Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto.
Warning : AU, OOC, Abal, geje, dll.
Pairing : SasuHina, GaaHina.
.
.
.
Hinata meninggalkan Sasuke. Senyumnya mengembang merasakan Sasuke cowok yang menyenangkan. Siapa bilang cowok itu dingin? Sasuke cowok yang lembut dan romantis bagi Hinata. Akan tetapi perasaan bahagia itu hanya sebentar. Saat dia sampai di rumahnya, Hinata kaget melihat sosok cowok yang duduk di teras bersama adiknya.
.
.
Perasaan Hinata tidak enak saat dia turun dari mobilnya. Dia tidak mengenal pemuda yang duduk bersama adiknya, Hanabi.
Sepasang mata hijau itu menatapnya. Ada tatapan berbeda dari mata itu, seperti menggerayangi seluruh tubuhnya.
"Nee-chan?" sapa Hanabi.
Hinata tersenyum pada adiknya. Lalu masuk kedalam rumah. Hanabi mengikuti kakaknya masuk meninggalkan pemuda berambut merah yang mempunyai tato AI.
"Siapa dia, Hanabi-chan?" tanyanya pada adiknya.
"Anak dari temannya Ayah." Jawab adiknya.
Mereka berdua duduk di meja makan. Hanabi mengambil jus anggur pada kakaknya.
"Arigatao, Hanabi-chan." Hanabi berjalan meninggalkan Hinata masuk ke kamarnya.
Langkah kaki seorang pria mendekatinya. Dengan wajah yang penuh tanya, dia berdiri di hadapan putrinya.
"Dari mana saja kau, Hinata?"
Hinata menatap ayahnya, "Ada keperluan sekolah ayah." Alasannya.
"Kenapa lama?"
"Ayah, aku keluar bersama Temari mengerjakan tugas dari Sensei." Hinata berbohong pada ayahnya.
"Gaara telah menunggumu dari tadi."
Mata lavendernya melihat ke teras, "Kenapa menungguku, aku tidak kenal dengan dia."
"Kau akan bekerja dengannya dan tinggal dengan keluarga Sabaku."
Hinata tersentak kaget. Wajahnya menjadi pucat. Dia tak percaya apa yang dikatakan ayahnya. Bagaimana bisa, ayahnya tidak pernah bercerita tentang ini. Dan sekarang saat dia merasakan cinta dari si Uchiha, dia malah akan hidup bersama keluarga Sabaku. Dan pemuda yang belum pernah dikenalnya.
"Hinata temuilah Gaara. Jangan kecewakan ayah." Hiashi menekan kata-katanya.
Hinata berdiri dari kursinya,"Aku lelah ayah. Aku mau istirahat."
"Hinata," bentak ayahnya.
Hinata berjalan dengan malas, "Baiklah ayah," menuju teras. Dimana pemuda itu berada..
Gaara adalah anak dari pengusaha dari Suna. Dia penerus perusahaan Sabaku. Perusahaan Hiashi mengalami kebangkrutan. Perusahaan Sabaku membantunya dengan syarat, anak Hiashi Hyuuga harus mengabdi pada keluarga Sabaku. Hiashi memilih Hinata karena dia anak tertua.
"Siapa namamu?" tanya Gaara.
"Hinata," dia menjawab ketus. "Dan kau?"
"Aku Gaara, berapa umurmu?" tanyanya lagi.
"Aku 17 dan kau sendiri?"
"19," jawabnya singkat. Hinata terkejut menatap pemuda itu. Masih muda sudah menjadi pengusaha.
Gaara melihatnya, "Apa kau baik-baik saja?"
"Eh... tidak. Aku hanya merasa lelah."
Gaara berdiri, "Baiklah aku pulang dulu. Dua hari lagi kau sudah harus siap bekerja setelah pulang sekolah."
Hinata meninggalkan Gaara masuk. Hiashi mengantar Gaara kedepan gerbang. Pemuda itu melajukan mobil merahnya dengan tenang.
' Dia sangat cantik dan menarik,' batinnya
.
.
.
Hinata bangun pagi-pagi dan buru-buru mandi. Seragam sekolah sudah di pakainya. Kaki kecilnya menuruni tangga. Disambarnya kunci mobil dan berlalu ke luar menuju garasi. Hari ini dia ingin membawa mobil sendiri tanpa sopir. Hinata tidak menuju ke sekolah melainkan ke apertemen Sasuke. Dia melangkah masuk ke apertemen itu. Didepan pintu dia bertemu dengan Shikamaru yang sudah lengkap dengan seragamnya. Shikamaru menginap di apertemen Sasuke.
"Hei Hinata?"
"Sasuke ada, Shika"
Shikamaru menoleh kedalam, "Tuh, masih tidur. Katanya tidak ke sekolah. Hinata, aku duluan. Jaa ..." Shikamaru meninggalkan Hinata dan menuju mobil miliknya.
Hinata masuk kedalam dan tersenyum melihat Sasuke yang masih tidur. Hinata sudah berniat tidak ke sekolah. Dia ingin berbicara dengan kekasihnya tentang masalahnya. Hinata tersenyum terkikik, diambilnya ujung rambut panjangnya. Dan mempermainkan telinga Sasuke. Sasuke yang masih terlelap itu sesekali menggerakkan tangannya. Hinata tertawa kecil. Tawanya membuat Sasuke membuka matanya. Dia terbangun dengan kaget. Hinata sudah di kamarnya dan duduk disisi kasurnya.
"Kau!"
Hinata masih tertawa kecil, "Bangunlah, semalam tidur jam berapa?"
Sasuke mengucek matanya, "Aku semalam tak bisa tidur, aku memikirkanmu."
Hinata menatap wajah Sasuke. Betapa tampannya pemuda itu. rambutnya yang berantakan tak mengurangi ketampanannya.
Sasuke bangkit mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Sementara Hinata merebahkan tubuhnya ke kasur Sasuke. Dia menghela nafas dalam-dalam.
Sasuke keluar dari kamar mandi. Tubuhnya terlihat segar dan sisa air masih menempel dikulitnya. Dia tersenyum melihat Hinata yang tiduran di kasurnya. Sasuke mendekatinya dan menyentuh kaki indah itu dengan lembut. Hinata yang merasa kakinya dingin langsung duduk. Dilihatnya Sasuke yang hanya melilitkan handuk di tubuhnya. Hinata langsung blushing seketika. Dia membuang muka agar tak melihat Sasuke.
"Kau tampak gelisah, Hinata," bisik Sasuke di telinganya. Sasuke menyibakkan rambut panjang indigo dan mencium leher jenjang itu dengan lembut. Hinata ingin meronta, tetapi dia merasakan kehangatan yang dibuat Sasuke.
"Sasuke..."
"Hmm?"
"Apa kau sungguh-sungguh mencintaiku?"
"Kau tak percaya padaku, Hinata?"
"B-bukan begitu, aku hanya meyakinkan saja," suara lembut Hinata.
"Baka! Apa aku harus membuktikannya kalau aku benar mencintaimu?"
Hinata menatap mata onyx, "Bagaimana kalau aku pergi darimu?"
"Apa kau ingin memutuskan hubungan kita!"
Hinata tersenyum pahit, "..."
"Jika apa yang kau katakan benar. Kau menyakiti hatiku, Hinata," kata Sasuke. Dia menatap jendela. Pohon disamping jendela itu terlihat teduh. Tak seperti hatinya yang kering jika gadis yang dicintainya pergi meninggalkan dirinya. Sasuke menarik nafas. Lalu menatap mata lavender dalam-dalam. Dia melihat ada duka di telaga lavender yang jarnih itu. Bulir-bulir air turun dipipi gadis itu.
"Kenapa kau menangis?" tanya Sasuke.
"Aku tak mau kehilangan dirimu..."
Sasuke memeluknya dengan lembut, "Pelukkah aku, Hinata." Hinata memeluk kekasihnya. Menangis dalam dada telanjang itu membasahi dada bidang Sasuke.
"Aku sangat mencintaimu, Hinata."
"Benarkah?"
Sasuke mencium kening putih itu, "Kau tak percaya...?"
"B-bagaimana aku harus percaya?"
"A-ambillah, Sasuke. Akan aku berikan jika kau memintanya. A-aku rela bila kau yang mengambilnya." Tambah Hinata.
Sasuke terpaku mendengar ucapan Hinata. Sasuke menatap mata gadisnya itu. Haruskah dia mengambilnya, merenggut kegadisan gadis itu. 'BAKA' Sasuke mengutuk dirinya sendiri.
"Sasuke..."
"Hmm."
"Sudah kuputuskan. Aku siap..."
"Hinata, apa yang ada dipikiranmu...?"
"Lakukanlah..."
"Kau nekad, Hinata!"
"Hmm," gadis itu menatap memohon pada kekasihnya. Dia sudah memikirkan ini semalam. Dia akan memberikannya pada orang yang sangat dicintainya.
Hinata memejamkan matanya. Mempertandakan kalau dia sudah siap. Sasuke memeluk tubuh gadis itu dengan lembut dan merebahkannya di kasur. Dia mulai mencium bibir yang merekah itu. Hinata membalas ciumannya. Lidah Sasuke bertemu dengan lidahnya. Ciuman yang panas membuat gairah si Uchiha menggelora. Bibirnya pindah kebawah, diciuminya leher panjang itu...
.
.
.
Semoga kalian senang sama cerita yang kubuat…
Terima kasih juga untuk yang membacanya...
Buat : KatouChii ( salam kenal ), Upe Jun ( makasih sarannya ), Sabaku no ligaara ( betul, apa sabaku paranormal *disumpal pasir* ) Makasih banyak sudah review.
Buat : Annis Hanji, arigatao gozimasu dan salam kenal.
Please review….
