam tanpa memberi respon.
-Maafkan aku Lu- Baekhyun membatin, dia tahu dia telah menyakiti hati Luhan.
Tapi hanya ini satu satunya cara yang bisa Baekhyun lakukan untuk mempertahankan Chanyeol.
Baekhyun akan melakukan apapun untuk tetap ada di sisi Chanyeol termasuk merekayasa ini dan membiarkan Luhan berfikir bahwa ini benar.
Bagi Baekhyun, Chanyeol adalah nafasnya dan dia tidak mungkin bisa hidup saat nafasnya pergi dari sisinya.
Setelah terdiam cukup lama Luhan berhasil mengembalikan kesadarannya dari keteekejutannya walaupun dada Luhan masih berdenyut nyeri tapi Luhan berusaha tersenyum sebisa mungkin untuk menunjukan bahwa dia ikut bahagia atas pernyataan Baekhyun.
"Selamat Baek aku senang mendengarnya" Suara Luhan hampir tersedak di tenggorokannya jika saja Luhan tidak bisa mengatasinya.
"Terimakasih Lu"
Luhan mengangguk dan mencoba mengambil cangkir kopinya di meja tapi sial, tangan Luhan bergetar dan Luhanpun mengurungkan niatnya, lebih memilih menyembunyikan tangannya di bawah meja dan tersenyum kembali menatap Baekhyun.
.
.
Sejak Sehun memberitahu Nyonya Oh bahwa Luhan adalah kekasihnya, hampir tiap malam Nyonya Oh tidak bisa tidur. Dia terlalu bahagia dan baenyak menghabiskan waktunya untuk dengan mengunjungi ke beberapa W.O, butik dan gedung pernikahan.
Mencoba menyeleksi mana yang kiranya cocok untuk pernikahan Sehun dengan Luhan nanti.
Nyonya Oh tersenyum lebar begitu melihat Sehun datang ke rumah.
Sehun sangat jarang pulanhg karna dia sudah memiliki apartementnya sendiri.
"Sehun!" Nyonya Oh menghampiri Sehun yang berjalan menuju kamarnya di lantai atas.
"Apa?" Sehun menunjukan raut wajah bingung melihat Ibunya tersenyum sangat lebar.
"Ini beberapa rekomendasi gedung, W.O dan butik yang sudah Ibu pilih untuk pernikahanmu dengan Luhan, kau tinggal mendiskusikannya dengan Luhan akan memakai yang mana, stelahnya Ibu akan mengurus semuanya"
Sehun jelas bisa meliha kebahagian di mata Ibunya dan Sehun sangat menyesal sekarang.
Sehun menarik nafas gusar, dia bingung harus mengatakan apa.
Apa dia harus jujur dan mengecewakan Ibunya atau atau memaksa Luhan menuju altar?.
Sehun fikir dia butuh waktu untuk memikirkannya.
"Simpan saja Bu aku ingin istirahat"
Sehun meninggalkan Ibunya menuju lantai atas dan Nyonya Oh hanya bisa menatap sendu lembaran yang dia pegang.
.
.
"Luhan kau kenapa?"
Minseok bertanya pada Luhan yang hanya duduk terdiam melamun padahal sekarang adalah jam kerja.
"Tidak ada Min" Luhan tersenyum kecil.
"Kau bisa berbagi denganku Lu, kau ada masalah?"
Luhan mendongak menatap Minseok yang berdiri di depannya.
"Tidak, hanya saja" Luhan menunduk dan mulai mencurahkan semua bebannya pada Minseok, berharap bisa mendapatan jalan keluar.
Setelah mendenger semua keluh kesah Luhan , Minseok menatap Iba Luhan, dia tau semua tentang Luhan termasuk hubungan gelapnya dengan Chanyeol.
"Cepat atau lambat ini akan terjadi kau tau itu, walaupun Chanyeol mencintaimu tapi tetap Baekhyunlah kekasih sesungguhnya Chanyeol, lepaskan Chanyeol dan mulailah hidupmu yang baru Luhan, kau pantas bahagia"
Dari sejak dulu Minseok tidak suka Luhan masih berhubungan dengan Chanyeol dan Minseok akan bahagia jika sekarang Luhan mau mendengarkan sarannya.
"Aku akan mencobanya" Luhan tersenyum menatap Minseok, perasaanya sedikit lega karna sudah berbagi dengan Minseok.
Dalam hati Luhan memutuskan akan mengakhiri semuanya.
.
.
"Hallo.."
"Apa harus?"
"Baiklah"
Luhan menutup telfon dari Tuan Oh dengan malas.
Inginnya setelah pulang dari kantor Luhan bisa langsung bergelung dalam selimut tapi Tuan Oh justru menyuruhnya menghadiri sebuah pesta perayaan perusahaan sahabat dengan Sehun, sungguh menyebalkan!.
"Aku akan menjemputmu jam 7" itu massage yang Luhan terima dari Sehun.
.
.
Sekarang sudah pukul 6pm, Sehun sedang bersiap siap menjemput Luhan.
Penampilan Sehun sangat simple, hanya kemeja biru muda polos yang di buka dua kancingnya dan celana hitam juga sepatu yang senada dengan celanaya.
Namun semuanya tidak bisa di bilang tidak sempurna jika seorang Oh Sehun yang menggunakannya, siapapun tidak akan sanggup berpaling dari sehun.
.
.
Sehun mengetuk apartement Luhan dan tak lama Luhan keluar.
Sehun menatap memuja pada Luhan, dia tidak pernah bisa untuk tidak terpesona pada Luhan.
Rambut coklat berponi, mengenakan kaos oblong berwarna merah yang di padu dengan cardigan abu abu juga celana jeans hitam dan sepatu cets berwarna putih, terkesan sangat sederhana tapi sangat menawan di mata Sehun.
"Kau siap?"
"Ya"
Sehun tersenyum dan menggandeng tangan Luhan.
Luhan tersentak sejenak meraskan hangatnya genggaman Sehun. Walau mereka sudah lama saling mengenal tapi ini adalah pertama kalinya Sehun menggenggam tangan Luhan dan Luhan menyukainya.
.
.
Pesta sebuah perusahaan tapi tidak berkonsep formal, semua tamu yang datang mengunakan pakaian santai, termasuk Ayah Sehun yang sudah ada di sana, menyambut kedatangan Sehun dengan Luhan.
"Paman datang?" Luhan terkejut, dia kira Tuan Oh tidak akan datang.
-Kalau datang untuk apa menyuruhku ikut- Luhan membatin kesal.
"Tentu saja aku datang, aku memintamu datang juga karna aku ingin mengenalkan calon menantuku pada rekan bisnisku"
Mendengar itu sehun melotot menatap Ayahnya yang tersenyum lebar. Sementara Luhan hanya mengangguk anggukan kepalanya dengan santai, sampai akhirnya dia sadar dengan kata kata Tuan Oh.
"Apa paman bercanda!"
"Tidak"
"Ayah ja.."
"Oh hai Tuan Lee"
Ucapan sehun terpotong oleh Ayahnya yang menyapa rekan bisnisnya.
Ayah Sehun langsung menggandeng Luhan untuk berkumpul dengn teman temannya, Luhan hanya bisa pasrah sambil mendelik menatap Sehun yang mengikutinya dari blakang.
"Ini calon menantuku"
Ayah mengenalkan Luhan dan dengan canggung Luhan tersenyum pada teman teman Tuah Oh yang mulai berbisik bisik saat melihatnya.
-Tuhan bunuh aku sekarang- Luhan berdoa dalam hati.
Sehun yang berdiri di sebelah Luhan hanya sesekali menjawab pertanyaan dari teman Ayahnya.
"Hallo.."
Seseorang datang ikut bergabung.
Luhan terkejut melihatnya, tidak menyangka akan bertemu dia di sini dan Sehun hanya mendecih.
Itu Chanyeol.
Chanyeol tersenyum lebar menatap Luhan.
"Chanyeol kau datang ?" Tuan Lee tersenyum menatap Chanyeol.
Chanyeol mengangguk.
"Ya aku datang Paman"
Chanyeol berhadapan dengan Sehun tapi mata Chanyeol terus tertuju pada Luhan yang masih terkejut.
Mendesis kesal saat melihat Sehun dengan sengaja merangkul pinggng Luhan.
"Ini keponakanku Chanyeol, Chanyeol kenalkan ini Tuan Oh dan anaknya Sehun dan dia Luhan calon pendamping Sehun" Tuan Lee berujar sementara Chanyeol yaang mendengarnya langsung menatap sengit Sehun yang tersenyum sinis kearahnya.
Chanyeol menatap Luhan intens, Chanyeol tidak akan percaya apa yang di katakan Pamannya sebelum mendengarnya sendiri.
"Benarkah pria semanis ini akan menjadi pendamping Oh Sehun?"
Nada suara Chanyeol penuh penekanan, Chanyeol menatap Luhan tajam, mencoba mendesak Luhan untuk mengatakan "tidak".
Sehun menegang menatap Luhan dengan hati yang bergemuruh menanti jawaban apa yang akan keluar dari mulut Luhan, Sehun merasakan seoalah olah dia sedang menunggu untuk nyawanya di ambil.
Sementara Luhan yang menjadi pusat perhatian dua pria itu hanya diam, otaknya ingin mengatakan IYA tapi hatinya tidak satu arah.
Luhan tau jawaban apa yang akan dia beri bukan hanya sekedar jawaban tapi jawaban itu yang akan menentukan jalan hidupnya nanti.
Dan dengan tekad yang besar, Luhan menarik nafas, dada Luhan terasa sesak tapi ini sudah menjadi keputusannya.
"Ya.. aku akan menikah dengan Sehun"
Sebuah keputasan besar yang Luhan telah ambil.
.
.
Chanyeol mengerang frustasi di dalam toilet. Chanyeol sangat kecewa mendengar jawaban Luhan.
Luhan, ya Chanyeol harus berbicara dengan Luhan.
.
.
"Kau melanjutkannya Lu.."
Dalam hati Sehun sangat bahagia , mungkn jika dia berada di kamar Sehun akan dengan hebohnya berteriak medengar jawan Luhan. Luhannya akan menjadi miliknya, seseorang yang selama ini sangat di cintainya akan sepenuhnya menjadi miliknya. Mengulang itu dalam fikirannya membuat Sehun ingin terbang rasanya.
Tapi tidak bisa di pungkiri kalau raut wajah Luhan membuatnya merasa bersalah, Sehun seolah bahagia di atas kesedihan Luhan.
Luhan mengangguk kecil.
"Ya aku melanjutkan ide bodohmu" Luhan meneguk kembali wine yang ada di tanganya.
"Kau mau ku antar pulang sekarang?"
"Heum, aku butuh tidur secepatnya"
.
.
Luhan memasuki apartementnya dengan sedikit sempoyongan akibat beberapa gelas wine yang dia teguk.
"Kau sangat lama Luhan!"
Luhan mendesah malas mendengar suara Chanyeol, Luhan mencatat kalau dia harus mengganti pasword apartementnya besok.
"Sedang apa kau di sini?" Luhan berjalan lurus menuju kulkas, mengabaikan Chanyeol.
Luhan mengambil segelas air dan meneguknya kasar.
"Bertemu kekasihku, tentu saja" Chanyeol berdiri di samping Luhan.
"Kekasihmu bukan di sini Park!" Ketus Luhan "Kita harus mengakhirinya Yeol.."
Chanyeol menggeram kesal, mendorong Luhan bersandar pada pintu kulkas dan mengunci pergerakan Luhan dengan tangannya.
"Kau milikku Luhan!"
"Bukan! aku milik Sehun mulai saat ini!" Luhan memberi tatapan menantang pada Chanyeol.
Chanyeol dengan penuh emosi mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir Luhan tapi tidak semudah dulu karna Luhan memberontak, mencoba melepas cengkraman Chanyeol pada tangannya.
Chanyeol frustasi mendapati penolakan Luhan dengan kasar Chanyeol melepas cengkramannya sehingga Luhan terjatuh di lantai.
"Aku akan menemuimu nanti!"
Chanyeolpun pergi dari apartement Luhan, minyisakan Luhan yang mulai kembali terisak.
.
.
Nyonya Oh bersenandung ria di dalam mobil, setelah mendengar cerita dari Tuan Oh kalau Luhan bersedia menikah dengan Sehun Nyonya Oh hampir sampai pagi tidak bisa tidur, dia terlalu bahagia.
"Nyonya sudah sampai" Sang supir membukakan pintu mobil.
"Terimakaisih" Nyonya oh melepas kaca matanya dan berjalan angkuh memasuki kantor sehun.
.
.
"Luhaaaaaaaaannn!" Nyonya Oh berteiak nyaring saat melihat Luhan sedang menunggu pintu lif terbuka.
Luhan tersenyum dan sedikt membungkuk saat melihat Nyonya Oh sudah ada di depannya.
"Kau mau ke atas?"
"Ya Nyonya"
"Eeeeeyyyy sekarang tidak usah seformal itu pada Bibi, Luhan, bukankah kau calon menantuku" Nyonya Oh tersenyum menggoda sambil menyenggol lengan Luhan dengan sikunya.
Luhan hanya menggaruk tengkuknya dan tersenyum canggung.
"Kau tidak usah repot repot ke atas karna sebentar lagi kita akan pergi" Nyonya Oh tersenyum misterius sedangkan Luhan hanya menatatp bingung kepergian Nyonya Oh yang sudah memasuki lif.
.
.
"Sehuuuuunnn anakkuuuuuu.." Nyonya Oh berteriak sambil menggedor gedor pintu ruangan Sehun dengan cukup keras, mengabaikan beberapa pasang mata pegawai yang melihatnya dengan lucu.
"Ibu!" Sehun sedikit membentak Ibunya karna merasa malu dengan kebiasaan Ibunya yang di bawa ke dalam kantor.
"Oh kau sudah keluar" Nyonya Oh tersenyum polos.
"Ada apa I.. yak!"
Nyonya Oh mengabaikan pertanyaan Sehun dan justru menarik tangannya dengan kasar.
"Kita akan pergi, Luhan sudah Ibu suruh menunggu di bawah jadi apa bisa jalanmu di percepat Oh Sehun!" Nyonya Oh menggerutu sebal merasa jalan Sehun terlalu lambat menurutnya.
Mendengar nama Luhan di sebut tanpa bertanyapun sepertinya Sehun sudah tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
.
.
Seperti dugaan Sehun. Mereka di ajak Nyonya Oh untuk mendatangi banyak tempat, seperti butik, gedung pernikahan, gereja dan juga W.O.
Sehun selalu mengerutu protes, berbeda dengan luhan yang dengan sabar mengikuti apa keinginan Nyonya Oh.
"Sehun Ibu harus pulang, Ayahmu sudah ada di rumah"
Mendengar itu Sehun menarik nafasnya lega.
Lima jam berkeliling bukan waktu yang sebentar, Sehun hampir tidak menyangka kalau sekarang sudah pukul 5pm.
"Kalian tidak perlu hawatir, Ibu akan mengurus semuanya" Nyonya Oh menepuk bahu Sehun pelan. Dengan senyum yang cerah karna apa yang dia inginkan telah ia dapatkan Nyonya Oh masuk kedalam mobil yang melaju dengan cepat.
"Kau lelah?" Sehun menoleh pada Luhan.
"Menurutmu?"
"Ayo kita istirahat di sana"
Sehun menunjuk taman terbuka yang tidak jauh dari depan mereka dengan dagunya.
Luhan mengangguk kecil dan melangkahkan kakinya terlebih dahulu.
.
.
"Ini minumlah"
Sehun memberikan minuman soda dan menyusul Luhan untuk duduk di atas rumput, menatap lurus pada cahaya matahari senja yang memanjakan mata.
"Apa kau serius?"
Setelah hening sejenak Sehun membuka pembicaaan.
"Tentang?"
"Menikah denganku" Sehun menoleh menghadap Luhan yang tetap fokus memandang kedepan.
"Jika tidak ini belum terlambat, aku bisa membatalkan semuanya"
Luhan menoleh menatap sehun.
"Aku mempunyai banyak hutang budi pada keluargamu, anggap saja dengan menolongmu aku mengurangi hutangku"
Sehun menatap Luhan sendu, Sehun merasa sedikit kecewa mendapati kenyataan kalau Luhan mau menikah dengannya hanya atas dasar balas budi.
-Apa tidak ada cinta di hatimu untukku Lu- Sehun membatin penuh dengan rasa perih.
"Tapi ini akan berat untukmu"
"Ini juga akan berat untukmu Sehun.. menikah dengan orang yang tidak kau cintai itu akan sulit"
-Tapi aku mencintaimu Lu-
Sehun mengangguk kecil.
"Andai Bibi Kim masih hidup, dia pasti tidak akan percaya kalau kita akan menikah"
Sehun mengalihkan pembicaraan, tidak sanggup lagi melanjutkan pembicaraan yang hanya membuat hatinya sesak.
"Ya.. Bibi pasti akan melotot" Luhan terkekeh kecil membayangkan wajah Bibinya saat terkejut.
"Tapi aku berjanji Luhan, aku akan membuatmu bahagia" Sehun mengelus pipi kiri Luhan. Dan luhan dapat melihat sebuah ketulusan di mata Sehun.
Mata Sehun terus terfokus pada bibir mungil Luhan dan tanpa sadar perlahan Sehun mendekatkan wajahnya pada Luhan.
Tidak perlu menjadi orang yang jenius untuk tahu apa yang akan Sehun lakukan padanya. Luhan mengerti kalau Sehun akan mencium bibirnya dan Luhan belum siap untuk itu.
"Ayo kita pulang, ini sudah hampir malam"
Luhan bangkit berdiri dan segera melangkah terlebih dahulu meninggalkan Sehun yang sedang mengacak rambutnya gusar.
BODOH! BODOH!
Sehun terus mengulang kalimat itu dalam otaknya karna telah lepas kendali.
Sehun tau kalau masih ada Chanyeol dalam hati Luhan dan dengan penolakan terang terangan yang Luhan berikan membuat Sehun semakin bertekad akan berusaha menghapus Chanyeol dari hati Luhan.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUE...
Yeeyy chap dua selesai :D
Post FF di ffn itu ga gampang TT cerita yang udah kita tulis di dokument dengan rapih bisa jadi ancur saat di upload,jadi tolong buat yang baca tinggalkan review untuk menghargai usahaku dari nulis,edit,sampe upload :D
Dan untuk kalian semua yang udah review,follow dan favoritin ni FF TERIMAKASIH BANYAK SEBANYAK BANYAKNYA _
Aku seneng ff ini dapet respon baik dan aku akan usahain upload chap tiga secepatnya untuk kalian,jadi tetep review yaaa :)
See you di next chap :*
