Kakashi tak henti-henti merutuki dirinya sendiri. Harusnya dia mengantar Karin pulang ke apartemennya sekarang—harusnya. Namun apadaya, ketika ia tidak tahu di mana alamat tempat tinggal Karin, Kakashi merasa bodoh nan bingung harus membawa gadis itu kemana.

"Hahh ... harusnya aku menghapal alamat penduduk desa satu-satu..." gumamnya frustasi. Mulai terpikirkan olehnya untuk mundur saja dari jabatan Hokage karena ini.

Uzumaki Karin sudah tertidur pulas pasca menyatakan perasaannya yang entah diucapkan setengah sadar atau memang betul sadar. Kakashi mendengar jelas kalimat itu, bahkan ia sudah menjawabnya. Sayangnya, saat itu Karin lebih dulu kehilangan kesadaran, ia tentu tidak akan menangkap suara Kakashi yang berusaha bicara sesopan mungkin padanya sebagai laki-laki.

"Sepertinya di sini tidak apa-apa." Kakashi merebahkan tubuh Karin di atas tempat tidur.

Bukan di apartemen Karin, tempat ini adalah apartemen Kakashi sendiri. Kakashi pikir tempat inilah yang paling pas buatnya ketimbang harus meninggalkan Karin di bangku pinggir jalan. "Tidurlah yang nyenyak, Nona." ucapnya seraya melepas jubah Hokage dan langsung menyampirkannya di atas sofa.

Kakashi menyandarkan tubuhnya santai pada sofa apartemennya. Pandangan sayu matanya tetap tak bisa beranjak dari sosok gadis di depan sana. Tanpa memikirkan apa pun, pria itu hanya berdiam diri dengan ekspresi datarnya. Malam sudah semakin larut, biasanya tidur bukanlah hal yang sulit bagi Kakashi. Ia sempat berganti posisi beberapa kali di sofa dan mencari kesibukan sendiri, tetapi matanya tetap tidak mau terpejam. Pada akhirnya, inilah jurus pamungkas Kakashi.

Membaca novel Icha-Icha Series.

Mulai dari buku satu—Icha Icha Paradise—Kakashi membuka lipatan halaman yang sudah ia kenali sebagai adegan favoritnya dalam buku tersebut. Ia tersenyum-senyum sendiri membacanya, dan tak lama kemudian rona merah serta tawa ambigu menyusul. Sedang asyik-asyiknya berfantasi dalam pikiran, tiba-tiba saja Kakashi melihat seseorang yang sedang terbaring di kasur sana menggeliat dan menggumamkan namanya dengan serak.

"Kakashi…"

"….."

Kakashi kembali melirik bukunya berusaha tidak menghiraukan Karin. Deretan kalimat dalam novel fiksi tersebut terus memimpin kinerja otaknya dalam merangkai imajinasi—yang sedikit-sedikit merambah ke unsur dewasa. Semakin eksplisit unsur tersebut, maka semakin fokuslah Kakashi, mata dan otaknya terus bekerjasama dengan baik. Lama-kelamaan juga insting laki-lakinya mulai muncul, ia makin merasa tidak nyaman lantaran Karin tak henti-henti melenguh dalam tidur.

"Unggh…"

"….."

"Kakashi..." Karin meringkuk dengan guling di pelukannya. "...kau dingin sekali."

Kakashi menghela napas panjang.

Sebelum racauan Karin berlanjut ia bahkan sudah menutup bukunya. Well, membaca novel erotis memang bukan ide brilian. Cukup sudah semua penderitaannya malam ini. Kakashi meluruskan kedua kakinya di sepanjang sofa dan mencoba memejamkan mata. Sempat terbayang pula wajah jelita Karin saat ia mengucap sesuatu sebelum tidur.

'Oyasumi…'

.

.

.

.

"Aku tidak pernah takut menghadapi musuh apa pun, aku hanya takut pada diriku sendiri. Terutama saat kuberhadapan denganmu."

Naruto © Masashi Kishimoto

Aku Ingat

A Naruto Fanfiction by Asakura Ayaka

Rated T, Canon, AT, KakaKarin

Chapter 2 : Arti

.

.

.

.

Sejak malam itu, Karin merasa mendapatkan angin segar. Terbangun di atas kasur milik seseorang yang disukai memang tak pernah ia bayangkan sekalipun. Ia tak keberatan meski saat membuka mata Kakashi sudah pergi ke kantor Hokage demi menjalankan tugasnya sebagai pemimpin desa. Ia hanya disuguhi teh hangat dan sepotong roti panggang di atas meja makan sebagai sarapan paginya. Secarik memo bertuliskan 'Kau harus diet' seakan menjadi pelengkap kebahagiaan Karin, agaknya Kakashi sedikit kewalahan menahan berat badan Karin dalam gendongannya.

Berhari-hari berikutnya, memori itu masih melekat kuat dalam ingatan Karin. Apa pun yang ia lakukan selalu mengingatkan pada sosok Hatake Kakashi. Namun terbesit sedikit keraguan dalam pikiran gadis itu, pantaskah dirinya mengharapkan seorang Hokage seperti Kakashi?

Jika dipikir ulang, di Konoha saja banyak bapak-bapak yang meminta Kakashi untuk menjadi menantunya. Paman Teuchi, misalnya. Pemilik Ichiraku Ramen itu sempat menawarkan Kakashi untuk menikahi putrinya—Ayame. Secara tidak langsung Karin pun merasa tersaingi.

Apa yang dimiliki gadis Uzumaki ini? Keluarga, tidak ada. Harta juga tidak. Identitas jelasnya pun masih kerap dipertanyakan divisi intel ANBU Konoha. Apalagi jika bicara soal kemampuan, Karin jelas bukan ahli taijutsu seperti Sakura atau Tenten. Bukan juga gadis yang mewarisi jurus andalan keluarga seperti Hinata dan Ino. Ia terlalu biasa, simpel dan begitu apa adanya. Ia hanya seorang kunoichi yang memiliki kemampuan sensorik chakra dan kekuatan regenerasi tubuh yang cepat, bisakah hal itu disandingkan dengan Kakashi yang jenius bahkan menguasai empat elemen ninjutsu sekaligus?

"Mimpimu terlalu tinggi, Karin. Rasanya seperti rakyat miskin yang berharap dinikahi raja." Ia mencibir dirinya sendiri. Karin meletakkan belanjaan paginya pada bangku panjang yang ada di pinggir jalan desa. Ditatapnya penduduk Konoha yang melintas satu persatu. 'Mereka semua memiliki pancaran chakra yang hangat dan cerah, seakan-akan tidak ada orang jahat di desa ini.' Tanpa sadar Karin mengulas senyum merasakan betapa nyaman tinggal di desa yang senantiasa berada di bawah lindungan sang Rokudaime Hokage.

Sepersekian detik berikutnya, datang hawa chakra lain yang begitu ia kenal. Chakra dingin ini, tanpa menoleh pun Karin sudah tahu siapa sosok pemiliknya.

"Karin," Sosok itu memanggilnya dari belakang. Karin menoleh sedikit dan mendapati Uchiha Sasuke tengah berdiri menatapnya. Pemuda Uchiha itu kemudian ikut duduk di samping sang gadis Uzumaki. "Apa yang membuatmu berada di sini?" Raut cool itu lagi-lagi memikat Karin untuk ber-fangirling ria dalam otaknya.

"T-Tentu saja aku habis belanja ke pasar pagi! Kau sendiri kenapa ada di sini?" Karin berusaha mengalihkan pembicaraan dengan gaya khasnya.

"Aku baru saja kembali dari misi di Kusagakure." Sasuke menjawab dengan wajah serius andalannya. "Saat berada di sana, seorang pemuda bernama Shigeri datang padaku hanya untuk menanyakan dirimu. Kau mengenalnya?"

'Shigeri?!' Karin mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum menjawab, mencoba mengingat figur Shigeri yang dikenalnya dulu. "Shigeri adalah teman setimku saat masih genin! Dia masih hidup?! Bagaimana kondisi Kusagakure saat ini, Sasuke?"

"….."

Pihak yang ditanya justru diam tak menjawab. Ia sudah tahu jika Kusagakure adalah desa tempat di mana Karin dilahirkan. Gadis itu pasti shock berat jika diberitahu yang sebenarnya.

"Jangan menyembunyikan sesuatu dariku," Karin berbicara sesuai yang ia rasakan dari pancaran chakra Sasuke, "katakan, Sasuke. Apa yang terjadi di sana saat ini?!"

Onyx Sasuke lantas menatap tajam Karin. Tidak ada gunanya ia berbohong pada gadis ini. "Kusagakure telah hancur, Karin. Semua nyaris rata dengan tanah."

Karin menutup mulutnya tak percaya.

"Pasca perang dunia ninja keempat, rakyat Kusagakure mengalami mortalitas yang tinggi. Pemimpin desa mereka sudah tiada. Akibatnya banyak penduduk kelaparan dan tidak memiliki tempat perlindungan lagi. Kondisi ekonomi yang memburuk membuat tingkat kejahatan di desa mereka meningkat. Shigeri adalah salah satu orang yang selamat dan berhasil dievakuasi tim kami ke tempat yang aman. Di sana sudah banyak relawan dari desa lain yang datang memberi bantuan, kau tidak perlu khawatir." Sasuke menjelaskan.

Lain dengan Sasuke yang berbicara panjang lebar, Nona Uzumaki berambut merah justru termenung dalam diamnya. Terbesit bayangan masa kecil Karin selama di Kusagakure dahulu kala. Kusagakure merupakan tempat penuh kenangan pahit nan buruk baginya. Kalau bisa, Karin tidak ingin kembali ke tempat itu lagi untuk kedua kalinya. Namun ia tak pernah menyangka juga jika mantan rekan setimnya di sana justru masih mengingatnya, mengkhawatirkan nasibnya.

"Aku harus pergi sekarang."

"Eh?!" Kesadaran Karin kembali terpanggil oleh suara baritone Sasuke. "Mau ke mana?"

"Kantor Hokage. Ada yang harus kubicarakan dengan Kakashi."

.

.

#####

.

.

"Relawan, katamu?" Kakashi memindahkan fokus pandangannya dari dokumen di tangan ke manik obsidian Sasuke.

"Hn."

"Konoha bahkan masih membutuhkanmu di sini, Sasuke. Kondisi desa ini belum pulih seratus persen." tegas Kakashi pada muridnya itu. "Aku menolak pengajuanmu sebagai relawan di desa lain."

"Aku sudah tidak peduli lagi dengan Konoha, Kakashi. Lebih baik kau mengirimku untuk menjalani misi keluar desa. Di luar sana, masih banyak orang yang nasibnya jauh lebih menyedihkan dibanding penduduk desa ini. Setuju atau tidak aku akan tetap pergi meski seorang diri." Sasuke membalas dengan lantang.

"Dengar, Sasuke. Kau masih dalam—"

Tok tok tok

Pembicaraan kedua orang itu terpaksa terpotong atas interupsi ketukan pintu dari seseorang. Tanpa diizinkan masuk, pintu ruang kerja Kakashi terbuka dan menampilkan sosok gadis berkacamata yang sudah siap dengan peralatan misinya.

"Aku juga akan pergi, Kakashi-san."

"Karin?!" Kakashi dan Sasuke terkejut bersamaan.

"Aku tidak bisa berdiam di desa ini terus sementara di luar sana keadaan sedang kacau."

Sontak Sasuke mencengkeram kuat lengan anggota tim Taka tersebut. "Bicara apa kau? Kau hanya akan membahayakan diri sendiri di luar sana."

"Kau pikir kenapa selama ini aku selalu berhasil lolos dari kejaran orang-orang jahat?" Karin menjawab dengan pertanyaan retoriknya. "Sensor chakra-ku akan lebih dulu mengetahui kedatangan sebuah bahaya dari jauh. Aku bisa melindungi diriku sendiri!" pungkas Karin seraya menyentak tangan Sasuke darinya.

"Ini bukan misi tim Taka, kau tidak perlu mengikuti keputusanku untuk pergi kali ini."

"Memangnya kapan aku bilang aku pergi karena ingin mengikutimu!"

Kakashi lantas merasa pusing dengan teriakan-teriakan Sasuke dan Karin dalam ruangannya. Keduanya sama-sama memaksa untuk pergi dari desa ini sekarang juga.

Hokage keenam itu terus memutar otak jeniusnya mencari jalan tengah. Memang benar jika Sasuke bilang banyak orang di luar sana yang masih membutuhkan bantuan perlindungan sementara kondisi Konoha kini mulai membaik. Yang Kakashi takutkan adalah dengan rentannya keamanan di luar sana maka Konoha bisa diserang kapan saja oleh pihak luar. Tak disangkalnya pula jika Sasuke adalah kekuatan terbaik Konoha yang paling ditakuti orang-orang di luar sana.

"Kau boleh pergi, Sasuke. Tapi, dengan satu syarat." Kakashi mencoba bernegosiasi.

"Katakan."

"Saat Konoha dalam bahaya, kau harus kembali ke desa ini secepatnya. Kami akan mengirim informasi padamu tentang keadaan Konoha secara rutin, sebaliknya, kau pun harus memberikan informasi tentang keadaan di luar desa padaku."

Iris crimson Karin yang membesar menangkap senyuman tertarik di sudut bibir Sasuke.

"Jangan salahgunakan kepercayaanku padamu kali ini, Sasuke. Kembalilah saat kami memanggilmu."

Tanpa ba bi bu Sasuke segera bersiap pergi dari ruangan ini meninggalkan Karin bersama Kakashi. Sasuke sudah membalikkan punggungnya hendak keluar dari ruangan Kakashi, namun ia masih menahan gerakannya sesaat. "Aku akan memenuhi persyaratanmu, Kakashi. Tapi, aku tidak yakin desa ini akan membutuhkanku sama seperti mereka membutuhkan Naruto." ucapnya sebelum menghilang di balik daun pintu ruang Hokage.

Blam!

"Yare yare … dia masih saja belum dewasa." Kakashi kembali duduk di kursinya menghadap tumpukan dokumen misi para shinobi.

"Lalu bagaimana denganku?" Karin langsung memecah keheningan yang baru saja tercipta.

"Hm? Apa?" Kakashi mengangkat wajahnya—bingung.

"Aku juga ingin pergi! Tadi 'kan aku sudah bilang!" Perempatan siku muncul di dahi gadis itu menghadapi slow response dari Kakashi.

"Kurasa benar yang Sasuke bilang tadi. Kau hanya akan membahayakan diri sendiri di luar sana. Aku tidak akan mengizinkanmu melakukan hal bodoh itu, jadi jangan gegabah."

"….."

Merasa ucapannya tak lagi mendapat balasan, Kakashi melirik sedikit wajah Karin dari balik dokumen di tangannya. Mata gadis itu tampak berkaca-kaca sebelum akhirnya pergi keluar membanting pintu lebih keras dari Sasuke. Tangan pria Hatake itu langsung lesu menurunkan kertasnya ke meja seiring desahan panjangnya ia hembuskan. Pakkun segera merangkak keluar dari kolong meja berniat melihat keadaan tuannya.

"Kau tidak seharusnya mengikuti cara bicara Sasuke dengan seorang gadis, Kakashi. Dia pasti sangat sedih kemampuannya ninjanya diremehkan dua orang sekaligus."

Kelopak mata Kakashi perlahan menutup. "Aku tahu. Tapi tidak ada cara lain." ia menjawab lemas. "Aku yakin Sasuke pun sebenarnya hanya mengkhawatirkan keselamatan Karin, sama sepertiku."

Yeah … meskipun Pakkun seekor anjing, tapi percayalah dialah satu-satunya yang mampu mengerti Kakashi lewat instingnya melebihi siapa pun.

.

.

#####

.

.

Tidak ada yang lebih menyebalkan dari hari ini bagi Karin. Disepelekan oleh dua pria yang ia sukai, rasanya sangat menyedihkan. Kedai okonomiyaki adalah satu-satunya pelarian gadis itu sejak sore tadi. Hingga kini senja mulai menjemput sang purnama—menyadarkan gadis itu akan waktu pulang ke apartemennya. Satu plastik okonomiyaki sengaja ia bungkus untuk dimakan nanti malam. Karin mengayun-ayun plastik di tangannya sembari berjalan melewati taman bermain kecil.

"Kaa-san, kakak itu cantik sekali!" seorang anak kecil menunjuk dirinya secara terang-terangan. Karin lantas tersipu melihatnya. Ia tahu anak itu adalah putri dari salah satu ibu-ibu yang sering berbelanja bersama ke pasar pagi.

"Tentu saja. Kecantikan wanita Uzumaki memang sudah menjadi warisan mereka sejak lama. Dulu, Uzumaki Kushina adalah primadona di desa ini yang kemudian menikah dengan Hokage Keempat." Ibu dari anak tersebut menjelaskan sembari menunjuk patung wajah Namikaze Minato di tebing belakang kantor Hokage. "Nah, Miko-chan, ayo kita pulang. Karin-san, kami duluan." Ibu itu pamit membawa pulang putrinya. Tersisa Karin sendirian di taman itu yang masih bergeming memandangi patung wajah Hokage Keempat.

'Uzumaki … primadona desa … dia menikah dengan Hokage.'

Andai saja Uzumaki Kushina masih hidup hingga saat ini, mungkin Karin tidak akan kesepian seperti sekarang. Setidaknya, ia jadi memiliki teman bercerita tentang bagaimana rasanya menjadi orang-orang terakhir dari klan legendaris, bagaimana menghadapi ejekan orang lain tentang warna rambut semerah tomat, dan juga … bagaimana rasanya hidup bersama pria terhebat di desa ini, seorang Hokage.

"Karin,"

Lamunan Karin terputus begitu pria berambut perak tinggi sudah menjulang di depannya. 'Sejak kapan dia ada di sini?!' Karin buru-buru mengambil langkah untuk berjalan lurus menuju apartemennya. Pria itu lebih dulu menahan gerakannya.

"Ada urusan apa Anda datang ke sini?" tanya Karin dengan mimik dingin.

"Ini soal pembicaraan kita tadi siang." Kakashi menjawab to the point. "Kau benar-benar tidak akan pergi, 'kan?"

Karin tersenyum lirih menghindari tatapan langsung Kakashi. Suaranya mulai bergetar menahan isakan. "Kakashi-san, aku hanya ingin berbuat baik pada orang-orang di luar sana. Kenapa kalian semua melarangku seolah-olah yang kulakukan hanya akan membawa bencana. Kalian tidak tahu … bagaimana rasanya hidup dalam ketakutan, setiap hari yang dipikirkan hanyalah soal bertahan hidup sampai besok. Atau mungkin seseorang sudah membunuhmu di malam hari."

Kakashi terkejut bukan main. Ia menautkan dua alisnya menanggapi omongan Karin. "Apa maksudmu hidup dalam ketakutan?"

"Sejak kecil aku adalah bahan buruan para penjahat karena di dalam tubuhku mengalir darah Uzumaki. Kedua orangtuaku sudah meninggal dalam perang. Aku terus berlari sendiri bahkan sampai bersembunyi di dalam tanah hanya karena merasakan kehadiran orang-orang yang ingin menangkapku! Apa menurutmu aku tidak takut?! Anak kecil mana yang tidak takut mati, Kakashi?!" Karin mengalirkan tangisnya seraya membentak pria berjubah Hokage di depannya. "Mereka berhasil menculikku lalu menjualku dengan harga selangit dalam sebuah pelelangan! Apa kau pikir aku tidak membutuhkan perlindungan saat itu?!"

"Tenangkan dirimu, Karin ... semua sudah tidak apa-apa sekarang." Kakashi menekan kedua pundak gadis itu berusaha menenangkan dengan lembut.

"Kalau saja ... kalau saja saat itu Orochimaru tidak datang menyelamatkanku di pelelangan, mungkin sekarang aku tidak akan bisa berdiri di hadapanmu. Aku tidak akan hidup sampai sekarang." Karin merunduk menyembunyikan derai tangisnya yang kian menjadi mengingat masa lalunya yang kelam. Sungguh, ia merasakan itu semua sendirian. Atas dasar kenangan itulah Karin tidak ingin orang lain merasakan penderitaannya. Sebisa mungkin ia akan memberikan perlindungan bagi mereka yang membutuhkan.

"Maaf, aku tidak tahu kalau kau sudah melewati masa lalu yang begitu sulit." Kakashi membawa ubun-ubun gadis itu untuk bersandar di dadanya. "Menangislah sampai kau merasa lebih baik. Berhenti mengingat-ingat kejadian buruk dalam hidupmu karena kau tidak perlu takut lagi sekarang. Kau sudah tumbuh menjadi kunoichi yang kuat, Karin. Yakinlah pada dirimu sendiri." ucapnya sembari mengusap helaian merah sang gadis.

Daun-daun gugur yang terbawa angin sore, dan seplastik okonomiyaki panas yang sudah terjatuh ke tanah telah menjadi saksi bisu atas luapan beban hidup Karin selama ini. Dan kini, kepala yang terasa berat itu telah menemukan sandarannya. Sosok yang telah berjanji dalam hatinya untuk tak lagi membiarkan gadis itu menangis seperti ini.

.

.

.

To be Continued

.

.

.

Assalamualaikum pemirsa, hehehehe Aya kembali dengan fic yang sudah usang. Sebetulnya udah berapa lama ini ingin update fic Aku Ingat. Dan begitu punya waktu luang langsung deh aku kejar. Biarpun Naruto udah tamat dan pair-nya udah nongol semua, tetep aja bukan alesan bagiku untuk berhenti menulis pairing lain. Hkhkhkhk apalagi KakaKarin. Mereka berdua karakter yg paling aku sayang di serial Naruto. #gadaygtanyabro

FYI, kisah masa lalu Karin di sini itu real based on databook Naruto, ya. Mungkin banyak yang belum tahu, tapi as Karin-centric aku udah coba cek untuk referensi dalam nulis fic canon. Cmiiw please. Anyway terima kasih untuk reviewer chapter satu:

Kitsuhime Foxy, Lollytha-chan, pindanglicious, Fumiki Momo, Hikari 'HongRhii, Maya natsume chan, bloomies, Rei Rei Rei-chan, syalalalalala, malaijahhat, Karura Ryu Hyuuga, Untuk Author Babyku Sehey Ala, shantyy, dan para Guest yang sudah baca, hontou ni arigatou gozaimasu! ^o^

.

See you in next chapter, yes! :*