Disclaimer: Not Mine. Naruto belongs to Masashi Kishimoto

MY LOVER, MY SERVANT
Chapter 2


Sakura membersihkan tomat dan cairan kuning telur yang menempel di sekujur tubuhnya. Ia menghela nafas dalam-dalam, sial! Kenapa di hari pertama ia bekerja sudah dikerjai habis-habisan seperti ini? Apa maksudnya para pelayan di sini dengan mengerjainya sampai seperti itu? Padahal ia merasa ia tak melakukan suatu kesalahan pada mereka, kan ini hari pertamanya bertemu dengan para pelayan di sini! Sakura menyeka air matanya. Ia tak boleh menyerah begitu saja hanya karena dikerjai seperti itu, ia harus bertahan sampai mendapatkan uang yang cukup untuk membantu orang tuanya membayar hutang.

"Kau tak apa-apa?"

Sebuah suara pria mengejutkan Sakura. Sakura membalikkan tubuhnya pada asal suara tersebut. Dan ia mendapati Kiba, pria yang ditolongnya kemarin tengah berdiri di belakangnya. Wajahnya terlihat khawatir.

"Eh. Kau..."

"Ng. Namaku Kiba Inuzuka. Tadi aku melihatmu dilempari telur dan tomat oleh para pelayan yang lain di sini, jadi, aku mengikutimu sampai di sini..." Kiba mengeluarkan sapu tangan dan mengelap wajah Sakura, "Aku tak menyangka mereka sampai mengerjaimu hingga seperti ini. Padahal ini hari pertamamu bekerja..."

Sakura menghela nafas, "Yeah. Mereka keterlauan sekali. Tapi aku tak boleh putus asa! Oh, ya, namaku Sakura Haruno. Senang berkenalan denganmu!" kata Sakura sambil tersenyum lembut.

Kiba menggaruk pipinya, "A-aku juga, senang berkenalan denganmu. Sebenarnya, alasan para pelayan di sini melemparimu dengan telur dan tomat itu gara-gara aku..."

"Maksudmu?" Sakura memiringkan kepalanya.

"Kemarin, karena kau menolongku dari amarah Tuan Muda Naruto, Tuan Muda Naruto jadinya menyuruh para pelayan di sini untuk mengerjaimu habis-habisan. Maafkan aku, ini semua salahku..." Kiba memasang wajah menyesal.

Sakura menendang sebuah pot bunga hingga pecah,membuat Kiba langsung panik, "APA?" serunya kesal, "Apa maksudnya hanya karena kesal gara-gara aku membentaknya kemarin, ia dengan seenaknya menyuruh para pelayannya sendiri untuk mengerjaiku? Orang macam apa dia? Mentang-mentang anak orang kaya!"

"Ssst! Jangan berbicara seperti itu, Sakura! Bisa gawat kalau sampai ada yang mendengarmu berbicara seperti itu!" kata Kiba mengingatkan.

"Aku tak pe-"

Tiba-tiba muncul Ino yang kebetulan lewat. Tanpa sadar Sakura jadi menghentikan ucapannya, ia dan Kiba sama-sama menoleh ke arah Ino.

"Nona Ino?" Kiba buru-buru membungkukkan kepalanya.

"Ah, di sini kau rupanya, Sakura. Saya sudah mencarimu ke mana-mana," kata Ino. Ia langsung menarik lengan Sakura.

Sakura gelagapan, 'G-gawat! Tanpa sadar ucapanku terdengar olehnya! Bagaimana ini? Bagaimana kalau sampai aku dipecat hanya karena mengata-ngatai Tuan Muda Sialan itu?' ia menoleh pada Kiba yang juga nampaknya ketakutan kalau sampai ucapan Sakura didengar oleh Ino, "S-saya mau dibawa ke mana, Nona Ino?"

Ino tak menoleh tetapi ia menyahut, "Hari ini adalah hari pertamamu bekerja. Jadi seharusnya sekarang kau sudah mulai bekerja. Aku mencari ke mana-mana."

Sakura menghela nafas lega, ternyata perkataannya tak didengar oleh Ino. Tetapi Sakura tak dapat sepenuhnya merasa lega. Soalnya sekarang ini ia akan mulai melayani Tuan Muda yang seenaknya itu! Selama Sakura berjalan mengekor Ino menuju kamar Tuan Muda Naruto-baka (sebutan Sakura untuk Naruto), ia melihat beberapa orang pelayan yang sebaya atau hanya tua beberapa tahun darinya. Ia juga menjumpai para pelayan yang tadi siang mengerjainya, tetapi tampaknya mereka memasang wajah pura-pura tidak tahu ketika Sakura berpapasan dengan mereka.

Setelah beberapa menit berkeliling di kediaman Namikaze, akhirnya Sakura dan Ino tiba juga di kamar pribadi Naruto. Ternyata kamar pribadi Naruto besar sekali, bahkan rumah Sakura pun bisa dimasukkan ke dalamnya. Di dalam kamarnya terdapat jendela-jendela berukuran tinggi besar dan banyak lukisan raksasa bertenggeran di dindingnya. Bahkan langit-langit kamarnya mungkin setinggi lebih dari 7 meter. Sedangkan perabotan lainnya seperti tempat tidur, lemari, kaca dan sofa pun juga berkesan mewah. Sakura memandang kamar Naruto dengan takjub.

"Saya sudah datang bersama Sakura Haruno, Tuan Muda," kata Ino. Ia berdiri di dekat pintu masuk.

Sakura melempar pandangannya ke seluruh arah, ternyata Naruto sedang duduk di atas sofa merah.

"Oh. Rupanya gadis itu sudah datang, ya. Baiklah, kau bisa pergi sekarang, Ino," sahut Naruto sambil mengibaskan tangannya, menyuruh Ino pergi. Ino membungkukkan badannya sebelum bergegas pergi.

Sakura menggeretakkan barisan giginya, orang ini benar-benar mengesalkan sekali! "Jadi, kenapa kau memanggilku ke sini? Memangnya apa yang harus kukerjakan?" tanya Sakura, menahan rasa kesalnya pada Naruto.

Naruto berdiri dari sofanya, "Tak sepantasnya pelayan sepertimu memanggilku dengan panggilan tanpa diakhiri Tuan Muda. Tapi, maklum sajalah, kau masih baru di rumah ini," ucapan itu membuat Sakura serasa ingin mencekik leher pria sombong ini. Tetapi ia harus menahan diri, ini demi kedua orang tuanya, "Karena ini hari pertamamu bekerja sebagai pelayan pribadiku, bagaimana kalau aku memberitahu tentang peraturan dan tata tertib saat melayaniku di rumah ini?"

Sakura menyeringai, berusaha memendam rasa kesalnya meski urat-urat tampak bermunculan di sekitar sudut wajahnya, "Ya, ya, silahkan, sesukamu."

"Pertama, kau harus memanggilku dengan sebutan Tuan Muda. Kedua, selalu membungkukkan badan ketika menghadapku. Ketiga, karena kau ini masih bersekolah, aku meringankan pekerjaanmu jadi kau boleh hanya bekerja selama 6 jam perhari. Tetapi selama hari libur sekolah kau harus melayaniku seharian penuh. Yang keempat, tak boleh membantah ucapanku dan kau harus menuruti segala permintaanku," kata Naruto menjelaskan. Sakura memasang wajah cemberut, astaga, peraturan dan tata tertib macam apa itu? , "Dan yang kelima, jangan pernah masuk ke kamarku dari pukul lima sore sampai setengah enam sore. Kau mengerti?"

"Baik, Tuan Muda..." sahut Sakura cepat, "...baka," bisik Sakura menambahkan.

"Hmm? Apa tadi kau bilang?" Naruto menyipitkan matanya.

"Ah! Bu-bukan apa-apa Tuan Muda! Sekarang apakah ada pekerjaan yang bisa saya kerjakan, Tuan Muda?" tanya Sakura, berusaha pura-pura baik di hadapan majikannya, masih kesal mengingat dengan perlakuan majikan barunya padanya tadi siang.

Naruto menyeringai, "Kau pikir mudah bisa bekerja di sini? Tapi tak apalah," ia menyilangkan tangannya, "Sekarang aku minta kau bawakan aku teh. Cepat! Bawakan aku teh dalam 5 menit. Takaran gulanya harus pas, jangan terlalu manis. Dan ingat, jangan terlalu panas pula airnya."

Sakura mendengus, "Ba-ik, Tu-an Mu-da!" ia membungkukkan badannya dalam-dalam dengan hati yang tak ikhlas, sebelum akhirnya menghilang dari ambang pintu.

Ia berjalan menuju dapur sambil menghentak-hentakkan kakinya keras-keras. Kesal, kesal! Ia kesal sekali dengan Naruto. Wajar saja sih majikan menyuruh ini itu pada pembantunya, tetapi masa sampai harus ada peraturannya segala? Sakura menghentikan langkahnya. Lho? Di mana letak dapurnya, ya? Gawat, ia lupa menanyakan pada Ino di mana letak dapur! Saat Sakura tengah kebingungan, lewatlah seorang gadis.

"Kau pelayan baru di sini, ya?" tanya gadis itu ramah.

Sakura menoleh. Ternyata masih ada pelayan ramah lainnya selain Kiba, "Eh, i-iya! Salam kenal, namaku Sakura Haruno!" kata Sakura memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya.

Gadis berambut merah tersebut tersenyum pada Sakura, ia meraih tangan Sakura dan berjabatan dengannya, "Kamu pasti pelayan pribadi Naruto. Dan kelihatannya kamu sedang kebingungan. Memangnya apa yang sedang kamu cari?" Sakura menatap gadis berambut merah itu lekat-lekat. Wajahnya cantik sekali, bahkan lebih cantik dari pada Ino, mungkin usianya juga terpaut hanya beberapa tahun. Pakaiannya juga kelihatan lebih mewah dari pada pelayan di sini. Tetapi kenapa ia menyebut nama Naruto tanpa embel-embel Tuan Muda?

"Ng, sebenarnya aku sedang mencari dapur, tetapi aku tersesat. Hehehe," jawab Sakura akhirnya. Ia menggaruk bagian belakang kepalanya.

"Kalau kau mau aku bisa mengantarkanmu ke dapur. Bagaimana?" tawar gadis berambut merah tersebut.

Sakura mengangguk, "I-iya! Terima kasih!" gadis berambut merah tersebut langsung mengantar Sakura menuju dapur.

Ternyata letak dapur tak terlalu jauh, hanya saja rumah keluarga Namikaze ini yang terlalu besar, sehingga Sakura tersesat karenanya. Sakura mengamati gadis berambut merah itu. Rasanya wajah gadis ini mirip dengan seseorang yang pernah ditemuinya. Mirip Naruto. Tapi mana mungkin seorang pelayan bisa berhubungan langsung dengan majikan? Sakura menggaruk pipinya, oh iya, gadis berambut merah itu belum memperkenalkan dirinya.

"Nah. Kita sudah sampai," suara gadis itu mengejutkan Sakura dari lamunannya.

"Eh-oh! Terima kasih!" Sakura membungkukkan badannya sebagai ucapan terima kasih.

"Sama-sama. Berjuang, ya. Naruto itu memang menyusahkan. Tapi sebenarnya ia hanya merasa kesepian, kok," Sakura mengernyitkan dahinya saat mendengar ucapan gadis berambut merah tersebut. Kesepian? , "Baiklah. Aku pergi dulu, ya, Sakura." Gadis itu pun menghilang di belokan.

'Gadis yang misterius,' batin Sakura. Tiba-tiba ia membelalakkan matanya. Astaga! Ia lupa untuk segera membuatkan teh untuk Naruto dalam waktu 5 menit! Mungkin sekarang waktunya tinggal 3 menit lagi gara-gara ia tersesat tadi. Buru-buru Sakura membuatkan teh. Tetapi ia kebingungan saat ingin memilih teh. Di rak terdapat bermacam-macam kotak teh. Ada teh Darjeeling, Ceylon, Assam, Orange Pecaut, Hon Mutan, Earl Grey... Karena dikejar waktu, Sakura terpaksa memilih secara acak teh yang dibuatnya.


Sakura kehabisan nafas sehabis membuat teh dengan terburu-buru. Untung akhirnya ia sampai juga ke kamar Naruto tanpa perlu tersesat lagi. Ia mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam kamar pribadi Naruto.

"Masuk."

Sakura membungkukkan badannya, "Ini tehnya Tuan Muda Naruto," ia meletakkan nampan yang berisi teh di samping sofa Naruto.

"Terlambat 3 menit," kata Naruto. Ia menurunkan buku yang sedang ia baca.

Sakura berusaha untuk tetap tersenyum, "Iya. Maafkan saya Tu-an Mu-da... Tadi saya tersesat," tanpa sadar urat-urat kembali bermunculan di sekitar sudut wajahnya, karena ia terus-menerus menahan rasa kesal.

"Masa hanya di dalam rumah saja bisa sampai tersesat?"

Sakura menahan dirinya agar tidak mendebat ucapan majikannya yang menyebalkan ini. Ia diam mengamati Naruto yang tengah meneguk teh buatannya. Senyuman tersirat di wajah Sakura. Ia jago dalam urusan membuat teh. Apalagi sudah banyak orang yang memuji teh buatannya. Pasti Tuan Mudanya ini akan memujinya juga, "Bagaimana rasanya Tuan Muda?"

"Tak enak," sahut Naruto. Ia menumpahkan seisi teh dalam cangkir. Sakura membuka mulutnya lebar-lebar melihat Naruto dengan seenaknya menumpahkan isi teh buatannya, "Aku tak suka teh Hon Mutan. Carikan aku teh yang lebih enak lagi," ia menyeka mulutnya dengan serbet yang telah disediakan.

Sakura serasa benar-benar ingin mencekik leher pria ini! Tetapi ia masih menahan emosinya, "Baiklah Tuan Muda. Saya akan membuatkan Anda teh yang lebih enak lagi." Kemudian Sakura kembali menghilang di ambang pintu.


"Kali ini saya membawakan Anda teh untuk dinikmati. Saya harap Anda akan menyukainya kali ini," kata Sakura sambil membawakan nampan berisi secangkir teh. Lalu ia meletakkannya di samping sofa Naruto.

Naruto meneguk tehnya. Tetapi dahinya kembali berkerut, "Tidak enak. Aku benci teh Orange Pecaut."

Sakura tanpa sadar menghentakkan kakinya, "Baiklah Tuan Muda! Jadi Anda tak menyukai teh Orange Pecaut, ya? Sekarang Anda mau saya bawakan teh apa Tuan Muda?" tanyanya sinis.

Naruto tersenyum, "Pikirkan sendiri. Sebagai seorang pelayan tak sepantasnya kau berbicara seperti itu padaku, Sakura."

'Dasar sialan kau!,' Tangan Sakura sudah gatal ingin menghajar pria yang tengah duduk di depannya. Tetapi ia tetap tersenyum di depan majikannya, "Maaf Tuan Muda. Sekarang saya permisi sebentar. Saya akan buatkan teh yang lebih enak," ia keluar dari kamar pribadi Naruto.

Selepas Sakura pergi, Naruto menutup mulutnya. Ia berusaha menahan tawanya agar tak pecah, "Dasar pelayan bodoh. Ini balasannya karena sudah bersikap berani di hadapanku. Sekarang rasakan akibatnya, kukerjai habis-habisan. Mungkin dalam 2 hari ia akan mengundurkan diri sebagai pelayan pribadi," pikir Naruto, di sela-sela tawa cekikikannya.


Sekarang Sakura kembali berdiri di hadapan Naruto sambil membawa nampan berisi teh Darjeeling. Sakura memelototi Naruto dengan tatapan marah, awas saja kalau kali ini ia kembali mengatakan bahwa ia tak menyukainya!

"Ini tehnya Tuan Muda. Silahkan dinikmati," kata Sakura mempersilahkan Naruto meneguk teh buatannya.

Naruto kembali meneguk teh Darjeeling tersebut. Alisnya terangkat saat ia mencicipi teh Darjeeling buatan Sakura. Sakura tersenyum penuh kemenangan. Hah, bagaimana Tuan Muda? Apa kau masih mau mengatakan bahwa teh buatanku tak enak, huh? Sakura masih menunggu komentar majikannya akan teh buatannya.

PRANNGGG

"Ini tak enak. Aku kurang menyukai teh Darjeeling. Dan juga rasanya terlalu manis, tak cocok untuk teh Darjeeling yang ada rasa mint-nya. Dasar tak berguna," kata Naruto sinis sambil menjatuhkan cangkir yang berisi teh Darjeeling buatan Sakura, "Kalau begini apa lebih baik kau kupecat saja, ya?"

Sakura tak peduli akan perkataan Naruto tentang dirinya yang akan dipecat. Ia menatap teh yang telah dibuatnya itu dengan seenaknya dibuang begitu saja. Ia merasa tak dihargai. Padahal ia sudah susah payah membuatkannya untuk majikannya. Cukup sudah! Sakura berjalan menuju Naruto, sambil melepas sepatunya. Dan ia mengayunkan sepatunya ke atas kepala Naruto. Naruto jatuh dari atas sofanya.

"Hei! Apa-apaan kau, hah? Berani sekali kau bersikap kurang ajar padaku dengan memukul kepalaku menggunakan barang kotor tersebut! Kau minta kupecat sekarang juga, hah?" seru Naruto marah.

Sakura tersenyum menyeringai, "Aku tak takut padamu, Tuan Muda-baka. Seharusnya sebagai orang kaya kau diajari cara menghargai kerja keras orang bukan? Apa kau ini bodoh, ya? Bahkan orang miskin lebih pintar darimu. Aku ini sudah bersusah payah membuatkanmu teh, tapi kau dengan seenaknya menjatuhkan teh buatanku dengan seenaknya. Apa-apaan itu. Biar saja kau memecatku, aku tak peduli. Yang aku pedulikan adalah kau mau menghargai kerja keras orang lain atau tidak," Sakura membungkukkan badannya, "Saya permisi dulu, Tuan Muda." Ia pun menghilang dari ambang pintu, tak mempedulikan suara seruan Naruto yang menyuruhnya kembali.

Sakura menarik nafas, astaga. Apa yang telah ia lakukan? Apakah ia tak sadar dengan apa yang ia lakukan? Ini kan pekerjaannya satu-satunya yang dapat membantunya membayar hutang orang tuanya! Tapi tak apalah. Ia bisa mencari pekerjaan lain yang lebih baik dari pada ini. Saat Sakura berpikir demikian, ia mendengar suara tepukan tangan di belakangnya.

"Eh?" Sakura membalikkan badannya.

Di belakangnya berdiri Kiba, Ino dan beberapa pelayan lainnya. Mereka bertepuk tangan.

"Apa-apaan kalian?" Sakura memasang wajah bingung, "Kenapa kalian menepuk tangan? Apa kalian senang aku dipecat begitu saja?"

Ino tertawa mendengar ucapan Sakura, "Bukan begitu. Maksud kami bertepuk tangan adalah kau satu-satunya pelayan pertama di sini yang berani melawan Tuan Muda. Padahal pelayan baru yang terdahulu saja belum tentu berani melakukannya," jelas Ino. Sakura memasang wajah bingung. Maksudnya?

"Tapi dia sudah memecatku..."

"Tenang saja Sakura," timbrung Kiba, "Meski Tuan Muda adalah majikan di sini, tetapi Tuan Besar-lah yang bertugas memutuskan apakah pelayan di sini pantas untuk dipecat atau tidak. Tuan Besar sedang mencari pelayan yang berani menghadapi Tuan Muda karena di antara kami dan pelayan-pelayan yang sebelumnya, selalu gagal melayani Tuan Muda dikarenakan sikapnya yang demikian. Tak ada seorang pun yang berani melawan perkataannya. Tetapi untung saja sudah ada kau di sini, Sakura!"

Sakura tetap merasa bingung, "Artinya aku tidak dipecat?"

Ino mengangguk, "Ya. Mulai hari ini dan seterusnya kau akan bekerja di sini sebagai pelayan Tuan Muda."

Sakura membuka mulutnya lebar-lebar, artinya ia harus mengurus Tuan Muda itu seumur hidupnya?

"Pokoknya sekarang selamat berjuang, ya," kata Ino memberi semangat, "Dan juga maafkan atas perlakuan para pelayan di sini padamu. Mereka mengerjaimu karena perintah Tuan Muda. Tetapi dengan adanya kau sekarang, setidaknya kau bisa membantu kami mengurus Tuan Muda. Nah selamat bekerja!" Ino dan para pelayan yang lain pergi meninggalkannya.

"E-eh..." Sakura masih merasa bingung dengan perkataan Ino dan Kiba.

"Hei kamu."

Sakura kembali menoleh saat ia mendengar seorang gadis memanggilnya. Ternyata bukan seorang, melainkan tiga orang gadis yang tengah berdiri di belakangnya. Termasuk Ino, padahal tadi sepertinya ia berjalan meninggalkannya. Sedangkan dua gadis lainnya berpakaian pelayan sama sepertinya.

"Ternyata kamu menarik juga," kata gadis yang rambutnya dikepol dua tersebut.

"Kamu hebat ya bisa melawan Tuan Muda. Padahal tak ada seorang pun pelayan di sini yang berani melawannya," timpal gadis berambut pirang yang dikuncir empat.

"Bukan apa-apa, sih... Hanya saja memang sifat dasarku senang melawan orang yang kasar dan seenaknya."

"Tapi kau memang hebat Sakura," kata Ino, "Sekarang selamat datang di kediaman Namikaze. Mulai sekarang kau akan kerepotan lho mengurusi Tuan Muda!"

"Ya. Tapi setidaknya aku akan berusaha nanti, Nona Ino," sahut Sakura antusias.

"Hei. Jangan memanggilku dengan sebutan Nona. Cukup saja panggil aku Ino," kata Ino ramah.

Sakura tersenyum, ternyata Ino ini memang baik rupanya. Ia mengangguk, "Ba-baiklah Ino. Lalu? Kalian?" Sakura memasang wajah bingung pada dua orang gadis lainnya yang berdiri berdampingan dengan Ino.

"Oh ya! Kami terlambat memperkenalkan diri!" seru gadis yang rambutnya dicepol dua, "Namaku Ten Ten. Aku bertugas untuk merapikan semua tempat tidur di sini. Salam kenal, ya," katanya ramah. Ia dan Sakura berjabat tangan.

"Dan panggil saja aku Temari. Aku bertugas sebagai staff di dapur. Mulai sekarang kita berteman, ya," gadis yang berambut pirang dikuncir empat kini yang menjabat tangan Sakura. Sakura tersenyum. Setidaknya hari ini tak terlalu buruk, karena sekarang ia bisa mempunyai teman-teman baru.


"Tuan Muda, sudah saatnya waktu mandi Anda," Sakura mengingatkan Naruto sambil membawakan baju ganti dan sepatu yang akan dikenakan Naruto, "Sekarang sudah jam lima sore Tuan Muda."

Naruto mendengus, "Nanti dulu, aku ingin tidur seben-"

Sakura lengsung menjewer telinga Naruto, "Tak boleh Tuan Muda. Sekarang saatnya waktu mandi Anda Tuan."

"Sial, dasar pelayan tak sopan! Kenapa sih kau tidak dipecat saja?" seru Naruto kesal, "Kenapa pelayan brutal dan kasar sepertimu yang harus melayaniku? Bisa-bisa badanku memar semua kalau kau jadi pelayanku! Ini semua salah ayah!"

"Jangan mengomel saja, Tuan Muda. Cepatlah mandi. Airnya sudah saya siapkan," kata Sakura.

"Iya, iya! Aku mandi sekarang!" omel Naruto, "Kau cepatlah keluar! Aku ingin mandi sekarang juga. Ingat peraturannya, Sakura. Kau tak boleh masuk ke dalam kamarku sampai jam setengah enam," kata Naruto meningatkan sebelum Sakura berjalan meninggalkan kamarnya.

Sakura hanya geleng-geleng kepala, majikannya ini menyusahkan saja. Kenapa hanya karena soal peraturan saja ia masih mempermasalahkannya. Yah, sudahlah. Lagipula untuk apa ia masuk ke kamar pribadi Naruto saat pemuda itu tengah mandi? Bisa-bisa ia dikira cewek mesum. Sakura jatuh lunglai di atas lantai. Benar-benar hari yang melelahkan. Semoga saja, orang tuanya tak curiga mengapa ia selalu pulang malam-malam.


Sakura memejamkan matanya. Rasanya ia mulai mengantuk, karena terlalu lama menunggui Naruto mandi. Saat Sakura mulai tertidur, tiba-tiba saja ia kembali terbangun saat ia sadar bahwa ia masih membawa pakaian Naruto. Aduh, bisa gawat nanti kalau majikannya kembali marah-marah, menyalahkannya karena membiarkannya tak memakai baju. Sakura berdiri dari tempatnya dan mengetuk pintu kamar Naruto. Baiklah, tak ada orang. Mungkin majikannya masih mandi. Sakura melangkah pelan, ia meletakkan pakaian Naruto di atas tempat tidur, dan kemudian berbalik pergi.

"Ternyata kau memang tampan, ya."

Sakura menghentikan langkahnya. Eh? Rasanya ia mendengar suara seseorang. Sakura membalikkan badannya ke arah kamar mandi. Hmm, pintu kamar mandi terbuka lebar. Artinya Naruto sudah selesai mandi. Sakura buru-buru melangkah keluar lagi.

"Kau memang pria paling tampan di seluruh jagad raya."

Sakura kembali menghentikan langkahnya. Kenapa dari tadi ia mendengar suara pria sedang memuji ketampanan pria lainnya? Baiklah, ini aneh. Apa Naruto membawa pria lain ke dalam kamarnya. Tapi mana mungkin, Naruto kan sudah pasti bukan gay. Atau memang gay? Sakura buru-buru keluar dari kamar Naruto, bisa gawat kalau ia tertangkap basah memasuki kamar Naruto saat ia sedang mandi. Bukannya ia ingin mematuhi peraturan Naruto, tapi setidaknya ia ingin berbakti sedikit pada Naruto.

"Semua pria pasti iri pada ketampananmu, ganteng."

Sakura akhirnya tak bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya. Kenapa dari tadi ia terus-terusan mendengar suara pria sedang memuji ketampanan orang? Apa Naruto memang betulan gay? Tapi dari mana ia membawa pria asing masuk ke dalam kamarnya? Apa karena itu Naruto melarangnya masuk di jam-jam tertentu karena memang menyembunyikan pria di dalam kamarnya? Sakura mengintip sedikit lewat celah pintu dan melangkah masuk ke dalam kamar.

Dan sebuah pemandangan membuatnya terkejut.

Naruto yang mengenakan pajama sedang berdiri di depan cermin sambil bergaya, mematut bayangannya di depan cermin, "Ternyata kau memang ganteng Naruto. Tak ada pria lain di dunia ini yang dapat mengalahkan ketampananmu. Dengan wajah setampan ini kau bisa menaklukkan hati semua gadis di dunia ini."

Astaga, astaga! Ternyata majikannya itu menderita penyakit narsis! Sakura langsung berteriak kaget, membuat Naruto yang berada di sana tersentak kaget dan menghentikan aksi narsisnya di depan cermin.

"Hwaaa! Bagaimana kau bisa ada di sini?" seru Naruto kaget, "Sudah kubilang jangan masuk ke dalam kamarku, 'kan?"

"Ma-maaf Tuan Muda! Saya hanya lupa membawakan pakaian untuk Anda!" kata Sakura, ia menahan tawanya, "S-sekarang saya permisi dulu..."

Naruto yang sadar bahwa Sakura ternyata melihat kebiasaannya yang memalukan itu langsung menarik tangan Sakura, "Kau melihatnya, ya?"

Sakura memasang wajah pura-pura tak tahu, "Eh? Melihat apa, ya?" tanyanya pura-pura bodoh, tetapi ia tak dapat menahan tawanya. Hingga tawanya pecah. Naruto memerah.

"K-kau! Seharusnya kau tak boleh masuk ke sini! Aku kan sudah memperingatkanmu!"

"Ya... Saya mengerti Tuan Muda. Sepertinya memang sudah ditakdirkan ada seseorang yang tahu akan kebiasaan aneh Tuan Muda," Sakura hanya tersenyum, "Sekarang saya sudah bisa pergi, Tuan Muda?"

"Tunggu. Aku minta padamu agar kau tak memberi tahu soal ini pada siapa pun. Kau mengerti?" kata Naruto kesal.

"Ya. Ya," Sakura membalikkan badannya.

Tetapi Naruto kembali menarik lengan Sakura dan menyeret Sakura ke dinding. Kini tubuh Sakura dan Naruto berhadapan dan saling bersentuhan. Sakura tersentak, kenapa ia dan Naruto harus dalam posisi seperti ini? Ia seperti berada di dalam adegan pemerkosaan saja, "Tu-tunggu Tuan Muda! Apa yang Anda lakukan? Biarkan saya pergi sekarang! Saya harus mengerjakan pekerjaan saya yang lainnya Tuan Muda!"

Naruto meletakkan tangan Sakura ke dinding dan menatap Sakura, "Aku tak bisa membiarkanmu pergi, Sakura," kata Naruto, "Sebelum kau berjanji tak akan mengatakan soal ini pada siapa pun. Kau mau berjanji padaku, kan?"

"Memangnya kenapa? Bukannya masalah soal kenarsisanmu itu bukan masalah yang besar?"

"Masalahnya aku akan malu sekali kalau sampai rahasiaku suka bernarsis ria sampai ketahuan oleh orang lain! Kau tahu, apa yang akan dipikirkan orang-orang kalau sampai mereka tahu aku yang Tuan Muda kaya raya, berkarisma, tampan, dan cerdas ini punya kebiasaan senang bernarsis-ria? Bisa-bisa harga diriku jatuh!" Sakura sweatdrop saat ia mendengar perkataan Naruto. Ternyata majikannya yang seenaknya, kasar dan tak tahu cara menghargai orang lain ini punya harga diri yang tinggi. Tapi bukannya tak masalah kalau jadi orang narsis, bahkan Sakura sendiri pun juga senang bernarsis-ria. Meski tak separah Naruto.

"Iya, iya. Baiklah Tuan Muda, sekarang bisa Anda lepaskan saya? Saya janji tak akan mengatakan soal ini pada siapa pun," kata Sakura kesal.

Naruto tersentak dengan muka memerah. Ia buru-buru melepaskan genggaman tangannya dari Sakura, "K-kau, sih! Seharusnya kau jangan masuk!"

"Anda sudah mengatakannya tadi Tuan Muda," dengus Sakura saat ia melihat wajah merah Naruto, "Sekarang saya permisi dulu."

Naruto memukul kepalanya sendiri. Sial... Kenapa harus Sakura sih yang mengetahui rahasianya? Bagaimana ini? Tapi Naruto hanya mendengus, "Yah sudahlah, lebih baik aku terpaksa percaya padanya. Setidaknya wajahnya cukup cantik juga..."


"Ingat Sakura, ketika Tuan Muda Naruto sedang makan malam, kau tak boleh banyak bergerak. Dan juga kau tak boleh banyak bicara saat acara makan malam sedang berlangsung," jelas Ino pada Sakura saat menjelang acara makan malam.

Sakura yang berdiri di samping Ino mengangguk, "Baiklah. Akan kuingat. Tetapi kenapa harus begitu?" tanya Sakura.

"Sudah peraturan di sini bahwa setiap acara makan malam dilaksanakan, para pelayan harus berdiri mengitari ruang makan dan tak boleh berbicara selama acara makan malam berlangsung," Sakura mangut-mangut mendengar penjelasan Ino.

Seorang pemuda berambut pirang tiba-tiba datang menyeruak masuk, "Makanan utama dan penutupnya sudah datang!" serunya, sambil mendorong sebuah meja beroda. Aroma sedap menyeruak masuk. Sakura menghirup bau tersebut dalam-dalam, baru kali ini ia menghirup aroma hidangan seenak ini.

"Sepertinya enak, ya," bisik Ten Ten pada Sakura.

"Iya. Belum pernah aku menghirup aroma masakan seenak ini. Aku jadi ingin mencicipinya. Enak sekali Tuan Muda," kata Sakura berangan-angan.

"Sikapmu sama seperti Chouji, Sakura," canda Temari.

Sakura memasang wajah bingung, "Siapa itu Chouji?" tanyanya, memiringkan kepalanya.

Temari menunjuk seorang pria gendut yang berdiri di samping meja makan, "Chouji itu staff dapur sama sepertiku. Dia suka sekali makan. Biasanya ada hidangan makanan yang masih bersisa ialah yang selalu menghabiskannya. Memang, sih, kedengarannya agak aneh, tapi itulah Chouji," kata Temari menjelaskan.

Sakura memperhatikan pria gendut yang bernama Chouji dari tadi Chouji tak berhenti-berhentinya memandangi hidangan utama yang disiapkan. Sepertinya Chouji ingin sekali menyicipi masakan khusus untuk Tuan Muda. Sakura tiba-tiba teringat sesuatu, "Oh, ya. Apa orang tua Tuan Muda, maksudku Tuan Besar dan Nyonya Besar tidak ikut makan malam? Lalu apakah Tuan Muda hanya makan sendirian seperti ini?" tanya Sakura bertubi-tubi.

Ino tertawa kecil, "Astaga, banyak sekali pertanyaanmu itu, Sakura. Yah, memang sih, Tuan Muda selalu makan malam sendirian. Beliau anak tunggal, sekaligus penerus langsung Namikaze Corporation. Tuan Muda jarang bertemu dengan Tuan dan Nyonya Besar dikarenakan keduanya selalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing," jelas Ino akhirnya.

"Tuan Besar biasanya pulang hanya sebulan sekali, begitu pula dengan Nyonya Besar. Sebagai seorang artis ternama, Nyonya Besar hampir tak punya waktu pulang ke rumah. Tetapi tadi siang ia baru saja pulang, dan kembali pergi sekitar pukul enam sore..." kata Temari menambahkan.

Sakura memegang dadanya, ternyata Tuan Muda Naruto itu cukup kasihan juga, ya. Pantas saja ia seperti itu, ternyata karena kurangnya kasih sayang dari orang tuanya.

"Tuan Muda sudah tiba. Harap bersiap-siap semuanya!" seru Ino saat ia melihat tanda dari Shikamaru, koki pribadi Naruto bahwa ia telah datang.

Seluruh pelayan yang berada di sana langsung berbaris dengan rapi, dan mendadak seisi ruang makan menjadi sepi. Sakura memandang takjub, rasanya seperti tentara saja harus berbaris segala. Tetapi sesaat kemudian ia kembali terkejut saat mendapati Chouji masih menatapi hidangan utama sedangkan para pelayan yang lain sudah berbaris, dan parahnya tangannya sudah mencuil hidangan utama.

"Chouji! Tuan Muda sudah datang!" seru Ino saat ia melihat Chouji sedang mencicipi hidangan utama.

"Hei, gendut, apa yang sedang kau lakukan?"

Chouji langsung menghentikan aksi makannya saat ia melihat Naruto tengah berdiri di hadapannya, menatapnya dengan tatapan marah. Chouji menelan ludahnya, keringat dingin mulai bercucuran di dahinya, "Ma-maafkan saya Tuan Muda. Sa-saya tak tahan melihat hidangan selezat ini. Mohon maafkan saya," kata Chouji, membungkukkan badannya berulang kali.

"Kau pikir kau bisa semudah itu minta maaf?" Naruto memasang wajah marah, "Makan malamku yang lezat jadi tercampur dengan tanganmu yang kotor tahu! Mana bisa kau mengembalikannya seperti semula!"

"Ma-maafkan saya!" Chouji bersujud di depan Naruto.

Sakura yang tak tahan melihat pemandangan itu langsung menghampiri Naruto, "Hentikan Tuan Muda! Ia kan sudah minta maaf!"

"Sa-Sakura!" seru Ino kaget, melihat Sakura tiba-tiba saja menghentikan Naruto, "Sebaiknya kau ja-"

"Kau mau apa, hah?" tanya Naruto kesal pada Sakura, "Kau juga mau kuberi hukuman?"

Sakura membungkukkan badannya, "Mungkin bagi Anda, sebagai seorang pelayan saya tak sopan telah mengatakan hal seperti ini, tetapi saya harap setidaknya mulai saat ini Anda juga belajar untuk tidak memandang orang lain sebagai benda! Chouji kan tidak sengaja memakan hidangan khusus Tuan Muda karena ia tak tahan untuk mencicipinya. Saya mohon kali ini Anda bersedia memaafkannya," kata Sakura.

Seisi ruang makan, termasuk Naruto memandang Sakura dengan tatapan kaget. Bahkan Chouji menatap Sakura dengan tatapan tidak percaya sambil beruraian air mata.

Naruto menghela nafas panjang sambil menyisir rambutnya, "Hh, kumaafkan kau kali ini gendut. Tapi kalau lain kali kau mengulangi perbuatan yang sama, aku tak segan-segan untuk menghukummu! Kau mengerti? Sekarang Shikamaru, buatkan aku hidangan utama yang lainnya. Cepat!"

Shikamaru mengangkat tangannya sampai di pelipisnya, "Ba-baiklah Tuan Muda, saya mengerti!" ia langsung menghilang di depan pintu masuk ruang makan.

"Dan kau Sakura," kata Naruto sambil menunjuk tangannya ke arah Sakura, "Kali ini aku turuti keinginanmu. Setidaknya kau harus merasa berterima kasih padaku," Sakura hanya tersenyum lembut sambil menganggukkan kepalanya, sebelum akhirnya ia kembali ke barisannya. Sedangkan Naruto kembali memilih pergi menuju ruang baca sampai makan malamnya siap.

Kini seisi ruangan menatap Sakura dengan tatapan kaget selepas Naruto pergi. Ternyata gadis ini benar-benar bisa menaklukkan Tuan Muda yang menyusahkan dalam sekejap. Chouji menghampiri Sakura dan berkata, "Terima kasih, ya. Kau telah menolongku. Entah bagaimana aku membalasnya..."

"Ah. Bukan masalah," sahut Sakura sambil nyengir.

"Kau hebat Sakura," kata Kiba takjub, "Seperti sedang menaklukkan seekor serigala saja."

"Iya, kau keren sekali!" timpal Ten Ten.

Sakura sebenarnya juga cukup kaget dengan sikap Naruto tadi. Padahal biasanya kalau ia mendebat Naruto, Naruto akan memarahinya terlebih dahulu. Hmm, mungkin Naruto saja yang memang sedikit aneh.


Sementara itu di ruang baca, Naruto duduk di atas sofa yang biasa ia duduki sambil menyilangkan kedua kakinya. Naruto menghela nafas dalam-dalam saat perutnya mengeluarkan bunyi keroncongan. Sebenarnya ia merasa sangat lapar dan sangat kesal saat melihat Chouji dengan seenaknya memakan makan malamnya. Tetapi kenapa, ya, saat ia melihat Sakura memintanya untuk memaafkan kesalahan Chouji, ia dengan begitu saja langsung menurutinya. Kenapa, ya?


Author commentary: Mau mati rasanya... Ceritanya jadi ancur begini... -nangis darah- Terima kasih yang telah mereview sebelumnya. Maaf juga saya gak bisa balas reviewnya lewat PM T-T. Tapi saya boleh minta reviewnya? -dijontos-