Summary: Ada sebuah mitos yang beredar, "jika kau sedang terpuruk dan tidak tau harus berbuat apa, panggil namanya, maka ia akan menemuimu dan mengabulkan semua permintaanmu. Tapi, ada imbalan atas apapun yang kau minta."

Rate: T semi M

Disclaimer: Masashi kishimoto

Warning: OOC, AU, Typo(s) dan semacamnya.

Genre: Mistery, Supernatural, romance

Ritsu Ayumu

JIWA

"Aku Uzumaki Naruto, teman sekelasmu yang baru sekaligus wakil ketua kelas!" katanya dengan senyum tiga jari yang terlihat silau bagiku, rambutnya pirang jabrik dan terdapat tiga garis bekas luka dikedua pipinya yang membentuk seperti kumis.

"Sabaku Gaara." Kataku singkat.

"Baiklah... Gaara-san, ayo ikut, kita langsung saja ke kelas!" ajak Naruto penuh semangat.

Karena belum terlalu mengenal tempat ini akhirnya aku mengikutinya. Kami berjalan lurus melewati koridor lalu menaiki anak tangga menuju lantai dua, disana kami melewati beberapa kelas dan kelas yang paling ujung adalah kelas yang kami tuju karena naruto langsung berhenti dan membuka pintu dengan semangat.

"Ohayou...!" sapa Naruto ceria.

"O-ha-you!" jawab seseorang dari arah meja guru.

"He... hehehe o-ohayou Anko-sensei!" jawab Naruto berkeringat dingin.

"Terlambat lagi, hah?" tanya seseorang yang tadi dipanggil Anko oleh Naruto.

"Hehehe, ma-maaf...!"

Aku mengikuti Naruto memasuki ruangan dan mendapati semua mata memandang kearahku.

"Sabaku-san?" tanya sensei padaku.

Aku mengiyakannya dengan sebuah anggukan kecil, seketika seisi ruangan berbisik-bisik dan berani taruhan, mereka sedang membisikanku.

JIWA KEDUA

Pribadi yang Baru

"Manusia hidup hanya untuk saling memanfaatkan satu sama lain, menggigit, memangsa, menyerap dan membusukkan daging bernyawa yang ada disekitarnya."

"Daging bernyawa?"

"Manusia."

"Saling membunuh kah?"

"Itu merupakan insting yang sesungguhnya."

...

Dua hari berlalu semenjak pertama kalinya berdiri di depan kelas baruku dan memperkenalkan diri dengan begitu singkat, dan sudah dua hari pula semenjak aku menatap seorang gadis berambut indigo yang duduk di barisan paling belakang, dia sejajar denganku , berjarak tiga bangku, pandanganku tidak bisa lepas dari wajah familiarnya, bagaimana rambut indigo lurus dan panjang menjuntai itu terkibas angin dari jendela, bagaimana mata beriris abu-abu pucat itu menatap ke luar dan bagaimana bibirnya mengatakan kalimat-kalimat singkat namun dengan nada yang menenangkan.

Hari ini aku malas untuk mengikuti pelajaran terakhir, rasanya begitu suntuk dan mataku sangat mengantuk. Dengan langkah santai aku pergi ke atap sekolah, berencana untuk bolos dan tidur nyenyak disana, tapi ketika sampai aku mendapati gadis yang selama ini menarik perhatianku. Dan beberapa jam yang lalu kutahu bernama Hyuuga Hinata, sepupu Hyuuga Neji sang ketua OSIS.

Aku sedikit ragu untuk mendekatinya, tapi mau bagaimana lagi toh kalau aku turun, aku bisa diseret kembali ke kelas. Dengan langkah perlahan namun pasti aku memperkecil jarak kami, ku lihat dia berpaling kearahku dan beberapa detik sempat terkejut tapi kemudian kembali memalingkan tatapannya. Aku duduk disebelahnya, saat itu hanya berjarak satu meter. Aku sedikit berdehem berharap dapat mengatakan sesuatu karena baru kali ini aku merasa tak nyaman pada suasana yang hening seperti ini.

"Hai," sapaku dengan nada cuek.

Dia menoleh dan tersenyum, tapi dengan senyuman yang penuh arti.

" Hai juga, Gaara-san" sahutnya.

"Kau tidak belajar?" tanyaku.

"Tidak, kau sendiri?"

"Aku sedang suntuk."

Percakapan kami berhenti dan digantikan dengan suara hembusan angin siang itu. Mataku semakin mengantuk dan tak sadar aku telah terlelap diatas atap sekolah bersama seorang gadis yang baru kukenal tapi terasa akrab.

.

.

.

"Gaara... apa permintaanmu?"

"Beri aku jawaban atas semua ini!"

"jawaban apa Gaara-kun?"

"Jawaban..."

"Gaara? Gaara-kun?"

.

.

.

.

"Raa... G-ga-ra-san..." sayup-sayup aku mendengar suara yang tergagap-gagap memanggil namaku, menyadarkanku dari mimpi yang terasa begitu mengusikku. Perlahan-lahan aku membuka mata dan menatap sosok gadis, wajahnya memerah ketika aku menatapnya dan hal itu membuatnya terlihat sangat lucu.

"Hinata?" gumamku; mengerjapkan mata lalu menguap kecil.

"G-gara-san, pelajaran sudah usai, sebaiknya segera kembali!"

"Oh...," aku mulai bangkit, "kau sendiri, tidak kembali?"

"E-"

"Hinata?" baru saja Hinata ingin menjawab tapi tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya dari arah pintu, aku tak terlalu yakin tapi sepertinya dia Neji, ketua OSIS yang pernah diperkenalkan padaku, tapi setidaknya aku yakin ketika melihat iris matanya yang sama dengan Hinata.

"Nii-san..." Hinata bergegas mendekat kearah Neji. Untuk beberapa saat kulihat tatapan tajam Neji kearahku seakan tak menyukai kehadiranku.

"Cih, apa-apaan tatapan itu?" decihku lalu beranjak pergi mengikuti mereka.

"Nii-san, i-ittai!" kudengar Hinata meringis ketika Neji menyeretnya kedalam mobil.

Ck, apa-apan dia? Terlalu posesif kah? Setelah menyeret Hinata, dia menatapku lagi namun dengan tatapan yang lebih menantang, sepertinya dia benci aku mendekati 'Hinatanya'. "Brother compleks kah?" ejekku lalu berlalu berlawanan arah dengan arah mobil Hyuuga itu.

"Sepi!" ya, kota ini terlalu sepi untukku, terlalu tenang dan damai. Tempat yang tak cocok untukku dan Seperti biasa setiap mau pulang aku selalu melewati jembatan tempat aku pertama kali melihat Hinata, aku tak begitu yakin itu dia atau tidak tapi setidaknya aku punya nama untuk menyebut wanita itu nlagi pula mereka mirip kok.

"Sabaku Gaara?"

Seseorang memanggilku dari belakang, "Hn?" kutolehkan sedikit wajahku untuk melihat siapa yang memanggil, ternyata seorang anak perempuan berseragam SMP.

"Akhirnya, akhirnya kau kembali kesini!" ucapnya dengan nafas tersengal-sengal. "ku kira aku salah lihat, ternyata memang benar kau!"

"Kembali? Apa aku mengenalmu?"

"Tidak, kau tak mengenaliku!"

"Lalu?"

"lalu? Lalu darimana aku tahu namamu? Tentu saja, kisahmu sudah diceritakan turun temurun dalam keluargaku!"

"Ha? Apa?" aku sedikit bingung dengan perkataannya, aku kembali? Kisahku? Ada apa dengan ank itu? Dia sedang mengerjaiku?

"Apa maumu?"

"Kumohon, balaskan dendamku!" dia membungkuk dengan penuh harap.

"Balas dendammu?"

"Ya! Balas dendam kepada orang yang telah membantai keluargaku."

"Kenapa aku yang membantumu, jangan bercanda!" aku kembali melanjutkan perjalanan dengan tawa mengejek, sial, aku dikerjai bocah.

"TUNGGU!" dia berlari mengejarku dan menghadang jalanku. "kau harus membantuku, aku akan memberikan apapun yang kau mau!"

"Hei, bocah! Kau pikir aku ini siapa? Pahlawan kebenaran yang akan membantu orang-orang yang sedang kesulitan? Bahkan jika saat ini kau sedang dimutilasi orang pun aku tak akan menolongmu." Aku menjentil dahinya lalu meninggalkannya yang tampak tertunduk kesal.

"kau! Bukankah kau ada di dunia ini untuk membunuh dan memakan jiwa seseorang?!" bentak bocak itu.

Aku tidak mendengarkannya dan terus melangkah.

"kau telah membuat perjanjian dengannya kan?!"

Aku berhenti; berbalik arah dan menatapnya lekat, "Apa maksudmu dengan perjanjian?"

"Kau-"

"Gaara, apa yang kau lakukan?" panggil Temari dari dalam mobil, "kau mengganggu anak kecil, hah?" dia turun dari mobil lalu mendekati bocah itu, 'kau tak apa? Dia mengganggumu yah?"

"Siapa juga yang mengganggu bocah itu... sudahlah!" aku melangkah pergi memasuki mobil yang dikendarai Temari tadi, "aku yang nyetir!"

"Kau ini!" temari berkacak pinggang menatap kesal kearahku.

"Cepatlah atau kutinggal!?"

.

.

.

Normal P.O.V

"Kenapa bersamanya?" tanya Neji dengan nada tak suka.

"Kebetulan saja" jawab Hinata lembut.

"Pernah bertemu dengannya?"

"Tentu saja, kami kan sekelas"

"Maksudku, apakah pernah bertemu selain di sekolah?"

"Mana mungkin." Bantah Hinata cepat.

"Lalu kenapa mudah akrab dengannya, biasanya kan kamu tak mau dekat dengan sembarang orang?"

"Itu karena dia punya aura yang sama dengan Nii-san!"

Neji tampak tersentak lalu mencari tempat parkiran terdekat, diparkirkan mobilnya lalu menghadap Hinata. "Apa maksudmu?"

"Hm? Auranya mirip denganmu!" ulang Hinata santai dengan senyum manis dan balas menatap Neji.

"Maksudmu dia juga-"

"Aku tak tahu, Nii-san... ahihihihi jangan cemburu dulu!" Hinata merangkak kepangkuan Neji, diletakkannya jari telunjuknya di bibir pemuda tampan itu, "mungkin saja bukan denganku, kan tak hanya aku bisa melakukannya". Neji terdiam seakan sedang mencerna perkataan Hinata dan meneliti kebenarannya. Dia menarik Hinata semakin merapat padanya; menyibakkan rambut indigo sang gadis lalu mencium leher jenjangnya.

"Nii-san... uuuhh..." erangan Hinata terdengar sangat merdu di telinga Neji, membuatnya semakin semangat mencium dan menggigit kecil leher tersebut, meningkalkan kissmark yang menjadihiasan yang sangat cantik baginya.

"Ne...Neji-nii sebaiknya kita segera pulang, disini nanti ada yang melihatnya...uuhh..." bujuk Hinata di tengah erangannya.

"Aku tak peduli." Jawab Neji acuh. Dia terus mencium leher Hinata sedangkan tangannya telah menyusup kedalam kemeja sang gadis dan membelai-belai punggungnya.

"Aaah...Nii-san..."

"Jangan mendekatinya lagi, Hinata!" ucap Neji ditengah aktifitasnya. "kamu hanya milikku!"

"Aaah... yah! yah-uuh...aku tahu..."

"Baguslah." Neji menghentikan aktifitasnya lalu mengecup lembut bibir Hinata. "tapi aku penasaran, kenapa auranya bisa sama denganku, apa dia juga pernah membuat sebuah kontrak?"

"Entahlah, aku juga tidak yakin tapi auranya cukup membuatku tertarik, sepertinya dia telah melakukan sesuatu yang mengerikan." Hinata kembali duduk di samping neji dan membenarkan seragamnya yang sempat berantakan oleh ulah sepupunya itu.

"Semenarik apapun dia, kamu tak punya hak untuk berpaling padanya!" Neji seakan mendeklarasikan kepemilikannya terhadap Hinata dan tak ingin orang lain mengambil miliknya, apalagi oleh orang yang bernama Sabaku Gaara, awal melihatnya saja Neji sudah tak menyukai pria tersebut.

Hinata tersenyum penuh arti lalu menatap keluar jendela, langit sore itu tampak mendung, sepertinya akan turun hujan deras semalaman. "Tentu saja, Neji-sama" gumamnya.

.

.

.

semenjak tinggal di kota ini Gaar telah mengalami berbagai hal yang aneh dan membuatnya risih sekaligus jengkel, pertama, dia selalu memimpikan hal yang sama berulang-ulang, kedua, dia selalu merasa tak asing dengan kota tersebut, lalu bertemu gadis misterius di tepi sungai, dan tadi dia dicegat oleh anak kecil aneh yang mengatakan balas dendam, membunuh dan memakan jiwa atau apalah namanya. Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Dia tak ingat masa kecilnya tapi yang pasti kakak-kakanya pernah bilang bahwa dia pernah tinggal di kota ini sebelumnya.

Tapi tetap saja, seharusnya kota ini terasa asing, dan yang paling menyita pikirannya adalah wanita yang berada dalam mimpinya. "Mirip Hinata" gumamnya. Lalu tersadar dari lamunannya, diremasnya rambut merah batanya frustasi. "apa yang terjadi padaku?" sore itu Gaara duduk di tepi jendela kamarnya dan menatap langit diluar sana yang tampak akan hujan.

"Heh, Gaara, aku pinjam komputermu yah!" tiba-tiba saja Kankurou memecah lamunan Gaara.
"Kenapa tak menggunakan milikmu saja?" tanya Gaara tak suka.

"Milikku rusak, sebentar kok!" Kankurou menghidupkan komputer yang berada di dekat meja belajar Gaara dan betapa terkejutnya ketika melihat Wallpaper yang terpajang pada komputer tersebut. "Apa ini, Gaara?"

"Hah? Apa?" tanya Gaara penasaran lalu bangkit untuk melihatnya sendiri, "ap-apa ini?" Gaara ikut terkejut. Entah sejak kapan wallpapernya yang sepengetahuannya bewarna hitam berganti dengan sebuah gambar ruangan seperti perpustakaan yang tak terurus dengan darah yang berceceran dilantainya bersamaan dengan buku-buku yang berserakan. Kankurou tampak mual melihatnya, gambar tersebut terlihat sangat asli dan mengerika.

"Kenapa bisa begini?" tanya Gaara entah pada siapa, "siapa yang memasang gambar ini?"

"Mana kutahu! Itukan komputermu!" jawab Kankurou, "mengerikan!" Kankurou beranjak pergi dan sepertinya dia akan muntah. Dia memang tak kuat melihat darah, katanya itu karena trauma ketika masih kecil. Gaara sendiri yang kebingungan segera mengganti wallpapernya dan mencari letak file gambar tersebut di komputernya tapi tidak menemukannya.

"Sial, siapa sih yang mengerjaiku? Sasori kah?" kesal Gaara lalu mematikan komputernya.

- TBC -

Yuhuuu...selesai juga chapter 2 dua nya...*sujud sujud*

Sebenarnya fict yang ini hanya sebagai sampingan saja jadi tak janji akan apdate cepat cz fict ku yang lain saja terbengkalai nyahahahha

Wah... sepertinya di chapter ini lebih kental NejiHina yah?! :D
tapi tenang saja, ini tetap GaaHina kok, jadi reader tak perlu khawatir, lagi pula karena aku juga suka Neji Hina makanya masuk-masukin pairing yang satu itu. Ahihihi :3

Balasan Ripiuuuuu -

Moe-chan: aku ga tau akan jadi berapa chapter jadi nikmati saja dan doakan semoga aku tak mengalami WB terus nyahahahha *di gaplok

Sasuhina: makasih udah ripiu ya... :3

Kertas: hayoooo siapa hayo... nyahahahha *plak

Yenz: makasih, jangan lupa ripiu lagi yah ^^

Sekian

Ritsu ^^