Desclaimer : Tite Kubo

Yosh…UN selese jg. Makasih do'anya reders…author jg nge-do'ain kalian-kalian yg UN kok…skrg tinggal do'a biar lulus yak XD Amiiiinn…

Reply review :

via-sasunaru : hehehehe iya, sebenernya itu aku banget wkwkwkwk thx 4 review...

Aoi Namikaze : makasih, waaah kamu dukung Grimmichi ya? Hn...coba liat nanti, saia jg suka ma Byakuichi sih...*digetok rame-rame*

Arigato jg bwt CCloveRuki yang udah nyempetin review ^-^

Chapter 2 : Blueberry vs White Night

.

.

.

Ichigo bersiap pergi ke kampus pagi itu. Ia sudah rapi dengan pakaiannya dan hanya tinggal memakai sepatu.

Ting tong…

Tiba-tiba terdengar bell pintu dibunyikan. Ichigo tersenyum. Biasanya Byakuya lah yang datang sepagi ini sekedar untuk mengantarnya ke kampus meskipun hari itu Byakuya tak ada mata kuliah.

"Sebentar…" ucap Ichigo dan segera membukakan pintu. Dan benar saja, memang pria itulah yang datang. Ichigo menyambutnya dengan senyuman hangat.

"Sudah siap?" tanya Byakuya.

"Ya." Balas Ichigo. "Atau mau minum dulu?"

"Tidak. Ayo."

Mereka keluar apartement dan menuju mobil Byakuya yang sudah terparkir manis di depan gerbang.

"Kau ada mata kuliah hari ini?" Tanya Ichigo sambil memasuki mobil.

"Tidak."

"Lalu mau apa ke kampus?" pertanyaan rutin Ichigo tiap kali Byakuya mengantarnya dan mengatakan tak ada jam kuliah.

"Memakanmu." Ucap Byakuya dan langsung menawan bibir Ichigo dengan bibirnya.

"Dasar." Ichigo memukul pelan perut Byakuya.

Byakuya mulai menjalankan mobilnya. Tak berapa lama, mereka sudah sampai di kampus. Byakuya memarkir mobilnya di salah satu barisan parkir.

"Ichigo, nanti malam kau ada acara?" tanya Byakuya.

Ichigo memutar bola matanya, tapi dengan senyum terlukis di bibirnya, pasti Byakuya akan mengajak melakukan 'itu' lagi.

"Aku tidak ada waktu. Memangnya ada apa?"Ichigo bermaksud menggoda, ia menatap Byakuya dengan senyum nakal.

"Tidak bisa diluangkan?"

Nah, benar kan. Byakuya bersikukuh. Pasti tujuannya hanya hal satu itu.

"Memangnya ada apa?"

Byakuya mengambil sesuatu dari dashboard, sebuah handycam. Alis Ichigo mengerut, apa Byakuya ingin merekam adegan ranjang bersamanya.

"Apa-apaan ini?" Ichigo cemberut.

"Kau tau apa yang kumaksudkan."

"Ck! Aku tidak mau." Ichigo melipat tangannya di depan dada dengan tampang cemberut.

"Kenapa?"

"Aku tidak mau kalau sampai ada orang lain yang melihatnya."

"Video ini untukku."

"Tapi tetap saja. Kalau sudah dalam bentuk video, siapa saja bisa melihatnya kan?"

"Aku akan menyimpannya baik-baik."

"Pokoknya tidak mau."

"Ichi, …"

"Tidak."

"Ichi…"

"Tida-…" tin tiiiiiinn….. terdengar klakson mobil dari belakang mereka. Mereka berdua sontak menoleh dan mendapati seseorang berambut biru terang berdiri di tepi mobilnya tapi dengan tangan terulur ke dalam untuk membunyikan klakson pastinya.

"Tch!" kesal Byakuya dan keluar dari mobil. "Apa?" tanyanya.

"Kau tidak bisa memarkir mobil dengan benar ya?" ucap orang itu.

"Mungkin matamu yang bermasalah." Ujar Byakuya karena memang dia sudah memarkirnya di tempat yang benar.

"Itu tempatku."

"Sejak kapan tempat parkir ini dimiliki oleh orang bodoh sepertimu?"

"Dengar brengsek. Kalo tidak mau cari mati, sebaiknya kau parkir di deretan lain."

"Tch! Apa hakmu."

"Kau…"

"Sudahlah kalian berdua." Ichigo keluar dari mobil dan menengahi. Kekasihnya itu memang keras kepala, dan sepertinya cowok berambut biru itu lebih keras kepala lagi. Bisa gawat kalau tak dilerai.

"Hooh, jadi kau bersama pasanganmu, slasher?" seringai cowok berambut biru itu setelah mendapati orang yang keluar dari mobil Byakuya adalah seorang laki-laki. "Pantas saja kau asal parkir, sudah ingin melakukan sex di dalam mobil eh?"

"Kau…" Byakuya nyaris saja menghajarnya kalau Ichigo tidak segera mencegah.

"Sudahlah. Jangan cari ribut. Sebaiknya kita parkir di tempat lain." Ujar Ichigo.

Byakuya menggeram kesal. "Siapa namamu, biru. Aku akan mencatatnya di daftar nama orang-orang yang akan segera kucabut nyawanya."

"Grimmjow. Grimmjow Jeager Jacquez." Ucap si kepala biru. "Ingat baik-baik nama itu, karena nama itulah yang akan mengirimmu ke neraka."

"Tch!"

"Sudahlah…" Ichigo menyeret Byakuya masuk mobil dan menyuruhnya parkir di tempat lain.

~ OoooOoooO ~

Ichigo memasuki ruang kuliahnya dengan santai, dozen belum datang sehingga Ichigo menghabiskan waktu untuk duduk sambil membuka-buka buku. Saat sedang sibuk, tanpa sengaja ekor mata Ichigo menangkap sosok berambut biru lewat di depan ruang kuliahnya.

"Hei, kau tahu siapa dia?" tanya Ichigo pada teman di sebelahnya.

"Ha? Kau tidak tahu dia, Ichigo?" ucap Kira Izuru, orang yang tadi ditanya oleh Ichigo. Ichigo menggeleng. Kira melanjutkan. "Dia Grimmjow Jeager Jacquez. Terkenal sebagai premannya kampus ini. Makanya aneh kalau sampai kau tidak tahu dia."

"Preman kampus? Dia itu anak fakultas mana?"

"Fakultas teknik otomotif. Kerjaannya saja balapan liar. Dia ugal-ugalan dengan mobil-mobil hasil modifikasinya itu. Tapi memang hasil modifnya bagus sih…"

Ichigo hanya terdiam akan penjelasan Kira, dan matanya tak lepas dari sosok biru yang berjalan kian menjauh itu.

~ OoooOoooO ~

"Bagaimana tadi?" tanya Rukia. Ia kini tengah duduk berdua dengan Byakuya di salah satu café campus.

"Dia menolak." Jawab Byakuya cuek.

"Ayolaaah, rayu dia lagi, Byakunn-chan." Rajuk Rukia.

"Tidak."

"Huuuh, kalau begitu rekam secara diam-diam."

"Tidak."

"Buuuuu Byakunn-chan nggak asyik." Rukia menggembungkan pipinya. "Eh, Byakunn-chan. Siapa lagi pasangan yaoi yang ada di campus ini?"

"Entahlah."

"Ayolaaah, kau pasti tahu. Ini kan campusmu."

"Aku tidak tahu." Cuek Byakuya. "Rekam saja temanmu yang yaoi."

"Di sekolah tidak ada pasangan yaoi."

"Sekolah?" Byakuya mengerutkan dahi.

"Apa? Jadi Byakunn-chan tidak tahu kalau aku masih SMA? Ah, Byakunn-chan payah, masa tunangan sendiri tidak…"

"Ehm!" seseorang berdehem keras. Sontak Byakuya dan Rukia menoleh, dan keduanya terbelalak melihat sosok berambut orange berdiri tidak jauh dari mereka.

"Bisa jelaskan apa arti kata 'tunangan' yang kau ucapkan tadi?" ucap Ichigo dingin dengan tangan terlipat di depan dada.

"Bu-bukan kok Ichi-chan." Kilah Rukia. "Kami hanya…"

"Saudara sepupu…" …" kakak adik." Jawab Byakuya dan Rukia bersamaan.

"Saudara sepupu atau kakak adik?" Ichigo mempertegas.

"Kakak adik…" … "Saudara sepupu…" kini terbalik Byakuya lah yang mengucapkan kata kakak adik, sedangkan Rukia yang mengucapkan saudara sepupu.

"Fine." Ucap Ichigo dan berbalik.

"Ichigo, tunggu." Byakuya mencekal lengannya. "Kami bisa jelaskan." Ujar Byakuya dengan nada datar seprti biasa.

"Hebat. Kau bilang 'kami' dan bukannya 'aku'. Jadi ini memang rencana kalian berdua untuk menyembunyikan hubungan kalian?"

"Aku tahu kau mau mendengarkan penjelasanku."

"Percaya diri sekali kau!"

Byakuya tak menjawab. Ia sudah tahu bagaimana sifat Ichigo. Ia pasti mau mendengarkan penjelasannya.

"Oke." Ichigo berbalik menghadap kekasihnya itu. "Beri aku satu penjelasan singkat."

"Kami…"

"Aku bisa menjelaskannya lebih baik. Tadi kulihat mereka berciuman." Ucap seseorang. Perhatian ketiganya langsung tertuju pada orang itu.

"Grimmjow…" geram Byakuya, tampak Grimmjow duduk di salah satu meja dengan cara yang tidak sopan sambil menenggak birnya. Ia menyeringai penuh kemenangan pada ketiga orang yang barusan ia kerjai.

"Apa? Kau tidak percaya?" Grimmjow makin memanas-manasi Ichigo. Rasanya emosi Ichigo sudah tak terbendung lagi, ia menyentakkan genggaman tangan Byakuya dan beranjak pergi, meninggalkanByakuya yang kini mematung dengan Grimmjow yang tertawa terbahak-bahak. Ia lalu bangkit dan menghampiri Byakuya.

"Perang baru dimulai, Kuchiki." Seringai Grimmjow dan melenggang pergi.

"Byakunn-chan…maafkan aku." Lirih Rukia. Tapi sepertinya Byakuya tidak peduli dan melangkah pergi ke arah menghilangnya Ichigo tadi.

~ OoooOoooO ~

Ichigo membasuh mukanya di wastafel untuk menyamarkan wajahnya yang sembab karena menangis. Untunglah kamar mandi kosong, sehingga tak ada yang melihatnya begitu.

Sebenarnya ia tahu kalau mungkin suatu saat Byakuya akan dijodohkan dengan orang lain –wanita tentunya- karena Ichigo sedikit banyak mengerti aturan keluarga bangsawan, tapi Ichigo tak menyangka kalau Byakuya akan bertunangan tanpa memutuskannya, dan bahkan tanpa memberitahunya. Andai saja Byakuya memberitahunya jauh-jauh hari, mungkin Ichigo akan bisa menyiapkan mentalnya meski tetap akan terasa menyakitkan.

"Ichigo…" sebuah panggilan membuyarkan lamunan Ichigo. Dari cermin wastafel, ia bisa melihat Byakuya memasuki kamar mandi. Ichigo hanya bertambah kesal saja, Byakuya adalah orang yang paling tidak ingin ditemuinya saat ini. Iapun berbalik dan pergi tanpa menghiraukan Byakuya.

"Jam 7 di tempat biasa. Aku akan menunggumu disana." Ucap Byakuya tanpa menoleh. Demikian juga Ichigo, ia tak menoleh meski tadi Byakuya mengucapkan permintaan untuk bertemu.

Ichigo melangkahkan kakinya ke gerbang campus. Ia sudah tak berminat lagi mengikuti kuliah hari itu. Jalanan tampak lengang, Ichigo juga sempat menengok kanan kiri sebelum menyeberang zebra cross, tapi saat sudah menyeberang sampai tengah jalan, tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang ke arahnya.

"Gyaaaaa…" jerit Ichigo. Mobil itu mengerem mendadak, tapi tak sempat. Sehinga terguling dengan lutut menghantam aspal.

"Adudududuh…" keluh Ichigo, duduk sambil memegangi lututnya yang terkoyak.

"Tch! Kalau menyeberang pake mata dong!" maki si pemilik mobil yang keluar dari mobilnya. Ichigo mendongak dan cemberut begitu melihat siapa yang telah menabraknya.

"Grimmjow! Kau yang menyetir pake mata dong! Aku sudah menyeberang dengan benar kok!" kesal Ichigo, tapi kembali meringis kesakitan.

"Tch! Menyeberang dengan benar katamu? Waah jangan-jangan kau memang nekat bunuh diri ya…gara-gara putus dengan pasangan slashermu itu." Cibir Grimm.

"Kau…" geram Ichigo.

"Sudahlah, ayo cepat bangun!" Grimmjow mengangkat lengan Ichigo dengan kasar.

"Auw…sakit bodoh!" keluh Ichigo.

"Cerewet." Grimmjow menyeret Ichigo masuk ke dalam mobilnya.

"Hei, apa-apaan kau! Turunkan aku!" Ichigo bermaksud keluar mobil, tapi Grimmjow segera menutup pintunya.

"Aku ini bukan type orang yang tidak bertanggungjawab. Aku akan membawamu ke rumah sakit." Ucap Grimmjow sambil duduk di belakang kemudi. "Cepat pakai sabuk pengaman. Aku tak mau ambil resiko lukamu makin parah karena terbentur sesuatu."

Meski cemberut, Ichigo menuruti perkataan Grimmjow. Baru saja Ichigo memakai sabuk pengaman dengan benar, tiba-tiba Grimmjow langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

"He-hei hei! Apa-apaan kau! Pelankan kecepatanmu…!" panic Ichigo.

"Diam saja kau." Ketus Grimmjow.

Tak berapa lama ngebut di jalanan, Grimmjow melirik kaca spionnya. "Sial, mau apa mereka." Rutuknya.

"Siapa?" Ichigo ikut melirik kaca spion, dan matanya terbelalak melihat barisan mobil mengejar mereka. Bukan mobil polisi, tapi lebih mirip mobil para gangster. Ichigo melihat sticker di mobil-mobil itu yang menunjukkan kalau mereka berasal dari geng balap liar Vizard. Ichigo bergidik mengingat bahwa Vizard adalah geng balap liar yang sangat berkuasa di daerah itu, bahkan polisi saja kewalahan menghadapi mereka.

"Ke-kenapa mereka mengejarmu?" panic Ichigo.

"Entahlah. Mungkin karena aku sudah mempecundangi beberapa anggota mereka." Jawab Grimmjow dengan tampang santai.

"Kau benar-benar suka cari masalah ya!"

"Diam. Bersiaplah, aku akan menambah kecepatan." Tapi belum selesai ia berucap, Grimmjow sudah menaikkan kecepatannya. Membuat Ichigo harus mencengkeram kursi kuat-kuat untuk meredam ketakutannya. Ia bahkan memejamkan mata erat tiap kali Grimmjow menyalip mobil-mobil padahal jalanan padat, juga menerobos palang kereta api.

"Kau gila! Turunkan aku disini, Grimmjow!" perintah Ichigo.

"Tidak ada waktu, bodoh! Mereka akan menangkap kita!"

"Kita? Maksudmu kau, huh?"

"Dan sekarang kau ada bersamaku. Mereka bisa saja menangkapmu juga."

"Tch! Aku tidak ada hubungannya. Mereka pasti melepaskanku."

"Oia, kau tahu, kau ini cukup manis. Bisa-bisa mereka mencabulimu ramai-ramai."

"Apaaa!"

"Makanya. Duduk dan diam saja!" Grimmjow kembali mempercepat laju mobilnya. Ternyata mereka dihadang, sehingga Grimmjow membelokkan mobilnya ke gank sempit.

"Sial! Di depan jalanan sempit. Tidak bisa dimasuki mobil." Maki Grimmjow. Ia menghentikan mobilnya tepat sebelum menabrak tembok di ujung jalan, membuat Ichigo senam jantung karena mengira akan menabrak.

"Sekarang apa? Mereka tepat di belakang kita." Panik Ichigo.

"Aku kan bilang jalanan di depan tidak bisa dilewati mobil, bukan tidak bisa dilewati manusia." Grimmjow tampak memprogram sesuatu di mobilnya. "Ayo!" Grimmjow menarik Ichigo keluar dan mereka berlari ke arah kanan, sebuah gank sempit.

"Auw, lututku sakit." Keluh Ichigo.

"Cepatlah bodoh! Kau tidak mau meledak bersama mobil itu kan?" kesal Grimmjow.

"Apa? Meledak!"

"Ya, aku memasang bom tadi."

Mendengar itu, dengan susah payah Ichigo mempercepat larinya sementara para gangster itu terdengar mulai berlari mendekat.

"Grimm, mereka mengejar." Panic Ichigo, tapi terlihat Grimmjow malah menyeringai.

"3…2…" Grimmjow menghitung mundur. "…1…dan…"

DUAAAARRRR!

Mobil Grimmjow meledak dan meledakkan para gangster yang berada di jangkauan ledakan. Hingga tubuh mereka hancur tercabik-cabik dan ada beberapa bagian yang melayang di udara lalu jatuh di hadapan Ichigo.

Ichigo memandangnya tidak percaya, hingga akhirnya ia muntah karena tak pernah melihat adegan sekeji itu secara langsung. Sementara Grimmjow malah terkekeh puas melihat bangkai-bangkai itu.

"Bangsat kau Jeager Jacquez!" terdengar teriakan orang tak jauh dari ledakan.

"Bwahahahaha aku mempecundangimu lagi, Shinji." Seringai Grimmjow. "Ayo lari, jumlah mereka yang tidak meledak pasti masih banyak." Grimmjow menyeret Ichigo dengan paksa dan lari dari kejaran gangster pimpinan Shinji itu.

~ OoooOoooO ~

"Hoeeekk…! Uhuk…uhuk…" Ichigo masih saja muntah mengingat kejadian tadi. Ia dan Grimmjow kini tengah berjalan di tanggul yang kering karena agak tinggi, sementara di samping mereka mengalir aliran air pembuangan dengan bau yang tidak sedap. Ya, benar, mereka kini tengah berada di terowongan saluran air pembuangan bawah tanah untuk bersembunyi dari anak buah Shinji yang masih setia mengejar mereka.

"Tch! Selama mereka masih di atas, kita tidak bisa muncul dulu." Gerutu Grimmjow.

"Uhuk…uhuk…gara-gara kau aku jadi ikut terlibat, dasar brengs-…hoeeeekk" Ichigo kembali muntah.

"Diamlah bodoh, suara muntah mu itu bisa menunjukkan keberadaan kita."

"Kau yang bodoh, keluarkan aku dari sini sekarang juga! Dan jangan panggil aku bodoh! Dasar bodoh."

"Ah, ya. Siapa namamu, bodoh? Icha…Ichi…Iche…?"

"Ichigo Kurosaki, ingat nama itu baik-baik, karena nama itu yang akan mengirimmu ke neraka." Ichigo mengulang perkataan Grimmjow terhadap Byakuya.

"Wah…wah…kau masih membela pacar slashermu itu ya, Ichigo. Ah, tidak, maksudku…strawberry."

"Apa kau bilang! Mau kubunuh ya!" kesal Ichigo, membuat Grimmjow tertawa terbahak.

"Ugh…" Ichigo mengeluh lagi, ia akhirnya duduk bersandar pada dinding terowongan. "Aku lelah, lututku juga sakit. Sepertinya masih mengeluarkan darah." Gerutu Ichigo.

"Heeeh, kita istirahat disini dulu." Grimmjow duduk tak jauh dari Ichigo. "Begitu aman, aku akan membawamu ke dokter."

Lalu tak ada percakapan lagi di antara mereka. Hingga Ichigo pun tertidur karena bosan.

"…berry…Starwberry…"

"Ng…?" perlahan Ichigo membuka matanya karena merasa pipinya ditepuk. Dan pemandangan pertama yang ia lihat adalah wajah Grimmjow.

"Grimm~…" lirih Ichigo, masih mencoba mengusir rasa kantuknya dengan mengucek mata.

"Sepertinya sudah aman, ayo pergi." Ucap Grimmjow.

"Ya…" Ichigo mengikuti langkah Grimmjow menuju sebuah tangga menuju ke atas terowongan, mereka memanjat tangga itu dan keluar dari sana. Begitu keluar, Ichigo agak tercengang karena mendapati langit sudah gelap dan bintang bertaburan.

"Sudah malam? Berapa lama kita ada disana?" heran Ichigo.

"Siapa yang tahu." Grimmjow mengedikkan bahunya. Ia tampak sedang menekan-nekan tombol HPnya. "Aku sudah memanggil orang untuk menjemput, kita istirahat disini dulu." Grimmjow duduk di atas pipa-pipa beton yang teronggok tak terpakai.

Tak berapa lama kemudian, dua buah mobil berhenti tak jauh dari mereka.

"Ayo." Ajak Grimmjow pada Ichigo dan memasuki salah satu mobil. Sementara sopir yang mengendarai mobil tadi, masuk ke mobil satunya lagi dan pergi. Membiarkan Grimmjow membawa mobil dan menentukan tujuannya sendiri. "Cepat Berry."

Dengan sedikit kesal, Ichigo memasuki mobil dan langsung memakai sabuk pengaman, takut Grimm akan mengebut lagi.

"Tenang saja, kali ini aku akan pelan-pelan." Seringai Grimmjow dan mulai melajukan mobilnya.

"Ngomong-gomong…ini pukul berapa? Kenapa udara dingin sekali?" Ichigo mengusap kedua lengannya yang terasa membeku.

"Pukul 01.00 a.m."

"Apa? Sudah dini hari? Astaga." Ichigo menggeleng tak percaya. Ichigo mengeluarkan HPnya untuk memastikan ucapan Grimmjow. Memang benar jam sudah menunjuk pukul 1, tapi bukan itu yang membuat Ichigo kini mematung menatap screen HPnya. Melainkan karena wallpaper HPnya yang memperlihatkan foto Byakuya dan dirinya.

"Byakuya…" lirih Ichigo, dan seketika alisnya berkerut saat mengingat sesuatu.

"Jam 7 di tempat biasa. Aku akan menunggumu disana."

Ichigo teringat akan janjinya itu.

"Grimm, putar balik mobilnya." Perintah Ichigo.

"Tidak, aku akan mengantarmu ke rumah sakit dulu. Setelah itu baru kau ku antar pulang."

"Grimm, aku bukan mau pulang. Aku harus pergi ke suatu tempat sekarang juga." Paksa Ichigo.

"Kubilang tidak mau. Lukamu bisa semakin parah. Kalai infeksi bagaimana!"

"Grimm, aku mohon." Ichigo memegang lengan Grimmjow dengan kedua tangannya, mata amber nya menatap lurus ke mata azure Grimm yang sesaat mengalihkan pandangan dari jalanan. "Aku mohon…" pinta Ichigo.

Grimmjow mengalihkan pandangannya kembali ke jalanan. Bukan karena takut menabrak atau apa, melainkan karena tiba-tiba saja jantungnya berdegup kencang saat bertatapan dengan iris cemerlang Ichigo.

"Shit!" umpat Grimmjow dan mengusap wajahnya. "Baiklah, kau mau kuantar kemana?"

Ichigo tersenyum senang. "Terimakasih." Ucapnya dan menunjukkan arah mana yang harus diambil Grimmjow.

~ OoooOoooO ~

Mobil mereka berhenti di sebuah taman. Ichigo dan Grimmjow keluar dari mobil. Grimmjow melihat sekeliling, dan tak melihat apapun kecuali sebuah tangga menuju ke atas bukit.

"Terimakasih sudah mengantarku. Cukup sampai disini saja." Ucap Ichigo dan mulai mendaki tangga itu satu per satu.

"Oi…kau mau kemana?" tanya Grimmjow.

"Tentu saja ke puncak bukit kan." Ucap Ichigo tanpa menoleh.

"Lututmu terluka, apa kau bisa mendaki setinggi itu!"

"Bisa kok. Kau tidak usah mencemaskanku. Aku mati juga bukan urusanmu kan." Kesal Ichigo.

"Tch!" decih Grimmjow, terdengar langkah suaranya mendekat dan tiba-tiba saja ia sudah ada di depan Ichigo dan memaksa Ichigo naik di punggungnya.

"Turunkan aku, aku bisa jalan sendiri!" Ichigo meronta.

"Diamlah Berry, kalau kau terjatuh akan lebih parah lagi!"

"Aku bisa jalan sendiri. Turunkan aku Grimm."

"Diam!" bentak Grimmjow, dan seketika Ichigo pun diam. Grimmjow melanjutkan langkahnya, tak ada suara diantara mereka. Yang terdengar hanya desauan angin dan suara langkah kaki Grimmjow. Udara yang semakin dingin, membuat Ichigo mengeratkan pelukannya di leher Grimmjow.

Wajah Ichigo merona, ini pertama kalinya ia sedekat ini dengan lelaki lain selain Byakuya. Tapi udara benar-benar dingin, dan Ichigo rasa Grimmjow juga pasti kedinginan sehingga Ichigo pun memeluk lehernya.

"Hei Berry, sebenarnya mau apa kau di atas sana?" Grimmjow membuka pembicaraan.

"Byakuya bilang akan menemuiku di sana." Jawab Ichigo.

"Byakuya? Pacar slashermu itu? Memangnya dia bilang akan menemuimu jam berapa?"

"Jam 7 malam."

What the Hell! Kau fikir ini sudah jam berapa huh? Sudah hampir jam 2 kau tahu! Mana mungkin dia masih disana! Apalagi udara di atas bukit pasti sangat dingin!" maki Grimmjow.

Tapi Ichigo malah tersenyum. "Mau taruhan?" ucapnya lembut, membuat Grimmjow tercekat. "Aku taruhan Byakuya masih ada di sana." Lanjut Ichigo.

Grimmjow terdiam. Entah mengapa pandangannya berubah sayu. "Kau…sangat mempercayainya ya…" lirih Grimmjow.

"Bukan hanya aku, tapi dia juga. Kami saling mempercayai. Mungkin ini terdengar aneh bagi orang normal sepertimu, tapi kami saling mencintai." Tutur Ichigo. "Sama saja kan…yang namanya cinta ya cinta. Hanya bedanya, persamaan jenis kelamin yang membuat orang memandang jijik terhadap hubungan kami. Padahal kurasa…perasaan mencintai yang kami rasakan, juga sama dengan perasaan mencintai yang pasangan normal rasakan. Iya kan?"

Grimmjow tetap terdiam. Hingga ia menjejakkan kakinya di akhir anak tangga. Ichigo pun turun dari punggungnya.

"Aku akan tetap disini." Ucap Grimmjow. Ichigo memandangnya heran, membuat Grimmjow melanjutkan ucapannya. "Apa? Kita taruhan apa pacarmu itu masih disini atau tidak kan? Kalau aku menang aku akan meminta imbalannya darimu. Karena itulah aku tidak akan ke bawah dulu."

Ichigo terkikik geli, ia tahu kalau sebenarnya Grimmjow menghawatirkannya. Karena tatapan mata Grimmjow benar-benar menyiratkan kekhawatiran. Yeah…atau mungkin sekedar merasa bertanggungjawab atas luka-luka Ichigo.

Ichigo berjalan menjauh, menuju tepi bukit dimana ia sering menghabiskan waktunya bersama Byakuya. Pemandangan dari sana sangatlah indah, karena pemandangan kota malam hari tampak jelas, sedangkan di atas bintang-bintang bertaburan tanpa tertutup apapun karena hanya ada satu dua pohon di puncak bukit, sedangkan pohon-pohon lainnya tumbuh di sepanjang kaki bukit.

Ichigo memutar kepalanya, mencari-cari dimana Byakuya. Tapi tak ia temukan. Hingga ekor matanya menangkap bayangan sesosok pria yang tengah duduk bersandar di bawah pohon. Ichigo tersenyum dan menghampiri sosok itu. Dan benar saja, itu memang Byakuya.

"Aku menang taruhan Grimm." Lirih Ichigo dan memperhatikan Byakuya. Mata Byakuya terpejam, nampaknya ia tertidur.

"Byakuya…Byakuya…" panggil Ichigo.

Byakuya membuka matanya perlahan.

"Ichigo…" lirihnya dan segera mengusap wajah. "Ah, maaf, aku tertidur." Ucap Byakuya.

"Tidak, aku yang minta maaf karena datang sangat terlambat." Sahut Ichigo.

Seakan baru mendapatkan pandangannya secara sempurna, Byakuya terkesiap melihat penampilan Ichigo yang kacau. Menyadari itu, Ichigo tertawa pelan.

"Hehehe aku tidak sempat mandi." Ujar Ichigo.

"Kau terluka." Ucap Byakuya yang melihat lutut Ichigo berdarah.

"Hanya luka kecil."

"Ayo ke rumah sakit." Byakuya bangkit.

"Yeah…" Ichigo ikut bangkit. "Setelah itu traktir makan ya, aku lapar." Goda Ichigo.

"Terserah kau." Byakuya mengecup singkat bibir Ichigo tiba-tiba sehingga membuat Ichigo terkesiap dan blushing seketika. Mereka berjalan ke arah jalan turun dari bukit. Dan tubuh Byakuya agak menegang begitu melihat Grimmjow disana.

"Kau…" geramnya.

"Tch!" decih Grimmjow.

"Sudahlah kalian berdua." Lerai Ichigo.

"Kenapa dia bisa ada disini?" tanya Byakuya dingin.

"Dia yang mengantarku." Jawab Ichigo.

"Mengantarmu? Maksudmu yang membuatmu terluka begini!"

"Bu-…"

"Iya, lalu kenapa?" potong Grimmjow.

Byakuya mengepalkan tangannya, bersiap menyerang Grimmjow.

"Byakuya, hentikan." Ichigo memegangi kekasihnya itu. "Sudahlah, jangan bahas masalah ini lagi. Kau bilang akan mengantarku ke rumah sakit kan. Ayo cepat pergi."

"Aku yang bilang akan mengantarmu ke RS, berry." Ucap Grimmjow. "Aku tidak mau lari dari tanggungjawab."

"Tch! Orang sepertimu tahu apa tentang tanggung jawab. Kalau aku menghajarmu, itu baru tanggungjawab karena telah melukai Ichigo!" ujar Byakuya.

"Dan kalau aku membunuhmu, aku akan bisa menuntaskan tanggungjawabku untuk membawa Ichigo ke RS." Grimmjow tak mau kalah.

"Diam kalian berdua!" bentak Ichigo. "Tidak bisakah kalian bersikap lebih dewasa sedikit?" kesal Ichigo dan segera berbalik menuruni tangga dengan dua orang yang mengikuti di belakangnya.

"Kubantu." Dan lagi-lagi Ichigo digendong paksa, tapi kali ini oleh Byakuya.

"E-eh? Bya-Byakuya, aku bisa sendiri kok." Ichigo blushing. Ichigo merasa ada sesuatu yang berbeda, mungkin karena saat ini yang menggendongnya adalah orang yang dicintainya. Jantung Ichigo jadi berdegup kencang, padahal sudah sering disentuh oleh Byakuya.

"Diamlah Ichigo, tugasmu hanya memelukku supaya tidak jatuh."

"Hihihi dasar kau ini." Ichigo pun memeluk leher Byakuya, ia bahkan meniup tengkuk Byakuya.

"Hei, jangan lakukan itu. Kau mau aku menyerangmu huh?" canda Byakuya.

"Kenapa? Kau kedinginan kan? Kutiup biar hangat. Hihihi…" balas Ichigo.

"Awas saja kau kalau sudah di bawah sana."

"Buuuu memangnya apa yang mau kau lakukan pada orang yang terluka."

"Menambah lukanya di tempat 'lain'. Di tempat yang 'hangat' dan 'lembab'."

Wajah Ichigo langsung memerah. "Dasar kau ini!" Ichigo mencubit pelan pinggang Byakuya.

"Auw…" Byakuya pura-pura mengeluh. Mereka terus berbicara dengan riang, sementara tanpa sadar Grimmjow memperhatikan mereka.

Grimmjow terdiam, ia merasa ada yang salah dalam dirinya. Ia merasa tak rela Ichigo bergurau dengan orang lain, ia merasa tak rela Ichigo bisa tersenyum karena orang lain. Grimmjow sendiri tak tahu mengapa ia merasa demikian, apa karena selama bersamanya Ichigo memang tak pernah tersenyum? Lalu kenapa? Apa yang salah dengan itu? Tapi hingga mereka sampai di bawah bukit, Grimmjow tak menemukan jawaban akan pertanyaan-pertanyaan itu…

~ To be Continue ~

Lagi-lagi gw ngrasa ni crita ga-je bgt gak tau kenapa. Padahal gw udah berusaha sebaik mungkin lho…beneran. =_=" mohon maaf ya readers…tapi gw udah berusaha beneran kok…

Mohon reviewnya…XD