The Sport Love
Chapter 2
"kalau aku sih tidak apa-apa, tapi mereka..."ujar Erza menunjuk Gray dan Juvia yang sedang tersenyum manis –kelewatan- kearah Jellal dan Erza
"awas kalau sampai kalian memberitahukan hal ini pada semuanya, habis kau ditanganku."ujar Jellal marah lalu pergi, dan lagi-lagi dia menggandeng tangan Erza
Hingga sampai di depan kelas 8B Jellal baru melepaskan tangan Erza. Sejenak Jellal menatap Erza lalu mengalihkan pandangannya
"mau bicara apa?"tanya Erza
"mulai hari ini, kau akan tinggal di rumahku."jawab Jellal, Erza terkejut tingkat dewa
"a-apa?! Ti-tinggal di rumahmu? Kau pasti bercanda, untuk apa?"tanya Erza tergagap, Jellal menatap Erza dengan tajam
"sekarang kutanya, apa aku pernah bercanda?"tanya Jellal, Erza menggeleng
"bagus."
"tapi, untuk apa?"tanya Erza, Jellal menghela nafas panjang
"akan kuberitahu di Danau Sheel."jawab Jellal
Skip time
Jam menunjukkan pukul tiga sore, waktunya murid-murid kelas 8 pulang. Semua anak berhamburan keluar kelas untuk pulang hingga di kelas hanya tersisa Erza dan Jellal. Jellalpun menghampiri Erza
"cepatlah, kutunggu di depan gerbang."ujar Jellal lalu pergi
Erza mengehla nafas ringan dan berpikir sejenak, apa yang dia pikirkan?. Sambil terus berpikir Erza berjalan keluar kelas hingga
"Erza!"teriak Jellal marah, mendengar teriakan Jellal Erza tersadar dan segera berlari mendekati Jellal
"ada apa?"tanya Erza polos dengan wajah innocentnya
"kau lama! Aku paling tidak suka jika disuruh menunggu, ayo!"jawab Jellal marah
"kenapa ditunggu?"tanya Erza polos-kelewatan polos- , Jellal menggeram lalu menarik tangan Erza dan membawanya ke rumah
"hiee! Rumahmu ini Konzern ya?"ujar Erza kagum, Jellal tak menjawab wajahnya terlihat sedih
'dia kenapa? Tak seperti biasa, dia terlihat...sedih'pikir Erza
"ayo masuk,"ajak Jellal, merekapun masuk.
# Erza POV #
Suasana rumah Jellal berbeda dengan suasana rumahku, disini suasananya sangat sepi berbeda dengan rumahku yang selalu ramai. Aku heran, apa Jellal tinggal sendiri di rumah sebesar ini?
Tak mungkin, masak di rumah sebesar ini hanya satu orang penghuni? Tidak masuk akal, pikirku
"kau pasti bertanya dalam pikiranmu kenapa konzern ini sepi, karena disini hanya ada aku dan beberapa pelayanku saja."ujar Jellal
"ortu dimana?"tanyaku
"kerja."jawab Jellal singkat, aku bingung-banget-. Kerja? Padahal, harusnya mereka sudah pulang kenapa belum pulang?
"kok belum pulang?"tanyaku, Jellal mendesah
"mereka pulang saat tengah malam, dan berangkat kerja saat pagi-pagi buta."jawab Jellal
"oh,"
"ah Tn muda sudah datang, apa ini teman Tn?"tanya perempuan paruh baya berambut hijau dengan seragam maidnya
"iya, Cornella. Bisakah kau membuatkan kami minum?"tanya Jellal ramah
"ah, baik Tn."jawab Cornella
"bawa ke kamarku ya,"tambah Jellal, Cornella mengangguk lalu pergi
"ayo masuk, akan kujelaskan kenapa aku tidak jadi mengajakmu ke danau dan tujuanku mengajakmu ke danau."ajak Jellal, akupun menurutinya dan masuk ke kamarnya
Kamarnya luas, bernuansa biru laut. Sangat rapi, itu yang terbesit di otakku. Tapi, apa ini tak terlalu luas untuk satu orang?
"duduklah, aku mau ganti baju dulu."ujar Jellal masuk ke kamar mandi dengan membawa beberapa baju, aku hanya mengangguk
Satu menit kemudian, Cornella datang dengan membawa dua jus jambu dan snack
"Tn muda dimana?"tanya Cornella
"dia sedang ganti pakaian."jawabku
"oh, kalau begitu saya permisi dulu."ujar Cornella pergi, tapi sebelum dia pergi aku mencegatnya
"bisa kau ceritakan tentang adik perempuannya Jellal? Kudengar dia memiliki adik."cegatku
"a-ah, ka-kalau itu sa-saya tidak tau."ujar Cornella gelagapan
"ayolah, aku hanya ingin mengenalnya."pintaku, akhirnya Cornella menyerah. Diapun menjelaskan tentang adik perempuan Jellal
"namanya Wendy Marvell, anak ini sangat cantik dan manis. Memiliki rambut yang sama seperti Nyonya Fernandes, biru tua. Dia sering membantu pelayan-pelayan disini untuk bekerja. Tapi sayang, dia meninggal karena-"
"Cornella, bisa kau keluar dari kamarku? Aku mau bicara berdua dengan Erza."potong Jellal-tetap ramah-
"ba-baiklah Tn.!"ujar Cornella gelagapan lalu keluar dari kamar
Yah kenapa pergi? Padahal ceritanya sudah mau habis, dasar Jellal! Menggangu saja. Keluhku
"tolong jangan berbicara tentang Wendy disini dan dimanapun."ujar Jellal
"kenapa?"tanyaku penasaran
"pokoknya jangan."jawab Jellal, aku mengangguk pelan
"um...ngomong-ngomong, apa tujuanmu mau bicara denganku?"tanyaku
"aku sudah dengar dari orang tuamu kalau kau itu tidak bisa berolahraga dengan cara yang benar, jadi aku disini untuk mengajarimu agar bisa berolahraga dengan tepat."jawab Jellal yang mampu membuatku cengo
"ha-hanya karena masalah sepele seperti itu? Aku tidak mau,"tolakku
"Nee-chan harus berlatih!"tegas seseorang di ambang pintu kamar Jellal
"Na-Natsu?!"ujarku, merasa namanya disebut Natsu berjalan mendekatiku
"Nee-chan, kau harus berlatih. Aku gak mau denger kalau nee-chan mendapat nilai delapan saat ujian, kalau sampai aku dengar nee-chan harus mentraktirku makan. Nee-chan tau kan akibat kalau aku ditraktir makan?"tanya Natsu dengan senyum jahilnya
"a-aku tau tapi.."
"ini pakaian milik nee-chan, ibu yang menyiapkannya."ujar Natsu memberikan sebuah tas besar yang dibawa oleh pelayan
"ja-jadi, ibu me-menyetujuinya?"tanyaku gelagapan, Natsu mengangguk
"ne Jellal-kun, tolong jaga Nee-chan ya. Dia orangnya agak aneh."ujar Natsu membungkukkan badan
"pasti, kalaupun dia melakukan hal aneh pasti akan kuhukum membersihkan kebun."ujar Jellal, aku hanya cemberut
"kalau begitu, aku pulanng dulu. Permisi..."ujar Natsu pergi dan meninggalkanku dengan sejuta pertanyaan
"Cornella, tolong antarkan Erza ke kamarnya."perintah Jellal
"baik Tn."ujar Cornella dan membawaku pergi
"Cornella, nanti sore tolong bawa Erza ke Aula Olahraga."tambah Jellal, Cornella mengangguk
Saat kami berjalan menuju kamarku tak ada yang membuka pembicaraan, hingga Cornella membuka pembicaraan kami
"sebaiknya, saya memanggil anda dengan sebutan apa? Erza-san, Erza-sama atau Hime Erza?"tanya Cornella, baru saja aku mau menjawab Jellal udah menyahutnya
"panggil dia Hime Erza."sahut Jellal, aku hanya memasang muka malas saat mendengar perkataannya.
Dan saat kami sampai di depan kamar aku langsung berbicara empat mata dengan Cornella
"panggil aku Erza, tanpa Hime. Mengerti?"tanyaku
"ta-tapi Tuan Muda..."ujar Cornella
"aku tak suka ada yang memanggilku dengan sebutan Hime, karena aku bukan putri mengerti?"potongku
"me-mengerti."ujar Cornella, kami berduapun masuk. Cornella membantuku membereskan pakaian, tiba-tiba Cornella membuka pembicaraan kami
"sepertinya, Tuan Muda suka terhadap Nona Erza."ujar Cornella, wajahku langsung memerah
"ma-mana mungkin, cowok dingin dan seram seperti dia manamungkin menyukai gadis aneh sepertiku. Dan jangan memanggilku Nona."bantahku menutupi semburat merah di wajahku
"tapi itu benar lho, semenjak Nona eh maksudku Erza datang kemari raut wajah Tuan Jellal jadi sumringah gitu."jelas Cornella, aku merasakan wajahku mulai memanas kali ini
"...kami jadi senang melihatnya...kami ingin Tuan Jellal bisa seperti itu setiap saat, sama seperti saat masih ada Nona Wen- ups!"
"lanjutkan, aku mau mendengar lanjutan dari ucapanmu."ujarku
"..."
"seperti saat masih ada Nona Wendy."sambung perempuan berambut merah muda dari ambang pintu
"Ca-Carroline!"ujar Cornella terkejut, Carroline mendekat
"biar kubantu sekaligus akan kuceritakan tentang Nona Wendy."ujar Carroline
"Carrol, jangan membahas itu! Nanti Tuan Jellal marah!"larang Cornella dengan nada kecil, Carroline tak mendengarkannya
"Nona Wendy, sekaligus adik perempuan Tuan Jellal telah meninggal karena di bunuh oleh seseorang dengan cara menusuk sebuah pisau dapur di tenggorokkannya. Dia meninggal di umur 15 tahun, saat itu umur Tuan Jellal sudah berumur 17 tahun. Dan semenjak saat itu Tuan Jellal menjadi seseorang yang dingin dan pendiam."jelas Carroline
Aku sangat terkejut mendengar penjelasan Carroline, Cornellapun terlihat sedih. Kulihat ada seseorang sedang berdiri di ambang pintu dengan aura gelap yang hebat
"Jellal?!"
# end Erza POV #
Ini untuk balasan Reviewsnya ,
Marianne Gloria
Iya, makasih ya buat Reviewsnya. Nanti akan saya perbaiki di chapter selanjutnya. Arrigatou Gozaimasu!
Untuk soal tragisnya Sting akan kubahas saat chapter terakhir #peace. Hehehe... Polisinya gak bisa ngungkapin siapa pembunuhnya, soalnya kalau bukan Sherlock Holmes gak kebongkar#ngaco
Ya itulah masalahnya, karena disini Sting jadi Antagonis semua murid dan guru jadi takut semua.#peace
Fairy Tail 4ever
Iya, ini juga update secepat yang aku bisa. Arrigatou Gozaimasu, udah reviews
