MY LIFE
Diclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : NaruGaa, SasuNaru or NaruSasu, NejiGaa or GaaNeji, KyuuNaru, KankuGaa, SasuIno, NejiSaku, NaruHina, GaaMatsu, SasoDei, NaruXxx, GaaXxx
Rate : M
Genre : Romance, Friendship, Angst
Warning : OOC, Typo, Yaoi
.
.
.
Chapter 1
.
.
.
Sinar mentari mulai memasuki celah jendela kamar seseorang, sinar mentari itu membuat pemuda pirang yang diketahui bernama Namikaze Naruto itu membuka kedua kelopak matanya, dan memperlihatkan iris mata seindah samudra.
"Hoaam~" Naruto menguap dengan lebar.
Lalu, ia menerjabkan matanya beberapa kali, dan mengedarkannya ke seluruh ruangan.
"Dia belum pulang," guman Naruto lirih kepada dirinya sendiri.
Untungnya ini hari minggu. Jadi, aku tidak perlu repot-repot ke sekolah.
Naruto Pov
Aku melihat Handphone ku yang tergeletak di atas meja, langsung saja aku mengambilnya, dan melihat apa yang tertera di layar Handphone ku.
13 Incoming Messages
"Hah? 13 pesan masuk? Batinku dengan sebelah alis terangkat.
Langsung saja aku membuka semua pesan-pesan yang masuk.
Dan ternyata beberapa pesan masuk dari Hyuuga Hinata, Sabaku No Gaara, dan Namikaze Kyuubi –Kakakku-
Tanpa kusadari, aku mengeluarkan senyum tipis –Yang tulus- karena melihat nama mereka tertera di layar Handphone ku.
Lalu, aku membuka pesan pertama yang dikirim oleh Hinata.
'Naruto.. Apa kau sudah tidur?'
'Aku merindukanmu, Naruto. Kapan kau akan kembali ke New York?
'Naruto, bagaimana? Apa kau bahagia dengan 'dia'? Semoga, setelah ini kau selalu setia ya'
'Sepertinya kau sudah tidur. Have a nice dream, Naruto
'Selamat pagi, Naruto. Semoga hari-harimu menyenangkan'
"Hah.." aku menghela napas. Perempuan itu memang benar-benar perhatian, ia adalah sosok yang sempurna.
Hei, walaupun aku sudah punya 'dia', aku juga tidak akan pernah melupakan salah satu kekasih resmiku ini.
Lalu, aku membuka pesan yang berasal dari sahabat terbaikku, Gaara.
'Naruto, sudah dua hari Neji tidak sekolah, dan sudah dua hari Neji tidak pulang ke rumah'
'Kau tau, Naruto? Aku lelah, apa ini karma yang pernah aku perbuat sehingga mengalami hal yang menyakitkan seperti ini?'
'Kau sudah tidur? Maaf kalau aku sudah mengganggu, Have a nice dream'
Saat aku melihat dan membaca sebaris kalimat yang tertulis di layar, seketika wajahku langsung berubah murung.
'Bukan kau saja yang mengalami hal itu, Gaara. Aku pun juga mengalami hal yang sama' batinku dengan miris.
Lalu aku membuka pesan dari kakakku.
'Otouto! Kapan kau kembali ke New York?'
'Bagaimana dengan 'dia' apa kau bahagia bersamanya?'
'Otouto, sepertinya Hinata sangat merindukanmu! Kasian dia!'
'Sasori dan Deidara, sahabatmu dengan Gaara juga merindukanmu!'
'Kau sudah tidur ya? Mimpi indah ya Otouto!
Aku langsung meletakan Handphone ku di atas meja di samping tempat tidurku, aku sedang malas membalas sms dari mereka.
.
.
.
Aku beranjak dari tempat tidurku, aku menuju ke balkon kamar ku.
Iris mata Sapphire ku menatap kosong langit biru yang indah itu. Kadang aku berpikir, kenapa aku bisa mencintai 'dia'? Dia yang selalu menyakitiku, apa dia tidak pernah memikirkan perasaanku? Apakah kalau aku berubah menjadi setia adalah hal yang salah?
Flashback
New York, United States.
"Jadi kau ingin pergi ke Jepang untuk merubah sifatmu?" tanya seseorang berambut pirang panjang yang bernama Deidara.
"Hn," balas ku dengan singkat dan datar.
"Untuk apa?" tanya Sasori dengan ekspresi susah di tebak.
"Aku.. ingin belajar untuk setia, sudah cukup aku menyakiti mereka. Aku ingin mengerti apa arti cinta untuk kedua kalinya. Aku percaya, aku tidak akan tersakiti lagi," jawabku dengan datar. Sebenarnya, baru pertama kali aku berbicara sepanjang itu.
Terlihat Sasori dan Deidara menghela napas mereka, "Lalu, bagaimana denganmu, Gaara?" tanya mereka berdua sambil melihat ke arah Gaara.
"Sama seperti Naruto. Aku ingin belajar untuk setia, aku ingin mengerti arti cinta, aku ingin berubah," jawab Gaara dengan senyuman miris.
"Baiklah, terserah kalian saja," kata Sasori dengan senyuman manis di wajahnya.
"Tapi, jangan melupakan New York, ya! Jangan lupakan kami, Hinata, dan Matsuri.
"Pasti." Jawabku dengan Gaara yakin.
Flashback End
Cinta? Apa disini aku benar-benar mengerti arti cinta? hah.. sudahlah.
Lalu aku kembali ke kemarku. Ya, mungkin aku akan curhat dengan Gaara, karena dia juga mengalami hal sepertiku.
.
.
.
Tak terasa hari sudah malam. Tapi, dia belum pulang. Aku pun memasak Nasi goreng tomat untuk nya.
BRAK
Terlihat seseorang membukakan pintu dengan kasar
"Tadaima," katanya datar.
Aku yang mendengar itu langsung buru-buru ke depan untuk menyapa tunanganku.
Aku pun menyiapkan senyum palsu ku, dan berkata dengan riang, "Hai Sasuke, kau sudah pulang?" sapaku dengan senyuman palsuku.
Tapi, ia tidak meresponku. Dia hanya mentapku dengan tajam dan dingin. Saat aku ingin menyentuh lengannya, ia langsung menepis tanganku dan berbicara dengan dingin, "Jangan sentuh aku."
Aku pun hanya menunduk, lalu aku mengangkat mukaku untuk bertatapan dengannya.
"Aku sudah membuatkan Nasi goreng tomat, kau mandi dulu saja. Aku akan menyiapkan Nasi goreng tomat nya di meja makan," kata ku dengan senyuman lembut.
"Hn," balasnya dingin. Lalu ia langsung keatas, mungkin ia akan mandi.
Aku pun menyiapkan masakan buatanku di meja makan.
Lalu, terlihat ia sedang menurunkan tangganya, tanpa kata-kata apapun ia langsung duduk di kursinya.
Kami makan dengan keadaan hening, sampai akhirnya dia berbicara, "Naruto," kata nya dengan nada dingin.
"Ya?"
"Kita akhiri saja semua ini, aku sudah tidak tahan. Aku tidak pernah mencintaimu, aku hanya mencintai 'dia'. Kau hanya pelampiasanku saja, dan aku tidak pernah mempunyai rasa apapun terhadapmu," katanya dengan nada datar dan dingin.
Aku tidak bisa menunjukan ekspresi terkejutku, "A-apa?"
"Aku sudah bertunangan dengan orang lain, jauh sebelum dirimu. Aku anggap pertunangan ini hanyalah omong kosong, dan main-main. Aku tidak menganggap kalau kita sudah terikat. Semua kata-kata manis yang aku pernah katakan hanyalah bualan. Aku mencintai 'dia' bukan dirimu, kita akhiri saja pertunangan kita," jelas Sasuke dengan nada yang menusuk dan dingin.
Tanpa ku sadari, saat aku mendengar setiap kata yang menyakitkan keluar dari mulutnya, ekspresi yang aku keluarkan adalah ekspresi, datar. Aku merasakan perlahan-lahan topeng yang aku gunakan disini hancur, sama seperti hancurnya hatiku saat mendengar kata-kata yang ia keluarkan.
Kenapa? Kenapa saat aku ingin belajar untuk setia, aku malah mendapatkan semua ini? Apa jalan yang aku ambil itu salah? Kenapa dia tega mengahancurkan aku, dan membuangku layaknya sampah yang sudah tidak berguna? Apa dia tidak pernah tau perasaanku bagaimana?
Tanpa kusadari perlahan-lahan air mataku mengalir, ini adalah ke empat kalinya aku menangis di dalam hidupku. Dan apa? Aku menangis hanya karena dia?
Cepat-cepat saja aku menghapus air mataku, tapi air mata itu terus saja mengalir tanpa henti.
"Begitu ya? Jadi selama ini kau tidak pernah menganggap aku ada? Jadi selama ini aku hanya tempat pelampiasanmu, begitu?" balas ku dengan nada dingin. Hancurlah sudah topengku. Kecewa, sedih, marah, sakit, terkhianati, hampa. Semua yang aku rasakan bercampur menjadi satu, dan membuat pertahananku runtuh seketika.
Dia tidak menjawab, aku sedang melihat ekspresinya saat ini. Dan aku melihat ekspresi yang sulit di tebak.
"Kau tau, Sasuke? Di sini, di negara ini, aku memakai sosok palsuku, jadi semua yang pernah kau lihat adalah palsu! Ya, aku sudah membohongi semuanya, yang kau dan teman-teman lihat bukan sosok asliku. Aku akan pergi dari sini, dan kalau aku kembali, aku akan memperlihatkan sosok asliku kepada semua orang. Dan terimakasih, karena kau sudah menghancurkan topeng yang sudah aku buat, sama hal nya kau sudah menghancurkan hatiku." Kataku dengan kata-kata dingin, dan datar. Ditambah dengan tatapan mata yang tajam, dan menusuk.
"Naruto.."
Langsung saja aku lari kekamarku dan membereskan barang-barangku, dan aku mengambil Handphone ku dan menekan beberapa nomor disana.
'Ya, Tuan muda?'
"Hn, siapkan semuanya. Malam ini, aku akan kembali ke New York," kataku dengan nada dingin, dan datar.
'Baik, Tuan muda. Ada keperluan lain?'
"Hn, tolong beritahu Aniki, Sasori, Deidara, dan Hinata,"
'Baik, ada lagi, Tuan?'
"Tidak." Kataku sambil memutuskan sambungan teleponnya.
Aku sudah memberitahukan Bodyguard ku yang berada di New York, dan Jepang. Sebentar lagi mereka akan menjemputku.
Aku pun langsung turun kebawah sambil membawa koper besarku.
TIN TIN
Suara klakson mobil terdengar diluar, langsung saja aku membuka pintu dengan melihat pengawal ku sudah berbaris rapi dengan sopan.
"Silahkan masuk, Tuan muda," kata salah satu Bodyguard ku dengan sopan.
Terlihat Sasuke sedang memperhatikanku dengan raut muka terkejut.
"Hn." lalu aku memasuki mobil itu. Langsung saja mobil yang aku tumpangi melaju kencang menuju ke bandara.
Di dalam mobil, aku mendapat telepon masuk. Saat aku melihat siapa yang menelepon ku, aku langsung saja mengangkatnya.
"Ya, ada apa Gaara?" tanya ku kepada Gaara.
"Aku akan ke kembali ke New York, malam ini. Sudah cukup penderitaan ini, bagaimana denganmu, Naruto?"
"Hn, aku juga akan kembali ke New York, malam ini. Baiklah, sudah dulu, ya? Aku sedang badmood," kata ku dengan dingin.
"Hn."
Lalu aku memutuskan sambungan teleponku.
Seharusnya aku tidak perlu susah-susah merubah sifatku disini, dan seharusnya aku tidak perlu merubah prinsipku tentang cinta.
Cinta? Cinta itu hanya mainan. Hanya untuk pemuas hasratku, hanya untuk pelampiasanku, hanya untuk menjadi budakku. Kalau aku bosan, aku akan membuangnya. Cinta itu hanya untuk bersenang-senang, aku hanya bersikap lembut dengan kekasih resmiku. Kalau yang bukan kekasih resmiku? Ya.. hanya mainan. Setia? Cih! Omong kosong! Untuk apa aku setia? Aku sudah dua kali setia, dan hasilnya? Pengkhianatan. Terserah orang mau bilang apa, yang penting aku puas, yang penting aku bahagia.
Itu prinsipku. Dan aku akan memakai prinsipku kembali.
Apa yang aku dapatkan di negara ini? hanya pengkhianatan, kesedihan, dan kehampaan. Dulu, aku pernah di khianati oleh perempuan yang aku cintai, ia adalah sahabat ku dari kecil. Tapi, ia lebih memilik pria yang ia cintai yang entah siapa namanya. Dan sekarang, aku dikhianati oleh lelaki yang aku cintai. Sudahlah, cinta itu hanya omong kosong. Aku tidak akan percaya dengan cinta lagi.
Aku kecewa ia hanya mempermainkanku, aku kecewa dia tidak pernah menganggapku ada, aku kecewa karena ia hanya menganggap pertunangan ini main-main.
Pertunangan, ya? Aku pun melihat cicin yang melingkar di jari ku. Ya, itu adalah cincin petunangan aku, dan Uchiha Sasuke. Aku pun melepaskan cincin itu dengan kasar.
Aku membuka kaca jendela mobilku, dan membuang cincin itu di jalan. Aku tidak perduli kalau cincin itu terlindas oleh mobil, atau telempar ke sungai. Aku tidak perduli, karena cincin itu sekarang hanyalah sampah.
Tiba-tiba mobil yang aku tumpangi berhenti, salah satu bodyguard ku keluar dan membukakan pintu untukku, aku pun keluar dari mobil itu. Ternyata aku sudah sampai di bandara.
Saat aku mengedarkan pandangan, aku menemukan Gaara sedang duduk seorang diri. Aku pun segera menghampirinya.
"Gaara.." kataku lirih sambil menyentuh pundaknya.
Dia pun langsung berbalik ke arahku, dan ia langsung memelukku dengan erat, aku merasa Gaara sedang menangis.
"Gaara, jangan menangis lagi. Aku juga mengalaminya. Ada aku, aku akan menjagamu. Sudahlah, kita seharusnya tau apa yang kita lakukan salah, karena cinta itu hanya omong kosong," kataku menenangkan Gaara sambil mengusap-usap punggungnya.
"Hiks.. Neji.. kenapa dia tega? Sebenarnya aku dianggap apa dimatanya? Kenapa dia mengkhianatiku? Dia bahkan tega menyebutku lelaki lemah! Apa dia tidak punya hati? Dia bilang, kalau aku memuakkan. Dia bilang, aku hanyalah penghancur hubungan Neji, dan kekasihnya," kata Gaara sambil terisak.
"Gaara," aku melepas pelukannya, dan menaruh tanganku di pundaknya, aku menatap matanya yang telah tergenangi air dengan tajam.
"Jangan pikirkan lelaki itu, kita lupakan mereka. Anggap mereka tidak pernah ada. Jangan menangis lagi, Gaara. Air matamu terlalu berharga kalau terbuang hanya untuk menangisi lelaki itu," kataku dengan lembut sambil mengusap air matanya dengan ibu jariku, aku pun tersenyum tulus.
"Terimakasih, Naruto." Kata Gaara sambil tersenyum tulus.
"Hn," balas ku sambil mengusap pipinya dengan penuh perasaan.
Lalu terdengar suara yang berasal dari Speaker bandara.
"Your attention please. The passengers flight number 11231992 from Japan to United States are allowed to go to the Dragonese Air's Plane now. Thank you."
Sambil menggenggam tangan Gaara, kami bersama-sama berjalan menuju pesawat yang sebentar lagi akan membawaku ke tempat dimana orang-orang yang dapat mengerti aku. Aku kembali, New York. Dan selamat tinggal, Japan.
Naruto Pov End
.
.
.
TBC
Hehehe, maaf kalau fict ini banyak kesalahan, maaf kalau ada Typo, maaf kalau penggunaan tanda "..." masih kurang pas. Karena aku masih belajar untuk menggunakan tanda "...", jadi kalau ada kesalahan, mohon kritik dan sarannya ^^
Terimakasih yang sudah mau meriview dan membaca fict ini ^^
Review/Flame?
Terserah kalian ^^
