"We met last summer, found my way to you. Got out the city, are we headed for the woods? Baby would you stay awhile and maybe forever apart. I just love the way you love me, the classic kind that filmed in black and white."
4ever — Lany
.
.
.
Aku merasa sangat buruk ketika aku harus melewati ruang makan dan membuka pintu kamarku. Merasakan kepengapan itu menyengat kulitku, dan sel-sel otakku seperti dirangsang untuk terus marah dan marah lagi. Aku mewaspadai kedatangan David yang bisa saja mengagetkan dan menambah rasa kesal yang meletup-letup ini. David pasti punya tetuah yang sudah dia siapkan untukku, yang panjang yang bisa membuat telingaku terasa pengap selama berhari-hari. Dia tidak pernah setuju dengan semua rencana kencanku belakangan ini, dia selalu mewaspadai segala hal yang berkaitan dengan hubungan percintaanku. Aku sadar kalau aku tidak akan bisa mengatasi apapun yang akan David katakan kepadaku, terakhir kali aku mengingat candaanya saat suasana hatiku sedang tidak baik berujung pada ketegangan diantara kami. Aku tidak bisa membuat pria itu merasa buruk dengan leluconnya sendiri.
Aku memijat keningku ketika tiba-tiba pintu kamar tidak bisa terbuka hanya dengan satu bunyi klik, aku menendang-nendang dan memutar gagang dengan kasar. Seolah-olah kemarahan ini dapat terlampiaskan dengan itu. Ini keadaan buruk yang sulit dideskripsikan. Membuatnya menjadi tambah buruk. Aku tidak percaya kalau kami akan berakhir begitu saja. Oke, aku tidak pernah mengira kalau ini akan jadi satu malam yang panas dan seks yang memuaskan, tetapi setidaknya akan ada blowjob yang fantastis dan malam ini tidak akan jadi secanggung ini. Aku seperti baru saja melewati momen yang aneh yang membuat semangatku tiba-tiba menghilang. Maksudku, tidak ada yang lebih menyinggung dan janggal dari hampir bercinta.
Ketika aku berada di dalam taksi, Donghae mengirimkan pesan yang manis, yang berisikan kesan dan rasa terimakasihnya untukku, serta permintaan maaf mengenai segala hal yang terjadi. Anehnya itu malah menambah rasa tidak enak hati. Sejujurnya aku menyukai sikap Donghae yang perhitungan, tetapi dia seharusnya tahu kalau menghentikan acara bercinta begitu saja dapat menimbulkan pertengkaran yang hebat. Kenapa dia berubah jadi amatiran?
Dan pulang ke rumah bukannya memperbaiki suasana hatiku, malah keadaan jadi tidak normal. Melihat Neil dan David mengambil foto-foto romantis, tertawa bersama dan bersenang-senang layaknya menghancurkan sepercik ketenangan yang ada di dalam hatiku, turut serta dengan suara tawa David yang tiba-tiba kedengaran menyebalkan di telingaku. Aku sangat kesal sekarang, aku juga tidak menduga kalau aku akan menjadi kesal sekali. Semua orang seperti membunuh perasaan bersemangatku, kemarahan ini tidak bisa turun dari kepalaku, meletup-letup terus.
Aku menemukan sikat gigi Neil di kamar mandi, itu salah satu alasannya—juga perabotan yang berubah tempat serta piring-piring yang belum tercuci. Suasana rumahpun berbeda, aku tidak menyenangi ide David yang dengan seenaknya mengubah konsep rumah. Aku pernah tegaskan kepadanya bahwa furnitur disini tidak boleh diutak-atik tanpa persetujuan diantara kami berdua, aku juga tidak suka ketika salah satu pasangan kami ikut campur dalam masalah ini. Aku selalu tidak menyukai ide untuk terlalu terbuka kepada satu sama lainnya, David tidak perlu membagi semua rahasianya dengan Neil kepadaku yang secara diam-diam membuatku merasa kalau eksistensiku di rumah ini agak berkurang.
Aku tidak pergi selama sebulan atau seminggu untuk liburan sepertinya, aku hanya menghabiskan dua belas jam terakhir meninggalkan rumah bersama Donghae. Aku tahu kalau ini semacam cara berlindung yang buruk tapi aku tidak bisa menahan hatiku untuk merasa marah dengan hal-hal yang menyangkut David dan Neil. Mereka berisik sekali.
Aku memikirkannya lagi dan membuatku menggila, menyalahkan David tidak membuat suasana hatiku menjadi lebih baik tetapi aku juga tidak bisa menguasai otakku, aku ingin bilang kepada diriku sendiri kalau David dan Neil secara jelas tidak ada sangkut pautnya dengan kejadianku bersama Donghae, tapi aku merasa aneh. Aneh karena aku tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pria itu yang memembuatku tambah jengah lagi.
Aku menendang pintu dengan kekuatan yang sangat keras, sehingga bunyi derit diantara tembok dan pintu menyebabkan David berlari kearahku—dan ekspresi wajahnya membuatku sedikit menyesal. Neil di belakang sana menyembunyikan rasa cemasnya dan tersenyum kecil ke arahku.
"Ada apa denganmu, bung?!" Teriaknya, dia berlari ke arah pintu, terburu-buru mencegatku agar tidak masuk ke kamar, dia hampir saja menabrak tubuhku karena kualitas gerakannya beringas sekali. Setelah itu David meletakkan tangannya di sisi pintu, memasang pose seperti dia sedang memerangkapku. Suara nafasnya sangat keras semacam geraman peringatan untukku.
"Aku tahu ada sesuatu yang aneh saat kau datang, tapi jika kau kesal dengan sesuatu, ingat, rumah ini bukan cara untuk melampiaskannya. Kau aneh sekali!" Jemari David bergerak di mataku, dia menunjuk-nunjuk wajahku, meremehkanku. Caranya bicara persis seperti sedang memergokiku melakukan sesuatu yang sangat buruk. Tentu dia tahu kalau tidak mengangguku saat ini adalah cara terbaik untuk menghindari pertengkaran, atau dia punya pilihan untuk mengabaikan kemarahanku, lalu acara bersitegang ini tidak akan pernah dimulai. Seharusnya kami malu dengan Neil, tetapi kami selalu mengedapankan rasa ingin menang sendiri. Aku sangat khawatir jika prilakuku pada saat ini bisa mempengaruhi cara pandang Neil terhadapku. Dia dan David tidak melakukan sesuatu yang buruk, tetapi respon David membuatku sangat marah.
"Kau jelas tahu kalau aku tidak suka apapun diutak-atik disini!" Balasku berteriak kepadanya, dan benar, hal itu dapat membuat dia bungkam. David diam selama beberapa detik, tidak bereaksi. Dia sangat bingung dengan kemarahanku, dan aku tahu dia sedang mencari tahu apa yang bisa membuatku kalah dan meminta maaf padanya.
"Kau marah karena itu?" Balasnya dengan bingung sambil meyakinkan dirinya sendiri bahwa itulah yang menyebabkan kekesalanku. Wajahnya mendekat kearahku, seolah-olah dia benar-benar butuh konfirmasi yang jelas dengan ini semua. Dahinya berkerut-kerut seakan dia berpikir keras. Dia kelihatan tidak percaya dengan apa yang kukatakan kepadanya.
"Tidak. Bukan. Tidak sepenuhnya."
"Kau konyol." Dia tercengang, dan dia memalingkan wajahnya selama beberapa saat.
"Aku kesal dengan semuanya, aku menghabiskan waktu dua belas jam yang melelahkan dan kau tidak peduli," ungkapku jujur, aku nyaris menaikkan nada volumeku kepadanya, membuatnya memusatkan perhatiannya lagi padaku.
"Aku tidak mengerti bagian mana dari diriku yang tidak peduli."
"Oh David kau selalu seperti itu, kau sama sekali tidak membantu."
"Baiklah, anggap saja aku tidak tahu apapun tapi kau kelihatan urakan, seperti seseorang yang tidak jadi bercinta." Tepat sekali, kata-kata David seperti sebuah mimpi buruk menjelang jam sebelas malam. Aku tidak yakin kenapa dia bisa menebak semuanya dengan benar, perasaanku seperti permainan magis yang mudah sekali diprediksi jalan ceritanya dan itu sama sekali tidak bisa menumbuhkan rasa simpati. Aku tidak paham apakah salah satu maksudnya adalah untuk bercanda atau ini memang hal yang diketahuinya. Dan ketahuan olehnya bukanlah suatu hal yang melegakan.
"Memang benar," ucapku tidak peduli apakah Neil berada disuatu ruangan yang sama bersama kami atau tidak, aku bahkan tidak tahu kalau dia masih eksis disini, aku sedang tidak ingin ambil pusing dengan keberadannya. Kalau David saja pernah memikirkan tentang ini, itu berarti aku harus membeberkannya. Dia sudah hafal kenapa aku pergi dijam tujuh pagi tadi, dia mengerti tentang rencanaku untuk dua bulan kedepan.
"Apa?" tanya David. David terengah dengan itu, aku tidak mengerti apakah dia kesal karena dia benar-benar berubah menjadi objek pelampiasan amarahku atau malah bingung karena aku bersikap seperti seorang gadis yang putus cinta. David menegakkan tubuhnya dan melepaskan senderan tangannya dari pintu, kelihatan dari matanya kalau David ingin aku melenyapkan rahasia diantara kami dan cepat-cepat menceritakan detailnya saja. Tapi tatapannya mencerminkan sebuah kebingungan yang tidak kusukai, keheranannya mengenai hubungan diantara kami.
Hubunganku tidak sama seperti dia dan Neil, dia tidak terikat oleh perjanjian-perjanjian itu dan seks yang terlalu praktikal. Aku ketakutan kalau hubunganku dengan Donghae akan menjadi sesuatu yang umum jika aku menceritakannya kepada David. Aku tidak bisa menjamin bahwa dia akan peduli sepenuhnya dengan perasaanku dan menjaga semua partikel kerahasian itu. Aku bukannya menjadi sentimental tentang keberadaan Neil jikalau informasi seperti ini masuk ke dalam daftar bisnis ekonominya. Tentu, Donghae tidak seterkenal itu, dan David juga bukan teman yang tidak setia—terkedang dia tidak seperti itu. Tetapi aku tidak menyenangi ide mengenai hubungan yang buka-bukaan seperti mereka.
Neil hadir diantara kami berusaha keras menemukan kontak denganku dan menenangkan David diwaktu yang bersamaan, usahanya menengahi kami terlihat cukup adil sehingga aura ketenangan dari dirinya merembet ketubuhku juga. Wajahnya memohon kepada kami untuk segera menghentikan pertikaian ini.
Aku menundukkan kepalaku ketika Neil secara ramah menupuk punggungku seolah memberikan kode kepadaku kalau kehadirannya tidak akan berdampak besar pada hubungan kami berdua. Kalau semua hal yang kukhawatirkan sebenarnya tidak nyata. Itu signyal yang baik dan syukurlah aku merasa jika cara Neil yang seperti ini bereaksi baik di sistem tubuhku. Sejujurnya aku tidak menyesali pertengkaranku dengan David tetapi aku ingin secara pribadi meminta maaf kepada Neil karena dengan seenaknya telah melibatkannya ke dalam suasana emosiku yang tidak stabil.
"Aku sadar kalau kau tidak harus menceritakan segalanya kepadaku tetapi setidaknya kau bisa beritahu kalau sesuatu memang ada yang salah, aku memang marah karena kau menyebalkan, tapi aku tidak suka melihatmu murung." David menjelaskan semuanya dengan tanang—dengan kepalan tangannya yang mulai merenggang dari sisi pintu. Suaranya begitu halus sementara aku tidak berani menatap matanya sama sekali. Aku merasa buruk karena kami melewati momen canggung seperti ini.
Aku menggusar rambutku putus asa, sebagian besar kegusaran yang aku hadapi sebenarnya berasal murni dari Donghae, bukan David maupun furnitur yang dipindahkan. Aku hanya terus-menerus menjadi emosional dan menyalahkan David atas kondisi ini. Kalau aku berada diposisi David, aku mungkin akan menjadi frustasi dan marah sekali terhadapnya.
Sebelum aku membuka mulutku, Neil dengan sangat sopan permisi keluar untuk membeli bir, dan dia bilang dia ingin mencari udara segar juga—yang sebenarnya aku sangat mengerti apa artinya itu. Menyadari kalau pada akhirnya percakapan eklusif diantara aku dan David dimulai. Aku tidak bisa lebih berterimakasih dari ini karena tampaknya Neil begitu menghargai privasiku, dia tidak menggunakan ini sebagai suatu bumerang untuk putus dengan David suatu saat nanti. Aku merasakan bulu kudukku naik ketika debaman pintu dari Neil menyadarkan kami berdua. David meraih tanganku dan kulitnya begitu halus bersentuhan dengan telapak tanganku. Dia seperti menerawang permukaan kulitku, mencoba untuk menelisik kejadian buruk apa saja yang telah membuatku menjadi semenakutkan ini. Dia menggenggam tanganku penuh cinta kasih sehingga aku dapat merasakan ketulusannya.
"Kau tahu," David melepaskan tangannya dariku dan mengusap hidungnya, signyal untuk membuatku sadar kalau kalimat berikutnya akan memiliki pengaruh yang besar di hatiku. "aku tidak peduli apakah kau membenci kata-kataku atau tidak, tetapi aku sudah sangat yakin kalau ini tidak akan berjalan mulus. Maksudku, ini baru hari pertama dan kau sudah melalui hal yang buruk."
Segera setelah dia mengatakannya aku merasakan ketegangan itu datang lagi, aku tidak menyalahkan David karena memiliki praduga seperti itu sebab aku sendiri mempunyai presantase keraguan yang sama. Dan tidak ada kunci keberhasilan dari teman tidur telanjang. Rencana David adalah untuk mendorongku agar menjadi lebih dewasa, namun aku sudah terlalu menikmati ini dan cocok dengan syarat-syaratnya meski pesona Donghae masih sulit dipercaya.
"Aku merasa dia memiliki sesuatu yang selalu kucari, ini bukan tentang penampilan luarnya saja, tetapi setiap gerakannya membuatku jengkel dalam artian yang indah." David menggeleng kearahku, dia melihatku seperti aku sudah kehilangan kewarasanku. Dia tidak setuju dengan itu.
"Akan jadi sangat mengerikan kalau kau jatuh cinta." Dia memperingatiku, dan matanya menyalang-nyalang layaknya dia bisa melihat masa depan yang seperti itu, dan aku tersenyum kearahnya. Siapa yang peduli?
Tapi jelas saja, ini bukan tentang jatuh cinta. Aku tidak pernah berkonsentrasi kepada perasaan pribadi seperti itu, aku hanya menikmati seksnya saja. Aku tidak pernah membatasi diriku dengan itu, aku juga tidak takut kalau suatu saat nanti aku bisa saja jatuh cinta kepada Donghae. Lagipula, dia juga bukan pasangan yang buruk. Aku tidak perlalu khawatir kalau misalkan kami akan mengalaminya.
"Cinta tidak perlu bermakna sedalam itu."
David sulit menilai daya tarik apa dari Donghae yang bisa membuatku segila ini, tapi satu hal yang perlu dia pahami adalah aku masih sama seperti aku yang sebelumnya. Bagiku Donghae hanya teman tidur yang menyenangkan yang berharga selama beberapa saat, dia memiliki pesona yang bersifat tidak merekat. Faktanya, Donghae punya lebih dari seribu kharisma untuk membuatku tetap mengikutinya.
David menghela nafasnya dalam, tanda kalau dia menyerah.
"Oke, kau tunggu disini." Setelah menghembuskan nafasnya yang dalam lagi, dua tangan David memperingatkanku untuk tetap diam disini dan jangan kemana-mana, lalu dia menggerakkan kedua kakinya dan bergegas pergi ke kamarnya, wajahnya kelihatan serius, seperti memiliki sesuatu yang penting untuk disampaikan.
Perasaan bersyukur hinggap di hatiku, hubunganku dan David bukan sejenis hubungan yang dimiliki kebanyakan orang. Tentu saja, semua orang pasti punya beberapa relasi yang loyal kepada mereka, tetapi makna dari keberadaan David sulit kutemukan pada orang lain. Kami bisa bertengkar dalam jangka waktu yang singkat, mudah terpicu amarah dari hal-hal kecil, tapi kemudian merefleksikan diri untuk menjadi lebih dewasa, sadar kalau tidak ada yang lebih konyol dari kerusuhan itu. Menakjubkan sekali bisa marah dan memaafkan diwaktu yang bersamaan, tidak semua orang dapat memiliki pertemanan semacam ini.
Dia kembali setelah bunyi benturan dua benda yang keras, kemudian David muncul dengan wajahnya yang meringis karena lengannya membentur pintu sebab dia ingin cepat-cepat kembali lagi ke hadapanku.
"Tuan Donovan." David mengatakan sepatah kata itu, berharap kalau aku sudah mengerti jalan pikirnya, sembari memberikanku sebuah kotak berwarna abu-abu yang besar. Aku sama sekali tidak berencana untuk menebak arah pembicaraan kami, aku tahu persis hal-hal apa saja yang ingin disampaikan Austin melalui David. David tidak menjelaskan secara detail mengenai isinya, tetapi untunglah aku juga tidak mau tahu.
Aku menggaruk rambutku dengan tingkat kejengkelan yang tinggi berusaha untuk menyadarkan David kalau frustasi yang kurasakan sudah kelewat batas. Masalah besar. Aku diliputi rasa tidak tenang yang tinggi, aku baru saja memulai sesuatu dan kedatangannya sama sekali tidak membuatku terpuji. Aku tidak pernah terkesan dengan perlakuannya lagi mengingat aku sudah lama melupakan kedekatan kami. Betapa anehnya kalau berkencan dengan satu orang yang sama dalam dua periode sekaligus.
"Dia kemari?" David mengangguk, tersenyum mengejekku.
"Dia kelihatan jauh lebih tampan dari sebelumnya, dan seksi, dia lupa mengacingkan kacing deret paling bawah kemejanya dan sepertinya dia menyadari tatapanku dan merasa malu." Aku tidak paham apa pentingnya menceritakan hal konyol itu kepadaku karena kami sudah lama berpisah. Sesuatu yang berkaitan dengannya sudah lama aku abaikan. Aku juga tidak peduli bagaimana penampilannya sekarang, secara alami aku menutup semua kemungkinan untuk merasa terkait dengan mantan-mantan teman kencanku yang lain. Aku selalu bergerak ke depan, dalam ke hidupan pribadiku aku tidak pernah mengulang hal yang serupa. Aku membenci kemonotonan itu.
Omong-omong tentang Autsin Donovan, diantara teman kencanku yang lain, dia merupakan yang paling awet. Dia seperti tipeku, ukuran kakinya sama dengan David dan punya kepribadian yang memuaskan. Dia selalu perhatian dengan keluargaku serta memiliki kecenderungan untuk selalu memuaskanku. Itulah alasan utama kami putus lalu aku mengencani orang lain. Dia selalu mau tahu tentang apapun yang terjadi kepadaku dan sering membuatku merasa canggung dengan pengetahuannya. Dia juga memiliki gaya hidup yang tidak cocok denganku. Dia bermimpi untuk menikah diusia dua puluh lima tahun dan memiliki seorang anak biologis, yang membuatku langsung menghentikan hubungan kami karena adanya perbedaan jalan pikiran itu.
Sebenarnya tidak ada yang salah dari penampilannya, dia selalu memakai celana jeans hitam dan jaket kulit gagah serta dalaman yang nyentrik. Dia beraroma jantan yang berhasil membuatku tergila-gila selama beberapa saat kepadanya. Hanya saja aku belum memiliki rencana yang matang diusia dua puluh lima tahun selain tetap menetap di New York.
Kami tetap berhubungan dengan baik selama masa perpisahan itu dan tidak ada seorangpun dari kami yang bisa mengurangi keintimannya. Aku masih berusaha untuk tetap memiliki kontaknya meski perasaan janggal selalu datang saat dia mengirimiku pesan ketika aku kencan dengan pasanganku yang lain. Dia seakan tidak memulihkan rasa sakit hati yang kumiliki. Dia hanya tidak belajar dari kesalahannya. Aku berulang kali menolak ajakannya untuk kembali rujuk, kami tidak akan pernah bisa bekerja sama. Kami tidak pernah dimaksudkan untuk bersatu. Aku sangat alergi kepada gagasan untuk kembali lagi kepada masa lalu.
David mengedipkan matanya menggodaku, "Semoga berhasil," guraunya.
.
.
.
Aku sudah memantapkan hatiku kalau aku bersedia melewati hari yang ditetapkan oleh Donghae. Aku mengabaikan suara pagi yang sibuk dari dapur yang dihasilkan oleh David, bunyi blender dari kebiasaanya membuat smoothie dengan kale yang rasanya mengerikan. Bunyi itu seperti alarm yang selalu menggerakkanku untuk bangun di jam tujuh pagi. Aku juga mendengar suara shower yang hidup dari kamar mandi David, andai saja hari ini bukan hari senin aku pasti akan berakhir kembali tidur. Anehnya, bias matahari yang tembus dari korden kamarku seperti menyemangatiku untuk bergerak mengambil sikat gigi dan enggan dengan kemalasan. Kalau sinar matahari saja bisa menjadi ilusi untuk membuatku berubah menjadi orang yang murah hati, aku pikir betapa indahnya jika bisa bangun di samping Donghae.
Bola mataku mengelilingi ruang kamarku berusaha melakukan pencarian ke arah telepon genggamku. Aku menemukannya berada di bawah kakiku, sadar kalau kemarin aku tidur dengan mode musik on selaman. Dan pasti hanya Davidlah yang sangat rajin mematikan musikku segera setelah dia bangun.
Aku memandangi ponselku, memeriksa pesan-pesan yang masuk, sedikit terkejur karena menyadari kalau Donghae mengirimi pesan di jam sepagi ini. Entah mengapa pesan darinya membuat jariku mendadak berkeringat dan licin. Tidak dapat kupercaya kalau dia adalah tipe orang yang akan memberi sapaan pagibuat teman kencannya. Bukannya itu romantis? Perhatian-perhatian kecil sejenis itu?
Aku merasa seperti prioritasnya selain mandi pagi dan sarapan waffle. Dia mengirimkan dua pesan, yang dia kirim dua belas menit lalu, yang berhubungan dengan kemeja apa yang pas dengannya. Lalu satu pesan romantis lagi untuk mengingatkanku kalau dia begitu bersyukur memilikiku selama dua bulan ini. Pesan-pesannya serupa dengan surat cinta menggunakan tulis tangan yang manis. Dan dengan begitu dia kelihatan sekali berusaha keras untuk membuatku tersenyum dari kejauhan, itu katanya.
Donghae memiliki kharisma yang khas didalam dirinya. Daya tariknya susah disamakan dengan orang-orang lainnya. Oleh karena itu aku menjadi sangat nyaman berada disisinya, walaupun terkadang aku merasa beberapa kalimatnya tidak cocok dengan isi hatiku. Salah satu dari mereka kedengaran agak kasar dan satunya lagi membuatku terlau tidak nyaman. Meski aku merasa tersinggung, itu tidak membuatku untuk berhenti mengaguminya. Tetapi Donghae sering mengakui kesalahannya, itu sikap yang gentle, itu sulit kutemui dari pasangaku yang lain.
Aku membalas pesannya seperti seorang remaja yang baru pertama kali berciuman, merasa sangat gugup sehingga aku sering salah mengetik kata, aku juga mengoreksi kalimatku berkali-kali, membaca dari atas ke bawah takut kalau ada salah-salah kata. Aku berguling dari satu sisi ranjang ke sisi lainnya dan tidak bisa menutupi rasa geliku ketika pada akhirnya Donghae memilih kemeja warna biru pastel, yang kupilihkan untuknya. Dia kelihatan sangat seksi dengan lengan bajunya yang dilipat dan foto wajahnya yang menggodaku. Semacam sedang mengirimiku signyal sensual dibalik pesan-pesannya yang ramah. Dan dipesan selanjutnya dia menyematkan ucapan Terimakasih karena aku telah berhasil membuatnya tampak lebih tampan daripada dia yang sebelumnya. Pujian itu berarti banyak, menimbulkan perasaan senang dan warna merah dikedua pipiku. Rasa panas yang hebat menjalar sampai ke leherku.
Aku mencengkram permukaan selimut putihku dan rona merah dipipiku itu seperti menodai warna selimut ini. Aku membalas Donghae dengan kata-kata yang cukup nakal juga. Aku bilang kepadanya kalau aku tidak sabar untuk melanjutkan hal yang kemarin sempat kau hentikan. Membuatku terkikik karena dia membalas pesanku yang tadi dalam waktu yang singkat. Menunjukkan antusiasnya.
.
.
.
Aku dan Donghae tiba di Time Square dan memutuskan untuk berjalan menuju keramaian Fifth Avenue, meninggalkan mobilnya di areal parkir umum. Aku memberikan pesan terakhir kalau dia harus berhenti membawa Kibum kemana-mana saat kami memiliki kencan yang ekslusif berdua, memberi kesempatan Kibum untuk berjalan-jalan selama dia berada di New York, sekedar untuk mengunjungi kerabat dan teman-temannya yang lain atau David. Dia harus menyisakan ruang yang banyak untuk privasi sehingga kami bisa lebih menikmati momen-momennya, dan jantungku berdegup begitu kencang ketika Donghae menggenggam tanganku sangat erat. Jari-jari kami seolah terikat pada satu sama lainnya dan tidak terpisahkan. Aku begitu merasakan ketertarikan fisik yang kuat diantara kami. Pada dasarnya tidak ada yang berbeda dari kencan-kencanku yang lain, tetapi kebersamaan ini dan segala sentuhan fisik yang dia berikan kepadaku begitu mengena di pori-pori kulitku. Aku menyukai cara jalannya yang begitu bersabar, dia tidak menambah tekanan apapun di langkah kakinya. Dan aku sungguh menikmatinya, setiap gerakan yang dia lakukan secara mistis mampu menghiburku. Aneh sekali.
Aku menghadapi puluhan ribu orang yang berjalan melewati kami, memburu waktu, berjalan ke puluhan arah yang berbeda. Pusat persimpangan yang didamba oleh jutaan orang, ajaibnya diantara milyaran orang yang ada kami malah dipertemukan dengan jalan yang unik dan sama-sama menginginkan banyak romantisme. Anugerah yang indah. Tapi jalan pemikiran seperti itu aneh sekali kalau datang dari diriku, aku tidak pernah memaknai sesuatu sampai sedalam ini. Kehadiran pasanganku dan arti dibaliknya, bagaimana kami bisa bertemu dan latar belakangnya, mereka tidak pernah menjadi isu besar dihidupku dan biasanya yang seperti itu sering aku abaikan. Aku tipe orang yang selalu mengutamakan tempat tidur dan bukan kencan yang manis, Donghae pasti punya suatu magis tersembunyi didalam dirinya sampai bisa menggerakkanku seperti ini.
Celana jeansnya yang gelap, dan T-shirtnya yang tampak mahal dan serasi membuatku meleleh untuk berjalan berdampingan bersamanya. Screen lebar diatas gedung-gedung menjulang menampilkan iklan kosmetik dan makanan yang menarik perhatian kami, membuat Donghae berbisik disampigku, tepat ke telingaku, mengeluh sebab tiba-tiba dia merasa lapar. Dia menawariku ice coffee tanpa creamer yang dia beli di cafe pinggir jalan. Aku merekomendaksikan beberapa Restauran terbaik yang pernah kukunjungi kepadanya. Aku menyukai masakan yang bercita rasa tidak menyengat dan murah, aku tidak suka berada diantara kumpulan-kumpulan orang yang menikmati hidangan dengan harga menggila. Aku cenderung menghabiskan uangku pada sesuatu yang bisa membuatku tampak modis. Seperti jam tangan atau sepatu. Aku punya hobi dan keterampilan khusus untuk memilih jam tangan mana yang cocok dengan bentuk wajah dan ukuran tangan.
Aku juga beberapa kali memergokinya hampir menyentuh bokongku, dari matanya kulihat dia memiliki keinginan untuk meremasnya secara intensif, tetapi Donghae malah kelihatan senang dengan responku yang menepis tangannya dari sana. Dia senang kalau aku bersikap bertolak belakang dengan kemauanku, dia bilang itu semacam cara untuk menggoda. Walau pada dasarnya aku sama sekali tidak memiliki intensi untuk melakukan itu.
Aku melihat banyak pasangan berjalan didepan kami, yang membuatku merasa seakan-akan kami adalah sepasang kekasih yang sebenarnya juga—yang tengah menghabiskan kencan musim panas di pusat keramaian kota. Oleh karena itu kami tampak seperti turis. Tetapi harus harus kuakui Donghae menyadari sedikit niatku untuk menghabiskan uang. Ia pura-pura merapikan permukaan coatku dan menatapku sekilas. Paling tidak dia pasti punya rencana untuk mentraktirku Louis Vuitton dan Armani. Aku sempat menolak ketika dia menawarkan dirinya buat membawa semua barang bawaanku, termasuk tas gendongku yang cukup berat karena itu pasti akan terlihat berlebihan sekali walaupun aku tidak keberatan.
"Aku merasa kalau setiap orang yang kencan denganmu pasti pernah memikirkan apa yang kupirkan sekarang." Kalau kami berada di ruang tertutup dengan hanya kami berdua, suaranya pasti terdengar seperti sebuah teriakan yang menggema ke seluruh dinding. Spontan aku mendekatkan telingaku karena teriakannya tidak mampu menutupi kebisingan dari jalanan.
Aku mendongakkan kepalaku ke arah kanan sambil menggiring Donghae lebih dalam ke trotoar memberi celah untuk seorang wanita muda menyalip kami. "Memikirkanku seperti apa?" Aku dan Donghae kemudian berjalan lebih cepat, sadar kalau cara jalan kami yang lambat mengganggu beberapa pejalan kaki yang terburu-buru.
"Maksudku, kau pasti sangat istimewa. Dari luar kau kelihatan pintar tapi kau ternyata seseorang yang pandai memuji." Dia membuat sebuah gestur lucu dengan tangannya, aku tidak mengerti apa hubungannya gestur itu dengan kemampuanku yang pandai memuji. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, berusaha menahan tawa yang mendesak keluar dari perutku. Tanganku yang menggenggam tangannya beralih merangkul bahunya, berusaha agar kami terlihat tampak lebih santai.
"Tidak, tidak seperti itu." Aku mengelak, dan menepuk punggungnya.
"Tidak Hyuk Jae, kau hanya tidak paham. Kau begitu berjiwa muda dan asyik, membuatku merasa muda juga."
"Oke, aku terpaksa setuju. Tapi apakah itu sebuah pujian?"
Dia menggelengkan kepalanya, dan matanya mengamati wajahku dengan ganas.
"Tidak bukan hanya itu, kau juga tampan sekali."
Oke, sekarang Donghae membuatku berdebar-debar, pede dan semuanya berlomba-loma ingin meledakkan kepalaku. Dia kelihatan santai sekali ketika mengatakannya, seolah memang itu yang dimaksudkannya. Aku sendiri tidak begitu peduli apakah hal yang dikatakannya adalah sebuah rayuan untuk membawaku ke ranjang atau sekedar untuk membuatku merasa senang tapi aku tidak berniat untuk menyembunyikan senyumku sama sekali.
"Terimakasih Donghae, tapi tidak ada yang lebih menyebalkan dari berjalan berdampingan dengan seseorang yang lebih memukau dariku." Donghae menggidikkan bahunya, tangannya mengeratkan pegangan tanganku dibahunya. Kami kemudian memilih pertokoan terakhir untuk dikunjungi sebelum berlanjut ke Broadway.
Donghae mempunyai selera fashion yang tidak norak, sesuai dengan kelas sosial dan usianya. Dia tidak tampak berlebihan dengan pakaian yang dia pakai, malahan membuatnya kelihatan lebih berkelas dan jantan. Warna sepatunya begitu mengkilat dan bersih. Dia adalah tipe orang yang tidak akan membuatmu malu kalau kau berjalan bergenggaman tangan dengannya. Aku mengamati hampir setiap barang yang dia beli dan merasa puas dengan itu, mencuri ciuman ketika dia kelihatan sangat tegang sekali mengoabrak-abrik dompetnya.
Kami setelah itu akhirnya benar-benar memutuskan berjalan kearah Broadway, sempat berargumen untuk memilih musikal apa yang akan kami tonton, namun dia akhirnya menyerah secara damai karena kekukuhanku, dan mengikuti pilihanku saja dengan konpensasi menginap di hotelnya nanti malam. Kami memilih pertunjukkan musikal American In Paris yang menghabiskan sampai ratusan dolar uangya karena memilih untuk duduk di barisan terdepan. David sudah pernah menonton pementasan ini dan kudengar pertujukannya cukup fenomenal, mereka memenangkan penghargaan Tony atau semacamnya untuk tahun ini. Aku sadar kalau pengalaman kencan seperti ini tidak pernah dirasakan Donghae sebelumnya, sebab dia bilang padaku tidak ada yang lebih biasa dari menonton bioskop kemudian sungai Han. Aku ingin menciptakan ingatan yang dalam ketika Donghae menarik napasnya dan bermalas-malasan saat dia kembali ke Korea. Masih mengingat namaku dilima tahun ke depan adalah gagasan yang membanggakan, aku ingin dia berhadapan langsung dengan kerinduan dan hal-hal semacam itu. Aku mau dia tahu kalau aku bisa menjadi peluang teman kencan terhebatnya. Tidak menutup kemungkinan juga kalau dia akan sangat menyesal untuk berpisah denganku setelah dua bulan ini.
Kami tidak terlalu menikmati pertujukannya akibat tangan Donghae yang terus mengusik suasana tenangku, aku jadi berubah sangat tegang dan tidak rileks. Tangannya menyusup dari celah di balik sandaran kursiku, aku memperingatinya kalau aku merasa tidak nyaman, tapi dia malah menghujam bokongku dan meremasnya. Pikiranku jadi mengarah kepada segala hal yang tidak ada hubungannya dengan musikal ini. Aku tidak bisa percaya kalau aku membiarkannya melakukan hal yang lebih dari sekedar remasan, dan tampak seperti pelecahan di tengah pementasan. Aku tidak percaya kalau aku mulai membayangkan diriku berbaring di panggung itu, Donghae mendesakku gila-gilaan dan ditonton banyak orang. Ya ampun, fantasi liar macam apa itu?
.
.
.
Tahukah Donghae seberapa tegangnya aku setelah dia menggiringku menuju lift hotel? Mendongrongku dengan kedua tangannya, melilitkan lidahnya ke bibirku dan mencari kenikmatannya disana? Seperti lift ini adalah tempat yang menjanjikan untuk bercinta, bukan suatu tempat yang umun dan orang-orang yang bisa memergoki kami bahkan sama sekali tidak bisa mengurangi dorongan dari sentuhan seksualnya. Dia berlama-lama bermain dengan bokongku layaknya mereka adalah sumber klimaksnya, dimana Donghae menunjukkan ketertarikannya yang besar dengan ukuran dan bentuknya. Aku menepi ke sudut dengan tanganku menopang di dinding lift untuk mengurangi desakan Donghae yang tertuju ke bibirku, dan caranya meningkatkan tekanan diantara selangkanganku menggunakan lututnya menciptakan suara samar yang menggila. Aku tidak bisa menahan diriku untuk berimajinasi lebih ganas mengenai tubuhnya ketika dia memerangkapkanku dengan lengannya yang kokoh dan tatapan matanya yang menghujam serta kedua tangannya yang menyentuh kulit wajahku secara hati-hati, berbanding terbalik dengan intensitas ciumannya yang serupa kuda liar. Dia menghisap bibirku setelah menggigitnya dengan kuat, melakukan teknik yang sangat luar biasa. Denyutan kecil yang dia ciptakan memunculkan sensasi bak diserang opium yang intensif menggerogoti tubuhku.
Dia meletakkan kedua tangannya di bahuku setelah sentuhan lembut di pipiku, memusatkan kontrolnya disana. Aku tidak bisa bergerak selain memandang wajahnya sesaat setelah dia menghentikan ciuman karena prediksinya mengenai lift yang terbuka sangatlah tepat. Bunyi yang keras yang otomatis dari pintu lift tidak mampu mengalihkan perhatiannya kepadaku, dan degup napasnya samar-samar mulai menguasai gendang telingaku. Mereka berdenyut-denyut mengirimiku isyarat-isyarat kebutuhan dan keinginan Donghae. Bagaimana dia membuat semua adegan panas ini menjadi fenomenal membuatku berdecak dengan heboh. Sungguh, kilatan matanya yang menakutkan dan penuh peringatan akan performanya membuatku ingin cepat-cepat mendorong Donghae keluar dari frustasi ini.
Kami berhenti melakukan kontak mata setelah seorang wanita berkulit hitam indah berdehem di belakang kami, menyadari situasi lift yang berubah menjadi tempat senonoh. Donghae membalikkan badannya dan seketika wanita itu memberikan pesan agar kami segera meninggalkan lift. Dan amanat kecil lainnya untuk tidak melakukan perilaku cabul. Aku menundukkan wajahku dan melemparkan senyuman canggung, menarik Donghae bersamaku, melewati pintu lift yang hendak tertutup secara sistematis.
Kami dengan buru-buru melewati pintu masuk menuju lobi yang menunjukkan kelas kamar hotel, dimana Donghae dengan sigap mengeluarkan kunci kamarnya saat dia melihat kamarnya berada tidak lebih dari lima meter diantara langkah kami yang menggebu. Dia kelihatan kesal karena telah melewati waktu yang panjang menuju kamarnya, dan bisa saja memberikan efek kepada gairahnya, yang juga kutakutkan mengurangi rasa antusiasku. Dia melakukan gerak secepat kilat membuka pintu, dan menguncinya setelah tubuhku dengan kasar dia tarik masuk, dan debaman pintu yang kuat nyaris mengenai dahiku. Dia sama sekali tidak meminta maaf karena kecerobohaannya, bagaimanapun aku sendiri melupakan kemarahanku yang disebabkan oleh dorongan seksual kami. Dia mencondongkan wajahnya ke wajahku, berusaha menggapai bibirku lagi sementara tangannya melucuti kancing pertama dan kedua kemejanya, menyombongkan dadanya yang bidang serta kokoh, dan warna kecokelatan ketika terkena sinar matahari yang datang dari jendelanya menciptakan gradasi emas yang indah disana, makin mempesona. Aku menyentuh dadanya dan memberikan remasan yang sama kuatnya dengan gigitannya di bibirku, dan saat dia beralih menuju telingaku, meninggalkan sengatan listrik yang menggelikan, aku melenguhkan namanya berulang kali, Donghae.
"Kau menakjubkan, begitu mempesona," katanya, dan kepalaku berputar-putar, suaranya seperti sebuah bahasa yang tidak bisa diterjemahkan otakku, bagai dia telah melenyapkan sisi rasional selain menyentuh tubuhnya.
Aku ingin melucuti kemeja yang tiba-tiba menjadi sangat mengesalkan, sehingga Donghae begitu menyadari ketidak sabaranku. Dan Donghae tampak tidak senang dengan itu. "Kau harus belajar untuk bersabar," ucapnya, menggodaku, menahan tanganku di dadanya, menggenggamnya dengan ketulusan yang kuat, lantas menciumnya. "Dengan begitu kau akan menemukan yang lebih indah dari orgasme," lanjutnya lagi.
Aku menggeram merasa kesal, melepaskan kedua tangannya dan beralih menuju dadanya, turun ke celananya kemudian meremas selangkangannya. "Kau mengesalkan." Donghae merespon umpatanku dengan gigitan yang kuat dileherku, meninggalkan bekas berwarna kemerahan yang kontroversial. Tubuhnya bereaksi cepat saat aku menaikkan intensitas remasanku diselangkangannya, secara tidak sadar membuatku ikut melenguh karena suaranya tertahan di telingaku. "Kau mengesalkan tetapi kau sangat tampan, sangat mempesona."
Donghae mendorong tubuhku, balik dia yang menggeram, dia memerapkan tubuhku diantara dinding, memusnahkan jarak dan memberikan gesekan yang setara surga dunia. "Persetan Hyuk Jae, itu kata-kataku, itu milikku." Suaranya yang posesif bukanlah refleksi dari klaimnya atas kalimat yang secara tidak langsung kukutip darinya, melainkan menunjukkan kalau akulah sumber proteksinya, seperti dia mengatakan kalau aku adalah miliknya dan aku akan selalu berada di bawah kontrolnya. Aku mencengkram punggungnya, melepaskan tanganku yang terhimpit di celananya dengan gesekannya saat dia mempercepat gerakannya. Membuatku merasa sangat putus asa dan menginginkannya saat itu juga. Aku merasa kehilangan diriku di sentuhannya dan ciumannya, caranya mencumbuku begitu cerdas dan layak.
Aku menghentikan tindakannya karena kami bisa langsung orgasme dengan pemanasan konyol ini, aku tidak mau menyianyiakan spermanya. Aku mau mereka berada diantara pahaku atau paling tidak bibir dan wajahku. Aku ingin merasakannya. Donghae mengerjap-ngerjap dengan matanya yang sayu sesaat setelah aku menggiringnya ke atas kursi yang berhadapan langsung dengan jendela dan pemandangan gedung-gedung Midtown. Dia berusaha memecahkan gelombang teka-teki dari gerakan panasku dan pada akhirnya duduk disana, bagai kursi itu adalah singgasana yang mendatangkan nikmat. Dia menatapku dengan berani, dahinya berkonsentrasi penuh dan matanya menjejalkan jejak pertanyaan di wajahku. Aku membalas senyumnya dengan senyuman yang ramah, meredakan sorot matanya yang begitu menguasai tubuhku.
Aku menarik ikat pinggangnya, mengendus selangkangan Donghae dengan hidungku, menciptakan gerakan yang tidak mampu menyembunyikan kegelisahan Donghae. Dia terbangun dari pesona setelah aku meninggalkan gigitan yang nakal, dan menarik celananya jatuh menuju lututnya setelah aku selesai berurusan dengan resleting celananya yang susah ditaklukkan. Aku terkejut dengan kebiasaan Donghae tidak menggunakan boxer melainkan celana dalam keabu-abuan yang seksi, menegaskan pesona jantannya dan aura tidak mau kalah yang dikeluarkan dari bau colognenya . Aku berpura-pura memiringkan kepalaku, seolah-olah ingin memberikan candaanku yang khas, namun kuhentikan nyaris sebelum aku mencium penisnya, membuat Donghae mengerang penuh kekesalan, menarik rambutku agar lebih jinak.
Dia menarik segenggam rambutku dengan cara yang penuh ke hati-hatian sehingga tidak menimbulkan kemaharan apapun dariku, yang konyolnya mengagetkanku sebab aku tidak menyukai tipe permainan yang menyakitkan seperti ini. Tunggu, bukankah Donghae benar-benar membawa pengaruh yang besar bahkan terhadap caraku bercinta?
"Tidak, Hyuk Jae." Dia menyerah, sehingga aku melepaskan senyum kemenanganku. Aku menarik celana dalamnya ke bawah, terkejut dengan milik Donghae. Dia memiliki penis yang menganggumkan, dan tampak dewasa, kokoh serta mendesakku untuk tidak berbasa-basi. Aku sendiri tidak bisa menghindari keinginan untuk menelan Donghae ke mulutku, yang menciptakan ketersiksaan yang sama seperti Donghae saat aku melakukan pemanasan ini. Aku dengan hati-hati mengecup kepalanya, layaknya mereka adalah menu Thanksgiving yang kutunggu-tunggu selama setahun dan begitu menarik selera. Dia menggigil dengan jilatanku, tubuhnya bereaksi lebih keras dari apa yang pernah aku pikirkan. Getaran itu bahkan sampai membuatku ikut lupa diri.
Dari menarik rambutku sekarang berubah menjadi belaian yang lemah, yang memusatkan perasaan bangga dan senang, membuatku merasa dihargai atas apa yang aku lakukan kepadanya. Donghae menyebut namaku, merapalnya serupa mantra yang membuatku jatuh kepesonanya, otomatis membuatku bergerak lebih cepat, mengikuti keinginanya, mengikuti nalurinya yang menggairahkan. Aku tidak pernah merasa segembira ini saat melakukan blowjob terlebih dengan pasangan-pasanganku yang sebelumnya karena mereka terlalu pemaksa, sehingga aku mengurangi foreplay, dan sistem mereka yang begitu membuatku membenci pemanasan itu.
Tetapi Donghae malah membuatku berbalik menyukai mereka, dan gilanya lagi, sentuhan yang kulakukan kepada Donghae, memberikan reaksi yang hebat ditubuhku, tidak hanya memuaskan Donghae secara fisik, namun juga membuatku bangga. Apa yang lebih hebat dari mendengar laki-laki semacam Donghae merapal namamu begitu gilanya hanya dengan hisapan yang lemah dipenismu? Donghae adalah pria yang menakjubkan kalau menyangkut masalah menaikkan rasa percaya diri partnernya.
Aku memasukkan penisnya ke mulutku, melepaskannya lagi, terus seperti itu secara berulang-ulang. Dan mataku mengawasinya, was-was kalau dia melakukan ekspressi yang terlalu artifisial. Aku takut kalau dia tidak benar-benar menyukai kinerjaku, meskipun nyatanya dia tidak melakukannya. Malah dia sangat menyukai hisapanku di selangakangnnya. Tanganku beralih dari pahanya, menuju testisnya, meremas mereka ditanganku dengan gemas, sehingga aku merasakan Donghae nyaris menyerah. Dia hampir menuju klimaksnya dan itu sangat hebat. Aku menghentikan semuanya dan ada setitik keringat menuruni wajah Donghae karena perasaan tidak nyaman dan cemasnya.
"Pandang aku," perintahku seperti seorang bos yang memarahi karyawan magang yang ketahuan melakukan hal yang sangat tidak profesional, kemudian menciptakan keterkagetanku karena dia menuruti perintahku begitu saja. Dia memandangku dengan tajam dan menunjukkan sikap arogansinya sebagai pria. "Pandang aku dengan benar, Donghae," ulangku lagi.
"Tidak."
Aku mendelik, naik dari tempatku berjongkok sehingga posisiku jadi jauh diatas Donghae. "Aku tidak suka saat teman kencanku membandel, kau harus tahu itu sayang," aku mengucapkan syarat yang mengagetkannya sehingga pada akhirnya dia melunak.
"Kau tidak bisa mengendalikanku," Donghae bersikukuh.
Aku menggeleng, "Ya, aku bisa. Aku punya taktiknya. Kau melupakan itu." Aku merunduk dari tempatnya duduk, meraih wajahnya dan menggigit bibirnya, memusatkan gigitan yang tidak menyakitinya tetapi cukup untuk membuatnya mengikuti instruksiku. "Aku bisa melakukan itu."
Donghae menggeram saat aku melucuti bajunya, melepaskan setiap kancingnya sementara tanganku meremas penisnya lagi, dan aku naik diantara kursi, meletakkan lututku diantara pahanya, bertumpu disana. "Kau nakal," bisiknya, membuatku mendesah.
Dia melepaskan celana dan bajuku bersamaan dengan tanganku diantara penisnya yang memompa dan caraku meremas miliknya seperti telah memadamkan semua inderanya, dilihat dari usahanya melepaskan kancingku yang terus gagal. Donghae akhirnya tersenyum lega dan perasaan senang yang polos tersimpan di kedua matanya setelah seluruh pakaianku terlepas dari tubuhku, dan kami pada akhirnya sama-sama bugil. Donghae menarik tubuhku duduk diantara kakinya dan denyutan tidak nyaman menyerang lututku secara hebat sehingga Donghae memperbaiki posisi kami menjadi lebih nyaman, dengan strategi yang mengutungkanku juga. Bokongku secara langsung bersentuhan dengan penisnya, dan aku berhenti bernapas sejenak, dadaku mendadak terasa berat merasakan kulitnya secara intim menyentuh permukaan kulitku.
Aku memberikan peringatan lewat mataku untuk tidak melakukan apapun sebelum aku meraih kondom di atas meja nakas dengan bersusah payah, dan aku memasangkannya ke penis Donghae sehingga permukaan lateks itu menginvasi permukaan milik Donghae, membuatnya melenguh dan menggigil diwaktu yang bersamaan.
Donghae menjilat pipiku sebelum mendorong miliknya masuk, tanpa kusadari namanya keluar lagi dari bibirku karena rasa tidak sabar dan panik. Aku ingin Donghae berada didalam sini, merasakan kehangatannya, terjebak ditubuhku sehingga dia tidak bisa menemukan jalan keluar lainnya selain tubuhku, ingatan yang menyangkut tentang diriku. Ciuman basah yang mempesona serta keputusasaan yang tidak sabaran, semuanya bergabung menjadi partikel yang mendorong keberanian Donghae untuk merasukiku, melilit tubuhnya diantara rayuanku dan dia mencoba untuk memusatkan kendalinya agar tidak kehilangan konsentrasinya akibat kulit yang kami yang saling bersentuhan satu sama lainnya. Dia menarik tubuhku dan menjatuhkan bokongku secara tiba-tiba ke penisnya, yang dengan lengahnya kubiarkan, sehingga tenggorokanku kering akibat kekagetan dan rasa nikmatnya. Dia melakukannya dengan kedua tangannya yang kokoh, dan matanya menyuruhku untuk membantunya.
Aku bersandar dibahunya, menempatkan kepalaku disana, dan menjatuhkan tubuhku dengan sengaja dipangkuan Donghae, meruntuhkan keegoisanku untuk bersembunyi dalam kegembiraan ini. Donghae mencengkram tangannya dipinggangku, mencubitnya, mendesak tubuhnya dengan performa yang luar biasa hebat, hingga aku melupakan logikaku. Matanya gelap memandangi tubuhku, tidak tertutup sama sekali, bibirnyapun terbuka bagai seorang Dewa yang dimabuk cinta saat mengeluarkan napasnya yang berat melewati bibirnya karena hidungnya mati rasa. Dan aku melakukannya juga. Sensasi sakit dan perih menciptakan kesenangan lainnya, dan aku mempercepat gerakanku, secepat Donghae menyentil ujung prostatku dengan cara yang gegabah, membuatku berhenti bernapas dan menyerang telinganya dengan teriakanku atas namanya dan keindahannya.
Dia dan aku bekerja sama dengan cara yang pintar, kemudian saat kami merasa sensasi kilatan cahaya yang serupa, tangan Donghae turun melewati pinggangku menuju penisku, menumpahkan perhatiannya ke penisku. Meremas dan mengocoknya dengan intesitas menggila, sehingga aku menggelinjang ke atas saat orgasmeku menyerang tubuhku, menumpahkan spermaku ke dada dan dagunya. Aku menggelinjang hebat diantara tubuhnya dan aku menghimpit kulit Donghae disana, berkerut karena sensasi panas itu makin mendorongnya menuju inti terakhir.
Aku turun ke tubuhnya saat dia nyaris sampai, berjongkok dikedua pahanya, berhadapan langsung dengan selangkangannya yang berdenyut-denyut dan dengan gayaku yang serampangan, aku menyingkirkan kondom itu dari penisnya, memberikan remasan terakhir di penisnya dan spermanya meluncur ke wajahku, membasahi bibir serta dahiku dan pipiku, efek lembab dan geli langsung menyerang sistem sarafku.
"Ya ampun," desisnya, dan ketika dia selesai dengan kata-katanya, aku menempelkan ciuman yang manis di paha kanannya.
"Ya ampun," sahutku juga.
.
.
.
Aku mengerahkan semua kekuatanku agar aku dapat terbenam lagi dalam mimpi yang indah, aku ingat kalau di dalam mimpiku aku begitu bergairah dan menggila. Aku juga mengingat kalau seseorang menyulap kesakitan yang kumiliki dengan kesenangan dan dari teori itu, aku tahu kalau semburan hasratku tidak terpengaruh oleh dimensi. Aku juga tahu kalau itu bukan hanya sekedar mimpi lagi, aku melewati malam yang sangat panas bersama pria itu. Jadi benar jika dia bukan pria yang biasa. Karena dia dapat mempengaruhi keseluruhan dari libidoku dan kekuatannya menghantam hasrat seksualku begitu membuatku tampak seperti orang gila. Aku sendiri tidak mengerti kenapa aku membiarkan diriku terjebak. Aku terlalu terlena kepada sentuhannya dan caranya mendorong tubuhku, serta kemulusannya merayuku. Dia begitu bersikeras untuk merobek-robek akar pikirku hingga membuat kepalaku pusing, aku kehilangan setengah dari kewarasan itu. Dia adalah bajingan yang baik.
Orgasme yang kulewatkan tadi malam berbeda dari syarat-syarat orgasme mantan kekasihku, percintaan yang kemarin menciptakan sejarah karena cara kerja yang radikal yang belum pernah diperkirakan olehku. Aku berani mempertaruhkan satu tahun hidupku untuk merasakanku. Donghae adalah satu-satunya orang yang bisa memperlakukan dengan benar, dan setiap kata-kata manisnya tahan lama berdengung ditelingaku. Dia tidak berusaha untuk membuatku, dia secara alami bisa membuatku puas.
Aku tahu kegilaanku terhadapnya sangat tidak beralasan, aku telah mengencani banyak pria dan wanita yang punya kekuatan pesona fisik lebih indah dari dia tetapi api yang menyala di matanya tidak dapat dialihkan oleh mataku. Dan rencananya kelihatan serius untuk memerangkapku ke dalam api yang membara itu. Atau paling tidak aku bisa bilang kalau aku terperangkan, menatap miliknya adalah hobi sekarang, dan menyentuhnya adalah adiksi. Dan dalam waktu yang singkat, dia berubah menjadi satu-satunya orang yang aku inginkan. Seolah tidak ada yang lebih penting dari napasnya di leherku, dia seperti poros di duniaku.
Aku merasa sedikit lebih baik ketika aku membuka mata, cahaya matahari yang menyengat tidak bisa langsung kuterima. Mataku sedikit matahari dengan ganasnya sinar yang menyerang mereka sehingga aku merasa perlu untuk mengerjapkan mereka selama beberapa detik. Aku bangun dengan sopan sekali, mengingat aku sadar kalau Donghae masih ada di kamar hotelnya. Kupikir-pikir ini baru jam setengah delapan pagi, mungkin waktunya untuk sarapan. Aku merasa sedikit menyesal kepada David karena tidak menyadarinya, itulah perasaan sesal yang kurasakan dalam kurun waktu menentu, sekali dalam sebulan. Aku menarik tanganku dan melepaskan ketegangan dari otot-ototku dan melenguh kecil. Aku berpura-pura tidak tahu kalau Donghae masih disini. Aku ingin dia terkesan dengan cara bangunku yang begitu tersturuktur, walau perhatiannya tertarik kepada hal lainnya.
Ketika dia tersadar aku telah terbangun, dia meraih remot pendingin ruangan, dan menurunkan suhu, berusaha membuatku nyaman, meski aku tidak benar-benar kepanasan. Aku melihatnya seteguk lagi kopi yang dia minum, yang sangat hitam, sebelum akhirnya bangun dari tempatnya duduk—yang mengingatkanku tentang seks yang hebat itu—kemudian bergabung denganku di kasur. Aku memaksa diriku untuk tidak membuat inisiatif terlebih dahulu, sampai kemudian dia mencium rahangku dan menempelkan bibirnya disana cukup lama.
"Selamat pagi tampan," sapanya dengan bibirnya yang masih menempel dirahangku, dan rasanya begitu manis. Aku mempelajari kalau ini adalah semacam perhatian yang dia sukai di pagi hari. Napasnya terasa sangat hangat dikulit pipiku, dan aku menarik tangannya agar melingkar di tubuh telanjangnya, ingin merasakan perhatiannya yang seutuhnya.
"Aku memimpikanmu tadi malam, aku tidak tahu apakah kau merencanakan mimpi itu, atau itu adalah sebuah kebetulan karena kau terlalu mempesona dan aku terlalu memikirkanmu," kataku, memeluk tubuhnya juga, menambah koneksi diantara kami. Dia mendekatkan tubuhnya, memisahkan jarak yang menjengkelkan itu, meraba perut rampingku. Dia menampakan antusiasme untukku melanjutkkan ceritaku. "Aku tidak yakin apakah aku perlu memberitahumu tentang mimpiku karena ini terlalu memalukan." Lanjutku. Tetapi dia malah mendekapku lebih erat, dan menggelinjang untuk meraih telingaku.
"Aku suka kenakalan dan rasa malu, sayang. Katakan." Aku mencium aroma sabun mandinya yang semerbak ke seluruh ruangan. Wanginya sangat kuat, membuatku merasa terintimidasi.
"Aku bermimpi tentang kita berdua," aku berusaha untuk kedengaran bimbang, tanganku menghentikan tangannya yang bermain diperutku, dan menggenggamnya, "Aku bermimpi kalau kita bercinta di tepi pantai. Suatu tempat yang panas dan pasir putih. Kesannya sangat tropis sekali. Aku juga ingat kalau kau orgasme bersamaan dengan matahari terbenam, bukankah itu hebat?" Aku tidak menyangka kalau aku akan melihat sepercik keterkejutan yang keluar dari mata Donghae setelah aku selesai dengan kata-kataku, matanya berkilat dan tubuhnya menegang. Apakah aku baru saja mengatakan omong kosong atau aku malah mempermalukan diriku sendiri?
"Aku tidak mengigau dalam tidurku kan?" tanyanya, memancing kebingunganku, "Sial Hyuk Jae, darimana kau tahu itu semua?" dia terkesiap dengan ucapanku, dan badannya secara spontan terangkat setengah, tatapan matanya memerangkap mataku, mendesak klarifikasi. Aku sendiri tidak mengerti apa yang kukatakan, aku hanya berniat untuk bercanda dengannya.
"Tunggu, Donghae. Apa maksudnya?"
"Aku merencenakan destinasi liburan yang indah sesuai dengan hari libur di kampusmu. Kibum tidak mengatakan apapun padamukan?"
Ya, Tuhan. Apa yang dikatakannya. Liburan kemana? Hawaii? Puket? Aku sendiri tidak merencanakan apapun dibalik perkataanku tadi, aku hanya ingin menarik sedikit perhatiannya, sebenarnya aku sangat tercengang tetapi aku tidak mau kelihatan norak jadi aku berusaha meredakan kehebohanku secara rahasia. Mataku memberi isyarat kepada Donghae kalau daripada merasa terkejut, aku malah panik. Aku ingin sedikit meninggalkan kesan kalau aku bukan orang yang gampangan, bukan semacam gold digger murahandikampusku.
"Tidak, Donghae. Aku sama sekali tidak mengerti."
"Ya, karena ini seharusnya jadi kejutan yang menantang." Dia bangun dari tempat tidur dan aku mengikutinya lalu duduk di pinggiran dipan. Dia meninggalkanku yang kebingungan kearah setumpuk menu sarapan dan secara tidak langsung menawariku untuk bergabung dengannya. Aku masih terlalu tercengang dengan segalanya sehingga aku hanya menatapnya saja bagaikan adrenalinku tercopot habis kemudian dipompa secara mengejutkan lagi.
Donghae membelakakan matanya saat suara nada dering dari ponselku terdengar memenuhi kamar hotelnya, kemudian dia tersenyum saat dia menyenangi temponya. Aku mengenyahkan keterkejutanku dan cepat-cepat meraih ponselku di meja nakas. Mudah ditebak, itu dari David.
Aku mendekatkan telepon ke telingaku, dan kata-kata David terpotong karena Donghae sudah bicara sebelum aku memencet tombol angkat, aku tidak terlalu memperhatikan kata-kata David karena aku amat menfokuskan tatapan Donghae yang merasa geli oleh sambungan telepon di pagi hari.
"Tenang, David. Aku tidak mati. Iya, aku bersama teman kencanku, jangan membentak," aku berusaha menenangkan David dan mengabaikan semua pesan-pesan khawatirnya, sekaligus memotong semua pembicaraannya dan merasa kesal karena Donghae terlalu menikmati humornya. Aku memperhatikan mimik wajah Donghae dan dia bilang,
"Kita akan ke Miami."
"Yang benar saja?!" Aku memekik dan keterkagetakan spontan membuatku menjauhkan telepon genggamku dari telinga.
.
.
.
TBC
.
.
.
Thanks for reading!
